Merujuk pada rangkaian strategi tersebut, peran pertanian presisi sebagai bagian yang tidak terpisah dari implementasi pertanian digital sangatlah penting. Pertanian presisi potensial dalam menentukan keuntungan ekonomis dan lingkungan antara lain melalui pengurangan penggunaan air, pupuk, herbisida dan pestisida selain peralatan pertanian. Pendekatan pertanian presisi mengakui dan mempertimbangkan adanya perbedaan spesifik lokasi serta menyesuaikan tindakan pengelolaan yang tepat.
Selain itu, pertanian presisi menawarkan kemampuan digitalisasi untuk mengotomatisasi dan menyederhanakan pengumpulan dan analisis informasi yang memungkinkan keputusan manajemen dapat dibuat dan diimplementasikan dengan cepat di area kecil dari luasan bidang yang besar.
PERTANIAN MODERN DALAM KERANGKA
2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024 yang menempatkan pembangunan pertanian berperan strategis bagi keberhasilan pencapaian salah satu Prioritas Nasional (PN) yang telah diagendakan, yaitu Penguatan Ketahanan Ekonomi untuk Pertumbuhan yang Berkualitas (PN1).
Pertanian yang maju ditandai dengan peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pangan sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri serta meningkatkan pendapatan petani. Kemajuan dan kemandirian pangan akan dapat diwujudkan dengan peningkatan hasil pengembangan penelitian inovatif serta penggunaan teknologi modern berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Dalam pemanfaatan TIK dalam bidang pertanian, arah kebijakan dalam rangka mendukung transformasi digital adalah melalui adopsi pemanfaatan teknologi global berbasis IoT, AI serta Big Data untuk meningkatkan ketepatan perencanaan, kinerja pelaksanaan serta pengawasan pembangunan pertanian. Sedangkan Pertanian modern dapat diartikan sebagai pertanian berbasis inovasi yang sejalan dengan revolusi industri 4.0 sehingga pertanian modern yang dikembangkan memiliki karakteristik: memproduksi sesuai kebutuhan, bernilai ekonomi tinggi, produktivitas tinggi serta bersifat ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Sementara, krisis kehidupan karena dampak COVID-19 dalam jangka panjang akan dapat berimplikasi pada tidak berfungsinya sistem pangan, dengan demikian memiliki dampak terhadap ekonomi dan gangguan lingkungan maupun sosial (FAO 2020).
Untuk mengurangi kedalaman dampak yang lebih luas terhadap berbagai hal tersebut, perlu dilakukan strategi dan
langkah-langkah terobosan baik jangka pendek, menengah maupun dan jangka panjang, mendukung transisi ke sistem pangan yang lebih berkelanjutan, lebih seimbang dengan alam dan yang mendukung pola makan sehat. Selain itu, rantai nilai pertanian peka nutrisi yang berkelanjutan juga sangat membutuhkan akses ICT bagi semua pemangku kepentingan.
Pandemi COVID-19 telah menjadi faktor penarik yang mempercepat penggunaan teknologi digital agar tetap bekerja dan tetap terhubung. Praktek di beberapa negara baik di Eropa dan Asia menunjukkan adopsi teknologi baru bagi petani kecil masih tertinggal, dikarenakan adanya kendala pada ketersediaan dan kualitas akses, biaya konektivitas, serta konten yang sesuai bagi kebutuhan. Hal ini juga mengungkapkan adanya kesenjangan digital antara mereka yang memiliki akses dan mereka yang tidak sehingga manfaat teknologi digital tidak otomatis dan serta merta semua orang mendapatkan keuntungan yang sama. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan kritis dilakukannya tindakan di tingkat kebijakan yang dapat memaksimalkan manfaat dan meminimalkan potensi risiko. Selain itu, pentingnya memastikan komitmen pemerintah untuk meningkatkan solusi baru dan menciptakan lingkungan pendukung secara terstruktur bagi pengembangan inovasi, sistem pendukung, dan pengembangan kapasitas yang relevan untuk menghasilkan perubahan pembangunan melalui penerapan teknologi digital di sektor pertanian.
Kegiatan strategis yang dibangun oleh Kementan saat ini, pengembangan kawasan menjadi kebijakan yang dapat didorong terintegrasi dengan transformasi menuju pertanian modern masa
depan. Dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian (PERMENTAN) Nomor: 18 Tahun 2018 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Korporasi Petani (yang saat ini juga sedang dilakukan revisi dan penyempurnaan) dapat sebagai pijakan dan memberikan makna sebagai entry point untuk membangun dan mewujudkan pembangunan pertanian modern di era industri 4.0 yang berkarakter di Indonesia ke depan.
