• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 KARAKTERISTIK DAN KERAGAMAN TAPAK, BENIH DAN BIBIT 11 POPULASI JABON

4 PARAMETER GENETIK PERTUMBUHAN AWAL UJI PROVENANCE-KETURUNAN JABON

4.2 Bahan dan Metode

4.2.2 Persiapan bibit dan rancangan penelitian

Benih jabon diekstrak secara terpisah per pohon induk dengan metode ekstraksi basah. Setiap benih dari tiap pohon induk diberi label sehingga tidak tercampur. Penaburan benih dilakukan di rumah kaca SEAMEO BIOTROP, Bogor. Benih ditabur pada bak plastik berisi media campuran pasir, kompos dan arang sekam (5:3:1 v/v/v). Penaburan benih dilakukan per pohon induk dengan mencampurkan benih dengan pasir halus (1:10 v/v) sehingga benih dapat menyebar secara merata pada permukaan media. Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan menggunakan sprayer. Setelah semai berukuran tinggi 2-3 cm, semai tersebut disapih ke polibag berukuran diameter 10 cm dan tinggi 15 cm. Media sapih yang digunakan adalah campuran top soil, kompos dan arang sekam (2:1:1 v/v/v). Penanaman dilakukan setelah bibit berumur 4 bulan.

Uji provenansi-keturunan dibangun di dua lokasi di Jawa Barat, yaitu Hutan Penelitian Parungpanjang, Bogor dan Limbangan, Garut. Informasi karakteristik tapak uji tersebut disajikan pada Tabel 4.2. Desain penanaman menggunakan rancangan acak lengkap blok (randomized complete block design,

RCBD) dengan 4 tree-row plots dan jarak tanam 3 m x 3 m. Peta tanaman di kedua lokasi tersebut disajikan pada Lampiran 2 dan 3. Ukuran lubang tanam adalah 40 cm x 40 cm x 40 cm dengan penambahan 3 kg pupuk kandang sebelum penanaman sebagai pupuk dasar. Karakteristik pertumbuhan yang dikaji adalah persen hidup, tinggi total dan diamater pangkal batang (collar diameter) bibit jabon pada umur 12 bulan.

Tabel 4.2 Karakteristik tapak uji provenansi-keturunan jabon

Karakteristik Limbangan, Garut Parungpanjang, Bogor Letak geografis 07°02‟ LS, 108°00‟ BT 0620‟ LS, 10606‟BT Ketinggian tempat (m dpl) 520 52 Curah hutan (mm/tahun) 2580 2440 Suhu rata-rata 27 28 pH tanah 5.1 4.8

Drainase Sedang, tidak terjadi genangan air

Sedang, meskipun terjadi genangan air yang diamati pada saat hujan deras

Keterangan lain Tanah desa dengan kemiringan 5-15%, terdapat gangguan ternak, tanaman pertanian yang tidak teratur pada beberapa areal uji coba.

Area merupakan kawasan khusus untuk penelitian, relatif datar, pertumbuhan gulma sangat cepat setelah perbersihan lahan

Gambar 4.1 Proses pembangunan uji provenansi-keturunan: (a) bibit siap tanam di persemaian, (b) pengangkutan bibit di lapangan, (c) penanaman dan (d) tanaman umur 1 tahun di Parungpanjang, Bogor

4.2.3 Analisis data

Sebelum analisis, data diuji distribusi normal dan homogenitasnya. Data pencilan dihilangkan dan bila data tersebut mempunyai sebaran tidak normal, maka data tersebut ditransformasikan dengan arcsine √x. Analisis ragam untuk setiap parameter mengikuti model statistik sebagai berikut :

Yijkl = μ + Ri + Pj + F(P)k(j) + RPij + RF(P)ik (j) + El(ijk)

dimana: Yijkl adalah nilai fenotipe individu ke-l famili ke-k provenansi ke-j dalam blok (ulangan) ke-i; μ = nilai rata-rata umum; Ri adalah pengaruh acak dari blok ke-i; Pj adalah pengaruh acak dari provenansi ke-j; F(P)k(j) adalah pengaruh acak famili ke-k dalam provenansi ke-j; RPij adalah pengaruh interaksi antara blok ke-i dan provenansi ke-j; RF(P)ik(j) adalah interaksi antara blok ke-i dan famili ke-k di dalam provenansi ke-j; Eijkl adalah pengaruh acak individu ke-l famili ke-k provenansi ke-j dalam blok ke-i; i= 1, …, b (b adalah jumlah blok); j

= 1,….,p (p adalah jumlah provenansi); k = 1,….,f (f adalah jumlah famili); l =

1,…, n (n adalah jumlah pohon per famili).

