• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

III.11 Persetujuan Komite Etik

Pelaksanaan penelitian diupayakan mengikuti pola dan norma-norma pelaksanaan penelitian ilmiah yang standar. Pada pihak subjek atau keluarga subjek yang diwawancarai diminta semacam persetujuan informed consent dengan penyampaian informasi bahwa data atau kerahasiaan individu responden akan dijamin tetap rahasia oleh pihak peneliti. Peneliti telah mendapat persetujuan dari komite etika penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tetang Penelitian Kesehatan no 99/KEP/USU/2020.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

IV.1. Karakteristik Demografik

Tabel 4.1 disajikan untuk menjawab tujuan khusus pertama, yaitu untuk mengetahui gambaran karakteristik demografik pada orang dengan end stage renal disease yang menjalani hemodialisis. Adapun variabel kategorik yang dibahas di tabel 4.1 adalah jenis kelamin, status pernikahan, status pekerjaan, riwayat depresi sebelumnya, dan suku. Data kategorik disajikan dalam jumlah (n) dan persentase (%).37

Variabel numerik yang dibahas pada tabel 4.1 adalah usia , lama pendidikan, jumlah komorbiditas dengan penyakit kronis, jumlah penghasilan keluarga per bulan, lama dialisis, skor kualitas tidur. Variabel numerik disajikan dalam pemusatan (rerata) dan penyebaran (simpangan baku) didapati data berdistribusi normal dengan uji Kolmogorov-Smirnov (n=98) dimana p>0,05, yaitu variabel usia dan selebihnya variabel numerik disajikan dalam pemusatan (median) dan penyebaran (minimal dan maksimal) karena data berdistribusi tidak normal dengan uji Kolmogorov-Smirnov (n=98) dimana p<0,05 untuk setiap variabel.37

Dari tabel 4.1 terlihat bahwa variabel jenis kelamin yang terbanyak adalah laki-laki yaitu 51 subjek (52%). Dari variabel status pernikahan, yang terbanyak adalah menikah 65 subjek (66,3%). Dari variabel status pekerjaan, yang terbanyak adalah tidak bekerja yaitu 65 subjek (66,3%). Dari variabel riwayat depresi sebelumnya, yang terbanyak adalah tidak memiliki riwayat depresi

sebelumnya 88 subjek (89,8%). Dari variabel suku, yang terbanyak adalah suku batak yaitu 64 subjek ( 65,3%).

Dari table 4.1 juga terlihat bahwa varibel usia memiliki rerata 49,68 dengan simpangan baku 14,54. Nilai median dari variabel lama menjalani pendidikan adalah 12 dengan nilai minimal 4 dan nilai maksimal 20. Nilai median dari variabel jumlah penghasilan keluarga perbulan adalah 1,7 juta dengan minimal 0,5 juta dan maksimal 10 juta. Nilai Median dari variabel lama dialisis 39 bulan dengan nilai minimal 2 bulan dan maksimal 119 bulan. Nilai Median dari variabel skor kualitas tidur adalah 11 dengan nilai minimal 3 dan maksimal 19.

Nilai Median dari variabel jumlah komorbiditas dengan penyakit kronis lainnya adalah 1 dengan nilai minimal 0 dan maksimal 4.

Karakteristik demografik orang dengan end stage renal disesase yang menjalani hemodialisis

Tabel 4.1.1. Karakteristik demografik subjek untuk data numerik n %

Tabel 4.1.2. Karakteristik demografik subjek untuk data numerik Rerata ± sb / Median

(min-max) Usia

rerata ± sb

Lama pendidikan ( dalam tahun ) Median (Min-Max)

Jumlah Penghasilan Keluarga per bulan ( dalam juta)

Median ( Min-Max)

49,68 ± 14,54

12 (4-20)

1,7 (0,5-10) Lama dialisis ( dalam bulan )

Median ( Min-Max) analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda atau analisis linier multivariat dengan kerangka konsep prediktif. Langkah-langkah yang dilakukan untuk analisis regresi linier multivariat adalah deskriptif dan analisis uji normalitas, analisis bivariat, analisis multivariat, resume analisis dan yang terakhir adalah laporan hasil.36,37

