TINJAUAN PUSTAKA
9. Persepsi terhadap pekerjaan
Menurut Hackman dan Oldham dalam Armansyah (2002:39) terdapat tiga karaktersitik pekerjaan yang dihipotesiskan mempengaruhi persepsi seseorang terhadap pekerjaannya yaitu (1) variasi keterampilan, (2) Identitas tugas dan (3) signifikansi tugas. Derajat variasi kegiatan dalam suatu pekerjaan menentukan pemaknaan seseorang terhadap pekerjaannya. Bila suatu tugas mempersyaratkan seseorang untuk menggunakan aktivitas-aktivitas yang menantang atau menggunakan seluruh keahlian dan keterampilannya, maka cenderung memiliki persepsi pekerjaan tersebut penuh makna.
Selanjutnya, Dubin dan Goldman (1972:133-141) menunjukkan bahwa pekerjaan yang membutuhkan lebih banyak keahlian yang menantang dan lebih beragam menempati kepentingan atau kebutuhan hidup yang lebih sentral bagi individu daripada pekerjaan yang tuntutan keahliannya rendah dan bersifat rutin. Kepentingan atau semangat kerja yang nampak secara psikologis dalam penelitian tersebut menggambarkan bahwa orang tersebut terus bekerja seolah-olah bukan karena pertimbangan ekonomi saja melainkan pertimbangan non-ekonomi juga. Hal ini dibuktikan melalui riset terhadap para calon pensiun yang tidak mau berhenti bekerja karena takut merasa tidak berguna dan kekhawatiran bahwa pengangguran mempercepat kematian. Pandangan ini juga dapat ditemukan dalam tulisan atau buku-buku yang membahas tentang orang-orang yang kehilangan pekerjaan (PHK). Secara keseluruhan, bukti yang ada menunjukkan bahwa kerja memberikan arti psikologis bagi setiap orang.
Identitas tugas dimaknai sebagai derajat kejelasan suatu pekerjaan pada awal hingga akhir, dan dalam tuntutan hasil akhirnya. Seseorang akan lebih memperhatikan pekerjaannya bila melakukan secara utuh keseluruhan suatu pekerjaan, dan juga cenderung melihat suatu tugas lebih bermakna.
Signifikansi tugas atau manfaat tugas menyatakan sejauhmana suatu pekerjaan mempunyai dampak yang penting dan dirasakan terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan akan lebih bermakna jika dirasakan bahwa pekerjaan tersebut mempunyai dampak terhadap kehidupan orang lain dan masyarakat (Hackman dan Oldham dalam Armansyah, 2002:39).
Kompetensi Penyuluh Pertanian
Kata kompetensi adalah terjemahan dari kata Inggris, competency. The American Heritage Dictionary mendefinisikan competency sebagai the state or quality of being properly or wellqualife. Kompetensi dalam defenisi ini berarti mutu yang seharusnya, atau syarat atau standar yang baik dari suatu pekerjaan. Menurut Lucia dan Lepsinger (1999:2-3), defenisi ini masih bersifat umum dan belum menguraikan secara lengkap substansinya. Keduanya kemudian mempertergas defenisi kompetensi menurut Klemp yakni an underlying characteristic of a person which results in effective and/or superior reformance on the job, kompetensi adalah sifat dasar seseorang yang berpengaruh pada kinerja kerjanya yang efektif dan sangat menonjol. Secara lebih lengkap, defenisi kompetensi dikemukakan oleh Parry mengacu kepada para pakar dalam konferensi tentang kompetensi di johannesburg tahun 1995, yakni, a cluster of related knowledge, skill, and attitudes that affects a major part of one’s job (a role or rensposibility), that corelates with performance on the job, that can be measured againts well accepted standars, and that can be improved via training and development (Lucia dan Lepsinger, 1999:5).
