• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: PERTIMBANGAN HAKIM SENGKETA PERSAMAAN MEREK

A. Pertimbangan Majelis Hakim Memutus Sengketa Persamaan

Lukisan” Antara PT Kalimantan Steel Melawan PT Indo Metal Tech Products Dan PD Berkat Jaya

Pada Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek berbunyi “permohonan harus ditolak oleh Direktorat

Jenderal apabila merek tersebut:

1. Mempunyai persamaan merek pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek pihak lain yang sudah terdaftar lebih dahulu untuk barang dan/atau jasa sejenisnya;

2. Mempunyai persamaan merek pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenisnya;

3. Mempunyai persamaan merek pada pokoknya atau keseluruhannya dengan indikasi geografis yang sudah dikenal.

Menurut penjelasan Undang-Undang yang dimaksud dengan persamaan pada pokoknya adalah kemiripan yang disebabkan oleh adanya unsur-unsur yang menonjol antara merek yang satu dengan merek yang lain, yang dapat menimbulkan kesan adanya persamaan baik mengenai bentuk, cara penempatan, cara penulisan atau kombinasi antara unsur-unsur ataupun persamaan bunyi ucapan yang terdapat dalam merek-merek tersebut.

Pasal 76 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek menentukan bahwa pemilik merek terdaftar dapat mengajukan

yang mempunyai persamaan merek pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis berupa:

a. Gugatan ganti rugi; dan/atau

b. Penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut.

Disini peneliti mencoba sedikit menjelaskan permasalahan yang terjadi antara kedua belah pihak yang berperkara tersebut. Sesuai dengan Pasal 73 dan Pasal 91 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, PT Kalimantan Steel yang merasa dirugikan atas kemunculan merek yang di produksi oleh PT Indo Metal Tech Products membawa permasalahan ini ke ranah pidana dengan melaporkannya ke kantor polisi setempat di Kalimantan Barat. Tak berhenti disitu PT Kalimantan Steel juga membawa permasalahan ini ke ranah perdata, dengan menggugat PT Indo Metal Tech Products dan PD Berkat Jaya ke Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Tidak membuahkan hasil seperti yang diinginkan pada tingkat pertama, PT Kalimantan Steel melakukan Kasasi kepada Mahkamah Agung.

Sengketa ini lanjut sampai ditahap kasasi karena penggugat/pemohon berpendapat bahwa Pengadilan Judex Facti dirasa kurang tepat dalam memutus perkara antar PT. Kalimantan Steel dengan PT Indo Metal Tech Product dan PD. Berkat Jaya. Yang menjadi pokok perkara disini dimana PT Kalimantan Steel sebagai pemohon/penggugat menggugat ganti rugi kepada tergugat I dan II/termohon I dan II karena memproduksi seng bergelombang yang beredar di Kalimantan Barat atas merek “Roket Emas dan Lukisan” yang memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek milik penggugat/pemohon yaitu merek “Roket dan Lukisan” yang termasuk barang sejenis nya pada kelas 6. Pada saat itu merek “Roket Emas dan Lukisan” belum terdaftar di Dirjen Hak Kekayaan Intelektual. PT Indo Metal Tech Products adalah produsen dari seng bergelombang atas merek “Roket Emas dan Lukisan” disini kedudukan nya sebagai termohon

I/tergugat I, dan PD. Berkat Jaya adalah distributor yang menjual produk milik termohon I/tergugat I di daerah Kalimantan Barat disini kedudukannya sebagai termohon II/tergugat II. Atas permasalahan diatas Majelis Hakim Mahkamah Agung memutus perkara tersebut dengan memperkuat putusan Judex Facti atau Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam putusan yang menyatakan bahwa merek termohon I/tergugat I yaitu “Roket Emas dan Lukisan” tidak memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek pemohon/penggugat yaitu “Roket dan Lukisan”.

Pertimbangan hakim merupakan salah satu aspek paling penting dalam menentukan terwujudnya nilai dari suatu putusan hakim yang mengandung keadilan dan mengandung kepastian hukum, disamping itu juga mengandung manfaat bagi para pihak yang bersangkutan sehingga perimbangan hakim ini harus disikapi dengan teliti baik dan cermat.1

Adapun tahap yang harus dilakukan oleh hakim untuk sampai pada suatu putusan yang berlandaskan pada pertimbangan hakim sebagai berikut; tahap pertama konstatir, hakim mengkonstatir peristiwa hukum yang diajukan oleh para pihak kepadanya dengan melihat, mengakui atau membenarkan telah terjadinya peristiwa yang telah diajukan tersebut. Tahap kedua kualifisir, mengkualifisir berati menilai peristiwa yang dianggap benar-benar terjadi itu termasuk hubungan hukumnya bagi peristiwa yang dikonstatir. Tahap ketiga konstituir, mengkonstituir yaitu menetapkan hukumnya atau memberikan keadilan kepada para pihak yang berperkara.2

