• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Anak terhadap Pendidikan Perempuan dalam Hal Perolehan Pekerjaan

PERSEPSI ORANG TUA DAN ANAK TERHADAP PERAN PENDIDIKAN BAGI PEREMPUAN

6.2. Persepsi Anak terhadap Pendidikan bagi Perempuan

6.2.1. Persepsi Anak terhadap Pendidikan Perempuan dalam Hal Perolehan Pekerjaan

Persepsi Anak terhadap Pendidikan dalam Kaitannya dengan Perolehan

Pekerjaan

Frekuensi (orang) Persentase (%)

Negatif 15 50

Positif 15 50

Total 30 100

Persepsi Anak Terhadap Pendidikan

dalam Hal Kehidupan Sosial Frekuensi (orang) Persentase (%)

Negatif 20 66,7

Positif 10 33,3

Total 30 100

Persepsi Anak terhadap Pendidikan

dalam Hal Kehidupan Berkeluarga Frekuensi (orang) Persentase (%)

Negatif 21 70

Positif 9 30

Total 30 100

Sebesar 50 persen dari responden anak memandang pendidikan perempuan penting dalam perolehan perempuan. Sebanyak 66,7 persen responden anak menganggap pendidikan perempuan tidak berpengaruh dalam kehidupan sosial seseorang. Sebesar 70 persen responden anak beranggapan bahwa pendidikan juga tidak penting dalam kehidupan berkeluarga. Bagi responden anak, pendidikan penting dalam beberapa aspek kehidupan perempuan, namun responden anak pun tidak sepenuhnya sudah memandang pentingnya pendidikan sebagaimana mestinya.

6.2.1. Persepsi Anak terhadap Pendidikan Perempuan dalam Hal Perolehan Pekerjaan

Responden anak terbagi menjadi dua kelompok sama besar dalam berpendapat mengenai pentingnya pendidikan perempuan dalam hal perolehan pekerjaan. Sebesar 50 persen responden anak menilai pendidikan perempuan

sangat penting dalam hal perolehan pekerjaan, sedangkan lima puluh persen lainnya menganggap pendidikan tidak begitu penting bagi perempuan dalam hal memperoleh pekerjaan. Adapun beberapa hal yang berhubungan dengan persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam hal perolehan pekerjaan antara lain, usia, jenis kelamin, kepekaan anak terhadap isu gender marjinalisasi, subordinasi, stereotipi, kekerasan, dan beban kerja.

Tabel 35. Persepsi Anak terhadap Peran Pendidikan dalam Hal Perolehan Pekerjaan Berdasarkan usia di Kecamatan Cariu Kabupaten Bogor (2008)

Persepsi Anak Terhadap Pendidikan dalam Hal Pekerjaan

Usia Anak

15-24 25-34

Negatif 7(36,8%) 8(72,7%)

Positif 12(63,2%) 3(27,3%)

Total 19 (100%) 11

(100%)

Variabel pertama yang berhubungan dengan persepsi anak terhadap peran pendidikan perempuan dalam hal perolehan pekerjaan adalah variabel usia.

Semakin dewasa seorang anak, maka semakin positif persepsinya terhadap peran pendidikan dalam hal perolehan pekerjaan. Anak yang tergolong kategori dewasa adalah anak yang berusia antara 25 tahun sampai dengan 34 tahun, sedangkan anak yang tergolong dalam kategori usia rendah adalah anak yang berusia antara 15 tahun sampai 24 tahun. Responden anak yang tergolong dewasa berpikir bahwa pendidikan perempuan berperan penting dalam perolehan pekerjaan, sedangkan responden anak yang belum dewasa tidak terlalu memandang penting peran pendidikan perempuan dalam perolehan pekerjaan. Hal demikian dapat terjadi karena responden anak yang dewasa sudah memiliki pengalaman dalam

hal pencarian pekerjaan, sementara responden yang belum dewasa belum berpengalaman sebaik responden dewasa. Responden anak dewasa sudah mengalami susahnya mencari pekerjaan, sehingga mereka berpikir bahwa pendidikan memang penting untuk memperoleh pekerjaan. Responden anak yang belum dewasa masih belum sepenuhnya mengalami pengalaman mencari kerja sungguhan, kebanyakan dari mereka masih bergantung pada orang orang tuanya dan mencerminkan hidup pada kehidupan orang tuanya.

