• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV MAKNA SIMBOLIK TRADIS TEDHAK SITEN

D. Perspektif Islam dalam Tradisi Tedhak Siten di Desa Kampung

Upacara Tedhak Siten sudah adah sejak zaman Hindu Budha zaman animisme dinamise. Dalam penyebaran agama Islam para wali tidak menghilangkan atau mengganti suatu kebudayaan maupun tradisi yang ada meskipun tradisi tersbut jauh dari ajaran agama Islam, tetapi para wali memasukkan nilai-nilai agama Islam dalam budaya ataupun tradisi tersebut sehingga agama Islam mudah diterima oleh masyarakat. Dalam Tradisi Tedhak Siten terkandung makna silahturahmi, dalam Islam merupakan suatu keharusan dan salah satu kewajiban bagi setiap orang Islam, mengutip hadits Nabi Muhammad SAW di dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim karangan Syeikh Ahmad Al-Mishry, yaitu:

“Kewajiban bai seorang muslim yang lain ada enam: 1. Jika berjumpa maka ucapkan salam, 2. Jika diundang maka datanglah, 3. Jika meminta nasehat maka berilah nasehat, 4. Jika bersin lalu dia membaca “Alhamdulillah” maka ucapkanlah doa (yarhamukallah), 5. Jika sakit tengoklah dan, 6. Jika meninggal maka antarkanlah jenazah (HR. Bukhari)”.18

Adapun aqidah Islam yang terdapat dalam simbol Tradisi Tedhak Siten yaitu Jadah (nasi ketan yang telah dilumatkan), jadah ini terdiri dari tujuh warna : merah, putih, hitam, biru, kuning, ungu, dan merah jambu. Karena jadah dibuat dari beras ketan, dengan sendirinya mudah lengket ditelapak kaki si anak. Maksud dari simbol dalam upacara ini adalah agar sianak mendapatkan pertolongan dari yang maha kuasa. Sebagaimana firmannya dalam QS. Al-A’raf, ayat 200-201:

18 Tim Editor, “6 Hak Sesama Muslim Beserta Penjelsan Terkait Kewajiban dan Adabnya”, https://kumparan.com/berita-update/6-hak-sesama-muslim-beserta--penjelasan--terkait-kewajiban--dan-adabnya, tanggal 04 November 2021.

ا مِإ َو

ُ َنِمَُك نَغ َزنَي ُ

ُِن َٰط ۡي شل ٱ

ُ

َُفُ ٞغ ۡزَن

ُۡذِعَت ۡس ٱ

ُُِب

ُِۚ لل ٱ

ُ ه نِإ ُ

ٌُميِلَعٌُعيِمَس ۥُ

٢٠٠

ُ نِإ ُ

َُنيِذ ل ُٱ

ُ

ٱ

ُْا ۡوَق ت

ُ َنِّمُ ٞفِئ َٰطُ ۡم ه سَمُاَذِإ ُ

ُِن َٰط ۡي شل ٱ

ُ

ُ كَذَت

ُ َنو ر ِص ۡبُّمُم هُاَذِإَفُْاو ر ٢٠١

ُ

ُ

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”19

Inilah sebabnya upacara ini disajikan dalam adat masyarakat Kampung Tengah, agar manusia berfikir tentang dirinya dan yang menciptakannya. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dari makhluk lain dengan diberikannya akal dan nafsu yang menjadikan dirinya untuk berbuatdan bertindak.

Selanjutnya Simbol Kurungan ayam yang telah dihiasi dan didalamnya terdapat cincin dan alat tulis. Yang bermaksud agar sang anak dapat menyesuaikan diri kedalam masyarakat luas dengan baik, dan mematuhi segala peraturan dan adat-istiadat setempat. Bermakna sebagai agar sianak mematuhi segala perintah dan menjuhi segala larangan yang telah Allah perintahkan. Seperti firmannya dalam QS. Al-Baqorah ayat 21-22:

