• Tidak ada hasil yang ditemukan

WADAH KOMUNITAS FILM INDEPENDEN DI JAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "WADAH KOMUNITAS FILM INDEPENDEN DI JAKARTA"

Copied!
161
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

WADAH KOMUNITAS FILM INDEPENDEN DI JAKARTA

DENGAN PENERAPAN KARAKTERISTIK FILM

TUGAS AKHIR

Diajukan sebagai Syarat untuk Mencapai

Gelar Sarjana Teknik Arsitektur

Universitas Sebelas Maret

Disusun Oleh :

SHABRINA D’LASTTRIE ANITA

I 0207086

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

WADAH KOMUNITAS FILM INDEPENDEN DI JAKARTA

DENGAN PENERAPAN KARAKTERISTIK FILM

TUGAS AKHIR

Diajukan sebagai Syarat untuk Mencapai

Gelar Sarjana Teknik Arsitektur

Universitas Sebelas Maret

Disusun Oleh :

SHABRINA D’LASTTRIE ANITA

I 0207086

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(3)

commit to user

(4)

commit to user

(5)

commit to user

(6)

commit to user

(7)

commit to user

(8)

commit to user

ii THANK YOU SO MUCH FOR

Allah SWT berkat segala limpahan rahmat dan telah memberikanku kehidupan yang sangat menyenangkan J

Ibu Luciana Gultom, thank you for being the greatest mother in the world J Servo Caesar Prayoga, Astri Kurniati Martiana, Noviana Aliya Putri, Bagus

Jati Nugroho, thank you for all of your support, my siblings.

Arka Jebran Nugroho, malaikat kecilku.

Bima Pratama Putra, terima kasih banyak untuk selalu ada J

Desi Dwi Christina, Wina Astarina, Diah Irhamna, Agam Djohar Affandi,

Addina Amalia, terima kasih banyak untuk segala support yang kalian berikan dimasa suka dan duka.

Harry Mulyanto, Rozan Zulfikar, Citra Talitha, Rudi Akhirudin, Arfizon

Syahroni, Mas Dermawan Hadi Barnas,Wahyu Dwipo Sanjoyo, Rizky

Antofagasta terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan sepanjang masa Studio Tugas Akhir.

Bapak Imam Subchan Barnas, Keluarga Besar Arsitektur 2007, Keluarga

Besar Solo Berkebun, Keluarga AIESEC Expansion UNS, Keluarga Besar

Studio Tugas Akhir 126 thank you to have introduce me into a new stories of life and especially for Pak Imam, thank you so much for all the support.

Dan untuk semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, saya ucapkan terima kasih banyak atas segala dukungan dan bantuan yang telah diberikan semasa kuliah hingga masa Studio Tugas Akhir.

(9)

commit to user

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN ARSITEKTUR PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN WADAH KOMUNITAS FILM INDEPENDEN DI JAKARTA Dengan Penerapan Karakteristik Film

PENYUSUN : SHABRINA D’LASTTRIE ANITA

NIM : I 0207086

JURUSAN : ARSITEKTUR

TAHUN : 2012

Surakarta, Juli 2012

Menyetujui,

Pembimbing I Tugas Akhir

Ir. Ahmad Farkhan, MT.

NIP. 19630802 199103 1 003

Pembimbing II Tugas Akhir

Avi Marlina, ST, MT.

NIP. 19590725 199802 1 001

Mengesahkan,

Ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UNS

Dr. Ir. Mohamad Muqoffa, MT. NIP. 19620610 199103 1 001

Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UNS

(10)

commit to user

WADAH KOMUNITAS FILM INDEPENDEN DI JAKARTA

Dengan Penerapan Karakteristik Film

ABSTRAK

Budaya indie sedang menjadi trend dikalangan anak muda sekarang ini. Mulai dari musik indie hingga film indie. Tak terkecuali di Indonesia, film independen atau yang biasa disebut film indie juga ikut meramaikan dunia perfilman baik dikalangan sineas film profesional maupun amatir, sineas senior maupun junior. Sebagai suatu wadah bagi aspirasi para komunitas film, fasilitas yang ada didalam Wadah Komunitas Film Independen mencakup fasilitas yang mendukung pengembangan film independen di Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya. Fasilitas yang ada meliputi fasilitas pendidikan, produksi, dan eksebisi film. Sasaran dari perancangan adalah para sineas perfilman, penikmat film, serta orang awam dan sasaran utama dalam perancangan ini adalah komunitas film independen di Jakarta pada khususnya serta Indonesia pada umumnya. Wadah yang nantinya akan menjadi media distribusi film independen.

Kota Jakarta merupakan Ibukota dari Indonesia dan merupakan pusat dari segala kegiatan, menjadi objek yang cukup konsumtif terhadap budaya indie yang sedang terjadi. Festival film baik dalam skala nasional maupun internasional yang merupakan sebuah ajang apresiasi bagi film independen sering diadakan di Jakarta. Jakarta memiliki potensi yang cukup besar bagi perfilman Indonesia. Film memiliki banyak karakteristik yang bisa diterapkan dalam desain. Karakter film diwujudkan dalam perancangan arsitektural dan menjadi sebuah visualisasi desain. Wadah Komunitas Film Independen diharapkan dapat mendukung terciptanya iklim yang kondusif untuk merangsang para pengkarya film independen baik dari kalangan akademis maupun awam serta para penikmat film independen agar lebih kritis, inovatif dan komunikatif serta percaya diri dalam usahanya untuk memajukan dan mengembangkan khasanah perfilman Indonesia.

(11)

commit to user

INDEPENDENT FILM COMMUNITY SPACE WITH FILM CHARACTERISTIC

DESIGN IMPLEMENTATION IN JAKARTA

ABSTRACT

Indie culture has becoming a trends amongs the youth nowadays. Starts from indie musics to indie films. Including in Indonesia, an independent film or commonly known as indie film also enliven film industries for both a professional and an amateur filmmakers films, and also for a seniors and a juniors filmmakers. As a space of the aspirations of film communities, Independent Film Community Space consist of facilities which supports the independent film development in Indonesia in general and in Jakarta in common. Facilities which is including an educational , film productions and film exhibitions facilities. The design objectives is a filmmakers, a moviegoers, and also for common people as well and the main aim goes to the independent film communities in Jakarta in common and Indonesia in general. A space that will becoming a media for the distribution of independent films.

Jakarta is the capital city of Indonesia and the center of many activities, becomes the object which quite consumptive for indie cultures that is happening. Film festivals which is an appreciation events for independent films was frequently held in Jakarta, both nationally and internationally range. Jakarta has a considerable potential for the development of Indonesian films. Films has a lot of characteristics which could be implemented into a design. Film characters realized in the architectural design and became a design visualization. Independent Film Community Space are expected to supports a conducive environment in order to stimulates independent filmmakers from both academic and common people as well as for moviegoers of an independent films in order to be more critical, innovative and communicative and confident in attempts to promote and developing the repertoire of Indonesian cinema.

(12)

commit to user

I - 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Judul

WADAH KOMUNITAS FILM INDEPENDEN di JAKARTA

Dengan Penerapan Karakteristik Film

1.2 Esensi Judul

1. Sebagai sarana pewadahan kegiatan komunitas film independen. 2. Sebagai sarana pengembangan film independen.

1.3 Latar Belakang

1.3.1 Perkembangan Film Independen

Indie label dewasa ini merupakan sebuah matra yang sangat populer di kalangan anak muda Indonesia. Menjadi indie seolah sebuah cara untuk selalu mengikuti gaya hidup yang sedang “ngepop”. Nyaris tidak ada bidang kebudayaan pop yang tidak lepas dari indie, sebut saja musik indie, majalah indie dan juga tidak ketinggalan film indie.

Penemuan teknologi digital telah memberi ruang baru bagi budaya pop dalam bentuk film indie. Biaya produksi yang jauh lebih murah jika dibandingkan membuat film dengan seluloid membuat gairah indie kemudian merebak di kalangan anak muda untuk membuat film.

(13)

commit to user

I - 2

muda; bebas serta bersemangat. Sebuah pergeseran wacana dari penonton, menjadi pembuat.1

Muncullah sebuah espektasi bahwa momentum tersebut dapat mengantarkan kembali kepada kebangkitan perfilman Indonesia. Lahirnya ratusan komunitas film di berbagai pelosok Indonesia menjadi salah satu parameternya. Kelompok-kelompok tersebut ramai berproduksi, gairah serta semangat yang mereka tunjukan menginspirasikan banyak kaum muda lainnya untuk kemudian turut ikut serta ambil bagian dalam fenomena ini.