Adapun pertimbangan hakim Mahkamah Agung pada sengketa merek Roket dan Lukisan melawan Roket Emas dan lukisan menyatakan bahwa Judex Facti disini Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta

1 Mukti Arto, Praktek Perkara Pada Pengadilan Agama, (Pustakan Pelajar; Yogyakarta, 2004) h.140.

2

https://pa-padang.go.id/tahap-tahap-dalam-membuat-putusan/ diakses pada 07 Oktober 2020 23.29 WIB.

Pusat sudah tepat dan benar serta tidak salah menerapkan hukum, yang mana pada hasil pemeriksaan di persidangan penggugat tidak dapat membuktikan dalil gugatannya karena dari bukti-bukti yang diajukan dalam persidangan berupa surat-surat bertanda P-1 sampai dengan P-12.btidak ada bukti kuat untuk mendukung dalil bahwa merek dagang yang digunakan termohon I/tergugat I memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek dagang milik pemohon/penggugat.

Mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan tingkat kasasi, karena pada tingkat kasasi yang dapat diperiksa berkenaan dengan adanya kesalahan dalam penerapan hukum, terdapat pelanggaran hukum yang terjadi, terdapat kelalaian dalam memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan Undang-undang.

Bahwa adanya perbedaan pendapat (dissenting opinion) dari Hakim Anggota I Gusti Agung Sumanatha, S.H., M.H. dengan alasan benar bahwa tergugat I/termohon I dan tergugat II/termohon II melakukan perbuatan melawan hukum, karena sudah menggunakan dan memperdagangkan merek dagang yang mempunyai persamaan pada pokoknya dengan merek pemohon/penggugat baik secara visual dan pengucapan yang telah terdaftar secara sah di Dirjen Hak Kekayaan Intelektual dalam kelas 6.

Bahwa penggunaan dan penjualan merek dagang tergugat I adalah perbuatan yang beritikad tidak baik, karena dapat membingungkan konsumen bahwa kedua merek tersebut terasosiasi. Namun demikian penggugat/pemohon hanya dapat membuktikan kerugian sebesar Rp.48.000.000.00 (empat puluh delapan juta rupiah). Dengan pemikiran nya diatas menurut Hakim Anggota I Gusti Agung Sumanatha, S.H., M.H. permohonan kasasi dapat dikabulkan dan putusan Judex Facti dapat pula dikabulkan.

Karena adanya perbedaan pendapat (dissenting opinion) maka Majelis Hakim mengadakan musyawarah akan tetapi tidak terjadi mufakat maka menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, Majelis Hakim melakukan voting yaitu pemungutan suara terbanyak.

Bahwa putusan Judex Facti yaitu Pengadilan Niaga pada perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan pemohon kasasi PT Kalimantan Steel tersebut ditolak. Karenanya pemohon kasasi harus dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini.

Point penting dari pertimbangan Majelis Hakim Mahkamah Agung dalam memutus perkara antara PT Kalimantan Steel dengan PT Indo Metal Tech Products yaitu menyatakan bahwa bukti yang dilampirkan oleh pemohon/penggugat tidak dapat membuktikan bahwa merek tergugat I/termohon I memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek pemohon/penggugat. Serta terjadinya dissenting opinion (perbedaan pendapat) oleh Hakim Anggota I yang menyatakan bahwa benar adanya persamaan pada pokoknya merek termohon I/tergugat I dengan merek pemohon/penggugat secara visual maupun pengucapan, pun merek termohon I/tergugat I masuk kedalam merek barang sejenisnya dengan merek pemohon/penggugat pada kelas 6. Hakim Anggota I menyatakan bahwa permohonan pemohon/penggugat dapat dikabulkan dan dapat menuntut ganti rugi tetapi dengan jumlah yang dapat dibuktikan saja, yaitu sebesar Rp.48.000.000.00 seperti yang telah dilampirkan secara detail kerugiannya. Namun diakhir persidangan majelis hakim menggunakan voting dalam memutus perkara karena musyawarah tidak membuahkan mufakat. Dengan putusan akhir yaitu menolak permohonan pemohon.

