BAB IV TANGGUNGJAWAB HUKUM SECARA PIDANA
B. Unsur-Unsur Tindak Pidana Atas Pemberian Data Yang
atau keterangan yang tidak sebenarnya dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dengan menimbulkan kerugian materil bagi pihak lain.151
Perbuatan kecurangan perkreditan ini dilihat dari kuantitas terjadinya dilakukan karena adanya kolusi antara pihak yang terkait dalam kegiatan perbankan tersebut. Oknum tertentu dalam bank memberikan kemudahan kepada pelaku dengan mengadakan penyimpangan terhadap ketentuan perkreditan.
Oknum dari pihak bank menerima fasilitas-fasilitas tertentu dari pelaku tindak pidana guna melancarkan pencairan kreditnya dan pada akhirnya kredit yang diberikan kemudian tidak dapat dikembalikan pada waktunya.152
150 Edward Cornelis William Neloe, Pemberian Kredit Bank Menjadi Tindak Pidana Korupi, (Jakarta : Verbum Publishing, 2012), Hal.87.
151Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, (Bandung :PT. Citra Aditya Bakti, 2000), Hal.459.
152Ibid, Hal.460.
Pasal 2 KUHP, menetapkan : “Ketentuan pidana dalam Undang-Undang Indonesia diterapkan bagi setiap orang yang melakukan sesuatu tindak pidana di Indonesia.
Dalam kaitannya dengan tindak pidana di bidang perbankan konvesional, maka dapat dilihat dalam Pasal 263 KUHP, yaitu :
1. Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari pada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat-surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak palsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama enam tahun.
2. Dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian.
Pasal 264 KUHP
1. Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun, jika dilakukan terhadap :
Ke-1. Akte authentik
Ke-2. Surat hutang atau sertipikat hutang dari suatu Negara atau sebagainya atau dari suatu lembaga umum;
Ke-3. Sero atau surat hutang atau sertipikat sero atau hutang dari suatu perkumpulan, yayasan, perseroan, atau maskapai;
Ke-4. Talon,Tanda bukti deviden atau bunga dari salah satu surat yang diterangkan pada, ke-2,ke-3, atau tanda bukti yang dikelurakan sebagai pengganti surat itu;
Ke-5 Surat kredit atau surat dagang yang diperuntukkan untuk diedarkan 2. Diancam dengan pidana yang sama, barangsiapa dengan sengaja memakai
surat tersebut dalam ayat pertama, yang isinya tidak sejati atau dipalsukan seolah-olah benar dan tidak palsu, jika pemalsuan itu mendatangkan kerugian.
Pada dasarnya untuk dapat dihukum dengan pasal-pasal diatas, unsur nyata dari si pelaku harus menampakkan adanya suatu maksud bahwa penggunaan surat itu (baik yang tersebut dalam Pasal 263 KUHP), seolah-olah si pelaku itu sendiri
maupun dengan cara menyuruh orang lain untuk menggunakan surat yang dipalsukan itu, seolah-olah asli dan tidak dipalsukan.
Bentuk tindak pidana lainnya yang dapat diancam dengan Pasal 264 KUHP adalah pemalsuan sertipikat tanah yang dijadikan sebagai untuk memperoleh kredit bank. Penyerahan sertipikat tanah sebagai jaminan adalah sesuai dengan ketentuan persyaratan pemberian kredit melalui bank umum, yaitu tidak memberikan jaminan kepada siapapun.
Jaminan atau agunan adalah berfungsi memberikan hak dan kekuasaan pada bank untuk mendapatkan pelunasan hutang debitur melalui pelelangan barang jaminan, apabila debitur cidera janji. Bank dapat melaksanakan hak dan kekuasaan atas barang dan jaminan tersebut dan agar tidak akan menimbulkan kesulitan dikemudian hari, maka diperlukan adanya kebenaran formil secara yuridis atas barang yang dijaminkan sesuai dengan hukum yang berlaku.
Atas dasar pengikatan secara yuridis formil tadi, maka apabila ternyata penyerahan sertipikat tanah sebagai jaminan adalah palsu atau dipalsukan, maka bank akan mengalami kesulitan untuk menarik pelunasannya terhadap debitur yang nakal tersebut. Sertipikat tanah merupakan akta authentik, dan apabila surat ini dipalsukan, maka ketentuannya diatur dalam Pasal 264 (1) dan (2) KUHP.
Dalam Pasal 378 KUHP ditentukan bahwa;
“Barang Siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, dengan memakai nama palsu,tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.”
Unsur-unsurnya, adalah :
1. Menggerakkan/membujuk orang lain;
2. Agar orang lain menyerahkan sesuatu, membuat utang, menghapuskan piutang;
3. Dengan menggunakan (alat pembujuk/penggerak), nama palsu, keadaan palsu, rangkaian kata-kata bohong, tipu muslihat.
4. Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum.
