• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Pendidikan Perfilman

Dalam dokumen WADAH KOMUNITAS FILM INDEPENDEN DI JAKARTA (Halaman 47-52)

G. Publicity Manager

14. Pengembangan tapak (site development)

2.5 Tinjauan Pendidikan Perfilman

Kawasan Taman Komunitas Film Independen ini juga berfungsi sebagai wadah pendidikan perfilman dengan tujuan untuk mengembangkan kondisi perfilman Indonesia.

2.5.1 Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,

commit to user

II - 29

akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Dalam proses kegiatan pendidikan terdapat aktivitas umum yang perlu diketahui yaitu seperti yang ditulis oleh Prof. Dr. S. Nasution, MA (2004) dalam buku “Dikdaktik Asas Mengajar” sebagai berikut:

1. Visual activities ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan menekankan pada indera penglihatan.

2. Oral Activities ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih kemampuan berbicara.

3. Listening ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih kepekaan pendengaran.

4. Writing ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih kemampuan menulis

5. Drawing ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih kemampuan menggambar

6. Motor ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih dalam proses pengembangan sikap dan tingkah laku.

7. Emotional ; Kegiatan pembelajaran yang mengarah dan melatih emosi dan perasaan.

2.5.2 Pendidikan Perfilman

Pendidikan perfilman di Indonesia dinilai masih kurang. Selain pendidikan film yang informal terdapat juga pendidikan perfilman formal yang didapat di bangku kuliah. Contoh pendidikan baik formal maupun informal perfilman di Jakarta adalah sebagai berikut:

1) Institut Kesenian Jakarta 2) Puri Karnos

commit to user

II - 30

4) Hello;Motion Jakarta

Sumber : http://www.google.com

Gambar 2.10 Puri Karnos dan Institut Kesenian jakarta

2.5.3 Sasaran Pendidikan Perfilman

Sasaran dari pendidikan perfilman adalah para sineas-sineas muda yang memang serius menggeluti dunia perfilman. Mira Lesmana, sutradara film memaparkan bahwa pendidikan film di Indonesia dianggap perlu karena kualitas film di Indonesia sekarang sedang menurun. Salah satu upaya untuk mengembalikan citra perfilman Indonesia adalah melatih sumber daya manusia menjadi seseorang yang profesional dalam dunia perfilman sehingga dapat menghasilkan karya-karya yang berkualitas.

Sumber: http://www.purikarno.id

Gambar 2.11 Sasaran dari pendidikan perfilman sendiri adalah para generasi muda yang berminat pada dunia perfilman

commit to user

II - 31

Kegiatan pendidikan film sangat tergantung pada minat dan talenta seseorang, salah satu hasil survey penulis pada sebuah lembaga pendidikan film non-formal di Jakarta terdapat berbagai macam kegiatan sebagai berikut:

A. Film Producing

Adalah pendidikan film pilihan bagi yang ingin berkarir sebagai Produser. Film producing mengajarkan bagaimana memilih ide cerita dan mengembangkan skenario yang baik, membuat perencanaan bisnis, menggalang dana, memilih sutradara, aktor, manajer produksi dan kru, menentukan jadwal produksi dan lokasi, serta menciptakan strategi promosi untuk pemasaran dan peredaran film. B. Editing dan Graphic Animation

Pendidikan sebagai calon editor sebuah film serta pembuat animasi grafis pada sebuah film.

C. Cinematography

Pendidikan bagi calon cinematographer akan belajar tentang efek pencahayaan hingga belajar mengatur suasana dalam sebuah film.

D. Scriptwriting

Pendidikan bagi seorang calon penulis skenario. Kegiatan pendidikannya meliputi menciptakan karakter hingga pengembangan ide cerita.

E. Directing

Bagaimana cara untuk ‘mengarsiteki’ sebuah film adalah kegiatan dari directing.

