• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TANGGUNGJAWAB HUKUM SECARA PERDATA

A. Perseroan Terbatas sebagai Debitur Dalam Perjanjian

Perseroan Terbatas suatu bentuk perkumpulan dagang yang berbadan hukum, yang berarti sebagai subyek hukum pendukung hak dan kewajiban, memiliki kewenangan berhak untuk melakukan perbuatan sendiri, memiliki harta kekayaan sendiri yang terpisah dengan harta kekayaan pemegang saham. Status perseroan terbatas sebagai badan hukum tidak melekat pada sendirinya tetapi diberikan oleh hukum positif yaitu diberikan oleh negara melalui undang-undang yang dibuatnya.118

Oleh karena itu dalam perseroan terbatas dalam melakukan perbuatan hukum tertentu, seperti dalam melakukan perjanjian kredit pada bank perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana kewenangan dalam melakukan perbuatan hukum tersebut, baik yang diatur UUPT maupun ketentuan yang terdapat dalam anggaran dasar perseroan.119

Dalam pelaksanaan perjanjian kredit yang merupakan perjanjian pokok dalam setiap transaksi kredit, maka terdapat juga dokumentasi legalitas yakni yang merupakan dokumen pengaman yang biasanya non notarial, dibuat dengan tujuan agar terjaminya keabsahan dari perjanjian kredit dan pelaksanaannya nanti.Jadi sejauh mungkin dipastikan bahwa tidak ada hukum atau ketentuan

118Rudy Haposan Siahaan, Op.cit, Hal. 82

119Ibid

dalam anggaran dasar debitur yang terlanggar. Hal ini diantaranya dapat disebutkan sebagai berikut :

a. Persetujuan dewan komisaris, terhadap tindakan perseroan yang menurut anggaran dasarnya memerlukan persetujuan dengan akta Notaris;

b. Risalah RUPS terhadap tindakan perseroan yang oleh anggaran dasarnya disyaratkan RUPS;

c. Persertujuan suami/isteri, terhadap tindakan-tindakan yang melibatkan harta suami-isteri;

d. Surat-surat kuasa untuk mengesahkan otoritas seseorang/badan hukum.120 Akta pendirian perseroan terbatas memuat anggaran dasar perseroan terbatas. Anggaran Dasar adalah bagian dari akta pendiran yang pada mulanya berisi aturan main yang mengatur hubungan internal para pendiri (pemegang saham setelah pengesahan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia), Direksi dan anggotanya, Dewan Komisaris dan para anggotanya, namun demikian dengan diumumkannya Anggaran Dasar tersebut dalam Berita Negara, maka Anggaran Dasar tersebut berlaku ibarat undang-undang. Jadi Anggaran dasar adalah aturan main yang mengikat setiap orang yang berhubungan hukum dengan perseroan tersebut.121

1. Pihak-Pihak Dalam Perjanjian Kredit.

Menurut teori badan hukum oleh Otto Van Gierke dalam teori organnya mengatakan Badan hukum adalah suatu yang abstrak atau anggapan dalam pikiran manusia tetapi suatu yang riil atau nyata. Badan hukum adalah organ seperti halnya manusia yang dapat melakukan perbuatan atau menyatakan kehendak melalui organnya seperti pengurus, direksi atau pengurus komisaris atas

120Rudy Haposan Siahaan, Op.cit,Hal. 83.

121Gunawan Widjaya, Op.Cit,Hal. 6.

nama badan hukum menjalankan tujuan badan hukum tersebut.122Sehingga pengurus merupakan personifikasi dari badan hukum itu.

Pengurusan dalam perseroan terbatas dilakukan oleh orang perorangan yang ditugaskan oleh perseroan terbatas dalam organ yang dinamakan Direksi (dibawah pengawasan dewan komisaris). Direksi menurut pasal 1 butir 5 UUPT adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan serta mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.

Direksi adalah organ yang mengurus dan mewakili perseroan, sedangkan orang yang menjabat sebagai anggota Direksi adalah Direktur. Ini berarti pengurusan mengenai kegiatan usaha perseroan terbatas, harus dilaksanakan sesuai dengan :

a. Kepentingan perseroan;

b. Maksud dan tujuan perseroan terbatas

c. Ketentuan mengenai larangan dan batasan yang diberikan dalam : 1). Undang-Undang, Khususnya UUPT

2). Anggaran Dasar perseroan tersebut.123

Dalam Pasal 92 ayat (1) UUPT menyebutkan Direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.

