• Tidak ada hasil yang ditemukan

3) Proses penanganan pelanggaran

4.2.2 Persepsi peneliti

Vessel monitoring system (VMS) memiliki fungsi dan manfaat untuk memantau kapal perikanan yang beroperasi di wilayah perairan Indonesia. Di dalam PERMEN No PER. 05/MEN/2007 tentang penyelenggaraan sistem pemantauan kapal perikanan terdapat empat tujuan penyelenggaraan. Keempat tujuan tersebut telah terlaksana dengan baik yang menjadi kelebihan sistem ini. Selain kelebihan yang diperoleh, jika dilihat pada pelaksanaannya masih banyak kekurangan atau kendala yang terjadi. Kendala tersebut terjadi di tingkat pengguna maupun di tingkat pengawasan.

Tujuan pertama yaitu meningkatkan efektivitas pengelolaan sumberdaya ikan melalui pengendalian dan pemantauan terhadap kapal perikanan hingga saat ini sudah dijalankan dengan baik. Dengan pemasangan transmitter pada kapal perikanan akan memudahkan pemantauan kapal perikanan yang akan berdampak langsung terhadap peningkatan efektivitas pengelolaan sumberdaya ikan. Akan tetapi terdapat pula kelemahan dalam pengelolaan sumberdaya ikan. Pemantauan terhadap kapal ikan belum sepenuhnya dapat mengelola sumberdaya ikan. Masih sering ditemukan pelanggaran yang dilakukan kapal perikanan dalam operasinya. Kapal ikan melakukan pelanggaran dengan memanfaatkan kelemahan dari sistem ini, seperti mematikan transmitter ditengah laut. Pusat pemantauan kapal perikanan mengetahui hal ini dan mengirimkan surat peringatan kepada pemilik kapal untuk disampaikan kepada kapten kapalnya. Tetapi apakah transmitter yang tidak aktif benar karena kerusakan yang terjadi di atas kapal atau memang kesengajaan yang dilakukan kapal perikanan. Di dalam kasus ini pengawas di FMC hanya mengawasi dan tidak dapat bukti, maka VMS belum sepenuhnya efektif dalam pengelolaan sumberdaya ikan.

Tujuan yang kedua meningkatkan efektivitas pengelolaan usaha perikanan yang dilakukan oleh perusahaan perikanan. Sebelum VMS dilaksanakan di Indonesia, para pengusaha perikanan yang dalam hal ini adalah pemilik kapal, tidak dapat mengetahui keberadaan dan kondisi kapal mereka ketika melakukan operasi penangkapan. Komunikasi yang dilakukan hanya dengan menggunakan radio atau telepon satelit. Ini tidak membantu banyak dalam mengetahui keberadaan kapalnya.

Salah satu pelaksanaannya adalah dengan memberikan fasilitas website VMS yang dikelola oleh Direktorat Sarana dan Prasarana Pengawasan. Website tersebut akan menampilkan pergerakan dan posisi kapal perikanan di perairan Indonesia. Tujuan tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan perikanan. Efeknya sudah cukup dirasakan oleh perusahaan perikanan, akan tetapi masih terdapat sedikit kekurangan. Tampilan yang menggambarkan pola garis pergerakan kapal menyulitkan perusahaan perikanan mengartikannya. Perlu dilakukan sosialisasi kepada pengguna website dalam mengartikan maksud pola pergerakan tersebut, serta perbaikkan tampilan gambar di website.

Tujuan ketiga meningkatkan ketaatan kapal perikanan yang melakukan kegiatan penangkapan dan/atau pengangkutan ikan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ini ketaatan hanya terjadi dengan pemasangan transmitter pada kapal perikanan yang melakukan operasi penangkapan ikan di Indonesia. Pelaksanaan operasi perikanan di laut, masih banyak pelanggaran yang dilakukan kapal perikanan. Di dalam penangkapan, masih terdapat kapal perikanan yang berusaha mencari cara untuk terhindar dari pengawasan. Hal ini disebabkan tujuan mereka mencari ikan sebanyak mungkin. Jadi peningkatkan efektivitas ketaatan kapal perikanan tidak akan terlaksana dengan program ini, jika tidak ada kerjasama dari kapal perikanan tersebut.

