• Tidak ada hasil yang ditemukan

Maqashid Syariah menurut Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat bersal dari dua kata, yaitu maqashid dan syariah. Yang akan

dijelaskan dibawah ini:

نايتإ :دصقلاو ،هيرغ وأ ناك اعضوم ،دصقي يذّلا ءيّشلا وهو ،دصقلما عجم :دصاقلما

.ءيَّشلا

.هب رمأو نيّدلا نم الله نس ام ،ةعرِشلاو ةعْيرَّشلاو

“Maqashid secara bahasa adalah bentuk jamak dari objek, yaitu objek yang dimaksudkan, entah suatu tempat atau sesuatu yang lain, dan maksud adalah yang mendatangkan sesuatu. Sedangkan Syariah adalah apa yang diberlakukan dan dilarang oleh agama.36

Pengertian Maqashid Syariah secara istilah menurut Imam

Al-Raisuni sebagaimana dikutip oleh Nuruddin Al-Khodimi adalah37:

ّنإ

ّشلا دصاقم

ّشلا تعضو تيلا تيااغلا يه ةعير

دابعلا ةحلصلم اهقيقتح لجلأ ةعير

.

“Maqashid Syariah adalah tujuan yang dirancang untuk mencapai kepentingan makhluk”

34 Dey Ravena dan Kristian, Kebijakan Kriminal (Criminal Policy), (Jakarta: Kencana, 2017), h. 43.

35 Tiromsi Sitanggang, Aspek Hukum Kepemilikan Rekam Medis Terhadap Perlindungan

Hak Pasien, (Medan: Yayasan Kita Menulis, 2019), h.18.

36 Ibrahim bin Musa Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat, (Mesir: Daar Ibnu Affan, 1997) h. 7 37 Nuruddin Al-Khodimi, Ilmu Maqashid Syariah, (Riyadh: Maktabatu Al-Ibikan, 2001), h. 16.

Maksud-maksud dalam hal maqashid syariah, juga bisa disebut dengan hikmah-hikmah yang menjadi tujuan ditetapkannya hukum. Baik yang diwajibkan ataupun tidak. Karena, dalam setiap hukum yang disyariatkan oleh Allah untuk hamba-Nya pasti terdapat hikmah. Yang dapat diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya. Karena, Allah dengan Zat yang suci tidak akan membuat syariat dengan sewenang-wenang, sia-sia, atau

kontradiksi dengan sebuah hikmah.38

Tujuan pemberlakuan hukum dalam Islam menurut Imam Asy-Syatibi sebagaimana dikutip dalam buku Muhammad Syukri Albani Nasution dan Rahmat Hidayat Nasution dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:

1) Al-Dharuriyat (keperluan primer/atas) yang merupakan penentu adanya kemaslahatan dunia dan akhirat. Ada lima unsur pokok yang harus dijaga dalam maqashid ad-dharuri, yaitu: (a) menjaga agama

(hifdz din); (b) menjaga nyawa (hifdz al-nafs); (c) menjaga keturunan (hifdz an-nasl); (d) menjaga harta (hifdz maal); (e) memelihara akal (hifdz aql).

2) Al-Hajiyyat (keperluan sekunder), adalah kebutuhan untuk mencapai sebuah kemaslahatan, namun apabila tidak diusahakan, maka tidak akan membuat rusaknya maslahat, hanya akan menimbulkan

masyaqqah (kesulitan).

3) Al-Tahsini (keperluan tersier). Al-tahsini merupakan sesuatu yang dianggap baik menurut pandangan umum, namun apabila tidak diusahakan, maka tidak akan merusak kemaslahatan dan tidak juga menimbulkan kesulitan, hanya saja hal tersebut hanya bersifat

melengkapi kedua maslahat sebelumnya.39

38 Yusuf Qaradhawi, Dirasah fi Fiqh Maqashid Asy-Syari’ah (baina Maqashid

Al-Kulliyah wa An-Nushush Al-Juz’iyyah), Penerjemah Arif Munandar Riswanto, Fiqih Maqashid Syariah, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet. 1 2017), h. 18.

39 Muhammad Syukri Albani Nasution dan Rahmat Hidayat Nasution, Filsafat Hukum &

24

Kategori al-daruriyah memiliki tingkat pertama dalam hal

mencapai, menjamin, dan melestarikan kemaslahatan bagi manusia, karena merupakan sesuatu yang harus diwujudkan oleh seluruh umat. Tatanan kehidupan tidak akan tegak tanpanya, bahkan mengalami kehancuran.

Dalam kajian tujuan hukum Islam, menurut Imam Asy-Syatibi sebagaimana dikutip dalam buku Muhammad Syukri Albani Nasution dan Rahmat Hidayat Nasution, beliau mengatakan bahwa doktrin maqashid

syariah merupakan kelanjutan dari konsep maslahah sebagaimana telah

dicanangkan sebelum masa Asy-Syatibi. Kemudian beliau menyatakan bahwa dalam ajaran maqashid syariah tujuan hukum adalah satu, yaitu kebaikan dan kesejahteraan umat manusia. Kandungan maqashid syariah adalah pada kemaslahatan. Kemaslahatan tersebut harus kita lihat dalam dinamika dan pengembangan hukum sebagai sesuatu yang mengandung nilai-nilai filosofis dari hukum-hukum yang ditetapkan Allah Swt kepada manusia. Berdasarkan penelitian para ahli ushul fiqh, dalam rangka mewujudkan kemaslahatan di dunia dan akhirat, maka harus ada lima unsur pokok yang harus dipelihara dan diwujudkan, yaitu agama (hifz

al-din), jiwa (hifz al-nafs), akal (hifz al-aql), keturunan (hifz al-nasl), dan

harta (hifz al-mal).40

Imam Raisuni dalam Kitab Nadzariyatu Maqashid Inda

Al-Imam Asy-Syatibi, mendefinisikan Al-Maslahah, adalah sebagai berikut:

