Berdasarkan metode ini maka besarnya kebutuhan Modal Kerja ditentukan oleh perputaran dari komponen-komponen modal kerja yaitu perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran persediaan. Perputaran kas merupakan
5 berputarnya kas menjadi kas kembali. Seperti halnya perputaran modal kerja maka yang dimaksud dengan kas berputar satu kali berarti bahwa sejak kas tersebut digunakan untuk proses produksi (barang atau jasa) dan akhirnya menjadi kas kembali.demikian pula perputaran piutang dan persediaan yaitu waktu yang diperlukan dari piutang atau persediaan menjadi piutang atau persediaan kembali.
Formula yang digunakan untuk menghitung komponen-komponen perputaran modal kerja yaitu:
Rasio perputaran kas berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan. Artinya, rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan penjualan.Dan dari perhitungan di atas pada unit pertokoan di Koperasi maka bisa disimpulkan bahwa kas tidak bisa berputar menjadi kas kembali dalam satu
6 periode diakibatkan karena penjualan yang tidak begitu besar pada tahun 2010 tingkat perputarannya hanya 0,08 kali atau sama saja dengan tidak berputar, 2011 mencapai 0,09 dan pada tahun 2012 hanya 0,03.
2. Rasio perputaran piutang
Penjualan kredit
Perputaran piutang= ――――――――――― x 1 kali (Receivable Turnover) rata-rata piutang
11,750,000
Perputaran piutang merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode atau berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode. Melihat perhitungan rasio pada laporan keuangan Koperasi,piutang tidak bisa berputar dalam satu periode diakibatkan penjualan kredit yang tidak begitu besar seperti tahun 2010 penjualan kredit unit pertokoan kira-kira 11,750,000 dengan total piutang semua usaha mencapai 2,191,452,411 dan hanya menghasilkan perputaran 0,05 kali atau sama dengan tidak berputar, tahun 2011 penjualan kredit hanya 21,000,000 pada unit pertokoan dengan total piutang seluruh usaha sebesar 2,300,166,830 atau sekitar 0,09kali dan pada tahun 2012 penjualan kredit mencapai 57,500,000 dengan tingkat piutang seluruh usaha sebanyak 2,419,861,570 atau 0,02 kali.
7 D. Peningkatan volume penjualan
Bagi setiap perusahaan tujuan yang hendak dicapai adalah memaksimumkan profit disamping perusahaan ingin tetap berkembang. Realisasi dari pada tujuan ini adalah melalui volume penjualan yang mantap karena masalah penjualan merupakan kunci dari sukses tidaknya suatu perusahaan. Dalam kegiatan pemasaran kenaikan volume penjualan merupakan ukuran efisensi, meskipun tidak setiap kenaikan volume penjualan diikuti dengan kenaikan laba. Pengertian dari volume Penjualan adalah jumlah dari kegiatan penjualan suatu produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan dalam suatu ukuran waktu tertentu.
Seperti yang terjadi pada salah satu usaha koperasi Guru dan Pegawai saat ini, pada unit pertokoan .
Tahun 2010: Penjualan selama tahun 2011 Rp. 17,969,000 Pembelian selama tahun 2011 Rp. 17,278,000
Keuntungan Rp. 691,089
Tahun 2011: penjualan selama tahun 2012 Rp. 21,850,500 Pembelian selama tahun 2012 Rp. 21,293,487
Keuntungan Rp. 557,013
Tahun 2012 : penjualan selama tahun 2010 Rp. 79,972,500 Pembelian selama tahun 2010 Rp. 76,773,600
Keuntungan Rp. 3,198,900
8 TABEL 2
Koperasi Guru/Pegawai Republik Indonesia Perkembangan penjualan unit pertokoan
Per 31 Desember
No Tahun Pembelian (Rp) Penjualan (Rp) Keuntungan(Rp)
1 2010 17,278,000 17,969,000 691,089
2 2011 21,293,487 21,850,500 557,013
3 2012 76,773,600 79,972,500 3,198,900
Sumber : Koperasi Guru dan Pegawai RI. (2014)
Dengan analisa tabel 2 diatas menunjukkan pendapatan yang diperoleh unit pertokoan Koperasi Kogurta selama tahun 2010 s/d 2012, Pengadaan barang campuran diperoleh atas kerjasama dari beberapa toko selama jangka waktu 1 bulan dengan harga penjualan diperhitungkan sesuai harga pasar ditambah keuntungan untuk KPRI-KOGURTA sebesar 3 - 5% perbulan.
