3) Proses penanganan pelanggaran
4.2.1 Persepsi pelaku perikanan
Di dalam pelaksanaan sistem pemantauan kapal perikanan (VMS) di Indonesia, banyak ditemukan pendapat-pendapat atau persepsi dari para pelaku perikanan. Dari mereka dapat diketahui berbagai hal teknis dalam pelaksanaan VMS, baik itu berupa kelebihan maupun kekurangan yang ditimbulkan dari program ini. Dan itu semua di dapat dari pengalaman-pengalaman mereka selama berpartisipasi dalam program VMS.
Salah satu kekurangannya adalah biaya yang harus mereka keluarkan untuk kepartisipasian dalam program ini menurut mereka dinilai terlalu mahal. Mereka harus membeli transmitter untuk dipasang pada kapal mereka yang harga satu unitnya berkisar dua puluh juta hingga tiga puluh juta rupiah. Biaya airtime yang harus dibayarkan setiap satu tahunnya yang juga tidak kecil yaitu berkisar enam juta hingga delapan juta rupiah pertahunnya. Biaya ini tentunya akan menambah biaya tetap dan biaya operasional penangkapan ikan. Menurut kebanyakan kapten dan ABK kapal, biaya ini masih terlalu mahal karena dengan bertambahnya biaya ini akan mengurangi pendapatan mereka.
Selain biaya pembelian dan pembayaran airtime, biaya tersebut akan bertambah jika terjadi kerusakan terhadap transmitter. Kerusakan yang terjadi akan menjadi tanggung jawab pemilik kapal. Kerusakan transmitter tersebut harus segera diperbaiki oleh provider. Perbaikan ini tentunya akan mengeluarkan biaya perbaikan. Biaya perbaikkan untuk teknisinya sekitar satu juta lima ratus ribu rupiah per satu kali perbaikkan. Biaya tersebut belum termasuk dengan komponen yang harus diganti jika terdapat yang rusak. Karena dalam setiap pembelian tidak berlaku garansi yang diberikan pihak provider. Jika transmitter tersebut tidak dapat diperbaiki, maka harus diganti dengan yang baru. Dengan demikian akan terus menambah biaya yang harus dikeluarkan pemilik kapal.
Menurut pengawas perikanan di pelabuhan bahwa pada awal pelaksanaan periode kedua program vessel monitoring system, banyak ditemukan terjadinya kerusakan transmitter. Kerusakan yang terjadi disebabkan oleh kejadian force majeure atau lebih sering dikarenakan kondisi kapal yang tidak mendukung. Kerusakan yang sering dialami adalah putusnya sikring pada transmitter atau
kabel yang putus karena gigitan tikus. Hal ini dapat terjadi karena kondisi wheel house yang terlalu berantakan disekitar transmitter. Seharusnya kejadian ini tidak harus terjadi jika saja terdapat pengetahuan yang cukup dari kapten kapal ataupun ABK.
Transmitter yang tidak aktif di tengah laut sering dianggap bahwa sengaja dilakukan oleh kapten kapal. Akan tetapi tidak semuanya kejadian tersebut benar, karena sering ditemukan kapal yang transmitternya mati bukan karena sengaja dimatikan akan tetapi kapten atau ABK kapal tidak tahu kalau transmitternya telah tidak aktif. Jika seperti ini keadaannya akan menghalangi kegiatan penangkapan, karena transmitter pada kapal tersebut harus segera diperbaiki dan jika tidak kapal harus segera merapat ke pelabuhan terdekat yang selanjutnya dilakukan perbaikan oleh pengawas perikanan di pelabuhan tersebut.
Kerusakan tersebut harusnya dapat diatasi sendiri oleh kapten ataupun ABK kapal perikanan. Namun karena kurangnya pengalaman dan sosialisasi kepada mereka dalam menangani kerusakan kecil transmitter diatas kapal, membuat mereka merasa takut untuk bertindak. Walaupun telah terdapat panduan pemeliharaan transmitter yang diberikan oleh pihak provider, mereka tetap tidak mengetahui cara pelaksanaannya. Hal ini disebabkan tidak adanya tindakan langsung dalam latihan penanganan pemeliharaan transmitter.
