• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTENSI JENIS-JENIS HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN BALANGERAN

Beny Rahmanto dan Abdul Kodir

Peneliti pada BPK Banjarbaru

Hama dan penyakit tanaman merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam budidaya tanaman balangeran. Pengetahuan tentang potensi jenis-jenis hama dan penyakit pada balangeran diperlukan sebagai dasar untuk menentukan tindakan pengendalian hama dan penyakit. Selain itu informasi potensi jenis-jenis hama dan penyakit juga diperlukan untuk mewaspadai ledakan hama dan penyakit pada suatu waktu, sehingga dapat melakukan tindakan pencegahan secara tepat. Beberapa jenis hama dan penyakit yang berpotensi menyerang tanaman balangeran sebagai berikut :

a. Kutu loncat (Diaphorina sp, Psyllidae)

Nimfa kutu loncat berwarna kuning berbentuk oval. Ukuran nimfa 0,7-1,2 mm. Nimfa hidup berkoloni pada pucuk semai tanaman balangeran. Umumnya nimfa berada pada lipatan daun bagian pucuk semai. Nimfa membentuk lapisan seperti kapas berwarna putih. Nimfa dari banyak spesies kutu loncat menghasilkan banyak sekresi malam putih yang menyebabkan mereka dari luar kelihatan seperti aphid wol (Borror et al., 1992). Serangga dewasa bersayap berwarna coklat dan mempunyai tungkai yang kuat untuk meloncat.

Kutu loncat tergolong serangga penghisap cairan tanaman dan ditemukan di persemaian dengan naungan berat/intensitas cahaya rendah. Hama ini menyerang semai belangeran di persemaian. Pucuk semai yang terserang dicirikan oleh adanya lapisan seperti kapas.

Serangan lebih lanjut mengakibatkan pucuk semai mengering dan dapat menyebabkan kematian atau pertumbuhan semai terganggu akibat muncul trubusan/multishoot. Serangan hama ini ditemukan di persemaian di Kalimantan Tengah dengan persentase serangan cukup besar mencapai 14,94% (Rahmanto dan Anggareni, 2012). Hama ini sangat merugikan dalam pembibitan balangeran karena mengakibatkan kematian tanaman. Pengendalian hama kutu loncat dapat dilakukan dengan mengurangi naungan pada persemaian.

Gambar 1. Nimfa Diaphorina sp.

Gambar 2. Imago Diaphorina sp.

Perbesaran 200x

Gambar 3. Tanda serangan

b. Ulat pemotong (Ophiusa triphaenoides, Noctuidae)

Morfologi larva ulat pemotong adalah warna tubuh coklat keunguan dengan garis horizontal sepanjang tubuh berwarna kuning cerah membujur di kedua sisinya. Larva memiliki 3 pasang kaki di bagian depan (trueleg) dan 5 pasang proleg. Larva berjalan secara berjingkat. Ukuran panjang larva ± 4-5 cm. Larva aktif di malam hari dan apabila terkena cahaya akan menjatuhkan diri atau menghindar. Imago berupa ngengat dengan ciri-ciri warna sayap bagian atas coklat keabu-abuan dengan bintik-bintik hitam tersebar dan bagian ujung berwarna lebih gelap. Pada bagian sayap depan terdapat corak gambar angka delapan berwarna gelap.

Larva menyerang dengan cara memakan daun muda sehingga daun hanya menyisakan tangkai atau tulang daun. Selain itu larva juga memotong pucuk batang. Bibit yang diserang akan tampak gundul tanpa pucuk. Serangan yang berat akan berakibat pucuk batang bibit seperti dipotong/patah. Hilangnya pucuk batang bibit berakibat pada hilangnya titik tumbuh apikal semai. Serangan ulat pernah ditemukan di persemaian Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah dengan persentase serangan 3,89-5,23% (Rahmanto et al., 2011). Pengendalian hama ulat pemotong dapat dilakukan secara mekanis yaitu dengan menangkap ulat pada waktu malam hari.

Gambar 4. Larva O. triphaenoides

Gambar 5. Imago O. triphaenoides

Gambar 6. Tanda kerusakan

c. Belalang (Catantops splendens : Acrididae)

Nimfa belalang ini berwarna hijau muda berukuran 2-2,5 cm. Setelah dewasa menjadi berwarna coklat keabu-abuan dengan pola titik-titik hitam pada bagian dorsal. Imago berukuran 3,5-4,5 cm. Pada bagian torak terdapat pola garis miring berwarna putih. Bagian femur juga terdapat garis membujur berwarna putih. Tibia berwarna oranye kemerahan.

Belalang menyerang daun muda dan terdapat bekas gigitan tipe mulut pengunyah. Tipe serangan hanya parsial pada daun. Belalang hanya memakan sebagian daun (folium) dan bagian per bagian tidak secara menyeluruh pada satu daun. Pada penelitian di persemaian Kalimantan Tengah diperoleh persentase serangan sebesar 5,07-6,21% dengan intensitas serangan cukup kecil berkisar 2-4% (Rahmanto dan Anggraeni.,2012). Pengendalian yang dapat dilakukan untuk hama belalang adalah dengan cara mekanis yaitu menangkap belalang dewasa dan memusnahkan telur-telurnya. Pengendalian secara kimiawi juga dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida misalnya Phosdrin, Basudin, atau Diazinon (Pracaya, 2005). Insektisida berbahan aktif BPMC 500 g/l dengan dosis 2-4 cc per liter air juga dapat mengendalikan hama belalang (Anggraeni et al., 2010).