Tujuan keempat memperoleh data dan informasi tentang kegiatan kapal perikanan dalam rangka pengelolaan sumberdaya ikan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Tujuan keempat ini telah terlaksana dengan baik. Terpasangnya transmitter pada kapal perikanan akan diperoleh data dan informasi mengenai posisi dan pergerakan kapal. Hal tersebut akan membantu pengelolaan sumberdaya perikanan.

Berdasarkan empat tujuan dari penyelengaraan sistem pemantauan kapal perikanan yang dilakukan oleh DKP hanya tiga tujuan dirasakan dapat terlaksana dengan baik. Ketiga tujuan tersebut seperti meningkatkan efektivitas pengelolaan sumberdaya ikan melalui pengendalian dan pemantauan terhadap kapal perikanan,

meningkatkan efektivitas pengelolaan usaha perikanan yang dilakukan oleh perusahaan perikanan, dan memperoleh data dan informasi tentang kegiatan kapal perikanan dalam rangka pengelolaan sumberdaya ikan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hal ini menjadi suatu manfaat yang diterima oleh pemerintah dari pelaksanaan sistem pemantauan kapal perikanan. Sedangkan apa yang menjadi manfaat bagi pemilik kapal dengan mengikuti program ini.

Di dalam pelaksanaan sistem pemantauan kapal perikanan manfaat bagi pengusaha/pemilik kapal menurut Mukhtar (2008) terdapat dua yaitu dapat memanfaatkan informasi dari Vessel Monitoring System untuk memantau keberadaan dan perilaku kapal di laut melalui website dan dapat memanfaatkan informasi Vessel Monitoring System untuk keadaan darurat (pembajakan, kebakaran, tenggelam dan lain-lain). Akan tetapi hingga saat ini pemilik kapal

hanya menerima satu dari dua manfaat yaitu memudahkan pemantauan kapalnya ketika beroperasi. Sedangkan jika terjadi kecelakaan atau sesuatu hal yang menimpa tidak dengan cepat bantuan yang dijanjikan datang ke lokasi.

Berdasarkan perbandingan jumlah manfaat yang diperoleh antara pemerintah dan pemilik kapal/nelayan sangat tidak berimbang. Jumlah manfaat yang diperoleh pemerintah lebih banyak dibandingkan dengan pemilik kapal. Jika dilihat dari pelaksanaannya pemerintah hanya sebagai pengelola sistem, sedangkan pemilik kapal sebagai pengguna yang harus mengeluarkan biaya pembelian transmitter dan pembayaran airtime setiap tahunnya.

Pemilik kapal merasa dengan penggunaan transmitter sangat tidak menguntungkan. Karena dengan penambahan penggunaan transmitter di kapal, akan meningkatkan beban biaya operasional. Selain itu kerahasiaan operasi penangkapan yang dilakukan kapal perikanan akan mudah diketahui. Kenyataannya setiap kapal menginginkan daerah penangkapan ikan yang menguntungkan tidak diketahui oleh kapal lain. Oleh karena itu pelaksanaan sistem ini dirasakan masih belum dapat terlaksana dengan baik dan tidak mampu menguntungkan pemerintah dan pelaku perikanan, sehingga kekurangan masih terjadi dalam sistem pemantauan kapal perikanan.

Berdasarkan hasil observasi masih banyak ditemukan kekurangan atau hambatan dalam pelaksanaan sistem pemantauan kapal perikanan. Seperti dalam pemasangan dan pendaftaran transmitter. Prosedur yang harus dilakukan oleh perusahaan perikanan terlampau lama dan rumit. Ketika mendaftarkan transmitter, pengguna harus mendaftarkannya sekretariat VMS gedung Departemen Kelautan dan Perikanan. Akan menggangu atau mempersulit kapal atau pemilik yang berada jauh dari Departemen Perikanan dan Kelautan dalam mendaftarkan transmitternya. Ini menjadi hambatan besar bagi perusahaan perikanan.

