• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku BUDIDAYA Shorea balangeran DI LAHAN GAMBUT compres

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Buku BUDIDAYA Shorea balangeran DI LAHAN GAMBUT compres"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Tim Penulis
  • Pengajar:
    • Suryanto Tjuk Sasmito
    • Hadi Endang Savitri
  • Sekolah: Kementerian Kehutanan
  • Mata Pelajaran: Penelitian Kehutanan
  • Topik: Budidaya Shorea Balangeran di Lahan Gambut
  • Tipe: buku
  • Tahun: 2012
  • Kota: Banjarbaru

I. Mengenal Shorea balangeran

Shorea balangeran, atau balangeran, adalah jenis tanaman yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di lahan rawa gambut. Ia termasuk dalam kelompok pohon komersial yang tumbuh secara berkelompok. Dalam klasifikasi tumbuhan, balangeran termasuk dalam Devisi Spermatophyta, Kelas Dicotyledoneae, Ordo Theales, Famili Dipterocarpaceae, dan Genus Shorea. Karakteristik fisik pohon balangeran mencakup tinggi mencapai 20-25 m dengan batang bebas cabang hingga 15 m. Kayunya berwarna coklat-merah dan memiliki kekuatan yang baik, menjadikannya sebagai bahan baku yang berharga. Dalam konteks pendidikan, pemahaman tentang karakteristik dan klasifikasi balangeran sangat penting untuk pengembangan kurikulum di bidang kehutanan dan agronomi.

II. Perbenihan dan Pembibitan Balangeran

Proses perbenihan dan pembibitan balangeran sangat penting untuk memastikan ketersediaan bibit berkualitas. Sumber benih yang baik semakin sulit ditemukan, sehingga penting untuk melakukan pemetaan dan pengelolaan sumber benih. Benih balangeran bersifat rekalsitran, sehingga tidak dapat disimpan lama. Oleh karena itu, teknik penanaman yang efisien dan pengelolaan kebun pangkasan menjadi krusial. Buku ini memberikan panduan langkah demi langkah dalam pengadaan benih, penaburan, dan penyapihan kecambah, yang sangat berguna bagi mahasiswa dan praktisi di bidang kehutanan.

III. Peningkatan Produktivitas Shorea balangeran di Persemaian melalui Pemupukan

Pemupukan merupakan salah satu teknik penting dalam meningkatkan produktivitas semai balangeran. Penelitian menunjukkan bahwa unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan semai. Dengan pemahaman ini, mahasiswa dapat mengaplikasikan teori nutrisi tanaman dalam praktik lapangan. Buku ini menyajikan data empiris yang mendukung pentingnya aplikasi pupuk dan dapat dijadikan referensi dalam penelitian lebih lanjut.

IV. Peningkatan Pertumbuhan Shorea balangeran di Persemaian dengan Aplikasi Mikoriza

Aplikasi mikoriza, khususnya Ectomycorrhizae (ECM), terbukti meningkatkan pertumbuhan semai Shorea balangeran. Penelitian ini menunjukkan bahwa inokulasi dengan spora jamur tertentu dapat meningkatkan pertumbuhan hingga 40 bulan setelah penanaman. Pemahaman tentang interaksi antara tanaman dan mikoriza sangat penting dalam pengembangan teknik budidaya yang ramah lingkungan. Materi ini dapat digunakan dalam pengajaran biologi dan ekologi untuk menjelaskan hubungan simbiosis dalam ekosistem.

V. Teknik Penanaman Balangeran

Teknik penanaman balangeran di lahan gambut memerlukan pemahaman mendalam tentang kondisi lingkungan dan karakteristik lahan. Buku ini membahas berbagai kendala yang dihadapi dalam penanaman, termasuk sifat fisika dan kimia tanah. Pendekatan yang sistematis dalam perencanaan penanaman sangat penting untuk memastikan keberhasilan restorasi. Ini memberikan wawasan praktis bagi mahasiswa dan profesional dalam merencanakan proyek rehabilitasi hutan.

VI. Kondisi Lingkungan Tempat Tumbuh Balangeran di Hutan Rawa Gambut

Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan Shorea balangeran. Buku ini menjelaskan faktor-faktor seperti genangan air, pH tanah, dan keberadaan mikroba yang berperan dalam ekosistem. Memahami faktor-faktor ini penting bagi mahasiswa dan peneliti dalam merancang strategi konservasi dan pemulihan lahan gambut. Dengan informasi ini, pembaca dapat mengembangkan proyek penelitian yang lebih terarah dan efektif.