IV.2.1 Skor Depresi

Pada studi ini, karena variabel tergantung berskala numerik maka analisis multivariatnya dipilih regresi linier. Syarat untuk suatu variabel bebas diikutsertakan dalam analisis regresi multivariat adalah untuk analisis bivariatnya, harus nilai p<0,25. adapun pada studi ini terdapat 11 variabel bebas, diantaranya adalah 6 variabel bebas berskala numerik dan 5 variabel bebas berskala kategorik.36

Data Kategorik Bivariat

Tabel 4.2. Analisis bivariat variabel bebas berskala kategorik Rerata

Pada variabel bebas status pernikahan dilakukan uji t Independen karena karena data berdistribusi normal (uji Kolmogorov-Smirnov). Variabel bebas kategorik selebihnya dilakukan uji Mann Whitney U karena data tidak berdistribusi normal (uji Kolmogorov-Smirnov). Pada tabel 4.2 terlihat bahwa variabel bebas yang mempunyai nilai p<0,25 yaitu variabel jenis kelamin, status pekerjaan, suku sehingga variabel bebas kategorik tersebut memenuhi syarat untuk dilanjutkan uji analisis multivariat regresi linier dengan kerangka konsep prediktif.36,37

Data Numerik Bivariat

Tabel 4.3. Analisis bivariat variabel bebas berskala numerik Skor Depresi pendidikan, jumlah komorbiditas dengan penyakit kronis, jumlah penghasilan

karena terpenuhi syarat dilakukannya uji Pearson yakni salah satu variabel berdistribusi normal (dengan uji Kolmogorov-Smirnov) p>0,05 dan uji linearitas terpenuhi dengan grafik scatter.37

Dikarenakan semua variabel bebas berskala numerik mempunyai linearitas dengan skor depresi sehingga dapat dilanjutkan dengan uji Pearson. Dari tabel 4.3 terlihat bahwa variabel bebas yang mempunyai nilai p<0,25 yaitu usia, jumlah penghasilan keluarga perbulan, lama dialisis, skor kualitas tidur. Dari analisis bivariat tersebut disimpulkan bahwa variabel tersebut berhubungan dengan skor depresi. Oleh karena itu semua variabel ini telah memenuhi syarat untuk dilanjutkan analisis multivariat regresi linier dengan kerangka konsep prediktif.36

Data Multivariat

Setelah dilakukan analisis bivariat, maka dilanjutkan analisis multivariat jika telah memenuhi syarat-syarat untuk melakukan uji regresi linier yaitu syarat dari residu, variabel tergantung, variabel bebas, dan hubungan variabel tergantung dengan variabel bebas.36

Tabel.4.4. Model Summary skor Depresi pada Multivariat pertama

Model Summarye

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 ,871a ,758 ,739 2,455

2 ,871b ,758 ,742 2,442

3 ,871c ,758 ,745 2,429

4 ,870d ,757 ,746 2,422 1,815

Pada tabel 4.4 terlihat bahwa model 4 merupakan model dengan koefisien determinasi yang tertinggi yaitu 74,6%. Walaupun demikian merujuk pada tabel

tersebut dikarenakan terdapatnya satu variabel bebas dengan nilai p>0,05 maka untuk memperoleh model multivariat regresi linier yang fit, disarankan untuk membuang variabel bebas yang paling tidak bermakna supaya diperoleh model yang fit. Berdasarkan pertimbangan statistik maka diputuskan untuk membuat analisis regresi linier yang baru, dengan membuang variabel suku ( batak dibandingkan selain batak ) karena variabel ini merupakan variabel yang paling tidak bermakna (p=0,077).36

Tabel 4.5. Model Summary Skor Depresi pada Multivariat kedua

Model Summarye

Setelah analisis regresi linier diulang dengan membuang variabel suku (batak dibandingkan selain batak ) maka dari tabel 4.5 terlihat bahwa model 4 merupakan model dengan koefisien determinasi yang tertinggi yaitu 74% terlihat merupakan model yang fit karena tidak terdapat autokorelasi dimana nilai tolerance>0,4.

