• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSYARATAN RUANG DAN AKUSTIK DALAM BANGUNAN PENDIDIKAN MUSIK

Dalam dokumen PUSAT PENDIDIKAN MUSIK DI SURAKARTA (Halaman 58-84)

TINJAUAN TEOR

C. PERSYARATAN RUANG DAN AKUSTIK DALAM BANGUNAN PENDIDIKAN MUSIK

1. Akustika Dalam Ruangan

Gejala akustik dalam ruang tertutup

Apabila gelombang bunyi menumbuk dinding-dinding suatu ruang, sebagian energinya akan dipantulkan, diserap, disebarkan, dibelokkan, atau ditransmisikan ke ruang yang berdampingan tergantung pada sifat akustik dindingnya.

Keterangan:

1= Bunyi datang atau bunyi langsung 2 = Bunyi pantul

3 = Bunyi yang diserap oleh lapisan permukaan 4 = Bunyi difus atau bunyi yang disebar 5 = Bunyi difraksi atau bunyi yang dibelokkan 6 = Bunyi yang ditrannsmisi

7 = Bunyi yang hilang dalam struktur bangunan 8 = Bunyi yang dirambatkan oleh struktur bangunan

Gb. 16. Kelakuan bunyi dalam ruang tertutup Sumber : Akustik Lingkungan, Leslie L Doelle

Pemantulan bunyi

Permukaan yang keras, tegar, dan rata, seperti beton, bata, batu, plester, dan gelas, memantulkan hampir semua energi bunyi yang jatuh padanya. Gejala pemantulan serupa dengan pemantulan cahaya namun panjang gelombang bunyi lebih panjang daripada gelombang cahaya, maka harus dipikirkan untuk bunyi berfrekuenssi rendah.

Permukaan pemantul cembung cenderung menyebarkan gelombang bunyi dan permukaan cekung cenderung mengumpulkan gelombang bunyi pantul dalam ruang. Dalam auditorium ukuran sedang dan besar, kondisi mendengar dapat diperbaiki dengan penggunaan pemantul bunyi yang ditempatkan di tempat yang sesuai.

Keterangan:

1 = pemantulan merata 2 = penyebaran bunyi 3 = pemusatan bunyi

Pemantulan bunyi dari permukaan-permukaan dengan bentuk yang berbeda : 1 pemantulan merata, penyebaran bunyi, pemusatan bunyi.

Penyerapan bunyi

Penyerapan bunyi adalah perubahan energi bunyi menjadi suatu bentuk lain umumnya ke dalam bentuk panas ketika melewati suatu bahan atau ketika menumbuk suatu permukaan. Jumlah panas ini sangat kecil sedangkan kecepatan perambatan gelombang bunyi tidak dipengaruhi oleh penyerapan.

Dalam akustik lingkungan unsur-unsur berikut dapat menunjang penyerapan bunyi:  lapisan permukaan dinding, lantai, dan atap

 isi ruang seperti penonton, bahan tirai, tempat duduk dengan lapisan lunak dan karpet  udara dalam ruang

Difusi bunyi

Difusi bunyi atau penyebaran bunyi terjadi di dalam ruang jika tekanan bunyi di setiap bagian suatu auditorium sama dan gelombang bunyi dapat merambat ke semua arah, maka medan bunyi

Gb. 17. Pemantulan bunyi dari permukaan-permukaan dengan bentuk berbeda Sumber : Akustik Lingkungan, Leslie L Doelle

dikatakan serba sama atau homogen. Difusi bunyi yang cukup dibutuhkan dalam ruang-ruang seperti ruang konser, studio radio, dan rekaman, dan ruang-ruang musik karena ruang-ruang tersebut membutuhkan distribusi musik yang merata.

