HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.3.4 Persepsi Siswa Tentang Peran Konselor Sebaya
Sebagian besar siswa menganggap bahwa peran konselor sebaya selama ini sangat baik dan bermanfaat. Peran konselor sebaya selama ini yaitu membantu teman-teman yang sakit, berjaga di UKS dan konseling. Sebagian siswa mengatakan bahwa selama ini mereka kurang mengetahui peran konselor sebaya untuk konseling, akan tetapi sebagian dari teman-teman mereka yang lain pernah konseling. Hal itu sesuai dengan pernyataan konselor dan berdasarkan hasil observasi di buku laporan konselor bahwa terdapat sembilan siswa yang konseling selama tahun 2014. Ada siswa yang tidak pernah mendengar konselor sebaya, begitu juga dengan wakil kepala sekolahnya, kondisi ini dikarenakan di sekolahnya tidak ada konselor sebaya. Pemegang program PKPR mengungkapkan
bahwa, tidak semua sekolah mempunyai konselor sebaya. Kendala pembentukan konselor sebaya yaitu terkait masalah dana dan waktu pelatihan selama satu minggu. Pembentukan konselor sebaya di khawatirkan mengganggu proses studi, sehingga diutamakan sekolah yang akan mengikuti lomba UKS. Menurut guru BK, jumlah konselor sebaya di sekolahnya sebanyak tiga puluh siswa yang diambil dari KKR atau anak-anak palang merah remaja (PMR). Konselor sebaya mengatakan bahwa sudah satu tahun menjadi konselor sebaya. Berbagai pernyataan terkait dengan keberadaan Konselor dapat dilihat dari uraian berikut ini.
“Kalau itu kita pilih anaknya yang agak mampu supaya dia dapat menularkan ke temannya, kemudian kreatif di sekolah”
(WM BK S3KS) “Kalau kendala sich dana juga, terus kalau terus-terusan kan disekolah mengganggu studi proses belajar mengajar, dan tenaga kita kan gak cukup sehari dua hari karena pelatihannya 1 mgg”
(WM PKM) “ Kayaknya mereka anak-anak PMR yang dibentuk menjad konselor sebaya”
(FGD 2B S3KS)
Menurut wakil kepala sekolah, jika ada remaja yang mau konseling atau terkena masalah remaja maka untuk konseling disediakan guru BK atau bimbingan konseling karena di sekolah belum ada konselor sebaya. Tidak semua siswa mengetahui bahwa salah satu fungsi konselor yaitu untuk konseling. Jika ada masalah, siswa lebih diarahkan untuk konseling ke BK. Seandainya mereka mengetahui bahwa fungsi konselor untuk konseling, sebagian besar mau konseling ke konselor dan sebagian kecil tidak mau karena takut dibocorkan
rahasianya. Ruang yang disediakan sekolah untuk konseling yaitu di UKS. Menurut guru BK , pembentukan konselor sebaya penting sekali karena mereka diharapkan lebih terbuka jika bercerita dengan temannya dibandingkan dengan guru. Selama ini jarang ada siswa yang konseling dikarenakan masalah yang terjadi minim dan tidak semua mengetahui fungsi konselor untuk konseling, hal ini diakibatkan karena konselor sebaya tidak melakukan sosialisasi ke kelas-kelas karena tidak ada perintah dari guru. Pihak sekolah mengatakan bahwa sudah dilakukan sosialisasi tentang peran konselor sebaya untuk konseling akan tetapi tidak merata pada semua siswa, selain itu juga jika ada permasalahan terkait remaja, biasanya ditangani oleh guru BK. Menurut hasil observasi didapatkan data bahwa jumlah kunjungan siswa yang konseling kekonselor sebaya sebanyak sembilan orang pada tahun 2014. Permasalahannya itu seputar masalah dengan teman, orang tua dan masalah dengan pacar. Untuk pelatihan konselor sebaya yang diberikan oleh puskesmas yaitu berupa penyuluhan dan juga praktek. Pemegang program PKPR menyampaikan bahwa kegiatan yang dilakukan dalam satu minggu itu adalah penyuluhan, pembinaan-pembinaan, praktek dengan alat-alat juga untuk pertolongan pertama. Pembentukan konselor sebaya ini sebetulnya diharapkan dapat membantu siswa lain memecahkan masalahnya. Pemilihan konselor sebaya selama ini biasanya dari siswa yang dianggap berprestasi atau mampu menjalankan tugas sebagai konselor sebaya.