Heritabilitas diduga dari komponen ragam (Falconer dan Mackay 1996). Heritabilitas rata-rata individu dan famili untuk setiap karakter diukur menggunakan rumus-rumus sebagai berikut:

2

=

2�2 �2

=

4�2 ( ) �2

;

2

=

�2 ( ) �2

dimana 2 = heritabilitas individu, �2 = ragam genetik aditif, 4�2 ( )= komponen ragam antar famili di dalam provenansi, �2 = ragam fenotipe yang dihitung sebagai, �2 = �2 ( ) + �2 ( ) + �2 , dimana �2 ( )= ragam yang disebabkan oleh interaksi antara blok dan famili di dalam provenansi (experimental error), �2 = ragam antar individu dalam famili (sampling error),

2 = heritabilitas famili, 2 = ragam fenotipe famili yang dihitung sebagai �2 = 2 ( ) + (k2/k3)2 ( ) + (1/k3) 2 , dimana k2 dan k3 adalah

koefisien untuk �2 ( ) dan �2 dalam kuadrat tengah yang diharapkan. Korelasi fenotipik ( ) dan korelasi genetik ( ( )) diduga dari

komponen ragam dan kovarian-nya (Falconer 1981) yang disubstitusi ke dalam rumus standar untuk koefisien korelasi moment product:

( ) = ( ) �2 �2 ( ) ; ( ) = ( , ) �2 ( ) �2 ( )

Dimana x = tinggi tanaman, y = diameter tanaman, �2 ( ) dan �2 ( )= komponen ragam fenotipe dan genetik (famili dalam provenansi) untuk karakter x,

�2

( ) dan �2 ( )= komponen ragam fenotipe dan genetik (famili di dalam

provenansi) untuk karakter y, ( ) dan ( , )= komponen kovarian fenotipe dan genetik (famili di dalam provenansi) di antara karakter x dan y.

Untuk mendapatkan besarnya komponen kovarians dua sifat x dan y

menggunakan rumus (O‟neill et al. 2001):

( , ) = 0.5 (�2 + − �2 − �2 )

dimana �2 + = komponen ragam sifat x dan y, �2 = komponen ragam famili sifat x, �2 = komponen ragam famili sifat y.

4.3Hasil dan Pembahasan 4.3.1 Hasil

Analisis ragam menunjukkan perbedaan nyata dan sangat nyata antar provenansi dan antar famili di dalam provenansi untuk tinggi dan diameter jabon umur 12 bulan di kedua lokasi, kecuali diameter yang menunjukkan tidak berbeda nyata antar provenansi pada tapak di Parungpanjang (Tabel 4.3). Pada tapak Limbangan, provenansi Kuala Kencana memberikan pertumbuhan tinggi terbaik yang diikuti oleh provenansi Garut, Pomalaa, Gowa dan Nusa Kambangan. Parameter diameter terbesar ditunjukkan oleh provenansi Garut yang diikuti oleh provenansi Kuala Kencana, Gowa, Rimbo Panti dan Nusa Kambangan. Persentase hidup tanaman terbaik dihasilkan oleh provenansi Kuala Kencana dan diikuti oleh provenansi Kampar, Pomalaa, Rimbo Panti dan Garut (Tabel 4.4). Pada tapak Parungpanjang, pertumbuhan tinggi terbaik dicatat oleh provenansi Garut, yang diikuti oleh provenansi Alas Purwo, Nusa Kambangan, Kuala Kencana dan Batu Hijau. Untuk diameter, provenansi Batu Hijau menunjukkan pertumbuhan terbaik, kemudian diikuti provenansi Pomalaa, Gowa dan Alas Purwo. Provenansi Pomalaa memberikan persentase hidup terbaik (78.9%). Sebagian besar provenansi memberikan persen hidup di atas 70%, kecuali provenansi Alas Purwo dan Batu Licin (Tabel 4.4).