Oleh karena itu direksi suatu perseroan terbatas dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai organ perseroan terbatas yang bertanggung jawab dalam pengurusan sehari-hari perseroan oleh UUPT dilengkapi dengan

122Otto Van Gierke, Loc.Cit.

123Rudy Haposan Siahaan, Op.cit, Hal. 85.

kewenangan (otoritas) karena tanpa adanya kewenangan tersebut, pelaksanaan tugas dan kewajibannya jelas tidak akan berjalan efektif.

Kewenangan mewakili perseroan terbatas tersebut diberikan kepada direksi perseroan. Kewenangan Direksi yang diatur dalam UUPT adalah kewenangan mewakili perseroan terbatas baik di dalam maupun di luar pengadilan sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 98 ayat 1 UUPT yang di kutip sebagai berikut :

“Direksi mewakili Perseroan baik di dalam maupun diluar pengadilan.”

Kewenangan mewakili perseroan terbatas ini tidak dimiliki oleh organ perseroan terbatas lainnya dan untuk menjalankan kewenangan tersebut, Direksi tidak memerlukan surat kuasa atau dokumen pendelegasian dari organ perseroan terbatas lainnya dan pihak ketiga yang berhubungan dengan perseroan terbatas tidak berhak untuk mensyaratkan surat kuasa apabila anggaran dasar perseroan terbatas dengan siapa mereka berhubungan jelas menunjukkan nama anggota Direksi. Direksi yang mewakili perseroan tersebut bertindak berdasarkan kuasa menurut hukum (wettelijke vertegenwoordig atau legal mandatory) yang artinya UUPT sendiri yang telah menetapkan seseorang (Direksi) menurut hukum bertindak mewakili orang atau badan hukum (perseroan terbatas) tanpa memerlukan surat kuasa.124

Kewenangan Direksi untuk mewakili perseroan sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah tidak terbatas dan tidak bersyarat, kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, anggaran dasar, atau keputusan dalam RUPS.

Selanjutnya kewenangan yang dimiliki Direksi ini masih dibatasi dalam hal sebagaimana yang diatur dalam pasal 99 Undang-undang tersebut, yang menyebutkan :

1. Anggota Direksi tidak berwenang mewakili perseroan apabila :

a. Terjadinya perkara di pengadilan antara perseroan dengan anggota Direksi yang bersangkutan atau

124Cornelius Simanjuntak dan Natalie Mulia, Organ Perseroan Terbatas, (Jakarta: Sinar Grafika,2009) Hal. 52.

b. Anggota Direksi yang bersangkutan mempunyai benturan kepentingan dengan perseroan.

2. Dalam Hal terdapat keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berhak mewakili perseroan adalah :

a. Anggota Direksi lainnya yang tidak mempunyai benturan kepentingan dengan perseroan.

b. Dewan komisaris dalam hal seluruh anggota Direksi mempunyai benturan kepentingan dengan perseroan; atau

c. Pihak lain yang ditunjuk oleh RUPS dalam hal seluruh anggota Direksi atau Dewan Komisaris mempunyai benturan kepentingan dalam perseroan.

Jadi Direksi hanya berhak dan berwenang untuk bertindak atas nama dan untuk kepentingan perseroan dalam batas-batas yang diijinkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku dan anggaran dasar perseroan. Setiap tindakan yang dilakukan oleh direksi di luar kewenangan yang diberikan oleh tersebut tidak mengikat perseroan, kecuali dalam hal diatur lain oleh Undang-Undang. Ini berarti Direksi memiliki limitasi dalam berbentuk atas nama dan untuk kepentingan perseroan.

Dalam anggaran dasar umumnya ditegaskan bahwa direksi mewakili perseroan di dalam dan diluar Pengadilan tentang segala hal dan dalam segala kejadian dan karenanya berhak untuk menandatangani dokumen yang dibuat atas pengurusan maupun yang bersifat pemilikan.