Di sini, kompetensi didefenisikan sebagai kumpulan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang berhubungan satu sama lain yang berpengaruh pada sebagian besar pekerjaan seseorang (peranan atau tanggungjawab), yang berkolerasi dengan kinerja dan dapat diukur dan diterima sebagai suatu standar kinerja yang baik; dan pengetahuan, ketrampilan dan sikap itu dapat diperbaiki melalui pelatihan dan pengembangan.
Menurut Lucia dan Lepsinger (1999:2-3), model kompetensi (competency model) sebagai kombinasi dari pengetahuan, ketrampilan dan sikap diperlukan oleh orang-orang yang bekerja dalam suatu organisasi sehingga terbentuk suatu cara kerja dan pencapaian hasil yang diinginkan. Jika pengetahuan, sikap dan ketrampilan belum dapat dicapai sesuai dengan standar yang diperlukan untuk suatu pekerjaan, maka ketiga unsur kompetensi itu bisa dikembangkan melalui pelatihan-pelatihan. Ketiga elemen kompetensi (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), dimensi sikap atau sifat-sifat personal adalah yang paling kompleks dan tidak mudah diukur sebagaimana pengetahuan dan ketrampilan. Hal itu disebabkan luasnya wilayah sifat personal itu. Sifat-sifat individu bisa bakat, talenta bawaan sejak lahir atau kehendak/dorongan nurani; atau juga kepribadian seseorang.
Kepribadian terdapat unsur-unsur individual yang berbeda dengan individu lain seperti rasa percaya diri, stabilitas emosi, kepekaan, keyakinan diri dan sebagainya. Manifestasi dari semua unsur yakni sifat-sifat pribadi (personal characteristic), bakat bawaan (aptitude), pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill) akan terwujud dalam rupa pola tingkah laku (behaviour).
Menurut Puspadi (2003:115), kompetensi merupakan kemampuan untuk melaksanakan tugas secara efektif. Secara fisik dan mental, kemampuan manusia yang terdiri dari kognitif, psikomotor dan afekti dapat muncul secara bersama pada saat menjalankan suatu tugas (Klausmeier dan Goodwin, 1966:97-98). Klemp (Puspadi, 2003:115) mengatakan, “ a job competency in an underlying characteristic of a person which results in effective and or superior performance in ajob. A job competency is an underlying characteristic of a person in that it
may be a motive, trait, skill,aspect of one’s self image or social role, or a body of knowledge which he or she uses”. Kompetensi kerja dengan demikian adalah segala sesuatu pada individu yang menyebabkan kinerja yang prima. Pengetahuan-pngetahuan khusus yang mencerminkan berbagai kompetensi belum dapat dikatakan sebagai kompetensi kerja. Secara harafiah, pengetahuan mengacu pada kepada kumpulan informasi. Kemampuan menggunakan pengetahuan- pengetahuan yang lain.
Mulyasa (2002:40) mengemukakan bahwa dalam hubungannya dengan proses belajar, kompetensi menunjuk kepada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses belajar. Kompetensi dikatakan perbuatan karena berbentuk perilaku yang dapat diamati, meskipun sering terlihat proses yang tidak nampak seperti pengambilan pilihan sebelum perbuatan dilakukan. Kompetensi dilandasi oleh rasionalitas dilakukan dengan penuh kesadaran “mengapa dan bagaimana” perbuatan tersebut dilakukan. Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.
Unsur-unsur kompetensi Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hirarki paling bawah dalam taksonomi kognitif Bloom, didasarkan pada kegiatan-kegiatan untuk mengingat berbagai informasi yang pernah diikuti, tentang fakta, metode atau tehnik maupun mengingat hal-hal yang bersifat aturan, prinsip-prinsip atau generalisasi. Proses memusatkan perhatian kepada hal-hal yang dipelajari, belajar mengingat-ingat dan berfikir,
oleh Brunner disebut sebagai “cognitive strategy”, suatu proses untuk memecahkan masalah baru (Suparno, 2001:6).
