TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Air Limbah Domestik
2.5.3. Persepsi Masyarakat dalam Pengendalian Pencemaran
Konsep persepsi pada dasarnya merupakan suatu konsep dan kajian psikologi. Persepsi merupakan pandangan individu terhadap suatu objek. Akibat adanya stimulus, individu memberikan reaksi (respon) berupa penerimaan atau penolakan terhadap stimulus tersebut (Langevelt, 1996 dalam Harihanto, 2001). Individu tidak hanya merespon suatu objek, tetapi juga memberi makna situasi tersebut menurut kepentingannya.
Proses terbentuknya persepsi terjadi sebagai hasil proses penerimaan informasi melalui penarikan kesimpulan atau pembentukan arti yang dikaitkan dengan kesan atau ingatan untuk kejadian yang sama dimasa lalu. Kunci pemahaman terhadap persepsi masyarakat terhadap suatu objek, terletak pada pengenalan dan penafsiran unik terhadap objek pada suatu situasi tertentu dan bukan merupakan suatu pencatatan yang sebenarnya dari situasi tersebut. Informasi dan situasi dapat berfungsi sebagai stimulus bagi terbentuknya suatu persepsi, walau informasi tentang lingkungan itu juga bisa berupa suatu situasi tertentu, tidak harus berupa rangkaian kalimat atau isyarat (Thoha, 1988). Proses kognitif yang bisa terjadi pada setiap orang dalam memahami lingkungannya dapat diperoleh melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan maupun penciuman.
Ada tiga rangkaian proses yang membentuk persepsi, yaitu seleksi, organisasi dan interpretasi. Stimulus yang diterima mula-mula diseleksi, hanya stimulus yang sesuai dengan kebutuhan atau menarik perhatian saja kemudian diubah menjadi kesadaran. Pada tahap organisasi, stimulus yang diterima seseorang disusun secara sederhana dan terpadu, sedangkan pada tahap interpretasi yakni dilakukan penilaian dan pengambilan keputusan. Seseorang akan menangkap berbagai gejala atau rangsangan di luar dirinya melalui indra yang dimilikinya dan selanjutnya akan memberikan interpretasi terhadap rangsangan tersebut. Pemaknaan individu terhadap suatu objek kemudian akan membentuk struktur kognisi di dalam dirinya. Data yang diperoleh terhadap suatu objek tertentu akan masuk ke dalam kognisi mengikuti prinsip organisasi kognitif yang sama dan proses ini tidak hanya berkaitan dengan
penglihatan tetapi juga melalui semua indra manusia. Hasil interpretasi tersebut merupakan bagaimana pengertian atau pemahaman seseorang terhadap suatu objek. Persepsi masyarakat terhadap lingkungan diperlukan untuk mengoptimalkan kualitas lingkungan sesuai dengan persepsi masyarakat yang menggunakannya. Persepsi mengenai lingkungan yang mencakup harapan, aspirasi ataupun keinginan terhadap suatu kualitas lingkungan tertentu sebaiknya dipahami secara subjektif, yakni dikaitkan dengan aspek-aspek psikologis dan sosio kultur masyarakat. Dengan demikian, kualitas lingkungan harus didefinisikan secara umum sebagai lingkungan yang memenuhi preferensi imajinasi ideal seseorang atau sekelompok orang.
Persepsi bukanlah sesuatu hal yang memiliki sifat statis, tetapi terbuka terhadap berbagai informasi yang muncul dari lingkungan. Krech (1985) menyatakan bahwa perubahan persepsi dapat terjadi akibat berkembangnya pemahaman terhadap lingkungan ataupun akibat terjadinya perubahan kebutuhan nilai-nilai yang dianut, sikap dan sebagainya. Dengan demikian persepsi masyarakat yang ada di sekitar perairan sungai akan dipengaruhi oleh karakteristik personalnya, seperti umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan lokasi tempat tinggalnya (lingkungan).
Pareek (1984) mengemukakan ada empat faktor utama yang menyebabkan terjadinya perbedaan persepsi.
1) Perhatian.
