PERIZINAN DAN VERIFIKASI PBF
Dalam rangka pengawasan atas pelaksanaan perizinan PBF yang
merupakan Izin Operasional sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun
2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi secara Elektronik,
Direktorat Pengawasan Distribusi ONPP telah melakukan 2 (dua) kali
pertemuan dalam bentuk Focal Group Discusion (FGD) dengan lintas sektor
yaitu:
1. Pertemuan pada tanggal 19 Maret 2019 di Bekasi
Direktorat Pengawasan Sarana Distribusi dan Pelayanan ONPP telah
melakukan pertemuan yang mengundang Badan Koordinasi Penanaman
Modal selaku Lembaga OSS, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan
Prov. DKI Jakarta, Prov. Jawa Barat dan Prov. Banten untuk membahas
pelaksanaan OSS di PBF terkait dengan pemenuhan komitmen sertifikasi
CDOB. Hasil dari pertemuan tersebut antara lain sebagai berikut:
2 Titik 1 Titik 5 Kota Banyuwangi 1 Titik 6 Kab Situbondo 1 Titik 7 Kab Bondowoso 1 Titik
Direktorat Pengawasan Distribusi dan Pelayanan Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor
88
a. Adanya kendala pemenuhan komitmen sertifikat CDOB pada sistem
OSS untuk PBF yang telah memiliki Sertifikat CDOB sebelum
berlakunya sistem OSS, sehingga disepakati bahwa BKPM akan
memfasilitasi fitur upload izin komersial Sertifikat CDOB bagi PBF
yang telah memiliki Sertifikat CDOB sehingga secara otomatis Izin
Komersial telah terpenuhi.
b. BPOM tidak lagi menerbitkan surat rekomendasi pemenuhan CDOB
untuk perpanjangan izin PBF di Dinas Kesehatan Provinsi, namun PBF
langsung mengajukan sertifikasi CDOB. BPOM akan bersurat ke
Pemerintah Daerah sehingga tidak ada lagi kendala pengurusan izin
PBF yang mempersyaratkan rekomendasi pemenuhan CDOB dari
BPOM.
c. Untuk PBF yang memiliki banyak cabang akan difasilitasi pemenuhan
komitmen pada sistem OSS, sehingga sertifikat CDOB dipetakan
sesuai lokasi usaha (PBF cabang).
Berdasarkan hasil FGD tersebut Badan POM telah mengeluarkan Surat Edaran
pelaksanaan OSS kepada Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.
2. Pertemuan pada tanggal 15 Agustus 2019 di Jakarta
Dalam rangka pendataan jumlah PBF yang aktif di Indonesia, Direktorat
Pengawasan Sarana Distribusi dan Pelayanan ONPP melakukan pertemuan
dengan Kementerian Kesehatan sebagai instansi penerbit izin PBF sebelum
diberlakukannya PP No 24 tahun 2018 tentang OSS. Pertemuan ini
merupakan lanjutan dari pertemuan tanggal 9 Februari 2018 antara Badan
POM dan Kementerian Kesehatan yang telah melakukan sinkronisasi data
PBF sehingga didapatkan data PBF hasil sinkronisasi sejumlah 2554 PBF di
seluruh Indonesia. Dari data PBF tersebut, Badan POM telah melakukan
verifikasi status keaktifan PBF kepada BB/BPOM di seluruh Indonesia dan
Dinas Kesehatan dan terhadap PBF yang berdasarkan hasil verifikasi tidak
aktif akan diberikan tindak lanjut Pencabutan Izin kepada Kementerian
Kesehatan. Untuk membahas mekanisme pencabutan izin PBF yang tidak
aktif tersebut dilakukan pertemuan bersama Kementerian Kesehatan
dengan hasil sebagai berikut:
a. PBF yang telah dicabut izinnya dan ingin beroperasi kembali dapat
mengajukan permohonan Sertifikasi Distribusi Farmasi dan Sertifikasi
CDOB sesuai dengan ketentuan PBF tidak dapat beroperasional
sebelum mendapatkan sertikat CDOB.
