• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persyaratan Akustik dan Sound System

Dalam dokumen WADAH KOMUNITAS FILM INDEPENDEN DI JAKARTA (Halaman 37-43)

G. Publicity Manager

3. Persyaratan Akustik dan Sound System

a. Ruang Bioskop

Film adalah media audio-visual, maka suara atau audio haruslah mendapat porsi 50% dari film tersebut. Sejak ditetapkannya standar sound untuk film pada tahun 1930 oleh The Academy of Motion Picture Arts and Sciences, film seperti mendapat nafas baru. Para pembuat filmpun mulai memikirkan bagaimana instalasi suara pada bioskop. Mereka tidak hanya berkutat pada bagimana merekam suara pada filmnya, tetapi juga bagaimana suara pada film itu akan terdengar oleh penonton di dalam bioskop. Baik tidaknya akustik ruangan bioskop sangat mempengaruhi terdengarnya suara dari film.

George Angspurger, seorang ahli akustik mengatakan bahwa dalam akustik terdapat unsur 3R yang harus diperhatikan:

1. Room Resonance (resonansi suara) 2. Early Reflections (refleksi)

commit to user

II - 19

3. Reverberation Time (waktu dengung)

Absorpsi merupakan hal terpenting dalam perancangan sebuah bioskop berbeda dengan gedung konser dimana suara harus dipantulkan sebanyak mungkin, di bioskop suara harus diserap sebanyak mungkin sedangkan pantulan suara harus diminimalisasi.

Prinsip-prinsip perancangan kenyamanan akustik ruang bioskop antara lain:

a) Perletakan speaker.

Prinsip dasar perletakan speaker untuk menghasilkan aliran suara yang konsisten di semua tempat dalam bioskop kurang lebih seperti gambar dibawah ini.

Sumber : Leslie L. Doelle, Akustik Lingkungan

Gambar 2.6 Tampak Atas, (b) Tampak Samping Perletakan Speaker Speaker yang berada di belakang layar diletakkan mengarah kebagian ruangan yang terletak ⅔ kedalam ruangan. Sedangkan tinggi speaker berada di ⅓ tinggi ruangan. Speaker surround terdekat minimal berjarak ⅓ dari kedalaman ruang.

Posisi speaker harus diarahkan ke arah yang berlawanan dari tempat speaker berasal sehingga speaker dapat menghasilkan minimum perbedaan kekuatan antara dinding dan kursi penonton sebesar -3 dB.

(a)

commit to user

II - 20

Sumber : Leslie L. Doelle, Akustik Lingkungan

Gambar 2.7 Posisi Speaker b) Pemasangan kain tirai pada dinding.

Penyerapan suara disiasati dengan pemasangan kain tirai pada dinding samping kiri dan kanan, serta dinding bagian belakang.

c) Langit-langit studio.

Plafon atau langit-langit bioskop dibuat bertrap, menurut Doelle plafon bertrap mendistribusikan pantulan suara yang lebih merata ke seluruh ruangan serta meningkatkan intensitas bunyi.

Sumber : Doelle, 51

Gambar 2.8 Plafond bertrap d) Furniture pendukung dalam ruang.

Bahan jok dan sandaran kursi harus dipilih yang tidak menyerap suara, tetapi tetap membuat penonton nyaman. Prinsipnya, dalam keadaan kosong atau diduduki, diusahakan agar tingkat penyerapan suara sama. Rata-rata bioskop di Indonesia menggunakan bahan spons sebagai material, dan dilapisi kain beludru.

commit to user

II - 21 4. Persyaratan Keamanan

a. Pola Distribusi Penonton Keluar

Penonton dapat langsung keluar bangunan dengan cepat (dalam waktu 5 menit seluruh penonton bisa terdistribusi keluar).

Ø Distribusi langsung, penonton terdistribusi keluar melewati salah satu sisi atau kedua sisi bangunan.

Ø Distribusi tidak langsung, memerlukan beberapa persyaratan tambahan diantaranya: lebar minimal koridor 2 meter, tidak boleh terdapat tangga (step), tetapi harus berbentuk ramp dengan kemiringan 1:20 sampai 1:10.

b. Pintu Darurat (emergency)

Merupakan titik penting untuk distribusi penonton keluar sehingga harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Ø Tiap sisi keluar harus mempunyai minimum 2 pintu darurat.

Ø Pintu harus terbuka ke arah luar, tidak boleh diunci selama pertunjukan.

Ø Lebar minimal pintu yaitu 1 meter.

Ø Terbuat dari bahan yang tahan api (fire proof).

Ø Sistem penguncian dibuat sedemikian rupa agar dapat terbuka bila diberi tekanan kuat dari dalam.

