• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN PAILIT

B. Pertimbangan Hakim

Adapun pertimbangan hakim dalam putusan pernyataan pailit terhadap PT. AAA Sekuritas sebagaimana yang telah diuraikan dalam Putusan Pailit Nomor 08/Pdt.Sus.Pailit/2015/PN.Niaga.Jkt.Pst. adalah sebagai berikut:

Menimbang, bahwa maksud dan tujuan permohonan para pemohon adalah sebagaimana tersebut di atas;

Menimbang, bahwa pada pokoknya para pemohon memohon agar termohon dinyatakan pailit dengan segala akibat hukumnya;

Menimbang, bahwa alasan-alasan dari permohonan para pemohon pada pokoknya adalah sebagai berikut:

1. Bahwa para pemohon dan termohon telah melakukan transaksi Repo (Repurchasement Agreement) dan apa yang menjadi kewajiban para pemohon memberi atau menyetorkan kepada termohon dana-dana sebesar Rp.24.000.000.000,00 (dua puluh empat milyar rupiah) untuk membeli saham-saham yang tertuang dalam:

1) Repo Confirmation Ref. No. 004/RC/FI/Nov/14, tanggal 24 November

2014 untuk saham BRI INDO dengan nilai pokok (principal) ditambah bunga (interest) total sebesar Rp.5.050.416.667,00 (lima milyar lima puluh juta empat ratus enam belas ribu eman ratus enam puluh tujuh rupiah), tanggal penyelesaian/pengambilan (ending settlement date), 29 Desember 2014 atas nama Ghozi Muhammad;

2) Repo Confirmation Ref. No. 002/RC/FI/Nov/14, tanggal 12 November

2014 untuk saham FRN GARUDA dengan nilai pokok (principal) ditambah bunga (interest) total sebesar Rp.6.060.500.000,00 (enam milyar enam puluh juta lima ratus ribu rupiah), tanggal penyelesaian/pengambilan (ending settlement date), 15 Desember 2014 atas nama Azmi Ghozi Harharah;

3) Repo Confirmation Ref. No. 003/RC/FI/Nov/14, tanggal 24 November 2014 untuk saham BRI INDO dengan nilai pokok (principal) ditambah bunga (interest) total sebesar Rp.5.050.416.667,00 (lima milyar lima puluh juta empat ratus enam belas ribu enam ratus enam puluh tujuh rupiah), tanggal penyelesaian/pengambilan (ending settlement date), 29 Desember 2014 atas nama Azmi Ghozi Harharah;

4) Repo Confirmation Ref. No. 001/RC/FI/Des/14, tanggal 02 Desember

2014 untuk saham FRN GARUDA dengan nilai pokok (principal) ditambah bunga (interest) total sebesar Rp.8.080.666.667,00 (delapan milyar delapan puluh juta enam ratus enam puluh enam ribu enam ratus enam puluh tujuh rupiah), tanggal penyelesaian/pengambilan (ending settlement date), 05 Januari 2015 atas nama Azmi Ghozi Harharah;

2. Bahwa pada tanggal 29 Desember 2014 telah disepakati antara termohon dan pemohon bahwa termohon sanggup untuk menyelesaikan dan atau mengembalikan/membeli kembali saham-saham a quo paling lambat 2 (dua) minggu sejak tanggal 29 Desember 2014;

3. Bahwa para pemohon telah melakukan teguran/peringatan-peringatan yaitu: a. Pesan media elektronik (email) pada tanggal 29 Desember s.d. 30

Desember 2014;

b. Surat No. 10/Somasi/KH-DAM/III/2015 pada tanggal 10 Maret 2015; 4. Bahwa hingga permohonan pailit a quo diajukan, PT. AAA Sekuritas tidak

5. Bahwa dengan demikian, para pemohon telah dapat membuktikan secara sederhana bahwa termohon memiliki utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih serta mempunyai kreditor lebih dari satu yaitu para pemohon (dua orang/kreditor);

Menimbang, bahwa para pemohon untuk membuktikan dalil-dalil permohonannya mengajukan surat bukti yang diberi tanda P-1 sampai dengan P-7 bermaterai cukup;

Menimbang, bahwa para pemohon dalam perkara a quo tidak mengajukan kreditor lain;

Menimbang, bahwa atas dalil-dalil permohonan para pemohon, termohon tidak mengajukan jawaban serta bukti dan tidak menggunakan haknya untuk mempertahankan haknya di muka persidangan;

Menimbang, bahwa untuk menyatakan termohon pailit harus dipenuhi ketentuan Pasal 2 ayat (1) UUK dan PKPU yang pada pokoknya menyatakan “debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan yang tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya”.

