G. Tahap-Tahap Penelitian
2) Pertimbangan Majelis Hakim Dalam Menetapkan Perkara Nomor:
0081/Pdt.P/2015/PA.Jr.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan di lapangan (lokasi penelitian), maka dapat digambarkan bahwa yang menjadi pertimbangan utama dalam menetapkan perkara ini dengan tanpa adanya pencabutan terlebih dahulu kepada orang tua si DINAR adalah, karena majelis hakim, lebih cenderung berpegang teguh terhadap kaidah ushul fiqh yang berbunyi “Dar’ul mafaasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih”, mencegah kemadorotan itu lebih diutamakan dari pada mendatangkan kemaslahatan. Dalam hal ini ketika perwalian terhadap DINAR tidak segera ditetapkan, tentu hal ini akan mengabaikan terhadap hak-hak
yang dimiliki si DINAR. Oleh karena itu majelis hakim langsung menetapkan atau melimpahkan perwalian tersebut kepada kerabat terdekatnya, dalam hal ini adalah kakeknya, dengan tanpa adanya pencabutan terlebih dahulu.
Hal penting yang perlu untuk digaris bawahi dari beberapa pertimbangan- pertimbangan yang telah diambil oleh majelis hakim dalam memutuskan atau menetapkan perkara ini adalah, tentang pertimbangan utama yang tealah digunakan oleh majelis hakim, yaitu mejelis hakim lebih berpegang teguh pada kaidah usul fiqh “Dar’ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih” sebagai upaya untuk menghindarkan pada kondisi buruk yang akan terjadi terhadapap kepentingan atau hak-hak yang dimiliki oleh anak tersebut, ketika perwalian ini tidak segera ditetapkan. Pertimbangan ini lebih diutamakan dari pada ketentuan materiil yang ada didalam Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, yang idealnya mengharuskan adanya pencabutan terhadap hak perwalian yang dimiliki oleh orang tua si DINAR, sebelum hak perwalian tersebut dilimpahkan kepada kakeknya.
Dalam perkara ini telah terbukti bahwa bapak dari si DINAR, telah meninggalkan DINAR sejak ia masih berusia satu tahun, dan bapaknya tersebut telah melalaikan akan tanggung jawabnya sebagai orang tua untuk mengasuh, merawat dan mendidik anaknya. Berdasarkan ketentuan pasal 49 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, maka hak kekuasaan atau perwalian yang dimiliki oleh bapaknya terhadap DINAR akan dicabut, dan selama belum dicabut, maka DINAR masih berada dibawah kekuasaan bapaknya tersebut. Sedangkan ketentuan yang ada didalam Hukum Islam ketika orang tuanya tidak ada atau
mafqud, maka perwaliannya secara otomatis akan bepindah kepada kerabat terdekatnya. Demi mewujudkan hasil keputusan atau ketetapan yang akan memberikan maslahat bagi kepentingan si anak, maka majelis hakim lebih mempertimbangkan akan asas kemaslahatan yang terdapat dalam kaidah shul fiqih “Darul mafaasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih”.Sehingga dengan demikian apa yang menjadi hak-hak yang dimiliki oleh anak tersebut bisa segera terpenuhi. Pertimbangan dengan menggunakan asas kemaslahatan ini adalah dalam rangka untuk menghasilkan putusan yang sesuai dengan tiga asas pokok yang harus dipeerhatikan oleh majelis hakim dalm menentukan sebuah putusan, yaitu asas, kepastian hukum, asas keadilan dan asas manfaat atupun maslahat.
3) Dasar Hukum Yang Digunakan Majelis Hakim Dalam Menetapkan Perkara Nomor: 0081/Pdt.P/2015/PA.Jr.
Setelah peneliti melakukan penelitian di lapangan (lokasi penelitian), perihalmengenai dasar hukum yang digunakan oleh majelis hakim dalam menetapkan perkara pelimpahan perwalian anak dibawah umur kepada kakek ini, maka peneliti mendapatkan kejelasan bahwa majelis hakim telah menggunakan pasal 50 dan pasal 51 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, sebagai dasar hukum yang dikombinasikan dengan kaidah ushul fiqh “Dar’ul mafaasid muqoddamun ‘alaa jalbil masolih”.