Untuk syarat dari residu adalah sebaran residu harus normal, rerata residu nol, tidak ada outlier, konstan (homoscedastisity), dan independen. Dari grafik histogram dan plot terlihat bahwa sebaran tersebut memberikan kesan normal, ditambah lagi dengan uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov juga menunjukkan nilai p=0.20 yaitu p>0.05, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sebaran residu adalah normal. Dari gambar 3 terlihat bahwa rerata residu adalah 0

bahwa nilai minimum – 2,430 dan nilai maksimum adalah 2,602, dan simpangan bakunya adalah 0.98 oleh karena itu syarat tidak ada outlier juga terpenuhi yaitu nilai rentang didalam -3 sampai 3 simpangan baku. Selain itu dari terlihat bahwa nilai Durbin-Watson pada gambar 2 model summary adalah 1,842 sehingga syarat independen dari residu terpenuhi, yaitu di sekitar angka 2. Dari data SPSS III.2.6.

juga terlihat bahwa grafik scatter antara residu dengan variabel bebas adalah konstan yaitu tidak membentuk pola tertentu.36

Tabel.4.6 Statistik residu skor depresi

Residuals Statisticsa

Minimum Maximum Mean Std. Deviation N

Predicted Value 3,47 18,07 10,89 4,159 98

Residual -5,954 6,374 ,000 2,412 98

Std. Predicted Value -1,784 1,726 ,000 1,000 98

Std. Residual -2,430 2,602 ,000 ,984 98

a. Dependent Variable: Skor HADS-D

Untuk syarat dari variabel tergantung (skor depresi) telah memenuhi syarat dilakukan uji regresi linier yakni berdistrubusi normal. Dan pada studi ini telah memenuhi syarat tersebut dengan p=0,051 dengan uji Kolmogorov-Smirnov.

Hubungan variabel bebas dengan variabel tergantung juga dengan kesan linier sehingga syarat ini juga telah terpenuhi. Pada gambar 3 terlihat bahwa model yang mempunyai nilai koefisien determinasi yang terbaik yaitu model 4 sebesar 74%.

Pada SPSS III.2.3. model 4 menunjukkan tidak ada nilai tolerance <0,4, sehingga syarat tidak adanya autokorelasi atau multikolineariti sudah terpenuhi.36

Ketika melakukan uji multivariat regresi linier dengan kerangka konsep prediktif disarankan untuk menggunakan metode backward, dimana artinya program SPSS akan menyaring data dari variabel bebas yang mempunyai

autokorelasi serta tidak bermakna secara statistik sampai ditemukan model yang paling sesuai secara statistik. Sebelumnya pada data SPSS III.2.2 terlihat bahwa nilai Anova<0,01, yang artinya setidaknya terdapat 1 variabel bebas yang signifikan secara statistik. Oleh karena itu kita kemudian dapat melanjutkan untuk melihat model summary dengan satu koefisien determinasi yang terbaik.36

Tabel 4.7. Resume analisis regresi linier faktor-faktor yang berhubungan dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal disease yang menjalni hemodialisis.

Multivariat kedua

Model Didapatkan model yang terdiri dari skor kualitas tidur, lama dialisis, jenis kelamin.

Model ini diperoleh setelah semua variabel dikeluarkan secara bertahap dengan metode backward

Pengujian asumsi Linearitas : terpenuhi Normalitas : terpenuhi

Rerata residu nol : terpenuhi Residu tidak ada outlier : terpenuhi

Residu konstan : terpenuhi

Independen : terpenuhi

Tidak ada multikolineariti : terpenuhi

Scatter memberikan kesan linier

Grafik histogram dan plot memberikan kesan normal (lampiran)

Rerata = 0

Rentang nilai residu didalam -3 s.d. 3 simpang baku

Grafik tidak membentuk pola tertentu (lampiran) untuk menjelaskan hubungan dengan skor depresi sebesar 74 %

Koefisien korelasi Skor kualitas tidur = 0,37

Dengan melakukan analisis metode backward, diperoleh persamaan regresi linier berdasarkan tabel 4, Skor Depresi = 9,72 + 0,39 * skor kualitas tidur – 0,07 * lama dialisis + 1,18 * jenis kelamin. Semua asumsi regresi linier seperti linearitas, normalitas, residu nol, residu tidak ada outlier, independent, konstan (homoscedastisity) telah terpenuhi.36

Tabel 4.8. Analisis multivariat antara faktor-faktor yang berhubungan dengan skor depresi pada orang dengan End stage renal disease yang menjalani hemodialisis.