F. Audio Recording dan Mixing

Menyunting dan menguasai teknik perekaman suara menjadi salah satu kegiatan audio recording dan mixing.

commit to user

II - 32 2.6 Tinjauan Penerapan Karakteristik Film

Didalam film terdapat beberapa karakteristik seperti, karakter kepalsuan dimana semua yang terjadi di dalam film sudah tertulis didalam skenario. Sebelum beranjak ke proses produksi, skenario film juga harus kokoh dalam ide penceritaan. Alur cerita dalam film terus bergerak dan memiliki alur dengan ritme naik dan turun (dinamis) untuk mencegah kemonotonan dalam cerita serta mengingkatkan antusiasme penonton dimana melibatkan komunikasi searah dalam film melalui emosi penonton. Komposisi juga memiliki peran yang sangat penting dalam film, sama halnya dalam fotografi framing menentukan para penonton dimana sisi yang harus dilihat (viewpoint). Film juga memiliki nilai kreatif dan edukatif karena film memiliki kegiatan apresiasi dan kegiatan pembinaan kreatifitas dan keterampilan.

Diantara sifat apresiatif (rekreatif) dalam film adalah penghayatan, konsentrasi, dan pembayangan dengan cara diam-merenung, untuk merasakan suatu nilai. Diam diartikan sebagai bentuk yang statis, tidak banyak variasi, tidak banyak warna, sebuah kekokohan ataupun ketegaran, tidak bergerak dan tidak potensial untuk bergerak ataupun berwujud sebagai sebuah monumen. Statis dan kokoh bisa juga disebut sebagai sebuah kestabilan. Menurut Ching (2000), salah satu bentuk geometri yang mempunyai kestabilan adalah bujur sangkar. Bujur sangkar merupakan sesuatu yang murni dan orisinil, merupakan bentuk yang statis, netral dan tak mempunyai arah tertentu (Ching,2000). Selain sifat dan karakter di atas, fungsi rekreatif dalam film adalah kreatif dan dinamis. Dalam hal ini lebih diutamakan kebebasan berekspresi untuk mengungkapkan ide-ide atau perasaan seni ke dalam karya seni film. Salah satu bentuk yang menjadi pewujudan dari sifat aktif adalah bentuk melingkar. Penempatan unsur-unsur ruang menurut arah keliling lingkaran akan menimbulkan arah perputaran gerak yang kuat (Ching, 2000). Menurut Ashihara (1983), rancangan ruang luar sebagai bagian dari seluruh kesatuan rancangan ruang bangunan, dapat digunakan sebagai pendukung perwujudan suasana aktif dan dinamis. Disebutkan oleh Ashihara bahwa perubahan dan pergantian secara kontinyu

commit to user

II - 33

dalam irama, tekstur dan tinggi permukaan lantai akan dapat membuat suasana menjadi lebih meriah dan hidup. Adapun menurut Laksmiwati (1989), unsur garis dalam suatu rancangan dapat berpengaruh dalam perwujudan suasana statis, diam dan tenang, melalui unsur garis lurus dan vertikal maupun horisontal. Sedangkan dalam fungsi edukatif, seni film mempunyai sifat kreatif dan tenang. Sehingga, menurut Ching (2000), bentukan yang dapat mewakili sifat-sifat tersebut adalah bentukan melingkar dan persegi. Menurut Laksmiwati (1989) unsur garis dan warna dapat mempengaruhi suasana aktif dan penuh gerak. Garis diagonal dan lengkung merupakan unsur pemberi kesan gerak dan mengekspresikan suasana riang.

Sejauh apa dan bagaimana peran dan makna film yang bisa dibaca dan dipahami (atau bahkan memberikan cerapan dan gagasan) dalam proses berarsitektur secara keseluruhan. Posisi film sebagai realitas pertama dilihat sebagai ranah dimana kontribusi untuk arsitektur dalam artian kontribusi bangunan sinematografik - mulai dari plot dan skenario hingga gaya bersikap (diction) maupun cakupan, kompleksitas atau panorama – bisa diterapkan dalam proses berarsitektur.

Dalam dokumen WADAH KOMUNITAS FILM INDEPENDEN DI JAKARTA (Halaman 47-52)

Dokumen terkait