Terjadinya persepsi pertama kali diawali oleh adanya perhatian. Tidak semua stimulus yang ada di sekitar kita dapat kita tangkap semuanya secara bersamaan. Perhatian kita hanya tertuju pada satu atau dua objek yang menarik bagi kita.
2) Kebutuhan
Setiap orang mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, baik itu kebutuhan menetap maupun kebutuhan yang sesaat.
3) Kesediaan
Adalah harapan seseorang terhadap suatu stimulus yang muncul, agar memberikan reaksi terhadap stimulus yang diterima lebih efisien sehingga akan lebih baik apabila orang tersebut telah siap terlebih dulu.
4) Sistem nilai
Sistem nilai yang berlaku dalam diri seseorang atau masyarakat akan berpengaruh terhadap persepsi seseorang.
2.6. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 2.6.1. Sewage Station Tanjung Gading
Kota Tanjung gading yang diresmikan pemakaiannya tanggal 20 Januari 1982, adalah pemukiman yang ditata sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan perumahan bagi karyawan PT Inalum Pabrik Peleburan Aluminium Kuala Tanjung serta badan-badan terkait dengan kegiatan seperti Pegawai Pemerintahan, Kontraktor, dsb. Kota ini dibangun diatas tanah seluas 200 Ha, dengan garis elevasi antara 12 – 18 meter dari permukaan laut, yang terletak di daerah Perkebunan Sipare-pare, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, berjarak ± 17 Km dari Pabrik Peleburan Aluminium Kuala Tanjung.
Sumber Air Limbah Tanjung Gading
Air limbah dari kota Tanjung Gading sesuai dengan penggunaannya berasal dari pencucian (kamar mandi, wastafel, kitchen sink, dll), kotoran atau tinja manusia, perembesan air hujan pada saluran Mainhole, dll. Menurut daerahnya air limbah yang datang dari berbagai kawasan kota berasal dari :
1) Lokasi A yang mengalir ke Stasiun Pompa No. 1, antara lain dari perumahan
Blok S (Bagian Selatan Kota), Pasar I, TK, dan Musholla. Kapasitas
penampungannya adalah 500 m3/hari.
2) Lokasi B yang mengalir ke Stasiun Pompa No. 2 antara lain dari perumahan Blok
P, B, U, T, Asrama E-1, E-2, E-3, E-4, Pasar I, II, dan III, Mushola, Graha Wisata, Gedung Olah Raga, Wisma Tamu, Rumah Perhimpunan, TK, SD, SMP, SMU, Ruang Serba Guna, Pos Satpam II dan IV, dll. Kapasitas penampungannya
adalah 2.200 m3/hari.
3) Lokasi C yang mengalir langsung ke Sewage Station mengalir melalui pipa
bawah tanah tanpa membutuhkan pompa, meliputi sebagian Blok S, SMA Mitra, Town Hall, Mesjid, Gereja, Rumah Sakit, Asrama Putri, Assembly. Jumlah air
buangan yang masuk dari lokasi C adalah 1.100 m3/hari.
Jadi dengan demikian total Kapasitas Pengolahan Air Limbah Tanjung
Gading adalah 3.800 m3/hari.
Proses Pengolahan Air Limbah Tanjung Gading
Pengolahan Air Limbah atau air buangan Kota Tanjung Gading adalah sebuah instalasi yang bertujuan untuk mengurangi samapi sekecil mungkin kadar-kadar
zat-zat pencemar (Polutant) yang terdapat di dalam air buangan, sehingga dapat dibuang ke badan penerima air yang dalam hal ini adalah bagian Hilir Sungai Siparepare. Agar tidak sampai menimbulkan efek sampingan terhadap lingkungan sekitarnya. Sebab sungai ini masih digunakan oleh penduduk sekitar untuk irigasi pertanian, mencuci dan mandi.