Mendukung hal tersebut, salah satu kegiatan unggulan dan menjadi penciri program utama Badan Litbang Pertanian 2015-2019 yaitu penciptaan dan pengembangan teknologi inovatif pertanian bio-industri berkelanjutan juga memiliki peluang dan potensi untuk ditingkatkan kinerjanya, di-upgrade kesiapan teknologi dan kelembagaannya sehingga berkembang menjadi pertanian bioindustri spesifik lokasi berbasiskan digital yang berkelanjutan di masa depan. Agar konvergen dalam membangun pertanian modern yang diharapkan, implementasi pertanian bioindustri didorong untuk terintegrasi dengan pengembangan kawasan pertanian berbasis korporasi. Peran litbang mendukung perwujudan pembangunan modern selanjutnya, akan didorong melalui kegiatan Riset dan Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) yang menjadi ruh dalam memperkuat sistem riset dan inovasi pertanian dengan pendekatan kolaborasi inter, multi dan trans disiplin baik secara internal maupun eksternal dengan lembaga riset di luar Badan Litbang Pertanian dan stakeholders lainnya.
Memperkuat proses transformasi tersebut, diperlukan langkah awal berupa pemetaan kondisi infrastuktur fisik dan konektivitas jaringan pertanian baik dalam pembangunan bioindustri maupun
pembangunan kawasan pertanian di Indonesia dan kapasitas pelakunya. Terlebih program strategis lintas Kementerian/
Lembaga yang juga digariskan oleh RPJMN 2020-2024 adalah pembangunan korporasi petani dan nelayan yang dalam periode lima tahun hingga 2024 ditargetkan akan dibangun dan dikembangkan 350 korporasi petani nelayan.
Tekad membangun pertanian maju, mandiri dan modern yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan berbasis korporasi petani akan dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah. Hal ini dikarenakan, bila dipetakan kinerja pembangunan pertanian di masing-masing kawasan, saat ini masih banyak yang masuk kategori teknologi industri 2.0, dan terdapat beberapa kawasan pertanian telah lebih maju dan mencapai kategori teknologi industri 3.0 dengan basis ICT/digitalisasi dan precision farming.
Inventarisasi tersebut sangat penting untuk menentukan arah pengembangannya ke depan yang antara lain akan ditujukan pada : 1) membangun dan meningkatkan infrastruktur teknologi bagi perbaikan dan peningkatan volume data, kekuatan komputasi dan konektivitas; 2) mendorong sistem pengetahuan yang mendukung kemampuan analisis dan kecerdasan bisnis; 3) Mempercepat terjadinya berbagai bentuk interaksi baru antara manusia dengan manusia (man to man), antar manusia dengan mesin (man to machine),dan antar mesin (machine to machine) pada berbagai model pertanian bioindustri dalam sebuah kawasan pertanian; serta 4) Menciptakan berbagai model perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik. Peningkatan berbagai aspek tersebut akan menjadi pengungkit bekerjanya proses pembelajaran bagi seluruh pelaku
dan pemangku kepentingan dalam bertransformasi mewujudkan pertanian modern di Indonesia.
Membangun pertanian modern ke depan juga diarahkan untuk mempercepat implementasi pertanian presisi ke dalam keseluruhan sistem dan proses produksi pertanian. Penerapannya dilakukan dengan memanfaatkan teknologi pertanian digital secara cerdas dan bertahap mulai dari penyiapan lahan, produksi, pasca panen, penyimpanan, pengolahan dan pemasaran beserta tatanan pengelolaannya yang disertai dengan dukungan data dan informasi digital melalui penggunaan teknologi komputer dan sistem informasi. Keseluruhan proses dibangun dalam konstruksi keterkaitan sistem pertanian yang saling terkoneksi dari hulu-hilir dengan penerapan teknologi presisi, perlakuan tepat dan terkontrol sehingga keseluruhan proses dapat berjalan efisien, tidak terjadi pemborosan sumber daya serta mampu memberikan nilai tambah dan berdaya saing.
Dukungan infrastruktur dalam pertanian digital diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, kualitas produk dan keberlanjutan usaha melalui pengenalan otomatisasi alat-alat produksi, panen, pasca panen hingga pemasaran. Selain itu, pengambilan keputusan presisi juga memerlukan sarana untuk menyimpan, mengolah, menganalisis dan pengelolaan big data yang berasal dari berbagai karakter agroekosistem, jenis-tipe-karateristik komoditi, ciri sosial-ekonomi-budaya, dinamika situasi pasar, kebijakan, maupun sistem value chain yang dikembangkan. Aspek penting lainnya untuk mendorong kondisi kondusif implementasi pertanian digital adalah lingkungan kebijakan berupa: 1) regulasi yang mengatur hal-hal terkait
pemanfaatan teknologi digital, otomatisasi, dan robot di bidang pertanian; 2) mendorong investasi dan partisipasi pelaku secara luas; 3) perbaikan insfrastruktur; 4) insentif finansial (permodalan) dan promosi; serta 5) program pelatihan dan peningkatan kualitas SDM.
Koordinasi diperlukan untuk mengatasi transformasi digital pertanian secara berkelanjutan, melalui: i) mempromosikan koordinasi dan memperkuat hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan pertanian dan ekonomi digital; ii) meningkatkan kesadaran masyarakat termasuk di wilayah pedesaan terhadap isu-isu digitalisasi sektor pangan dan pertanian; dan iii) menyusun rekomendasi kebijakan, praktik terbaik, dan pedoman yang dapat meningkatkan manfaat dari aplikasi teknologi digital pada sektor pertanian, sambil mengatasi potensi dampak negatif dan masalah baik dari segi ekonomi, sosial maupun budaya.