اَهُّيَأ َٰي

ُٱ

ُ سا نل

ُٱ

ُْاو د ب ۡع

ُ م ك ب َر ُ يِذ ل ٱ

ُ

ُ ۡم كَقَل َخ

َُو

َُنيِذ ل ٱ

ُ تَتُ ۡم ك لَعَلُ ۡم كِل ۡبَقُنِم ُ

ُ َنو ق ٢١

ُ

يِذ ل ٱ

ُ م كَلَُلَع َج ُ

َُض ۡرَ ۡلۡ ٱ

َُوُا ٗش َٰرِف ُ

َُء اَم سل ٱ

ُٗء اَنِب ُ

ُ َنِمَُل َزنَأ َوُ

ُِء اَم سل ٱ

ُۡخَأَفُ ٗء اَم ُ

ُ َج َر

ُِهِب ۦ

ُ َنِم ُ

ُِت َٰرَم ثل ٱ

ُِ ِللُْاو لَع ۡجَتُ َلَٗفُ ۡم ك لُا ٗق ۡز ِر ُ

ُ َنو مَل ۡعَتُ ۡم تنَأ َوُا ٗداَدنَأُ

٢٢

ُ

ُ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”20

Selanjutnya simbol penyebaran udhik-udhik ini menggambarkan rasa saling memberi, udhik-udhik atau sebar beras kuning yang telah dicampur dengan uang logam untuk di perebutkan. Harapannya kelak agar si anak jika dikarunia rejeki cukup dapat mendermakan rejekinya kepada fakir miskin. Maksud dari simbol dalam upacara sebar beras kuning dicampur dengan uang logam adalah untuk

19 Tim Penterjemah dan Penafsir al-Qur’an, Al-Qur’an Al-Karim Mushaf Tajwid Warna, Terjemah, dan Asbabun Nuzul (Kartasura: Madina, 2016),

20 Tim Penterjemah dan Penafsir al-Qur’an, Al-Qur’an Al-Karim Mushaf Tajwid Warna, Terjemah, dan Asbabun Nuzul (Kartasura: Madina, 2016),

menimbulkan rasa saling memberi kepada kaum fakir miskin dan orang yang tidak mampu. Seperti dalam Al-Quran surat Al-Fajr ayat 17-18:

ُ لَٗك

ُ َنو م ِر ۡك تُ لَُلَب ُ

َُميِتَيۡل ٱ

ُ ١٧

َُنوُّض َٰحَتُ َلَ َو ُُ

ُِماَعَطُ ٰىَلَعُ

ُِنيِك ۡسِمۡل ٱ

ُ ١٨

ُ

ُ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.

dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.”21

Adapun ajaran-ajaran Islam yang tedapat di dalam rangkaian tradisi Tedhak Siten ialah sebagai berikut :

1. Bersyukur

Telah disebutkan sebelumnya, bahwa tujuan pokok dari pelaksanaan Tedhak Siten adalah sebagai wujud syukur pada Allah SWT atas nikmatNya yakni berupa kelahiran sang anak. Hal ini diajarkan dalam agama Islam bersandarkan pada hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik.

Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” [HR. Muslim no.7692].22

2. Berdoa

Proses ini adalah pengharapan orang tua kepada Allah SWT agar anaknya kelak bisa menjadi insan yang berilmu, ahli agama serta bermanfaat bagi bangsa dan agama. doa merupakan suatu ibadah yang diperintahkan Allah pada hambanya sebagaimana firmannya dalam QS. Al-Mu’min, ayat 60:

َ رِب ۡك ت ۡس يَ نيِذَّلٱََّنِإَ ۡۚۡم ك لَ ۡبِج ت ۡس أَٓيِنو ع ۡدٱَ م كُّب رَ لﺎ ق و يِرِخُا دَ مَّنَّ هَ جََ نو لُ خُ ۡدۡ ي سَيِتِ دﺎ بِعَ ۡن عَ نو

ُ َ ن ٦٠

ُ

21 Tim Penterjemah dan Penafsir al-Qur’an, Al-Qur’an Al-Karim Mushaf Tajwid Warna, Terjemah, dan Asbabun Nuzul (Kartasura: Madina, 2016),

22 Asilha, “Implementasi Nilai Hadis Pada Tradisi Adat Jawa Tedhak Siten (Studi Penelitian di

Desa Kejayan, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso)”,

https://www.asilha.com/2021/01/18/implementasi-nilai-hadis-pada-tradisi-adat-jawa-tedhak-siten-studi-penelitian-di-desa-kejayan-kecamatan-pujer-kabupaten-bondowoso ,tanggal 10 November 2021.

“Dan Tuhanmu berfirman,“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”23

Doa dalam upacara tradisi tedhak siten bermakna agar anak kelak ketika dewasa melaksanakan segala suatu hal yang berniat hanya kepada Allah SWT dan selalu mendapatkan perlindungan baik didunia maupun diakhirat. Dan selalu mengingat akan Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah.

3. Sedekah

Pada akhir rangkaian acara, terdapat acara pemotongan tumpeng dan membagikan makanan tersebut kepada para tetangga terdekat dan tamu yang hadir pada acara tradisi tedhak siten, dari sini bisa kita lihat bahwa tradisi Tedhak Siten mengandung ajaran agama Islam tentang anjuran dan keutamaan bersedekah.

Sebagaimana hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

“Telah menceritakan kepada kami Aun bin Sallam Al Kufi Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Mu’awiyah Al Ju’fi dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Ma’qil dari Adi bin Abu Hatim ia berkata; Saya mendengar Nabi SAW bersabda,

“Siapa di antara kalian yang mampu melindungi dirinya dari api neraka meskipun dengan setengah biji kurma, maka hendaklah ia melakukannya.” [HR.