VII. Pemeliharaan Tanaman Balangeran

Pemeliharaan tanaman merupakan aspek krusial dalam budidaya balangeran. Buku ini menyajikan teknik pemeliharaan yang meliputi penyiraman, pemupukan, dan pengendalian hama. Dengan pemahaman yang baik tentang teknik-teknik ini, mahasiswa dapat menerapkannya dalam praktik lapangan, memastikan pertumbuhan optimal dan keberhasilan proyek reforestasi. Ini juga memberikan dasar bagi pengembangan kurikulum dalam pelatihan kehutanan.

VIII. Potensi Jenis-Jenis Hama dan Penyakit pada Tanaman Shorea balangeran

Identifikasi dan pengendalian hama serta penyakit adalah bagian penting dari manajemen tanaman balangeran. Buku ini menguraikan berbagai jenis hama dan penyakit yang dapat mempengaruhi pertumbuhan balangeran, serta strategi pengendalian yang efektif. Pengetahuan ini sangat relevan bagi mahasiswa dan praktisi dalam merancang program perlindungan tanaman dan memastikan keberlanjutan budidaya.

IX. Strategi Pemuliaan Shorea balangeran untuk penghasil Kayu Pertukangan

Pemuliaan balangeran bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kayu yang dihasilkan. Buku ini membahas teknik pemuliaan yang dapat diterapkan untuk menghasilkan varietas unggul. Ini memberikan wawasan bagi mahasiswa dan peneliti tentang pentingnya pemuliaan dalam pengelolaan sumber daya hutan. Materi ini dapat dijadikan dasar untuk penelitian lebih lanjut dalam bidang pemuliaan tanaman.

Referensi Dokumen

  • Pembangunan kebun pangkas ( Tolkamp, G.W. dan D. Leppe )
  • Long term effect of site preparation on the growth of Balangeran (Shorea balangeran) at over burn peat swamp forest ( Santosa P.B., Yuwati, T.W. dan Rachmanadi )
  • Penerapan sistem KOFFCO (Komatsu FORDA Fog Cooling System) di Balai Penelitian Kehutanan, Banjarbaru ( Wahyuningtyas, R dan Rusmana )

Gambar

Gambar 1. Pohon balangeran di daerah Mentangai Kalimantan Tengah sebagai sumber benih (Dok
Gambar 3. Buah balangeran yang masih menempel pada cabang atau
Gambar 6. Contoh fase pertumbuhan bahan stek dan tunas orthotrop dan
Tabel 2. Kriteria kelas kekompakan media
+7

Referensi

Dokumen terkait

Total luas kebun bibit sekitar 200 hektar yang terdiri dari tiga hektar merupakan lahan milik pabrik sendiri yaitu kebun bibit kembaran yang digunakan untuk membudidayakan

Namun jika menggunaan benih yang bermutu rendah akan mendapatkan hasil persentase perkecambahan bibit yang rendah, bibit yang intoleran terhadap cekaman abiotik,

Teknologi budidaya tanaman pangan (khususnya padi) di lahan gambut yang diperoleh dari hasil penelitian oleh Balai-Balai Penelitian telah mampu meningkatkan

Tahapan pemetaan tutupan lahan Potensi simpanan karbon bawah tegakan dapat diperoleh dari beberapa data penyusun simpanan karbon gambut, diantaranya data luas lahan

Keberhasilan kegiatan penanaman dalam rangka rehabilitasi hutan dan lahan maupun pembangunan hutan tanaman tersebut di atas, tidak terlepas dari ketersediaan sumber benih yang

Dari identifikasi masalah di atas maka batasan masalah adalah belum tersedia teknologi yang terintegrasi untuk mengembangkan sistem pengelolaan sumber daya air di lahan rawa

Pemberian bibit untuk kegiatan rehabilitasi atau penghijauan di lokasi lahan yang tidak kritis dan tidak termasuk wilayah prioritas I dan II pada saat target lahan kritis yang

Variabel penelitian terdiri dari karakteristik responden usia, pendidikan, pengalaman bertani, jumlah yanggungan keluarga, luas lahan teknik budidaya persiapan lahan, persiapan bibit,