BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG TINDAK PIDANA
C. Pertanggungjawaban Pidana dalam Tindak Pidana Korupsi
Pertanggungjawaban pidana dalam tindak pidana korupsi lebih luas dari hukum pidana umum. Hal ini nyata dalam hal :44
1. kemungkinan penjatuhan pidana secara in absentia (Pasal 23 ayat (1) sampai ayat (4) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1971; Pasal 38 ayat (1), (2), (3), dan (4) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1999);
2. kemungkinan perampasan barang-barang yang telah disita bagi terdakwa yang telah meninggal dunia sebelum ada putusan yang tidak dapat diubah lagi (Pasal 23 ayat (5) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1971; Pasal 38 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1999) bahkan kesempatan banding tidak ada;
3. perumusan delik dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi 1971 yang sangat luas ruang lingkupnya, terutama unsur ketiga pada Pasal 1 ayat (1) sub a dan b Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1971; Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Korupsi 1999;
4. penafsiran kata “menggelapkan” pada delik penggelapan (Pasal 415 KUH Pidana) oleh yurisprudensi baik di Belanda maupun di Indonesia sangat luas.
44
Tomita Juniarta Sitompul : Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn), 2008.
USU Repository © 2009
Pasal ini diadopsi menjadi Pasal 8 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Korupsi 2001.
Pemidanaan orang yang tidak dikenal dalam arti sempit tidak dikenal dalam tindak pidana korupsi tetapi juga dapat dilakukan pemeriksaan siding dan putusan dijatuhkan tanpa kehadiran terdakwa (putusan in absentia) sesuai dengan ketentuan Pasal 23 ayat (1) sampai ayat (4) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1971 dan Pasal 38 ayat (1), (2), (3), dan (4) Undang- Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1999.
Begitu pula bagi orang yang meninggal sebelum ada putusan yang tidak dapat diubah lagi, yang diduga telah melakukan korupsi, hakim atas tuntutan penuntut umum, dapat memutuskan perampasan barang-barang yang telah disita (Pasal 23 ayat (5). Kesempatan banding dalam putusan ini tidak ada. Orang yang telah meninggal dunia tidak mungkin melakukan delik. Delik dilakukan sewaktu ia masih hidup, tetapi pertanggungjawabannnya setelah menniggal dunia dibatasi sampai pada perampasan barang-barang yang telah disita.
Begitu pula dalam perumusan Pasal 1 ayat (1) sub a dan b Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1971, terdapat unsur “langsung atau tidak langsung merugikan keuangan negara dan//atau perekonomian negara”, bahkan pada sub b ada tambahan kata “dapat” merugikan keuangan negara. Ini menunjukkan bahwa “kerugian negara” yang timbul akibat perbuatan melawan hukum itu merupakan suatu hal yang dipertangggungjawabkan sama dengan strict
liability kaena “langsung atau tidak langsung (dapat) merugikan keuangan negara”
Tomita Juniarta Sitompul : Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn), 2008.
USU Repository © 2009
umum membuktikannya. Kata-kata “langsung atau tidak langsung” telah dihapus dalam Pasal 2 dan 3 undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1999.
Strict liability ialah suatu konsepsi yang tidak memerlukan pembuktian
adanya sengaja dan alpa pembuat delik. Biasanya strict liability hanya untuk regulatory offences. A.Z. Abidin45
1. Esensial untuk menjamin bahwa peraturan hukum yang penting tertentu demi kesejahteraan masyaakat harus ditaati.
menyebut tiga alasan diterimanya strict
liability terhadap delik-delik tertentu.
2. Pembuktian mens rea (sikap batin si pembuat) terhadap delik-delik serupa sangat sulit.
3. Suatu tingkat tinggi “bahaya sosial” dapat membenarkan penafsiran suatu delik yang menyangkut “strict liability”.
Dalam hal delik korupsi yang berbentuk penggelapan oleh pegawai negeri atau pejabat Pasal (415 KUH Pidana) yang ditarik menjadi delik korupsi (Pasal 8 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 2001), secara expressis
verbis tercantum unsur sengaja. Dalam yurisprudensi ditentukan bahwa suatu kas
bon (pinjaman seoang pegawai pada kas) atas izin bendaharawan, walaupun uang itu dibayar kembali, dirumuskan sebagai penggelapan oleh bendaharawan itu (Putusan Mahkamah Agung tanggal 7 April 1956). Bahkan ditentukan lebih lanjut bahwa walaupun tidak bermanfaat bagi bendaharawan itu, asal uang itu tidak dipergunakan pada tujuannya, dikualifikasikan sebagai penggelapan (Putusan Mahkamah Agung tanggal 30 Juni 1964).