Tabel 4.3 Kuadrat tengah tinggi total dan diameter pangkal batang pada uji provenansi-keturunan jabon umur 12 bulan di dua lokasi di Jawa Barat Sumber keragaman Derajat bebas Kudrat tengah

Limbangan, Garut Parungpanjang, Bogor Height (m) Diameter (cm) Height (m) Diameter (cm) R 4 61.2811 ** 221.6937 ** 8.6047 ** 35.4998 ** P 11 3.8580 ** 16.9337 ** 0.8338 * 1.6748 ns F(P) 93 2.1650 ** 8.0516 ** 0.8649 ** 3.4283 ** R*P 44 1.8595 ** 6.2086 * 1.1961 ** 4.7583 ** R*F(P) 359 1.9735 ** 7.4983 ** 1.0533 ** 3.8979 ** E 1044 0.7400 3.3535 0.4136 1.6816

Keterangan: R = blok (ulangan), P = provenansi, F(P) = famili di dalam provenansi, R*P = interaksi blok dengan provenansi, R*F(P) = Interaksi blok dengan famili di dalam provenansi, E = galat/sisa, ** = berpengaruh nyata pada P < 0.01, * = berpengaruh nyata pada P < 0.05, ns = tidak berpengaruh nyata.

Tabel 4.4 Tinggi total, diameter pangkal batang dan persentase hidup provenansi jabon umur 12 bulan di dua lokasi di Jawa Barat (nomor di dalam kurung menunjukkan rangking)

Provenansi Limbangan, Garut Parungpanjang, Bogor

Tinggi (m) Diameter (cm) Persen hidup (%) Tinggi (m) Diameter (cm) Persen hidup (%) SRP 2.34 (8) 4.78 (4) 62.5 (4) 1.97 (12) 4.06 (7) 77.5 (2) SKR 2.14 (11) 3.92 (11) 63.9 (2) 2.08 (8) 3.93 (10) 75.0 (6) SOK 2.46 (6) 4.45 (8) 58.6 (8) 2.04 (11) 3.94 (9) 70.9 (9) JGS 2.67 (2) 5.35 (1) 61.9 (5) 2.31 (1) 4.11 (5) 71.9 (8) JNK 2.47 (5) 4.68 (5) 50.7 (11) 2.26 (3) 4.09 (6) 70.7 (10) JAP 2.17 (9) 4.08 (10) 53.2 (10) 2.28 (2) 4.13 (4) 68.2 (11) KBL 2.17 (10) 4.27 (9) 58.8 (7) 2.12 (6) 3.78 (12) 57.5 (12) KKT 1.89 (12) 3.35 (12) 60.2 (6) 2.05 (10) 3.86 (11) 73.8 (7) CPG 2.57 (4) 4.87 (3) 63.7 (3) 2.06 (9) 4.14 (3) 76.4 (3) CPK 2.58 (3) 4.56 (6) 47.5 (12) 2.11 (7) 4.17 (2) 78.9 (1) NBH 2.42 (7) 4.49 (7) 53.8 (9) 2.21 (5) 4.19 (1) 76.3 (4) PKK 2.73 (1) 5.15 (2) 75.0 (1) 2.25 (4) 4.00 (8) 75.0 (5) Kisaran famili 1.40-4.81 2.10-7.03 35-90 1.38-2.97 2.50-5.56 40-100 Rata-rata 2.42 4.49 59.1 2.14 4.08 72.7 CV (%) 35.50 40.76 30.06 31.76

Keterangan: Lihat Tabel 4.1 untuk keterangan provenansi

Perbedaan tinggi dan diameter jabon di kedua lokasi ditemukan lebih besar antar famili daripada antar provenansi dan sebagian besar provenansi masuk dalam daftar 10 famili terbaik untuk pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman uji provenansi-keturunan (Tabel 4.5).

Komponen ragam yang menujukkan keragaman provenansi berkisar antara 0.5% untuk tinggi di tapak Parungpanjang hingga 1.7% untuk diameter di tapak Limbangan Garut. Di lain pihak, komponen ragam antar famili di dalam provenansi lebih rendah daripada komponen ragam antar provenansi yang berkisar dari 0.4% hingga 0.6% di kedua tapak (Tabel 4.6).

Tabel 4.5 Sepuluh famili terbaik berdasarkan parameter tinggi dan diameter (di dalam kurung) pada uji provenansi-keturunan jabon umur 12 bulan di dua lokasi di Jawa Barat