Tabel 4.5. disajikan untuk menjawab hipotesis tentang skor depresi. Oleh karena itu dari hasil tabel tersebut dapat disimpulkan bahwasanya variabel skor kualitas tidur, lama dialisis dan jenis kelamin pada orang dengan end stage renal disease yang menjalani hemodialisis (p<0,05).36

BAB V PEMBAHASAN

V.1. Prosedur Penelitian

Studi ini merupakan studi analitik observasional. Berdasarkan jumlah variabel bebas studi ini merupakan studi multivariat karena variabel bebas pada studi ini lebih dari satu. Berdasarkan segi waktu penelitian ini merupakan potong lintang. Diagnosis penelitian untuk pertanyaan utama pada studi ini adalah regresi linier dengan kerangkan konsep prediktif karena studi ini berusaha untuk mencari hubungan dari beberapa faktor variabel bebas terhadap variabel tergantung, serta variabel tergantung pada studi ini berskala numerik yaitu skor depresi.34

Studi ini dilaksanakan di Rumah sakit umum dr. Pirngadi Medan bulan Mei – Juli 2020, dimana subjek dari studi ini adalah sebanyak 98 subjek orang dengan end stage renal disease yang menjalani hemodialisis di Rumah sakit umum dr. Pirngadi Medan selama bulan bulan Mei sampai dengan Juli 2020.

Penentuan besar sampel dari subjek penelitian ditentukan berdasarkan studi pendahuluan.

Oleh karena tidak tersedianya sampling frame pada studi ini, maka cara pengambilan sampel dengan cara probability sampling tidak memungkinkan untuk dilakukan, oleh karena itu cara pengambilan sampel pada penelitian ini berdasarkan cara non probability sampling yaitu consecutive sampling yang dianggap sama baiknya dengan probability sampling. Dimana setiap subjek penelitian yang datang secara berurutan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta bersedia untuk ikut dalam penelitian akan diberikan informed

consent dan kemudian akan dimasukkan ke dalam studi ini. Pada penelitian ini berhasil mengendalikan variabel perancu dengan baik melalui cara retriksi. Pada penelitian ini uji statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 23.34

Studi ini berhasil menjawab semua hipotesis penelitian. Adapun hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, lama pendidikan, jumlah penghasilan keluarga perbulan, status pekerjaan, status pernikahan, lama sakit, jumlah komorbiditas dengan penyakit kronis lainnya, skor kualitas tidur, riwayat depresi sebelumnya, pada orang dengan end stage renal disease yang menjalani hemodialisis.

V.2. Skor Depresi

Varibel bebas pada studi multivariat ini yang memenuhi syarat untuk dimasukkan ke dalam analisis multivariat regresi linier dengan kerangka konsep prediktif adalah variabel jenis kelamin, status pekerjaan, suku, usia, jumlah penghasilan keluarga perbulan, lama dialisis, skor kualitas tidur, karena variabel ini memiliki nilai p<0,25. Selanjutnya semua variable tersebut diikutsertakan kedalam uji multivariat dengan menggunakan metode backward untuk analisis, yang artinya akan dicari suatu model yang mempunyai koefisien determinasi yang tertinggi. Pada analisis multivariat ini dilakukan dua kali analisis multivariat, karena sudah tercapai suatu model yang fit, variabel bebas yang tersisa sudah menunjukkan nilai yang bermakna dengan nilai p<0,05, yang ditunjukkan pada model 4.36

Hasil dari studi terlihat bahwa variabel skor kualitas tidur, lama dialisis dan jenis kelamin berhubungan dengan skor depresi pada orang dengan end stage

renal disease yang menjalani hemodialisis. Pada Hasil penelitian diapatkan skor kualitas tidur memiliki koefisien korelasi positif terhadap skor depresi yang berarti semakin tinggi skor kualitas tidur pada orang dengan end stage renal disease yang menjalani hemodialisis berhubungan dengan skor depresi yang lebih tinggi. Lama dialisis memiliki koefisein korelasi negatif terhadap skor depresi yang berarti semakin rendah lama dialisis berhubungan dengan skor depresi yang lebih tinggi. Selain itu variabel jenis kelamin yaitu perempuan dibandingkan laki-laki memiliki koefisien korelasi positif yang berarti perempuan berhubungan dengan skor depresi yang lebih tinggi.