Salah satu pemilik kapal yang juga merupakan anggota Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) menyatakan bahwa kewajiban menggunakan transmitter sangat berpengaruh besar terhadap usaha perikanannya. Setiap kapal penangkapan ikan tuna untuk ekspor wajib memiliki transmitter. Hal ini disebabkan ikan tuna yang ditangkap oleh kapal yang tidak memiliki transmitter akan dikembalikan kembali atau ditolak untuk pasar ekspor. Ketetapan ini sudah menjadi keputusan atau peraturan dalam asosiasi tuna longline dunia.
Pemeriksaan yang dilakukan pengawas perikanan terhadap kapal perikanan di tengah laut, menurut salah satu kapten kapal mengatakan bahwa pemeriksaan pertama kali adalah pengecekan transmitter. Saat ini pemeriksaan kapal lebih diutamakan kelengkapan transmitter yang dimiliki kapal ukuran 30 GT ke atas. Pengecekan ini untuk mengetahui kondisi transmitter yang telah terpasang. Jika di kapal tidak dilengkapi transmitter atau transmitter tidak aktif, maka pengawas
langsung melakukan hendrik (kegiatan membawa kapal perikanan ke pelabuhan terdekat oleh pengawas kapal perikanan yang terbukti melakukan pelanggaran) terhadap kapal tersebut.
Ketika dalam penerimaan sinyal dari unit transmitter setelah dilakukan pemasangan di atas kapal terdapat pula kendala yang dihadapi. Menurut pengawas perikanan di pelabuhan, bahwa sering terjadi keterlambatnya penerimaan sinyal oleh pusat pemantauan kapal perikanan dalam menerima sinyal dari transmitter yang telah diaktifkan. Kendala tersebut seharusnya tidak terjadi, karena setelah dilakukan pengecekan kepada pihak provider, bahwa transmitter tersebut telah terpantau oleh provider. Kendala tersebut akan merugikan pihak nelayan. Terjadinya hal ini akan menghambat kegiatan penangkapan.
Pemilik kapal sesekali mengecek posisi kapalnya. Akan tetapi tampilan gambar yang ada menurutnya masih sangat kurang. Tampilan yang hanya berbentuk titik dan garis pola pergerakkan belum sepenuhnya dapat mewakili kegiatan kapal tersebut. Mereka belum mengetahui cara mengartikan tampilan tersebut. Beda halnya jika tampilan tersebut berupa gambar asli yang direkam oleh satelit. Seperti salah satu program internet Google Earth yang pernah mereka lihat. Tampilan gambar yang disajikan dapat memperlihatkan keadaan muka bumi dari satelit. Jika seperti ini tentunya akan membantu mereka melihat kapalnya di laut.
Pengawas perikanan berpendapat bahwa program VMS tidak dapat mengurangi praktek IUU fishing yang dilakukan oleh kapal perikanan. Menurut mereka jika hanya mengandalkan VMS untuk mengurangi illegal fishing sangat kecil peluangnya. Setiap kapal perikanan akan terus mencari cara untuk terhindar dari pengawasan dan akan tetap mencari keuntungan dari sumberdaya ikan yang ada di Indonesia. Jadi menurut mereka VMS hanya dapat mengawasi pergerakan kapal. Hasil rekaman pergerakkan dapat sebagai bukti persidangan jika terdapat kapal yang telah melakukan pelanggaran.
Salah satu tindakan yang dilakukan ABK kapal perikanan agar terhindar dari pengawasan adalah memindahkan transmitter kepada kapal lain. Menurut pengawas perikanan bahwa sering ditemui pelanggaran seperti ini. Cara ini yang sering dilakukan ABK kapal perikanan saat ini. Jadi seharusnya terdapat
perbaikkan dalam instalasi pemasangan dari provider yang membuat agar transmitter tersebut tidak dapat dipindah-pindahkan.