1.3.2 Komunitas Film Independen di Jakarta

Jakarta memiliki potensi yang besar di bidang perfilman. Di Jakarta berkembang komunitas-komunitas film yang sering berkumpul dan bertukar pikiran. Perkembangan komunitas film di Jakarta dimulai pada tahun 1950 dengan berdirinya kine klub bernama Liga Film Mahasiswa Universitas Indonesia (LFM-UI) di Kampus UI Salem-ba. Tahun 1960 berdiri Liga Film Mahasiswa ITB (LFM-ITB). Tahun 1969 lahir Kine Klub Dewan Kesenian Jakarta yang kemudian dikenal sebagai Kine Klub Jakarta (KKJ). Beberapa kine klub lainnya juga bermunculan pada rentang masa itu. Lalu pada tahun 1990 berlangsung pertemuan perwakilan dari komunitas-komunitas pecinta film dari berbagai daerah di Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM) Jakarta, di sana muncul kesepakatan membentuk organisasi bernama Sekretariat Nasional Kine Klub Indonesia (SENAKKI) sebagai induk organisasi kine klub di Indonesia.

Festival film pun sering diadakan di Jakarta. Festival-festival tersebut diantaranya:

a. Jakarta International Film Festival/JiFFest

1

(14)

commit to user

I - 3

b. Q Film Festival merupakan festival non kompetisi yang diselenggarakan oleh Q-munity sejak tahun 2002. Festival film ini bukan hanya pada lingkup lokal tetapi juga lingkup internasional. QFF merupakan festival film pertama di Indonesia yang mengangkat tema khusus gay, lesbian, dan AIDS.

c. Hello;Fest Motion Art Festival yang diadakan oleh Hello;Motion sejak tahun 2004 mengkhususkan diri pada film pendek dan animasi.

Untuk peningkatan kualitas para pembuat film di Jakarta, diselenggarakan pula workshop-workshop yang melibatkan pembicara para sineas lokal bahkan sineas mancanegara.

Komunitas film di Indonesia sejauh ini merupakan wadah bagi kelompok penggiat film dalam tataran sebagai ruang ekspresi dan berkreasi melalui media film. Bisa juga sebagai ruang workshop atau pembelajaran untuk memasuki wilayah industri perfilman yang ada. Komunitas film ada ribuan jumlahnya, tersebar sejak dari Jakarta sampai di kota-kota kecamatan. Basis bagi komunitas-komunitas film independen ada dari sekolah-sekolah SMK, SMU, kampus perguruan tinggi, gelanggang remaja, pusat kesenian, sanggar-sanggar, hingga rumah-rumah yang sering menjadi tempat nongkrong.

1.3.3 Minimnya Media Pengembangan Film Independen

(15)

commit to user

I - 4

pengembangan perfilman Indonesia. KONFIDEN (Komunitas Film Independen Indonesia) di Jakarta, pernah menyelenggarakan FFVII (Festival Film Video Independen Indonesia). Festival ini menjadi semacam tempat transit besar bagi pengkarya film indie untuk meng-eksebisikan karya-karya mereka sekali dalam setahun serta ajang silaturahmi antar pengkarya film dari berbagai kota di Indonesia.

Keberadaan komunitas film indie sebagai sesuatu yang non-mainstream adalah sebuah usaha untuk membuka kemungkinan eksplorasi dengan kebebasan yang mereka miliki. Banyak wacana yang bergulir darinya. Film bukan lagi sekedar. Sekedar membuat, sekedar mempertontonkan, sekedar mengkoleksi. Artinya, komunitas ini memiliki banyak peran dan salah satu peran yang cukup vital adalah peran melahirkan wacana itu sendiri menjadikan film sebagai wacana intelektual yang menyangkut kebebasan berekspresi serta eksplorasi.

(a) (b)

Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/filmindie

(16)

commit to user

I - 5

Sebuah bukti bahwa film alternatif mulai dipandang sebagai bisnis yang menguntungkan adalah pasar telah tercipta, tren telah bergulir, dan kapital berbicara. Pengambil alihan kekuasaan ruang oleh pemodal tampaknya bukan sesuatu yang menjadi persoalan bagi para pengkarya film indie ini. Menurut catatan, delapan puluh persen dari film Indonesia yang baru lahir diperuntukan bagi kaum muda, dan pasar ini harus dipelihara dengan baik.

Yang menjadi permasalahan adalah, belum adanya ruang yang khusus memfasilitasi karya film indie ini, sehingga menjadikan kita sulit untuk menilai sudah seberapa jauh perkembangannya, apalagi menilai akan menjadi seperti apa kedepannya. Persoalan ruang adalah persoalan krusial. Dalam bentuk harfiahnya, tidak ada ruang yang memang secara khusus memfasilitasi kehadiran karya-karya film indie serta kembali memunculkan wacana dari pengembangan serta perkembangannya itu sendiri.

1.4 Permasalahan

Bagaimana konsep perencanaan dan desain sebuah ruang bagi komunitas film independen yang dapat mendukung kegiatan komunitas film sehingga dapat mengembangkan potensi perfilman di Indonesia yang menampilkan karakter film dalam desain karakter ruang dan bentuk.

1.5 Tujuan dan Manfaat I.5.1 Tujuan

1. Merancang sarana bagi kegiatan komunitas film independen di Jakarta.

2. Untuk meningkatkan perkembangan film Indonesia, melalui penyediaan fasilitas yang memadai, baik dari segi fisik bangunan maupun non fisik bangunan.

(17)

commit to user

I - 6

4. Melestarikan dan mengapresiasikan film independen untuk kemudian memperkenalkan karya film independen baik dalam skala nasional maupun internasional.

I.5.2 Manfaat

1. Sarana untuk menyatukan komunitas pecinta film indie Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya.

2. Sarana untuk mewadahi kegiatan komunitas film independen di Jakarta agar dapat menciptakan karya-karya terbaik perfilman nasional.

3. Mendukung terciptanya iklim yang kondusif untuk merangsang para pengkarya film independen baik dari kalangan akademis maupun awam serta para penikmat film independen agar lebih kritis, inovatif dan komunikatif serta percaya diri dalam usahanya untuk memajukan dan mengembangkan khasanah perfilman Indonesia.

1.6 Batasan Permasalahan

Batasan permasalahan antara lain:

1. Perencanaan kawasan yang akan dilakukan lebih menekankan pada aspek rancang bangun daripada aspek non rancang bangun.

2. Fungsi primer yang dirancang adalah fasilitas khusus bagi komunitas film independen.

3. Sasaran utama dari perancangan ini adalah komunitas film independen di Jakarta.

1.7 Persoalan

(18)

commit to user

I - 7

1.8 Metode Pengumpulan Data

Berikut ini adalah metode-metode yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi-informasi:

· Studi Banding

Dilakukan untuk mendapat gambaran tentang proyek. Melihat secara langsung proyek setipe dan kondisi lahan sebenarnya. Melakukan dokumentasi.

· Studi Literatur

Melalui buku-buku referensi, jurnal, maupun laporan tugas akhir yang setipe dengan proyek dan berkaitan dengan proyek.

· Studi Internet

Dengan browsing internet mencari informasi tambahan dari website-website terkait.

· Wawancara

Melakukan wawancara dengan orang-orang terkait seperti penikmat film,komunitas-komunitas film independen.

1.9 Sistematika Penulisan BAB I : Pendahuluan

Menguraikan tentang latar belakang masalah, merumuskan masalah, menerapkan tujuan dan sasaran, mengungkapkan persoalan dan batasan permasalahan, serta sistematika penulisan.

BAB II : Tinjauan Teori

Mengemukakan tentang tinjauan film dan film indie di indonesia, mulai dari sejarah film di indonesia, komunitas film indie di Indonesia dan teori pendekatan desain.

(19)

commit to user

I - 8

Meninjau tentang kondisi geografis, penataan ruang kawasan, potensi Kota Jakarta terhadap perkembangan film independen hingga rencana Wadah Komunitas Film Independen.

BAB IV : Analisa Pendekatan Perencanaan dan Perancangan

Melakukan analisa perencanaan dan perancangan Wadah Komunitas Film Independen sebagai kawasan fasilitas bagi komunitas film independen dengan penerapan karakteristik film yang meliputi analisa lokasi, analisa site, analisa peruangan, dan analisa penampilan bangunan dan analisa tata ruang dalam dan luar bangunan, analisa struktur serta analisa sistem utilitas bangunannya.

