Indonesia adalah negara hukum. Hal ini sebagaimana diatur dalam UUD 1945, dalam Amandemen UUD 1945 telah diangkat ke dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat (3), “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa negara Indonesia merdeka akan dijalankan berdasarkan hukum. Konsep negara hukum tersebut untuk membentuk pemerintahan negara yang bertujuan melindungi Hak Asasi
Manusia (HAM).69
Akan tetapi sampai saat ini di dalam realitanya, hukum di negara ini justru sering menuai kritikan ketimbang pujian. Banyaknya kritikan terhadap hukum, baik pembuatan maupun penegakannya, jelas tidak menunjukkan peran hukum sebagaimana harapan yang dituangkan di dalam UUD 1945. Pada kenyataannya hukum memang sudah ditegakkan tetapi seringkali diskriminatif sifatnya, tidak equal, dan disertai beragam praktik rekayasa dan manipulatif. Akibatnya keadilan yang menjadi tujuan hukum seringkali tak tercapai, karena yang terjadi adalah semata-mata tegaknya hukum. Padahal, hukum itu adalah intrumen tegakknya keadilan. Apabila hukum tegak namun keadilan tidak, maka tujuan hukum belumlah dapat dikatakan terwujud.70
69 Udiyo Basuki, “Perlindungan HAM dalam Negara Hukum Indonesia: Studi Ratifikasi Konvensi Hak-Hak Disabilitas (Convention on The Rights of Person with Disabilities)”, Jurnal
Sosio-Religia, vol.10, No. 1, (Februari-Juni 2012), h. 23-24.
70 Moh. Mahfud MD, Negara Hukum Indonesia: Gagasan dan Realita di Era Reformasi, makalah disampaikan dalam Seminar Nasional “Dinamika Implementasi Negara Hukum Indonesia dan Tantangannya di Era Reformasi”, yang diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Sabtu 8 September 2012 di Yogyakarta, h. 8.
38
Kemudian lahirlah sebuah paradigma dalam khazanah pemikiran hukum di Indonesia yang digagas oleh Satjipto Rahardjo yang bernama hukum progresif. Hukum dengan watak progresif ini diasumsikan bahwa hukum adalah untuk manusia, bukan sebaliknya manusia untuk hukum. Kehadiran hukum bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih besar dan luar. Apabila terjadi permasalahan di dalam hukum, maka hukumlah yang harus diperbaiki, bukan manusia yang dipaksa untuk dimasukkan ke dalam skema hukum. Hukum bukanlah suatu institusi yang mutlak dan final, karena hukum selalu berada dalam proses untuk terus-menerus menjadi (law as process, law in the making).71
Hukum progresif bermakna hukum yang peduli terhadap kemanusiaan sehingga bukan sebatas dogmatis belaka. Secara spesifik hukum progresif, bisa disebut sebagai hukum yang pro rakyat dan hukum yang berkeadilan. Progresifisme hukum mengajarkan bahwa hukum bukan raja, melainkan alat untuk menjabarkan dasar kemanusiaan yang berfungsi memberikan rahmat kepada dunia dan manusia. Asumsi yang mendasari progresifisme hukum adalah pertama, hukum ada untuk manusia dan tidak untuk dirinya sendiri. Kedua, hukum selalu berada pada status law n the
making dan tidak bersifat final. Ketiga, hukum adalah institusi bermoral
kemanusiaan.72
Menurut Satjipto Rahardjo sebagaimana dikuti oleh Amran Suadi, pemikiran hukum perlu kembali pada filosofi dasarnya yaitu hukum untuk manusia. Dengan filosofi tersebut, maka manusia menjadi penentu dan titik orientasi hukum. Hukum bertugas melayani manusia, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, hukum itu bukan merupakan institusi yang lepas dari kepentingan manusia. Mutu hukum ditentukan oleh kemampuannya untuk mengabdi pada kesejahteraan manusia. Berdasarkan
71 M. Syamsudin, Kontruksi Baru Budaya Hukum Hakim Berbasis Hukum Progresif, h. 108.
72 Hono Sejati, Rekonstruksi Pemeriksaan Perkara di Pengadilan Hubungan Industrial
Berbasis Nilai Cepat, Adil, dan Murah (Studi Kasus di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Yogyakarta), (Yogyakarta: PT Citra Aditya Bakti, 2018), h. 47- 48.