45
Tomita Juniarta Sitompul : Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn), 2008.
USU Repository © 2009
Jadi dapat dikatakan bahwa walaupun bendaharawan itu karena alasan perikemanusiaan meminjamkan uang kepada seorang pegawai dan walaupun uang itu pada akhirnya dikembalikan, yang berarti negara tidak rugi, delik penggelapan telah terjadi.
Hal ini dianut oleh yurisprudensi, mungkin atas pertimbangan bahwa delik tersebut termasuk delik jabatan, yang tidak selalu kerugian negara menjadi alasan utama, tetapi “hal pegawai tidak becus” yang mencampuradukkan uang pribadi dengan uang negara menjadi masalah inti.
Pertanggungjawaban dalam hukum piidana perlu dibahas karena pada delik korupsi dikenal semacam alasan pembenar, yang tercantum dalam Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1971 berikut ini “Kalau dalam perbuatan itu negara tidak dirugikan atau dilakukan demi kepentingan umum”.
Dalam hal ini, dikemukakan pendapat para penulis hukum pidana khususnya pertanggungjawaban pidana, baik yang memisahkan perbuatan dan pertanggungjawaban pidana maupun yang tidak.
Satochid Kartanegara46
46
Satochid Kartanegara, Hukum Pidana I Kumpulan Kuliah, Balai Lektor Mahasiswa, Jakarta, halaman 243-244
mengatakan, bahwa dapat dipertanggungjawabkan (toerekeingsvatbaarheid) adalah mengenai keadaan jiwa seseorang sedangkan pertanggungjawaban adalah mengenai perbuatan yang dihubungkan dengan si pelaku atau pembuat. Selanjutnya, Satochid mengatakan, seseorang dapat dipertannggungjawabkan, jika:
Tomita Juniarta Sitompul : Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn), 2008.
USU Repository © 2009
1. Keadaan jiwa orang itu adalah sedemikian rupa sehingga dia dapat mengerti atau tahu akan nilai perbuatannya itu, juga akan mengerti akan akibatnya. 2. jiwa orang itu adalah sedemikian rupa sehingga dia dapat menentukan
kehendaknya atas perbuatan yang dilakukan.
3. Orang itu sadar dan insyaf bahwa perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang dilarang atau tidak dibenarkan dari sudut hukum, masyarakat dan tatasusila.
Menurut Vos, pendapat Simons itu sejalan dengan Memori Van Toelichting, yang melihat hanya dalam dua hal saja. Orang dapat menerima tidak dapat dipertanggungjawabkan (ontoerekendsvatbaarheid) pada si pembuat :
1. Dalam hal perbuatannya dipaksa. Si pembuat tidak ada kebebasan untuk memilih antara berbuat dan tidak berbuat apa yang dilarang oleh undang- undang.
2. Dalam hal si pembuat dalam keadaan tertentu sehingga tidak menginsyafi bahwa perbuatannya akan bertentangan dengan hukum dan dia tidak mengerti akibat perbuatannya, gila dan sebagainya.47
Simons, mengatakan dapat dipertanggungjawabkan (toerekeingsvatbaarheid) dapat dipandang sebagai keadaan psikis sedemikian rupa sehingga si pembuat atau pelaku mampu untuk menginsyafi atau mengetahui bahwa perbuatannyaadalah melanggar hukum dan sesuai dengan keinsyafan itu mampu untuk menentukan kehendaknya.48
1. Kemampuan bertanggungjawab.
E. Mezger menentukan tiga macam dalam pengertian kesalahan, yakni :
47
Martiman Prodjohamidjojo, Op.Cit, halaman 31
48
Tomita Juniarta Sitompul : Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn), 2008.
USU Repository © 2009
2. Bentuk kesalahan berwujud kesengajaan dana kealpaaan. 3. Alasan-alasan penghapus kesalahan.49
Ada persamaan pendapat antara Vos dan Mezger yang tidak memasukkan unsur melawan hukum perbuatan dalam bidang kesalahan. Sedangkan Moelyatno dan Roeslan Saleh memisahkan antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana.
