• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN BANK KONVENSIONAL DAN SYARI’AH

Dalam dokumen BAB 1 SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM (Halaman 65-70)

PERBANKAN SYARIAH

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN BANK KONVENSIONAL DAN SYARI’AH

Antara keduanya terdapat persamaan dalam hal sisi teknis penerimaan uang, persamaan dalam hal mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan maupun dalam hal syarat-syarat umum untuk mendapat pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan dan sebagainya. Dalam hal persamaan ini semua hal yang terjadi pada Bank Syariah itu sama persis dengan yang terjadi pada Bank Konvensional, nyaris tidak ada perbedaan.

Sedangkan perbedaannya antara lain meliputi aspek akad dan legalitas, struktur organisasi, usaha yang dibiayai dan lingkungan kerja.

Yang pertama tentang akad dan legalitas. Akad dan legalitas ini merupakan kunci utama yang membedakan antara bank syariah dan bank konvensional. “innamal a‟malu bin

niat”, sesungguhnya setiap amalan itu bergantung dari niatnya. Dan dalam hal ini bergantung

dari aqadnya. Perbedaannya untuk aqad-aqad yang berlangsung pada bank syariah ini hanya aqad yang halal, seperti bagi hasil, jual beli atau sewa menyewa. Tidak ada unsur riba‟ dalam bank syariah ini.

Perbedaan selanjutnya yaitu dalam hal struktur organisasi bank. Dalam bank syariah ada keharusan untuk memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam struktur organisasinya. DPS ini bertugas untuk mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah. DPS biasanya ditempatkan pada posisi setingkat dengan dewan komisaris. DPS ini ditetapkan pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) setiap tahunnya.

Semenjak tahun 1997, seiring dengan pesatnya perkembangan bank syariah di Indonesia, dan demi menjaga agar para DPS di setiap bank benar-benar tetap konsisten pada garis-garis syariah, maka MUI membentuk sebuah lembaga otonom untuk lebih fokus pada ekonomi syariah dengan membentuk Dewan Syariah Nasional.

Selanjutnya, perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional adalah pada usaha yang dibiayai. Ada aturan bahwa usaha-usaha yang dibiayai oleh bank syariah ini hanya lah usaha yang halal. Sedangkan untuk usaha yang haram, seperti usaha asusila, usaha yang merusak masyarakat atau sejenisnya itu tidak akan dibiayai oleh bank syariah. bank syariah tidak melaksanakan transaksi pinjam-meminjam uang berdasarkan bunga dalam bentuk apa pun, tapi dengan sistem bagi hasil dengan nasabahnya. Hubungan antara bank syariah dan nasabahnya tidak berupa hubungan debitor-kreditor tapi lebih kepada hubungan partisipasi dalam menanggung risiko dan menerima hasil dari suatu perjanjian usaha. Bank syariah memisahkan kedua jenis pendanaan supaya dapat dibedakan antara hasil yang diperoleh dari dana sendiri dan hasil yang diperoleh dari dana simpanan yang diterima atas dasar prinsip bagi hasil. Bank syariah tidak memberikan pinjaman dalam bentuk uang tunai, tetapi bekerja sama atas dasar kemitraan, seperti mudharabah, musyawarakah atas dasar jual beli (murabahah), atau atas dasar sewa (ijarah). Dalam hal laba, bagi bank syariah bukan satu-satunya tujuan karena bank syariah mengupayakan bagaimana memanfatkan sumber dana yang ada guna membangun kesejahteraan masyarakat. Lagi pula, bank syariah bekerja di bawah pengawasan Dewan Pengawasan Syariah (DPS).

Kemudian perbedaan lainnya adalah pada lingkungan kerja bank syariah. Nuansa yang diciptakan untuk lebih islami. Mulai dari cara berpakaian, beretika dan bertingkah laku dari para karyawannya.

DASAR HUKUM OPERASIONAL BANK SYARI‟AH

Dasar Falsafah Bank Syariah

Syariah Islam sebagai suatu syariah yang dibawa Rasulullah terakhir mempunyai keunikan tersendiri, yang bukan saja komprehensif tetapi juga universal. Komprehemsif, berarti syariah Islam merangkum seluruh aspek kehidupan baik ritual maupun sosial (ibadah maupun

muamalah). Universal, bermakna syariah Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan

tempat sampai hari akhir nanti. Universalitas akan nampak amat jelas terutama dalam bidang muamalah, dimana syariah Islam bukan saja luas dan fleksibel bahkan tidak memberikan

special treatment bagi muslim yang membedakannya dari non muslim. Kenyataan tersebut

tersirat dalam suatu ungkapan yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali,

“...dalam bidang muamalah, kewajiban mereka adalah kewajiban kita, dan hak mereka

adalah hak kita.”

