BAB VIII: SEBUAH CATATAN REFLEKSI
KAJIAN TEORI DAN KONSEPTUAL
B. Perspektif Lingkungan dalam Pengembangan Masyarakat
potensi dan keterampilan yang berhasil diidentifikasi, maka segala potensi dan fasilitas yang ada bisa dimaksimalkan untuk kepentingan kelompok.17
Pengorganisir masyarakat juga dituntut untuk memberikan dukungan kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pengorganisasian komunitas. Dukungan itu bisa sesuatu yang berorientasi pada penguatan, penghargaan dan penerimaan nilai-nilai yang ada, mendengarkan keluhan-keluhan, masukan-masukan dan kritik yang disampaikan anggota komunitas.18
B. Perspektif Lingkungan dalam Pengembangan Masyarakat
Pendekatan lingkungan (ecology perspective) membentuk pendekatan yang lebih holistik pada konsep pengembangan masyarakat karena menyumbangkan pemahaman sistemik (ekosistem) terhadap fenomena alam dan fenomena sosial. Selain itu, perspektif lingkungan juga mengkritik pendekatan ekonomi (growth economic approach) terhadap sumberdaya alam sebagai salah satu sumber pemenuhan kebutuhan manusia. Persoalan lingkungan dianggap sebagai konsekuensi dari tatanan sosial-ekonomi-politik yang tidak menggunakan prinsip keberlanjutan sehingga untuk mengatasi krisis lingkungan, sistem sosial-ekonomi-politik itulah yang harus diubah. Berikut ini adalah beberapa prinsip ekologi yang memberikan kontribusi penting untuk pengembangan masyarakat:19 17 Ibid, 186 18 Ibid
19 Rianingsih Djohani, Partisipasi, Pemberdayaan, dan Demokratisasi komunitas (Bandung: Studio Driya Media, 2003), 3
Bersifat menyeluruh (holistic)
Prinsip ini menyatakan bahwa semua fenomena harus dilihat sebagai bagian dari keseluruhan, dan hanya akan bisa dipahami dengan baik apabila kita memperhatikan bagian-bagian lainnya sebagai suatu sistem
Beberapa hal yang menjadi konsekuensi prinsip ini adalah: menggunakan falsafah yang berpusat pada lingkungan, penghargaan terhadap kehidupan dan alam, menolak pemecahan masalah secara parsial (linear), mengambangkan perubahan secara organis (bertahap)
Keberlanjutan (sustainability)
Prinsip ini menyatakan bahwa sebuah sistem harus bisa dikelola dalam jangka panjang, karena itu sumberdaya digunakan hanya pada tingkat (batas) dimana bisa dikembalikan, lebih banyak memanfaatkan sumberdaya energi yang bisa diperbaharui, hasil produksi harus dibatasi sejumlah yang bisa diserap oleh lingkungan, serta konsumsi harus diminimalkan (bukan dimaksimalkan)
Beberapa hal yang menjadi konsekuensi prinsip ini adalah:
konsumsi, menolak pendekatan ekonomi berbasis pada pertumbuhan, mengurangi pembangunan teknologi (baca: modernisasi), anti-kapitalisme
Keberagaman (diversity)
Prinsip ini menyatakan bahwa keberagaman akan menolong ketahanan dan keberlangsungan sebuah sistem; keberagaman di dalam lingkungan alam, akan membantu sistem untuk berkembang, beradaptasi, dan bertumbuh; keberagaman dalam kebudayaan, akan membantu berkembangnya proses adaptasi dan pilihan
Beberapa hal yang menjadi konsekuensi prinsip ini adalah: menghargai keberagaman (alam, sosial-budaya), meyakini bahwa ada banyak alternatif solusi, desentralisasi, jaringan kerjasama dan komunikasi teknologi sederhana (lower level technology)
Keseimbangan (equilibrium)
Prinsip ini menyatakan bahwa sebuah sistem memiliki pola keseimbangan untuk bisa melangsungkan kehidupannya-keseimbangan alam maupun keseimbangan sosial; apabila
keseimbangan ini terganggu, maka sistem tidak dapat bekerja dengan baik
Beberapa hal yang menjadi konsekuensi prinsip ini adalah: melakukan tindakan pada tingkat lokal dengan perspektif global, memiliki perspektif gender, memperhatikan hak dan kewajiban, berdasarkan pada perdamaian dan kerjasama.