Kewenangan direksi tersebut seringkali diberikan pembatasan-pembatasan mengenai tindakan-tindakan antara lain sebagai berikut :

a. Meminjam atau meminjamkan uang (tidak termasuk menyimpan uang di bank) atas nama perseroan;

b. Membeli, menjual, membebani atau dengan jalan lain mendapatkan atau melepaskan hak atas barang-barang yang tidak bergerak atas nama perseroan.

c. Mengikat perseroan sebagai penanggung, dan atau menggadaikan barang-barang bergerak kepunyaan perseroan.125

125Zulkarnain Lubis, Perubahan Direksi Pada Perseroan Yang Terikat Kredit Pada Bank, Tesis, (Medan: Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Uniersitas Sumatera Utara, 2012), Hal. 97

Dalam hal ada pembatasan kewenangan, maka untuk tindakan-tindakan yang dibatasi tersebut di atas biasanya direksi harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari RUPS atau direksi lainnya atau dewan komisaris dan atau akta yang berkenaan turut di tandatangani oleh anggota direksi lain atau seorang Komisaris atau Dewan Komisaris sesuai anggaran dasarnya.

Selanjutnya dalam konteks persetujuan komisaris sebagaimana tersebut diatas, apabila dewan komisaris terdiri atas lebih dari 1 (satu) orang maka merupakan kologial/majelis dan setiap anggota dewan komisaris tidak dapat bertindak sendiri-sendiri, melainkan berdasarkan keputusan dewan komisaris. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 108 ayat (4).

Dalam hal di anggaran dasar perseroan terbatas diatur bahwa persetujuan komisaris dapat diberikan oleh satu seorang Komisaris saja atau kombinasi 2 diantara 4 Komisaris, maka bank tetap wajib mengacu pada ketentuan UUPT, yaitu oleh Dewan Komisaris (seluruh anggota Dewan Komisaris).

Disamping fungsi pengawasan dan pemberian nasihat yang melekat pada organ perseroan yang bernama dewan komisaris, kepada dewan komisaris juga dapat diberikan wewenang lain yaitu wewenang untuk memberikan persetujuan atau bantuan kepada Direksi dalam melakukan perbuatan hukum tertentu.

Wewenang tersebut sangat jelas diatur dalam Pasal 117 ayat (1) UUPT berbunyi sebagai berikut :

“Dalam anggaran dasar dapat ditetapkan pemberian wewenang kepada Dewan Komisaris untuk memberikan persetujuan atau bantuan kepada Direksi dalam melakukan perbuatan hukum tertentu.”

Dalam Pelaksanaan pemberian fasilitas kredit oleh bank kepada badan hukum perseron terbatas, maka bank terlebih dahulu memperhatikan sejauh mana wewenang daripada direksi dalam kapasitasnya selaku pengurus perseroan didalam anggaran dasar perseroan tersebut.Disebutkan dalam salah satu pasalnya (umumnya pasal 12), berbunyi :

Tugas dan Wewenang Direksi Pasal 12

1. Direksi berhak mewakili Perseroan di dalam dan diluar Pengadilan tentang segala kejadian, mengikat perseroan dengan pihak lain dan pihak lain dengan perseroan, serta menjalankan segala tindakan, baik mengenai kepengurusan maupun kepemilikan, akan tetapi dengan pembatasan bahwa untuk :

a. Meminjam atau meminjamkan uang atas nama perseroan (tidak termasuk mengambil uang perseroan di bank)

b. Mendirikan suatu usaha atau turut serta pada perusahaan lain baik di dalam maupun di luar negeri, harus persetujuan……….(hal ini dapat Dewan Komisaris atau RUPS), tergantung anggaran dasar yang mengaturnya).

2. a. Direktur utama berhak dan berwenang bertindak untuk dan atas nama Direksi serta mewakili perseroan.

b. Dalam hal Direktur Utama tidak hadir hadir atau berhalangan karena sebab apapun juga, yang tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, maka salah seorang anggota Direksi lainnya berhak dan berwenang bertindak untuk dan atas nama Direksi serta mewakili perseroan.126

Dalam Pasal 117 ayat (1) tersebut memakai kata “dapat” yang jelas bukan

“kewajiban”, sedangkan dalam klausula anggaran dasar perseroan Pasal 12 disebutkan “harus persetujuan” yang berarti direksi mutlak memerlukan persetujuan komisaris (atau RUPS, tergantung anggaran dasar yang mengatur).

Melihat hal tersebut diatas, walaupun seperti dijelaskan sebelumnya,UUPT menyatakan bahwa kepengurusan perseroan dilakukan oleh direksi dan direksi bertanggungjawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan,

126Ibid, Hal.112.

namun UUPT memberikan kemungkinan kepada direksi dalam anggaran dasar Perseroan.

