• Tidak ada hasil yang ditemukan

PertimbanganMajelis Hakim Dalam Menetapkan Perkara Nomor:

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. (Halaman 67-77)

G. Tahap-Tahap Penelitian

2) PertimbanganMajelis Hakim Dalam Menetapkan Perkara Nomor:

anak dan juga istrinya, dia telah melalaikan tanggung jawabnya sebagai bapak yang memiliki kewajiban memberikan nafkah terhadap istri dan juga anaknya, terutama bagi si DINAR yang masih kecil, yang masih membutuhkan kasih sayang, biyaya hidup, biyaya pendidikan, biyaya kesehatan dan lain sebagainya.

Jika dilihat dari ketentuan Perundang-Undangan yang ada, Khususnya Pada Pasal 49 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, maka kekuasan perwalian yang dimiliki SUPRAPTO bisa dicabut dan kemudian di alihkan kepada kerabat terdekatnya. Namun Untuk mewujudkan putusan yang adil dan bijaksana, dalam memutuskan perkara perwalian ini tentu majelis hakim tidak harus ansih berpegang teguh terhadap Undang-Undang yang ada akan tetapi majelis hakim juga harus berpegang teguh kepada hukum islam yang berlaku bagi masyarakat Indonesia. Yang mana didalam huukum islam ketika wali utama yakni bapak tidak ada maka secara otomatis kakek yang akan berperan menggantikan posisi wali dari anak tersebut secara langsung dengan tanpa adanya pencabutan terlebih dahulu, hal dikarenakan didalam hukum islam perwalian anak dibawah umur itu sama-sama termasuk dalam katagori perwalian dalam sebuah pernikahan, yang membedakan darikeduanya adalah dari segi penguasaannya, dimana perwalian terhadap anak dibawah umur itu penguasaan perwalian dari segi jiwa dan hartanya sedangkan perwalian dalam nikah (wali nikah) hanya terhad jiwanya saja.16

Adapun yang menjadi pertimbangan majelis hakim dalam menetapkan perkara pelimpahan perwalian ini dengan tanpa adanya pencabutan terhadap bapak si DINAR dikarenakan majelis hakim memiliki beberapa pertimbangan sebagi berikut:

a. Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa permohonan perkara yang diajukan oleh Pak SOETO sebagi pemohon adalah termasuk katagori bidang perkawinan orang-orang Islam dan sesuai dengan pasal 49 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 Jo. Pasal 49 Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, terakhir dirubah dengan Undang-Undang Nomor 50 tahun 2009 yang merupakan kompetensi Pengadilan Agama dan sesuai dengan tempat kediaman pak SOETO adalah menjadi komptensi Pengadilan Agama Jember dan Juga Pemohon tersebut telah mengajukan permohonan sesuai dengan ketentuan Perundang-undangan yang berlaku.

b. Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa berdasarkan dengan adanya surat-surat bukti dan juga keterangan para saksi, telah terbukti adanya fakta-fakta sebagai berikut:

- Bahwa, Pemohon adalah ayah kandung dari almarhumah SUNTI DWI ARYANTI.

- Bahwa, almarhumah SUNTI DWI ARYANTI mempunyai suami yang bernama SUPRAPTO, namun SUPRAPTO sejak tahun 2008 telah mengihilang dan tidak pernah pulang serta tidak diketahui alamatnya sampai sekarang.

- Bahwa, SUPRAPTO dan almarhumah SUNTI DWI ARYANTI selama menikah telah dikarunia seorang anak,yaitu DINAR ALVIANTI yang lahir pada tanggal 23 oktober 2007.

- Bahwa, setelah kematian SUNTI DWI ARYANTI, anak yang bernama DINAR ALVINATI dirawat dan diasuh oleh kakeknya yakni SOETO dan juga neneknya yakni ARBASAH.

- Bahwa, pemohon adalah seseorang yang berprilaku baik, berfikiran sehat dan tidak melakukan perbuatan tercela, jujur, adil dan tidak boros.