Menurut Brunner (Suparno, 2001:84) pengetahuan selalu dapat diperbaharui, dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan perkembangan kematangan intelektual individu. Pengetahuan produk, melainkan suatu proses. Proses tersebut menurut Brunner melibatkan tiga aspek: (1) proses mendapatkan informasi baru dimana seringkali informasi baru ini merupakan pengganti pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya atau merupakan penyempurnaan informasi sebelumnya, (2) proses transformasi, yaitu proses memanipulasi pengetahuan agar sesuai dengan tugas-tugas baru, (3) proses mengevaluasi, yaitu mengecek apakah cara mengolah informasi telah memadai.
Sikap
Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999:106) sikap adalah perasaan, pikiran dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam linkungannya. Sikap merupakan kecondongan evaluatif terhadap suatu obyek atau subyek yang memiliki konsekuensi yakni bagaimana seseorang berhadapan dengan obyek sikap. Meyers (Sarwono, 2002) menyatakan bahwa sikap adalah suatu reaksi evaluasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap sesuatu atau seseorang yang ditujukan dalam kepercayaan, perasaan atau perilaku seseorang.
Sikap didefenisikan sebagai keadaan internal seseorang yang mempengaruhi pilihan-pilihan atas tindakan-tindakan pribadi yang dilakukannya (Suparno, 2001:15).
Keterampilan
Ketrampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular) yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olah raga, dan sebagainya (Syah, 2002:119). Keterampilan menekankan kemampuan motorik dalam kawasan psikomotor, yaitu bekerja dengan benda-benda atau aktivitas yang memerlukan koordinasi syaraf dan otot. Seseorang dikatakan menguasai kecakapan motoris bukan saja karena ia dapat melakukan hal-hal atau gerakan yang telah ditentukan, tetapi juga karena mereka melakukannya dalam keseluruhan gerak yang lancar dan tepat waktu (Suparno, 2001:11).
Pengetahuan tentang cara-cara menguasai ketrampilan tertentu akan mengubah arah dan intensitas motivasi seseorang. Ketrampilan yang kompleks dapat dipelajari secara bertahap. Analisis tugas yang kompleks menjadi keterampilan-keterampilan bagian (part skills)’, memungkinkan dikuasainya ketrampilan tersebut. Jika penguasaan atas ketrampilan sudah tercapai, maka akan timbul rasa puas, yang pada gilirannya mendorong orang untuk mengulangi kegiatan tersebut atau melanjutkannya ke tahap yang lebih kompleks (Suparno, 2001:22).
Kompetensi yang dibutuhkan Seorang Penyuluh Pertanian
Penyuluh Pertanian dalam menjalankan tugasnya harus memiliki kompetensi atau kemampuan, mutu kecerdasan intelektual (unsur kognitif), kecerdasan sikap, moralitas, integritas kepribadian (unsur afektif) dan ketrampilan yang tinggi dan menonjol (psikomotorik).
Menyusun Programa Penyuluhan
Seorang penyuluh harus kompeten dalam mengidentifikasi isu-isu penting komunitas, seperti demografi, ekonomi, layanan masyarakat, dan lingkungan. Kompeten dalam menggunakan dan mengaplikasikan isu tersebut dalam prioritas program, perencanaan, dan implementasi. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dimulai dengan penyusunan program penyuluhan. Program penyuluhan pertanian dikembangkan berdasarkan hasil analisis keadaan dan kebutuhan masyarakat. Analisis keadaan dimulai dengan pengumpulan data yang terdiri dari data primer maupun data sekunder, misalnya :monografi daerah, data penduduk/petani, data tanah, air dan curah hujan, data luas, jenis tanaman dan produksi per Ha serta data mengenai keadaan dan kegiatan usahatani petani. Proses pengumpulan data ini diperlukan instrumen untuk pengumpulan data yang harus disiapkan oleh penyuluh (Yayasan Pengembangan Sinar Tani, 2001:253).
Program adalah suatu pernyataan tertulis tentang keadaan, masalah, tujuan, dan cara mencapai tujuan yang disusun dalam bentuk dan sistematika yang teratur. Pengertian program tersebut, terdapat empat unsur, yakni: Keadaan, Masalah, Tujuan, dan Cara mencapai tujuan (Yayasan Pengembangan Sinar Tani, 2001:246).