Modal kerja yang setiap tahun mengalami peningkatan memicu kenaikan pula pada volume penjualan. Meskipun telah dijelaskan sebelumnya bahwa peningkatan volume penjualan tidak berarti peningkatan pula pada laba tapi volume penjualan adalah ukuran efisiensi perusahaan.Kebutuhan modal kerja sangat penting melihat kegiatan sehari-hari bahwa operasi perusahaan sangat ditentukan oleh tersedianya dana. Dana tersebut dimaksudkan mampu memicu adanya peningkatan tetapi tidak dapat dipastikan setiap tahun akan mengalami peningkatan, bisa saja penurunan volume penjualan yang pasti akan beresiko bagi jalannya operasi perusahaan terutama di Koperasi Kogurta ini, karena itu Koperasi harus mampu meningkatkan kebutuhan modal kerja.
9 TABEL 3
Koperasi Guru/Pegawai Republik Indonesia Modal Kerja dan tingkat penjualan
Per 31 Desember
Tahun Kebutuhan modal kerja Volume penjualan
2010 Rp. 2,222,914,280 Rp. 17,969,000
2011 Rp. 2,408,599,470 Rp. 21,850,500
2012 Rp. 2,583,118,039 Rp. 79,972,500
Sumber : Koperasi Guru dan Pegawai RI. (2014)
Pada Tabel 3 diatas menjelaskan kebutuhan Modal kerja setiap tahun yaitu pada tahun 2010 volume penjualan mencapai 17,969,000 dengan kebutuhan modal kerja sebesar 2,222,914,280, pada tahun 2011 mengalami peningkatan volume penjualan yaitu sebesar 21,850,500 dengan modal kerja 2,408,599,470 dan pada tahun 2012 mengalami peningkatan cukup besar yaitu 79,972,500 dengan modal kerja 2,583,118,039.
Sehingga disimpulkan bahwa peningkatan volume penjualanpada Koperasi Guru dan Pegawai Republik Indonesia dipengaruhi karena adanya peningkatan pada kebutuhan Modal Kerja. Berikut Grafik yang menunjukkan peningkatankebutuhan modal kerja dan volume penjualan tiga tahun terakhir pada Koperasi Guru dan Pegawai Republik Indonesia.
10 Grafik Peningkatan Modal kerja dan volume penjualan
Koperasi Guru dan Pegawai Republik Indonesia Per 31 Desember
Grafik diatas menjelaskan perkembangan Koperasi Guru dan Pegawai saat ini. Tahun 2010 penjualan Koperasi mencapai 17,969,000 dengan persentase sebesar 15% dan kebutuhan modal kerja 2,222,914,280 dengan persentase 30,82%. tahun 2011 penjualan meningkat dengan peningkatan mencapai 21,850,500 dengan persentase 18,24% dan kebutuhan modal kerja sebesar 2,408,599,470 dengan persentase 33,38%, sedangkan tahun 2012 mengalami peningkatan yang cukup besar dengan tingkat penjualan mencapai 79,972,500 dengan persentase 66,65% dan kebutuhan modal kerja 2,583,118,039 dengan persentase 35,80%.
Sehingga disimpulkan bahwa penjualan Koperasi Guru dan Pegawai Republik Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan yang signifikan ini dipicu karena adanya kebutuhan modal kerja yang terus meningkat.
kebutuhan modal kerja
1 BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Sebagaimana uraian-uraian yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut :
Pengelolaan modal kerja yang baik merupakan tanggung jawab setiap pimpinan perusahaan, sehingga dalam setiap penggunaan modal kerja perusahaan dapat tercapai suatu keseimbangan dalam hal penyediaan dan penggunaan modal kerja tersebut. Kebanyakan perusahaan menempuhnya melalui kebijakan peningkatan omzet penjualan, baik perusahaan jasa, perusahaan perdagangan dan perusahaan manufaktur.
Kebutuhan Modal kerja pada Koperasi Guru dan pegawai setiap tahunnya mengalami peningkatan sehingga menjaga kestabilan Koperasi saat ini.