Menimbang, bahwa dalam permohonan pailit, unsur-unsur Pasal 2 ayat (1) UUK dan PKPU yang harus dibuktikan adalah:

a. Debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor; b. Tidak membayar lunas sedikitnya satu utang; c. Yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih;

d. Dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya;

Pemohon pailit:

Menimbang, bahwa selanjutnya akan dipertimbangkan apakah benar secara hukum para pemohon adalah sebagai pihak kreditor yang berhak mengajukan pailit, dan termohon adalah debitor yang mempunyai hubungan hukum dengan pemohon sehingga dapat dimintakan pailit;

Menimbang, bahwa pengertian kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan (Pasal 1 ayat (2) UUK dan PKPU). Debitor adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau undang-undang yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan (Pasal 1 ayat (3) UUK dan PKPU). Dengan mengacu pada ketentuan tersebut, permohonan pailit dapat dimintakan baik oleh debitor sendiri maupun kreditor. Permohonan pailit harus diajukan oleh seorang advokat (Pasal 7 ayat (1) UUK dan PKPU);

Menimbang, bahwa para pemohon ada hubungan hukum dengan termohon, yaitu termohon telah melakukan transaksi Repo (Repurchasement Agreement) dan apa yang menjadi kewajiban para pemohon memberi atau menyetorkan kepada termohon dana-dana sebesar Rp.24.000.000.000,00 (dua puluh empat milyar rupiah) untuk membeli saham-saham pada BRI INDO dan FRN GARUDA, dan ada tagihan yang belum dibayar oleh termohon, maka dengan demikian para pemohon adalah sebagai pihak kreditor dan termohon adalah sebagai pihak debitor sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2)

dan (3) UUK dan PKPU, dan tidak terhalang oleh ketentuan Pasal 2 ayat (2), (3), dan (4) UUK dan PKPU, serta permohonan pailit dalam perkara ini juga diajukan oleh seorang advokat, maka dengan fakta tersebut di atas, syarat formil dalam permohonan pernyataan pailit dalam perkara ini tentang kreditor dan debitor adalah sah dan diajukan secara benar sesuai UUK dan PKPU;

Debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor:

Menimbang, bahwa para pemohon yang masih mempunyai tagihan kepada termohon (bukti P-1 sampai dengan P-6) sebesar Rp.24.000.000.000,00 (dua puluh empat milyar rupiah), maka berdasarkan bukti tersebut, adanya dua atau lebih kreditor telah terpenuhi;

Tidak membayar lunas sedikitnya satu utang:

Menimbang, bahwa selanjutnya akan dipertimbangkan apakah benar secara hukum bahwa debitor mempunyai utang kepada kreditor dan utang tersebut belum/tidak dibayar lunas oleh debitor;

Menimbang, bahwa dalam UUK dan PKPU tidak dijelaskan berapa jumlah utang minimal yang harus ada sehingga dapat diajukan permohonan pernyataan pailit. Dalam UUK dan PKPU hanya dijelaskan utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang, baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari atau kontijen, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitor (Pasal 1 ayat (6) UUK dan PKPU);

Menimbang, bahwa para pemohon telah melakukan transaksi Repo (Repurchasement Agreement), dan apa yang menjadi kewajiban para pemohon memberi/menyetorkan kepada termohon dana-dana sebesar Rp.24.000.000.000,00 (dua puluh empat milyar rupiah) untuk membeli saham-saham pada BRI INDO dan FRN GARUDA dengan jumlah tagihan yang belum dibayar sebesar Rp.24.000.000.000,00 (dua puluh empat milyar rupiah);

Menimbang, bahwa tagihan dari para pemohon tersebut secara hukum adalah utang atau kewajiban termohon yang harus dibayar, dan terbukti utang tersebut tidak dibayar oleh termohon;

Telah jatuh waktu dan dapat ditagih:

Menimbang, bahwa para pemohon telah menagih utang tersebut kepada termohon dengan mengirimkan pesan media elektronik (email) pada tanggal 29 Desember 2014 s.d. 30 Desember 2014 dan surat No. 10/Somasi/KH-DAM/III/2015 pada tanggal 10 Maret 2015, telah menagih utang tersebut kepada termohon berkali-kali dengan cara musyawarah, akan tetapi utang termohon kepada para pemohon tetap belum dibayar sampai dengan sekarang;

Menimbang, bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, maka semua unsur dalam ketentuan Pasal 2 ayat (1) UUK dan PKPU telah terpenuhi;

Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 8 ayat (4) UUK dan PKPU, permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 2 ayat (1) UUK dan PKPU telah terpenuhi;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka permohonan para pemohon beralasan sehingga harus dikabulkan dan karenanya termohon harus dinyatakan dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya;

Menimbang, bahwa oleh karena termohon dinyatakan pailit, maka harus ditunjuk Hakim Pengawas dari Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan kurator yang namanya akan ditentukan dalam amar putusan ini;

Menimbang, bahwa para pemohon dalam permohonannya telah memohon untuk kepentingan pemberesan harta pailit diperlukan kurator dan mengusulkan agar saudara Darwin Marpaung, S.H., M.H., berkantor/beralamat pada MAAS Law Offices, di Jalan Hidup Baru Raya No. 27 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No. C.AHU.AH.04.03.25 tanggal 22 Februari 2011, untuk diangkat sebagai kurator dalam perkara a quo;

Menimbang, bahwa Majelis Hakim berpendapat oleh karena permohonan pailit dari para pemohon dikabulkan, maka untuk pemberesan harta pailit wajib ditunjuk seorang kurator, dan untuk Majelis Hakim akan menunjuk saudara Darwin Marpaung, S.H., M.H., berkantor/beralamat pada MAAS Law Offices, di Jalan Hidup Baru Raya No. 27 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No. C.AHU.AH.04.03.25 tanggal 22 Februari 2011 sebagai kurator untuk melakukan pemberesan harta pailit dalam a quo, dan sepanjang persidangan Majelis Hakim tidak menemukan adanya benturan kepentingan, baik dengan pihak pemohon maupun termohon;

Menimbang, bahwa mengenai imbalan jasa bagi kurator dan biaya kepailitan akan ditetapkan kemudian setelah kurator menyelesaikan/menjalankan tugas-tugasnya dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No. 01 tahun 2013 tentang Pedoman Imbalan bagi Kurator dan Pengurus, setelah kurator yang bersangkutan menjalankan tugasnya selaku kurator dalam perkara permohonan pernyataan pailit ini;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan para pemohon telah dikabulkan, maka menurut hukum biaya yang timbul dalam permohonan ini wajib dibebankan kepada termohon yang besarnya tersebut dalam amar putusan ini;

Mengingat, Pasal 2 ayat (1), Pasal 8 ayat (4) UUK dan PKPU, serta pasal-pasal dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan perkara ini;

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangandalam Putusan Pailit Nomor 08/Pdt.Sus.Pailit/2015/PN.Niaga.Jkt.Pst tersebut di atas, maka Majelis Hakim memutuskan dalam amar putusannya yaitu:

1. Mengabulkan permohonan pernyataan pailit para pemohon untuk seluruhnya; 2. Menyatakan termohon PT. Andalan Artha Advisindo Sekuritas (PT. AAA

Sekuritas), beralamat di Jalan Mega Kuningan Barat Kav.F.4.3 No. 1, Kawasan Mega Kuningan, 12950, Jakarta, kini beralamat di Jalan Prof. Soepomo, Ruko Crown Palace Blok. AA No. 15C, Tebet, Jakarta Selatan, berada dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya;

3. Menunjuk dan mengangkat Saudara Syaiful Arif, S.H., M.H., Hakim Niaga pada Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat sebagai Hakim Pengawas;

4. Mengangkat saudara Darwin Marpaung, S.H., M.H., beralamat di MAAS Law Offices, Jalan Hidup Baru Raya No. 27, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan sebagai kurator dalam perkara kepailitan ini;

5. Menetapkan imbalan jasa kurator akan ditetapkan kemudian setelah kurator menjalankan tugasnya;

6. Menghukum termohon untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini yang hingga kini diperhitungkan sebesar Rp.626.000,00 (enam ratus dua puluh enam ribu rupiah).

Dokumen terkait