Ketika pendaftaran transmitter untuk mendapatkan SKAT juga harus menunggu transmitter pada kapalnya dapat terpantau di Pusat Pemantauan Kapal Perikanan. Server yang terlambat atau tidak dapat menerima sinyal akan menghambat kapal yang akan melakukan operasi. Padahal transmitter telah diaktifkan dan dapat terpantau pada monitor provider.

SKAT yang dikeluarkan harus disahkan dengan ditandatangani oleh Direktur Sarana dan Prasarana Pengawasan. Akan tetapi akan menjadi satu hambatan lagi bagi pengguna transmitter jika direktur tidak berada ditempat atau sedang menjalani tugas lain. Kapal yang seharusnya sudah dapat berangkat beroperasi menjadi terhambat dengan terjadinya hal ini. Jika hambatan-hambatan tersebut dapat diminimalisir atau tidak ada sama sekali akan membantu cepatnya proses pemasangan dan pendaftaran transmitter. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan sistem ini.

Transmitter negara yang dipinjam oleh pemilik kapal terdapat prosedur yang merumitkan para peminjam. Peminjam harus melakukan permohonan izin peminjaman yang rumit. Transmitter milik negara yang seharusnya membantu nelayan yang tidak mampu membeli transmitter, kini merasa disusahkan dengan prosedur yang rumit.

Pengguna transmitter langsung dalam hal ini adalah kapten dan ABK kapal sering dipersulit jika transmitternya rusak. Kurangnya sosialisasi kepada kapten atau ABK kapal membuat pelaksanaanya terhambat. Meskipun telah terdapat panduan pemeliharaan dan perbaikan transmitter, mereka masih segan atau takut bertindak untuk memperbaiki. Hal ini karena mereka tidak mengetahui maksud dan cara penanganannya jika hanya dengan membaca panduan. Komponen-komponen pada transmitter belum mereka ketahui. Jadi jika terjadi kerusakan, kapten kapal tidak tahu komponen mana yang rusak pada transmitter.

Jarak tempat atau lokasi pengguna transmitter dengan FMC akan menjadi kendala dalam pelaksanaan sistem ini. Jarak ini akan mempersulit pengguna ketika akan melakukan perizinan terhadap kapalnya. Pengguna yang berada jauh akan menggunakan jasa agen yang tentu akan menambah biaya yang dikeluarkan. Seperti yang banyak terjadi di PPS Nizam Zachman, pemilik kapal yang berada jauh sedangkan kapalnya berpangkalan di Jakarta akan menggunakan jasa agen untuk mengurus perizinannya. Jasa agen ini yang selama ini membantu perizinan kapal yang pemiliknya berada jauh.

Jarak yang menjadi hambatan selama ini mungkin akan dapat teratasi dengan membuat tempat pengawasan transmitter tersebut di setiap pelabuhan pangkalan kapal perikanan. Seperti pelaksanaan transmitter offline, bahwa

pengawas perikanan di pelabuhan dapat langsung melihat kegiatan kapal setelah kapal berlabuh dengan pengawasan langsung ke kapal tersebut. Jika pemantauan transmitter online juga dilaksanakan di pelabuhan pangkalan dengan terdapat unit alat pegawasan, tentunya akan mempersingkat waktu penindakan pelanggaran jika terbukti terdapat pelanggaran.

Proses pengawasan kapal perikanan yang dilakukan di Pusat Pemantauan Kapal Perikanan dirasakan juga memiliki sedikit kekurangan. Di dalam pengawasan kapal perikanan hanya dilakukan oleh sepuluh orang operator yang telah dibagi berdasarkan alat tangkap. Jumlah operator ini dirasakan sangat kurang jika dilihat kefektifannya. Kapal perikanan yang telah memasang transmitter pada kapal yang sudah mencapai dua ribu sembilan ratus unit pada tahun 2008. Jika dilihat maka setiap operator harus mengawasi kapal perikanan sekitar dua ratus sembilan puluh unit.

Pengawasan terhadap kapal perikanan tiap harinya tidak optimal. Dengan keterbatasan operator maka pengawasan terhadap satu unit kapal tidak dapat dilakukan setiap harinya. Dengan begitu akan mengurangi proses pengawasan kapal perikanan. Kapal yang tidak terawasi pada saat melakukan pelanggaran tidak akan dapat langsung diambil tindakan penegakkan sanksi.