Limbangan, Garut Parungpanjang, Bogor Rangking Nama famili

(tinggi, m) Nama famili (diameter, cm) Nama famili (tinggi, m) Nama famili (diameter, cm) 1 CPK-4 (4.81) CPK-4 (7.03) JAP-11(2.97) CPG-11 (5.56) 2 JGS-25 (3.38) CPG-16 (6.40) JAP-14 (2.89) JAP-14 (5.28) 3 JGS-4 (3.33) CPG-14 (6.32) JAP-1 (2.83) CPK-3 (5.23) 4 SOK-12 (3.30) JGS-4 (6.30) KBL-3 (2.77) SKR-3 (5.09) 5 CPK-22 (3.25) JNK-1 (6.01) NBH-6 (2.73) JAP-1 (5.08) 6 CPG-12 (3.17) JGS-25 (5.96) SKR-3 (2.70) CPK-10 (5.05) 7 NBH-8 (3.05) CPK-22 (5.88) CPG-11 (2.65) SRP-1 (5.02) 8 CPG-16 (3.05) JAP-13 (5.78) CPK-13 (2.53) CPK-13 (4.98) 9 JNK-1 (3.03) CPK-24 (5.72) NBH-4 (2.53) JAP-11 (4.97) 10 CPK-24 (3.01) NBH-8 (5.68) JNK-4 (2.52) NBH-6 (4.81)

Tabel 4.6 Komponen keragaman total dan kontribusi relatif (angka di dalam kurung) sumber keragaman terhadap keragaman total pertumbuhan awal uji provenansi-keturunan jabon umur 12 bulan di dua lokasi di Jawa Barat

Komponen ragam

Limbangan, Garut Parungpanjang, Bogor Tinggi (m) Diameter (cm) Tinggi (m) Diameter (cm) σ2 R 0.49330 (28.0%) 1.54578 (22.9%) 0.06746 (9.1%) 0.27601 (9.5%) σ2 P 0.02681 (1.5%) 0.11501 (1.7%) 0.00377 (0.5%) 0.04134 (1.4%) σ2 RP 0.00465 (0.3%) 0.04640 (0.7%) 0.01546 (2.1%) 0.07356 (2.5%) σ2 F(P) 0.01045 (0.6%) 0.03875 (0.6%) 0.00359 (0.5%) 0.01216 (0.4%) σ2 RF(P) 0.48827 (27.7%) 1.64063 (24.3%) 0.23901 (32.2%) 0.82821 (28.4%) σ2 e 0.74002 (42.0%) 3.35359 (49.8%) 0.41369 (55.7%) 1.68163 (57.7%)

Keterangan: σ2R= komponen ragam blok (ulangan), σ2P = komponen ragam provenansi, σ2RP =

komponen ragam interaksi ulangan/blok dengan provenansi, σ2

F(P)= komponen ragam famili di dalam provenansi, σ2RF(P) = komponen ragam interaksi ulangan dengan famili di dalam provenansi, σ2

e= komponen ragam individu di dalam famili/error.

Korelasi fenotipik dan genetik antar tinggi dan diameter tanaman jabon di Parungpanjang lebih tinggi daripada korelasi fenotipik dan genetik di Limbangan. Korelasi fenotipik memberikan nilai yangn lebih besar daripada korelasi genetik antara parameter tinggi dan diameter jabon (Tabel 4.7). Heritabilitas individu dan famili untuk karakter tinggi dan diameter jabon di Limbangan menunjukkan nilai yang rendah (berkisar dari 0.031 hingga 0.055), sedangkan di Parungpanjang, nilai heritabilitas tersebut mempunyai nilai sedang dan berkisar dari 0.093 hingga 0.178. Nilai heritabilitas famili ditemukan lebih besar dibandingkan heritabilitas individu (Tabel 4.8).

Tabel 4.7 Koefisien korelasi genetik (diagonal atas) dan fenotipik (diagonal bawah) antar parameter pada uji provenansi-keturunan jabon umur 12 bulan di dua lokasi di Jawa Barat

Limbangan, Garut Parungpanjang, Bogor

Tinggi Diameter Tinggi Diameter

Tinggi 0.29 0.56

Diameter 0.799** 0.885**

Keterangan: **=berkorelasi nyata pada P<0.01.

Tabel 4.8 Pendugaan heritabilitas individu dan famili pertumbuhan awal uji provenansi-keturunan jabon umur 12 bulan di dua lokasi di Jawa Barat

Limbangan, Garut Parungpanjang, Bogor Tinggi Diameter Tinggi Diameter Heritabilitas individu - 2 0.034 0.031 0.093 0.114

Heritabilitas - 2 0.055 0.054 0.150 0.178

Keterangan: Kategori nilai heritabilitas berdasarkan Cotterill dan Dean (1990): heritability <0.1 = rendah, 0.1-0.3 = sedang, dan >0.3 = tinggi