b. Dari sejumlah rekomendasi PBF yang dicabut ijinnya terdapat 2 PBF
yang berstatus PMA (Pemilik Modal Asing) yang saat ini telah terbit
sertifikasi Distribusi Farmasi namun berpindah alamat sehingga tidak
dilakukan pencabutan izin. Karena jika Izin tersebut dicabut maka
akan terkendala pada proses penerbitan izin jika suatu saat akan
mengajukan izin PBF kembali berkaitan dengan ketentuan modal
100% dalam negeri
Kementerian Kesehatan akan memberikan akses kepada BPOM pada
aplikasi e-report PBF. Kedepannya history e-report akan dimasukkan ke dalam
Permenkes sebagai syarat untuk PBF dapat memperpanjang izinnya
Direktorat Pengawasan Distribusi dan Pelayanan Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor
90
Kegiatan FGD Verifikasi data PBF, 15 Agustus 2019 di Jakarta
I.
TINDAK LANJUT REKOMENDASI PENCABUTAN IZIN
KEPADA KEMENTERIAN KESEHATAN RI
Sebagai pengawalan terhadap pelaksanaan mandatory CDOB, Badan POM
telah membuat Surat Edaran kepada PBF secara bertahap sebanyak tiga kali
sejak tanggal 30 April 2018 sampai 31 Desember 2018 yang menjelaskan
ketentuan sanksi PSK untuk yang izin PBF nya telah terbit lebih dari 12 bulan.
Pada bulan Maret 2019 masih teridentifikasi PBF yang belum mengajukan
permohonan sertifikasi CDOB, sehingga Badan POM secara mandiri melakukan
klarifikasi ke Dinkes Provinsi dan/atau verifikasi langsung ke sarana terkait
status keaktifan PBF. Dengan mempertimbangkan risiko terhadap
penyalahgunaan izin PBF oleh pihak yang tidak berwenang atau pihak yang
mengatasnamakan PBF, maka terhadap PBF yang tidak aktif tersebut dibuat
rekomendasi Pencabutan Izin kepada Kementerian Kesehatan.
Pada tahun 2019, Badan POM telah merekomendasikan Pencabutan Izin
kepada Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Dirjen Farmalkes)
Kementerian Kesehatan RI terhadap 281 PBF. Rekomendasi Pencabutan Izin
tersebut dilakukan dalam II tahap dan berdasarkan Berita Acara hasil verifikasi
keaktifan PBF ke Dinas Kesehatan Provinsi setempat.
1. Rekomendasi Pencabutan Izin Tahap I dilakukan terhadap 245 PBF yang
dinyatakan tutup/tidak lagi menjalankan fungsi operasional PBF
berdasarkan verifikasi data PBF kepada Dinas Kesehatan Provinsi DKI
Jakarta, Sumatera Utara, Jambi, Jawa Tengah, dan Jawa Timur oleh
BB/BBPOM setempat.
2. Rekomendasi Pencabutan Izin Tahap II dilakukan terhadap 36 PBF yang
tutup berdasarkan verifikasi data PBF oleh BB/BPOM Yogyakarta, Palangka
Raya, Banjarmasin, Samarinda, Denpasar, Mataram, Kupang, Manado,
Gorontalo, Palu, Makassar, Jayapura, Sofifi dan Mamuju.
Surat rekomendasi Badan POM tersebut telah ditindaklanjuti oleh
Kementerian Kesehatan dengan menerbitkan sejumlah keputusan Dirjen
Farmalkes tentang Pencabutan Izin PBF. Daftar Pencabutan Izin PBF telah
disampaikan ke Badan POM melalui surat Direktur Produksi dan Distribusi
Kefarmasian nomor FP.01.01/01/3477/2019, dengan rincian sebagai berikut:
1. 241 PBF telah diterbitkan Pencabutan Izin
2. 21 PBF tidak diterbitkan Pencabutan Izin karena telah berproses
pemutakhiran data di e-licensing Kementerian Kesehatan
3. 3 PBF tidak diterbitkan Pencabutan Izin karena di database Kementerian
Kesehatan, PBF tersebut terdata juga sebagai Industri Farmasi (terjadi
duplikasi data)
16 PBF tidak diterbitkan Pencabutan Izin karena data PBF tersebut sudah
tidak ada lagi di Kementerian Kesehatan sehingga sesuai Peraturan Terbaru PBF
tersebut gugur dengan sendirinya.
J. PENINGKATAN KEMANDIRIAN BALAI DAN PELAKU
Dalam dokumen
LAPORAN TAHUNAN 2019
(Halaman 88-92)