Kapal perikanan yang telah memasang transmitter tidak menutup kemungkinan tetap melakukan pelanggaran. Hal ini disebabkan yang terawasi hanya pola pergerakan kapal dan posisinya. Pelaku perikanan akan mencari cara untuk tetap melakukan pelanggaran. VMS yang diharapkan dapat menghilangkan praktek IUU fishing, tidak mungkin dapat terjadi. Hal ini dikarenakan fungsi sistem ini yang hanya melakukan pengawasan tidak dapat kegiatan yang dilakukan kapal perikanan secara langsung. Berikut Tabel 6 berisikan jenis tindak pidana yang dilakukan oleh kapal perikanan selama tahun 2004 hingga 2008.

Tabel 6 Jenis tindak pidana

Jenis tindak pidana

Tahun

2004 2005 2006 2007 2008

Tanpa ijin 53 26 29 48 25

Alat tangkap terlarang 70 36 19 3 2

Tanpa ijin dan alat tangkap 9 37 33 25 -

Pemalsuan dokumen 2 - - - -

Dokumen tidak lengkap - - - 15 22

Electrical fishing 1 1 34 - -

Bahan peledak/Bom 9 9 2 1 -

Fishing ground 7 24 8 9 7

Fishing ground dan alat tangkap 14 18 1 1 2

Pengangkutan ikan (transhipment) 5 11 6 2 -

Menampung ikan tidak sesuai SIKPI 4 1 - - -

Tanpa keterangan jenis tindak pidana - 2 - - 3

sTranshipment dan alat tangkap - - 5 - -

Tidak ada transmitter - - - 4 6

Pencurian terumbu karang - - 2 1 -

Alat tangka tidak sesuai ijin (SIPI) - - - 7 10

Jumlah 174 165 139 116 77

Sumber: P2SDKP, 2008

Berdasarkan Tabel 6 tersebut diketahui bahwa terjadi pengurangan tindak pidana yang dilakukan kapal perikanan. Pengurangan tersebut tidak terjadi hanya dengan melakukan sistem pemantauan kapal perikanan. Jika dilihat bahwa pelanggaran yang terjadi sebagian besar adalah tindak pelanggaran yang kemungkinan bukan karena hasil pengawasan dengan VMS.

Selama tahun 2008, jumlah pengguna transmitter terus bertambah. Dalam setiap bulannya mulai Januari hingga Desember terdapat peningkatan kapal perikanan yang memasang transmitter. Pada bulan Januari transmitter yang telah terpasang berjumlah 1278 unit transmitter dan diakhir tahun yaitu bulan Desember kapal yang memasang transmitter sebanyak 2902 unit. Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 7 data keaktifan transmitter dan Gambar 15 grafik keaktifan transmitter berikut :

Tabel 7 Data keaktifan transmitter

Bulan Transmitter terpasang Transmitter aktif Prosentase keaktifan

Januai 1278 871 68 Pebruari 1405 917 65 Maret 1760 1106 63 April 1959 1268 65 Mei 2129 1130 53 Juni 2320 1273 55 Juli 2522 1426 57 Agustus 2638 1403 53 September 2715 1408 52 Oktober 2798 1260 45 November 2863 983 34 Desember 2902 1288 44

Rata-rata prosentase keaktifan 54.5

Sumber: P2SDKP, 2008

Data Keaktifan Transmitter Tahun 2008

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 Ja nu ai P ebr ua ri M ar et A pr il M ei Jun i Jul i A gu st us S ept em be r O kt ob er N ov em be r D es em be r Bulan Jum

lah Transmitter Terpasang Transmitter Aktif

Sumber: P2SDKP, 2008

Gambar 15 Grafik keaktifan transmitter tahun 2008.

Berdasarkan Tabel 7 tersebut dapat dilihat bahwa tingkat keaktifan transmitter sekitar 54,5%. Jadi walaupun telah terdapat peraturan untuk selalu mengaktifkan transmitter pada kapal perikanan, masih terdapat kapal yang tidak mengaktifkan transmitternya. Persentase terbesar hanya sekitar 68% dan terendah 34%. Dari sini terbukti bahwa tidak semua peraturan tersebut dapat terlaksana seluruhnya.