Dalam perkara tersebut, pemohon (SOETO) mengajukan permohonan kepada Pengadilan Agama Jember, agar bisa ditetapkan sebagai wali dari cucunya yaitu DINAR. Dalam hal ini pemohon mengajukan permohonan tersebut karena DINAR tidak memiliki orang tua, ibunya telah menigal dunia sedangkan
bapaknya telah pergi meninggalkannya, sejak ia masih berusia 1 tahun, dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Jelas bapaknya tersebut telah melalaikan akan tanggungjawabnya sebagai orang terhadapnya anaknya, yang seharusnya merawat, mendidik dan membesarkannya. Sehingga seharusnya bapaknya tersebut berdasarkan Pasal 47 jo Pasal 49 jo Pasal 53 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, kekuasaan perwaliannya itu dicabut dan kemudian dilimpahkan kepada kerabat terdekatnya (dalam hal ini adalah kakeknya).
Dalam mengambil sebuah keputusan, tentunya majelis hakim akan mengadakan musyawarah terlebih dahulu, selanjutnya melihat kepada acuan hukum yang telah ada, setelah mengadakan musyawarah tersebut, ternyata majelis hakim menyepakati bahwa dasar hukum yang digunakan adalah Pasal 50 dan Pasal 51 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, yang mana didalam Pasal tersebut dijelaskan bahwa yang pertama: anak yang masih belum berusia 18 tahun dan belum pernah melakukan perkawinan, maka dia harus berada dibawah kekuasaan orang tuanya, ataupun jika orang tuanya tidak ada, maka dia harus berada berada dibawah kekuasaan seorang wali yang lain, karena secara hukum, anak tersebut masih disebut sebagai seseorang yang belum cakap hukum atau belum mampu bertindak hukum sendiri. Yang kedua dalam pasal tersebut telah dijelaskan tentang syarat-syarat terjadinyanya perwalian atau syarat-syarat seseorang untuk bisa dijadikan sebagai seorang wali.
Dalam hal ini majelis hakim telah mempertimbangkan bahwa, idealnya dalam perkara ini memang seharusnya adanya pencabutan terlebih dahulu terhadap bapak dari si DINAR, lalu kemudian perwaliannya tersebut akan
dilimpahkan kepada kakeknya sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Pasal 47 Jo Pasal49 Jo Pasal 53, aka tetapi majelis hakim tidak menggunakan Pasal-Pasal tersebut karena majelis hakim lebih mempertimbangkan akan kemaslahatan dan dan kepentingan si DINAR, dengan melandasknnya pada kaidah ushul fiqih
“dar’ul mafaasid muuqoddamun ‘alaa jalbil masholih”.yang mana dalam hal ini ia sangat membutuhkan ketetapan perwalian sebagai syarat untuk mendapatkan hak-haknya mendapatkan santunan kematian dari almarhumah ibunya, dan jika perwaliannya tidak segera ditetapkan tentu hak-hak yang berkaitan dengan dirinya akan terabaikan. Sehingga dengan pertimbangan bahwaberdasarkan fakta dipersidangan,kakek dari si DINAR telah memenuhi syarat dan layak untuk dijadikan sebagai seorang wali, dan juga dengan pertimbangan demi kemaslahatan dan kepentingan si DINAR yang membutuhkan untuksegera ditetapkan perwaliannya, maka akhirnya majelis hakim langsung melimpahkan perwaliannya tersebut kepada kakeknya, dengan tanpa adanya pencabutan terlebih dahulu kepada bapak dari si DINAR.Dalam menentukan putusan atau penetapan ini majelis hakim sudah lah tepat karena selain menggunakan dasar haukum yang ada dalam ketentuan undang-undang majelis hakim juga boleh menggunakan ketentuan yang dalam ilmu pengetahuan lain yang relevan dengan perkara tersebut, yakni majelis hakim mengunakan ketentuan yang ada dalam ushul fikih, tentang asas kemaslahatan “dar’ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih”
dalam rangka untuk menhasilkan putusan yang sesuai dengan tiga asas pokok yang harus diperhatikan oleh majelis hakim dalam menentukan sebuah ptusan yakni asas kepastian hukum, asas keadilan dan juga asas kemanfaatan (manfaat).
Setelah Peneliti mengetahui dan memahami akan pertimbangan-pertimbangan yang digunakan oleh majelis hakim dalam menetapkan perkara tersebut, maka Peneliti setuju dengan penetapan Pengadilan Agama Jember yang telah menetepakan perkara tersebut, dengan melimpahkan hak perwalian yang dimiliki oleh bapak dari si DINAR kepada kakeknya, dengan tanpa adanya pencabutan terlebih dahulu. Terlebih karena majelis hakim dalam memutuskan atau menetapkan perkara tersebut, majelis hakim tidak hanya berpacu pada acuan yang ada dalam unda-undang saja, akan tetapi majelis hakim juga menggunakan asas kemaslahatan atau kemanfaatan dalam rangka memperhatikan kemaslahatan putusan tersbut bagi kemaslahatan si anak.