• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PENTINGNYA KURSUS PERKAWINAN DALAM

A. Arti, Hakekat, Ciri-Ciri Perkawinan dan Persoalan-

5. Persoalan/Permasalahan yang Sering Muncul Dalam

Hidup perkawinan adalah hidup cinta, saling menghargai, kuat dalam penderitaan, kesabaran dan menerima kekecewaan, merupakan bekal orang yang mencintai. Perkawinan merupakan aspek yang dinamis, bertumbuh, berkembang dan mendapat kematangannya yang utuh.

Keluarga-keluarga Katolik dewasa ini sangat membutuhkan perhatian terutama dalam hal membangun iman keluarganya, namun kita juga tidak boleh mengesampingkan pengetahuan yang dimiliki oleh pasangan-pasangan yang telah menikah, banyak sekali pasangan-pasangan yang memiliki pengetahuan dan memahami serta tahu bagaimana menciptakan keluarga yang harmonis yang sunguh menghayati iman akan Kristus dalam kehidupan keluarganya.

Hal inilah yang ingin diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga, tujuan utama dalam pembinaan keluarga adalah agar semakin banyak tercipta keluarga yang sungguh-sungguh berakar kepada Kristus sebagai batu penjuru dalam hidup keluarganya. Dengan bantuan keluarga-keluarga yang telah memahami dan mengerti serta sungguh-sungguh mau berbagi cara-cara membangun hidup berkeluarga dengan berdasarkan kepada cinta kasih kepada Allah, kita akan bersama-sama membangun lebih banyak lagi keluarga-keluarga yang diharapkan oleh Gereja juga bangsa dan negara. Namun dalam usaha mewujudkan hidup keluarga tersebut seringkali keluarga dihadapkan pada persoalan-persoalan yang diantaranya ialah:

a. Masalah Karena Kesulitan Ekonomi

Tidak sedikit keluarga yang mengalami masalah ekonomi, bagaimana dengan penghasilan dapat mencukupi segala kebutuhan keluarga pada saat ini maupun untuk masa yang akan datang (Timmottius, 2010: 147-148).

Banyak hal yang menyebabkan munculnya masalah ekonomi dalam keluarga diantaranya: hutang keluarga yang setiap hari semakin bertambah, pengangguran,

pemborosan, kebodohan, cacat, penyakit dan lain sebagainya. Akibat dari masalah ini tentu saja akan menimbulkan masalah baru seperti: rasa minder atau malu yang kemudian dialami oleh suami atau istri, kesulitan untuk maju dan berkembang, anak-anak kurang mendapat pendidikan yang layak, terkadang juga menjadi mudah iri terhadap kesuksesan orang lain. Segala macam permasalahan itu juga mengakibatkan seseorang menjadi berpikir instan misalnya berusaha mendapatkan uang dengan cepat dengan: mencuri, korupsi, atau melakukan tindak kejahatan yang lain. (Gilarso, T 2008 : 135-153).

b. Kesulitan Dalam Relasi Sebagai Suami-Istri

Hampir semua suami-istri pernah mengalami masalah dalam relasi antar mereka berdua, entah masalah yang berat atau masalah yang ringan. Namun diantaranya keduanya tentu mempunyai cara-cara yang berbeda dalam menghadapi masalah tersebut. Permasalahan-permasahan yang muncul dalam relasi antar suami-istri menggambarkan ketidak dewasaan pribadi dari salah satu pasangan atau bahkan kedua-duanya. Lunturnya rasa cinta dan ketertarikan dari mereka berdua, adanya perbedaan pandangan yang sulit untuk didamaikan, mungkin juga karena campur tangan dari pihak keluarga seperti mertua, orang tua, cemburu dan juga teman (Hart, 1988: 91-104).

c. Masalah Karena Kondisi Anak-anak

Anak-anak juga terkadang menjadi masalah bagi orang tuanya dalam arti ada orang tua yang memilik anak yang cacat, bodoh, nakal bahkan tidak mempunyai anakpun terkadang juga menjadi masalah bagi pasangan suami-istri. Akibat yang ditimbulkan ialah menghadapi anak yang bandel, nakal terkadang orang tua merasa tidak berhasil mendidik anak, rasa malu terhadap masyarakat luas, rasa sedih dll (Hart, 1988: 137149).

d. Kesulitan Berelasi Dengan Masyarakat

Masyarakat sekitar merupakan bagian dari kehidupan perkawinan pasangan suami-istri. Namun terkadang dalam hubungannya seseorang tidak mungkin akan selalu harmonis. Pasangan suami-istri yang telah mejalani hidup berdua satu rumah, setiap saat saja bisa bermasalah apalagi dengan orang yang berada diluar rumah, entah itu permasalahan ringan ataupun berat atau karena hal sepele dan sebaliknya. Suatu keluarga yang kurang dapat berelasi baik dengan orang-orang disekitar pada umumnya terjadi di kota-kota besar. Rumah-rumah besar yang berpagar tinggi yang dikelilingi oleh teralis dan anjing penjaga yang galak juga dapat menghalangi silahturahmi dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Bagitu pula dengan kesibukan kerja, suami dan istri sama-sama bekerja, berangkat pagi dan pulang malam sehingga tidak ada waktu untuk berkunjung kepada tetangga dan lain sebagainya. Ini merupakan permasalahan dalam berelasi yang dengan lingkungan

sekitar yang juga dapat mempengaruhi perkembangan sebuah keluarga (Hart, 1988: 121-135).

e. Kesulitan Membangun Relasi Dengan Tuhan

Perbedaan agama antara suami dan istri dapat menimbulkan relasi dengan Tuhan menjadi terganggu. Kesulitan dalam pendidikan agama dirumah, rasa enggan berdoa karena adanya perbedaan agama dengan suami atau istri. Minder untuk berangkat kegereja karena suami beragama lain juga dapat menjadi kendala untuk seseorang istri untuk dekat dengan Tuhan begitu pula sebaliknya.

Kenyataan umum perkawinan dewasa ini khususnya di indonesia memang masih jauh dari apa yang diharapkan banyak sekali keluarga-keluarga yang masih berada dalam problema yang sukar untuk dicari jalan keluarnya, tentu saja hal seperti telah mendapat perhatian dari komisi keluarga baik yang berada di Paroki maupun keuskupan masing-masing. Kenyataan inilah yang menarik perhatian penulis, bahwa kasus-kasus dalam keluarga ini tidak pernah ada habisnya selalu ada hal-hal baru yang membutuhkan perhatian secara khusus. Dan memang problema dalam hidup berkeluarga itu sangatlah kompleks bukan hanya dalam hal berumah tangga namun ada faktor lain yang juga memicu problem dalam kehidupan rumah tangga. Namun perlu diketahui pula bahwa Gereja juga tidak tinggal diam, banyak usaha yang dilakukan oleh Gereja demi menciptakan keluarga-keluarga yang sungguh-sungguh berdasarkan pada iman Kristiani yang tangguh. Walau masih banyak problem-problem hidup berkeluarga yang masih belum terselesaikan ini merupakan tantangan

bukan hanya dari pihak Gereja tetapi juga dari umat secara keseluruhan, baik itu kerabat-kerabat dekat maupun jauh, teman-teman, lingkungan sekitar, dan juga pemerintah (Hart, 1988: 151-165)