2 Pembahasan

Perbedaan nyata antar provenansi dan antar famili di dalam provenansi memberi indikasi bahwa kedua demplot uji provenansi-keturunan tersebut mempunyai potensi untuk seleksi. Kisaran keragaman famili dengan mengabaikan provenansi memberikan keragaman yang luas yang dapat dilihat juga dari nilai koefisien keragamannya. Pada tapak uji Limbangan, provenansi Kuala Kencana menunjukkan pertumbuhan tinggi terbaik dan memberikan pertumbuhan 44% lebih tinggi dari provenansi dengan pertumbuhan paling rendah (Kapuas), sedangkan untuk diameter, provenansi Garut menghasilkan pertumbuhan lebih tinggi 59% dari provenansi dengan pertumbuhan diameter terendah (Kapuas). Pada tapak uji Parungpanjang, provenansi Garut Selatan mempunyai pertumbuhan tinggi terbaik dengan 17% lebih tinggi dari provenansi dengan tinggi terendah (Batu Licin), sedangkan untuk diameter, perbedaan rata-rata diameter tidak berbeda nyata secara statistik dan provenansi terbaik (Batu Hijau) hanya 10% lebih baik dari provenansi dengan diameter terendah (Batu Licin).

Pada tingkat famili, famili-famili dari Pomalaa dan Garut mendominasi peringkat 3 besar di tapak uji Limbangan, sedangkan di tapak uji Parungpanjang, famili-famili dari Alas Purwo mendominasi peringkat 3 besar pertumbuhan terbaik. Ketinggian tempat asal populasi Pomalaa dan Garut yang relatif lebih tinggi dengan ketinggian tempat asal populasi lainnya diduga mampu memberikan adaptasi yang lebih cepat untuk tumbuh lebih baik di lokasi uji Limbangan, sedangkan di Parungpanjang, kondisi biofisik Alas Purwo memiliki karakteristik yang mirip dengan Parungpanjang sehingga famili-famili tersebut lebih mudah beradaptasi pada tahap awal pertumbuhannya.

Pertumbuhan tinggi dan diameter jabon menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik di tapak uji Limbangan daripada pertumbuhan di tapak uji Parungpanjang. Pertumbuhan tanaman di Parungpanjang dipengaruhi oleh pertumbuhan gulma yang cepat yang menyebabkan tekanan dan kompetisi yang diduga menyebabkan pertumbuhan yang lebih lambat pada tapak tersebut. Di lain pihak, persentase hidup di Limbangan berkurang oleh gangguan hewan ternak dan tanaman pertanian yang tidak teratur pada beberapa bagian areal yang menutupi tanaman jabon pada awal pertumbuhannya. Secara umum, pertumbuhan di kedua tapak uji ini relatif sedikit lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan uji keturunan jabon dengan materi genetik berbeda di Wonogiri, Jawa Tengah (Setyadi et al. 2013).

Perbedaan pertumbuhan di tapak uji Limbangan dan Parungpanjang menunjukkan nilai yang lebih besar pada tingkat famili dibandingkan dengan pada tingkat provenansi. Famili dengan pertumbuhan terbaik di tapak uji Limbangan melebihi famili dengan tingkat pertumbuhan terendah sebesar 243% untuk tinggi dan 234% untuk diameter, sedangkan di tapak uji Parungpanjang, famili terbaik memberikan keunggulan dibandingkan famili terjelek sebesar 57% untuk tinggi dan 122% untuk diameter. Hasil ini menunjukkan potensi penerapan seleksi pada kedua uji provenansi-keturunan tersebut.

Komponen ragam antar famili di dalam provenansi lebih rendah daripada komponen ragam antar provenansi yang memberi indikasi bahwa provenansi- provenansi tersebut terisolasi atau aliran gen (gen flow) tidak mencukupi untuk menutupi pengaruh seleksi dan/atau penghanyutan genetik (genetic drift). Studi

berdasarkan lokus-lokus AFLP yang menggunakan 4 populasi dari Kampar, Nusa Kambangan, Kapuas dan Pomalaa juga mendeteksi perbedaan genetik antar provenansi yang cukup tinggi (Gst=0.27) (BAB 3). Keragaman genetik yang luas antar provenansi daripada antar famili di dalam provenansi juga diamati dalam uji provenansi-keturunan yang dilaporkan Zheng et al. (1994) pada Pinus caribaea di China, Baliuckas et al. (1999) pada Acer platanoides di Swedia dan Sebbenn et al. (2003) pada Araucaria angustifolia di Brazil.