Sehubungan dengan perseroan terbatas selaku debitur dalam melakukan perjanjian kredit pada bank maka dilakukan oleh organ perseroan yang berwenang bertindak mewakili perseroan yang telah di sahkan adalah direksi sesuai dengan anggaran dasar perseroan yaitu harus dengan persetujuan dewan komisaris secara kolegial.

Selain hal tersebut diatas,UUPT juga memberikan pembatasan secara khusus lainnya kepada Direksi yang dalam melakukan perbuatan hukum lainnya yang harus meminta persetujuan terlebih dahulu dari RUPS, hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 102, yang menyebutkan :

1. Direksi perseroan wajib meminta RUPS untuk : a. Mengalihkan kekayaan perseroan; atau

b. Menjadikan jaminan utang kekayaan perseroan; yang merupakan lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah kekayaan bersih perseroan dalam 1 (satu) transaksi atau lebih, baik yang berkaitan satu sama lain maupun tidak.

2. Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah transaksi pengalihan. Kekayaan bersih perseroan yang terjadi dalam jangka waktu 1 (satu) tahun buku atau jangka waktu yang lebih lama sebagaimana diatur dalam anggaran dasar perseroan.

3. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak berlaku terhadap tindakan pengalihan atau penjaminan kekayaan perseroan yang dilakukan oleh Direksi sebagai pelaksanaan kegiatan usaha perseroan sesuai dengan anggaran dasarnya.

4. Perbuatan hukum sebgaimana dimaksud pada ayat (1) tanpa persetujuan RUPS, tetap mengikat perseroan sepanjang pihak lain dalam perbuatan hukum tersebut.

5. Ketentuan kuorum kehadiran dan/atau ketentuan tentang pengambilan keputusan RUPS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 mutatis mutandis berlaku bagi keputusan RUPS untuk menyetujui tindakan Direksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Dari ketentuan pengalihan/pengagunan kekayaan perseroan dalam melakukan perbuatan hukum perjanjian kredit pada bank atas debitur perseroan terbatas yang harus di cermati bahwa :

a. Direksi wajib meminta persetujuan RUPS dalam mengalihkan atau menjadi agunan utang, yang merupakan lebih 50% (lima puluh persen jumlah kekayaan bersih perseroan dalam 1 (satu) transaksi atau lebih, baik yang berkaitan satu sama lain ataupun tidak. Berkaitan dengan ketentuan tersebut harus pula diperhatikan hal sebagai berikut :

1. Direksi wajib meminta persetujuan RUPS untuk mengalihkan atau menjadikan agunan utang seluruh atau sebagian besar kekayaan (yang nilainya diatas 50% dari harta kekayaan perseroan dalam 1 (satu) tahun buku yang bersangkutan berdasarkan neraca yang telah diaudit oleh akuntan publik.

2. Dalam hal kekayaan yang diagunkan bukan merupakan seluruh atau bukan sebagian besar harta kekayaan perseroan dalam 1 (satu) tahun buku berdasarkan neraca yang telah diaudit oleh akuntan publik, maka wajib dibuat surat pernyataan.

b. Persetujuan RUPS tersebut dapat dibuat secara notaril dengan akta yang dibuat dihadapan Notaris, maupun dibuat secara dibawah tangan.

Syarat ketat adanya persetujuan RUPS atas perbuatan hukum tersebut, ternyata dalam pasal ayat (4) diatas dapat dikecualikan, dimana perseroan tetap terikat perbuatan hukum yang dilakukan direksi tanpa mendapatkan persetujuan

terlebih dahulu dari RUPS. Pengecualian tersebut dapat berjalan apabila pihak lain dalam perbuatan hukum tersebut beritikad baik.

Disamping perbuatan hukum tersebut diatas yang membutuhkan persetujuan RUPS, juga ada persetujuan RUPS atas pengangkatan dan pemberhentian anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan Terbatas.

Kecuali anggota direksi dan Dewan Komisaris yang pertama sekali ditetapkan dalam akta pendirian perseroan terbatas tanpa melalui RUPS, tidak ada satu lembaga pun yang berwenang untuk mengangkat dan memberhentikan anggota direksi dan dewan komisaris selain RUPS. Dalam Pasal 94 ayat (1) UUPT tegas menyatakan bahwa anggota Direksi diangkat oleh RUPS, begitu juga halnya Pasal 111 UUPT yang menegaskan bahwa anggota Dewan Komisaris diangkat oleh RUPS.