Sebagaimana diketahui bahwa perusahaan manapun yang memiliki Kebutuhan Modal Kerja yang cukup maka perusahaan tersebut bisa saja menjadi perusahaan yang jauh dari kesulitan keuangan karena mereka cukup memiliki persiapan Modal dalam membiayai Usaha-usahanya, dan siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak diharapkan tentunya. Dengan usaha-usaha Koperasi saat ini dan kebutuhan modal kerja yang cukup, Koperasi optimis tetap berkembang dan mampu bersaing.
Volume penjualan setiap perusahaan dari tahun ke tahun pada umumnya mengalami peningkatan, akan tetapi sering mengalami berfluktuasi dimana pada tahun-tahun lainnya mungkin pula mengalami penurunan. Sama halnya
2 denganKoperasi Guru dan Pegawai Unit pertokoan saat ini, setiap tahun mengalami peningkatan yang signifikan pada volume penjualan.
B. Saran
Pada dasarnya sesuatu yang akan kita laksanakan untuk mencapai sasaran yang diinginkan, maka berikut ini ada beberapa saran-saran, sebagai berikut :
1. Modal kerja dibutuhkan oleh setiap perusahaan untuk membelanjai operasinya sehari-hari. Dimana uang atau dana yang dikeluarkan tersebut diharapkan dapat kembali lagi masuk dalam perusahaan dalam waktu singkat melalui hasil penjualan, karena itu Koperasi pada saat ini seharusnya fokus pada bagaimana meningkatkan penjualan dan meningkatkan usaha-usaha lain, tidak hanya pada unit pertokoan saja.
2. Dengan kebutuhan Modal kerja yang cukup saat ini, Koperasi mampu untuk mengembangkan usaha di bidang lain. Selain usaha pada unit Simpan Pinjam, Unit percetakan, Unit pertokoan dan unit jasa lain yang ada dan dikembangkan pada Koperasi saat ini. Karena semakin banyak usaha yang dikembangkan maka banyak potensi KPRI Kogurta menjadi salah satu Koperasi besar.
3. Dengan tingkat penjualan yang setiap tahun mengalami peningkatan , Koperasi guru dan Pegawai harus tetap memiliki target dan strategi dalam menjalankan usaha-usaha dan juga dalam meningkatkan anggota.
1 DAFTAR PUSTAKA
Anjani, Tania. 2012, Jenis-JenisKoperasi di Indonesia,
http://taniaanjani.blogspot.com/2012/10/jenis-jenis-koperasi.html, Diakses pada tanggal 15 Maret 2014
Baridwan, Zaki, 2006. Intermediate Accounting, Bagian Penerbit Fakultas Ekonomi UGM : Yogyakarta.
Mulia Hadri, 2010,Memahami akuntansi dasar, Edisi 2, Penerbit Mitra wacana media,Jakarta.
Id.Shvoong, 2010, PengertianKoperasiPegawaiNegeriSipil,
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2063091-pengertian-koperasi-pegawai-negeri-sipil/. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014
Keown, Arthur, Dkk, 2008,manajemen keuangan, Cetakan pertama,PT.
Indeks,Jakarta.
Kasmir, 2008,Analisis laporan keuangan, Edisi pertama, cetakan keempat, PT.
Raja Grafindo persada, Jakarta.
Leksono Sonny, 2013, Penelitian Kualitatif ilmu Ekonom:dari Metodologi ke metode, Cetakan pertama, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Martono dan Agus, 2005, manajemen keuangan, Edisikelima, Ekonisia, Yogyakarta.
MunawirS.2000.AnalisaLaporanKeuangan, EdisiRevisi Liberty, CetakanKeenam, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Riyanto, Bambang. 1997. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi 4, Yogyakarta, Penerbit BPFE.
Sofyan, syafri H. 2009,Analisis kritis atas laporan keuangan, Edisi I, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
2 Sutrisno. 2003,Manajemen Keuangan Teori,konsep, dan aplikasi,Edisi pertama,
cetakan ketiga, Ekonisia, Yogyakarta.
Sunyoto, 2011,Metodologi penelitian untuk ekonomi, CAPS Yogyakarta.
Sugiono, 2013, Penelitian kuantitatif, kalitatif dan R & D, Alfabeta, Bandung.
Undang-undang Dasar 1945 Nomor 25 Tahun 1992 TentangPengkoperasian Undang-Undang Dasar 1945 Nomor 17 tahun 2012