1. Keadaan
Keadaan adalah fakta-fakta yang ditunjukkan oleh data yang terdapat pada saat akan disusunnya suatu program. Data tersebut meliputi data tentang keadaan yang nyata ada pada saat itu (data aktual), dan data potensial yaitu data tentang keadaan yang mungkin dicapai. Jadi, dalam program suatu BPP umpamanya akan dijumpai adanya lembaran-lembaran khusus yang menguraikan tentang dua
macam data keadaan di wilayah kerja BPP tersebut sebelum program dilaksanakan.
2. Masalah
Masalah adalah faktor-faktor penyebab keadaan tidak memuaskan. Suatu wilayah kerja BPP dikatakan mempunyai suatu masalah kalau ada fakta yang belum memuaskan atau fakta tersebut belum sesuai dengan apa yang diinginkan. Keadaan yang tidak memuaskan itu dengan kata lain terjadi bila terdapat perbedaan antara data aktual dengan data potensial. Untuk mengetahui apa masalahnya, maka perlu analisis lebih lanjut faktor-faktor yang menyebabkan keadaan atau fakta tersebut menjadi tidak memuaskan. Faktor penyebab keadaan tidak memuaskan itulah yang dinamakan masalah.
Masalah umum (induk masalah) yaitu masalah besar atau luas yang dijadikan landasan untuk merumuskan tujuan program. Masalah khusus (anak masalah) yaitu masalah spesifik yang dijadikan landasan untuk merumuskan tujuan kegiatan. Suatu masalah yang telah ditetapkan pada suatu waktu atau masa dapat diubah menjadi keadaan. Atau sebaliknya, suatu keadaan dapat pula berubah menjadi masalah. Hal ini tergantung pada dangkal dalamnya penelaahan yang dilakukan serta kebutuhannya. Dengan demikian, pengertian keadaan dan masalah itu bersifat relatif.
3. Tujuan
Tujuan adalah pernyataan pemecahan masalah atau pernyataan apa yang ingin dicapai. Ada dua macam tujuan, yaitu:
1. Tujuan program yaitu pernyataan mengenai pemecahan masalah umum atau pernyataan secara umum apa yang ingin dicapai.
2. Tujuan kegiatan yaitu pernyataan mengenai pemecahan masalah khusus atau pernyataan secara khusus apa yang ingin dicapai.
4. Cara Mencapai Tujuan
Cara mencapai tujuan adalah penyusunan suatu rencana kegiatan yang bentuknya berupa sebuah daftar yang berisi hal-hal mengenai masalah khusus, tujuan kegiatan, metode, lokasi, unit, frekuensi, volume, dan lain-lain. Yang terpenting dalam penyusunan rencana kegiatan adalah penetapan metode penyuluhan pertanian yang tepat yang akan digunakan untuk mencapai tujuan.
Menurut Pusat Pengkajian SDM Pertanian, Departemen Pertanian (2004:14-15), perencanaan dalam program penyuluhan pertanian dirumuskan dengan memperhatikan dinamika dan prinsip yang mengarah pada demokrasi, partisipasi, transparasi, desentralisasi/otonomi daerah dan kepemerintahan yang baik. Untuk itu, penyusunannya mengacu pada sasaran yang jelas, yang meliputi besaran yang terukur, lokasi, waktu, kelompok sasaran dan manfaat kelompok sasaran. Selai itu, kegiatan penyuluhan pertanian disusun dengan meperhatikan kondisi sumber daya alam, manusia, kapital, teknologi, keadaan internal dan eksternal, peraturan perundangan, keterlibatan peran dan kewenangan dengan mekanisme perencanaan yang dilaksanakan dengan prinsip bottom up.
van den Ban dan Hawkins (1999:211-222) mengemukakan bahwa, kegiatan penyuluhan menuntut perencanaan yang sistematis. Dengan demikian, perencanaan program penyuluhan melibatkan pengambilan keputusan mengenai tugas organisasi penyuluhan. Suatu program diperlukan untuk kegiatan jangka panjang dan jangka pendek. Program jangka pendek misalnya, informasi mengenai varietas padi yang baru dilepas yang diberikan pada pertemuan petani,
dan jangka panjang seperti usaha peningkatan hasil melalui teknologi produksi modern.