Hasil studi ini sesuai dengan hipotesis 2,7 dan 9 diamana terdapat hubungan anatar variabel jenis kelamin, lama dialisis, dan skor kualitas tidur dengan skor depresi.

V.3. Biological Plausibility

Secara umum perempuan dengan end stage renal disease yang menjalani hemodialisis berhubungan dengan skor depresi yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan wanita lebih sering menggunakan mekanisme koping maladaptif yang berdampak pada kualitas hidup yang buruk. Disamping itu kewajiban seorang perempuan menjalani beberapa peran sosialnya seperti perannya sebagai seorang ibu, seorang istri, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan bahkan ikut membantu ekonomi keluarga juga mempengaruhi tingkat depresi pada wanita dengan end stage renal disease. Faktor biologi seperti hormonal juga ikut berperan dalam mekanisme terjadinya depresi pada pada wanita dengan end stage renal disease. Dimana pada wanita dengan end stage renal disease terjadi

gangguan pada produksi Gonadotropin- releasing hormone (GnRH) yang menghasillkan profil hormon seks yang abnormal yang mengarah pada tingkat estradiol yang rendah mengakibatkan gangguan menstruasi, gangguan kesuburan, penurunan libido, dan perubahan suasana perasaan.20,38-40

Lama dialisis juga dianggap sebagai salah satu faktor yang berkontribusi untuk terjadinya depresi. Salah satu periode paling kritis dalam kehidupan pasien end stage renal disease adalah awal dari dialisis Selama periode ini, pasien menjadi tergantung pada teknologi medis, yang dapat memiliki konsekuensi patofisiologis dan psikologis yang kritis.26 Ada beberapa sumber stres yang terjadi pada awal dialisis terkait dengan berkurangnya fungsi ginjal, ketergantungan pada rezimen pengobatan, ketergantungan pada dialisis, perubahan dalam peran keluarga, pembatasan diet, dan ketakutan akan kematian.41

Keluhan tidur sangat umum di antara pasien dengan end stage renal disease seperti sleep apnea syndrome, restless legs syndrome, dan periodic limb movement disorder yang disebabkan oleh dialisis, pengaruh obat-obatan yang digunakan, kelainan metabolik, malnutrisi, kelelahan, kram otot, neuropati perifer, dan masalah emosional, semua umum pada pasien ESRD. Kualitas tidur yang buruk pada end stage renal disease berhubungan dengan kejadian depresi.32

Pada studi ini terlihat bahwasanya variabel jenis kelamin, lama dialisis dan skor kualitas tidur berhubungan dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal disease yang menjalani hemodialisis. Hasil tersebut didapati melalui analisis multivariat sehingga terlihat apa saja faktor yang berhubungan dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal disease yang menjalani hemodialisis.

Oleh karena itu variabel-variabel yang berhubungan dengan skor depresi patut dipertimbangkan sebagai suatu psikopatologi pada orang dengan dengan end stage renal disease yang menjalani hemodialisis. Hemodialisis merupakan suatu kondisi yang secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup dan kelangsungan hidup dengan efek negatif pada fisiologik dan psikologik, sehingga menyebebakan kedaan stress. Kortisol dikenal luas sebagai hormon stres yang diproduksi oleh kelenjar adrenal tubuh manusia. Ketika tubuh sedang stres, kelenjar adrenal meningkatkan sekresi kortisol. Dalam jangka pendek, hormon ini dapat membantu bertahan hidup, misalnya dengan memobilisasi cadangan energi. Namun, peningkatan kortisol jangka panjang dapat memiliki efek yang merugikan. Paparan yang berkepanjangan dari kortisol pada akhirnya akan mencetuskan kerusakan sistem saraf pusat dan mengakibatkan terjadinya keadaan depresi.38 Selain itu juga terdapat hubungan dua arah antara sel peradangan dan depresi pada end stage renal disease dimana terjadi peningkatan yang signifikan dalam tingkat sirkulasi sitokin proinflamasi, khususnya IL-6 pada pasien depresi dengan end stage renal disease.19