Difusi musik dapat diciptakan dengan beberapa cara :

 Pemakaian permukaan dan elemen penyebar yang tak teratur dalam jumlah yang banyak, seperti pilaster, pier, balok-balok telanjang, langit-langit yang terkotak-kotak, pagar balkon yang dipahat dan dinding-dinding yang bergerigi (A)

 Penggunaan lapisan permukaan pemantul bunyi dan penyerap bunyi secara bergantian (B)  Distribusi lapisan penyerap bunyi yang berbeda secara teratur dan acak 9 (C)

Ukuran keseluruhan permukaan yang menonjol dan ukuran dari tempelan lapisan penyerap harus cukup besar dibanding panjang gelombang bunyi dalam seluruh jangkauan frekuensi audio.

Difraksi bunyi

Difraksi bunyi adalah gejala akustik yang menyebabkan gelombang bunyi dibelokkan atau dihamburkan di sekitar penghalang seperti sudut, kolom, tembok, balok.

Dengung

Bila sumber bunyi telah berhenti, membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum bunyi hilang (meluruh) dan tidak dapat didengar. Bunyi yang berkepanjangan ini sebagai akibat pemantulan yang berturut-turut dalam ruang tertutup setelah sumber bunyi dihentikan yang disebut dengung. Dengung mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap kondisi mendengar dalam auditorium karena kehadirannya mengubah persepsi / tanggapan terhadap bunyi transien yaitu bunyi yang mulai dan berhenti dengan tiba-tiba. Dalam pengendalian dengung dalam auditorium, bunyi transien dari pidato dan musik perlu dilindungi dan ditingkatkan untuk menjamin inteligibitas pembicaraan yang tertinggi dan kenikmatan musik yang terlengkap.

Resonansi ruang

Suatu ruang tertutup dengan permukaan interior pemantul bunyi tanpa diinginkan menonjolkan frekuensi-frekuensi tertentu, yang disebut ragam getaran normal ruang tersebut.

Gb. 18. Difusi bunyi yang merata dalam auditorium Sumber : Akustik Lingkungan, Leslie L Doelle

a. Bahan dan Konstruksi Penyerap Bunyi

Penyerap bunyi yang baik adalah pentransmisi bunyi yang efisien dan karena itu adalah insulator bunyi yang tidak baik. Sebaliknya dinding insulasi bunyi yang efektif akan menghalangi transmisi bunyi dari satu sisi ke sisi lain.

Penyerap bunyi yang baik dilekatkan pada insulator bunyi yang buruk seperti plywood, tidak akan mencegah transmisi bunyi lewat dinding semacam itu. Sebagai ganti plywood, penghalang insulasi bunyi yang efektif, seperti bahan batu-batuan, harus digunakan untuk mengurangi transmisi bising lewat struktur itu.

Pada dasarnya semua bahan bangunan mempunyai kemampuan menyerap bunyi sampai pada batas tertentu, akan tetapi pengendalian akustik bangunan yang baik membutuhkan penggunaan bahan-bahan dengan tingkat penyerapan bunyi yang tinggi. Dalam akustik, unsur- unsur yang dapat menunjang penyerapan bunyi antara lain :

Lapisan

permukaan

dinding, lantai, dan atap

Isi

ruang seperti : penonton, bahan tirai, tempat duduk dengan lapisan lunak dan karpet

Udara di dalam

ruang.

Bahan-bahan dan konstruksi penyerap bunyi yang digunakan dalam rancangan akustik suatu auditorium atau yang dipakai sebagai pengendali bunyi dalam ruang-ruang bising dapat diklasifikasikan menjadi :

1) Bahan berpori

Semua bahan berpori seperti papan serat (fiber board), plesteran lembut (soft plasters), mineral wools, dan selimut isolasi adalah suatu jaringan seluler dengan pori-pori yang saling berhubungan. Bahan-bahan seluler dengan sel yang tertutup dan tidak saling berhubungan seperti dammar busa (foamed resins), karet seluler (celluler rubbes) dan gelas busa adalah penyerap bunyi yang buruk.

Gb. 19. (a) Penyerap bunyi yang baik, insulator bunyi yang buruk dan (b) Penyerap bunyi yang baik, insulator bunyi yang efisien

Karakteristik penyerap berpori sebagai berikut :

a) Penyerapan bunyinya lebih efisien pada frekuensi tinggi dibandingkan pada frekuensi rendah

b) Efisiensi akustiknya membaik pada jangkauan frekuensi tinggi dibandingkan pada frekuensi rendah dengan bertambahnya tebal lapisan penahan yang padat dan dengan bertambahnya jarak dari lapisan penahan ini.