Tabel 36. Persepsi Anak terhadap Peran Pendidikan dalam Hal Perolehan Pekerjaan Berdasarkan Jenis Kelamin di Kecamatan Cariu Kabupaten Bogor (2008)

Persepsi Anak Terhadap Pendidikan dalam Hal Pekerjaan

Jenis Kelamin Anak Laki-laki Perempuan

Negatif 8 (80%) 7 (35%)

Positif 2 (20%) 13 (65%)

Total 10 (100%) 20 (100%)

Jenis kelamin anak berhubungan dengan persepsi anak terhadap peran pendidikan perempuan dalam perolehan pekerjaan. Responden anak laki-laki memiliki persepsi yang tidak begitu baik terhadap peran pendidikan perempuan dalam perolehan pekerjaan.

Persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam perolehan pekerjaan berhubungan dengan semua variabel dari kepekaan responden terhadap isu gender. Variabel kepekaan isu gender terdiri kepekaan terhadap isu gender marjinalisasi, subordinasi, stereotipi, kekerasan, dan beban kerja. Dapat dikatakan bahwa semakin peka seorang anak terhadap isu gender, maka semakin positif pula persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam hal perolehan pekerjaan.

Tabel 37. Persepsi Anak terhadap Peran Pendidikan dalam Hal Perolehan Pekerjaan Berdasarkan Kepekaan terhadap Isu Gender Marjinalisasi di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor (2008)

Persepsi Anak Terhadap Pendidikan dalam Hal Pekerjaan

Marjinalisasi Anak Rendah Tinggi

Negatif 4 (80%) 11 (44%)

Positif 1 (20%) 14 (56%)

Total 5 (100%) 25

(100%)

Data di atas menunjukkan bahwa variabel kepekaan anak terhadap isu gender marjinalisasi berhubungan dengan persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam perolehan pekerjaan. Semakin tinggi kepekaan anak terhadap isu gender marjinalisasi, maka semakin tinggi pula persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam hal perolehan pekerjaan. Kepekaan terhadap isu gender marjinalisasi adalah kepekaan seseorang terhadap persamaan kedudukan laki-laki dan perempuan dari segi ekonomi. Segi ekonomi juga erat hubungannya dengan pekerjaan. Anak yang memiliki kepekaan tinggi terhadap isu gender marjinalisasi beranggapan bahwa perempuan sudah seharusnya berkedudukan sama dengan laki-laki jika memang memiliki potensi yang sama. Kedudukan tersebut dapat didapatkan jika pendidikan laki-laki dan perempuan sejajar. Oleh karena itu, perempuan juga harus sedapat mungkin mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki.

Tabel 38. Persepsi Anak terhadap Peran Pendidikan dalam Hal Perolehan Pekerjaan Berdasarkan Kepekaan terhadap Isu Gender Subordinasi di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor (2008)

Persepsi Anak Terhadap Pendidikan dalam Hal Pekerjaan

Subordinasi Anak Rendah Tinggi

Negatif 13 (56,5%) 2 (38,6%)

Positif 10 (43,5%) 5 (71,4%)

Total 23 (100%) 7 (100%)

Kepekaan terhadap isu gender subordinasi diartikan sebagai kepekaan seseorang terhadap kedudukan perempuan dalam berhubungan dengan laki-laki, termasuk dalam mengambil keputusan. Tabel 40 menunjukkan bahwa kepekaan anak terhadap isu gender subordinasi berhubungan dengan persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam hal perohan pekerjaan. Semakin tinggi kepekaan anak terhadap isu gender subordinasi, maka semakin positif pula persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam hal perolehan pekerjaan. Anak yang peka terhadap isu gender subordinasi menilai bahwa pendidikan bagi anak perempuan sama pentingnya dengan pendidikan bagi anak laki-laki karena anak pereempuan dan laki-laki harus bisa mampu berdiri di atas kakinya sendiri kelak. Untuk dapat menjadi seseorang yang mandiri, maka seseorang harus bisa mengambil keputusan sendiri. Oleh karena itu, perempuan dan laki-laki harus berpendidikan.

Hal tersebut ditegaskan oleh pernyataan seorang responden anak sebagai berikut:

anak perempuan juga harus bisa mandiri, jangan tergantung terus sama orang tua. Suatu saat kan orang tua bakal ninggalin kita, kalo kita dari sekarang terlalu tergantung kan repot juga nantinya.. jadi anak perempuan juga mesti sekolah biar bisa mandiri nantinya. (YT, anak, 21 tahun).

Tabel 39. Persepsi Anak terhadap Peran Pendidikan dalam Hal Perolehan Pekerjaan Berdasarkan Kepekaan terhadap Isu Gender Stereotipi di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor (2008)

Persepsi Anak Terhadap Pendidikan dalam Hal Pekerjaan

Stereotipi Anak Rendah Tinggi

Negatif 10 (55,6.%) 5 (41,7%)

Positif 8 (44,4%) 7 (58,3%)

Total 18 (100%) 12

(100%)

Variabel selanjutnya yang berhubungan dengan persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam hal perolehan pekerjaan adalah kepekaan anak terhadap isu gender stereotipi. Kepekaan seseorang terhadap isu gender stereotipi diartikan sebagai kepekaan seseorang terhadap label negatif yang biasanya ditempelkan kepada perempuan, misalnya perempuan itu hanya perlu cantik saja, tanpa harus pandai. Anak yang memiliki kepekaan terhadap isu gender stereotipi tidak percaya dengan stereotipi yang dilabelkan kepada perempuan. Mereka tahu bahwa label tersebut mungkin saja berlaku kepada seorang perempuan, tapi label tersebut tidak berlaku pada seluruh perempuan. Mereka beranggapan bahwa perempuan harus pandai, caranya adalah dengan bersekolah. Mereka menyangkal anggapan bahwa kalaupun seorang perempuan bisa mendapatkan pekerjaan yang baik, itu hanya karena perempuan itu cantik, berpenampilan menarik, atau yang lainnya, tetapi bukan melihat kemampuan perempuan itu.

Tabel 40. Persepsi Anak terhadap Peran Pendidikan dalam Hal Perolehan Pekerjaan Berdasarkan Kepekaan terhadap Isu Gender Kekerasan di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor (2008)

Persepsi Anak Terhadap Pendidikan dalam Hal Pekerjaan

Kepekaan anak terhadap isu gender kekerasan berhubungan dengan persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam hal perolehan pekerjaan. Data menunjukkan bahwa semakin tinggi kepekaan anak terhadap isu gender kekerasan, maka semakin baik pula persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam hal perolehan pekerjaan. Anak yang memiliki kepekaan tinggi terhadap isu gender kekerasan dapat dikatakan sebagai anak yang tidak menghierarkhikan perempuan dan laki-laki, mereka menganggap laki-laki dan perempuan sama. Jika ada perempuan yang diperlakukan tidak baik oleh laki-laki, perempuan biasanya disalahkan. Oleh karena itu, perempuan harus memiliki benteng yang kuat dalam menjaga diri. Perempuan yang tidak berpendidikan kemungkinan besar tidak mengetahui bagaimana harus bersikap, sehingga terjadilah tindakan kekerasan yang kemudian berlangsung terus menerus.

Tabel 41. Persepsi Anak terhadap Peran Pendidikan dalam Hal Perolehan Pekerjaan Berdasarkan Kepekaan terhadap Isu Gender Beban Kerja di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor (2008)

Persepsi Anak Terhadap Pendidikan dalam Hal Pekerjaan

Kepekaan anak terhadap isu gender beban kerja berhubungan dengan persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam hal perolehan pekerjaan. semakin tinggi kepekaan seseorang terhadap isu gender beban kerja, maka akan semakin positif pula persepsi anak terhadap peran pendidikan dalam hal perolehan pekerjaan. Anak yang peka terhadap isu gender beban kerja sudah mengerti bahwa perekerjaan rumah tangga bukan hanya tanggung jawab seorang perempuan saja, tetapi juga merupakan tanggung jawab laki-laki. Mereka beranggapan bahwa kalau seorang perempuan tidak pendidikan, ia akan dengan serta merta hanya menerima pekerjaan di rumah tangga saja. Jika mereka berpendidikan, tentunya mereka mendapatkan informasi yang lebih mengenai banyak hal, salah satunya adalah mengenai isu gender beban kerja yang idelanya ditetapkan sebagai kesepakatan bersama, bukan hanya pekerjaan perempuan saja.

6.2.2. Persepsi Anak terhadap Peran Pendidikan Perempuan dalam Hal