Demikian esensialnya organ perseroan yang bernama RUPS dibuktikan dari penjelasan Pasal 94 ayat (1) yang menegaskan bahwa kewenangan mengangkat anggota Direksi tidak dapat dilimpahkan kepada organ perseroan lainnya atau pihak lain. Jadi pengangkatan anggota direksi dan dewan komisaris mutlak dibawah kontrol penuh RUPS.

Mengenai kewenangan RUPS atas pengangkatan dan pemberhentian anggota direksi dan dewan komisaris menjadi penting dalam perjanjian kredit, karena akan menjadi permasalahan tersendiri bagi pihak bank (kreditur).

Bagaimana sekiranya terjadi penggantian anggota direksi atau anggota dewan komisaris pada saat perjanjian kredit sedang berlangsung atau dengan kata lain perseroan terbatas masih terikat pada utang kepada bank. Seperti yang dijelaskan

sebelumnya bahwa sebagai subyek hukum, perseroan terbatas adalah artificial person, dimana kapasitas organ Direksi, (anggota Direksi yang dinamai Direktur) dilakukan orang perorangan. Jadi siapapun anggota Direksi, tanggung jawab tetap pada perseroan karena dia bertindak mewakili perseroan sepanjang anggota Direksi tersebut menjalankan kegiatan usaha perseroan tersebut sesuai dengan kepentingan perseroan, maksud dan tujuan perseroan dan tidak melanggar larangan dan batasan UUPT serta anggaran dasar perseroan. Hal ini juga sama halnya bagi anggota Dewan Komisaris jika akan dilakukannya penggantian dalam keadaan tersebut diatas.

2. Organ Perseroan Terbatas

a. RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).

RUPS merupakan organ perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak di berikan kepada direksi / dewan komisaris dalam batas waktu yang di tentukan dalam UU PT / AD persero.127

Wewenang Eksklusif RUPS yang di tetapkan dalam UUPT antara lain : 1) Penetapan perubahan anggaran dasar ( pasal 34)

2) Penetapan pengurangan modal ( pasal 37 )

3) Pemeriksaan, persetujuan, dan pengesahan laporan tahunan ( Pasal 60 ) 4) Penetapan penggunaan laba ( Pasal 62)

5) Pengangkatan dan pemberhentian Direksi dan Komisaris ( Pasal 80, 91,92) 6) Penetapan mengenai Penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan.

b. Direksi

127Undang-Undang Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007 Pasal 1 angka 4

Direksi adalah organ perseroan yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan untuk kepentingan dan tujuan Perseroan serta memiliki perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar.128

Badan pengurusan perseorangan yang paling tinggi serta berhak dan berwenang untuk menjalankan perusahaan, bertindak untuk dan atas nama perseorangan,baik di dalam maupun di luar pengadilan. Tugas dan Tanggung Jawab Direksi sebagai berikut :

1) Bertanggung jawab penuh atas kegiatan pengurusan Perseroan untuk kepentingan dan mencapai tujuan perseroan, serta mewakili Perseroan dalam segala tindakannya,baik didalam maupun luar pengadilan.

2) Bertanggung jawab atas pengurusan Perseroan dan di laksanakan setiap anggota direksi dengan iktikad baik dan penuh tanggung jawab.

3) Setiap anggota direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas kerugian Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya.

Dalam hal Direksi terdiri atas 2 anggota Direksi atau lebih, tanggung jawab secara tanggung renteng bagi setiap anggota direksi.Anggota Direksi tidak dapat dipertanggung jawabkan atas kerugian apabila dapat dibuktikan:

1) Kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya.

2) Melakukan pengurusan dengan itikad baik kehati – hatian untuk Kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseorangan.

128Undang-Undang Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007 Pasal 1 angka 5

3) Tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian

4) Telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut.