Kegiatan perencanaan di desa dimulai dengan identifikasi potensi, aspirasi dan masalah-masalah oleh petani/kontaktani dan masyarakat pelaku agribisnis dengan menggunakan instrumen perencanaan partisipatif (PRA). Selanjutnya berdasarkan PRA ini dikembangkan Rencana Usaha Keluarga ) RUK, Rencana Kegiatan Kelompok (RKK), Rencana Kegiatan Desa (RKD), dan Rencana Kegiatan Penyuluhan Pertanian Desa (RKPPD).
Setelah RKPPD tersusun, Kelompok Penyuluh Pertanian di BPP bersama Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tingkat Desa mengadakan pertemuan/mimbar sarasehan tingkat BPP/Kecamatan untuk menyusun Programa Penyuluhan PertanianBPP/Kecamatan. Programa ini pada dasarnya merupakan rencana penyuluhan pertanian tahunan BPP/Kecamatan yang disusun berdasarkan kebutuhan spesifik lokalita yang isinya menjelaskan tentang kegiatan, volume, tujuan, sasaran, masalah, dan cara mencapai tujuan, termasuk metodologi yang digunakan (Pusat Pengkajian SDM Pertanian, Departemen Pertanian, 2004:15).
Menyusun Rencana Kerja Penyuluhan
Penetapan rencana kegiatan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penyuluh pertanian. Rencana kegiatan bisa berlaku untuk satu musim atau satu tahun. Rencana kerja tersebut merupakan pedoman kegiatan yang harus diselenggarakan oleh penyuluh pertanian (Yayasan Pengembangan Sinar Tani, 2001:255-257).
Dalam menetapkan rencana kegiatan, penyuluh pertanian harus menerapkan prinsip-prinsip pendidikan. Di dalamnya harus termuat masalah khusus, tujuan kegiatan, metode, waktu, tempat, perlengkapan, petugas, lokasi, dan biaya. Waktu, tenaga maupun biaya yang telah dicurahkan untuk menetapkan rencana kegiatan hanya bermanfaat, bila rencana kegiatan itu dilaksanakan. Dalam pelaksanaannya, penyuluh pertanian harus menerapkan pengetahuannya mengenai prinsip pendidikan.
Metode Penyuluhan
Yayasan Pengembangan Sinar Tani (2001:286-289) mengemukakan, terdapat berbagai macam metode penyuluhan pertanian, untuk membandingkan berbagai metode tersebut bisa dilakukan berdasarkan teknik komunikasi, jumlah sasaran dan indera penerima sasaran.
Metode Berdasarkan Teknik Komunikasi
Berdasarkan teknik komunikasi, metode penyuluhan dapat dibedakan antara yang langsung (face to face communication). Metode langsung digunakan pada waktu penyuluh pertanian berhadapan muka langsung dengan sasarannya. Misalnya, pembicaraan di balai desa, di sawah, rumah, kantor, kursus, demonstrasi, dan karyawisata. Metode langsung dianggap lebih efektif, meyakinkan dan mengakrabkan hubungan antara penyuluh dan sasaran. Dalam kondisi terbatasnya personalia, kurangnya transportasi, dan biaya, maka metode ini dianggap mahal.
Metode tidak langsung digunakan oleh penyuluh pertanian yang tidak langsung berhadapan dengan sasarannya, tetapi menyampaikan pesannya melalui perantara (medium atau media). Misalnya media cetak (brosur, majalah, surat kabar, dll), media elektronik (radio, televisi, dll), media pertunjukan sandiwara, pameran, dll. Metode tidak langsung sangat menolong apabila metode langsung tidak dapat digunakan. Terutama dalam upaya menarik perhatian dan menggugah hati sasaran. Siaran radio dan televisi dapat menarik banyak perhatian, pameran yang diselenggarakan dengan baik akan memberikan kesan yang lama dan meyakinkan.