V.4. Persamaan dan Perbedaan Hasil Penelitian V.4.1. Usia

Pada studi ini rerata ± s.b. dari usia adalah 49,67 ± 14,54. Setelah dilakukan analisis multivariat tidak terdapat hubungan antara usia dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,449). Hal ini sejalan dengan studi Kwan dkk pada tahun 2019 di Australia juga menemukan tidak terdapat hubungan antara usia dengan skor depresi pada

orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,571).42 Begitu juga dengan studi Liu dan dkk pada tahun 2017 di China menemukan tidak terdapat hubungan antara usia dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,804).9 Namun pada studi Mosleh dkk pada tahun 2020 di Saudi Arabia menemukan hubungan antara usia dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,003).11

V.4.2. Jenis Kelamin

Pada studi ini untuk jenis kelamin orang dengan end stage renal disease yang menajalani hemodialisis yang terbanyak adalah laki-laki 52% dan perempuan 48%. Pada studi ini setelah dilakukan analisis multivariat jenis kelamin perempuan dibandingkan laki-laki didapati terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal disease yang menjalani (r=0,123, p=0,032). Hal ini sejalan dengan studi oleh Araujo dkk pada tahun 2011 di Brazil, pada studi ini didapati hubungan jenis kelamin dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,004).6 Pada Studi Chan dkk pada tahun 2017 di New York pada studi ini juga didapati hubungan yang sangat signifikan antara jenis kelamin dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p<0,001).43 Namun pada Studi Liu dkk pada tahun 2017 di china menemukan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan skor depresi pada orang end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,297).9 Begitu juga pada studi Kwan dkk pada tahun 2019 di Autralia juga

menemukan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,069).42

V.4.3.Status Pernikahan

Pada studi ini untuk status pernikahan pada orang dengan end stage renal disease yang menajalani hemodialisis yang terbanyak adalah menikah 65% dan tidak menikah 33%. Pada analisis bivariat didapati tidak terdapat hubungan antara status pernikahan dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,315) sehingga syarat untuk dilakukan analisis multivariat tidak terpenuhi karena p>0,25. Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Khan dkk pada tahun 2019 di Malaysia didapati tidak terdapat hubungan antara status pernikahan dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,629).44 Pada studi Liu dan dkk pada tahun 2017 di China juga menemukan tidak terdapat hubungan antara status pernikahan dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,820).9 Namun pada studi Aness dkk pada tahun 2008 di Pakistan menemukan hubungan antara status pernikahan dengan depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p<0,001).7

V.4.4. Lama Pendidikan

Pada studi ini median (minimal-maksimal) dari lama pendidikan adalah 12 (4-20) tahun. Pada analisis bivariat didapati tidak terdapat hubungan antara lama

pendidikan dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,272) sehingga syarat untuk dilakukan analisis multivariat tidak terpenuhi karena p>0,25. Hal ini sejalan dengan studi Liu dkk pada tahun 2017 yang menemukan tidak terdapat hubungan antara status pendidikan dengan depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,922).9 Begitu juga dengan studi oleh Kwan dkk pada tahun 2019 di Australia juga menemukan tidak terdapat hubungan antara status pendidikan dengan depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,207).42 Namun pada studi Araujo dkk pada tahun 2011 di Brazil menemukan hubungan antara lama pendidikan dengan skor depresi orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p<0,030).6

V.4.5. Status Pekerjaan

Pada studi ini untuk status pekerjaan pada orang dengan end stage renal disease yang menajalani hemodialisis yang terbanyak adalah tidak bekerja 66,3%

dan bekerja 33,7%. Setelah dilakukan analisis mutivariat didapati tidak terdapat hubungan antara status pekerjaan dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal disease yang menjalani hemodialisis (p=0,610). Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Khan dkk pada tahun 2019 di Malaysia didapati tidak terdapat hubungan antara status pekerjaan dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,779).44 Begitu juga

dan bekerja 33,7%. Setelah dilakukan analisis mutivariat didapati tidak terdapat hubungan antara status pekerjaan dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal disease yang menjalani hemodialisis (p=0,610). Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Khan dkk pada tahun 2019 di Malaysia didapati tidak terdapat hubungan antara status pekerjaan dengan skor depresi pada orang dengan end stage renal diasese yang menjalani hemodialisis (p=0,779).44 Begitu juga

Dokumen terkait