Muslim No. 1016].24

Kesimpulan yang dapat diambil adalah tidak semua tradisi berkontradiksi dengan ajaran-ajaran agama Islam. Namun justru keduanya bisa saling berintregrasi memberi manfaat satu sama lain. Agama Islam membutuhkan tradisi dalam penyampaian ajarannya sebagai alat agar tersampaikan pada masyarakat. Dengan demikian, ajaran agama Islam akan lebih mudah dipahami oleh penganutnya.

23Tim Penterjemah dan Penafsir al-Qur’an, Al-Qur’an Al-Karim Mushaf Tajwid Warna, Terjemah, dan Asbabun Nuzul (Kartasura: Madina, 2016), 474.

24 Asilha, “Implementasi Nilai Hadis Pada Tradisi Adat Jawa Tedhak Siten (Studi Penelitian di

Desa Kejayan, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso)”,

https://www.asilha.com/2021/01/18/implementasi-nilai-hadis-pada-tradisi-adat-jawa-tedhak-siten-studi-penelitian-di-desa-kejayan-kecamatan-pujer-kabupaten-bondowoso ,tanggal 10 November 2021.

Sebagai umat Muslim yang berpendidikan, sudah menjadi tugas kita untuk menjaga tradisi yang ada, terlebih bagi kita masyarakat Jawa yang tradisinya masih sangat kental. Tentunya dengan pemaknaan yang disesuaikan dengan ajaran Islam.

66 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada bagian terakhir dari penulisan skripsi ini, dari penelitian yang penulis lakukan dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan. Berdasarkan dari permasalahan dan hasil analisis data tentang Makna Simbolik Tradisi Tedhak Siten di Desa Kampung Tengah Kecataman Muara Bulian Kabupaten Batanghari, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Sejarah tradisi Tedhak Siten muncul dari pengalaman nenek moyangnya yang masih dilakukan masayarakat Jawa Desa Kampung Tengah secara turun temurun hingga saat ini. Sebagai bentuk pengharapan orang tua terhadap buah hatinya agar si anak kelak siap dan sukses menapaki kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan dengan bimbingan orang tuanya.

2. Prosesi tradisi Tedhak Siten yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Kampung Tengah biasanya dilaksanakan dengan beberapa prosesi yang meliputi persiapan menentukkan hari baik untuk melaksanakan tradisi Tedhak Siten dengan keluarga atau juga tokoh adat, menyiapkan perlengkapan sesaji atau bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan upacara tersebut, waktu dan pelaksanaan upacara dan tata cara pelaksanaan. Tata cara pelaksanaan yang diwajibkan yaitu dimulai dengan pembacaan doa demi kelancaran jalannya tradisi Tedhak Siten, lalu sang anak menapaki jadah 7 warna, menginjak tanah, memasukkan sang anak ke dalam kurungan ayam, pemotongan tumpeng dan menyebarkan udhik-udhik.

3. Mayarakat Desa Kampung Tengah memaknai simbol-simbol dalam tradisi Tedhak Siten yaitu, meliputi makna denotasi memiliki makna Jadah sebagai benda yang terbuat dari beras ketan yang memiliki tujuh warna. Menginjak tanah memiliki makna denotasi yaitu suatu benda tanah yang di injak atau ditapaki untuk menuju sesuatu yang akan dituju. Kurungan ayam memiliki makna denotasi yaitu benda berupa kurungan ayam yang terbuat dari anyaman bambu biasanya digunakan untuk tempat mengurung suatu benda atau hewan

yang digunakan agar tidak bisa lari dan berkeliaran. Tumpeng memiliki makna denotasi yaitu sebuah tumpeng merupakan makan nasi yang berbentuk kerucut serta nasi yang lengkap dengan lauk pauk dan sayuran atau urap. Udhik-udhik memiliki makna denotasi, makna denotasinya yaitu Udhik-udhik merupakan beras yang di beri pewarna kuning dari kunyit dan ditambahkan uang logam atau uang kertas yang telah dilipat kecil-kecil dengan beragam jumlahnya mulai dari seratus rupiah hingga sepuluh ribu rupiah. Sedangkan makna konotasiya jadah sebagai simbol bumi yang menunjukkan penggambaran kehidupan yang akan dilalui oleh sang anak. Menginjak tanah menuntun sang anak agar menjadi orang yang mandiri. Tumpeng memiliki makna konotasi yaitu wujud raya syukur atas rahmat yang telah diberikan Tuhan. Udhik-udhik makna konotasinya yaitu tentang harapan orang tua kepada sang anak kehidupannya tidak kekurangan dan uang logam memiliki makna sebagai kekayaan.

Dokumen terkait