BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.4 Persepsi guru bidang studi terhadap kesalahpahaman bahwa
Bimbingan diperuntukkan bagi semua individu (guidance is for all individuals). Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua individu atau peserta didik, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah, baik pria maupun wanita, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dala hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). Syamsu Yusuf (2008: 17).
Dari hasil penyebaran skala psikologis yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa persepsi guru bidang studi terhadap kesalahpahaman bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien-klien tertentu saja berada pada kategori tinggi yaitu sebesar 79,96 %. Hanya sebagian kecil guru bidang studi yang sudah menyadari bahwa layanan bimbingan dan konseling harus diberikan kepada semua siswa secara menyeluruh. Sebagian besar masih memiliki kesalahpahaman. Nomor item yang memiliki nilai tertinggi yaitu nomor 4, yaitu anggapan bahwa guru BK hanya menangani siswa yang bermasalah saja.
4.2.5 Persepsi Guru Bidang Studi terhadap Kesalahpahaman bahwa Konselor Sekolah didalam melaksanakan pelayanan bimbingan dan Konseling Hanya Bekerja Sendiri
Syamsu Yusuf dalam bukunya Landasan Bimbingan dan Konseling mengatakan bahwa pencapaian standar akademis dan tugas-tugas perkembangan peserta didik memerlukan kerjasama yang harmonis antara para pengelola atau manajemen pendidikan, pengajaran, dan bimbingan , sebab ketiganya merupakan bidang-bidang utama dalam pencapaian tujuan pendidikan.
Dari hasil penyebaran skala psikologis yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa persepsi guru bidang studi terhadap kesalahpahaman bahwa konselor sekolah didalam melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling hanya bekerja sendiri berada pada kategori tinggi yaitu 79,87 %. Hanya sebagian kecil guru bidang studi yang sudah mengetahui bahwa peran serta dari mereka sangat dibutuhkan dalam penanganan permasalahan siswa.
Bimbingan merupakan usaha bersama. Bimbingan bukan tugas atau tanggung jawab konselor saja, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala sekolah. Mereka sebagai teamwork terlibat dalam proses bimbingan. Syamsu yusuf (2008: 17). Berdasarkan hasil analisis skala persepsi, sebagian besar guru bidang studi sudah menyadari bahwa didalam mengatasi permasalahan siswa perlu adanya kerjasama dan kolaborasi dengan banyak pihak, salah satunya guru BK. Dan mereka umumnya telah memahami deskripsi kerja (kinerja) mereka dalam pengembangan staf pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, seperti yang dijelaskan oleh Yusuf (2008: 34) sebagai berikut:
1) Memahami konsep dasar bimbingan dan karakteristik siswa (tugas-tugas perkembangan siswa), sebagai landasan untuk memberikan layanan bimbingan
2) Memahami keragama karakteristik siswa dalam aspek-aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, temperamen (periang, pendiam, pemurung,atau mudah tersinggung), dan karakternya (seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggungjawab).
3) Menandai siswa yang diduga mempunyai masalah atau siswa yang gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya
4) Menciptakan iklim kelas yang secara sosiopsikologis kondusif bagi kelancaran belajar siswa, seperti bersikap ramah, bersikap respek
terhadap siswa, bersikap adil (tidak
menganaktirikan/menganakemaskan anak), menghargai pendapat atau hasil karya siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya atau mengemukakan pendapat, bergairah dalam mengajar, dan berdisiplin.
5) Membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar
6) Mereferal (mengalihtangankan) siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing
7) Bekerjasama dengan guru pembimbing dalam rangka membantu siswa 8) Memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang
kerja yang diminati siswa
9) Memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan,sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja)
10) Menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun moral-spiritual. Hal ini penting, karena guru
merupakan “figur central” bagi siswa
11) Memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikan secara efektif
Jawaban responden pada poin ini yang memiliki nilai tertinggi yaitu item nomor 25 dan 45. Yaitu anggapan bahwa tanpa adanya peran aktif dari guru bidang studi, keefektifan pelayanan bimbingan dan konseling tetaplah sama. Selain itu juga sebagian guru bidang studi beranggapan bahwa mereka tidak perlu terlibat dalam kegiatan bimbingan dan konseling, karena mereka sudah memiliki tugas masing-masing.
4.2.6 Persepsi Guru Bidang Studi terhadap Kesalahpahaman bahwa Pekerjaan sebagai Konselor Bisa Dilaksanakan oleh Siapa Saja
Salah satu asas bimbingan dan konseling adalah Ahli, yaitu bimbingan konseling menghendaki agar setiap layanan diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. Menurut
Pietrofesa (dalam Syamsu) sejumlah ciri-ciri konseling profesional sebagai berikut:
a. Konseling merupakan suatu hubugan profesional yang diadakan oleh seorang konselor yang sudah dilatih untuk pekerjaannya itu
b. Dalam hubungan yang bersifat profesional itu, klien mempelajari keterampilan pengambilan keputusan, pemecahan masalah, serta tingkah laku atau sikap-sikap baru
c. Hubungan profesional itu dibentuk berdasarkan kesukarelaan antara klien dan konselor.
Dari hasil penyebaran skala psikologis yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa persepsi guru bidang studi terhadap kesalahpahaman bahwa pekerjaan sebagai konselor bisa dilaksanakan oleh siapa saja berada pada kategori tinggi yaitu 73,30%. Jawaban responden mengenai indikator ini yang memiliki nilai tertinggi adalah item nomor 52, 8, dan 38. Yaitu sebagian guru bidang studi beranggapan bahwa didalam mengatasi siswa yang bermasalah, yang terpenting adalah menasihati siswa, tugas guru BK adalah tugas yang tidak membutuhkan banyak teori, dan karena hal tersebut maka tugas guru BK dapat digantikan oleh guru mata pelajaran sewaktu-waktu. Ini terkait dengan persepsi kesalahpahaman poin ke 3 yaitu persepsi guru bidang studi bahwa Bimbingan dan Konseling yang dilakukan oleh konselor adalah semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. Sebagian dari guru bidang studi beranggapan bahwa proses layanan konseling individu hanyalah menasihati siswanya sehingga bisa dilakukan oleh siapa saja. Hal ini tentu bertentangan dengan Peraturan menteri pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2008 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor, yang menyatakan bahwa kualifikasi akademik konselor dalam satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal adalah: (i)
sarjana pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling; (ii)berpendidikan profesi konselor. kompetensi konselor meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional, yang berjumlah 17 kompetensi dan 76 sub kompetensi. Dimana bimbingan dan konseling haruslah dilakukan oleh orang yang memang ahli dibidangnya, dalam hal ini lulusan S-1 Bimbingan dan Konseling. Seperti yang dikatakan oleh Prayitno (2004) bimbingan dan konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu , baik anak-anak , remaja, maupun dewasa agar orang-orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
4.2.7 Persepsi Guru Bidang Studi Terhadap Kesalahpahaman bahwa Hasil