Korelasi fenotipik dan genetik antar tinggi dan diameter tanaman jabon di Parungpanjang lebih tinggi daripada korelasi fenotipik dan genetik di Limbangan yang memberi indikasi kemungkinan menggunakan salah satu parameter lebih efisien diterapkan di Parungpanjang. Korelasi fenotipik memberikan nilai yang lebih besar daripada korelasi genetik menunjukkan penerapan kriteria seleksi lebih efektif dengan mengkombinasikan kedua parameter (tinggi dan diameter).

Nilai heritabilitas berubah dengan berubahnya tapak pada genotif yang sama. Pada penelitian ini nilai heritabilitas dikategorikan rendah hingga sedang. Hasil penelitian Setyadi (2013) melaporkan nilai heritabilitas famili yang lebih tinggi pada jabon umur 2 tahun, yaitu 0.32 untuk tinggi tanaman dan 0.38 untuk diameter tanaman. Nilai heritabilitas yang rendah pada penelitian ini diduga karena tanaman masih sangat muda sehingga sifat-sifat yang dipengaruhi genetiknya belum terekspresikan secara baik. Sebagai contoh, nilai heritabilitas famili umur 6 bulan di tapak Parungpanjang pada penelitian ini menunjukkan nilai yang lebih rendah (0.093 untuk tinggi dan 0.066 untuk diameter) daripada nilai heritabilitas pada umur 12 bulan (0.150 untuk tinggi dan 0.178 untuk diameter). Kecenderungan peningkatan heritabilitas sejalan bertambah dewasanya tanaman dilaporkan juga pada jenis Eucalyptus grandis (Osorio et al. 2001; Gapare et al. 2003), Pinus banksiana (Weng et al. 2006) dan E. urophylla (Kien et al. 2009).

Nilai heritabilitas yang meningkat sejalan dengan umur tanaman diduga disebabkan dari pengaruh kompetisi yang terjadi pada umur lebih tinggi pada tegakan tersebut (Kien et al. 2009). Rendahnya nilai heritabilitas, selain dipengaruhi oleh umur tanaman, juga dipengaruhi oleh jumlah unit percobaan (individu per famili) dan jumlah ulangan/blok. Makin banyak jumlah unit percobaan dan ulangan, maka nilai heritabilitasnya akan makin besar (Russel dan Libby 1986).

Heritabilitas famili menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan heritabilitas individu, yang memberi indikasi awal kemungkinan perolehan genetik (genetic gain) akan lebih tinggi dengan melakukan seleksi antar famili daripada seleksi individu/massa. Nilai heritabilitas famili yang lebih tinggi dibandingkan heritabilitas individu juga dilaporkan oleh Sebbenn et al. (2003) pada jenis Araucaria angustifolia, dan Gulcu dan Celik (2009) pada Pinus brutia. Nilai heritabilitas ini harus diinterpretasikan secara hati-hati sebab jumlah famili per provenansi yang digunakan tidak sama. Dalam suatu uji provenansi- keturunan, ragam famili dirata-ratakan terhadap provenansi-provenansi berbeda, dengan lebih memberikan informasi tentang provenansi dengan penampilan yang lebih baik (Kien et al. 2009).

4.4 Simpulan

Pertumbuhan awal tinggi dan diameter jabon menunjukkan perbedaan nyata antar provenansi dan antar famili di dalam provenansi, kecuali untuk parameter diameter pada tapak Parungpanjang. Tingkat keragaman genetik jabon ditemukan lebih tinggi antar provenansi daripada antar famili di dalam provenansi yang memberi indikasi kemungkinan untuk menggunakan provenansi-provenansi yang berpenampilan lebih baik sebagai sumber benih untuk kegiatan-kegiatan pembangunan hutan tanaman. Heritabilitas famili yang diduga lebih tinggi daripada heritabilitas individu sehingga kemajuan genetik yang lebih tinggi akan diperoleh dari seleksi famili daripada seleksi masa. Bagaimana pun juga, heritabilitas yang relatif rendah pada semua parameter di kedua tapak memberi indikasi bahwa kemungkinan perolehan genetik melalui seleksi menghasilkan perolehan yang rendah dan seleksi sebaiknya dilakukan hingga heritabilitas mencapai nilai yang tinggi dan lebih stabil yang umumnya untuk jenis cepat tumbuh dicapai pada umur 2 hingga tahun. Kombinasi seleksi famili dan seleksi individu di dalam famili akan lebih efektif dalam meningkatkan pertumbuhan jenis ini.

5 ADAPTASI BIBIT JABON TERHADAP CEKAMAN

Dokumen terkait