Roeslan Saleh50
1. Melakukan perbuatan pidana (delik)
mengatakan bahwa untuk adanya kesalahan yang mengakibatkan dipidananya terdakwa, pada terdakwa harus ada :
2. Mampu bertanggungjawab 3. Dengan sengaja atau alpa 4. Tidak ada alasan pemaaf
Selanjutnya Roeslan Saleh mengatakan dalam hal kemampuan bertanggungjawab ada dua faktor, yaitu :
a. Akal dan b. Kehendak
Dengan akal atau daya pikir, orang dapat membedakan antara perbuatan yang diperbolehkan dan perbuatan yang tidak diperbolehkan. Dan dengan kehendak atau kemauan atau keinginan oang dapat menyesuaikan tingkah laku mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan.
Kemudian Roeslan Saleh lebih lanjut mengatakan bahwa adanya kemampuan bertanggungjawab ditentukan oleh dua faktor. Dengan akal dapat membedakan
49
Ibid, halaman 32
50
Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana Dua Pengertian Dasar
Tomita Juniarta Sitompul : Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn), 2008.
USU Repository © 2009
antara perbuatan yang dipebolehkan atau tidak diperbolehkan sedangkan faktor kehendak bukan faktor yang menentukan mampu bertanggungjawab melainkan salah satu faktor dalam menentukan kesalahan karena faktor kehendak adalah tergantung dan kelanjutan dari faktor akal. Lagi pula bahwa kemampuan bertanggungjawab hanya salah satu faktor dari kesalahan.51
51
Ibid, halaman 61-62
Tomita Juniarta Sitompul : Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn), 2008.
USU Repository © 2009
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM BIDANG PERBANKAN
Faktor-faktor penyebab timbulnya tindak pidana korupsi dalam bidang perbankan terdiri atas 4 (empat) aspek, yaitu :
A. Aspek Individu Pelaku
Apabila dilihat dari segi pelaku korupsi, sebab-sebab dia melakukan korupsi dapat berupa dorongan dari dalam dirinya yang dapat pula dikatakan sebagai keinginan, niat atau kesadarannya untuk melakukan. Sebab-sebab seseorang melakukan korupsi antara lain sebagai berikut :
1. Sifat tamak manusia
Orang yang melakukan korupsi adalah orang yang penghasilannya sudah cukup tinggi bahkan sudah berlebih bila dibandingkan kebutuhan hidupnya. Orang tersebut melakukan korupsi tersebut juga tanpa adanya godaan dari pihak lain. Bahkan kesempatan untuk melakukan korupsi mungkin juga sudah sangat kecil karena sistem pengendalian manajemen yang sudah sangat bagus. Dalam hal pelaku korupsinya seperti itu, maka unsur yang menyebabkan dia melakukan korupsi adalah unsur dalam diri sendiri yaitu sifat tamak, sombong, takabur, rakus yang memang ada pada manusia.52
Apabila seseorang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri, maka tanpa godaan dari luar, tanpa adanya kebutuhan hidup, dan tanpa adanya kelemahan sistem yang memberikan kesempatan seseorang
52
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Strategi Pemberantasan Korupsi Nasional, Edisi Maret, Jakarta,1999, halaman 83
Tomita Juniarta Sitompul : Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn), 2008.
USU Repository © 2009
tersebut akan berusaha mencari-cari jalan untuk melakukan korupsi. Dalam hal ini, berapapun kekayaan dan penghasilan sudah diperoleh seseorang tersebut, apabila ada kesempatan untuk melakukan korupsi maka akan dilakukan juga.53
Seseorang yang moralnya tidak kuat cenderung lebih mudah tergoda untuk melakukan korupsi. Godaan itu bisa berasal dari atasan, teman setingkat, bawahannya, atau pihak yang lain (pihak luar yang dilayani) yang memberi kesempatan untuk itu.
