• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem pemantauan kapal perikanan

3.4 Metode Pengumpulan Data

4.1.1 Sistem pemantauan kapal perikanan

Sistem pemantauan kapal perikanan ini merupakan sistem pemantauan dengan menggunakan satelit dan peralatan transmitter yang ditempatkan pada kapal perikanan. Di dalam sistem pemantauan kapal perikanan memiliki sistem kerja yang dibagi menjadi tiga berdasarkan pelakunya yaitu sebagai pemasang dan penyedia layanan, pemantau, dan penindak.

Pemasang dan penyedia layanan dilakukan oleh provider. Provider sebagai penyedia layanan bertugas menyediakan transmitter dan layanan satelit dalam pelaksanaanya. Sebagai pemasang, provider bertugas melakukan pemasangan unit-unit transmitter ke setiap kapal perikanan yang telah diwajibkan untuk memasang. Akan tetapi terkadang pula pemasangan transmitter dilakukan oleh pengawas di tiap-tiap pelabuhan.

Pemantau dalam sistem pemantauan kapal perikanan dilakukan oleh pengawas atau operator di Fisheries Monitoring Centre (FMC) atau sekretariat VMS dan pengawas di pelabuhan. Operator melakukan pemantauan dengan mengamati pergerakkan kapal-kapal perikanan yang telah memasang transmitter dari layar monitor. Operator menganalisis setiap pergerakkan kapal berdasarkan data-data kapal yang telah divalidasi. Selain pengawas di FMC terdapat juga pengawas di pelabuhan yang bertugas memeriksa kondisi transmitter yang ditempatkan di setiap kapal perikanan.

Penindak di dalam sistem pemantauan kapal perikanan adalah Direktorat Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP). Dirjen P2SDKP memiliki tugas mengambil keputusan dalam kegiatan sistem pemantauan kapal perikanan jika terjadi pelanggaran kapal perikanan yang berada di Indonesia. Keputusan tersebut dilakukan berdasarkan laporan dari hasil pemantauan yang dilakukan oleh operator di sekretariat VMS.

Sistem pemantauan kapal perikanan atau Vessel Monitoring System (VMS) telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2003. Di tahun 2007, sistem ini berubah dan berkembang. Pengaturan penggunaan transmitter dibedakan menjadi

dua, transmitter online dan transmitter offline. Penggunaan transmitter online berlaku bagi Kapal Ukan Indonesia (KII) berukuran 60GT keatas dan seluruh Kapal Ikan Asing (KIA), sedangkan transmitter offline dipasangkan pada kapal berukuran 30GT hingga 60GT.

Rangkaian cara kerja dari sistem pemantauan kapal perikanan ini adalah sebagai berikut :

1) Setiap Kapal Perikanan Asing (KIA) dan Kapal Ikan Indonesia (KII) di atas 60 GT wajib memasang transmitter pada kapalnya;

2) Transmitter yang telah terpasang akan mengirimkan sinyal kepada satelit provider masing-masing. Pengiriman sinyal dilakukan secara otomatis oleh transmitter dengan interval waktu satu jam;

3) Sinyal-sinyal yang diterima oleh satelit teruskan atau dikirimkan kembali ke processing centre untuk diolah data-data yang telah dikirimkan satelit. Lokasi processing centre ini berbeda-beda tergantung provider. Untuk argos lokasinya berada di Perancis dan inmarsat di Inggris;

4) Setelah diolah menjadi data-data posisi kapal, kemudian data dikirimkan ke pusat pemantauan kapal perikanan. Di FMC, data tersebut diolah server-server yang dimiliki untuk dapat tampilan gambar pergerakan kapal serta data-data lainnya;

5) Di FMC data kapal di analisis. Jika terdapat pelanggaran maka akan dilakukan pemeriksaan;

6) Tampilan posisi kapal yang telah diterima FMC, kemudian akan di beritahukan kepada para pemilik kapal. Ini dilakukan dengan menggunakan fasilitas website yang dikelola oleh FMC; dan

7) Pemilik yang ingin mengetahui posisi kapalnya dapat mengakses website ke http://VMSdkp.dkp.go.id, dapat dilihat pada Lampiran 1. Tampilan yang dapat dilihat oleh pemilik berupa gambar sejarah pergerakan kapal beserta posisinya.

Pelanggaran yang dilakukan oleh kapal perikanan dapat terpantau melalui pergerakkan kapal di layar pengawasan FMC. Pelanggaran-palanggaran yang terpantau adalah pelanggaran yang dilakukan pada saat pengawasan ataupun

pelanggaran yang dilakukan di waktu yang lampau. Pelanggaran yang dilakukan kapal perikanan seperti :

1) Mematikan transmitter secara disengaja; 2) Menggunakan alat tangkap yang dilarang;

3) Melakukan penangkapan di wilayah yang tidak sesuai izin penangkapan; 4) Melakukan penangkapan di wilayah yang dilarang;

5) Melakukan penangkapan atau kapal berlayar melewati wilayah ZEE Indonesia;

6) Melakukan ketidaktaatan berlabuh di pelabuhan pangkalan; dan 7) Melakukan transshipment.