- Bahwa, permohonan ini dimaksudkan untuk mengurus santunan dari JAMSOSTEK atas nama SUNTI DWI ARYANTI yang semasa hidupnya bekerja sebagai Karyawan Bobbin PT. Perkebunan Nusantara X (Persero).

c. Berdasarkan fakta yang ada, Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa oleh karena sejak meninggalnya SUNTI DWI ARYANTI, maka suami, anak dan juga kedua almarhumah SUNTI DWI ARYANTI menjadi ahli waris yang sah dari almarhumah SUNTI DWI ARYANTI.

d. Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa karena anak yang bernama DINAR ALVIANTI yang lahir pada tanggal 23 oktober 2007 masih dibawah umur, sedangkan ayahnya yang bernama SUPRAPTO sejak tahun 2008 telah pergi dan tidak pernah pulang serta tidak diketahui alamatnya, maka sejak kematian SUNTI DWI ARYANTI berada dalam pemeliharaan dan asuhan Pemohon hingga sekarang dan terbukti Pemohon sebagai seorang yang mampu dan sanggup untuk menjadi Wali serta tidak ada keberatan dari pihak manapun, maka pemohon telah memenuhi syarat-syarat untuk menjadi

seorang wali sebagaimana yang diamantkan pasal 50 dan 51 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.

e. Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa karena perkara ini termasuk bidang perkawinan, maka berdasarkan pasal 89 Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, terakhir dirubah dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 semua biaya yang timbul dalam perkara ini dibebanka pada pemohon.

Selain dengan mempertimbangkan tentang adanya data dan juga fakta yang ada dalam persidangan, serta ketentuan yang ada di dalam peraturan perundang-Undang yang belaku di Indonesia, dalam mempertimbangkan perkara pelimpahan perwalian anak dibawah umur ini, Majelis hakim juga mempertimbangkan akan langkah-langkah atau solusi terbaik untuk memutuskan perkara ini, agar nantinya keputusan yang diambil oleh majelis hakim dalam menetapkan perkara pelimpahan perwalian ini, akan menghasilkan putusan yang adil dan juga bijaksana, terutama bagi kepentingan dan kemaslahatan si anak.

Demi untuk mewujudkan keputusan yang seadil-adlinya dan juga bijaksana, Selain majelis hakim mempertimbangkan dengan pertimbangan-pertimbangan yang telah disebutkan dalam isi salinan putusan atau penetapan, Majelis hukum juga menggunakan salah satu kaidah usul fiqh yang berbunyi:

“Dar’ul mafaasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih”, menolak atau menghilangkan kemafsadatan (kerusakan) itu lebih diutamakan dari pada

mendatangkan kemaslahatan (kebaikan), hal ini telah di ungkapkan oleh Bapak Khamimudin selaku hakim ketua, beliau menuturkan bahwa:

Majelis Hakim dalam mempertimbangkan perkara ini tentu telah mempertimbangkan dengan menggunakan pertimbangan yang matang. Yang menjadi pertimbangan yang sangat kuat selain dengan pertimbangan-pertimbangan yang termuat dalam isi salinan keputusan atau penetapan dalam perkara ini, majelis hakim juga lebih memprtimangkan akan kepentingan dan kemaslahatan hidup si Anak, dengan menggunakan kaidah usul fiqh “Dar’ul mafaasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih”, menolak atau menghilangkan kemafsadatan (kerusakan) itu lebih diutamakan dari pada mendatangkan kemaslahatan (kebaikan). karena kepentingan si anak ini menghendaki untuk segera mendapatkan atau memiliki ketetapan seorang wali, dan jika tidak segera ditetapkan akan mengabaikan kepentingannya hak-hak dari anak terebut, Jadi dengan tujuan untuk menolak kemadlorotan dan mewujudkan kemaslahatan tersebut, maka majelis hakim langsung mentapkan perwalian anak tersebut kepada kakeknya,dengan tanpa mencabut perwalian dari bapaknya terlebih dahulu.17