Dalam hal ini dapat dikemukakan, bahwa penyerahan sesuatu barang atau uang harus merupakan suatu akibat perbuatan menggerakkan atau membujuk orang lain, bujukan mana dipergunakan dengan menggunakan daya upaya yang terdiri dari nama palsu,rangkaian kata-kata bohong dan atau tipu muslihat.
Tindak pidana penipuan di bidang perkreditan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : seseorang mengajukan permohonan kredit kepada bank dengan menggunakan/melampirkan berbagai jenis surat-surat bukti yang diwajibkan dalam permintaan kredit yang sedang/telah diajukan sebagai jaminan atau pengganti jaminan.Surat-surat tersebut dapat berupa sebagai berikut:
1. Surat Perintah Kerja (SPK)/ Invoice dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan atau pemesanan dalam suatu proyek yang
a. Palsu atau dipalsukan (proyek fiktif atau proyek yang lebih besar nilainya);
b. Yang telah diberikan kredit (menerima kredit berulang-ulang atas proyek yang sama);
Seperti Kasus PT Rockit Aldeway yang memberikan invoice palsu kepada bank untuk mendapatkan kredit.
2. Menyerahkan sertipikat atas nama orang lain. Seperti kasusputusan No. 1590 K/Pid.Sus/2015, yang mana PT Barito Riau Jaya menyerahkan jaminan fiktif.
Bahwa masyarakat Desa Sako Margasari Kecamatan Logas Tanah Darat Kabupaten Kuansing tidak pernah menjual lahan kebun seluas +/- 317 Ha kepada pihak lain ataupun kepada Terdakwa ESRON NAPITUPULU selaku Direktur Utama PT. BRJ;
3. Menyerahkan Laporan Appraisal yang tidak sebenarnya, sehingga mempengaruhi nilai jaminan. Seperti kasus putusan No. 1590 K/Pid.Sus/2015, yang mana PT Barito Riau Jaya Bahwa pada tanggal 12 Agustus 2008 Nirboyo Adiputro selaku Direktur PT. Laksa Laksana menyampaikan Draft Laporan Studi Kelayakan Perkebunan Kelapa Sawit Nomor : 08-148/KEBUN/FS kepada PT. Barito Riau Jaya untuk disetujui atau tidak. Namun kenyataannya Draft Laporan Studi Kelayakan Perkebunan Kelapa Sawit Nomor : 08-148/KEBUN/FS kepada PT. Barito Riau Jaya itu tidak mendapat tanggapan dari PT. Barito Riau Jaya. Sehingga Nirboyo Adiputro tidak menandatangani draft laporan Bahwa meskipun draft yang belum ditandatangani itu telah dibatalkan oleh Nirboyo Adiputro selaku Direktur PT. Laksa Laksana, akan tetapi Draft Laporan Studi Kelayakan Perkebunan Kelapa Sawit Nomor : 08 tersebut tetap diajukan oleh Terdakwa ESRON NAPITUPULU selaku Direktur Utama PT. BRJ sebagai kelengkapan permohonan KIR Rp23.000.000.000,00 (duapuluh tiga miliar rupiah) tersebut.
4. Menyerahkan dokumen izin usaha perusahaan yang ternyata merupakan fiktif, Seperti kasus putusan No. 1590 K/Pid.Sus/2015, bahwa PT Barito Riau Jaya berdasarkan keterangan Ahmustari selaku Kepala Bidang Pembinaandan Pengawasan Usaha Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi terkait dengan syarat disposisi mengenai izin prinsip atas tanah dari Bupati setempat tersebut, menyatakan bahwa sebenarnya PT. Barito Riau Jaya sejak tahun 2007 sampai dengan Oktober 2013 PT. Barito Riau Jaya tidak pernah melakukan pengurusan izin usaha perkebunan budidaya untuk lokasi lahan perkebunan kelapa sawit seluas 1.004 Ha yang berlokasi di Desa Sako Margasari dan PT Barito Riau Jaya tidak terdaftar dan tidak memiliki izin usaha perkebunan budidaya pada Dinas Perkebunan Kabupaten KuantanSingingi;
5. Surat-surat berharga lainnya dan sebagainya.
Dengan penyerahan atau melampirkan data-data pada permohonan kreditnya, dapat menimbulkan kepercayaan atau keyakinan pada petugas bank akan kebenaran atas permohonan kreditnya. Pemberian kredit lantas dilaksanakan oleh bank yang menganggap jaminan atau pengganti jaminan itu benar-benar asli alias tidak palsu.
Dengan demikian penyerahan surat-surat berharga yang ternyata palsu atau dipalsukan itu kepada bank oleh penerima kredit, merupakan perbuatan tipu muslihat sebagai daya upaya untuk menyesatkan atau memperdaya bank dan para petugasnya, karena penyerahan surat-surat berharga yang seolah-olah asli dan tidak palsu itu dapat mengakibatkan diberikannya kredit oleh bank kepada
pemohon. Perbuatan tersebut merupakan tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP.