Berikut disajikan Tabel 8 mengenai kelemahan dan kelebihan yang terjadi dalam sistem pemantauan kapal perikanan. Kelebihan dan kelemahan tersebut diperoleh dari wawancara dan observasi yang telah dilakukan.

Tabel 8 Kelebihan dan kelemahan VMS

Kelebihan Kelemahan

Efektif dalam pengelolaan sumberdaya perikanan.

Prosedur pengurusan mengenai transmitter rumit dan lama. Membantu perusahaan perikanan

dalam mengetahui kondisi keberadaan kapal.

Biaya pembelian, airtime, dan perbaikkan mahal.

Diperoleh data dan informasi kegiatan kapal perikanan.

Pengetahuan penanganan dan pemeliharaan transmitter masih rendah.

Membantu pengawasan perikanan dalam program MCS.

Penerimaan sinyal oleh pusat pemantauan kapal perikanan terganggu.

Dapat menjadi bukti pelanggaran dalam persidangan.

Tampilan gambar pergerakkan kapal di website sulit dimengerti.

VMS membantu pengusaha tuna longline dalam mengekspor ikan.

VMS tidak menghentikan kegiatan IUU fishing.

Tidak ada manfaat langsung yang diterima nelayan.

Masih kurang sosialisasi mengenai VMS.

5.1 Kesimpulan

1) Sistem kerja Vessel Monitoring System (VMS) dibagi menjadi tiga, yaitu pemasang yang dilakukan oleh provider atau pengawas lapangan, pemantau oleh petugas atau operator pengawasan, dan penindak oleh Ditjen P2SDKP. 2) Pengelolaan sistem VMS dilakukan oleh Fisheries Monitoring Centre

(FMC) Jakarta sebagai pusat dan dua Regional Monitoring Centre (RMC) di Batam dan Ambon sebagai pengelolaan pendukung.

3) Sistem pemantauan kapal perikanan memiliki dua jenis sistem pemantauan yang diterapkan pada kapal perikanan di Indonesia yaitu pemantauan dengan sistem transmitter online dan offline yang dibedakan berdasarkan dengan ukuran GT kapal.

4) Transmitter online berlaku untuk Kapal Ikan Indonesia (KII) berukuran 60 GT ke atas dan semua Kapal Ikan Asing (KIA), sedangkan transmitter offline berlaku pada kapal berukuran 30 GT hingga 60 GT.

5) Pelaksanaan sistem ini terdapat ketentuan mengenai transmitter yaitu prosedur pemasangan transmitter, prosedur pengembalian transmitter, pemeriksaan transmitter, kewajiban pengguna transmitter, serta pengaturan lain transmitter.

6) Pelanggaran kapal perikanan teknis maupun operasional dikenakan sanksi

berdasarkan peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.

PER.05/MEN/2007, tentang penyelenggaraan sistem pemantauan kapal perikanan.

7) Persepsi pelaku perikanan mengenai VMS berpendapat bahwa sistem ini memiliki beberapa kelebihan dan masih banyak kekurangannya. Diantara persepsi tersebut pengusaha perikanan mudah memantau kapalnya. Pendapat pelaku perikanan lebih banyak menyatakan bahwa VMS lebih banyak menyulitkan dan merugikan nelayan baik dari pengadaan transmitter maupun pelaksanaannya.

8) Manfaat yang diterima oleh pemerintah adalah meningkatkan efektivitas pengelolaan sumberdaya ikan melalui pengendalian dan pemantauan terhadap kapal perikanan, meningkatkan efektivitas pengelolaan usaha perikanan yang dilakukan oleh perusahaan perikanan, dan memperoleh data dan informasi tentang kegiatan kapal perikanan dalam rangka pengelolaan sumberdaya ikan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan

9) Manfaat yang diterima pemilik kapal atau nelayan hanya sebatas untuk memantau keberadaan dan perilaku kapal di laut yang dilakukan melalui Website.