paradigma tersebut, hukum progresif menganut ideologi yang pro terhadap
keadilan dan pro terhadap kepentingan rakyat banyak.73
Paradigma hukum progresif sangat sejalan dengan garis politik hukum UUD 1945. Menggali rasa keadilan substantif merupakan salah satu pesan UUD 1945 yang menegaskan prinsip penegakan keadilan dalam proses peradilan. Jadi penekanannya bukan semata pada kepastian hukum tetapi kepastian hukum yang adil. Secara lebih konkrit, hal tersebut terwujud dalam roh putusan pengadilan. Di sana dituliskan, putusan dibuat
“Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” bukan “Demi Kepastian Hukum Berdasarkan Undang-Undang.” Inilah dasar kuat yang
menjustifikasi hakim membuat putusan untuk menegakkan keadilan meski jika terpaksa melanggar ketentuan formal yang menghambat tegaknya keadilan.
Namun dalam hal melanggar ketentuan formal, bukan berarti hakim boleh seenaknya saja menerobos ketentuan undang-undang. Dalam hal undang-undang sudah mengatur secara pasti dan dirasa adil, maka hakim tetap wajib berpegang pada undang-undang. Penekanannya disini adalah prinsip bahwa berdasarkan sistem hukum dan konstitusi di Indonesia, hakim diperbolehkan membuat putusan yang keluar dari undang-undang yang membelenggunya dari keyakinan untuk menegakkan keadilan. Untuk itu, setiap hakim harus memiliki kesungguhan moral untuk menegakkan aturan hukum sebagai alat penuntun menuju keadilan. Ini sejalan dengan negara hukum Indonesia sebagai prismatika antara
Rechtsstaat dan the Rule of Law, yang berarti “kepastian hukum” hanya
bisa dibangun jika kepastian hukum itu dapat memastikan tegaknya “keadilan”. Inilah yang sekarang harus terus dilakukan para penegak
hukum agar penegakkan hukum senantiasa bersukmakan keadilan.74
73 Amran Suadi, Sosiologi Hukum: Penegakan, Realitas dan Nilai Moralitas Hukum, (Jakarta: Kencana, 2018), h. 272.
74 Moh. Mahfud MD, Negara Hukum Indonesia: Gagasan dan Realita di Era Reformasi, makalah disampaikan dalam Seminar Nasional “Dinamika Implementasi Negara Hukum Indonesia dan Tantangannya di Era Reformasi”, h. 19-20.
40
Lalu apakah putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010 sudah mencerminkan semangat hukum progresif sebagaimana digagas oleh Satjipto Rahardjo ataukah belum?
Terkait masalah ini, Mahfud MD sebagaimana dikutip oleh Sarifudin dan Kudrat Abdillah pernah menjelaskan bahwa dalam hal penegakkan hukum, MK sedang mencoba melakukan terobosan baru dalam rangka membangun keadilan subtantif. Artinya, apa yang dibangun di MK tidak hanya kebenaran hukum semata, melainkan juga keadilan. Dalam batas-batas tertentu, hukum dan keadilan itu berbeda. Hukum berfungsi sebagai alat untuk menegakkan keadilan, sedangkan keadilan belum tentu sama dengan hukum. Menurutnya, secara filosofis, MK ingin lebih menegakkan keadilan sebagai sukma hukum dan bukan aturan hukumnya itu sendiri, yang sebenarnya hanya alat dari upaya menegakkan keadilan. MK bukan hanya menegakkan aturan hukum, tetapi menegakkan keadilan yang sejatinya merupakan sukma hukum. Dalam pandangan bahwasannya keadilan adalah sukma hukum, maka peraturan resmi menjadi tak berguna apabila melanggar prinsip dan rasa keadilan yang dihayati oleh publik.75
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa lahirnya putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010 adalah untuk memenuhi rasa keadilan publik. Dalam hal ini, MK telah melakukan rule breaking dalam upaya mencari keadilan substantif. MK tidak terbelenggu oleh bunyi-bunyi aturan hukum semata. Di sinilah letak progresivitas dari putusan MK tersebut.
Putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010 yang berbunyi, “Anak yang
dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”. adalah suatu upaya rule breaking yang dilakukan oleh MK untuk memenuhi rasa keadilan publik
atas bunyi Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan yang dirasa tidak atau kurang
75 Sarifudin dan Kudrat Abdillah, “Progresivitas Hukum dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010”, Jurnal Yuridis, Vol. 6 No. 1, (Juni 2019), h. 104.
memenuhi rasa keadilan masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan menurut hukum progresif, hukum yang benar itu bukanlah semata-mata bunyi UU melainkan realita kehidupan masyarakat yang selalu berubah di dalam memaknai keadilan.
Putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010 juga sudah mencerminkan bahwasannya hakim sudah terbebas dari belenggu bunyi Undang-undang. Karena sesuai dengan amanat hukum progresif, hakim harus merdeka dan tidak boleh terbelenggu oleh bunyi UU yang sifatnya situasional. Hakim dengan keyakinan dan integritasnya harus mampu membuat putusan yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan zamannya. Sehingga rasa keadilan dapat diterima oleh masyarakat sebagai rasa keadilan, bukan karena bunyi UU, itulah sejatinya yang dimaksud dengan hukum progresif.
Hakim Mahkamah Konstitusi yang beranggotakan sembilan orang, dalam amar putusannya mengabulkan permohonan para pemohon untuk sebagian. MK menyatakan bahwasannya Pasal 43 Ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tidak memiliki ketentuan hukum mengikat, sepanjang dimaknai untuk menghilangkan hubungan perdata anak dengan laki-laki yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum ternyata mempunyai hubungan darah sebagai ayahnya. Dalam konsiderannya, MK menyatakan:
“Menimbang bahwa pokok permasalahan hukum mengenai anak yang dilahirkan di luar perkawinan adalah mengenai makna hukum (legal
meaning) frasa “yang dilahirkan di luar perkawinan”. Untuk memperoleh
jawaban dalam perspektif yang lebih luas perlu dijawab pula permasalahan terkait, yaitu permasalahan tentang sahnya anak.
Secara alamiah, tidaklah mungkin seorang perempuan hamil tanpa terjadinya pertemuan antara ovum dan spermatozoa baik melalui hubungan seksual (coitus) maupun melalui cara lain berdasarkan perkembangan teknologi yang menyebabkan terjadinya pembuahan. Oleh karena itu, tidak tepat dan tidak adil manakala hukum menetapkan bahwa anak yang lahir dari suatu kehamilan karena hubungan seksual di luar perkawinan hanya memiliki hubungan dengan perempuan tersebut sebagai ibunya. Adalah tidak tepat dan tidak adil pula jika hukum membebaskan laki-laki yang melakukan hubungan seksual yang
42
menyebabkan terjadinya kehamilan dan kelahiran anak tersebut dari tanggung jawabnya sebagai seorang bapak dan bersamaan dengan itu hukum meniadakan hak-hak anak terhadap lelaki tersebut sebagai bapaknya. Lebih-lebih manakala berdasarkan perkembangan teknologi yang ada memungkinkan dapat dibuktikan bahwa seorang anak itu merupakan anak dari laki-laki tertentu.
Akibat hukum dari peristiwa hukum kelahiran karena kehamilan, yang didahului dengan hubungan seksual antara seorang perempuan dengan seorang laki-laki, adalah hubungan hukum yang di dalamnya terdapat hak dan kewajiban secara bertimbal balik, yang subjek hukumnya meliputi anak, ibu, dan bapak.
Berdasarkan uraian di atas, hubungan anak dengan seorang laki-laki sebagai bapak tidak semata-mata karena adanya hubungan perkawinan, akan tetapi dapat juga didasarkan pada pembuktian adanya hubungan darah antara anak dengan laki-laki tersebut sebagai bapaknya. Dengan demikian, terlepas dari soal prosedur/administrasi perkawinannya, anak yang dilahirkan harus mendapatkan perlindungan hukum. Jika tidak demikian, maka yang dirugikan adalah anak yang dilahirkan di luar perkawinan, padahal anak tersebut tidak berdosa karena kelahirannya di luar kehendaknya. Anak yang dilahirkan tanpa kejelasan status ayah seringkali mendapat perlakuan yang tidak adil dan stigma di tengah-tengah masyarakat.Hukum harus memberi perlindungan dan kepastian hukum yang adil terhadap status seorang anak yang dilahirkan dan hak-hak yang ada padanya, termasuk terhadap anak yang dilahirkan meskipun keabsahan perkawinannya masih dipersengketakan.76
Dari alasan hukum di atas, sangat menarik untuk diperhatikan bahwasannya MK menyatakan, sangat tidak mungkin seorang wanita hamil tanpa adanya pertemuan antara ovum dan spermatozoa, baik melalui hubungan seksual (coitus) maupun melalui cara lain berdasarkan perkembangan teknologi yang lebih baru yang dapat menyebabkan pembuahan. Maka dalam hal ini MK menyatakan bahwasannya sangat tidak adil apabila hukum meniadakan hubungan keperdataan anak dengan ayahnya yang dapat dibuktikan dengan bukti-bukti ilmiah yang menyatakan bahwasannya benar laki-laki itu adalah ayahnya. MK juga
menyatakan bahwasannya tidak adil apabila hukum membebaskan laki-laki yang melakukan hubungan seksual serta menyebabkan kehamilan dan kelahiran anak tersebut dari tanggung jawab sebagai seorang ayah. Padahal secara teknologi sudah dibuktikan bahwa benar laki-laki tersebut adalah ayahnya.