Proses pengolahan air limbah Tanjung Gading memakai cara Aerobik (Sistem Pengudaraan). Dengan mengembangbiakkan mikroorganisme/bakteri dalam kolam pengudaraan/kolam Aerasi (Aeration Basin) dapat diharapkan untuk menguraikan zat-zat organic seperti COD dan BOD yang terkandung di dalam air buangan/limbah. Hal ini berguna untuk menghidupkan dan mengembangbiakkan bakteri dengan cara udara disupply ke dalam kolam pengudaraan dengan menggunakan alat yang disebut Aerator.
Adapun proses pengolahan air limbah Tanjung Gading adalah sebagai berikut (Lampiran 1) :
1) Stasiun Pompa (Pump Station)
Air bekas/buangan warga yang berasal dari perumahan Tanjung Gading, yang mengalir melalui saluran bawah tanah ke tempat-tempat penampungan pertama yaitu Stasiun Pompa No. 1 dan Stasiun Pompa No. 2.
2) Pretreatment Basin
Air limbah dari Stasiun Pompa No. 1 dan Stasiun Pompa No. 2 kemudian dipompa secara otomatis ke Pusat Pengolah Air Limbah melalui saluran pipa air bawah tanah. Lokasi ini disebut dengan Pretreatment basin.
3) Waste Water Basin
Setelah kotoran-kotoran lunak kembali dihancurkan di dalam kolam Pretreatment Basin lalu dipompakan secara otomatis ke dalam Waste Water Basin. Disini air limbah dihomogenkan mutunya dengan bantuan udara. Buih/busa detergen yang terdapat pada air limbah akan terlihat dengan jelas akibat adanya penghomogenan oleh udara, oleh kontak langsung dengan udara terbuka maupun panas dari sinar matahari buih/busa ini detergen ini akan menguap sebagian, sehingga dapat mengurangi pH dari air limbah.
4) Aeration Basin
Air limbah dari Waste Water Basin dipompakan ke dalam Aeration Basin melalui otak pengukur aliran yang disebut dengan Waste Water Measuring Box. Disini, air limbah diaduk dengan Aerator dan diberikan udara untuk menghidupkan bakteri dan mengoksidasi senyawa basa-basa kuat dan lemah yang terkandung di dalam air limbah. Air limbah yang terdapat disini bukan hanya berasal dari air limbah yang dipompakan dari Pretreatment Basin tetapi juga lumpur yang mengendap di kolam pengendapan (Sedimentation Basin) yang dipompakan kembali ke Aeration Basin, melalui kotak pengukur aliran yang disebut Sludge Measuring Box.
5) Sedimentation Basin / Settling Basin
Air limbah dari Aeration Basin yang mengalami pengudaraan akan mengalir secara overflow ke Sedimentation Basin. Pada kolam ini terjadi pemisahan antara air yang jernih dan lumpur, dimana lumpur berada di dasar kolam sedangkan air
jernih berada di atas permukaan dan mengalir secara overflow ke Defoaming Pit, Chlorination Basin dan Treated Water Basin.
6) Defoaming Pit
Air mengalir secara overflow dari Sedimentation Basin ke Defoaming Pit, yang mana akan dipisahkan dari sabun ataupun busa dan juga flock yang masih terdapat di permukaan air limbah. Kemudian dialirkan ke Chlorination Basin secara overflow.
7) Supernatant Pit
Flock yang dipompakan dari Thickener ke Supernatant Pit akan diendapkan menjadi slurry/lumpur, yang akan dipompakan dengan menggunakan pompa selam (Submersible Pump) ke kolam Waste Water Basin untuk dihomogenkan kembali dan juga untuk memelihara serta menghidupkan bakterinya kembali.
8) Chlorination Basin
Air yang dialirkan dari Defoaming Pit, secara overflow akan mengalir ke bak Chlorination. Disini air limbah akan diberi senyawa Chlorine untuk membunuh bakteri, algae dan jamur serta mikroorganisme yang dapat mengganggu kekeruhan dan pH air limbah. Air limbah yang telah diberikan Chlorine akan mengalir ke bak Treated Water Basin.
9) Treated Water Basin
Air limbah yang mengalir secara overflow dari Chlorination Basin akan ditampung Treated Water Basin dan dialirkan secara overflow ke badan Hilir Sungai Sipare-pare.