5) Kewajiban Direksi membuat dan memelihara daftar pemegang saham, risalah RUPS dan risalah rapat direksi;

6) Menyelenggarakan pembukuan perseroan. ( Pasal 82 UU PT )

Direksi merupakan suatu organ yang didalamnya terdiri dari satu atau lebih Direktur,dalam hal ini perseroan memiliki lebih dari organ Direktur dalam Direksi, maka salah satu anggota Direkturnya dianggkat sebagai Direktur Utama c. Komisaris

1. Tugas dan tanggung jawab dengan komisaris

Dewan komisaris melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai perseroan maupun usaha perseroan dan memberi nasihat kepada direksi, Perseroan dilakukan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan (Pasal 108 UU PT). Setiap anggota dewan komisaris wajib dengan itikad baik, kehati-hatian, dan bertanggungjawab dalam menjalankan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada direksi untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksudtujuan perseroan, tidak mempunyai kepentingan pribadi, baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan direksi yang mengakibatkan kerugian. (Pasal 114 ayat (1), (2) dan (5) UU PT). Dalam hal dewan komisaris terdiri atas 2 (dua) anggota dewan komisaris atau lebih, tanggungjawab tersebut

berlaku secara tanggung renteng bagi setiap anggota dewan komisaris (Pasal 114 ayat (3) dan (4)

Atas nama perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit satu persepuluh bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat mengggugat ke pengadilan negeri anggota dewan komisaris yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada perseroan (Pasal 114 ayat (6) UU PT).

2. Majelis Dewan Komisaris

Dewan komisaris terdiri atas satu orang anggota atau lebih (Pasal 108 UU PT). Dewan Komisaris yang terdiri lebih dari satu orang anggota merupakan majelis dan setiap anggota dewan komisaris tidak dapat bertindak sendiri-diri, tetapi bertindak berdasar pada keputuan dewan komisaris.

Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha berdasar pada prinsip syariah selain mempunyai dewan komisaris, juga wajib mempunyai dewan pengawas syariah. Dewan pengawas syariah bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi serta mengawasi kegiatan perseroan agar sesuai dengan prinsip syariah (Pasal 109 UU PT).

3. Wewenang Dewan Komisaris

Dewan komisaris wajib membuat risalah rapat dewan komisaris dan menyimpan sahamnya, melaporkan kepada perseroan mengenai kepemilikan sahamnya dan/atau keluarga pada perseroan tersebut dan perseroan lain, dan memberikan laporan tentang tugas pengawasan yang telah dilakukan selama tahun buku yang baru lampau kepada RUPS (Pasal 116 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007)

Dalam anggaran dasar dapat ditetapkan pemberian wewenang kepada dewan komisaris untuk memberikan persetujuan atau bantuan kepada direksi dalam melakukan perbuatan hukum tertentu. Dalam hal anggaran dasar menetapkan persyaratan pemberian persetujuan atau bantuan kepada direksi, tanpa persetujuan atau bantuan dewan komisaris, perbuatan hukum tetap mengikat perseroan sepanjang pihak lainnya dalam perbuatan hukum tersebut beritikat baik (Pasal 117 ayat 1 dan 2 UU PT).

3. Direksi Sebagai Pihak Yang Mewakili PT dalam Perjanjian Kredit Perseroan terbatas mempunyai kedudukan yang mandiri, maksudnya adalah kedudukan perseroan terbatas dalam hukum dipandang berdiri sendiri otonom terlepas dari orang perorangan yang berbeda dalam perseroan terbatas tersebut.

Disatu pihak perseroan terbatas merupakan wadah yang menghimpun orang-orang yang mengadakan kerjasama dalam perseroan terbatas, namun dilain pihak segala perbuatan yang dilakukan dalam rangka kerjasama dalam perseroan terbatas itu oleh hukum dipandang semata-mata sebagai perbuatan badan itu sendiri. Karena itu konsekuensinya, keuntungan yang diperoleh, dipandang sebagai hak dan harta kekayaan badan itu sendiri. Demikian pula sebaliknya, bila terjadi sesuatu hutang atau kerugian dianggap menjadi beban perseroan terbatas sendiri yang dibayarkan dari harta kekayaan perseroan terbatas semata-mata. Manusia orang perorangan yang ada, dianggap lepas dari eksistensinya dari perseroan terbatas itu.129

Oleh karena itu di dalam perseroan terbatas untuk melakukan perbuatan hukum tertentu, seperti dalam melakukan perjanjian kredit pada bank, perlu

129Rudhi Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas, Cetakan Ketiga, ( PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001), Hal.9

diketahui terlebih dahulu bagaimana kewenangan dalam melakukan perbuatan hukum tersebut, baik yang diatur UUPT maupun ketentuan yang terdapat dalam anggaran perseroan.130

Tugas utama seorang direksi adalah melaksanakan pengurusan perseroan sebaik-baiknya untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan

Tugas utama seorang direksi adalah melaksanakan pengurusan perseroan sebaik-baiknya untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan