PERSPEKTIF HUKUM PROGRESIF DAN MAQASHID
SYARIAH TENTANG STATUS ANAK DI LUAR NIKAH
(STUDI ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI
NOMOR: 46/PUU-VIII/2010)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)
Oleh
RIAN ILHAM RASYID
NIM: 11160440000080
PROGRAM STUDY HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
J A K A R T A 1441 H/2020 M
(STUDI ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI
NOMOR: 46/PUU-VIII/2010)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)
Oleh
RIAN ILHAM RASYID
NIM: 11160440000080
Di Bawah Bimbingan
Fathudin, S.H.I, S.H, M.A.Hum, M.H.
NIP. 198506102019031007
PROGRAM STUDY HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
J A K A R T A 1441 H/2020
i
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya, yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata Satu (S1) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua narasumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 07 Oktober 2020
ii
iii ABSTRAK
Rian Ilham Rasyid. Nim 11160440000080. PERSPEKTIF HUKUM PROGRESIF DAN MAQASHID SYARIAH TENTANG STATUS ANAK DI LUAR NIKAH (STUDI ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NO. 46/PUU-VIII/2010). Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441 H/2020 M.
Skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan tentang status anak di luar nikah ditinjau dari perspektif hukum progresif dan maqashid syariah dengan menganalisa Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010.
Dalam peraturan Perundang-undangan Indonesia sudah jelas di atur mengenai status keperdataan anak luar nikah dalam Pasal 43 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa “Anak di
luar nikah hanya mempunyai status keperdataan dengan ibunya dan keluarga ibunya”. Namun, Mahkamah Konstitusi yang berwenang untuk menguji
Undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 kemudian menambahkan redaksinya menjadi “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai
hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu penelitian untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya.
Hasil penelitian ini adalah bahwasanya pertimbangan hukum hakim dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 sudah bernafaskan hukum progresif sebagaimana digagas oleh Satjipto Rahardjo, dan putusan ini juga sudah sesuai dengan teori maqashid syariah. Dalam kaitannya dengan anak di luar nikah, hukum progresif berpandangan bahwasannya seorang anak merupakan tanggung jawab dari orang tuanya dan juga melekat hak-hak keperdataan yang harus dipenuhi oleh kedua orang tuanya, meskipun status perkawinan orang tuanya tidak jelas. Dalam pandangan maqashid syariah pemeliharaan jiwa dan keturunan bagi seorang anak yang lahir di luar nikah merupakan hal dharuri yang harus dijaga, maka apabila hal tersebut hilang, akan menyebabkan kerusakan pada anak tersebut.
Kata Kunci: Anak di Luar Nikah, Hukum Progresif, Maqashid Syariah.
Pembimbing : Fathudin, S.H.I, S.H, M.A.Hum, M.H.
iv
PEDOMAN TRANSLITERASI
Hal yang dimaksud dengan transliterasi adalah alih aksara dari tulisan asing (terutama Arab) ke dalam tulisan Latin. Pedoman ini digunakan untuk beberapa istilah Arab yang belum dapat diakui sebagai kata dalam bahasa Indonesia atau lingkup penggunaannya masih terbatas.
a. Padanan Aksara
Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara Latin:
Arab Latin Arab Latin
ﺍ A ﻃ Th ﺏ B ﻅ Zh ﺕ T ع ‘ ﺚ Ts ﻍ Gh ﺝ J ﻑ F ﺡ H ﻕ Q ﺥ Kh ﻙ K ﺪ D ﻝ L ﺫ Dz ﻡ M ﺭ R ﻥ N ﺯ Z ﻭ W ﺱ S ﻩ H ﺵ Sy ء ’ ص Sh ﻱ Y ﺽ Dl b. Vokal
Dalam Bahasa Arab, Vokal sama seperti Bahasa Indonesia, memiliki vokal tunggal (monoftong) dan vokal rangkap (diftong). Untuk vokal tunggal, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut.
v
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin
ﹷ
A (Fathah)ﹻ
I (Kasrah)ﹹ
U (Dhammah)c. Vokal Panjang (madd) dan Vokal Rangkap (Diftong)
Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, sedangkan ketentuan alih aksara vokal rangkap atau diftong, dilambagkan dengan ketentuan alih aksaranya sebagai berikut.
Arab Latin Arab Latin
آ â (a panjang) اَو Aw
اي î (i panjang) اَي Ay
ا ُو û (u panjang) d. Kata Sandang
Kata sandang, dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf alif dan lam (لا), dialihaksarakan menjadi huruf “l” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah atau huruf qamariyyah, misalnya:
داهتجلإا = al-ijtihâd
ةصخرلا = al-rukhshah, bukan ar-rukhsah e. Tasydid (Syaddah)
Dalam alih aksara, tasydid atau syaddah dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah. Tetapi hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya:
vi f. Ta Marbûthah
Jika Ta Marbuthah terdapat pada kata yang berdiri sendiri atau diikuti oleh kata sifat (na’at), maka Ta Marbuthah tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h” (ha). Jika Ta Marbuthah diikuti dengan kata benda (ism) maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “t” (te). Misalkan:
No Kata Arab Alih Aksara
1 ةعيرش Syarî’ah
2 ةّيملاسلإا ةعيرشلا Al-Syarî’ah Al-Islâmiyyah
3 بهاذملا ةنراقم Muqâranat al-madzâhib
g. Ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Huruf kapital tidak dikenal dalam tulisan Arab. Tetapi dalam transliterasi huruf ini tetap digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Disempurnakan (EYD). Perlu diketahui bahwa jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka huruf yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Contoh: يراخبلا = al-Bukhâri, tidak ditulis Al-Bukhâri.
Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau cetak tebal. Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama yang berasal dari dunia Nusantarasendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meski akar kata nama tersebut berasal dari bahasa Arab. Misalnya: Nuruddin al-Raniri, tidak ditulis Nûr al-Din al-Rânîri.
h. Cara Penulisan Kata
Setiap kata, baik kata kerja (fi’il), kata benda (ism) atau huruf (harf), ditulissecara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas.
vii
No Kata Arab Alih Aksara
1 تاروظحملاحيبتةرورضلا al-dharûrah tubîhu al-mahdzûrat
2 يملاسلإاداصتقلاا al-iqtishad al-islâmî
3 هقفللاوصأ ushûl al-fiqh
4 ةحابلإاءايشلأايفلصلأا al-ashl fî al-asyyâ` al-ibâhah
viii
KATA PENGANTAR اِمْيِحهرلااِن ْحْهرلااِهللَّااِمْسِب Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia yang tidak terhingga. Solawat beriringkan salam selalu tercurah kepada kepada baginda Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Dengan mengucap Alhamdulillah Robbil ‘alamin penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Perspektif Hukum Progresif Dan Maqashid Syariah Tentang Status Anak Di Luar Nikah: (Studi Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 46/Puu-Viii/2010)” penelitian ini merupakan salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis bersyukur dengan tiada henti karena pada akhirnya tugas akhir dalam jenjang pendidikan Strata Satu (S1) yang penulis hadapi telah selesai dikerjakan. Penulis tidak lupa meminta maaf apabila ada yang kurang berkenan dihati pembaca di dalam penyusunan skripsi ini.
Selanjutnya Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat diselesaikan karena mendapat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu sebagai ungkapan rasa hormat yang mendalam, Penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak/Ibu:
1. Bapak Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S. Ag, S.H, M.H, M.A., selaku dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Dr. Mesraini, M.Ag., selaku ketua program studi Hukum Keluarga dan Bapak Ahmad Chairul Hadi, M.A., selaku sekretaris program studi Hukum Keluarga.
ix
3. Bapak Fathudin, S.H.I, S.H, M.A.Hum, M.H. selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu memberikan arahan dan bimbingan selama penulis melakukan penelitian dan penulisan skripsi ini.
4. Bapak Afwan Faizin, M.A., selaku dosen pembimbing akademik yang selalu menasihati dan membimbing selama menjalani proses kuliah.
5. Seluruh Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mendidik dan memberikan ilmunya.
6. Pimpinan dan seluruh karyawan Perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan fasilitas untuk studi kepustakaan.
7. Kedua orang tua penulis yaitu Drs. Supiyan Rasyid, S.H., dan Lilis Kholilah serta keluarga besar penulis yang telah mencintai penulis dengan sepenuh hati dan juga yang selalu memberikan dukungan kepada penulis. 8. Bapak Nasrullah, S.Pd., dan Ibu Saniah, S.Pd.I selaku Ketua Yayasan dan
Kepala Madrasah MI Raudlatul Muta’alimin yang telah memberikan penulis fasilitas selama penelitian.
9. Saudari Bella Annisa yang selalu memberikan doa dan juga dukungan selama penyusunan skripsi ini.
10. Keluarga besar Hukum Keluarga angkatan 2016.
11. Sahabat-sahabat terbaik khususnya kepada Galih Nata Permana, Awaluddin Jauhar, Zikrul Alfa Nurrahim, Habibie Fuad Almanda, Faiq Langgeng Panenduh, Abdul Rohman, Abdul Rohman Wahid, Ahmad Reza Fahriansyah, Aditya Nur Iman, Muhammad Iqbal, dan Naufal Zahid Widodo.
Jakarta, 28 September 2020
x Daftar Isi
LEMBAR PERNYATAAN ...i
PENGESAHAN PANITIA UJIAN... ii
ABSTRAK ... iii
PEDOMAN TRANSLITERASI ... iv
KATA PENGANTAR... viii
Daftar Isi ... x
BAB I ...1
PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Identifikasi Masalah ...6
C. Pembatasan Masalah...6
D. Rumusan Masalah ...6
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian...7
1. Tujuan Penelitian ...7
2. Manfaat Penelitian ...7
F. Review Studi Terdahulu ...7
G. Metode Penelitian ...9
1. Jenis Penelitian ...9
2. Sumber Data ...9
3. Teknik Pengumpulan Data ... 10
4. Metode Analisis Data ... 10
H. Kerangka Teori ... 11
I. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II ... 14
TINJAUAN TEORITIK ANAK LUAR KAWIN ... 14
A. Anak yang Lahir dalam Perkawinan yang Sah... 14
B. Anak Luar Perkawinan yang Sah ... 16
C. Teori Hukum Progresif ... 18
xi
E. Teori Maqashid Syariah ... 22
BAB III ... 27
DISKURSUS TENTANG STATUS ANAK DI LUAR IKATAN PERKAWINAN ... 27
A. Perspektif Fiqih (Maqashid Syariah) ... 27
B. Perspektif Hukum Indonesia (sebelum lahirnya Putusan MK) ... 30
C. Perspektif Hak Asasi Manusia (HAM) ... 33
BAB IV ... 37
ANALISIS PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM PUTUSAN MK NOMOR 46/PUU-VIII/2010 ... 37
A. Perspektif Hukum Progresif tentang Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 ... 37
B. Perspektif Maqashid Syariah tentang Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 ... 45
C. Kekuatan Putusan Mahkamah Konstitusi ... 50
BAB V ... 52 PENUTUP ... 52 A. Kesimpulan ... 52 B. Saran ... 52 DAFTAR PUSTAKA ... 54 Lampiran ... 58
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Harta yang paling berharga bagi suatu keluarga, masyarakat dan bangsa adalah anak. Karena dipundaknya digantungkan harapan keluarga, masyarakat dan bangsa, lebih jauh lagi anak adalah pihak yang akan menentukan kemana arah bangsa, baik ke arah kesejahteraan atau ke arah keterpurukan.1 Anak merupakan potret kehidupan bangsa di masa yang akan datang, generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, berpartisipasi
serta berhak mendapat perlindungan hukum.2
Pasal 42 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 mengatur bahwasannya anak sah adalah anak yang lahir dalam atau sebagai akibat dari perkawinan yang sah. Anak yang lahir dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah akan memiliki hak dan kewajibannya di saat kedua orang tua yang melahirkan meskipun apabila keduanya telah bercerai. Suatu perceraian tidak berakibat pada hilangnya kewajiban orang tua dalam menafkahi anak-anaknya sampai dewasa atau sampai dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri.3
Perkawinan yang sah menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah
1 Liga Agnesta Krisna, Hukum Perlindungan Anak: Panduan Memahami Anak yang
Berkonflik dengan Hukum, (Yogyakarta: Deepublish, 2018), h. 1
2 Mardi Candra, Aspek Perlindungan Anak Indonesia: Analisis tentang Perkawinan di
Bawah Umur, (Jakarta: Kencana, 2018), h. 1
3 Zainuddin dan Afwan Zainuddin, Kepastian Hukum Perkawinan Sirri dan
Permasalahannya Ditinjau dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, (Yogyakarta: Deepublish,
2
tangga) yang bahagia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.4 Berbeda
dengan perkawinan yang dilaksanakan secara sirri, yang tidak dikenal dan diakui oleh negara, maka dampak yang ditimbulkan dari perkawinan sirri adalah tidak adanya perlindungan hukum atas perkawinan yang dijalani.5 Jadi dapat juga dikatakan anak sah adalah anak yang dilahirkan dari perkawinan kedua orang tua yang sah secara agama dan juga dicatatkan oleh pejabat negara yang berwenang.
Siapakah yang disebut sebagai anak luar kawin? Anak luar kawin yang dapat diakui adalah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu, namun tidak dibuahi oleh seorang pria atau ayah yang berada dalam suatu ikatan perkawinan yang sah. Kemudian Paul Scholten yang dikutip dalam buku J. Andy Hartanto memberi definisi anak di luar kawin sebagai anak-anak
yang dibenihkan dan dilahirkan di luar perkawinan yang sah.6 Lalu apakah
seorang anak yang lahir dari orang tua yang menikah dengan tidak sah atau bahkan ia lahir tidak dalam hubungan perkawinan, tidak berhak mendapatkan hak-hak anak sebagaimana yang didapatkan anak-anak lain yang dilahirkan dalam perkawinan yang sah?
Anak sebagaimana prinsipnya tidak boleh mendapat perlakuan yang berbeda atau diskriminasi, karena sesungguhnya ketika seorang anak lahir, ia sudah membawa hak-haknya sebagai anak (rights of the child). Anak dari hasil perkawinan bagaimanapun (dicatatkan, tidak dicatatkan, ataupun anak yang lahir tidak dalam hubungan perkawinan sah atau non-marital child), anak tetap dikatakan sebagai subyek hukum yang memiliki hak-hak anak yang setara (equality on rights of the child).7
4 Ahyuni Yunus, Hukum Perkawinan dan Itsbat Nikah: Antara Perlindungan dan
Kepastian Hukum, (Makassar: Humanities Genius, 2020), h. 30
5 Zainuddin dan Afwan Zainuddin, Kepastian Hukum Perkawinan Sirri dan
Permasalahannya Ditinjau dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, h. 28
6 J. Andy Hartanto, Hak Waris Anak Luar Kawin Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, (Surabaya: CV. Jakad Publishing, 2017), h. 25-26
7 Tim KPAI, Perkawinan Tidak Dicatatkan: Dampaknya bagi Anak, Artikel diakses pada tanggal 13 April 2020 dari https://www.kpai.go.id/tinjauan/perkawinan-tidak-dicatatkan-dampaknya-bagi-anak.
Bagaimanapun kondisi perkawinan atau hambatan yuridis dalam perkawinan orang tuanya, tidak seharusnya dampaknya dibebankan kepada anak. Selain itu, orang tua memiliki tanggungjawab terhadap seorang anak, meskipun anaknya dilahirkan akibat dari perkawinan tidak dicatatkan atau bahkan mon marital child sekalipun. Hubungan seorang ayah dengan anaknya tidak semata-mata disebabkan oleh ikatan perkawinan. Hal ini bersesuaian dengan putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010. Menurut MK, menjadi tidak tepat dan tidak adil apabila hukum menetapkan bahwa anak yang dilahirkan dari suatu kehamilan karena hubungan seksual di luar perkawinan hanya dinasabkan kepada perempuan tersebut sebagai ibunya. Mahkamah Konstitusi memutuskan Pasal 43 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 yang menyatakan, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan
mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya.8
Hak-hak untuk anak diantaranya diatur di dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak, Bab II Pasal 2 ayat (2-4), yaitu; Hak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan, hak atas pelayanan (Pasal 2 ayat 2), hak atas pemeliharaan dan perlindungan (Pasal 2 ayat 3), hak atas perlindungan lingkungan hidup (pasal 2 ayat 4). Untuk menjamin hak-hak tersebut, anak juga harus memperoleh perhatian dan pengawasan mengenai tingkah lakunya, karena anak dapat melakukan perbuatan yang tidak terkontrol, merugikan orang lain atau merugikan diri sendiri.9 Oleh karena itu peran orang tua sangat dibutuhkan dalam hal menjaga seorang anak dari tingkah lakunya, agar kemudian hak-haknya dapat dipenuhi.
8 Tim KPAI, Perkawinan Tidak Dicatatkan: Dampaknya bagi Anak, Artikel diakses pada tanggal 13 April 2020 dari https://www.kpai.go.id/tinjauan/perkawinan-tidak-dicatatkan-dampaknya-bagi-anak.
9 Laurensius Arliman s, Komnas HAM dan Perlindungan Anak Pelaku Tindak Pidana, (Yogyakarta: Deepublish, 2015), h. 5
4
Kata “progresif” berasal dari bahasa Inggris, progress yang artinya kemajuan. Apabila kata “hukum” diaitkan dengan kata “progress”, maka maknanya adalah hukum harus mengikuti perkembangan zaman agar mampu melayani kepentingan masyarakat berdasarkan aspek moralitas para penegak hukumnya. Sedangkan jika dikaitkan dengan penafsiran hukum, maka penafsiran hukum progresif dimaknai sebagai proses pembebasan terhadap suatu konsep kuno yang tidak dapat lagi digunakan
dalam melayani kehidupan masa kini.10
Lahirnya hukum progresif dalam khazanah pemikiran hukum, bukanlah sesuatu yang lahir tanpa sebab dan bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Hukum progresif adalah bagian dari proses pencarian kebenaran yang tidak pernah berhenti. Hukum progresif dapat dipandang sebagai konsep yang sedang mencari jati diri yang bertolak dari realitas empirik tentang bekerjanya hukum di masyarakat, berupa ketidakpuasan dan keprihatinan terhadap kinerja dan kualitas penegakan hukum di Indonesia akhir abad ke-20.11
Hukum progresif bertujuan untuk melindungi masyarakat agar mendapatkan keadilan yang sebaik-baiknya dan menentang status quo. Hukum progresif juga bisa dikenal sebagai hukum yang melindungi keadilan, atau dengan istilah lain sebagai “hukum pro keadilan”.
Maqashid Syariah menurut Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat bersal dari dua kata, yaitu maqashid dan syariah. Yang akan
dijelaskan dibawah ini:
نايتإ :دصقلاو ،هيرغ وأ ناك اعضوم ،دصقي يذّلا ءيّشلا وهو ،دصقلما عجم :دصاقلما
.هب رمأو نيّدلا نم الله نس ام ،ةعرِشلاو ةعْيرَّشلاو .ءيَّشلا
10 Sarifudin dan Kudrat Abdillah, “Progresivitas Hukum dalam Putusan Mahkamah Konstitusi NO. 46/PUU-VIII/2010”, Jurnal Yuridis, Vol. 6 No. 1, (2019), h. 100
11 M. Syamsudin, Kontruksi Baru Budaya Hukum Hakim Berbasis Hukum Progresif, (Jakarta: Kencana, 2015), h. 108
“Maqashid secara bahasa adalah bentuk jamak dari objek, yaitu objek yang dimaksudkan, entah suatu tempat atau sesuatu yang lain, dan maksud adalah yang mendatangkan sesuatu. Sedangkan Syariah adalah apa yang diberlakukan dan dilarang oleh agama.12
Pengertian Maqashid Syariah secara istilah menurut Imam
Al-Raisuni sebagaimana dikutip oleh Nuruddin Al-Khodimi adalah13:
ّنإ
ّشلا دصاقم
ّشلا تعضو تيلا تيااغلا يه ةعير
دابعلا ةحلصلم اهقيقتح لجلأ ةعير
“Maqashid Syariah adalah tujuan yang dirancang untuk mencapai kepentingan masyarakat”
Maksud-maksud dalam hal maqashid syariah, juga bisa disebut dengan hikmah-hikmah yang menjadi tujuan ditetapkannya hukum. Baik yang diwajibkan ataupun tidak. Karena, dalam setiap hukum yang disyariatkan oleh Allah untuk hamba-Nya pasti terdapat hikmah. Yang dapat diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya. Karena, Allah dengan Zat yang suci tidak akan membuat syariat dengan sewenang-wenang, sia-sia, atau
kontradiksi dengan sebuah hikmah.14
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis akan
mengemasnya dalam sebuah skripsi yang berjudul: “PERSPEKTIF HUKUM PROGRESIF DAN MAQASHID SYARIAH TENTANG STATUS ANAK DI LUAR NIKAH (STUDI ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR: 46/PUU-VIII/2010)”.
12 Ibrahim bin Musa Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat, (Mesir: Daar Ibnu Affan, 1997) h. 7 13 Nuruddin Al-Khodimi, Ilmu Maqashid Syariah, (Riyadh: Maktabatu Al-Ibikan, 2001), h. 16.
14 Yusuf Qaradhawi, Dirasah fi Fiqh Maqashid Asy-Syari’ah (baina Maqashid
Al-Kulliyah wa An-Nushush Al-Juz’iyyah), Penerjemah Arif Munandar Riswanto, Fiqih Maqashid syariah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet. 1 2017, h. 18.
6
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dijelaskan sebelumnya, maka identifikasi masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan anak sah? 2. Apa yang dimaksud dengan anak luar nikah? 3. Apa yang dimaksud dengan perkawinan yang sah?
4. Bagaimana ketentuan status anak yang lahir di luar nikah?
5. Apakah anak di luar nikah tidak berhak mendapat hak-haknya sebagai anak?
6. Apa yang dimaksud dengan aliran hukum progresif? 7. Apa yang dimaksud dengan maqashid syariah?
8. Bagaimana pandangan aliran hukum progresif dalam putusan MK No.10/PUU-VIII/2010?
9. Bagaimana pandangan maqashid syariah dalam putusan MK No.10/PUU-VIII/2010
10. Apakah Hakim Mahkamah Konstitusi sudah menerapkan pemikiran teori hukum progresif dan maqahid syariah dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010?
C. Pembatasan Masalah
Karena luasnya penelitian ini, maka perlu dilakukan pembatasan. Penelitian ini dibatasi pada perspektif hukum progresif dan maqashid syariah dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010. Penelitian ini akan menggunakan analisis teori hukum progresif dan teori maqashid syariah.
D. Rumusan Masalah
Setelah mengidentifikasi dan membatasi masalah, penulis merumuskan masalah pada penelitian ini dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pertimbangan hukum Hakim Mahkamah Konstitusi pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 dalam perspektif hukum progresif dan maqashid syariah?
2. Bagaimana perspektif hukum progresif dan maqashid syariah tentang status anak di luar ikatan perkawinan yang sah?
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang penulis paparkan sebelumnya, maka dapat dipahami bahwa tujuan yang ingin penulis capai adalah:
a. Untuk mengidentifikasi perspektif hukum progresif dan maqashid syariah tentang status anak di luar ikatan perkawinan yang sah.
b. Untuk menerangkan dengan jelas bagaimana pertimbangan hukum Hakim Mahkamah Konstitusi pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 dalam perspektif hukum progresif.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Memberikan informasi tentang perspektif hukum progresif dalam putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010.
b. Memberikan informasi tentang perspektif maqashid syariah dalam putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010.
c. Memberikan penjelasan tentang pertimbangan hukum hakim dalam Putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010.
d. Memberikan kontribusi secara ilmiah dan pengembangan kajian keilmuan dalam teori hukum konvensional dan hukum Islam.
F. Review Studi Terdahulu
Adapun penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan persoalan penelitian ini, akan tetapi terdapat perbedaan serta menampakan posisi
8
akademis dari penelitian yang dijalankan agar tidak mengulang kajian yang telah diterapkan pada penelitian sebelumnya, antara lain:
1. Jurnal yang ditulis oleh Saifullah tahun 2014, yang berjudul “Kajian Kritis Teori Hukum Progresif Terhadap Status Anak di Luar Nikah dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No.46/PUU-VIII/2010”. Jurnal ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti karena sama-sama membahas tentang kajian kritis teori hukum progresif terhadap status anak di luar nikah, yaitu mengkaji apakah putusan MK telah merespon keinginan pencari keadilan yang memberikan perlindungan hak-hak keperdataan anak luar nikah, dan apakah putusan MK telah memberikan nilai kesejahteraan dan kebahagiaan , tidak saja bagi ibu yang melahirkan juga keluarga ibunya utamanya bagi anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang sah. Yang berbeda dari penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah peneliti akan menggunakan analisa lebih dalam dengan menggunakan teori hukum progresif dan juga teori maqashid syariah.
2. Jurnal yang ditulis oleh Sarifudin dan Kudrat Abdillah tahun 2019, yang berjudul “Progresivitas Hukum dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No.46/PUU-VIII/2010”. Jurnal ini menejelaskan bahwasannya Putusan Mahkamah Konstitusi tentang status anak di luar nikah sudah memiliki semangat hukum progresif sebagaimana digagas oleh Begawan Hukum Indonesia, Satjipto Rahardjo, yang diterapkan oleh para Hakim Mahkamah Konstitusi dalam menggali dan mencari keadilan substantif walaupun harus dengan cara melampaui bunyi teks bacaan peraturan perundang-undangan (rule
breaking), demi memenuhi rasa keadilan hukum di masyarakat.
Jurnal di atas berbeda dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, karena peneliti akan menganalisa lebih dalam Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut menggunakan teori hukum progresif dan juga teori
3. Skripsi yang ditulis oleh Indar Dewi tahun 2019, yang berjudul “Hak Politik Mantan Terpidana Korupsi (Studi Komparatif Hukum Progresif dan Maqashid Al-Syariah)”. Skripsi ini membahas bahwasannya apabila mantan terpidana korupsi diboleh mencalonkan diri dalam pemilihan anggota legislatif merupakan suatu kebijakan yang keliru dan semakin menjauhkan hukum dari kemajuan hukum atau hukum progresif. Kebijakan tersebut terlalu mengutamakan aspek formalitas hukum yang berlaku tanpa mempertimbangkan aspek keadilan, kemanfaatan, dan kesejahteraan. Sedangkan dalam perspektif Maqashid Syariah menjelaskan bahwasannya pembolehan mantan narapidana korupsi menjadi caleg merupakan satu kebijakan yang berbenturan dengan tujuan kemaslahatan. Karena tujuan dibentuknya hukum adalah untuk memberikan manfaat dan sebagai upaya untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakatnya. Skripsi di atas jelas berbeda dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, karena peneliti akan menganalisa Putusan Mahkamah Konstitusi menurut perspektif hukum progresif dan teori maqashid syariah.
G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu penelitian untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya. Dari sudut tujuannya, maka penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk menemukan fakta belaka (fact finding). Melalui sifat dan tujuannya, penelitian ini diharapkan akan mendapatkan data tentang manusia, keadaan dan gejala lain yang berhubungan dengan status anak yang lahir di luar perkawinan yang sah.
2. Sumber Data
10
Data primer yang digunakan dalam penulisan skripsi ini yaitu dokumen Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 tentang Status anak yang lahir di luar perkawinan yang sah.
b. Data Sekunder
Sumber data sekunder yang penulis gunakan ialah mengutip dari Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, buku-bukum hukum konvensional, buku-buku hukum Islam serta tulisan-tulisan jurnal, dan artikel yang membahas tentang status anak di luar nikah.
3. Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Penelusuran dokumen, yakni mengkaji dan meneliti Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 tentang Status anak yang lahir di luar perkawinan yang sah.
b. Studi pustaka, yakni mengkaji buku-buku, jurnal-jurnal atau artikel-artikel yang berkaitan dengan skripsi ini.
4. Metode Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menggunakan content analysist (analisa isi) yaitu menganalisa dengan cara menguraikan dan mendeskripsikan tentang status anak di luar perkawinan yang sah melalu kajian secara mendalam terhadap Putusan Mahkamah Kontitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 .
5. Tehnik Penulisan
Teknik penulisan yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah berdasarkan buku pedoman penulisan skripsi yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Jakarta Tahun 2017.
H. Kerangka Teori
Landasan teori yang dipakai dalam penelitian ini antara lain:
1. Teori tentang tujuan hukum yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham dalam bukunya “Introduction to the moras an legislation” berpendapat bahwa hukum bertujuan untuk mewujudkan semata-mata apa yang bermanfaat bagi seseorang. Namun, karena setiap orang berbeda dengan yang lain dalam memaknai sesuatu yang bermanfaat baginya, maka menurut teori utilitis, tujuan hukum adalah untuk
menjamin adanya kebahagian sebanyak-banyaknya bagi seseorang.15
2. Teori maqashid al-syariah yang digagas oleh Imam Ibrahim bin Musa, bin Muhammad Al-Lakhimi Al Ghamathi Abu Ishak, atau yang lebih populer disebut dengan Imam Asy-Syatibi. Dibangun di atas argumen yang meyakinkan bahwa hukum syari’ah ditetapkan dengan satu tujuan yaitu kemaslahatan manusia. Kemaslahatan manusia paling pokok dan bersifat universal yang menjadi tujuan utama ditetapkan syari’ah adalah kebebasan beragama, keselamatan jiwa, keselamatan akal (intelek), kehormatan keluarga dan keamanan harta benda.16
3. Teori yang dikemukakan oleh Sajipto Raharjo tentang “hukum
progresif’ beliau mengatakan bahwa hukum bukanlah sekedar logika semata, lebih daripada itu, hukum merupakan ilmu yang sebenarnya
(genuine science), yang harus selalu dimaknai dan ditafsirkan
sehingga selalu up to date, tidak lekang oleh waktu. Hukum sebagai objek ilmu harus selalu berusaha untuk memahami segala hal di belakang hukum, keinginan untuk melihat logika sosial sosial dari
15C.S.T Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2006), h. 44
16Muhyidin, “Maqashid Al-Syari’ah (Tujuan-Tujuan Hukum Islam) Sebagai Pondasi Dasar Pengembangan Hukum”, Jurnal Gema Keadilan, Volume 6, Edisi 1, (2019), h. 30
12
hukum harus selalu lebih besar daripada logika hukum atau peraturan
perundang-undangan.17
I. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembahasan dalam penulisan, skripsi ini dibagi atas lima bab yang saling berkaitan satu sama lain.
Bab pertama dalam penelitian ini berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang yang menjadi dasar mengapa penulisan ini diperlukan, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, review study terdahulu, metode penelitian, kerangka teori, sistematika penulisan.
Kemudian bab kedua, membahas secara umum tentang tinjauan teoritik status anak yang lahir di luar perkawinan yang sah, yang berisi tentang kajian kepustakaan mengenai anak yang dilahirkan dalam perkawinan yang sah, anak di luar perkawinan yang sah, hukum progresif, maqashid syariah serta teori utilitis Jeremy Bentham.
Selanjutnya bab ketiga, dalam bab ini penulis menguraikan pembahasan tentang diskursus status anak di luar nikah, yang mana di dalamnya akan dijelaskan mengenai status anak di luar ikatan perkawinan perspektif fikih (maqashid syariah), perspektif hukum Indonesia (sebelum lahirnya putusan MK) dan perspektif hak asasi manusia (HAM).
Selanjutnya adalah bab empat, pada bab ini menjelaskan tentang analisis pertimbangan hukum hakim dalam perspektif hukum progresif dan maqashid syariah tentang status anak di luar nikah, yang mana akan diuraikan secara mendetail mengenai pertimbangan hukum hakim dalam perspektif hukum progresif dan maqashid syariah tentang status anak di luar nikah dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010.
17 Sarifudin dan Kudrat Abdillah, “Progresivitas Hukum dalam Putusan Mahkamah Konstitusi NO. 46/PUU-VIII/2010”, Jurnal Yuridis, Vol. 6 No. 1, (Juni 2019), h. 101
Adapun bab lima berisi kesimpulan sebagai jawaban atas masalah yang dirumuskan serta saran-saran yang diberikan untuk penulis selanjutnya yang akan mengkaji penelitian ini.
14 BAB II
TINJAUAN TEORITIK ANAK LUAR KAWIN A. Anak yang Lahir dalam Perkawinan yang Sah
Anak sah sebagaimana diatur dalam pasal 42 UUP, menetapkan bahwa anak sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat suatu perkawinan yang sah. Rumusan ini sejalan dengan ketentuan pasal 250 KUH Perdata. Dalam pasal tersebut dikatakan bahwa setiap anak yang dilahirkan atau ditumbuhkan sepanjang perkawinan memperoleh si suami sebagai bapaknya. Inilah yang disebut sebagai “persangkaan undang-undang”.18
Kata “sepanjang perkawinan”, artinya sejak adanya perkawinan sampai perkawinan tersebut putus. Adanya perkawinan berarti pada saat itu telah dilangsungkan perkawinan antara sepasang suami istri secara sah. Perkawinan itu putus bisa terjadi karena dua hal, yaitu putus karena perceraian dan putus karena suami atau istri salah satunya meninggal dunia. Kata “ditumbuhkan” merupakan terjemahan dari kata “verwekt”, yang diartikan dengan “dibenihkan”. Kata “suami” dalam rangkaian kalimat “memperoleh si suami sebagai ayahnya”, maksudnya adalah
suami dari perempuan yang melahirkan anak tersebut.19
Dari pemaparan pasal 250 KUH Perdata di atas, dapat dilihat dua ukuran yang dipakai oleh pembuat Undang-undang dalam menetapkan siapa ayah seorang anak, jika seorang anak lahir dalam keluarga yang orang tuanya menikah secara sah. Ukuran pertama adalah: anak itu dilahirkan sepanjang perkawinan orang tuanya, artinya dalam hal ini tidak dipermasalahkan sejak kapan anak itu dibenihkan atau dikandung, maka dapat dikatakan bahwa pada asasnya, untuk dapat menetapkan keabsahan
18 Libertus Jehani, Perkawinan, Apa Risiko Hukumnya? (Jakarta: Praninta Offset, 2008), h. 48.
19 J. Satrio, Hukum Keluarga Tentang Kedudukan Anak dalam Undang-Undang, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, cet ke-1, 2000), h. 19.
seorang anak, menurut KUH Perdata adalah tidak menjadi ukuran kapan anak itu dibenihkan, baik sebelum atau dalam masa perkawinan. Ukuran kedua adalah: anak yang dilahirkan itu ditumbuhkan atau dibenihkan dalam atau sepanjang perkawinan yang sah. Dalam hal ini tidak disyaratkan kapan anak itu dilahirkan sepanjang perkawinan yang sah, tetapi yang menjadi tolak ukur penting adalah kapan anak tersebut dibenihkan.20
Dalam Kompilasi Hukum Islam perihal anak sah diatur dalam pasal 99 KHI, yaitu:
a) Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. b) Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan
dari istri tersebut.
Berkaitan dengan perkawinan yang sah menurut pasal 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 mengatur bahwa perkawinan adalah sah
apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan
kepercayaannya dan tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku.21
Menurut Pasal 55 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, seorang anak sah dapat dibuktikan dengan akta autentik yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang. Bila akta kelahiran tersebut tidak ada, maka Pengadilan adalah instansi yang berwenang untuk menetapkan tentang status seorang anak setelah mengadakan pemeriksaan yang teliti berdasarkan bukti-bukti yang memenuhi syarat. Atas dasar penetapan Pengadilan tersebut, maka instansi pencatat kelahiran yang ada dalam daerah hukum Pengadilan yang bersangkutan mengeluarkan akta kelahiran
bagi anak yang bersangkutan.22
20 J. Satrio, Hukum Keluarga Tentang Kedudukan Anak dalam Undang-Undang, h. 19-20.
21 Zainuddin dan Afwan Zainuddin, Kepastian Hukum Perkawinan Sirri dan
Permasalahannya Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, (Yogyakarta: Deepublish.
2017), h. 29.
16
B. Anak Luar Perkawinan yang Sah
Sebagaimana telah dibahas sebelumnya bahwasannya anak sah adalah anak yang lahir dalam atau sebagai akibat suatu perkawinan yang sah, sebaliknya anak luar kawin berarti anak yang dibuahi atau dilahirkan di luar perkawinan yang sah. Anak luar kawin tidak memiliki kedudukan yang sempurna seperti anak sah, karena asal usulnya tidak didasarkan pada hubungan yang sah antara ayah dan ibunya sebagai suami istri yang berkewajiban mendidik dan memelihara anak-anaknya yang diakui dari
perkawinan mereka yang sah.23
Seorang anak dalam keadaan apapun akan tetap dinasabkan kepada ibunya, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt:
ْمَُنَْدَلَو ِئَّلا َّلَِّإ ْمُُتُاَهَّمُأ ْنِإ
“Sesungguhnya Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka”. (Q.S. Al-Mujadalah:2)
Para ulama sepakat mengatakan bahwasannya nasab seorang anak kepada ayahnya tidak dapat diakui apabila ia dilahirkan dari hasil perzinahan, sehingga anak zina tidak boleh dihubungkan dengan nasab ayahnya, meskipun secara biologis berasal dari benih laki-laki yang membuahi ibunya. Alasanya bahwa nasab merupakan karunia dan nikmat, sedangkan perzinahan merupakan pelanggaran dalam Agama Islam
(jarimah) yang tidak layak sedikitpun mendapatkan balasan nikmat,
melainkan balasan berupa hukuman, baik dera seratus kali ataupun rajam.24
Dalam kajian Hukum Islam, untuk mengkategorikan seorang anak luar nikah dengan anak sah, dapat ditetapkan dengan melihat kepada sedikitnya tiga aspek. Pertama, apabila janin tersebut dibenihkan dalam perkawinan yang sah atau tidak sah. Jika janin tersebut dibenihkan setelah perkawinan yang sah meskipun dilahirkan setelah ikatan perkawinannya
23 Kelik Wardioni dkk, Hukum Perdata, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2018), h. 99.
24 Nurul Hak, “Kedudukan dan Hak Anak Luar Nikah Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 Tentang Status Anak Luar Nikah”, Mazani: Wacana
putus karena meninggal atau karena perceraian, maka anak tersebut dinyatakan sebagai anak yang sah, dan dinasabkan kepada ibu bapaknya. Tetapi jika janin tersebut dibenihkan di luar perkawinan yang sah, maka anak tersebut dinyatakan sebagai anak tidak sah atau anak luar nikah.
Kedua, apabila anak tersebut selama ibunya mengandung telah memenuhi batas minimal masa kehamilan atau tidak. Dalam Islam disebutkan bahwa masa kehamilan dan menyusui adalah tiga puluh bulan, dengan ketentuan bahwa idealnya masa menyusui adalah dua tahun penuh (dua puluh empat bulan), sehingga dari ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa batas minimal kehamilan adalah enam bulan dari pernikahan. Jadi, jika seorang anak lahir setelah enam bulan dari pernikahan, maka anak tersebut secara syar’i dipandang sebagai anak yang sah dari suami istri tersebut, tetapi jika anak tersebut dilahirkan dalam keadaan normal sebelum enam bulan dari pernikahan, maka anak tesebut harus dinyatakan sebagai anak zina, karena dapat dipastikan bahwa anak itu telah dibenihkan sebelum pernikahan dilaksanakan.
Ketiga, masa kelahiran anak tersebut tidak melebihi dua tahun sejak suami istri bercerai atau suaminya mafqud (hilang berdasarkan keputusan pengadilan), maka anak yang lahir itu adalah anak yang sah, tetapi apabila kelahiran anak tersebut melebihi masa dua tahun dari putusnya pernikahan atau sejak dinyatakan suaminya hilang, maka status anak tersebut adalah anak tidak sah.25
Pasal 251 KUH Perdata menyatakan bahwa: “keabsahan seorang
anak yang dilahirkan sebelum hari keseratus delapan puluh dalam perkawinan suami-istri dapat diingkari oleh suami”. Dalam pasal tersebut
dijelaskan bahwa seorang suami dapat mengingkari seorang anak adalah benar-benar anak yang ia benihkan atau tidak, dengan cara memperhitungkan melalui pengalaman bidang kedokteran dan biologi, bahwasannya Pembuat Undang-undang pada saat itu mengambil patokan waktu minimum seorang anak untuk ada dalam janin ibunya untuk bisa
25 Nurul Hak, “Kedudukan dan Hak Anak Luar Nikah Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 Tentang Status Anak Luar Nikah”, Mazani: Wacana
18
hidup adalah 180 (seratus delapan puluh) hari. Jadi seorang anak paling tidak harus ada dalam kandungan ibunya selama 180 (seratus delapan puluh) hari , agar bisa hidup. Hal itu berarti, apabila hubungan antara suami istri dilakukan setelah dilangsungkannya perkawinan, maka paling tidak anak tersebut baru akan lahir setelah 179 (seratus tujuh puluh sembilan) hari setelah perkawinan. Apabila anak tersebut lahir setelah hari ke 179 (seratus tujuh puluh sembilan), maka Pembuat Undang-undang patut mempersangkan bahwa anak tersebut dibenihkan oleh suami si perempuan yang melahirkan anak tersebut, namun sebaliknya apabila si anak lahir sebelum hari ke-179 (seratus tujuh sembilan), maka pembuat Undang-undang dapat mempersangkakan bahwa si anak tersebut
dibenihkan sebelum si perempuan yang melahirkannya menikah.26
C. Teori Hukum Progresif
Istilah progresif adalah kata yang berasal dari bahasa Inggris, asal katanya adalah progress yang artinya maju. Hukum progresif berarti hukum yang bersifat maju. Istilah hukum progresif diperkenalkan oleh Satjipto Rahardjo yang dilandasi oleh pemikiran bahwasannya hukum adalah untuk manusia. Adapun pengertian hukum progresif adalah mengubah secara cepat, melakukan pembalikan yang mendasar dalam teori dan praktis hukum, serta melakukan berbagai terobosan. Pembebasan tersebut dilakukan atas dasar prinsip bahwasannya hukum untuk manusia dan bukan sebaliknya, dan hukum itu tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk sesuatu yang luas, harga diri manusia, kebahagiaan, kesejahteraan,
dan kemuliaan manusia.27
Lahirnya hukum progresif atau Ilmu Hukum Progresif (IHP) didorong oleh adanya keprihatinan atas kontribusi rendah ilmu hukum di Indonesia, turut mencerahkan bangsa Indonesia keluar dari krisis, termasuk krisis di bidang hukum. Namun itu bukan satu-satunya alasan,
26 J. Satrio, Hukum Keluarga Tentang Kedudukan Anak dalam Undang-Undang, h. 25-26.
27 Hono Sejati, Rekonstruksi Pemeriksaan Perkara di Pengadilan Hubungan Industrial
Berbasis Nilai Cepat, Adil, dan Murah (Studi Kasus di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Yogyakarta), (Yogyakarta: PT Citra Aditya Bakti, 2018), h. 46.
menurut Satjipto Raharjo, IHP tidak hanya dikaitkan pada keadaan sesaat saja. IHP melampaui pikiran sesaat dan memiliki nilai ilmiah sendiri. IHP dapat diproyeksikan dan dibicarakan dalam konteks keilmuan secara universal. Oleh karena itu, IHP dihadapkan pada dua medan sekaligus, yaitu Indonesia dan dunia. Ini didasarkan pada argumen bahwa ilmu hukum tidak dapat bersifat steril dan mengisolasi diri dari perubahan yang terjadi di dunia. Ilmu pada prinsipnya harus selalu mencerahkan masyarakat yang dilayani. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, maka ilmu hukum harus bersifat progresif. Ilmu hukum normatif yang berbasis negara dan pikiran abad ke-19 misalnya, tidak akan berhasil mencerahkan
masyarakat abad ke-20 dengan perubahan dan perkembangannya.28
Konsep penting dari Satjipto Rahardjo, yaitu konsep
“dekonstruksinya”, karena hukum progresif hakikatnya sebagai bentuk perlawanan terhadap kemapanan dan juga sebagai sebuah gerakan moral untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia. Dekonstruksi hukum model Satjipto Rahardjo dikenal atau disebut dengan “rule-breaking” yang harus dibedakan dengan konsep “rule-breakthrough”. Rule-breakthrough adalah penemuan hukum dalam tatanan, dimaksud penemuan hukum dalam tatanan, yaitu pemaknaan, perubahan dan perkembangan yang berlangsung dalam tatanan, artinya penemuan hukum yang tidak keluar dari makna yang ada di dalam teks, yaitu penafsiran hukum atau penemuan hukum itu terikat oleh konsep teks tersebut. Penemuan hukum yang terikat oleh struktur awalnya, dan tidak berupaya untuk keluar dari struktur yang melingkupinya, misalnya penegak hukum menafsirkan teks undang-undang apakah memperluasnya atau mempersempitnya, menambahkan makna baru atau menghilangkanya, tetap dilandaskan pada lingkup aturan yang menjadi dasar/landasan pijaknya.29
Berbeda dengan konsep di atas, konsep rule-breaking, adalah konsep baru yang lahir bersamaan dengan konsep hukum progresif
28 M. Syamsudin, Kontruksi Baru Budaya Hukum Hakim Berbasis Hukum Progresif, h. 105-106.
29 Anthon F. Susanto, Filsafat dan Teori Hukum Dinamika Tafsir Pemikiran Hukum di
20
dan/atau menjadi bagian utama komponen hukum progresif Satjipto Rahardjo itu. Rule-breaking tidak hanya dijadikan sebagai “cara memahami”, yang digambarkan oleh Satjipto dengan “jatuh bangunya hukum” atau sebuah tatanan yang selalu berada pada wilayah order dan
disorder, rule-breaking sekaligus digunakan untuk mendekonstruksikan
logosentrisme. Logosentrisme dapat dikatakan sebagai “nalar yang mapan”, yaitu nalar yang membatasi dan mengungkung, logosentrisme adalah struktur yang mapan yang membungkus pergerakan atau perubahan, logosentrisme ini pula yang mengakibatkan perubahan atau pergerakan menjadi lambat. Logosentrisme, bagi Satjipto Raharjo adalah “formalisme hukum”, Satjipto merasa khawatir suatu saat nanti apabila konsep progresifnya hanya dipahami dalam pengertian yang umum atau generik, sehingga konsep beliau tidak akan ada bedanya dengan konsep
lain yang sejenis, misalnya konsep Mochtar dengan hukum
pembangunannya. Untuk menghindari hal itu, maka beliau memasukkan atau menggunakan istilah breaking ke dalamnya. Melalui
rule-breaking ini, maka konsep hukum progresif Satjipto Rahardjo kemudian
mengalami pergeseran menjadi konsep transgresif, yaitu perubahan atau pergeseran melampaui atau keluar dari tatanan.30
Proses penemuan hukum oleh hakim dikarenakan hukum yang ada
(ius constitutum) tidak ditemukan untuk menyelesaikan suatu kasus
tertentu yang ditanganinya disebut dengan Rechvinding. Proses rechvinding dilegalkan dalam sistem hukum di Indonesia dan telah diperintahkan oleh Undang-undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Sebagaimana disebutkan pada pasal 10 ayat (1) Undang-undang tersebut, “pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib memeriksa dan mengadilinya.31
30 Anthon F. Susanto, Filsafat dan Teori Hukum Dinamika Tafsir Pemikiran Hukum di
Indonesia, h. 63-64.
31 Moh. Ali wafa, Hukum Perkawinan di Indonesia Sebuah Kajian dalam Hukum Islam
Perintah Undang-undang jelas, bahwa hakim harus mengadili setiap perkara yang diajukan kepadanya. Namun, nyatanya terdapat beberapa kasus di masyarakat yang belum diatur dengan jelas dan kongret dalam peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, seorang hakim yang diwajibkan mengadili perkara tersebut diberi wewenang untuk melaksanakan proses penemuan hukum atas dasar pasal Undang-undang tersebut yang berbunyi “hakim dan konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.32
D. Teori Utility Jeremy Bentham
Utilitarianisme merupakan bagian dari etika filsafat yang mulai berkembang pada abad ke-19 sebagai kritik atas dominasi hukum alam. Sebagai teori etis, secara sistematis teori utilitarianisme dikembangkan oleh Jeremy Bentham dan muridnya, John Stuart Mill. Utilitarianisme disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happiness theory) karena utilitarianisme dalam konsepsi Bentham berprinsip “the greatest
happiness of the greatest number”. Kebahagiaan tersebut menjadi
landasan moral utama kaum utilitarianisme, tetapi kemudian konsep tersebut direkontruksi Mill menjadi bukan kebahagiaan pelaku saja,
melainkan demi kebahagiaan semua.33
Tujuan utilitas dimaksudkan untuk menghasilkan kebahagiaan dan kesenangan sebesar-besarnya untuk manusia sebanyak-banyaknya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Jeremy Bentham yang menyatakan bahwa tujuan hukum adalah the greatest good of the greatest number (kebahagiaan yang terbesar bagi manusia dalam jumlah yang sebesar-besarnya). Artinya, menurut teori ini, masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang mencoba memperbesar kebahagiaan dan memperkecil ketidakbahagiaan atau masyarakat yang mencoba memberi kebahagiaan
32 Moh. Ali Wafa, Hukum Perkawinan di Indonesia Sebuah Kajian dalam Hukum Islam
dan Hukum Materil, h. 215.
22
yang sebanyak mungkin kepada lingkungan sekitarnya, agar kesulitan dan ketidakbahagiaan tidak dirasakan atau dijauhkan dari rakyat.34
Mengenai hukum, menurut Jeremy Bentham dengan teori utilitasnya, hukum bertujuan semata-mata apa yang berfaedah bagi orang. Pendapat ini bertitik berat pada hal-hal yang berfaedah bagi orang yang banyak dan bersifat umum tanpa memperhatikan soal keadilan. Maka teori ini menetapkan bahwa tujuan hukum ialah untuk memberikan faedah
sebanyak-banyaknya.35
E. Teori Maqashid Syariah
Maqashid Syariah menurut Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat bersal dari dua kata, yaitu maqashid dan syariah. Yang akan
dijelaskan dibawah ini:
نايتإ :دصقلاو ،هيرغ وأ ناك اعضوم ،دصقي يذّلا ءيّشلا وهو ،دصقلما عجم :دصاقلما
.ءيَّشلا
.هب رمأو نيّدلا نم الله نس ام ،ةعرِشلاو ةعْيرَّشلاو
“Maqashid secara bahasa adalah bentuk jamak dari objek, yaitu objek yang dimaksudkan, entah suatu tempat atau sesuatu yang lain, dan maksud adalah yang mendatangkan sesuatu. Sedangkan Syariah adalah apa yang diberlakukan dan dilarang oleh agama.36
Pengertian Maqashid Syariah secara istilah menurut Imam
Al-Raisuni sebagaimana dikutip oleh Nuruddin Al-Khodimi adalah37:
ّنإ
ّشلا دصاقم
ّشلا تعضو تيلا تيااغلا يه ةعير
دابعلا ةحلصلم اهقيقتح لجلأ ةعير
.
“Maqashid Syariah adalah tujuan yang dirancang untuk mencapai kepentingan makhluk”
34 Dey Ravena dan Kristian, Kebijakan Kriminal (Criminal Policy), (Jakarta: Kencana, 2017), h. 43.
35 Tiromsi Sitanggang, Aspek Hukum Kepemilikan Rekam Medis Terhadap Perlindungan
Hak Pasien, (Medan: Yayasan Kita Menulis, 2019), h.18.
36 Ibrahim bin Musa Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat, (Mesir: Daar Ibnu Affan, 1997) h. 7 37 Nuruddin Al-Khodimi, Ilmu Maqashid Syariah, (Riyadh: Maktabatu Al-Ibikan, 2001), h. 16.
Maksud-maksud dalam hal maqashid syariah, juga bisa disebut dengan hikmah-hikmah yang menjadi tujuan ditetapkannya hukum. Baik yang diwajibkan ataupun tidak. Karena, dalam setiap hukum yang disyariatkan oleh Allah untuk hamba-Nya pasti terdapat hikmah. Yang dapat diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya. Karena, Allah dengan Zat yang suci tidak akan membuat syariat dengan sewenang-wenang, sia-sia, atau
kontradiksi dengan sebuah hikmah.38
Tujuan pemberlakuan hukum dalam Islam menurut Imam Asy-Syatibi sebagaimana dikutip dalam buku Muhammad Syukri Albani Nasution dan Rahmat Hidayat Nasution dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1) Al-Dharuriyat (keperluan primer/atas) yang merupakan penentu adanya kemaslahatan dunia dan akhirat. Ada lima unsur pokok yang harus dijaga dalam maqashid ad-dharuri, yaitu: (a) menjaga agama
(hifdz din); (b) menjaga nyawa (hifdz al-nafs); (c) menjaga keturunan (hifdz an-nasl); (d) menjaga harta (hifdz maal); (e) memelihara akal (hifdz aql).
2) Al-Hajiyyat (keperluan sekunder), adalah kebutuhan untuk mencapai sebuah kemaslahatan, namun apabila tidak diusahakan, maka tidak akan membuat rusaknya maslahat, hanya akan menimbulkan
masyaqqah (kesulitan).
3) Al-Tahsini (keperluan tersier). Al-tahsini merupakan sesuatu yang dianggap baik menurut pandangan umum, namun apabila tidak diusahakan, maka tidak akan merusak kemaslahatan dan tidak juga menimbulkan kesulitan, hanya saja hal tersebut hanya bersifat
melengkapi kedua maslahat sebelumnya.39
38 Yusuf Qaradhawi, Dirasah fi Fiqh Maqashid Asy-Syari’ah (baina Maqashid
Al-Kulliyah wa An-Nushush Al-Juz’iyyah), Penerjemah Arif Munandar Riswanto, Fiqih Maqashid Syariah, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet. 1 2017), h. 18.
39 Muhammad Syukri Albani Nasution dan Rahmat Hidayat Nasution, Filsafat Hukum &
24
Kategori al-daruriyah memiliki tingkat pertama dalam hal
mencapai, menjamin, dan melestarikan kemaslahatan bagi manusia, karena merupakan sesuatu yang harus diwujudkan oleh seluruh umat. Tatanan kehidupan tidak akan tegak tanpanya, bahkan mengalami kehancuran.
Dalam kajian tujuan hukum Islam, menurut Imam Asy-Syatibi sebagaimana dikutip dalam buku Muhammad Syukri Albani Nasution dan Rahmat Hidayat Nasution, beliau mengatakan bahwa doktrin maqashid
syariah merupakan kelanjutan dari konsep maslahah sebagaimana telah
dicanangkan sebelum masa Asy-Syatibi. Kemudian beliau menyatakan bahwa dalam ajaran maqashid syariah tujuan hukum adalah satu, yaitu kebaikan dan kesejahteraan umat manusia. Kandungan maqashid syariah adalah pada kemaslahatan. Kemaslahatan tersebut harus kita lihat dalam dinamika dan pengembangan hukum sebagai sesuatu yang mengandung nilai-nilai filosofis dari hukum-hukum yang ditetapkan Allah Swt kepada manusia. Berdasarkan penelitian para ahli ushul fiqh, dalam rangka mewujudkan kemaslahatan di dunia dan akhirat, maka harus ada lima unsur pokok yang harus dipelihara dan diwujudkan, yaitu agama (hifz
al-din), jiwa (hifz al-nafs), akal (hifz al-aql), keturunan (hifz al-nasl), dan
harta (hifz al-mal).40
Imam Raisuni dalam Kitab Nadzariyatu Maqashid Inda
Al-Imam Asy-Syatibi, mendefinisikan Al-Maslahah, adalah sebagai berikut:
اقيرط نوكي اموأ ةذللا نع ةرابع ةعفنلما نأو ،ةرضلما عفد وأ ةعفنلما بلج يه ةحلصلما
هيلإ اقيرط نوكي ام وأ لملأا نع ةرابع ةرضلماو ،اهيلإ
.
“Maslahat adalah sesuatu yang membawa manfaat dan menolak bahaya, dan manfaat adalah kesenangan atau kebahagian dan jalan
40 Muhammad Syukri Albani Nasution dan Rahmat Hidayat Nasution, Filsafat Hukum &
yang menuju kepada hal tersebut sedangkan bahaya adalah rasa sakit atau jalan yang menuju kepada hal itu”.41
Mengenai pembagian maslahah, Imam Al-Raisuni dalam Kitab
Nadzariyatu Al-Maqashid Inda Al-Imam Asy-Syatibi, menjelaskan sebagai
berikut:
ةحلصلما ميسقت
اهيف عرشلا مكح لىإ رظنلبا
ةحلصمو ،ةبرتعم ةحلصم :عاونأ ةثلاث لىإ
ةلسرم ةحلصمو ،ةاغلم
.
“pembagian maslahah dengan melihat kepada hukum syar’i di dalamnya kepada tiga jenis: maslahah mu’tabarah, maslahah mulghah dan maslahah mursalah”.
:لا َّوأ
لَّو لايلق لَّ ،دسافلما نم ءيشب ةبوشم يرغ ،ةصلاخ يه ،اًعرش ةبرتعلما لحاصلما نأ
اًيرثك
.
“Pertama: bahwasannya maslahah mu’tabarah dalam syar’i adalah sebuah maslahah yang suci, tidak tercemar oleh kejahatan apapun, baik sedikit maupun banyak.42
َث
يه انمإ ،ةاغللما ةحلصلما :اًيِن
تيلا
تييأ
صنلا
مدعب
اهرابتعا
.
يأ
ام
دق
هنظي
ضعبلا
،ةحلصم
نكل
عراشلا
ميكلحا
ىنَ
هنع
.
“Kedua: maslahah mulghoh, yaitu maslahah yang tidak terdapat nash yang mengakuinya. Atau apa yang dikira oleh sebagian orang terdapat maslahah, akan tetapi Syar’i melarangnya.43
:ًاثلث
ةلسرلما ةحلصلما
يه
اهغلي لمو عراشلا اهبرتعي لم تيلاو
“Ketiga: Maslahah Mursalah adalah maslahah yang tidak diakui oleh syar’i dan tidak juga dibatalkan”.44
41 Ahmad Al-Raisuni, Nadzariyatu Al-Maqashid Inda Al-Imam Asy-Syatibi, (Riyadh: Daar Al-Alamiyah Lil Kitab Al-Islami, 1992), h. 234.
42 Ahmad Al-Raisuni, Nadzariyatu Al-Maqashid Inda Al-Imam Asy-Syatibi, h. 237. 43 Ali Jarisyah, Al-Maslahah Al-Mursalah Muhawalatan Libastiha wa Nazrotan Fiiha, (Madinah: Jamiah Islamiyah bil Madinah Al-Munawwaroh, 1997), h. 16.
26
Imam Al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Zakyyah dalam jurnalnya menetapkan beberapa syarat agar kemaslahatan (al-maslahah) dapat dijadikan sebagaiman penemuan hukum, antara lain:
1) Kemaslahatan itu termasuk kategori peringkat al-daruriyah. Artinya bahwa untuk menetapkan suatu kemaslahatan, tingkat keperluannya harus diperhatikan, apakah akan sampai mengancam eksistensi lima unsur pokok maslahah atau belum sampai pada batas tersebut.
2) Kemaslahatan itu bersifat qat’i. Artinya yang dimaksud dengan kemaslahatan tersebut benar-benar telah diyakini sebagai maslahah tidak didasarkan hanya dugaan.
3) Kemaslahatan itu bersifat kulli. Artinya bahwa kemaslahatan itu berlaku secara umum dan kolektif, tidak bersifat individual, maka syarat lain yang harus dipenuhi adalah maslahat tersebut sesuai dengan
maqashid al-syar’iyyah.45
44 Ali Jarisyah, Al-Maslahah Al-Mursalah Muhawalatan Libastiha wa Nazrotan Fiiha, h. 16.
45 Zakyyah, “Nasab Anak Luar Kawin Menurut Hifzhu Nasl”, Jurnal Yudisial, Vol. 9, No. 2, (2016), h. 209.
27 BAB III
DISKURSUS TENTANG STATUS ANAK DI LUAR IKATAN PERKAWINAN
A. Perspektif Fiqih (Maqashid Syariah)
Setiap anak yang dilahirkan pada prinsipnya adalah dalam keadaan suci dan tidak mempunyai beban dosa sedikit pun oleh perbuatan siapapun termasuk dosa yang dilakukan kedua orangtuanya. Rasulullah Saw pernah bersabda yang artinya, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (yakni dalam keadaan suci bersih jiwanya, ber-Islam dan ber-iman kepada Allah). Namun, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya penganut
agama yahudi, Nasrani, ataupun Majusi (HR Bukhori dan Muslim).”
Kesucian fitrah seperti itu mencakup setiap anak, termasuk juga yang dilahirkan akibat hubungan di luar nikah. Dalam hal ini, agama menilai anak seperti itu dalam ketakwaannya kepada Allah atau dalam ibadah dan ketakwaannya, maupun dengan hubungannya sesama manusia adalah sama saja dengan anak-anak lain yang dilahirkan secara sah akibat
hubungan pernikahan yang diakui.46
Istilah anak di luar nikah dalam terminologi fikih tidak ditemukan. Ulama fikih menggunakan istilah anak yang dilahirkan di luar perkawinan dengan anak zina. Anak zina adalah anak yang dilahirkan akibat dari hubungan suami isteri yang tidak sah. Hubungan yang tidak sah yang dimaksud adalah hubungan badan antara dua orang yang tidak terikat tali
perkawinan yang harus memenuhi syarat dan rukunnya.47
Para Ulama sepakat, jika seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita, kemudian ia hamil dari hasil zina tersebut dan melahirkan seorang
46 Muhammad Bagir, Fiqih Praktis II Menurut Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Pendapat
Para Ulama, (Bandung: Karisma, 2018), h. 26-27.
47 Kudrat Abdillah dan Maylissabet, Sejarah Sosial Status dan Hak Anak di Luar Nikah, (Pamekasan: Duta Media Publishing, 2020), h. 17-18.
28
anak, maka anak tersebut dinasabkan kepada ibunya dan tidak ada hubungan nasab dengan laki-laki yang menghamili ibunya.48 Hal tersebut sebagaimana hadist Rasulullah Saw:
ىَّلَص َِّبَِّنلا َّنَأ(،َرَمُع ِنْبا ِنَع ،ٌعِفَنَ ِْنَِثَّدَح :َلاَق ،ٌكِلاَم اَنَ ثَّدَح ،ٍْيرَكُب ِنْب َيََْيَ اَنَ ثَّدَح
ُالله
ِهِتَأَرْماَو ٍلُجَر َْيَْب َنَع َلَّ َمَّلَسَو ِهْيَلَع
َقَّرَفَ ف ،اَهِدَلَو ْنِم ىَفَ تْ ناَف
)ِةَأْرَمْلِبا َدَلَوْلا َقَْلحَأَو ،اَمُهَ نْ يَ ب
yang artinya: “Yahya bin bukairin memberitahu kami, Malik memberitahu
kami, Nafi memberitahu kami, dari Ibnu Umar Ra bahwa pada zaman Rasulullah Saw ada seorang laki-laki yang menuduh instrinya berbuat zina serta tidak mengakui anak yang hasil istrinya, maka Rasulullah Saw memisahkan keduanya dan menisbatkan anak kepada ibunya. (HR.
Bukhori: 5/2036).49
Nasab sebagaimana dijelaskan oleh Wahbah Az-Zuhaili adalah:
طبتريو ،ةرسلأا اهيلع موقت تيلا مئاعدلا ىوقأ بسنلا
موقت ةلصلا نم مئاد طبارب اهدارفأ هب
.هدلو نم ضعب بلأاو ،هيبأ ءزج دلولاف ،ةضيغبلاو ةيئزلجاو مدلا ةدحو ساسأ ىلع
“Nasab merupakan pilar terkuat yang menjadi dasar berdirinya keluarga, dan anggotanya terikat oleh ikatan yang abadi berdasarkan hubungan darah, parsial dan penuh kebencian, sehingga anak adalah bagian dari ayahnya, dan ayah adalah bagian dari putranya”.50
Secara lebih jelasnya, nasab adalah ikatan keluarga atau keturunan sebagai hubungan darah, baik karena hubungan darah ke atas (bapak, kakek, ibu, nenek, dan seterusnya), ke bawah (anak, cucu, dan seterusnya), maupun ke samping (saudara, paman, dan lain-lain). Dengan kata lain,
48 Gus Arifin dan Sundus Wahidah, Ensiklopedia Fikih Wanita: Pembahasan Lengkap
Fikih Wanita dalam Pandangan Empat Mazhab, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2018), h.
541.
49 Muhammad bin Ismail Abu Abdillah Al-Bukhori, Shohih Bukhori Juz 7, (Qohiroh: Daar El Wa’yi, 1997), h. 56
50 Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu Juz 10, (Damaskus: Daar El Fikr, 1422), h. 247