BAB V : Konsep Perencanaan dan Perancangan

(20)

commit to user

II - 1

BAB II

TINJAUAN TEORI

Tinjauan teori merupakan pengumpulan data yang diperoleh dari berbagai media seperti literature, internet, buku, majalah, dan juga wawancara langsung pada target user yaitu komunitas film, teori yang dibahas dalam bab ini meliputi data teori mengenai perfilman, film independen dan fenomenanya yang akan menjadi acuan dalam perencanaan Wadah Komunitas Film Independen ini. Pengambilan preseden dimaksudkan sebagai acuan dalam proses perencanaan dan perancangan.

2.1 Tinjauan Film

2.1.1 Pengertian Film

Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-undang Perfilman Republik Indonesia tahun 1999, Film didefinisikan sebagai karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau lainnya.

(21)

commit to user

II - 2

Menurut Rudi Soedjarwo, Film berasal dari kata filmen, yang berarti lapisan tipis pada permukaan susu setelah dipanasi.

Film merupakan cangkokan dari perkembangan teknologi fotografi dan rekaman suara. Juga komunal berbagai kesenian, baik seni rupa, teater, sastra, arsitektur, hingga musik. Singkatnya, film

diartikan sebagai suatu genre seni bercerita berbasis audio-visual, atau cerita yang dituturkan pada penonton melalui rangkaian gambar bergerak.

2.1.2 Sejarah Perfilman Indonesia

Perfilman Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan sempat menjadi raja di negara sendiri pada tahun 1980-an, ketika film Indonesia merajai bioskop-bioskop lokal. Film-film yang terkenal pada saat itu antara lain, Catatan si Boy, Blok M dan masih banyak film lain. Bintang-bintang muda yang terkenal pada saat itu antara lain Onky Alexander, Meriam Bellina, Nike Ardilla, Paramitha Rusady.

Sumber : http://google.com/catatansiboy/

Gambar 2.1 Poster Film “Catatan Si Boy”

(22)

commit to user

II - 3

dewasa. Pada saat itu film Indonesia sudah tidak menjadi tuan rumah lagi di negara sendiri. Film-film dari Hollywood dan Hong Kong telah merebut posisi tersebut.Hal tersebut berlangsung sampai pada awal abad baru, muncul film Petualangan Sherina

yang diperankan oleh Sherina Munaf, penyanyi cilik penuh bakat Indonesia. Film ini sebenarnya adalah film musikal yang diperuntukkan kepada anak-anak. Riri Riza dan Mira Lesmana yang berada di belakang layar berhasil membuat film ini menjadi tonggak kebangkitan kembali perfilman Indonesia. Antrian panjang di bioskop selama sebulan lebih menandakan kesuksesan film secara komersil.Setelah itu muncul film film lain yang lain dengan segmen yang berbeda-beda yang juga sukses secara komersil, misalnya film Jelangkung yang merupakan tonggak kancah perfilman yang merupakan film romance remaja. Sejak saat itu berbagai film dengan tema serupa yang dengan film Sherina (film oleh Joshua, Tina Toon), yang mirip dengan Jelangkung (Di Sini Ada Setan, Tusuk Jelangkung), dan juga romance remaja seperti Biarkan Bintang Menari, Eiffel I'm in Love. Ada juga beberapa film dengan tema yang agak berbeda seperti Arisan! oleh Nia Dinata. Tren film horor remaja yang juga bertengger di bioskop di Indonesia untuk waktu yang cukup lama. Selain itu masih ada film Ada Apa dengan Cinta? yang mengorbitkan sosok Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra.

Selain film-film komersil itu juga ada banyak film film non komersil yang berhasil memenangkan penghargaan di mana-mana yang berjudul Pasir Berbisik yang menampilkan Dian Sastrowardoyo dengan Christine Hakim dan Didi Petet. Selain dari itu ada juga film yang dimainkan oleh Christine Hakim seperti

Daun di Atas Bantal yang menceritakan tentang kehidupan anak jalanan. Tersebut juga film-film Garin Nugroho yang lainnya, seperti Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, juga ada film Marsinah

(23)

commit to user

II - 4

juga ada film film seperti Beth, Novel tanpa huruf R, Kwaliteit 2

yang turut serta meramaikan kembali kebangkitan film Indonesia. Festival Film Indonesia juga kembali diadakan pada tahun 2004 setelah vakum selama 12 tahun.

Sumber : http://google.com/AADCmovie/

Gambar 2.2 Poster Film “Ada Apa Dengan Cinta”

2.1.3 Klasifikasi Film1

1. Berdasarkan Jenis Film

a. Film Fiksi

Film yang digolongkan sebagai film fiksi adalah film yang diproduksi berdasarkan cerita yang dikarang, dan dimainkan oleh aktor dan aktris.

Film fiksi digolongkan menjadi dua kategori, yaitu:

1) Film fiksi berdurasi panjang diatas 60 menit, selama ini dikenal sebagai film layar lebar/film panjang/bioskop. 2) Film fiksi berdurasi pendek dibawah 30 menit, selama

ini diistilahkan dengan film pendek.

1

(24)

commit to user

II - 5 b. Film Non Fiksi

Film yang menggunakan kenyataan/realita sebagai subyeknya. Film non fiksi terbagi atas dua kategori, yaitu :

1) Film faktual

Menampilkan fakta atau kenyataan yang ada, dimana kamera sekedar merekam suatu kejadian. Sekarang, film faktual dikenal sebagai film berita (news-reel), yang menekankan pada sisi pemberitaan suatu kejadian aktual.

2) Film dokumenter

Selain fakta, film dokumenter juga mengandung subyektifitas pembuat yang diartikan sebagai sikap atau opini terhadap peristiwa, sehingga persepsi tentang kenyataan akan sangat bergantung pada si pembuat film dokumenter tersebut.

2. Berdasarkan Cara Pembuatan Film

a. Film Eksperimental

Film eksperimental adalah film yang dibuat tanpa mengacu pada kaidah-kaidah pembuatan film yang lazim. Tujuannya adalah untuk mengadakan eksperimentasi dan mencari cara-cara pengucapan baru lewat film. Umumnya dibuat oleh sineas yang kritis terhadap perubahan, tanpa mengutamakan sisi komersialisme, namun pada sisi kebebasan berkarya.

b. Film Animasi

(25)

commit to user

II - 6 3. Berdasarkan Tema Film2

a. Drama

Tema ini lebih menekankan pada sisi human interest yang bertujuan mengajak penonton ikut merasakan kejadian yang dialami tokohnya, sehingga penonton merasa seakan-akan berada didalam film tersebut. Tidak jarang penonton yang merasakan sedih, senang, kecewa, bahkan ikut marah.

b. Komedi

Tema film komedi intinya adalah mengetengahkan tontonan yang membuat penonton tersenyum, atau bahkan tertawa terbahak-bahak.

c. Action

Tema action mengetengahkan adegan-adegan perkelahian, pertempuran dengan senjata, atau kebut-kebutan kendaraan antara tokoh yang baik (protagonis) dengan tokoh yang jahat (antagonis), sehingga penonton ikut merasakan ketegangan, was-was, takut.

d. Horor

Film bertemakan horor selalu menampilkan adegan-adegan yang menyeramkan sehingga membuat penontonnya merinding karena perasaan takutnya.

2.1.4 Pelaku Perfilman

A. Produser

Produser adalah orang yang bertugas memimpin dan mengontrol fasilitas produksi serta orang-orang yang terlibat di dalam sebuah film agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi.

B. Sutradara

2

(26)

commit to user

II - 7

Orang yang bertanggung jawab penuh atas aspek kreatif, baik yang bersifat penafsiran maupun teknik, pada pembuatan sebuah film.

Sebutan bagi seseorang yang berprofesi sebagai ahli penataan gambar video dan audio. Editor bertugas menyusun hasil syuting hingga membentuk satu kesatuan cerita dan menciptakan waktu filmis.

E. Penata Artistik dan Fotografi

Penata artistik dapat dibedakan menjadi penata latar, gaya, dan rias.

F. Pemeran

Orang yang memerankan tokoh tertentu dalam suatu pertunjukkan di panggung, acara televisi, atau film.

G. Publicity Manager

Menjelang, selama, dan sesudah sebuah film selesai dikerjakan, para calon penonton harus dipersiapkan untuk menerima kehadiran film tersebut. Pekerjaan ini dipimpin oleh seorang yang tahu betul melakukan propaganda, dan sebutannya adalah

publicity manager.

2.2 Tinjauan Film Independen

2.2.1 Pengertian Film Independen

(27)

commit to user

II - 8

sendiri bisa didefinisikan sebagai film yang tidak masuk bioskop,". Karena mengusung semangat indie tadi yang biasanya punya karakteristik "idealis" dan "low budget".