Metode Berdasarkan Jumlah Sasaran dan Proses Adopsi
Berdasarkan jumlah sasaran dan proses adopsi, metode penyuluhan dapat dibedakan metode massal, metode kelompok dan individu atau perorangan. Metode massal digunakan penyuluh untuk menyampaikan pesan langsung atau tidak langsung kepada banyak orang sekaligus pada waktu yang hampir bersamaan. Misalnya, pidato, siaran lewat radio atau televisi, pertunjukan wayang, sandiwara atau dagelan, penyebaran bahan cetakan, poster, spanduk, dll. Metode ini digunakan untuk menarik minat dan perhatian masyarakat.
Metode kelompok digunakan penyuluh untuk menyampaikan pesan kepada kelompok. Contoh metode ini adalah pertemuan, demonstrasi, karyawisata, pameran, perlombaan, diskusi kelompok, dan kursus. Metode ini dapat meningkatkan minat dan perhatian ke tahapan evaluasi dan mencoba menerapkan rekomendasi yang dianjurkan.
Metode individu atau perorangan digunakan penyuluh untuk berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan individu. Misalnya, kunjungan ke rumah, sawah, kantor, pengiriman surat, dan telepon. Dalam banyak hal, hubungan perseorangan diperlukan agar petani menerapkan rekomendasi yang dianjurkan.
Pengembangan Metode Penyuluhan Pertanian
Meningkatkan keberhasilan kegiatan penyuluhan pertanian dan keefektifan metode yang digunakan, penyuluh pertanian harus memperhatikan dua upaya pengembangan. Pertama adalah pengembangan kegiatan pembelajaran, kedua adalah pengembangan keefektifan metode.
Implikasi dari pengembangan kegiatan pembelajaran adalah:
- Kegiatan pembelajaran memerlukan perumusan tujuan yang khusus dan jelas - Kegiatan pembelajaran harus mewujudkan perubahan perilaku yang berkaitan
dengan materi yang dipelajari
- Kegiatan pembelajaran memerlukan situasi pembelajaran yang mencakup lima unsur pokok (penyuluh, peserta belajar, materi, keadaan fisik, dan peralatan atau perlengkapan pembelajaran)
- Kegiatan pembelajaran memerlukan pengalaman belajar
- Kegiatan pembelajaran memerlukan kombinasi berbagai metode - Kegiatan pembelajaran memerlukan evaluasi.
Mengembangkan keefektifan metode, pemilihan dan penggunaan berbagai metode harus didasarkan atas kondisi petani. Terdapat enam kondisi yang berkaitan dengan perubahan, yaitu; 1) Perhatian, 2) Minat, 3) Kepercayaan, 4) Hasrat, 5) Tindakan, dan 6) Kepuasan.
Metode Penyuluhan Pertanian yang Spesifik Lokasi
Beberapa implikasi praktis yang dapat ditarik dari kajian sosiologis yang berkaitan dengan metode penyuluhan yang lokal spesifik adalah:
1. Suatu wilayah atau masyarakat tertentu mempunyai cara-cara tertentu dalam berkomunikasi. Suatu media komunikasi yang berhasil di suatu daerah, belum tentu berhasil di daerah lainnya. Media lokal dalam hal ini dapat dimanfaatkan atau mungkin diperbaiki, sampai media yang lebih maju dapat digunakan. Beberapa contoh dari media lokal di antaranya: (1) Perbincangan kaum wanita di warung, di waktu senggang, atau di sawah/ladang; (2) Perbincangan kaum pria di warung kopi, di tukang cukur, di penggilingan, atau di sawah/ladang; (3) berita atau pandangan yang diperbincangkan pada waktu hari pasar, pemakaman atau upacara-upacara keagamaan lainnya; (4) Para pemimpin dan tokoh pedesaan; (5) Para pemuka keagamaan.