Dalam hal ini, si DINAR setelah meninggalnya almarhumah ibunya, dia tidak memiliki orang tua sebagai wali yang akan bertanggung jawab terhadap segala hal yang berkaitan dengan kehidupan di DINAR, baik yang berkaitan dengan jiwa ataupun hartanya. Ibu dari DINAR semasa hidupnya adalah seorang karyawan di yang bekerja salah satu perusahaan yaitu PT. Perkebunan Nusantara X. Setelah ibunya meninggal dinar memiliki hak, untuk mendapatkan santunan kematian dari JAMSOSTEK, karena si DINAR masih dibawah umur, yang mana secara hukum dia belum cakap atau belum mampu bertindak hukum sendiri, maka santunan kematian tersebut harus diserahkan kepada seorang wali, yang akan bertanggung jawab untuk mengelola harta atau santunan tersebut, agar digunakan

17Wawancara dengan Bapak Khamimuddin, Selaku Hakim Ketua (10-06-2015).

dengan sebaik-baiknya. Kepentingan si DINAR memang membutuhkan peran seorang wali, bukan hanya kebutuhan untuk memenuhi persyaratan untuk mendapatkan santunan JAMSOSTEK belaka, tapi kebutuhan untuk mendapatkan sosok orang tua yang akan merawat, melindungi dan menjaganya hingga kelak ia dewasa. Oleh karena itu ketika DINAR telah memiliki seorang wali yang akan bertanggung jawab atasnya, maka tentu hal ini akan sangat bermanfaat bagi kepentingan dan kemaslahatan kehidupan si DINAR. Terutama untuk masa depannya kelak. Dalam hal ini pertimbangan yang diambil oleh majelis hakim sudahlah tepat, dimana majelis hakim dalam mempertimbangkan perkara ini selain mempertimbangkan dasar-dasar hukum dan fakta-fakta hukum yang terungkap dalam persidangan majelis hakim juga mempertimbangkan akan manfaat dari putusan yang lebih mempertimbangkan akan kemaslahatan dari hasil putusan tersebut. Dalam hal ini sudah sesuai bahwasanya Dalam setiap putusan yang akan dijatuhkan oleh hakim itu selain majelis hakim harus berlandaskan pada dasar hukum yang ada dalam aturan perundang-undangan majelis hakim juga harus mempertimbangkan akan tiga hal yang tidak boleh di lupakan yaitu asas kepastian hukum (rechtischherheit), asas keadilan (gerechtigheit), dan asas manfaat (zwechmasigheit).18

3) Dasar Hukum Yang Digunakan Majelis Hakim Dalam Menetapkan Perkara Nomor: 0081/Pdt.P/2015/PA.Jr

Di dalam pasal 47 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dijelaskan bahwa Seorang anak yang masih belum berusia 18 tahun atau belum

18Manan, 130.

pernah melangsungkan perkawainan maka dia berada dibawah kekuasaan atau perwalian orang tuanya, selama orang tua tersebut belum dicabut dari kekusaannya. Dalam perkara ini DINAR adalah seorang anak yang masih berusia 8 tahun (dibawah umur) dan belum pernah melangsungkan perkawinan, setelah ibunya telah meninggal dunia, DINAR hanya memiliki seorang wali yaitu bapaknya, akan tetapi bapak si DINAR telah pergi meninggalkan si DINAR dan tidak pernah memberikan kabar sama sekali semenjak DINAR berusia 1 tahun, bapaknya tidak pernah memberikan nafkah, merawat ataupun mendidik DINAR, bapaknya telah melalaikan tanggung jawabnya sebagai orang tua terhadap anaknya. Jika kita perhatikan terhadap pasal 49 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 disitu dijelaskan bahwa, jika orang tua ataupun telah melalaikan akan tangung jawabnya sebagai seorang wali ataupun dia telah berkelakuan buruk sekali, maka kekuasaannya sebagai orang tua dapat dicabut atas permintaan orang tua yang lain. Setelah kekuasaan orang tuanya dicabut maka kemudian pengadilan akan melimpahkan perwalian tersebut kepada orang lain untuk menjadi seorang wali atas anak tersebut, hal ini sesuai dengan ketentuan yang ada dalam pasal 53 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang menjelaskan bahwa,dalam hal kekuasaan seorang wali telah dicabut maka kemudian pengadilan akan menunjuk orang lain sebagai wali.