2.2.2 Sejarah Film Independen

Istilah ‘film independen’ sendiri lahir di Amerika Serikat di pertengahan 1960. Ketika itu filmmaker-filmmaker muda berbakat seperti Steven Spielberg, George Lucas, John Cassavetes, Stanley Kubrick, Martin Scorsese jengah melihat keadaan industri

Hollywood yang terlalu mapan dan eksklusif. Hollywood (bahkan hingga kini) menutup kemungkinan sutradara-sutradara muda untuk berkecimpung kerja dalam lingkaran mereka. Pemilihan sutradara, juga aktor, hanya berkisar pada orang-orang yang telah memiliki reputasi sebagai pembuat film handal (yang dapat mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya bagi studio film dan pendana).

Dari keinginan untuk mendobrak kemapanan gurita industri inilah lahir sebuah gerakan film yang mereka sebut ‘film independen’. Kelima sutradara tersebut kemudian merombak cara kerja perfilman di Amerika Serikat dan melahirkan karya-karya awal yang monumental. Namun, setelah mendapatkan reputasi, karya-karya mereka pun berubah menjadi lebih mapan, bahkan akhirnya menjadi bagian industri Hollywood itu sendiri. Dari kelima nama di atas, hanya John Cassavetes yang terus berkarir di jalur independen dan melahirkan karya-karya eksperimental yang hingga kini disebut sebagai masterpiece film independen seperti

Shadows, A Woman Under the Influence, dan The Killing of A Chinese Bokie. Entah faktor kebetulan atau tidak, di antara kelima sutradara tersebut di atas, hanya Cassevetes yang tidak berlatar belakang pendidikan film.

(28)

commit to user

II - 9

Lucas (dua sutradara terkaya dunia) kini mendirikan studio-studio film untuk terus mendukung berkembangnya film-film independen Amerika Serikat. Tidak heran apabila di balik industri Hollywood yang besar itu, film-film ‘bawah radar’ Amerika Serikat pun secara statistik merajai sinema independen dunia.

Hal ini tentunya dibantu dengan kuatnya jaringan distribusi film independen di negeri tersebut, juga maraknya penyelenggaraan festival film khusus independen (diprakarsai oleh salah satunya Sundance Film Festival di tahun 1978), dan kini ditambah dengan berkembangnya internet. Hampir segala seluk-beluk tentang dunia film independen kini dapat dipelajari melalui internet, salah satunya adalah melalui situs

www.workbookproject.com yang diprakarsai oleh Lance Weiller, mulai dari strategi pendanaan, pembuatan, produksi, paska-produksi, promosi dan distribusi.

Film-film independen mancanegara pun telah banyak yang dibuat khusus untuk konsumsi internet, bahkan di telepon genggam. Di satu sisi hal tersebut tentunya mereduksi makna sinema yang selama ini identik dengan bioskop sebagai tempat eksibisi utama, namun di lain sisi membuka cakrawala dunia gambar bergerak ke pasar yang lebih luas dengan akses yang mudah dan terjangkau.

2.2.3 Pelaku Film Independen

1. Departemen Produksi

(29)

commit to user

II - 10 2. Departemen Penyutradaraan

Salah satu departemen dalam produksi sebuah karya film yang memegang peranan penting adalah departemen penyutradaraan. Sebelum melakukan pengambilan gambar pada tahap produksi, orang pertama yang mengetahui rencana hasil jadi dari sebuah karya film adalah sutradara. Setelah membayangkan hasil jadi filmnya, sutradara menuangkan dalam storyboard.

Mengarahkan acting adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam pembuatan film. Menggarap film berhubungan dengan cita rasa seni sentuhan dari sutradara. Hal itulah yang menarik selera penonton.

3. Departemen Kamera

Departemen kamera dikepalai seorang Director of Photography (DOP) dan beranggotakan kameraman, chief lighting atau gaffer dan asistennya. Secara teknis kerja seorang DOP adalah menentukan dan mengupayakan kualitas terbaik dari gambar yang direkam.

4. Departemen Artistik

Departemen yang bertugas memberikan ilustrasi visual ruang dan waktu adalah departemen artistik yang dipimpin oleh seorang Art Director atau Desain Produksi. Seorang desainer produksi memiliki tugas utama membantu sutradara untuk menentukan konsep film secara keseluruhan baik aspek visual, suasana dan hasil akhir sebuah karya film.

5. Departemen Editing

(30)

commit to user

II - 11

akhir film. Dalam departemen editing tersebut, seorang editor dibantu oleh beberapa asisten, termasuk sound engineer atau

sound director.

2.2.4 Perbedaan Film Independen dengan Film Mainstream

Perbedaan antara film mainstream dengan film indie dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 2.1 Perbedaan antara film mainstream dengan film indie

FILM INDIE FILM MAINSTREAM

Ø Non Komersil

Ø Mengusung tema alternatif

Ø Dana produksi tidak terlalu besar

Ø Pendistribusian tanpa sponsor

Ø Adanya diskusi dan apresiasi film antara penonton dengan filmmaker

Ø Komersil

Ø Mengangkat tema yang populer dimasyarakat karena bertujuan komersil

Ø Dana produksi yang cukup besar

Ø Pendistribusian dengan sponsor

Ø Tidak adanya diskusi dan apresiasi film antara penonton dengan

filmmaker

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011

(31)

commit to user

II - 12

Sumber:http:// www.filmindonesia.or.id, 2011

Gambar 2.3 Grafik Data Penonton Indonesia

2.2.5 Tahapan Produksi Film Independen

Mekanisme produksi film indie disini diadaptasi dari penggarapan film layar berdurasi panjang:

1. Ide Cerita

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengolah ide cerita menjadi sebuah skenario dengan beberapa tahap yang biasa dilalui agar arahnya jelas, tidak melenceng jauh dari ide dasar, dan agar kerangka ceritanya terkunci.

2. Penulisan skenario draft awal

Selanjutnya adalah mengolah kembali skenario draft awal yang telah disetujui produser untuk kemudian dikembangkan ataupun disusutkan guna mendapatkan draft final skenario.

3. Menyusun kru produksi

Setelah konsep produksi dan perkiraan rencana kebutuhan disepakati, perlu kiranya merekrut kru produksi yang sesuai dengan bidang yang ada dilapangan.

4. Melengkapi formulir produksi

Setelelah didapatkan kru, diadakan rapat produksi bersama untuk melengkapi formulir dan berbagai catatan produksi

(32)

commit to user

II - 13

guna menghasilkan pedoman produksi secara lengkap sebagai petunjuk pelaksanaan di lapangan.

5. Casting pemeran

Untuk memerankan tokoh yang digambarkan dalam skenario dibutuhkan casting pemeran. Ada beberapa pertimbanganyang harus diperhatikan dalam proses casting yakni, pembawaan naskah, acting, ataupun postur tubuh yang sesuai dengan tuntutan skenario dan sutradara.

6. Reading and rehearsal talents

Pada tahap reading, talent dituntut bisa membawakan dialog dalam skenario dengan pas, meliputi dialek, pemahaman karakter yang dimainkan, mimik wajah, dll. Sementara dalam

reharsal, talent harus menguasai blocking sesuai permintaan sutradara.

7. Menentukan lokasi syuting

Pertimbangan dalam menentukan lokasi tidaklah mudah, karena lokasi harus terjangkau, tersedia sumber energi, baik listrik maupun logistik, terlebih lagi konsumsi, dan juga akomodasi yang memadai untuk setiap kru pelaksana produksi.

8. Briefing produksi

Briefing produksi merupakan langkah bagi setiap kru yang tergabung dalam pelaksana produksi untuk beradaptasi.

9. Proses shooting

70 % dari proses produksi dihabiskan untuk tahap praproduksi. Pelaksanaan shooting hanya tinggal melakukan apa yang telah direncanakan secara matang pada tahap praproduksi.

10.Evaluasi kerja produksi

(33)

commit to user

II - 14 11.Editing

Tahap terakhir adalah tahap editing. Hal yang dilakukan bukanlah sekedar memilih gambar dan menggabungkan saja, tetapi pemberian sentuhan seni juga perlu dilakukan, seperti memberi

visual effect atau sound effect yang mendukung jalannya cerita.

2.3 Tinjauan Komunitas Film Independen

2.3.1 Pengertian Komunitas

Istilah komunitas berasal dari bahasa latin communis yang artinya sama, kemudian menjadi kata benda communitas yang artinya kesamaan. Komunitas lazim dipergunakan untuk menyebut sebuah kelompok di mana anggotanya memiliki ketertarikan terhadap sesuatu yang sama atau berada dalam habitat yang sama.

Menurut Vanina Delobelle, definisi suatu komunitas adalah group beberapa orang yang berbagi minat yang sama, yang terbentuk oleh 4 faktor, yaitu:

· Komunikasi dan keinginan berbagi (sharing): Para anggota saling menolong satu sama lain.