2. Setiap media komunikasi mempunyai aspek fisik yang mudah dilihat dan aspek sosial atau psikologis yang sulit dilihat. Lingkungan kebudayaan ke lingkungan kebudayaan lainnya, aspek fisik relatif tidak banyak berbeda, tetapi aspek sosial dan psikologis banyak berbeda. Hubungan personal adalah ciri khas dari masyarakat yang tingkat penghidupan meterilnya belum tinggi. Ciri ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh penyuluh pertanian sebagai media komunikasi yang efektif.
3. Demonstrasi dalam masyarakat pedesaan adalah media yang sangat penting. Umumnya petani tidak mampu untuk mengambil resiko kegagalan dalam melakukan percobaan dari praktek yang baru. Demonstrasi setempat labih meyakinkan petani akan keabsahan praktek baru yang dianjurkan.
Evaluasi Program Penyuluhan
Raudaaugh dalam Pengembangan Yayasan Sinar Tani (2001:358) mendefinisikan evaluasi sebagai suatu proses untuk menentukan nilai atau jumlah keberhasilan dalam meraih tujuan yang direncanakan. Proses ini meliputi tahapan- tahapan sebagai berikut: merumuskan tujuan, mengidentifikasi kriteria yang cocok untuk mengukur keberhasilan, dan menentukan dan menjelaskan tingkat keberhasilan. Intisari dari pengertian evaluasi tersebut adalah nilai atau jumlah keberhasilan dan tujuan yang direncanakan, sedangkan istilah operasional yang penting adalah tujuan, kriteria, dan menentukan/menjelaskan tingkat keberhasilan. Dengan demikian ciri utama dari evaluasi adalah proses menentukan nilai terhadap suatu tujuan dan kemudian menentukan tingkat keberhasilan dalam meraih tujuan dengan nilai tersebut.
Tujuan Evaluasi
Tujuan evaluasi adalah untuk menentukan relevansi, efisiensi, efektivitas dan dampak dari kegiatan dengan pandangan untuk menyempurnakan kegiatan yang sedang berjalan, membantu perencanaan, penyusunan programa dan pengambilan keputusan di masa depan. Monitoring dilaksanakan dengan tujuan agar program dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien dengan menyediakan umpan balik bagi pengelola proyek di setiap tingkatan. Umpan balik ini memungkinkan penyempurnaan rencana operasional program dan mengambil tindakan korektif tepat pada waktunya jika terjadi masalah dan hambatan.
Tahapan Evaluasi
Terdapat tiga tahapan evaluasi penyuluhan pertanian yaitu, tahap pendahuluan, tahap pelaksanaan, dan tahap pencapaian tujuan. Evaluasi tahap pendahuluan dilakukan sebelum dilaksanakannya kegiatan penyuluhan pertanian. Evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui urgensi perubahan yang akan dilakukan.
Evaluasi tahap kedua dilakukan pada waktu kegiatan sedang berlangsung. Evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Misalnya metode mana yang efektif, mana yang perlu diperbaiki agar tujuan bisa tercapai atau langkah apa yang harus diambil bila terjadi hal yang tidak terduga.
Evaluasi tahap ketiga dilakukan pada akhir kegiatan untuk menentukan apakah tujuan akhir kegiatan dapat diraih. Apabila tujuan akhir tidak semuanya diraih, apakah perlu mencoba kembali dalam rencana yang akan datang atau menggantinya. Dapat pula diketahui efektivitas metode yang digunakan dalam keadaan tertentu.
Langkah-Langkah Pelaksanaan Evaluasi
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam evaluasi adalah: 1. Memahami arti dan prosesdur ilmiah
Prosedur ilmiah pada prinsipnya mencerminkan cara berpikir yang obyektif, tujuannya adalah mencapai kebenaran.
2. Meneliti tujuan program penyuluhan pertanian
Evaluasi dilakukan dengan cara mengukur perubahan spesifik yang terjadi, seperti yang diharapkan serta dinyatakan dalam tujuan program penyuluhan pertanian.