Bahan berpori komersial dapat dibagi dalam tiga kategori ( Doelle,1972) : a) unit akustik siap pakai

bermacam-macam jenis ubin selulosa dan serat mineral yang berlubang maupun tidak berlubang, bercelah (fissured) atau bertekstur, panel penyisip, dan lembaran logam berlubang dengan bantalan penyerap merupakan unit yang khas dalam kelompok ini. Mereka dapat dipasang dengan berbagai cara sesuai dengan petunjuk pabrik, misalnya disemen pada sandaran atau penunjang padat dipaku atau dibor pada kerangka kayu atau dipasang pada sistem langit-langit gantung

b) plesteran akustik dan bahan yang disemprotkan

lapisan akustik ini digunakan terutama untuk tujuan reduksi bising dan kadang-kadang digunakan dalam auditorium dimana usaha akustik lain tidak dapat dilakukan karena bentuk permukaan yang melengkung atau tidak teratur. Mereka dipakai dalam bentuk semiplastik dengan pistol penyemprot ata dengan melapisi menggunakan tangan atau diplester. (sprayed limpet asbestos, zonolite, vermicullite, sound shield, gletex, dekoosto,dll)

c) selimut (isolasi) akustik

selimut akustik dibuat dari serat-serat karang (rock wool), serat-serat gelas, ( glass wool), serat-serat kayu, lakar (felt), rambut, dan sebagainya. Biasanya selimut ini dipasang pada sistem kerangka kayu atau logam dan digunakan untuk tujuan-tujuan akustik dengan ketebalan yang bervariasi antara 1 dan 5 inci (25 dan 125 mm). Penyerapan bertambah dengan bertambahnya ketebalan, terutama pada frekuensi-frekuensi rendah.

d) karpet dan kain

selain peranan mereka yang biasa sebagai penutup lantai, kini karpet juga digunakan sebagai bahan akustik serbaguna karena mereka menyerap bunyi dan bising di udara (airfone) yang ada dalam ruang. Ereka mereduksi dan dalam beberapa kasus meniadakan sempurna bising benturan dari atas, dan mereka menghilangkan bising permukaan (seretan kaki, bunyi langkah kaki,perpindahan perabotan rumah).

2) Penyerap panel ( selaput )

Penyerap panel atau selaput yang tidak dilubangi mewakili kelompok bahan-bahan penyerap bunyi yang kedua. Tiap bahan kedap yang dipasang pada lapisan penunjang yang padat ( soliid backing ) tetapi terpisah oleh suatu ruang udara akan berfungsi sebagai penyerap

panel dan akan bergetar bila tertumbuk oleh gelombang bunyi. Diantara lapisan-lapisan konstruksi auditorium penyeap panel-panel berikut ini berperan pada penyerapan frekuensi- frekuensi rendah, panel kayu dan hardboard, gypsum board, langit-langit plesteran yang digantung, plesteran berbulu, plastic board tegar, jendela, kaca, pintu, lantai kayu dan - panggung, dan pelat-pelat logam (radiator).

a) Resonator rongga ( helm holtz )

Terdiri dari sejumlah udara tertutup yang dibatasi oleh dinding-dinding tegar dan dihubungkan oleh lubang/celah sempit yang disebut leher ke ruang sekitarnya, dimana gelombang bunyi merambat. Resonator rongga menyerap energi bunyi maksimum pada daerah pita frekwensi rendah. Resonator rongga dapat digunakan sebagai unit individual, sebagai resonator panel berlubang, dan sebagai resonator celah.