5.2 Saran

1) Direktorat Perikanan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan

Perikanan hendaknya perlu melakukan perbaikan sistem pemantauan kapal perikanan dalam proses pengurusan transmitter, proses analisis data

transmitter, pelaksanaan transmitter di kapal dan penampilan gambar pada website VMS.

2) Perlu dilakukan sosialisasi dan pelatihan terhadap pelaku perikanan (pengusaha, nakhoda, dan ABK kapal) mengenai tujuan, manfaat, cara teknis pengelolaan, dan perawatan transmitter.

3) Perlu penelitian tentang pengaruh VMS terhadap pelanggaran kapal perikanan di Indonesia.

Caphlin, J. P. 1999. Kamus Lengkap Psikologi. Edisi 5. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2001. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No: Kep 60/MEN/2001 tentang Penataan Penggunaan Kapal Perikanan di ZEEI. Jakarta: DKP.

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2004. UU No. 31 Tentang Perikanan. Jakarta: DKP

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2007. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No: Permen. 03/MEN/2007 tentang Surat Laik Operasi Kapal Perikanan.

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2008. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No: Permen. 05/MEN/2008 tentang Usaha Perikanan Tangkap. Jakarta: DKP.

Direktorat Jenderal Perikanan. 1994. Pola Pengembangan dan Pengelolaan Berkelanjutan di ZEEI. Jakarta: Departemen Pertanian. 141 hal.

Direktorat Sarana dan Prasarana Pengawasan. 2008. Standar Operasional Prosedur Sistem Pemantauan Kapal Perikanan (Vessel Monitoring System). Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan. 34 hal.

FAO. 1995. Code of Conduct For Responsible Fisheries. ROMA. 218 hal.

FAO. 1998. Technical Guidelines for Rensponsible Fisheries - Fishing Operaions - 1 Suppl. 1 - 1. Vessel Monitoring Systems. Roma

Fyson, J. 1985. Design of Small Fishing Vessels. England: Fishing News Book.

Handayaningrat. 1994. Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen CV. Haji Mas Agung. Jakarta. 172 hal.

Herryanto, D. 2008. Persepsi Masyarakat Pesisir di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Latar, A.R. 2004. Strategi Kebijakan Untuk Penanggulangan Kegiatan IUU Fishing di Perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia Utara Papua [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Leavitt, Hj. 1978. Psikologi Manajemen. Muslichah Zarkasi, penerjemah. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Managerial Psychology.

Mansur, A. 2007. Kinerja Pengawasan Kapal Perikanan (Studi Kasus di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta). [Tesis]. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Mukhtar. 2008. Pengaturan Penggunaan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan (Vessel Monitoring Sistem). [terhubung tidak berkala].

www.mukhtar-api.blogspot.com/2008/09/pengaturan-penggunaan-vms.html. [17 Juli

2009].

Myers, D. 1999. Social Psychology. USA: Mc Grow-Hill College.

Nomura, M dan T. Yamazaki. 1977. Fishing Techniques I. Tokyo: Japan Internasional Cooperation Agency.206 hal.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No: Permen. 05/MEN/2007. Tentang Penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan.

P2SDKP. 2008. IUU Fishing in Indonesia. Jakarta

P2SDKP. 2008. The Policy of Surveillance and Control for Marine Resources and Fisheries. Jakarta

Rakhmat, J. 2003. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Sukmalana, S. 2004. Peranan dalam MSDM Organisasi Bisnis Global. Modul

(tidak dipublikasikan). Bandung.

Widodo. 2003. Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumberdaya Ikan di Perairan ZEE Indonesia dan Sekitarnya. Balai Riset Perikanan Laut. Jakarta: Departemen Kelautan Perikanan. 37 hal.

Wirjono, P. 1984. Hukum Laut Bagi Indonesia. Bandung: PT. Sumur Bandung. 205 hal.

Yuniarti, NT. 2000. Persepsi Masyarakat Pesisir Terhadap Pendidikan Formal di Pantai Pemayang. Kabupaten Tasikmalaya. Skripsi. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Lampiran 1 Tampilan website www.VMSdkp.dkp.go.id

Lampiran 3 Transmitter dari setiap provider

Dokumen terkait