“Menurut saya penting sekali, karena mungkin kalau dengan gurunya mereka malu-malu tapi kalau dengan temannya mereka diharapkan lebih terbuka misalnya masalah dengan pacar atau dengan alat reproduksinya. Maka dari itu, konselor sebaya saya anggap penting sekali di sekolah”
“Ya kayak sederhana aja sech, untuk pertolongan pertama, merujuk teman yang sakit dan konseling juga, kemudian ngajarin temennya juga”
(WM KS) “ jadi fungsinya dibentuk konselor sebaya, untuk membantu siswa lain memecahkan masalahnya, jadi dari teman yang kita bina mau menyebarkan lagi ke temannya, jadi teman sama teman”
(WM PKM) “ Saya setuju dengan pernyataan teman saya, saya lihat dulu prilakunya karena siapa tahu dia mulutnya emberrrrr….”
(FGD 5A S3KS) “ Nggak tau, guru bilang kalau ada masalah, bisa cerita ke guru BK, ada disini.”).
(FGD 1B S3KS) “ saya mau tapi rahasia saya jangan sampai di bongkar”
(FGD 6B S3KS) “Saya gak mau, karena takutnya kalau kita beri dia rahasia akan membocorkan ke teman-teman sebaya”
(FGD 4B S3KS) Sebagian besar siswa ingin menjadi konselor sebaya. Alasan siswa yang ingin menjadi konselor sebaya karena mereka sebagian besar ingin menolong teman yang sakit dan mengalami permasalahan, sedangkan untuk yang tidak mau menajdi konselor sebaya, karena mereka merasa tidak mempunyai kemampuan dibidang tersebut. Berdasarkan wawancara mendalam dengan konselor sebaya, dia mau menjadi konselor sebaya dengan alasan dia suka kegiatan social dan ingin menjadi dokter. Berbagai uraian pernyataan informan terkait alasan menjadi konselor sebaya, dapat dilihat dalam uraian berikut ini.
“ Sebetulnya saya berminat tapi saya tidak punya pengalaman. Kalau dilatih saya mau karena suatu tindakan yang baik menolong teman sebaya”
(FGD 4B S3KS) “ saya gak berminat, karena gak sesuai dengan bidang saya”
(FGD 3B S3KS) “ Kan kalau teman ada permasalahan, misalnya saya menyarankan harus gini-gini tapi gak sesuai, maka hati saya malah gak enak”
(FGD 3A S3KS) “Sama,supaya bisa mengajak remaja-remaja waspada dan cara mencegah masalah”
(FGD 2A S3KS) Menurut Kemenkes RI (2011), Pelaksanaan program PKPR disekolah seharusnya ada pelatihan konselor sebaya, dimana konselor sebaya sendiri adalah pendidik sebaya yang punya komitmen dan motivasi yang tinggi untuk memberikan konseling dalam program PKPR bagi kelompok siswa disekolahnya dan melaksanakan kegiatan terkait UKS. Berdasarkan hasil FGD mengenai persepsi siswa tentang peran konselor sebaya sebagian besar siswa OSIS menganggap bahwa selama ini konselor sebaya sangat berperan dalam membantu teman-teman yang sakit dan berjaga di UKS, sedangkan peran konselor sebaya untuk konseling, mereka kurang mengetahui dan tidak pernah konseling, akan tetapi sebagian dari teman-teman mereka yang lain pernah konseling, hal itu sesuai dengan pernyataan konselor dan juga berdasarkan hasil observasi di laporan konselor terdapat sembilan siswa yang konseling selama tahun 2014. Hal ini sesuai dengan teori Lawrence Green (1980), yang menyebutkan bahwa perilkau seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh berbagai faktor diantaranya adalah faktor predisisi faktor, dimana faktor predisposisi terdiri dari faktor internal yang didalamnya terdapat persepsi. Dari teori dan hasil penelitian dapat dikaitkan bahwa walaupun persepsi siswa mengenai konselor sebaya sangat positif, akan tetapi minimnya pengetahuan tentang peran konselor sebaya menyebabkan siswa tidak memanfaatkan peran konselor sebaya dengan maksimal.
Untuk SMP satunya tidak ada konselor sebaya. Kondisi tersebut diakibatkan minimnya waktu, dana dan tenaga dari puskesmas untuk pembentukan konselor sebaya di semua sekolah, sehingga di utamakan yang akan mengikuti lomba UKS saja. Kondisi ini sama dengan hasil penelitian Cutia (2012) yang menyebutkan bahwa Puskesmas belum melaksanakan pelatihan konselor sebaya karena belum ada dana yang cukup untuk kegiatan PKPR tersebut. Meskipun siswa di SMP tersebut belum memiliki konselor sebaya, akan tetapi persepsi mereka positif tentang konselor sebaya, hal ini tercermin dari antusiasme dan motivasi mereka yang tinggi untuk menjadi konselor sebaya. Hal ini sesuai dengan teori persepsi yang di ungkapkan oleh Notoatmodjo (2010), yang menyebutkan bahwa salah satu faktor internal yang mempengaruhi persepsi yaitu adanya motivasi dan harapan.