b) Resonator rongga individual

Resonator rongga individual yang ada dahulu dibuat dari tanah liat kosong dengan ukuran- ukuran berbeda. Penyerapannya yang efektif tersebar antara 100 dan 400 Hz. Soundblox merupakan jenis resonator berongga jaman sekarang yang terbuat dari balok beton standar dengan rongga yang telah ditetapkan. Ini merupakan sarana pengendali dengung yang akonomis karena dapat meniadakan kebutuhan akan pemasangan lapisan permukaan penyerap bunyi tambahan. Keuntungan lain terletak pada daya tahannya yang tinggi. c) Resonator panel berlubang

Panel berlubang yang diberi jarak pisah terhadap lapisan penjunjung padat banyak digunakan dalam aplikasi prinsip resonator rongga. Mereka mempunyai jumlah leher banyak yang membentuk lubang-lubang panel jadi berfungsi sebagai deretan resonator rongga. Resonator panel berlubang tidak melakukan penyerapan selektif seperti pada resonator rongga tunggal, terutama bila selimut isolasi dipasang di rongga udara di belakang papan berlubang yang tampak.

Kurva penyerapan frekwensi resonator panel berlubang umumnya menunjukkan suatu nilai maksimum di daerah skala frekwensi tengah dengan penurunan yang jelas di atas 1000 Hz. Karena itu bila dipakai secara besar-besaran dalam auditorium, RT akan menjadi sangat kecil .

d) Resonator celah

Resonator celah banyak digunakan dalam pengendalian akustik suatu auditorium . Ia bekerja seperti resonator panel berlubang perbedaan terletak pada layar pelindung yang bisa dari kayu, logam, balok atau batu bata rongga dengan elemen-elemen berjarak pisah yang cukup dan selimut isolasi di belakangnya, membentuk penyerap resonator celah.

Gb. 20. Resonator panel berlubang yang banyak digunakan di berbagai auditorium Sumber : Akustik Lingkungan, Leslie L Doelle

Gb. 21. Pemasangan resonator panel berlubang dan bungkus baja akustik merupakan resonator rongga berlubang yang efisien.

Sumber : Akustik Lingkungan, Leslie L Doelle

Gb. 22. Lapisan akustik irisan kayu yang digunakan sebagai penyerap resonator celah dalam ruang kuliah , universite laval, quebec.

3) Penyerap ruang

Bila dinding-dinding batas yang biasa dalam auditorium tidak menyediakan tempat yang cocok atau cukup untuk lapisan akustik konvensional, benda-benda penyerap bunyi, yang disebut penyerap ruang atau penyerap fungsional, dapat digantungkan pada langit-langit sebagai unit tersendiri. Penyerapan bunyi penyerap ruang dinyatakan sebagai jumlah sabin yang disediakan persatuan penyerap. Efisiensi akustiknya tergantung pada jarak antaranya.

4) Penyerap variabel

Percobaan membuktikan bahwa lat-alat yang menghasilkan penyerapan yang berubah hanya praktis untuk ruang-ruang yang secara terus menerus dirawat dan diperbaiki oleh pegawai yang mampu atau yang ahli seperti halnya dalam studio radio dan studio rekaman. Namun nampaknya bahkan dalam studiopun pengendalian waktu dengung lewat penyerap variabel yang konvensional akan segera dianggap kuno sehubungan dengan pemakaian pengendalian dengung secara elektronik yang berkembang sangat luas.

5) Penyerapan oleh udara 6) Penyerapan bunyi oleh luban

b. Persyaratan ruang dalam bangunan pendidikan musik: 1) Ruang kelas dan ruang latihan

o Luas lantai, tinggi ruang, bentuk ruang, dan volume yang harus sesuai disediakan untuk memperoleh dengung, difusi, keseimbangan, dan keterpaduan yang tepat.

o Jumlah bahan-bahan penyerap bunyi yang banyak harus digunakan untuk membuat ruang- ruang ini cukup mati sehingga daya akustik yang berlebihan yang ditimbulkan masing- masing instrument dapat diredam.

o Transmisi bunyi yang tidak diinginkan antara ruang-ruang yang digunakan secara serentak harus direduksi sampai suatu minimum yang absolute.