2. Moral yang kurang kuat
54
Teman setingkat atau bawahan seorang pegawai yang melakukan korupsi juga merupakan godaan bagi seorang pegawai. Pegawai yang tingkat ekonominya di bawah pegawai lain yang setingkat atau
Bila seorang pegawai yang melihat atasannya melakukan korupsi, maka pegawai tersebut cenderung akan melakukan korupsi juga karena dia berpendapat bahwa apabila atasannya tersebut mengetahui perbuatannya, maka atasannya tersebut mendiamkannya atau pra-pura tidak tahu, tidak akan mengenakan sanksi atau paling tidak mengenakan sanksi yang ringan. Hal ini terjadi karena atasannya juga mempunyai rasa takut jika dilaporkan oleh bawahannya mengenai perbuatan korupsinya. Lebih-lebih jika seorang pegawai melakukan korupsi karena melakukan kolusi dengan atasannya. 53 Ibid, halaman 83 54 Ibid, halaman 83
Tomita Juniarta Sitompul : Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn), 2008.
USU Repository © 2009
bawahannya yang melakukan korupsi jika moralnya tidak kuat maka akan mudah tergoda untuk berbuat korupsi juga.
Pihak luar yang dilayani misalnya nasabah (untuk perbankan), masyarakat (untuk pelayanan umum), pemborong atau kontraktor, wajib pajak dan sebagainya. Nasabah bank yang ingin mendapatkan kreditnya dengan cepat atau yang seharusnya tidak memenuhi persyaratan tertentu untuk mendapatkan kreditnya akan berusaha menggoda pegawai yang bersangkutan dengan imbalan tertentu. Untuk memenangkan tender pekerjaan, pemborong yang tidak cukup akan memberikan uang suap kepada pejabat/ pegawai yang menentukan pemenang tender.55
Dalam rentang kehidupan ada kemungkinan seseorang mengalami situasi terdesak dalam hal ekonomi. Adanya kebutuhan hidup yang 3. Penghasilan yang kurang mencukupi kebutuhan hidup yang wajar
Penghasilan seorang pegawai dari suatu pekerjaan selayaknya memenuhi kebutuhan hidup yang wajar. Bila hal itu tidak terjadi maka seseorang akan berusaha memenuhinya dengan berbagai cara. Tetapi bila segala upaya dilakukan ternyata sulit didapatkan, keadaan semacam ini yang akan memberi peluang besar untuk melakukan tindak korupsi baik itu korupsi waktu, tenaga, pikiran dalam arti semua curahan peluang itu untuk keperluan di luar pekerjaan yang seharusnya.
4. Kebutuhan hidup yang mendesak
55
Tomita Juniarta Sitompul : Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn), 2008.
USU Repository © 2009
mendesak seperti kebutuhan keluarga, kebutuhan untuk membayar hutang, kebutuhan untuk membayar pengobatan yang mahal, kebutuhan untuk membiayai sekolah anaknya, kebutuhan untuk mengawinkan anaknya merupakan bentuk-bentuk dorongan seorang pegawai yang berpenghasilan kecil untuk berbuat korupsi. Dalam hal seperti itu tentu akan sangat tepat apabila dipikirkan suatu sistem yang dapat membantu memberikan jalan keluar bagi para pegawai untuk menghadapi kebutuhan hidup yang sifatnya mendesak misalya sistem asuransi.56
Kehidupan di kota-kota besar sering kali mendorong gaya hidup seseorang konsumtif. Gaya hidup yang konsumtif di kota-kota besar ini mendorong pegawai untuk dapat memiliki mobil mewah, rumah mewah, pakaian mahal, hiburan yang mahal dan sebagainya. Gaya hidup yang konsumtif tersebut akan menjadikan penghasilan yang sedikit semakin tidak mencukupi. Hal tersebut juga akan mendorong seseorang untuk melakukan korupsi bilamana ksempatan untuk melakukan ada.
5. Gaya hidup yang konsumtif
57
Sebagian orang ingin mendapatkan hasil dari sebuah pekerjaan tanpa keluar keringat alias malas bekerja. Sifat semacam ini akan potensial melakukan tindakan apapun dengan cara-cara mudah dan cepat, diantaranya melakukan korupsi.
6. Malas atau tidak mau kerja
56
Ibid, halaman 85
57
Tomita Juniarta Sitompul : Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn), 2008.
USU Repository © 2009
7. Ajaran agama yang kurang diterapkan
Indonesia dikenal sebagai bangsa religius yang tentu akan melarang tindak pidana korupsi dalam bentuk apapun. Kenyataan di lapangan menunjukkan bila korupsi masih berjalan subur di tengah masyarakat. Situasi paradok ini menandakan bahwa ajaran agama kurang diterapkan dalam kehidupan.