· Tempat yang disepakati bersama untuk bertemu

· Ritual dan kebiasaan: Orang-orang datang secara teratur dan periodik

· Influencer: Influencer merintis sesuatu hal dan para anggota selanjutnya ikut terlibat

2.3.2 Komunitas Film Independen

(34)

commit to user

II - 15

lebih dikenal berada dalam wadah yang disebut organisasi, asosiasi, atau perusahaan.

Sejarah komunitas film dimulai 1920-an dimulai Paris, Prancis, di mana Louis Delluc membentuk apa yang disebut Film Society merujuk pada pengertian Kumpulan Pecinta Film. Istilah film di beberapa negara Eropa menggunakan istilah Cine atau Kino (dari cinema), maka komunitas film kemudian disebut sebagai cine club yang di Indonesia menjadi Kine Klub. Inti gerakan ini adalah membangun masyarakat pecinta film yang kritis dan demokratis dengan memandang film sebagai karya seni. Dalam rentang waktu 5 tahun sejak dibentuk, cine club tumbuh selain di Prancis juga di Australia, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Skotlandia, dan Amerika Serikat.

Di Indonesia kelahiran komunitas film dimulai tahun 1950 dengan berdirinya kine klub bernama Liga Film Mahasiswa Universitas Indonesia (LFM-UI) di Kampus UI Salemba. Tahun 1960 berdiri Liga Film Mahasiswa ITB (LFM-ITB). Tahun 1969 lahir Kine Klub Dewan Kesenian Jakarta yang kemudian dikenal sebagai Kine Klub Jakarta (KKJ). Beberapa kine klub lainnya juga bermunculan pada rentang masa itu. Lalu pada tahun 1990 berlangsung pertemuan perwakilan dari komunitas-komunitas pecinta film dari berbagai daerah di Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM) Jakarta, di sana muncul kesepakatan membentuk organisasi bernama Sekretariat Nasional Kine Klub Indonesia (SENAKKI) sebagai induk organisasi kine klub di Indonesia.

(35)

commit to user

II - 16

Pada 1960 nama John Cassavettes mencuat sebagai pelopor film independen melalui karyanya berjudul Shadows (1962). Oleh pengamat perfilman, model berproduksi Cassavettes dinilai sebagai ekspresi pembrontakannya pada sistem industri perfilman yang ada. Karya yang dilahirkan pun mencerminkan pemberontakan itu, sehingga dianggap menumbuhkan semangat independen. Tetapi bukan berarti film independen adalah film non-industri. Karena film Easy Rider pada akhirnya dipasarkan secara industrial, dibintangi artis terkenal Jane Fonda. Atau film Sex, Lies and Videotape (1989) karya Steven Soderbergh, yang setelah meraih penghargaan di Festival Cannes juga beredar dalam sistem industrial. (1969) karya Dennis Hopper, yang juga dianggap sebagai pelopor film independen.

2.4 Tinjauan Ruang Perfilman

2.4.1 Ruang Pertunjukan Film

Yang dimaksud ruang apresiasi film adalah ruang yang dapat menampung kegiatan apresiasi film, yaitu kegiatan menikmati dan menghargai karya film yang diputar atau ditampilkan disuatu ruangan tertentu dimana akan menghasilkan suatu kegiatan evaluasi pribadi atau kelompok yang dalam hal ini komunitas film independen dan pecinta film. Fasilitas kegiatan apresiasi film yang terdapat pada Taman Komunitas Film independen secara pokok fisiknya berupa ruang display atau teater film, sebagai sarana presentasi film. Pada kajian teori akan dituliskan pustaka mengenai ruang display atau ruang teater film untuk memperoleh standar minimum kenyamanan dalm kegiatan apresiasi film.

(36)

commit to user

II - 17

oleh gedung pertunjukan. Beberapa hal dasar yang perlu diperhatikan;

1. Klasifikasi Bioskop

Pada umumnya berdasarkan pada: Kapasitas daya tampung

Ø Kapasitas kecil : < 200 tempat duduk

Ø Kapasitas sedang : 200 – 400 tempat duduk

Ø Kapasitas besar : > 400 tempat duduk

2. Persyaratan Kualitas Pandang Visual

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kualitas pandang visual yang nyaman diantaranya adalah:

1. Layar Proyeksi

Layar proyeksi besar diatur dengan radius ke urutan kursi terakhir. Sisi layar proyeksi besar terletak pada minimal 60 cm di atas lantai.

2. Jarak Minimum Penonton Dengan Layar

Jarak minimum penonton dengan layar maksimal 300 cm dari urutan kursi pertama ke tengah layar.

Sumber : Data Arsitek Jilid 2

Gambar 2.4 Persyaratan Visual Gedung Pertunjukan

3. Kemiringan Lantai

Kemiringan lantai dengan kecondongan min 10% atau melalui sebuah tangga maksimum dengan tinggi tangga maksimum 16 cm.

(37)

commit to user

II - 18

Penataan layout kursi lebih ditujukan pada efisiensi ruang dan keamanan. Akan dibahas pada bagian persyaratan keamanan sinepleks.

Sumber : Data Arsitek Jilid 2

Gambar 2.5 Jarak Kursi Antar Penonton

3. Persyaratan Akustik dan Sound System

a. Ruang Bioskop

Film adalah media audio-visual, maka suara atau audio haruslah mendapat porsi 50% dari film tersebut. Sejak ditetapkannya standar sound untuk film pada tahun 1930 oleh The Academy of Motion Picture Arts and Sciences, film seperti mendapat nafas baru. Para pembuat filmpun mulai memikirkan bagaimana instalasi suara pada bioskop. Mereka tidak hanya berkutat pada bagimana merekam suara pada filmnya, tetapi juga bagaimana suara pada film itu akan terdengar oleh penonton di dalam bioskop. Baik tidaknya akustik ruangan bioskop sangat mempengaruhi terdengarnya suara dari film.

George Angspurger, seorang ahli akustik mengatakan bahwa dalam akustik terdapat unsur 3R yang harus diperhatikan:

(38)

commit to user

II - 19

3. Reverberation Time (waktu dengung)

Absorpsi merupakan hal terpenting dalam perancangan sebuah bioskop berbeda dengan gedung konser dimana suara harus dipantulkan sebanyak mungkin, di bioskop suara harus diserap sebanyak mungkin sedangkan pantulan suara harus diminimalisasi.

Prinsip-prinsip perancangan kenyamanan akustik ruang bioskop antara lain:

a) Perletakan speaker.

Prinsip dasar perletakan speaker untuk menghasilkan aliran suara yang konsisten di semua tempat dalam bioskop kurang lebih seperti gambar dibawah ini.

Sumber : Leslie L. Doelle, Akustik Lingkungan

Gambar 2.6 Tampak Atas, (b) Tampak Samping Perletakan Speaker Speaker yang berada di belakang layar diletakkan mengarah kebagian ruangan yang terletak ⅔ kedalam ruangan. Sedangkan tinggi speaker berada di ⅓ tinggi ruangan. Speaker surround terdekat minimal berjarak ⅓ dari kedalaman ruang.

Posisi speaker harus diarahkan ke arah yang berlawanan dari tempat speaker berasal sehingga speaker dapat menghasilkan minimum perbedaan kekuatan antara dinding dan kursi penonton sebesar -3 dB.

(a)

(39)

commit to user

II - 20

Sumber : Leslie L. Doelle, Akustik Lingkungan

Gambar 2.7 Posisi Speaker

b) Pemasangan kain tirai pada dinding.

Penyerapan suara disiasati dengan pemasangan kain tirai pada dinding samping kiri dan kanan, serta dinding bagian belakang.

c) Langit-langit studio.

Plafon atau langit-langit bioskop dibuat bertrap, menurut Doelle plafon bertrap mendistribusikan pantulan suara yang lebih merata ke seluruh ruangan serta meningkatkan intensitas bunyi.

Sumber : Doelle, 51

Gambar 2.8 Plafond bertrap d) Furniture pendukung dalam ruang.

(40)

commit to user

II - 21 4. Persyaratan Keamanan

a. Pola Distribusi Penonton Keluar

Penonton dapat langsung keluar bangunan dengan cepat (dalam waktu 5 menit seluruh penonton bisa terdistribusi keluar).

Ø Distribusi langsung, penonton terdistribusi keluar melewati salah satu sisi atau kedua sisi bangunan.

Ø Distribusi tidak langsung, memerlukan beberapa persyaratan tambahan diantaranya: lebar minimal koridor 2 meter, tidak boleh terdapat tangga (step), tetapi harus berbentuk ramp dengan kemiringan 1:20 sampai 1:10.

b. Pintu Darurat (emergency)

Merupakan titik penting untuk distribusi penonton keluar sehingga harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Ø Tiap sisi keluar harus mempunyai minimum 2 pintu darurat.

