• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn)"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Tomita Juniarta Sitompul
  • Pengajar:
    • Abul Khair, SH. M. Hum
    • Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH. M. Hum
    • Liza Erwina, SH. M. Hum
  • Sekolah: Universitas Sumatera Utara
  • Mata Pelajaran: Hukum Pidana
  • Topik: Analisis Kasus Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Karyawan PT. Bank Mandiri (Studi Kasus No. 2120/ PID. B/ 2006/ PN. Mdn)
  • Tipe: skripsi
  • Tahun: 2008
  • Kota: Medan

I. PENDAHULUAN

Bagian ini menjelaskan latar belakang pentingnya analisis tindak pidana korupsi, khususnya dalam konteks perbankan di Indonesia. Penulis menggarisbawahi bahwa korupsi merupakan masalah serius yang tidak hanya merugikan keuangan negara tetapi juga berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan. Dengan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang korupsi, diharapkan dapat ditemukan solusi yang efektif untuk mencegah dan menanggulangi masalah ini.

1.1. Latar Belakang Penulisan

Latar belakang penulisan menguraikan kondisi sosial dan ekonomi di Indonesia yang dipengaruhi oleh korupsi. Penulis menekankan bahwa korupsi di sektor perbankan menjadi perhatian utama karena dampaknya yang luas. Korupsi dianggap sebagai virus yang menyebar dan mengancam stabilitas ekonomi serta kepercayaan publik terhadap institusi keuangan.

1.2. Permasalahan

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini mencakup siapa saja subjek hukum dalam tindak pidana korupsi, sanksi pidana yang berlaku, faktor penyebab terjadinya korupsi di perbankan, dan upaya penanggulangan yang dapat dilakukan. Hal ini penting untuk memahami secara komprehensif aspek hukum dan sosial dari tindak pidana korupsi.

1.3. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tujuan penulisan adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai subjek hukum, sanksi, dan faktor penyebab korupsi. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam pengembangan kebijakan hukum, serta membantu aparat penegak hukum dalam menangani kasus korupsi di perbankan.

II. TINJAUAN UMUM TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI

Bagian ini membahas definisi dan berbagai aspek terkait tindak pidana korupsi. Penulis menjelaskan tentang subjek hukum yang terlibat dalam korupsi, sanksi pidana yang dapat dikenakan, serta pertanggungjawaban pidana. Ini penting untuk memberikan konteks hukum yang jelas mengenai korupsi dan bagaimana hukum dapat diterapkan dalam kasus-kasus tertentu.

2.1. Subjek Hukum Tindak Pidana Korupsi

Subjek hukum dalam tindak pidana korupsi tidak terbatas pada pegawai negeri, tetapi juga mencakup individu lain yang terlibat. Hal ini mencerminkan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk terlibat dalam tindakan korupsi, sehingga penting untuk memahami siapa yang dapat dikenakan sanksi hukum.

2.2. Sanksi Pidana Terhadap Tindak Pidana Korupsi

Sanksi pidana untuk korupsi dapat berupa pidana pokok dan tambahan. Penulis menjelaskan bahwa sanksi ini bertujuan untuk memberikan efek jera dan mengembalikan kerugian yang ditimbulkan akibat tindakan korupsi. Pemahaman tentang sanksi ini penting untuk penegakan hukum yang efektif.

2.3. Pertanggungjawaban Pidana dalam Tindak Pidana Korupsi

Pertanggungjawaban pidana dalam kasus korupsi melibatkan bukti bahwa pelaku mengetahui bahwa perbuatannya melanggar hukum. Penjelasan ini penting agar pemangku kepentingan memahami bagaimana hukum dapat diterapkan dan diimplementasikan dalam kasus korupsi.

III. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM PERBANKAN

Bagian ini mengidentifikasi berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana korupsi dalam sektor perbankan. Penulis membagi faktor-faktor ini ke dalam beberapa kategori, termasuk individu, organisasi, dan peraturan perundang-undangan. Pemahaman tentang faktor-faktor ini sangat penting untuk merumuskan kebijakan pencegahan yang efektif.

3.1. Aspek Individu Pelaku

Aspek individu pelaku mencakup karakteristik dan motivasi pribadi yang mendorong seseorang untuk melakukan korupsi. Penulis menekankan bahwa faktor psikologis dan moralitas individu sangat berpengaruh terhadap keputusan untuk terlibat dalam tindakan korupsi.

3.2. Aspek Organisasi

Aspek organisasi mencakup budaya organisasi dan sistem pengawasan yang ada. Penulis menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang tidak transparan dan lemahnya pengawasan internal dapat menciptakan peluang bagi tindakan korupsi untuk terjadi.