Beberapa cara untuk memenuhi syarat-syarat akustik di atas:

o Untuk meminimalkan bunyi pantul yang menggangu, material penyerap bunyi harus diberikan pada 2 dinding yang bersebelahan atau 2 sudut dinding yang berhadapan.

Gb. 23. Pemberian material penyerap bunyi pada dinding Sumber : Akustik Lingkungan, Leslie L Doelle

o Membuat dinding-dinding yang tidak sejajar dan jika ruangan terdiri dari dinding-dinding dengan permukaan yang keras harus memiliki bahan penyerap bunyi yang menutupi seluruh permukaan langit-langit.

o Permukaan dinding yang tidak teratur dalam ruang akan menyediakan difusi bunyi yang sangat berguna.

2) Ruang Pertunjukkan/Ruang Auditorium Musik

Ruang-ruang dalam auditorium musik dapat dibedakan menjadi :

o Ruang-ruang utama, yang meliputi : ruang panggung dan ruang penonton

o Ruang-ruang pendukung, yang meliputi : ruang persiapan pementasan, toilet, cafeteria, hall, ruang tiket, dll.

o Ruang-ruang servis, yang meliputi : ruang generator, ruang pengendali udara, gudang peralatan, dan lain-lain

Sangat disarankan agar ruang-ruang servis yang menghasilkan kebisingan tambahan diletakkan terpisah atau cukup jauh dari ruang utama. Sedangkan untuk ruang pendukung, peletakannya secara umum selalu berdekatan dengan ruang auditorium. Kebisingan dari ruang-ruang pendukung masih berada pada taraf yang dapat dikontrol oleh pengelola auditorium, oleh karenanya, peletakan yang berdekatan dianggap tidak menimbulkan kebisingan yang berarti. Peletakan ini juga akan sangat memudahkan penyaji dan pengunjung ketika mereka membutuhkan ruang-ruang tersebut.

Untuk memenuhi syarat visual yang baik, hal yang perlu diperhatikan : a) Keterbatasan jangkauan pandangan mata manusia.

b) Jarak pandang

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah agar bunyi langsung yang berasal dari sumber bunyi (pemain) kepada penonton (penerima) harus dapat diproduksi sekeras mungkin. Ada beberapa cara untuk mendukung hal tersebut yaitu:

 Bunyi bertambah lemah dengan bertambahnya jarak antara sumber dan penerima. Oleh karena itu, jarak rata-rata antara sumber dan penonton harus dibuat sependek mungkin.

Gb. 24. Permukaan dinding untuk difusi bunyi Sumber : Akustik Lingkungan, Leslie L Doelle

 Jalur bunyi langsung sebaiknya tidak terhalangi, berarti tidak terhalang oleh bagian dari struktur bangunan atau oleh penonton apabila melewati penonton. Oleh karena itu, tempat duduk penonton harus diatur sedemikian rupa sehingga sudut pandang atau kepala penonton tidak saling menghalangi dan mengganggu jalur bunyi ke arah penonton di deretan belakangnya. Sebaiknya dibuat jarak sedikitnya 10 cm antar sudut pandang. Apabila dibutuhkan lantai penonton yang datar, maka pemain sebaiknya ditempatkan di atas panggung yang cukup tinggi.

 Jarak pantulan bunyi sebaiknya tidak lebih dari 10 m terhadap jarak bunyi langsung dari sumber (pemain) ke lokasi penonton, karena pantulan ini berguna untuk menambah intensitas bunyi langsung.

 Volume ruang sebaiknya 2,8 m2 per kursi untuk dapat menghasilkan intensitas bunyi optimal rata-rata yang dapat mencapai penonton. Bila volume ruang lebih besar dengan maksimum 4,2 m2 per kursi untuk kapasitas penonton yang besar, maka harus ditambahkan absorben agar waktu dengung tetap mencukupi.

c) Persyaratan pandang mata pada sudut pandang mata diam, sudut datar penglihatan mata (tanpa gerak) kurang lebih 400.

d) Kemiringan area tempat duduk berpengaruh pada pandangan penonton terhadap penonton di depannya dan tinggi mata penonton terhadap panggung.

