• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK PENANAMAN BALANGERAN

B. Persiapan lahan

Pada areal penanaman yang telah ditentukan, akan dilakukan persiapan lahan penanaman. Persiapan lahan ini diperlukan untuk membantu tanaman rehabilitasi beradaptasi pada kondisi awal penanaman. Beberapa kondisi yang harus dipertimbangkan dalam persiapan lahan ini adalah: tingginya genangan, adanya kompetisi dari tumbuhan pioner alami dan tumbuhan bawah serta kematangan tanah gambut. Persiapan lahan ini terdiri dari beberapa kegiatan yaitu: penentuan jarak tanam, pembersihan lahan atau jalur tanam dari tumbuhan bawah dan pemasangan ajir tanam.

Berdasarkan kondisi lahan yang ada, terdapat beberapa perlakuan persiapan lahan yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Persiapan lahan untuk mengatasi kondisi genangan.

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu: a) pembuatan guludan; b) pembuatan surjan, dan c) mengatur tinggi muka air tanah secara mikro.

a) Guludan dibuat berukuran 50cm x 50 cm x 50 cm atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan terutama untuk tinggi guludan disesuaikan dengan tinggi muka air tanah. Guludan dapat diperkuat dengan menggunakan papan pada sisi guludan. Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan guludan ini adalah sudah diketahuinya fluktuasi muka air tanah, sehingga dapat diperkirakan tingginya bangunan guludan dibuat, dimana pada saat tinggi muka air tanah turun tidak terjadi kekeringan yang berlebihan pada guludan yang dibuat tersebut.

Berdasarkan pengamatan terhadap pertumbuhan balangeran umur 9,5 tahun menunjukkan bahwa cara menanam dengan menggunakan teknik guludan memberi hasil pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman yang lebih baik. Tinggi tanaman balangeran umur 9,5 tahun yang ditanam dengan teknik guludan adalah 8,5 m dan tanpa guludan 8,2 m. Sementara itu, diameter batang balangeran yang ditanam pada lahan tanpa guludan adalah 7,3 cm dan dengan guludan 7,1 cm (Santosa, 2010). Pertumbuhan tanaman balangeran dari tahap awal sampai umur 9,5 tahun dengan persiapan lahan dengan guludan dan tanpa guludan dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1. Pertumbuhan tinggi Balangeran sampai umur 9,5 tahun (Sumber : Santosa, (2010); Rahmanadi dan Yuwati (2008)

b) Pembuatan surjan pada prinsipnya sama dengan pembuatan guludan tetapi bentuknya yang berbeda yaitu ukurannya yang memanjang sehingga terbentuk bagian gundukan dan tabukan yang kontinyu.

c) Pengaturan tinggi muka air tanah secara mikro dilakukan dengan membuat parit berukuran kecil di sekeliling areal tanam. Parit ini dibuat tertutup dengan ukuran lebar 50 cm dan dalam 1 m atau sesuai keperluan. Parit dibuat mengelilingi tanaman dengan luasan 50 m x 50 m atau 50 m x 20 m atau sesuai keperluan.

2. Persiapan lahan untuk mengurangi kompetisi tumbuhan bawah.

Dapat dilakukan dengan cara: a) pembersihan atau penebasan tumbuhan bawah pada jalur tanam dengan lebar tertentu; b) pembersihan titik tanam pada radius tertentu dan c) pembersihan areal tanam dengan penebasan pada semua area (total). Yang perlu diperhatikan dalam penebasan tumbuhan bawah ini adalah tumbuhan bawah masih memiliki fungsi awal untuk menjaga kelembaban tanah dan memberikan naungan pada bibit yang ditanam sehingga pengaturan waktu penebasan dan pengulangan dalam kegiatan pemeliharaan tanaman harus betul- betul diperhatikan.

3. Persiapan lahan untuk mengatasi kondisi kematangan tanah gambut.

Dilakukan dengan cara: a) pemberian batuan pospat (rock phosphate), zeolit atau amelioan lainnya untuk mengkondisikan tingkat keasaman tanah dan asam organik tanah pada titik tanam yang sesuai; dan b) pemadatan tanah untuk membantu daya ikat akar pada media tanah gambut yang sangat porous. Pemadatan dilakukan dengan mencincang gambut pada titik tanam, menambah dengan gambut yang ada di sekitarnya dan dipadatkan.

Penentuan lebar jalur tanam disesuaikan dengan tujuan dan kondisi areal penanaman. Penanaman pada areal terbuka atau areal yang hanya didominasi tumbuhan bawah berupa pakis-pakisan dan sedikit tumbuhan tingkat pohon disarankan menggunakan jalur tanam 3m x 3m. Pada kondisi lahan gambut yang umumnya sangat miskin hara disarankan untuk membuat lebar jalur tanam yang lebih sempit, misalnya 2m x 2m atau 1m x 1m. Sedangkan pada areal hutan sekunder yang perlu diperhatikan adalah ukuran lebar jalur tanam, semakin tinggi vegetasi yang ada maka lebar jalur tanam dibuat semakin lebar dan jarak antara jalur tanam semakin jauh. Disarankan menggunakan ukuran lebar jalur tanam 3 m dan jarak antara jalur tanam 10 m.

Ajir tanam yang digunakan dalam penanaman rehabilitasi hutan rawa gambut pada umumnya dibuat ukuran yang lebih besar agar mudah dikenali di lapangan dan juga dapat bermanfaat dalam kegiatan pemeliharaan tanaman nantinya.

C. Penanaman

Keberhasilan penanaman rehabilitasi di lahan gambut sangat ditentukan oleh tersedianya bibit yang berkualitas dan penanganan bibit yang baik hingga sampai ke lokasi tanam dan juga ditentukan oleh kondisi genangan lahan pada saat penanaman. Walaupun persiapan lahan telah dilakukan dengan guludan atau surjan, penanaman yang baik dilakukan pada saat tinggi muka air tanah sedang turun tetapi daya kapiler air masih dapat mencapai permukaan tanah. Penanaman di lahan gambut dapat dilakukan baik pada saat musim hujan maupun kemarau tetapi tidak pada saat puncak musimnya. Sebagai contoh kondisi lahan gambut di areal KHDTK Banjarbaru dan Blok C areal eks PLG secara umum, puncak musim hujan terjadi pada bulan Februari tetapi genangan

yang cukup dalam tetap terjadi sampai bulan Mei, sedangkan puncak musim kemarau terjadi pada bulan Agustus, sehingga waktu yang baik untuk penanaman di areal tersebut pada bulan awal Juli, Nopember, Desember dan Januari.

Untuk membantu daya adaptasi tanaman di lapangan, terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi bibit di lapangan (bibit tentunya juga sudah melalui tahap aklimatisasi di persemaian). Aklimatisasi bibit di lapangan dilakukan dengan menempatkan bibit di sekitar plot tanam pada saat 2 minggu sebelum penanaman, apabila areal tanam sangat terbuka maka diperlukan sedikit naungan menggunakan tumbuhan bawah yang ada di lokasi tersebut.

Setelah semua proses dilakukan, barulah penanaman siap dilakukan. Pada titik tanam yang telah dipadatkan, dibuat lubang tanam dengan ukuran sesuai ukuran polibag. Kemudian penanaman dilakukan hanya dengan membuka polibag pada bagian bawahnya saja tetapi tidak membuka polibag secara keseluruhan. Hal tersebut dimaksudkan untuk tetap menjaga kekompakan media tanam pada saat nantinya terjadi genangan karena hujan atau meluapnya air sungai.