Setiap unit transmitter yang dikeluarkan oleh provider juga memiliki kelemahan. Menurut pengawas perikanan, transmitter-transmitter tersebut memiliki kelemahan mengirimkan sinyal di wilayah perairan tertentu. Di dalam pengawasan, transmitter tertentu tidak dapat terdeteksi di pusat pemantauan kapal perikanan. Seperti argos yang tidak dapat terdeteksi di wilayah perairan timur Indonesia. Hal ini karena posisi satelit yang orbit lintasannya tidak dapat mendeteksi daerah tersebut. Jika seperti ini tentunya akan menghambat proses pengawasan. Oleh karena itu kapal perikanan yang wilayah operasi penangkapannya di daerah tersebut harus memasang transmitter yang dapat terdeteksi di daerah tersebut.
Manfaat yang seharusnya diterima juga sangat kurang atau tidak dirasakan langsung oleh pengguna transmitter. Menurut beberapa nelayan bantuan sering terlambat ataupun tidak ada bantuan sama sekali ketika terjadi masalah terhadap kapalnya. Hal ini membuat pengguna transmitter merasa tidak mendapatkan keuntungan dari pemasangan transmitter. Selain itu manfaat yang diberikan dari VMS yaitu pemilik dapat memantau kapalnya bagi mereka tidak berpengaruh besar. Menurut mereka hal semacam itu dapat mereka lalukan dengan radio komunikasi ataupun telepon selular. Cara ini cukup mudah dilakukan dan murah.
Jika dilihat tingkat pengetahuan tentang VMS dari nelayan pemilik kapal, kapten, maupun ABK kapal sangat berbeda. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini:
Tabel 5 Tingkat pengetahuan tentang VMS Sangat tidak mengetahui Mengetahui Sangat mengetahui Jumlah Nelayan ABK 15 5 0 20 Nakhoda 4 4 2 10 Pemilik 0 2 3 5
Berdasarkan Tabel 5 diatas, masih banyak ditemukan kekurang-pahaman dari para pelaku perikanan seperti pemilik kapal, nakhoda, serta ABK kapal. Hasil wawancara yang dilakukan pada kapal perikanan di PPS Nizam Zachman
menunjukkan bahwa masih banyak pelaku perikanan tidak mengetahui maksud, tujuan, maupun manfaat dari sistem pemantauan kapal perikanan ini.
Hasil wawancara sebanyak lima belas orang dari dua puluh responden pada posisi sebagai ABK dihasilkan bahwa mereka sangat tidak mengetahui tentang VMS. Lima orang ABK lainnya mengetahui VMS. Akan tetapi tingkat kepahaman mereka hanya sebatas tentang fungsinya. Mereka mengatakan bahwa VMS dapat menampilkan posisi kapal mereka di layar monitor. Pengetahuan ini mereka dapat dari informasi yang berasal dari kapten kapal mereka.
Hal yang sama terjadi pada posisi nakhoda atau kapten kapal. Tingkat pemahaman mereka tentang VMS masih belum terlalu banyak. Dari sepuluh orang responden pada posisi nakhoda, terdapat empat orang sangat tidak mengetahui, empat orang mengetahui, dan dua orang yang sangat mengetahui. Mereka mendapatkan pengetahuan tentang VMS dari lingkungan dan pemilik kapal. Dua orang nakhoda yang sangat mengetahui tentang VMS mengatakan bahwa tidak ada sosialisasi yang diberikan tentang VMS. Akan tetapi mereka telah mengetahui fungsi, cara kerja, dan manfaat yang dapat diterima dengan pemasangan transmitter pada kapalnya. Di lain pihak pemahaman tentang VMS yang dimiliki oleh pemilik kapal sangat berbeda dengan nakhoda ataupun kapten kapal. Fungsi, tujuan, manfaat, bahkan cara kerja sistem ini cukup mereka ketahui. Teknologi informasi yang membantu pemilik kapal mengetahui semua tentang VMS.