4.1.2 Provider

Provider merupakan suatu perusahaan yang bekerjasama dengan pemerintah dalam menyelenggarakan sistem pemantauan kapal perikanan. Provider bekerjasama dalam menyediakan alat dan perlengkapan komunikasi sistem satelit. Provider yang bekerjasama kini berjumlah empat perusahaan provider. Keempat perusahaan tersebut adalah PT. CLS Argos Indonesia, PT. Amalgam Indocorpora, PT. SOG Indonesia, dan PT. Pasifik Satelit Nusantara. Tiga dari empat provider tersebut adalah perusahaan swasta asing yang berada di Indonesia.

Jumlah provider yang bekerjasama dengan pemerintah tersebut merupakan perbaikan atau peningkatan dalam pelaksanaan sistem pemantauan kapal perikanan. Pada awal pelaksanaan periode pertama sistem ini yaitu tahun 2003 hingga 2006, provider yang bekerjasama hanya PT. CLS Argos Indonesia. Provider ini menyediakan segala kebutuhan alat transmitter dan sarana sistem satelit untuk kapal perikanan dan pusat pemantauan kapal perikanan dalam melaksanakan sistem ini. Pada periode kedua pelaksanaannya, pemerintah telah bekerjasama dengan empat provider. Akan tetapi hanya tiga provider yang telah aktif dalam pelaksanaanya. PT. Amalgam Indocorpora hingga saat ini belum aktif dalam kegiatan sistem pemantauan kapal perikanan.

Provider-provider tersebut memiliki peranan dalam menyediakan alat dan sarana komunikasi yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan sistem pemantauan kapal perikanan. Provider menyediakan kebutuhan transmitter yang akan

dipasangkan pada kapal-kapal perikanan. Dalam satu unit transmitter tersebut memiliki kelengkapan seperti:

1) Kabel catu daya; 2) Kabel data;

3) Junction box (Lampiran 2); 4) Bracket;

5) Tiang; dan 6) Buku petunjuk.

Satelit dan tipe transmitter yang dimiliki oleh setiap perusahaan berbeda-beda dapat dilihat pada Lampiran 3. Satelit ini berfungsi sebagai alat dan sarana komunikasi dalam pemantauan kapal perikanan. Tipe transmitter yang disediakan merupakan keputusan hasil kerjasama dengan pemerintah. Setiap transmitter dilengkapi dengan nomor ID yang diberikan oleh pihak provider. Nomor ID tersebut berbeda-beda pada setiap transmitter. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kesamaan penomoran ID transmitter pada kapal yang berbeda. Karena nomor ID yang sama akan membuat kesalahan analisis yang akan dilakukan oleh pengawas. Dapat dilihat pada Tabel 1 Satelit dan tipe transmitter tersebut adalah :

Tabel 2 Daftar penyedia transmitter VMS

No Nama perusahaan Satelit Tipe transmitter

ID transmitter

1 PT. CLS Argos

Indonesia

ARGOS Mar-GE 5 angka

2 PT. Amalgam

Indocorpora

Iridium Iridium

3 PT. SOG Indonesia Inmarsat C

Inmarsat D+ Thrane & Thrane mini C Satamatic D+ (SAT 201) Dimulai angka 496 4 PT. Pasifik Satelit Nusantara

Garuda 1 Byru Marine

Tracking

Dimulai angka 8681

Sumber: Ditsarpras pengawasan, 2008.

Provider mengeluarkan surat keterangan aktivasi. Surat tersebut dikeluarkan setelah dilaksanakannya pemasangan transmitter dan pembayaran airtime oleh pemilik kapal atau pengguna transmitter. Transmitter yang

dibuatkan surat keterangan aktivasi yaitu transmitter yang telah terpasang dan diaktifkan di atas kapal.

Harga satu unit transmitter berbeda pada setiap transmitter. Harga tersebut berkisar dua puluh juta hingga dua puluh lima juta untuk satu unit transmitter. Selain itu terdapat pula biaya airtime transmitter yang harus dibayarkan oleh pengguna. Biaya airtime berkisar enam juta hingga tujuh juta setiap transmitter. Biaya tersebut merupakan biaya yang harus dibayarkan oleh pengguna untuk penggunaan transmitter yang telah mengirimkan sinyal setiap satu jam. Pembayaran tersebut dilakukan untuk jangka waktu satu tahun penggunaan.

Dokumen terkait