Selain itu untuk menciptakan kesan visual diperlukan sistem pencahayaan panggung yang baik.

Fungsi pencahayaan panggung :

o Agar bagian-bagian/adegan dalam pertunjukkan dapat terlihat dengan jelas dan teliti o Menimbulkan perasaan penonton terhadap pertunjukkan/ membentuk suasana ruang.

Gb. 25. Menentukan lebar panggung dengan acuan penonton yang duduk di bagian tengah barisan belakang Sumber : Akustik Bangunan, Christina E. Mediastika, Ph.D

Gb. 26. Beberapa jenis penataan lantai penonton: (a) datar, (b) miring (sloped), dan (c) bertrap (inclined) Sumber : Akustik Bangunan, Christina E. Mediastika, Ph.D

Jenis pencahayaan panggung ada tiga bagian penting, yaitu : a) Lighting the actor

Pencahayaan yang ditujukan untuk menerangi pemain/pementas. b) Lighting the acting area

Pencahayaan yang ditujukan untuk memberi efek pada area panggung. c) Lighting the background and effect

Pencahayaan untuk memberi efek pada latar belakang panggung.

Secara garis besar persyaratan kondisi mendengar yang baik dalam suatu auditorium musik:

b) Harus ada kekerasan (loudness) yang cukup dalam tiap bagian ruang pertunjukkan/auditorium terutama pada bagian tempat duduk penonton yang jauh dari panggung.

Terdapat berbagai cara untuk mengurangi penyerapan bunyi dan meningkatkan kekerasan dalam sebuah auditorium, yaitu :

(1)Auditorium musik harus dibentuk sedemikian rupa sehingga penonton sedekat mungkin dengan sumber bunyi, dengan demikian mengurangi jarak yang harus ditempuh bunyi. Hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan balkon atau memanipulasi bentuk denah ruang.

(2)Sumber bunyi harus dinaikkan agar sedapat mungkin terlihat, sehingga menjamin aliran gelombang bunyi langsung bebas merambat dari sumber bunyi ke pendengar tanpa dihalang-halangi atau dipantulkan.

(3)Lantai tempat penonton duduk harus dibuat landai atau miring, karena bunyi akan lebih mudah diserap. Selain memperoleh penyerapan bunyi yang baik, dengan

Gb. 27. Melalui denah bentuk kipas dengan balkon, penonton dapat di dudukkan lebih dekat ke sumber bunyi daripada dalam auditorium segi empat tanpa balkon (meskipun kapasitas sama) Sumber : Akustik Lingkungan, Leslie L Doelle

Gb. 28. Plafon panggung yang dibuat cukup tinggi dan membuka kea rah penonton Sumber : Akustik Bangunan, Christina E. Mediastika, Ph.D

menggunakan lantai miring, juga mempengaruhi garis pandang yang lebih baik dari penonton ke panggung.

(4)Sumber bunyi harus dikelilingi permukaan-permukaan pemantul bunyi yang memadahi agar memberikan energi bunyi pantul tambahan ke setiap daerah penonton, terutama pada tempat duduk yang jauh.

(5)Luas lantai dan volume auditorium harus dijaga agar cukup kecil, sehingga jarak yang harus ditempuh bunyi langsung dan bunyi pantul lebih pendek.

(6)Permukaan pemantul bunyi yang paralel (horizontal maupun vertikal), terutama yang dekat dengan sumber bunyi, harus dihindari untuk menghilangkan pemantulan kembali yang tidak diinginkan ke sumber bunyi.

(7)Penonton harus berada di daerah yang menguntungkan baik secara visual maupun akustik. Daerah tempat duduk yang sangat lebar harus dihindari.

(8)Untuk sumber bunyi tambahan disamping sumber bunyi utama yang biasanya diletakkan pada sisi samping maupun belakang penonton harus diletakkan juga permukaan pemantul yang mengelilinginya, sehingga prinsip dasarnya adalah sebanyak mungkin energi bunyi harus dipancarkan dari semua posisi sumber bunyi ke seluruh daerah penerimaan (penonton).