اقيرط نوكي اموأ ةذللا نع ةرابع ةعفنلما نأو ،ةرضلما عفد وأ ةعفنلما بلج يه ةحلصلما

هيلإ اقيرط نوكي ام وأ لملأا نع ةرابع ةرضلماو ،اهيلإ

.

“Maslahat adalah sesuatu yang membawa manfaat dan menolak bahaya, dan manfaat adalah kesenangan atau kebahagian dan jalan

40 Muhammad Syukri Albani Nasution dan Rahmat Hidayat Nasution, Filsafat Hukum &

yang menuju kepada hal tersebut sedangkan bahaya adalah rasa sakit atau jalan yang menuju kepada hal itu”.41

Mengenai pembagian maslahah, Imam Al-Raisuni dalam Kitab

Nadzariyatu Al-Maqashid Inda Al-Imam Asy-Syatibi, menjelaskan sebagai

berikut:

ةحلصلما ميسقت

اهيف عرشلا مكح لىإ رظنلبا

ةحلصمو ،ةبرتعم ةحلصم :عاونأ ةثلاث لىإ

ةلسرم ةحلصمو ،ةاغلم

.

“pembagian maslahah dengan melihat kepada hukum syar’i di dalamnya kepada tiga jenis: maslahah mu’tabarah, maslahah mulghah dan maslahah mursalah”.

:لا َّوأ

لَّو لايلق لَّ ،دسافلما نم ءيشب ةبوشم يرغ ،ةصلاخ يه ،اًعرش ةبرتعلما لحاصلما نأ

اًيرثك

.

“Pertama: bahwasannya maslahah mu’tabarah dalam syar’i adalah sebuah maslahah yang suci, tidak tercemar oleh kejahatan apapun, baik sedikit maupun banyak.42

َث

يه انمإ ،ةاغللما ةحلصلما :اًيِن

تيلا

تييأ

صنلا

مدعب

اهرابتعا

.

يأ

ام

دق

هنظي

ضعبلا

،ةحلصم

نكل

عراشلا

ميكلحا

ىنَ

هنع

.

“Kedua: maslahah mulghoh, yaitu maslahah yang tidak terdapat nash yang mengakuinya. Atau apa yang dikira oleh sebagian orang terdapat maslahah, akan tetapi Syar’i melarangnya.43

:ًاثلث

ةلسرلما ةحلصلما

يه

اهغلي لمو عراشلا اهبرتعي لم تيلاو

“Ketiga: Maslahah Mursalah adalah maslahah yang tidak diakui oleh syar’i dan tidak juga dibatalkan”.44

41 Ahmad Al-Raisuni, Nadzariyatu Al-Maqashid Inda Al-Imam Asy-Syatibi, (Riyadh: Daar Al-Alamiyah Lil Kitab Al-Islami, 1992), h. 234.

42 Ahmad Al-Raisuni, Nadzariyatu Al-Maqashid Inda Al-Imam Asy-Syatibi, h. 237. 43 Ali Jarisyah, Al-Maslahah Al-Mursalah Muhawalatan Libastiha wa Nazrotan Fiiha, (Madinah: Jamiah Islamiyah bil Madinah Al-Munawwaroh, 1997), h. 16.

26

Imam Al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Zakyyah dalam jurnalnya menetapkan beberapa syarat agar kemaslahatan (al-maslahah) dapat dijadikan sebagaiman penemuan hukum, antara lain:

1) Kemaslahatan itu termasuk kategori peringkat al-daruriyah. Artinya bahwa untuk menetapkan suatu kemaslahatan, tingkat keperluannya harus diperhatikan, apakah akan sampai mengancam eksistensi lima unsur pokok maslahah atau belum sampai pada batas tersebut.

2) Kemaslahatan itu bersifat qat’i. Artinya yang dimaksud dengan kemaslahatan tersebut benar-benar telah diyakini sebagai maslahah tidak didasarkan hanya dugaan.

3) Kemaslahatan itu bersifat kulli. Artinya bahwa kemaslahatan itu berlaku secara umum dan kolektif, tidak bersifat individual, maka syarat lain yang harus dipenuhi adalah maslahat tersebut sesuai dengan

maqashid al-syar’iyyah.45

44 Ali Jarisyah, Al-Maslahah Al-Mursalah Muhawalatan Libastiha wa Nazrotan Fiiha, h. 16.

45 Zakyyah, “Nasab Anak Luar Kawin Menurut Hifzhu Nasl”, Jurnal Yudisial, Vol. 9, No. 2, (2016), h. 209.

27 BAB III

DISKURSUS TENTANG STATUS ANAK DI LUAR IKATAN PERKAWINAN

Dokumen terkait