Kemudian MK juga berpendapat bahwa kondisi seorang anak yang dilahirkan tanpa status ayahnya, seringkali mendapatkan perlakuan diskriminatif dan juga mendapat stigma negatif di tengah-tengah masyarakat. maka dari itu, hukum harus hadir memberikan perlindungan dan kepastian hukum atas anak yang dilahirkan beserta hak-hak yang melekat padanya. Begitupun terhadap anak yang status perkawinan orang tuanya masih tidak jelas.
Selain itu dalam putusan MK lahir sebuah terobosan baru yaitu, sebuah alat bukti baru berupa pembuktian secara teknologi, salah satunya adalah DNA. DNA merupakan asam nukleat yang mengandung informasi genetik dengan fungsi dapat mewariskan sifat dari orang tua kepada anak secara khusus, dan dari generasi ke generasi secara umum, baik itu berlaku kepada manusia juga kepada makhluk hidup lainnya. Dengan adanya DNA ini, maka akan diketahui kemiripan-kemiripan dari satu orang dengan orang lain yang disangkakan memiliki keterikatan genetik.77
Alat bukti tes DNA adalah alat bukti yang dapat digunakan untuk membuktikan bahwa anak luar kawin merupakan anak kandung dari ayahnya. Maka dengan melihat kepada Pasal 184 KUHAP, alat bukti utama terdiri dari keterangan sksi, keterangan ahli, surat, keterangan terdakwa. Sementara itu menurut Pasal 1866 BW Jo Pasal 164 HIR, alat bukti utama terdiri dari: bukti tulisan, bukti saksi, persangkaan, dan sumpah. Dalam hukum pembuktian, tidak lagi ditentukan jenis atau alat bukti secara enumeratif (utama) sebab kebenaran tersebut tidak hanya diperoleh dari alat bukti tertentu, tetapi juga bisa diperoleh darimana
77 Mutiara Fahmi dan Fitiya Fahmi, “Penetapan Nasab Anak Mula’anah Melalui Tes DNA (Studi atas Metode Istinbat Yusuf al-Qaradawi)”, Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan
44
saja/atau bentuk apa saja, sepanjang tidak bertentangan dengan ketertiban
umum.78
Yusuf Al-Qaradawi sebagaimana dikutip oleh Mutiara Fahmi dan Fitiya Fahmi menyatakan bahwa dalam menetapkan hukum boleh atau tidaknya penggunaan tes DNA atas upaya penetapan nasab anak
mula’anah cenderung menggunakan metode istislahiyah, yaitu suatu
metode penemuan hukum dengan bertumpu pada dalil-dalil umum Al-Qur’an dan Hadis, serta melihat pada sisi maslahat pada kasus yang dicari hukumnya. Dalam arti lain, metode istislahiyah merupakan satu bentuk penalaran yang bertumpu pada pertimbangan kemaslahatan atas tujuan dari pensyariatan. Metode tersebut dipakai sebab tes DNA merupakan sebuah persoalan baru, dan belum ada kajian detailnya dalam Al-Qur’an maupun hadis.79
Dengan alasan hukum yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwasannya MK mencoba melakukan terobosan dengan melibatkan bidang-bidang keilmuan lain untuk ikut andil dalam mencari kebenaran dan keadilan sebagaimana diamanatkan oleh hukum progresif untuk selalu memecahkan problem hukum. Lewat alasan tersebut juga MK ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwasannya hukum kini telah cair dan lunak. Hukum tidak berhenti dan menggumpal di atas kertas. Karena bagi hukum progresif, hukum tidak terletak dan tersimpan di atas deretan bunyi tekstual peraturan perundang-undangan, melainkan membumi dalam relung-relung hati manusia, sebagaimana semboyannya: hukum untuk manusia.
78 J. Andy Hartanto, Hak Waris Anak Luar Kawin Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, (Surabaya: CV. Jakad Publishing Surabaya, 2017), h. 85.
79 Mutiara Fahmi dan Fitiya Fahmi, “Penetapan Nasab Anak Mula’anah Melalui Tes DNA (Studi atas Metode Istinbat Yusuf al-Qaradawi)”, Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan
B. Perspektif Maqashid Syariah tentang Putusan MK Nomor