Ø Pintu harus terbuka ke arah luar, tidak boleh diunci selama pertunjukan.

Ø Lebar minimal pintu yaitu 1 meter.

Ø Terbuat dari bahan yang tahan api (fire proof).

Ø Sistem penguncian dibuat sedemikian rupa agar dapat terbuka bila diberi tekanan kuat dari dalam.

Ø Dapat menutup secara otomatis. c. Pola Lay Out Kursi

Pola layout akan mempengaruhi kecepatan distribusi penonton untuk keluar pada waktu keadaan bahaya. Ada 3 macam pola layout kursi dengan persyaratan berbeda:

(41)

commit to user

II - 22

Ø Gallery, distribusi utama melalui gang way yang terletak di bagian samping dari kelompok kursi, dengan persyaratan maksimal 14 buah kursi (8,40 m).

Ø Gabungan Stall dan Gallery.

Gambar 2.9 Pola Layout Kursi

Ø Tempat duduk dibuat untuk perorangan, ada sandaran belakang, tangan + kaki, tidak berhimpitan. Jarak dengan tempat duduk depannya 40 cm (berfungsi sebagai jalan pengunjung). Baris terdepan min 6 m dari layar, dengan sudut pandang < 35º, Tinggi tempat duduk dan lantai sebaiknya 30-48 cm . Tempat duduk dibuat empuk, mudah dibersihkan.

d. Pemadam Kebakaran (Fire Protection)

Penggunaan fire protection pada sebuah sinepleks, yaitu:

Ø Automatic springkler, dapat bekerja secara otomatis dan cepat tanpa mengganggu distribusi keluar penonton.

Ø Alarm system, karena pertunjukan di sinepleks bersifat insidentil maka pada waktu tidak ada pertunjukan dapat terkontrol dengan baik.

Ø Smoke vestibule, biasa diletakkan dekat pintu darurat untuk mencegah masuknya asap pada koridor.

Ø Fire hydrant dan portable extinguisher, sebagai pelengkap dari semua sarana sebelumnya.

2.4.2 Kegiatan Produksi Perfilman

(42)

commit to user

II - 23

A. Pengembangan: termasuk didalamnya tahap pengembangan cerita, penyediaan dana, praproduksi, peninjauan ulang naskah cerita, penentuan tim produksi, pembuatan jadwal shooting, persiapan biaya akhir, penentuan pemeran dan penentuan latihan.

B. Produksi : terdiri atas tahap atau kegiatan shooting stage

(lingkungan buatan), shooting lokasi, persiapan shoot di stage, sampai dengan akhirnya shooting filmnya.

C. Pasca produksi: meliputi tahap awal, penentuan pemakaian

shots, perakitan rough cut, pengisian musik dan efek suara, penggabungan suara, duplikasi suara gabungan/ answer print, hingga akhirnya ke tahap terakhir yaitu distribusi dan eksibisi, setelah sebelumnya masuk badan sensor.

2.4.3 Studio Film

Antara studio film dan studio dalam jaringan pertelevisian terdapat beberapa kesamaan. Yang membedakan secara mendasar adalah hasil produksi studio film tidak disiarkan secara jaringan dengan bantuan gelombang siar/ pancar. Pada sub bab berikut ini dijelaskan beberapa hal mendasar tentang studio yang terambil dari De Chiara, Joseph, Time Saver Standart for Building Types, 3rd Edition, New York. 35

Secara umum kajian berbicara tentang studio televisi, namun pada tulisan berikut akan dijelaskan hanya yang dapat/ dipakai dalam perancangan sebuah studio film untuk layar lebar.

2.4.4 Sarana dan Prasarana Produksi Dalam Studio Film

Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk melakukan proses produksi dan pasca produksi ini antara lain sebagai berikut:

A. Prasarana produksi, antara lain sebagai berikut:

1. Gedung/ruang yang dilengkapi oleh penyejuk udara

(43)

commit to user

II - 24

3. Ruang visual editing

4. Ruang audio visual (untuk kepentingan produksi) 5. Ruang preview

B. Sarana produksi, antara lain:

1. Kamera elektronik dan film sebagai kelengkapan 2. Peralatan lampu (audio)

3. Peralatan suara (sound system) 4. Alat editing film dan video

5. Proyektor untuk film dan playback fasilities untuk video 6. Komputer grafis

7. Video Digital Optic untuk efek khusus

8. Mobile Production Unit (unit mobil produksi), dll

2.4.5 Fasilitas Studio

Menurut De Chiara, 1980, fasilitas-fasilitas yang perlu diperhatikan:

1. Studio

Ruangan ini berfungsi untuk mewadahi aktifitas produksi (shooting). Ukuran studio bervariasi. Ukurannya berkisar mulai dari ukuran kantor biasa yaitu dengan kamera melalui jendela atau pintu terbuka, hingga studio-studio besar (100x100ft) yang umumnya digunakan untuk shooting indoor yang membutuhkan dekor.

Alat-alat yang digunakan antara lain: a. Kamera-kamera

b. Lampu untuk efek pengambilan gambar c. Sound system dan mixer

2. Fasilitas-fasilitas teknik (technical fasilities)

Merupakan fasilitas pendukung yang terdiri dari peralatan-peralatan teknis, antara lain:

(44)

commit to user

II - 25

Merupakan bengkel elektronik dengan pertimbangan ruangan untuk suku cadang

b. Ruang Peralatan

Merupakan ruang yang digunakan untuk menampung peralatan elektronik tambahan yang pada saat pelaksanaan tidak diperlukan, seperti perlengkapan audio dan video, peralatan penyetelan, dll. Letak rack rooms harus berdekatan dengan maintenance shop.

3. Fasilitas pendukung studio (studio support fasilities)

Ruang ini merupakan fasilitas pendukung studio, yang terdiri dari:

a. Ruang latihan (rehearseal hall)

b. Ruang lemari pakaian (wardrobe room) c. Ruang ganti pakaian (dressing room) d. Ruang ganti cepat (quick change room)

Ruang ini letaknya berdekatan dengan studio untuk adegan-adegan yang membutuhkan pergantian kostum yang cepat.

e. Ruang rias (make up room) f. Talent lounge for performer

Ruang ini menghubungkan ruang ganti dengan studio, biasa disebut sebagai green room.

g. Ruang serba guna

h. Ready storage for scenery and props

Ruang ini letaknya berdekatan dengan studio untuk memudahkan pekerjaan dalam mengganti dan mengambil peralatan dekor.

i. Crew’s lounge

(45)

commit to user

II - 26

Merupakan ruang tempat menyimpan peralatan kamera, mikrofon, dan lampu. Letaknya berdekatan dengan studio dan bila mungkin dengan maintenance shop.

4. Sound effect and special effect

Letaknya tidak perlu berdekatan denagn studio. Pusat ruang sound effect ini dipakai dalam menambahkan efek suara dan efek gambar pada shots tertentu yang menjadi salah satu kegiatan editing.

5. Studio dubbing

Berfungsi untuk memasukkan bahasa tertentu pada film-film dengan bahasa yang berbeda. Kebutuhan ruangnya meliputi:

a. Ruang pengisian acara b. Ruang kontrol

c. Ruang proyektor

6. Scenery

Merupakan fasilitas yang berisi desain-desain (art studio dengan blueprint dan photostate), produksi (carpebter shops, paint shop, stage electrical shop), gudang dekorasi dan properti (prop), dan tempat pembuangan yang digunakan untuk membuang dekorasi yang tidak diperlukan lagi.

7. Ruang teknik film

Merupakan fasilitas untuk pemrosesan, editing, dan penyimpanan film berfungsi sebagai sebuah laboratorium film.

8. Viewing (screening) rooms

(46)

commit to user

II - 27

Sebagai bentuk ruang audio visual, meskipun untuk skala kecil sekalipun membutuhkan perhatian beberapa aspek.

9. Fasilitas untuk outside broadcasting (fasilities for outside

remote program origination)

Ini merupakan fasilitas stasiun televisi namun prinsip kerjanya juga dipakai dalam kegiatan produksi film komersil.