Pemantul bunyi yang ditempatkan dengan benar selain menguatkan energi bunyi juga menciptakan suatu kondisi lingkungan yang dikenal dengan efek ruang (space efect), hal ini tercapai bila pendengar menerima bunyi dari berbagai arah, gejala ini sangat khas untuk ruang-ruang tertutup, tetapi hilang sama sekali pada ruang pertunjukkan terbuka.

c) Energi bunyi harus didistribusikan secara merata (terdifusi) dalam ruang.

Kualitas akustik auditorium akan baik jika suara dapat terdifusi (disebarkan) secara merata ke seluruh ruangan. Untuk memperoleh penyebaran bunyi yang sempurna dalam sebuah ruang, dapat digunakan beberapa cara berikut ini :

(1)Membuat permukaan ruang menjadi tidak teratur (bisa berupa dinding, langit-langit atau dekorasi dalam ruang) .

Gb. 29. Pemantulan suara oleh dinding dan langit-langit pemantul yang diletakan dengan tepat, secara efektif menyumbang kekerasan yang cukup.

(2)Untuk ruang dengan kapasitas kecil penggunaan permukaan yang tidak teratur kadang sulit diwujudkan, namun difusi bunyi dapat dicapai dengan penggunaan bahan-bahan penyerap bunyi yang acak, serta penggunaan bahan penyerap bunyi dan pemantul bunyi secara bergantian.

(3)Penggunaan acoustic difuser (penyebar akustik) dalam ruang yang relatif besar akan membantu menguatkan difusitas ruang tersebut.

d) Pengendalian dengung

Dengung dalam sebuah ruang pagelaran disebabkan karena pemantulan berulang- ulang suatu sumber bunyi, karena cukup banyak sumber bunyi dalam sebuah pementasan maka meningkat pula faktor kemungkinan terjadinya dengung dalam ruang pagelaran tersebut.

Karakteristik dengung optimum harus disediakan dalam auditorium untuk memungkinkan penerimaan yang baik oleh penonton dan penampilan acara yang paling efisien oleh pementas.

e) Ruang harus bebas dari cacat akustik seperti gema, pemantulan yang berkepanjangan (long delayed reflections), gaung, pemusatan bunyi, distorsi, bayangan bunyi, dan resonansi ruang.

Beberapa cacat akustik ruang yang sering terjadi dalam sebuah ruang pertunjukkan adalah:

(1)Gema

Gema merupakan cacat akustik yang paling berat. Gema yaitu pengulangan bunyi asli yang dapat terdengar dengan cukup jelas ke telinga pendengar. Gema terjadi jika selang minimum sebesar 1/25 –1/10 sekon terjadi antara bunyi pantul dengan bunyi langsung yang berasal dari bunyi yang sama. Salah satu penyebab potensial gema dalam sebuah ruang pertunjukkan adalah dinding belakang yang langsung berhadapan

Cacat-Cacat Akustik Dalam Auditorium : (1) Gema,

(2) Pemantulan Berkepanjangan, (3) Bayang-Bayang Bunyi, (4) Pemusatan Bunyi

dengan sumber bunyi. Hal ini dapat dihindari dengan penempatan balkon atau penggunaan formasi tertentu pada dinding tersebut.

(2)Gaung.

Gaung terdiri dari gema-gema kecil yang berurutan dengan cepat dan dapat dicatat serta diamati dengan indera pendengar kita. Terjadi jika sumber bunyi diletakan di antara permukaan-permukaan pemantul bunyi yang tidak sejajar. Eleminasi permukaan- permukaan pemantul yang berhadapan dan saling sejajar adalah salah satu cara untuk menghindari gaung. Gaung dapat pula dicegah dengan memasang bahan penyerap bunyi pada permukaan pemantul yang menyebabkan cacat ini. Bila penggunaan lapisan akustik sepanjang daerah-daerah kritis ini tidak memungkinkan, maka permukaan itu

Dalam dokumen PUSAT PENDIDIKAN MUSIK DI SURAKARTA (Halaman 58-84)