Terkait dengan dasar hukum yang digunakan oleh majelis hakim dalam memutuskan atau menetapkan perkara ini, Bapak Khamimudin selaku ketua majelis telah menuturkan sebagai berikut:

Dasar hukum yang kami gunakan dalam menetapkan perkara ini adalah pasal 50 dan pasal 51 Undang-Undang No 1 Tahun 1974, yang mana dalam pasal tersebut dijelaskan mengenai syarat-syarat dan aturan perwalian, kami menggunakan pasal tersebut karena menurut kami, pemohon telah memenuhi ketentuan dan persyaratan untuk menjadi seorang wali, dia jujur, adil dan tidak boros, dan bukan hanya itu, selain pasal 50 dan pasal 51, kami juga menggunakan kaidah ushul fiqh “Dar’ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih”

menghindarkan kemadorotan itu lebih diutamakan dari pada mendatangkan kemaslahatn. Kepentingan anak itu sangat menghendaki untuk segera ditetapkan perwaliannya, dan jika perwaliannya itu tidak segera ditetapkan, maka hak-hak yang dimiliki oleh anak tersebut akan terabaikan, sehingga demi kemaslahatan dan kepentingan anak tersebut majelis hakim langsung menetapkan perwaliannya, dengan tanpa adanya pencabutan terlebih dahulu, idealnya memang berdasarkan pasal 47, 49 dan juga pasal 53 itu harus ada pencabutan.19

Didalam ketentuan yang ada di dalam pasal 47 Jo pasal 49 Jo pasal 53 telah dijelaskan bahwa, seharusnya dalam perkara ini idealnya adalah ada pencabutan terlebih dahulu, lalu kemudian majelis hakim melimpahkan perwalian tersebut kepada orang tua yang lain (kepada kakek), akan tetapi Majelis hakim tidak melakukan pencabutan terlebih dahulu kepada orang tua DINAR, karena majelis hakim lebih memperhatikan terhadap kemaslahatan si anak. Dalam hal ini dasar hukum yang digunakan oleh majelis hakim adalah pasal 50 dan pasal 51 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang dikombinasikan dengan kaidah ushul fiqh “Dar’ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih”. Di dalam pasal tersebut dijelaskan mengenai persyaratan dan aturan perwalian, karena pak SOETO telah memenuhi syarat untuk menjadi seorang wali dan si DINAR sangat membutuhkan ketetapan seorang wali, untuk mendapatkan hak-hak yang dimilikinya, maka demi untuk mewujudkan keputusan yang adil dan bijaksana, serta demi

19Wawancara dengan bapak khamimudin, Selaku Hakim Ketua (10-06-2015).

kemaslahatan si DINAR, maka majelis hakim langsung melimpahkan hak perwalian yang dimiliki bapak si DINAR kepada kakeknya dengan tanpa mencabut hak perwalianya. Dasar hukum yang digunakan oleh majelis hakim ini adalah sudah sesuai dengan ketentuan yang ada, diamana ketentuan yang bisa digunakan sebagai dasar hukum ataupun pertimbangan majelis hakim adalah Kitab perundang-undangan sebagai sumber yang tertulis, kepala adat dan penasehat agama (hukum adat), yurisprudensi dan juga tulisan-tulisan ilmiah para pakar hukum, dan buku-buku ilmu pengetahuan lain yang ada sangkut pautnya dengan perkara yang sedang diperiksa.20Dalam hal ini dasar hukum yang digunakan mejelis hakim sudah mencantumkan dasar hukum berupa pasal-pasal yang ada didalam sebuah aturan perundang-undangan yakni Pasal 50 dan Pasal 51 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, selain itu majelis dalam rangka menghasilkan putusan yang memiliki kepastian hukum, adil serta manfat majelis hakim juga menggunakan sumber pengetahuan sealain yang ada dalam aturan perundang-undangan yakni kaidah usul fikih “dar’ul mafaasid muqoddamun ‘ala jalbil masolih.