Kegiatan produksi tidak selalu berlangsung didalam studio, akan tetapi terkadang dilakukan diluar studio seperti peliputan dijalan. Untuk produksi dan siaran langsung diluar studio, diperlukan fasilitas kendaraan yang harus selalu siap untuk kegiatan shooting. Ruang yang dibutuhkan berupa:

a. Garasi dan tempat parkir

Untuk kendaraan dengan dimensi lebih tinggi dari kendaraan biasa, serta mobil untuk lapangan biasa. b. Field shop

Untuk pemeliharaan dan penyimpanan harus dekat dengan garasi

10.Echo chambers

Efek echo atau revibrasi dapat dihasilkan dengan dua cara, yaitu alami (hight reverberant rooms) dan buatan. Untuk revibrasi alami dapat diperoleh dari alam sehingga cara ini dapat dilakukan dimana saja.

11.Ruang administrasi pengelola (offices)

Dengan membebaskan hubungan langsung terhadap berbagai produksi, pengelolaan dapat terletak jauh dari studio, mungkin juga pada bangunan yang terpisah. Ruang perkantoran meliputi pengelolaan administrasi maupun kegiatan praproduksi yaitu pengelolaan ide atau konsep dan naskah untuk kegiatan praproduksi maupun produksi fil.

12.Building maintenance

(47)

commit to user

II - 28

dalam menunjang kegiatan produksi, misalnya kontinyuitas AC, tenaga listrik, dll. Hal ini menuntut alokasi tempat yang cukup untuk perawatan bangunan seperti cleaning, repair shop, dan gudang suku cadang.

13.Personal fasilities

Merupakan ruang yang terdiri dari ruang-ruang pendukung, seperti ruang kesehatan, mushola, kantin,minimarket, dan ruang alin yang mendukung.

14. Pengembangan tapak (site development)

a. Kebutuhan lahan parkir harus mempertimbangkan jumlah:

1) karyawan dan pengelola 2) pelaku perfilman

3) pengunjung/ masyarakat umum/ penonton 4) pihak sponsor

b. fasilitas jalan bongkar muat barang sangat penting untuk dekorasi dan perlengkapan, seperti juru kamera dan peralatan elektronik lainnya. Pencapaian dibutuhkan dari fasilitas bongkar muat ke bengkel, area penyimpanan dan studio.

2.5 Tinjauan Pendidikan Perfilman

Kawasan Taman Komunitas Film Independen ini juga berfungsi sebagai wadah pendidikan perfilman dengan tujuan untuk mengembangkan kondisi perfilman Indonesia.

2.5.1 Pengertian Pendidikan

(48)

commit to user

II - 29

akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Dalam proses kegiatan pendidikan terdapat aktivitas umum yang perlu diketahui yaitu seperti yang ditulis oleh Prof. Dr. S. Nasution, MA (2004) dalam buku “Dikdaktik Asas Mengajar” sebagai berikut:

1. Visual activities ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan menekankan pada indera penglihatan.

2. Oral Activities ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih kemampuan berbicara.

3. Listening ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih kepekaan pendengaran.

4. Writing ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih kemampuan menulis

5. Drawing ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih kemampuan menggambar

6. Motor ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih dalam proses pengembangan sikap dan tingkah laku.

7. Emotional ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih emosi dan perasaan.

2.5.2 Pendidikan Perfilman

Pendidikan perfilman di Indonesia dinilai masih kurang. Selain pendidikan film yang informal terdapat juga pendidikan perfilman formal yang didapat di bangku kuliah. Contoh pendidikan baik formal maupun informal perfilman di Jakarta adalah sebagai berikut:

1) Institut Kesenian Jakarta 2) Puri Karnos

(49)

commit to user

II - 30

4) Hello;Motion Jakarta

Sumber : http://www.google.com

Gambar 2.10 Puri Karnos dan Institut Kesenian jakarta

2.5.3 Sasaran Pendidikan Perfilman

Sasaran dari pendidikan perfilman adalah para sineas-sineas muda yang memang serius menggeluti dunia perfilman. Mira Lesmana, sutradara film memaparkan bahwa pendidikan film di Indonesia dianggap perlu karena kualitas film di Indonesia sekarang sedang menurun. Salah satu upaya untuk mengembalikan citra perfilman Indonesia adalah melatih sumber daya manusia menjadi seseorang yang profesional dalam dunia perfilman sehingga dapat menghasilkan karya-karya yang berkualitas.

Sumber: http://www.purikarno.id

Gambar 2.11 Sasaran dari pendidikan perfilman sendiri adalah para generasi muda yang berminat pada dunia perfilman

(50)

commit to user

II - 31

Kegiatan pendidikan film sangat tergantung pada minat dan talenta seseorang, salah satu hasil survey penulis pada sebuah lembaga pendidikan film non-formal di Jakarta terdapat berbagai macam kegiatan sebagai berikut:

A. Film Producing

Adalah pendidikan film pilihan bagi yang ingin berkarir sebagai Produser. Film producing mengajarkan bagaimana memilih ide cerita dan mengembangkan skenario yang baik, membuat perencanaan bisnis, menggalang dana, memilih sutradara, aktor, manajer produksi dan kru, menentukan jadwal produksi dan lokasi, serta menciptakan strategi promosi untuk pemasaran dan peredaran film. B. Editing dan Graphic Animation

Pendidikan sebagai calon editor sebuah film serta pembuat animasi grafis pada sebuah film.

C. Cinematography

Pendidikan bagi calon cinematographer akan belajar tentang efek pencahayaan hingga belajar mengatur suasana dalam sebuah film.

D. Scriptwriting

Pendidikan bagi seorang calon penulis skenario. Kegiatan pendidikannya meliputi menciptakan karakter hingga pengembangan ide cerita.

E. Directing

Bagaimana cara untuk ‘mengarsiteki’ sebuah film adalah kegiatan dari directing.

F. Audio Recording dan Mixing

(51)

commit to user

II - 32 2.6 Tinjauan Penerapan Karakteristik Film

Didalam film terdapat beberapa karakteristik seperti, karakter kepalsuan dimana semua yang terjadi di dalam film sudah tertulis didalam skenario. Sebelum beranjak ke proses produksi, skenario film juga harus kokoh dalam ide penceritaan. Alur cerita dalam film terus bergerak dan memiliki alur dengan ritme naik dan turun (dinamis) untuk mencegah kemonotonan dalam cerita serta mengingkatkan antusiasme penonton dimana melibatkan komunikasi searah dalam film melalui emosi penonton. Komposisi juga memiliki peran yang sangat penting dalam film, sama halnya dalam fotografi framing menentukan para penonton dimana sisi yang harus dilihat (viewpoint). Film juga memiliki nilai kreatif dan edukatif karena film memiliki kegiatan apresiasi dan kegiatan pembinaan kreatifitas dan keterampilan.

(52)

commit to user

II - 33

dalam irama, tekstur dan tinggi permukaan lantai akan dapat membuat suasana menjadi lebih meriah dan hidup. Adapun menurut Laksmiwati (1989), unsur garis dalam suatu rancangan dapat berpengaruh dalam perwujudan suasana statis, diam dan tenang, melalui unsur garis lurus dan vertikal maupun horisontal. Sedangkan dalam fungsi edukatif, seni film mempunyai sifat kreatif dan tenang. Sehingga, menurut Ching (2000), bentukan yang dapat mewakili sifat-sifat tersebut adalah bentukan melingkar dan persegi. Menurut Laksmiwati (1989) unsur garis dan warna dapat mempengaruhi suasana aktif dan penuh gerak. Garis diagonal dan lengkung merupakan unsur pemberi kesan gerak dan mengekspresikan suasana riang.

Sejauh apa dan bagaimana peran dan makna film yang bisa dibaca dan dipahami (atau bahkan memberikan cerapan dan gagasan) dalam proses berarsitektur secara keseluruhan. Posisi film sebagai realitas pertama dilihat sebagai ranah dimana kontribusi untuk arsitektur dalam artian kontribusi bangunan sinematografik - mulai dari plot dan skenario hingga gaya bersikap (diction) maupun cakupan, kompleksitas atau panorama – bisa diterapkan dalam proses berarsitektur.

2.7 Studi Kasus

2.7.1Kineforum Jakarta

Sumber : http://www.kineforum.com

Gambar 2.12 (a) Logo Kineforum Jakarta, (b) Ruang Bioskop Kineforum Jakarta

(53)

commit to user

II - 34 Kineforum adalah bioskop pertama di Jakarta yang menawarkan ragam program meliputi film klasik Indonesia dan karya para pembuat film kontemporer. Program film yang ditayangkan bertujuan mengajak penonton merasakan jadi bagian dari sinema dunia – dulu dan sekarang.

Ruang ini diadakan sebagai tanggapan terhadap ketiadaan bioskop non komersial di Jakarta dan kebutuhan pengadaan suatu ruang bagi pertukaran antar budaya melalui karya audio-visual. Bioskop ini terprogram, di mana setiap harinya berlangsung dua-tiga kali pemutaran dalam jam-jam yang sudah ditentukan. Sejauh ini, pemutaran film di Kineforum menggunakan proyektor 35mm dan 16mm untuk film analog dan menggunakan IMac dan Blue-Ray untuk pemutaran film digital.