Ø Dapat menutup secara otomatis. c. Pola Lay Out Kursi

Pola layout akan mempengaruhi kecepatan distribusi penonton untuk keluar pada waktu keadaan bahaya. Ada 3 macam pola layout kursi dengan persyaratan berbeda:

Ø Stall, distribusi utama melalui satu jalan utama antar kelompok kursi dengan persyaratan maksimal 7 buah kursi (4,20 m).

commit to user

II - 22

Ø Gallery, distribusi utama melalui gang way yang terletak di bagian samping dari kelompok kursi, dengan persyaratan maksimal 14 buah kursi (8,40 m).

Ø Gabungan Stall dan Gallery.

Gambar 2.9 Pola Layout Kursi

Ø Tempat duduk dibuat untuk perorangan, ada sandaran belakang, tangan + kaki, tidak berhimpitan. Jarak dengan tempat duduk depannya 40 cm (berfungsi sebagai jalan pengunjung). Baris terdepan min 6 m dari layar, dengan sudut pandang < 35º, Tinggi tempat duduk dan lantai sebaiknya 30-48 cm . Tempat duduk dibuat empuk, mudah dibersihkan.

d. Pemadam Kebakaran (Fire Protection)

Penggunaan fire protection pada sebuah sinepleks, yaitu:

Ø Automatic springkler, dapat bekerja secara otomatis dan cepat tanpa mengganggu distribusi keluar penonton.

Ø Alarm system, karena pertunjukan di sinepleks bersifat insidentil maka pada waktu tidak ada pertunjukan dapat terkontrol dengan baik.

Ø Smoke vestibule, biasa diletakkan dekat pintu darurat untuk mencegah masuknya asap pada koridor.

Ø Fire hydrant dan portable extinguisher, sebagai pelengkap dari semua sarana sebelumnya.

2.4.2 Kegiatan Produksi Perfilman

Kegiatan produksi perfilman secara garis besar meliputi kegiatan : Sumber : Theater design

commit to user

II - 23

A. Pengembangan: termasuk didalamnya tahap pengembangan cerita, penyediaan dana, praproduksi, peninjauan ulang naskah cerita, penentuan tim produksi, pembuatan jadwal shooting, persiapan biaya akhir, penentuan pemeran dan penentuan latihan.

B. Produksi : terdiri atas tahap atau kegiatan shooting stage

(lingkungan buatan), shooting lokasi, persiapan shoot di stage, sampai dengan akhirnya shooting filmnya.

C. Pasca produksi: meliputi tahap awal, penentuan pemakaian

shots, perakitan rough cut, pengisian musik dan efek suara, penggabungan suara, duplikasi suara gabungan/ answer print, hingga akhirnya ke tahap terakhir yaitu distribusi dan eksibisi, setelah sebelumnya masuk badan sensor.

2.4.3 Studio Film

Antara studio film dan studio dalam jaringan pertelevisian terdapat beberapa kesamaan. Yang membedakan secara mendasar adalah hasil produksi studio film tidak disiarkan secara jaringan dengan bantuan gelombang siar/ pancar. Pada sub bab berikut ini dijelaskan beberapa hal mendasar tentang studio yang terambil dari De Chiara, Joseph, Time Saver Standart for Building Types, 3rd Edition, New York. 35

Secara umum kajian berbicara tentang studio televisi, namun pada tulisan berikut akan dijelaskan hanya yang dapat/ dipakai dalam perancangan sebuah studio film untuk layar lebar.

2.4.4 Sarana dan Prasarana Produksi Dalam Studio Film

Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk melakukan proses produksi dan pasca produksi ini antara lain sebagai berikut:

A. Prasarana produksi, antara lain sebagai berikut:

1. Gedung/ruang yang dilengkapi oleh penyejuk udara

commit to user

II - 24

3. Ruang visual editing

4. Ruang audio visual (untuk kepentingan produksi) 5. Ruang preview

B. Sarana produksi, antara lain:

1. Kamera elektronik dan film sebagai kelengkapan 2. Peralatan lampu (audio)

3. Peralatan suara (sound system) 4. Alat editing film dan video

5. Proyektor untuk film dan playback fasilities untuk video 6. Komputer grafis

7. Video Digital Optic untuk efek khusus

8. Mobile Production Unit (unit mobil produksi), dll

2.4.5 Fasilitas Studio

Menurut De Chiara, 1980, fasilitas-fasilitas yang perlu diperhatikan:

1. Studio

Ruangan ini berfungsi untuk mewadahi aktifitas produksi (shooting). Ukuran studio bervariasi. Ukurannya berkisar mulai dari ukuran kantor biasa yaitu dengan kamera melalui jendela atau pintu terbuka, hingga studio-studio besar (100x100ft) yang umumnya digunakan untuk shooting indoor yang membutuhkan dekor.

Alat-alat yang digunakan antara lain: a. Kamera-kamera

b. Lampu untuk efek pengambilan gambar c. Sound system dan mixer

Dalam dokumen WADAH KOMUNITAS FILM INDEPENDEN DI JAKARTA (Halaman 37-43)

Dokumen terkait