Gambar 7. Nimfa C. splendens

Gambar 8. Imago C. splendens 1 cm

Gambar 9. Tanda kerusakan

d. Bintil Daun/Leaf Gall oleh Hymenoptera

Serangga termasuk ke dalam golongan tabuhan-tabuhan. Serangga ini secara seksual merupakan serangga dimorfik. Ukuran serangga relatif kecil ± 0,85 mm. Funukula pada antena terdiri dari 4 ruas. Sayap terdiri dari 2 pasang, ukuran sayap belakang lebih sempit dan runcing. Kaki berwarna kuning kecoklatan. Kepala dan torak berwarna kuning kecoklatan. Abdomen berwarna coklat tua. Mata majemuk berwarna merah terang. Serangga ini mempunyai 3 oseli dorsal.

Serangan hama ini ditandai oleh bintil-bintil pada permukaan daun. Serangga ini bertelur dalam jaringan daun. Nimfa serangga ini berkembang di dalam jaringan daun dan mengakibatkan

timbulnya bintil (gall) pada daun. Serangga dewasa akan membuat lubang untuk keluar dan membebaskan diri dari dalam bintil. Pada bintil yang sudah kosong akan tampak lubang kecil bekas lubang keluar serangga. Bintil yang terdapat lubang akhirnya mengering. Dari hasil pengamatan di beberapa persemaian di Kalimantan Tengah diketahui bibit yang terserang tidak mengalami kematian. Serangan yang ditimbulkan hanya mengakibatkan berkurangnya luas permukaan daun akibat timbulnya bintil-bintil. Gall/bintil menyediakan makanan dan tempat tinggal bagi serangga, tetapi tanaman tidak mendapatkan keuntungan dari hubungan tersebut, kehilangan nutrisi, pertumbuhan tidak normal, dan memperlemah struktur tanaman (Speight et al., 2001). Serangan hama ini ditemukan di persemaian dengan persentase serangan sebesar 6,19% (Rahmanto dan Anggraeni, 2012).

Gambar 11. Bintil daun

e. Penyakit Bercak Daun (Lasiodiplodia sp dan Colletotrichum sp)

Berupa bercak-bercak berwarna coklat kemerahan. Bercak tersebar di permukaan daun. Lasiodiplodia sp masuk dalam famili Sphaeropsidaceae. Hifa berwarna kecoklatan berseptat dengan percabangan sederhana. Colletotrichum sp termasuk ke dalam famili Diaporthaceae.

Daun yang terserang mempunyai bercak-bercak berwarna coklat kemerahan. Serangan yang lebih lanjut mengakibatkan daun berlubang sehingga luas permukaan daun menjadi berkurang. Pengendalian penyakit bercak daun Colletotrichum sp dapat

dilakukan menggunakan cuka kayu dengan dosis 40 cc per liter air dengan cara penyemprotan seminggu sekali (Anggraeni et al., 2010). Menurut Rahayu (1999) pengendalian penyakit bercak daun dapat dilakukan dengan langkah - langkah sebagai berikut :

a. Menjaga kelembaban di persemaian agar tidak terlalu tinggi dengan mengurangi kerapatan semai.

b. Melakukan pencampuran beberapa jenis semai pada suatu lokasi persemaian untuk menghindari kerusakan satu jenis semai tertentu oleh penyakit bercak daun pada skala luas. c. Melakukan eradikasi secara intensif dengan menyingkirkan

bagian tanaman yang rusak untuk menekan sumber inokulum patogen.

d. Melindungi semai dari serangan jamur penyebab bercak daun dengan penyemprotan fungisida.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni I. et al. 2010. Sintesa Hasil Penelitian Hama, Penyakit dan Gulma Hutan Tanaman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Bogor

Anonim. 2010. Tribe Ophiusini. http://www.mothsoorneo. com/part-15-16/ophiusini/ophiusini_3_5.php. Download 12/10/2011.

Borror, J.D., Triplehorn, C.A., dan Johnson, N.F. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga Edisi Keenam. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Pracaya. 2005. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya.Jakarta

Rahayu, S. 1999. Penyakit Tanaman Hutan Di Indonesia. Gejala, Penyebab dan Teknik Pengendaliannnya. Kanisius. Yogyakarta

Rahmanto, B., Akbar, A., dan Kodir, A. 2011. Serangan Hama Ulat Ophiusa triphaenoides Pada Shorea balangeran Di Persemaian Kalimantan Tengah. Prosiding Ekspose Hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru. Kalimantan Selatan

Rahmanto, B., dan Anggraeni, I. 2012. Jenis-jenis Hama Pada Tanaman Shorea balangeran Di Persemaian. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Hutan dan Kesehatan Pengusahaan Hutan Untuk Produktivitas Hutan . Pusat

Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Bogor

Speight, MR dan Wylie, FR. 2001. Insect Pest In Tropical Forestry. CABI Publishing. New York. USA