Secara umum tindak pidana korupsi diatur dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Jo Undang-Undang No 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU PTPK). Selain itu, hukum acara dalam menangani tindak pidana korupsi tunduk pada kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan penyimpangannya yang diatur secara khusus dalam UU PTPK.153
Unsur-unsur tindak pidana korupsi tidak akan terlepas dari unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 2 dan pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Undang-Undang No 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagai berikut:
Pasal2 : Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan denda paling sedikit dua ratus juta rupiah dan paling banyak satu milyar rupiah.
Pasal 3 : Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit lima puluh juta rupiah dan paling banyak satu milyar rupiah.
Unsur-unsur delik korupsi yang terdapat dalam pasal 2 UU PTPK tersebut sebagai berikut:
1. Setiap orang;
153Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan Internasional, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), Hal. 4.
Pengertian setiap orang selaku subjek hukum pidana dalam tindak pidana korupsi ini dapat dilihat pada rumusan Pasal 1 butir 3 UU PTPK,yaitu merupakan orang perseorangan atau termasuk korporasi. Berdasarkan pengertian tersebut, maka pelaku tindak pidana korupsi dapat disimpulkan menjadi orang perseorangan selaku manusia pribadi dan korporasi. Korporasi yang dimaksudkan disini adalah kumpulan orang dan atau kekayaan yang terorganisasi baik badan hukum maupun bukan badan hukum (Pasal 1 butir (1) UU PTPK).
2. Secara melawan hukum;
Mahkamah Konstitusi RI dalam Putusannya Nomor 003/PUU-IV/2006sehubungan dengan sifat melawan hukum materiil ini menyatakan bahwa pengertian melawan hukum materiil sebagaimana yang dirumuskan dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK sepanjang frasa yang berbunyi:
Yang dimaksud dengan “secara melawan hukum” dalam Pasal ini Mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana.
3. Perbuatan memperkaya diri sendiri dan orang lain atau suatu korporasi;
Berdasarkan UU TIPIKOR terdahulu, yaitu dalam penjelasan UU PTPK 1971, yang dimaksud dengan unsur memperkaya dalam Pasal 1 ayat (1) sub (a) adalah "memperkaya diri sendiri" atau "orang lain" atau "suatu badan"
dalam ayat ini dapat dihubungkan dengan Pasal 18 ayat (2) yang memberi kewajiban kepada terdakwa untuk memberikan keterangan tentang sumber
kekayaan sedemikian rupa sehingga kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau penambahan kekayaan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat keterangan saksi lain bahwa telah melakukan tindak pidana korupsi. (Pasal 37 ayat (4) UU PTPK 1999).
4. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Pada penjelasan Pasal 2 Ayat (1) UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana yang diperbaharui dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dinyatakan bahwa kata "dapat" sebelum frasa "merugikan keuangan atau perekonomian negara" menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil. Dengan demikian adanya tindak pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan bukan dengan timbulnya akibat.
Pengertian keuangan negara sebagaimana dalam rumusan delik Tindak Pidana Korupsi di atas, adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun yang dipisahkan atau tidak dipisahkan, termasuk di dalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena:
Sementara itu, dalam Pasal 3 UU PTPK tersebut unsur-unsur deliknya adalah sebagai berikut:
1. Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi;
2. Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan;
3. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Seperti dalam kasus Putusan Hakim No. 1590 K/Pid.Sus/2015 yang mana Direktur Utama dikenai hukuman penjara selama 8 tahun dan ganti rugi dan denda sebesar Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Dimana direktur terbukti melakukan perbuatan tindak pidana korupsi yang Direktur telah memberikan data yang tidak benar kepada bank, yang mana terhadap data tersebut telah mempengaruhi bank untuk memberikan kredit tambahan sebesar Rp.
17.000.000.000,00 ( tujuh belas miliar Rupiah).
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 Pasal 19 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang mewajibkan Debitur untuk memberikan identitas dan informasi yang benar yang disyaratkan oleh bank sebagai bahan pertimbangan persetujuan pemberian kredit kepada debitur.
Pihak bank juga diwajibkan untuk meminta informasi dan dokumen dari debitur sebagai bahan pendukung untuk pemberian kredit kepada debitur. Jika data tersebut kurang lengkap dan bank meragukan kebenaran atas pemberian data yang diberikan debitur maka bank berhak menolak permohonan debitur atau bank dapat memutuskan hubungan terhadap debitur. Bank di tuntut untuk lebih hati-hati dan professional dalam menghadapi debitur.
Seperti salah satu contoh kasus yang baru terjadi antara HS dan D (Direktur PT Rockit Aldeway) yang dikenakan Pasal Tindak Pidana Pencucian Uang, yang mana HS dan D memberikan invoice yang tidak benar kepada pihak bank
C. Tanggungjawab hukum secara pidana terhadap Perseroan Terbatas