BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
LANDASAN TEORI A.Telaah Pustaka
B. Kerangka Teori
2) Persepsi dan Perilaku Konsumen
Stimuli setiap orang dalam melihat setiap objek bisa berbeda-beda melahirkan beragam persepsi. Setiap persepsi yang dimiliki oleh setiap orang bias menjadi sangat subjektif dan dianggap sesuatu yang wajar. Kondisi dan situasi dimana seseorang berada membentukdan mempengaruhi pola pikir yang dimiliki oleh seseorang tersebut yang selanjutnya ikut mempengaruhi penilaian dirinya dalam melihat setiap produk.Konsumen memperoleh beragam informasi dari berbagai media cetak dan elektronik yang berpengaruh besar terhadap pembentukan pola pikir seseorang yang akhirnya membentuk
persepsi dalam memilih setiap produk.Nilai pelanggan sebagai penilaian keseluruhan konsumen terhadap utilitas sebuah produk berdasarkan persepsinya terhadap apa yang diterima dan apa yang diberikan. Nilai adalah ikatan yang kuat pada persepsi konsumen atas manfaat yang diterima dengan biaya dalam kaitannya dengan sejumlah uang, waktu dan usaha (Tjiptono, 2007: 296)
Sweeney dan Soutar dalam (Tjiptono, 2007: 298) mengemukakan dimensi persepsi nilai terdiri atas tiga aspek utama sebagai berikut:
a) Emotional Value (nilai emosional)
Atribut-atribut dari nilai emosional meliputi kemampuan sebuah produk untuk menimbulkan rasa ingin mengkonsumsi produk tersebut dan kemampuan sebuah produk untuk menciptakan rasa senang atau puas pada konsumen.
b) Social Value (nilai sosial)
Atribut-atribut dari nilai sosial meliputi kemampuan sebuah produk untuk menimbulkan rasa bangga kepada konsumen dan kemampuan sebuah produk untuk menimbulkan kesan yang baik kepada konsumen.
c) Quality/Performance Value (nilai kualitas atau performa jasa) Atribut-atribut dari nilai kualitas meliputi manfaat yang diperoleh konsumen setelah mengkonsumsi produk tersebut dan konsistensi pelayanan oleh karyawan perusahaan.
Sebuah produk akan dibeli jika mengandung keunikan. Salah satu keunikan yang harus dibuat bukan hanya produk yang diproduksi namun juga menyangkut keunikan iklan yang ditampilkan kepada konsumen, dengan tujuan agar konsumen memiliki kesan yang dalam terhadap produk yang ditampilkan. Dengan begitu, akan menimbulkan rangsangan yang berkesan terhadap produk tersebut yang lebih jauh bisa membangun semangat untuk mencoba produk tersebut (Fahmi, 2016:12-13).
Menurut Suryani (2008:114-115) ketika konsumen membeli akan mempertimbangkan risiko yang terjadi. Risiko yang dipersepsikan ini akan didasarkan pada banyak pertimbangan yang bersumber dari informasi dan pengalaman terkait. Terdapat banyak risiko yang dipertimbangkan konsumen. Jacoby dan Kapalan (dikutip Mowen dan Minor,2002), Sengupta, et al (1997) dan Aydin (2005) menjelaskan ada enam jenis risiko yang dipersepsikan oleh konsumen yaitu:
a) Risiko Keuangan b) Risiko Kinerja c) Risiko Psikologis d) Risiko Fisiologis e) Risiko Sosial f) Risiko Waktu
Menurut Schiffman dan Kanuk (2008:172-173) terdapat beberapa strategi yang harus dilakukan konsumen untuk mengurangi resiko yang dirasakan meliputi:
a) Pencarian informasi b) Kesetiaan terhadap merk c) Membeli merk yang terkenal
d) Membeli dari pedagang ritel yang mempunyai nama baik e) Membeli merk yang paling mahal
f) Mencari jaminan
f. Pengambilan Keputusan Konsumen
Keputusan adalah suatu pilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Dengan kata lain, orang yang mengambil keputusan harus mempunyai satu pilihan dari beberapa alternatinf yang ada. Bila seseorang dihadapkan pada dua pilihan, yaitu membeli atau tidak membeli, dan kemudian dia memilih membeli , maka dia ada dalam posisi membuat suatu keputusan (Prasetijo dan Ihalauw, 2005:226)
Menurut Suryani (2008:14) proses keputusan pembelian dibagi menjadi dua dimensi yaitu tingkat pengambilan keputusan dan derajat keterlibatan saat membeli. Dimensi pertama, konsumen dibedakan atas tingkat pengambilan keputusan. Konsumen sering melakukan pencarian informasi dan evaluasi terhadap merek lain sebelum keputusan diambil. Lain pihak, ada pula konsumen yang jarang mencari informasi tambahan, karena konsumen ini telah terbiasa
membeli merek tersebut.Dimensi kedua, konsumen dibedakan berdasarkan tingkat keterlibatan saat pemilihan suatu merek. Pada saat itu konsumen tidak jarang terlibat terlalu dalam, hal ini dapat terjadi karena:
1) Produk amat penting bagi konsumen sebab image pribadi dari konsumen terkait dengan produk
2) Adanya keterkaitan secara luas menerus dengan konsumen. 3) Mengandung resiko yang cukup tinggi
4) Pertimbangan emosional 5) Pengaruh dari norma grup
Proses pengambilan keputusan sebagai aktivitas penting dalam perilaku konsumen perlu dipahami untuk merumuskan strategi pemasaran yang tepat yang mampu mempengaruhi setiap tahapan proses pengambilan keputusan yang berlangsung. Dalam pengambilan keputusan ada 3 proses yaitu tahap pengakuan adanya kebutuhan (konsumen merasakan adanya kebutuhan, usaha pencarian informasi sebelum membeli dan penilaian terhadap alternatif. Proses ini dipengaruhi usaha-usaha dari pemasaran perusahaan dan lingkungan sosio-kultural serta kondisi psikologis konsumen. Faktor eksternal yang dapat berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan adalah usaha yang dilakukan pemasar melalui strategi bauran pemasaran (4P) dan lingkungan sosial budaya sebagai input. Faktor
internal yang berperan misalnya motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian, sikap dan pengalaman. (Suryani, 2008:16).
d) Teori Tabungan (Saving)
Menurut Keynes, besarnya tabungan yang dilakukan oleh seseorang bukan tergantung pada tinggi rendahnya suku bunga. Ia terutama tergantung pada besar kecilnya tingkat pendapatan seseorang itu. Makin besar pendapatan yang diterima, makin besar pula jumlah tabungan yang akan dilakukan olehnya. Apabila jumlah pendapatan tidak mengalami kenaikan atau penurunan, perubahan yang cukup besar dalam suku bunga tidak akan menimbulkan pengaruh yang berarti ke atas jumlah tabungan yang akan dilakukan oleh seseorang. Ini berarti, menurut pandangan Keynes, jumlah pendapatan yang diterima dan bukan suku bunga yang menjadi penentu utama dari jumlah tabunga yang akan dilakukan oleh seseorang. (Sukirno, 2013:80).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Persaulin dkk (2013) bahwa pendapatan disposable berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat di Indonesia.Mankiw (2003) menyatakan bahwa fungsi dasar konsumsi Keynes merupakan fungsi pendapatan disposibel. Jika pendapatan berkurang, konsumen tidak akan banyak mengurangi pengeluarannya untuk mempertahankan konsumsi yang tinggi tersebut dan mengurangi besaran tabungannya. Apabila pendapatan bertambah lagi, maka konsumen akan menambah konsumsinya, dengan pertambahan yang tidak begitu besar, berbeda dengan tabungan yang akan bertambah
semakin besar. Kondisi ini akan berlanjut terus sampai tingkat pendapatan tertinggi yang pernah dicapai terulang kembali.
Pendapatan disposible adalah jumlah yang tersedia untuk dibelanjakan atau ditabung oleh rumah tangga (Dornbusch dan Fischer, 1997:44)
Pendapatan disposible merupakan pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi.
Menurut Anto (2003:144) besarnya pendapatan disposible
menentukan jumlah barang yang akan di konsumsi dan jumlah uang yang akan ditabung. Seseorang biasanya akan menabung sebagian dari pendapatannya dengan beragam motif antara lain:
1) Untuk berjaga-jaga terhadap ketidak pastian masa depan
2) Untuk persiapan pembelian suatu barang konsumsi di masa depan 3) Untuk mengakumulasikan kekayaannya
Dalam ilmu ekonomi mikro islam, pendapatan yang diterima dapat dijadikan sebagian untuk konsumsi, dan sebagian lagi untuk disimpan atau ditabung. (Karim, 2008:59).
Keynes berpendapat bahwa tabungan adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsi pada periode yang sama. Karenanya tabungan merupakan fungsi tingkat pendapatan dapat ditulis dengan S = f (Y) yang siap dibelanjakan (disposible income).
e) Perbankan Syariah
a. Pengertian Perbankan Syariah
Kata bank beral dari kata banque dalam bahasa prancis dan banco dalam bahasa italia, yang berarti peti atau lemari. Kata peti atau lemari menyiratkan fungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga seperti emas, peti berlian, peti uang, dan barang berharga lainnya (Arifin, 2009:2)
Menurut Yudiana (2014:2) bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroprasi disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah. Sedangkan menurut Undang-Undang No. 21 tahun 2008 pasal 1 ayat 7, yang dimaksud dengan Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.