Sifat muamalah ini dimungkinkan karena Islam mengenal hal yang diistilahkan sebagai

tsawabit wa mutaghayyirat (prinsip dan variabel). Dalam sektor ekonomi, misalnya, yang

merupakan prinsip adalah larangan riba, sistem bagi hasil, pengambilan keuntungan, pengenaan zakat, dan lain-lain. Adapun contoh variabel adalah instrumen-instrumen untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut. Tugas cendikiawan muslim sepanjang zaman adalah mengembangkan teknik penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam variabel-variabel yang sesuai dengan situasi dan kondisi pada setiap masa.

Setiap lembaga keuangan syariah mempunyai falsafah mencari keridhaan Allah untuk memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat. Terkait dengan lembaga perbankan, kegiatan yang harus dterapkan adalah :

1. Menjauhkan diri dari unsur riba

 Menghindari penggunaan sistem yang menetapkan di muka secara pasti, keberhasilan suatu usaha (Luqman : 34)

 Menghindari penggunaan sistem presentase untuk pembebanan biaya terhadap utang atau pemberian imbalan, terhadap simpanan yang mengandung unsur melipatgandakan secara otomatis hutang atau simpanan tersebut hanya karena berjalannya waktu (al-Imron : 130)

 Menghindari penggunaan sistem perdagangan atau penyewaan barang ribawi dengan imbalan barang ribawi yang lainnya, dengan memeproleh kelebihan baik kuantitas maupun kualitas (HR. Muslim)

 Menghindari penggunaan sistem yang menetapkan di muka, tambahan atas hutang yang bukan atas prakarsa yang mempunyai hutang secara sukarela (HR Muslim)

2. Menerapkan sistem bagi hasil dan perdagangan Dengan mengacu pada Al-Qur‟an,

“...sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli

dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah : 275)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan

jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (an-Nisaa : 29)

maka setiap transaksi kelembagaan syariah (perbankan) harus dilandasi atas dasar sistem bagi hasil dan perdagangan atau transaksinya didasari oleh adanya pertukaran antara uang dengan barang. Akibatnya pada kegiatan muamalah, berlaku prinsip ada barang atau jasa uang dengan barang, sehingga akan mendorong produksi barang atau jasa, medorong kelancaran arus barang atau jasa, dapat dihindari adanya penyalahgunaan kredit, spekulasi, dan inflasi. Dasar Hukum Bank Syariah di Indonesia

Bank syariah di Indonesia mendapatkan pijakan yang kokoh setelah adanya deregulasi sektor perbankan pada tahun 1983. Hal ini dikarenakan sejak saat itu diberikan keleluasaan dalam penentuan tingkat suku bunga, termasuk bunga nol persen (tnapa bunga). Meskipun begitu kesempatan ini belum termanfaatkan karena tidak diperkenankannya pembukaan kantor bank baru. Hal ini berlangsung sampai tahun 1988 dimana pemerintah mengeluarkan

Pakto 1988 yang memperkenankan berdirinya bank-bank baru. Kemudian posisi perbankan syariah semakin pasti setelah disahkannya UU Perbankan No. 7 tahun 1992 dimana bank diberikan kebebasan untuk menentukan jenis imbalan yang akan diambil dari nasabahnya baik bunga ataupun keuntungan-keuntungan bagi hasil.

Dengan terbitnya PP No. 72 tahun 1992 tentang bank bagi hasil yang secara tegas memberikan batasan bahwa “bank bagi hasil tidak boleh melakukan kegiatan usaha yang

tidak berdasarkan prinsip bagi hasil (bunga) sebaliknya pula bank yang kegiatan usahanya tidak berdasarkan prinsip bagi hasil tidak diperkenankan melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip bagi hasil” (pasal 6), maka jalan bagi operasional perbankan syariah

semakin luas. Kini titik kulminasi telah tercapai dengan disahkannya UU No. 10 tahun 1998 tentang perbankan yang membuka kesempatan bagi siapa saja yang akan memdirikan bank syariah maupun yang ingin berkonversi dari sistem konvensional menjadi sistem syariah. Namun demikian, masih ada beberapa hal yang perlu disempurnakan antara lain perlunya penyusunan dan penyempurnaan ketentuan serta undang-undang operasional bank syariah secara tersendiri, sebab undang-undang yang telah ada sesungguhnya dasar hukum bagi penerapan dual banking system.

Dual banking system yang dimaksud adalah terselenggaranya dua sistem perbankan

(konvensional dan syariah secara berdampingan) yang pelaksanaannya diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sehingga yang terjadi adalah bank syariah tidak berdiri sendiri (mandiri) dalam operasionalisasinya di mana masih menginduk kepada bank konvensional. Bila demikian adanya perbankan syariah hanya menjadi salah satu bagian dari program pengembangan bank konvensional, padahal yang dikehendaki adalah bank syariah yang betul-betul mandiri dengan berbagai perangkatnya sebagai bagian perbankan yang diakui secara nasional.

BAB IX

Dalam dokumen BAB 1 SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM (Halaman 65-70)

Dokumen terkait