Dalam proses Penyelesaian perkara perwalian ini, perkara ini telah melalui beberapa tahapan proses persidangan yang ada, mulai dari pemeriksaan identitas pwmohon, membacakan isi dari permohonan pemohon, pembukian baik berupa saksi dan juga surat-surat dan yang terakhir adalah pemabacan putusan atau penetapan. Hai ini sesuai dengan keterangan yang deberikan oleh Ibu Phillin Sophia Selaku Panitera, beliau menjelaskan bahwa:

20Manan, 278.

Perkara perwalian anak dibawah umur ini telah disidangkan dengan melalui 4 (empat) kali agenda persidangan, yaitu mulai dari:

pemeriksaan identitas pemohon, pembacaan isi permohonan dari pemohon, pembuktian baik berupa saksi dan juga surat-surat dan yang terakhir adalah pemabacan putusan atau penetapan. Dalam rangkain proses persidangan tersebut saya selaku panitera, saya bertugas membantu majelis hakim dalam mengatur jalannya persidangan, mulai dari sebelum persidangan, awal persidangan sampai dengan akhir persidangan yakni putusan atau penetapan. Tugas saya diantaranya yaitu menyiapkan berkas perkara, menyiapkan surat panggilan, menyiapkan BAP (berita acara persidangan), dan tentunya mencatat segala hal yang penting dari para pihak yang berperkara dan juga parasaksi.21

Sebelum memutuskan atau menetapkan perkara ini majelis hakim telah melakukan proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan merupakan suatu proses untuk untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan cara memilih salah satu dari berbagai alternatif yang ada untuk mencapai tujuanyang telah ditentukan, yaitu menghasilkan suatu keputusan yang baik untuk mengatasi atau menyelesaikan suatu masalah.Dalam proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh majelis hakim, Bapak Ali Suwandi selaku hakim anggota II menuturkan bahwa:

Dalam proses pengambilan keputusan ini, yang kami lakukan adalah sesuai dengan ketentuan yang ada dalam hukum acara perdata yaitu dimulai dengan Pemeriksaan berkas perkara, Pemeriksaan alat bukti, dan juga Masing-masing dalil dari pemohon dipertimbangkan satu persatu. Setelah melalui tahapan tersebutlalu kami melakukan musyawarah, antara hakim ketua, hakim anggota I dan juga hakim anggota II, hal ini kami lakukan untuk bisa menghasilkanataupun mewujudkan keputusan yang seadil-adilnya, yang bisa memberikan kemaslahatan bagi pihak yang berperkara.22

Dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara, hakim terikat dengan hukum acara yang mengatur sejak memeriksa sampai dengan pengambilan sebuah

21Wawancara dengan Ibu Phillin Shopia, Selaku Panitera (13-08-2015)

22Wawancara dengan Bapak Ali suwandi, Selaku Hakim Anggota II (11-06-2015).

keputusan, hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan menjadi pertimbangan hakim dalam memutuskan sebuah perkara. Fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan merupakan bahan utama untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan suatu putusan, sehingga ketelitian, kejelian, dan juga kecerdasan dala mengemukakan atau menemukan fakta suatu kasus, merupakan faktor yang penting dan menentukan terhadap setiap hasil putusan. Untuk memperkuat langkah atau proses pengambilan keputusan tersebut tentu majelis hakim harus melakukan musyawarah dengan para hakim yang satu mejelis. Hal ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh majelis hakim, untuk mewujudkan keadilan yang seadil-adilnya bagi masyarakat.

C. PEMBAHASAN TEMUAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, yang merupakan buah dari hasil dialektika antara teori dan realitas di lapangan (lokasi penelitian), maka disini peneliti akan melakukan pembahasan temuan, dengan menguraikan temuan-temuan yang ada di lapangan (lokasi penelitian), dengan berpijak kepada fokus penelitian dengan kondisi obyektif yang ada di lapangan (lokasi penelitian), yaitu tentang pelimpahan perwalian anak dibawah umur kepada kakek karena bapak mafqud, Analisis penetapan Pengadilan Agama Jember Nomor:

0081/Pdt.P/2015/PA.Jr.

1) Ketentuan Pelimpahan Perwalian Anak Dibawah UmurMenurut Majelis

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. (Halaman 67-77)