Kineforum menyediakan ruang presentasi bagi para pembuat film (dari dalam dan luar Indonesia) dan ruang apresiasi bagi publik pada kategori film-film khusus yang tidak berasal dari arus utama, di tengah kurangnya ruang alternatif. Kami juga menawarkan presentasi karya-karya para pembuat film dunia, film panjang maupun pendek – yang sulit diakses publik Jakarta selain melalui pembajakan. Di ruang ini juga diadakan diskusi dan pertemuan dengan pembuat film. Sejak 2006, kineforum didatangi kurang lebih 500 penonton pada program pemutaran tertentu dan sekitar 5.000 penonton selama acara festival.

kineforum adalah ruang pemutaran yang tidak bertujuan utama mencari keuntungan finansial, dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta dan para relawan muda. Kegiatan di kineforum dijalankan melalui kerjasama Dewan Kesenian Jakarta dan Studio 21. Ruang ini diharapkan menjadi ruang eksibisi dan dialog bagi para pembuat film dan penonton Jakarta, terutama untuk karya-karya non-arus utama.

(54)

commit to user

II - 35

Sekarang’ setiap Bulan Film Nasional yang jatuh pada bulan Maret, di mana film-film klasik maupun kontemporer Indonesia sebulan penuh diputar. Program ini diselenggarakan agar masyarakat mengenali karya-karya bangsa yang pernah ada dan sejarah panjang dalam dunia film Indonesia. Selain itu, Kineforum juga memiliki program First Timers, di mana para pembuat film muda mendapat tempat dan kesempatan untuk menampilkan karya film pertamanya, dengan harapan semakin banyak penggiat film muda yang berkarya.

Sedangkan untuk film-film dunia, program ‘World Cinema Feature’ dan ‘World Documentary’ diadakan. Biasanya film-film dari belahan dunia manapun, Amerika, Perancis, Jerman, Jepang, Timur Tengah, sampai Malaysia, diputar dalam program ini, baik

feature maupun dokumenter. Khusus untuk film klasik, ada pula program ‘Memory of The World’.

Tidak hanya itu, untuk apresiasi tokoh-tokoh perfilman yang karyanya telah menginspirasi dunia maupun yang khusus di Indonesia, ada juga program Body of Works, di mana kineforum memutarkan karya-karya yang telah lahir dari satu tokoh ini. Misalnya kineforum telah memutarkan program Body of Works Djajakusuma atau Body of Works Ratana Pestonji, sosok Bapak Perfilman Thailand.

Di luar kegiatan pemutaran film dan diskusi, Kineforum juga pernah menjalani beberapa program lain. Seperti penggalangan dana untuk biaya perawatan film di Sinematek Indonesia, kineforum mengadakan program ‘Menolak Hilang Ingatan’, di mana kineforum menjual beberapa merchandise yang perolehan penjualannya digunakan untuk membiayai perawatan film-film Indonesia di sana.

(55)

commit to user

II - 36

individu-individu di masyarakat sangatlah diperlukan. Maka dari itu, Kineforum sebagai salah satu ruang publik di Jakarta, mengajak publik sekaligus peminatnya untuk terus mendukung keberadaannya. Salah satu yang pernah dilakukan adalah menjual

merchandise, mengadakan konser musik (bersama SORE, Kunokini, Tika & The Dissidents, Gribs, dll), dan lainnya. Sejauh ini, hasil donasi dari publik tadi telah dimanfaatkan untuk pembelian alat atau keperluan penting lainnya untuk mendukung operasional Kineforum.

Kineforum juga telah dipercaya menjadi beberapa partner festival film seperti Jakarta International Film Festival (JIFFest), Europe on Screen, Festival Film Pendek Konfiden, dan juga beberapa kegiatan sosial.

(56)

commit to user

II - 37

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011

Gambar 2.13 Struktur Kelembagaan Kineforum

Kineforum merupakan bagian dari Program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta. Sumber pendanaannya berasal dari APBD pemerintah dengan alokasi tertentu dan juga dari hasil fundraising yang dilakukan kineforum untuk biaya operasional.

· Manajer Kineforum: Bertanggung jawab atas berlangsungnya kegiatan di Kineforum, melakukan pertanggungjawaban terhadap DKJ, mengoordinasikan bidang-bidang di bawahnya, serta menjalin kerja sama yang baik terhadap partner kerja sama Kineforum dan atau pihak lainnya.

· Board of Programmers: Bertanggung jawab untuk mengisi program regular pemutaran di Kineforum, termasuk mencari film dan lisensinya untuk diputar, menyusun jadual pemutaran.

(57)

commit to user

II - 38

· Traffic Coordinator: Bertanggung jawab atas masuk/keluar dan pinjam/kembali film yang diputar di Kineforum.

· Technical Coordinator: Bertanggung jawab atas alat pemutaran dan hal teknis lainnya untuk kelancaran pemutaran di Kineforum.

· Publikasi & PR: Bertanggung jawab mensosialisasikan kegiatan pemutaran di Kineforum, menyiapkan materi publikasi, dan memperkenalkan ruang Kineforum kepada media dan publik seluas-luasnya.

· Volunteer Coordinator: Bertanggung jawab mengatur jadual volunteer, mengakomodir kebutuhan serta masukan dari volunteer, membuka rekrutmen, memberikan brief pemutaran setiap bulannya kepada volunteer, dan memantau kegiatan operasional serta kinerja volunteer.

· Volunteers: Bertanggung jawab atas kegiatan operasional Kineforum yakni pemutaran. Terbagi dari tiga posisi: Front desk, Door check, dan Projectionist.

2.7.2 Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail Jakarta

(58)

commit to user

II - 39

Sumber :http:// www.google.com

Gambar 2.14 Beberapa Fasilitas Gedung PPHUI, (a) Gedung Pertunjukan, (b) Gudang Penyimpanan Film

2.7.3 Subtitle

Subtitles terletak di basement Dharmawangsa Squere, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, bioskop mini ini berupa ruangan berkapasitas di bawah 10 orang. Lengkap dengan kualitas audio & video sekelas bioskop. Koleksi film-filmnya meliputi film independen dalam dan luar negeri.

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011

Gambar 2.15 Mini Bioskop di Subtitle, Jakarta

(59)

commit to user

II - 40

2.7.4 ACMI Australia

Sumber : http://www.acmi.au

Gambar 2.16 Gedung ACMI Australia

Berawal dari menjadi Pusat Perfilman Negara di Australia, ACMI (Australian Centre for the Moving Image) yang berlokasi di Melbourne, hingga tempat perfilman yang terintergrasi mulai dari wadah koleksi perfilman sampai wadah pendidikan dan wadah hiburan bagi para penikmat film.

Sumber :http// www.acmi.au

Gambar 2.17 (a) dan (b) Beberapa Ruang di ACMI Australia

(60)

commit to user

II - 41

Sumber : http//www.acmi.au

Gambar

Gambar 1.1 Gambar (a) dan (b) Film Indie Lokal
gambar bergerak.
Gambar 2.13 Struktur Kelembagaan Kineforum
Gambar 3.10 commit to user Poster Film yang menggabungkan Film dan Arsitektur, “August Rush
+7

Referensi

Dokumen terkait

Selamat datang dalam Seminar Nasional Mesin dan Industri (SNMI-X) 2016 yang diselenggarakan oleh Program Studi Teknik Mesin dan Program Studi Teknik Industri

silikat yang diperoleh dari hasil penambahan MgO pada silika sekam padi hasil. ekstraksi secara alkalis kemudian dicampurkan dengan asam

Penerapan metode nonparametrik untuk rancangan percobaan satu faktor, yang dibahas pada skripsi ini, yaitu: (a) percobaan menggunakan RAL untuk mengetahui pengaruh

Untuk menyelesaikan permasalahan ini akan di desain kemasan yang lebih tepat dengan menggunakan bahan yang lebih baik agar kue tersebut tidak mudah hancur dan layu, memiliki

RECEIVABLE GOODS SOLD MERCHANDISE OUTCOME INVENTORY COLLECTED..

Sepuluh sasaran strategis tersebut di atas merupakan arahan bagi Pengadilan Negeri Andoolo untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan dan membuat rincian

Secara simultan variabel perputaran kas, perputaran piutang, dan ukuran perusahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap return on equity pada perusahaan manufaktur

Water is continuously distributed in natural conditions; thus, this paper proposed a new method of water body extraction based on probability statistics to improve the accuracy of