3.3. Aspek Tempat Individu dan Organisasi Berada

Aspek masyarakat dan lingkungan sosial juga mempengaruhi terjadinya korupsi. Penulis menjelaskan bahwa norma sosial dan penerimaan masyarakat terhadap praktik korupsi dapat menjadi faktor pendorong bagi individu untuk melakukan tindakan korupsi.

IV. KASUS DAN ANALISIS KASUS

Bagian ini menyajikan studi kasus konkret mengenai tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh karyawan PT. Bank Mandiri. Penulis menganalisis peristiwa tersebut dalam konteks hukum pidana, termasuk bagaimana kasus tersebut ditangani oleh sistem peradilan. Analisis ini penting untuk memahami penerapan hukum dalam praktik.

4.1. Kasus

Kasus yang dianalisis melibatkan karyawan bank yang melakukan penarikan uang tanpa izin dari nasabah. Penulis menjelaskan detail tindakan yang dilakukan dan dampaknya terhadap bank dan nasabah. Ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana tindak pidana korupsi dapat terjadi dalam praktik.

4.2. Analisis Kasus

Analisis kasus mencakup evaluasi terhadap tindakan hukum yang diambil dan sanksi yang dijatuhkan. Penulis menilai efektivitas penegakan hukum dalam menangani kasus ini dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan di masa mendatang.

V. UPAYA PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM BIDANG PERBANKAN

Bagian ini membahas langkah-langkah yang dapat diambil untuk mencegah dan menanggulangi tindak pidana korupsi di sektor perbankan. Penulis membagi upaya ini menjadi kebijakan non-penal dan penal, serta menekankan pentingnya kerjasama antara berbagai pihak terkait.

5.1. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Korupsi Melalui Pengelolaan Perbankan (Non-Penal Policy)

Kebijakan non-penal fokus pada pengelolaan dan pengawasan internal bank untuk mencegah korupsi. Penulis memberikan contoh langkah-langkah yang dapat diambil untuk memperkuat sistem pengawasan dan transparansi dalam operasional perbankan.

5.2. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Korupsi Melalui Kebijakan Hukum Pidana (Penal Policy)

Kebijakan penal mencakup tindakan hukum yang diambil terhadap pelaku korupsi. Penulis menekankan pentingnya penegakan hukum yang tegas dan konsisten untuk memberikan efek jera dan mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.

VI. PENUTUP

Bagian penutup menyimpulkan temuan-temuan dari penelitian ini dan memberikan rekomendasi untuk langkah-langkah yang perlu diambil dalam menangani korupsi di sektor perbankan. Penulis menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga penegak hukum, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari korupsi.

6.1. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa korupsi merupakan masalah serius yang memerlukan perhatian dari semua pihak. Penulis menekankan pentingnya pemahaman yang mendalam tentang aspek hukum dan sosial dari korupsi untuk mengembangkan kebijakan yang efektif.

6.2. Saran

Saran yang diberikan mencakup perlunya peningkatan pendidikan hukum dan kesadaran masyarakat tentang korupsi. Penulis juga merekomendasikan perlunya reformasi dalam sistem perbankan untuk mencegah terjadinya korupsi di masa mendatang.

Referensi Dokumen

  • Hukum dan Hukum Pidana ( Sudarto )
  • Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat ( Sudarto )
  • Teori-Teori dan Kebijakan Hukum Pidana ( Muladi dan Barda Nawawi Arief )

Referensi

Dokumen terkait

Penulisan hukum ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pengaturan tindak pidana korupsi dan ancaman sanksi pidana dalam tindak pidana korupsi berdasarkan

Tujuan penelitian mengkaji secara mendalam mengapa undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi digunakan untuk menangani tindak pidana di bidang perbankan khususnya

dalam hukum acara pada hukum pidana umum, karena Tindak Pidana Korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang merupakan tindak pidana khusus yang dalam penanganannya membutuhkan keahlian

Permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaturan Tindak Pidana Bersama-sama dan Berkelanjutan dalam Tindak Pidana Korupsi baik dalam konsep

Permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaturan Tindak Pidana Bersama-sama dan Berkelanjutan dalam Tindak Pidana Korupsi baik dalam konsep

Pengaturan hukum pidana terhadap tindak pidana korupsi oleh penyelenggara Negara, yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang

KEKUATAN HUKUM ALAT BUKTI PENYADAPAN DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2019 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI SKRIPSI

Berikut beberapa kualifikasi tindak pidana korupsi yang dapat menghadapi ancaman pidana mati dalam beberapa yurisdiksi:  Korupsi Berat yang Merugikan Negara Besar: Tindak pidana