b. Fungsi dan Peran bank Syariah
Menurut Antonio 2001 dalam Yudiana (2014:3-6) fungsi bank syariah yaitu:
1) Fungsi bank syariah sebagai manajemen investasi 2) Fungsi bank syariah sebagai intermediacy agent
3) Fungsi bank syariah sebagai jasa keuangan 4) Fungsi bank syariah sebagai jasa sosial
Peranan bank syariah (Yudiana, 2014:5-6):
1) Memurnikan operasional perbankan syariah sehingga dapat lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat
2) Meningkatkan kesadaran syariah umat Islam sehingga dapat memperluas segmen dan pangsa pasar perbankan syariah
3) Menjalin kerjasama dengan para ulama
4) Memberdayakan ekonomi umat dan beroprasi secara transparan 5) Memberikan return yang lebih baik, sehingga investasi di bank
syariah mampu memberikan lebih baik dibandingkan dengan bank konvensional
6) Mendorong terjadinya transaksi produktif dan mengurangi tingkat spekulsi di pasar keuangan
7) Mendorong pemerataan pendapatan
8) Peningkatan efisiensi mobilisasi dana khususnya pada produk mudharbah dan muqayyadah dimana bank syariah bebas untuk melakukan investasi atas dana yang diserahkan oleh investor c. Produk Tabungan Perbankan Syariah
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan, yang dimaksud dengan tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro,dan atau lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu (Karim, 2007:297).
Menurut Kasmir (2014:190) adapun yang dimaksud tabungan dalam lembaga keuangan syariah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip syariah, yang mana tabungan yang dibenarkan adalah tabungan wadiah dan tabungan murabahah.
1) Tabungan Wadiah
Menurut Ascarya (2011:115) tabungan wadiah adalah produk pendanaan bank syariah berupa simpanan dari nasabah dalam bentuk rekening tabungan (savings account) untuk keamanan dan kemudahan pemakainya. Karakteristik tabungan
wadiah mirip dengan tabungan pada bank konvensional nasabah penyimpan diberi garansi untuk dapat menarik dananya sewaktu-waktu dengan menggunakan berbagai fasilitas yang disediakan bank, seperti kartu ATM, dan sebagainya tanpa biaya.
Beberapa ketentuan umum tentang tabungan wadiah: a) Tabungan wadiah merupakan tabungan yang bersifat titipan
murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak pemilik harta.
b) Keuntungn atau kerugian dari penyaluran dana atau pemanfaatan barang menjadi milik atau tabungan bank, sedangkan nasabah penitip tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung kerugian.
c) Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik harta sebagai sebuah inisiatif selama tidak diperjanjikan dalam akad pembukaan rekening.
Jenis Wadiah
Dalam islamwadiah dibedakan menjadi dua macam (Trisadini, 2013:37) yaitu:
a) Wadiahyad amanah yaitu akad penitipan uang dimana penerima tidak diperkenankan menggunakan uang yang dititipkan. Penerima titipan hanya punya kewajiban menggembalikan barang atau uang yang ditipkan pada saat diminta oleh pihak yang menitipkan secara apa adanya. b) Wadiah yad Dhamanah yaitu titipan terhadap barang atau
uang yang dapat dipergunkan atau dimanfaatkan oleh penerima titipan. sehingga pihak penerima titipan bertanggung jawab terhadap resiko yang menimpa barang atau uang sebagai akibat dari penggunaan atas suatu barang atau uang. Tentu saja penerima titipan wajib mengembalikan barang atau uang yang ditipkan oleh pihak yang menitipkan.
2) Tabungan Mudharabah
Tabungan mudharabah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan akad mudharabah. Dalam hal ini nasabah bertindak
sebagai shahibul mal (pemilik dana) sedangkan Bank Syariah bertindak sebagai mudharib (pengelola dana). Dalam mengelola harta mudharabah, bank menutup biaya operasional tabungan dengan mengunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.Disamping itu bank tidak diperbolehkan mengurangi nisbah keuntungan nasabah penabung tanpa persetujuan yang bersangkutan (Karim, 2007: 299-301).
Ketentuan umum tabungan mudharabah:
a) Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagi shahibul mal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola.
b) Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk didalamnya mudharabah dengan pihak lain.
c) Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
d) Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam bentuk akad pembukaan rekening.
e) Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
Jenis tabungan mudharabah (Ascarya, 2011:118-119) yaitu: a) Mudharabah Mutlaqah yaitu pemilik dana tidak
memberikan batasan atau persyaratan tertentu kepada lembaga keuangan dalam mengelola investasinya. Dengan kata lain, lembaga keuangan syariah mempunyai hak dan kebebasan sepenuhnya dalam menginvestasikan dana
mudharabah mutlaqah ini ke berbagai sektor bisnis yang diperkirakan akan memperoleh keuntungan.
b) Mudharabah Muqayyadah yaitu pemilik dana memberikan batasan atau persyaratan tertentu kepada lembaga keuangamn syariah dalam mengelola investasinya, baik yang berkaitan dengan tempat, cara maupun objek investasinya. Dengan kata lain, lembaga keuangan syariah tidak mempunyai hak dan kebebasan sepenuhnya dalam menginvestasikan dana mudharabah muqayyadah ini ke berbagai sektor bisnis yang diperkirakan akan memperoleh keuntungan.