Di dalam bukunya, Yayuk Yuliati mengungkapkan bahwa dalam hal pelestarian alam dan lingkungan perempuan merupakan sumber daya potensial dalam rangka pelestarian sumber daya lingkungan yang sering dilupakan. Perempuan, khususnya di pedesaan, mencerminkan wanita kerja yang langsung berhubungan dengan alam. Hubungan antara perempuan dengan alam bukan merupakan hubungan dominasi, tetapi hubungan yang
co-operative yang ditandai dengan membiarkan tumbuh-tumbuhan terus hidup.
Mereka mengumpulkan hasil dari pohon dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di hutan, dan dari hasil tumbuh-tumbuhan tersebut dapat memenuhi tiga kebutuhan dasar, yaitu makanan (food), bahan bakar (fuel), dan pakan ternak (fodder). 20
Rodda juga berpendapat bahwa perempuan tidak hanya mengawasi kerusakan lingkungan, tetapi juga memainkan peranan perempuan sebagai:
20 Yayuk Yuliati, Perubahan Ekologis Dan Strategi Adaptasi Masyarakat Di Wilayah Pegunungan
consumers, campaigners, educators, dan communicators sebagai producers,
perempuan menghasilkan makanan yang berasal dari tanaman yang ditanam. Sebagai consumers, perempuan mengambil hasil tanaman atau hewan yang ada di alam, misalnya: mencari kayu bakar, mengambil air, dan mencari tanaman obat-obatan di hutan. Sebagai campaigners perempuan mengampanyekan pentingnya memelihara lingkungan. Sebagai educators, dapat dilihat dari proses alih pengetahuan mengenai semua pekerjaan produktif maupun reproduktif kepada anak-anak perempuannya, dan sebagai communicators, perempuan memasarkan hasil dari alam lingkungannya ke tempat lain. Lebih jauh Rodda mengatakan, bahwa perempuan memandang hutan sebagai sumber kebutuhan dasar rumah tangga, sedangkan laki-laki memandang hutan lebih sebagai aspek komersial.21
Sehubungan dengan uraian di atas, sebetulnya perempuan memiliki
indegenious knowledge atau local wisdom mengenai bagaimana mengelola
sumberdaya lokal. Perempuan desa, petani serta penduduk setempat yang tinggal di dalam hutan mendapatkan kebutuhan dari situ. Mereka mempunyai pengetahuan yang mendalam dan sistematik mengenai proses-proses alam serta yakin, bahwa mereka harus pula memulihkan kekayaannya.22
Menurut Gadis Arivia (2000), sejak kecenderungan peduli lingkungan ini merebak bukan saja di kalangan LSM, tetapi juga di pemerintahan, tidak banyak yang menyadari bahwa isu lingkungan berkaitan erat dengan isu perempuan. Padahal menurut mitos-mitos yang ada di masyarakat, perempuan
21 Ibid
22
sering diasosiasikan dengan alam. Misalnya perempuan sering diandaikan sebagai bumi, bunga, ayam, malam, bulan dan padi. Kadang mitos-mitos tersebut bukanlah yang mempunyai makna positif tetapi justru banyak yang negatif.23
Namun apabila perempuan dan alam diterjemahkan sebagai suatu badan pengetahuan, maka persoalan mitos akan terkikis dan yang kemudian muncul adalah sebuah sistem interasi yang memungkinkan untuk memahami epistimologi feminis dalam lingkungan. Carolyn Merchant, seorang profesor dari Universitas of Bakerley dalam bidang lingkungan, sejarah dan filsafat, menggambarkan sistem interaksi tersebut sebagai sebuah konsep kerangka kerja untuk mereintepretasi ekologi dan menghasilkan revolusi ekologis, dimana perempuan mempunyai peranan penting.24