Menurut Tim Lindsey, cara memutuskan bahwa suatu merek memiliki persamaan merek pada pokoknya yaitu dengan membandingkan kedua merek, selain melihat persamaan dan perbedaan juga juga

memperhatikan ciri-ciri penting dan kesan kemiripan antar keduanya.3 Dalam menentukan sebuah merek mempunyai persamaan pada pokoknya harus melihat betul sesuatu yang menonjol antara merek satu dengan merek lainnya, yang akan menimbulkan merek tersebut memiliki kesan mirip atau sama pada pokok-pokoknya dengan merek lainnya, mulai dari pengucapan suatu merek tersebut, warna yang digunakan maupun lambang yang digunakan merek tersebut. Untuk menentukan sebuah merek mempunyai persamaan pada pokoknya memang jauh lebih sulit dibandingkan menentukan merek yang mempunyai persamaan pada keseluruhannya. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman yang lebih, kecermatan dan ketelitian dalam memeriksa perkara tersebut.

Dalam hal pertimbangan hakim Mahkamah Agung sepakat dengan putusan pengadilan Judex Facti maka peneliti ingin memaparkan pertimbangan hakim pengadilan Judex Facti yang dalam pertimbangannya membandingkan merek “Roket” dengan “Roket Emas” sebagai berikut;

Merek penggugat/pemohon Merek tergugat/termohon 1. Gambar Roket dengan tata

letak ke atas dengan lingkaran dan tata letak kata Roket dibawah gambar Roket nya.

2. Pada gambar roket tidak berwarna.

1. Gambar Roket dengan bentuk lebih kecil dari merek gambar Roket milik penggugat dengan letak miring dan tata letak merek Roket Emas terpisah dari gambar roket.

2. Pada gambar roket berwarna hitam seluruhnya.

3 Tim Lindsey, dkk, Hak Kekayaan Intelektual: Suatu Pengantar, (Bandung: PT Alumni, 2002) h. 140.

3. Terdapat penambahan kata “Emas” yang dipandang berbeda.

Namun pada bab sebelumnya peneliti menjelaskan terkait persamaan bunyi, persamaan arti dan persamaan tampilan. Pada persamaan tampilan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan unsur fonetik, visual dan konseptual dari merek yang bersangkutan. Dalam unsur persamaan secara fonetik didalamnya membagi merek menjadi 2 golongan yaitu unsur kata dan nama orang. Kemudian pada unsur kata tersebut terbagi 2 (dua) lagi yaitu kata tunggal dan kata majemuk. Contoh merek dengan kata majemuk yang memiliki persamaan pada pokoknya sebagai berikut:

Merek “ABC HERBAL” yang dimohonkan untuk sediaan pembersih (NCL3) terdiri dari kata unsur kata “ABC” dan unsur kata “HERBAL”. Kata “HERBAL” dinilai bersifat deskriptif karena mengandung pengertian bahwa produk yang diperdagangkan mengandung unsur herbal yang aman bagi kesehatan. Kata “HERBAL” hanya berfungsi sebagai keterangan unsur merek lainnya, yaitu susunan huruf “ABC”.

Merek “ABC” telah terdaftar atas nama orang lain untuk jenis barang yang sama dengan merek pemohon. Apabila pemohonan merek “ABC HERBAL” didaftar akan mengakibatkan konsumen terkecoh. Konsumen akan mengira bahwa merek “ABC HERBAL” diproduksi oleh produsen yang sama dengan merek terdaftar merek ABC dan menganggap merek lawan merupakan varian dari merek terdaftar. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka merek ABC HERBAL dinilai mempunyai persamaan pada pokoknya dengan merek ABC.4

4 Agung Indriyanto, dan Irnie Mela Yusnita, Aspek Hukum Pendaftaran Merek (Jakarta: Rajawali Pers, 2017) h. 112-114.

Disini kaitannya dengan sengketa ini ialah adanya kesamaan pada pokoknya yang masuk pada merek dengan jenis kata majemuk pada merek “Roket Emas” terhadap merek “Roket” yang telah lebih dulu didaftarkan. Seperti yang telah dipaparkan dsebelumnya maka adanya merek “Roket Emas” yang beredar di Kalimantan Barat akan mengakibatkan konsumen terkecoh dengan mengira bahwa merek “Roket Emas” masuk kedalam varian merek “Roket” yang lebih dulu terdaftar di DJKI. Lebih-lebih tergugat I/termohon I sudah sering mendaftarkan merek dengan berimbuhan “Roket”.

Dalam dalil gugatan pemohon/penggugat menyatakan bahwa telah beberapa kali mendaftarkan merek ber-imbuhan “Roket” untuk jenis barang seng bergelombang dan rata pada kelas 6 dengan itikad baik kepada Dirjen Hak Kekayaan Intelektual, agar merek nya dilindungi sesuai amanat Undang-Undang yang tersedia. Pemohon/penggugat telah sering sekali mendaftarkan merek menggunakan kata “Roket” dan variasinya untuk jenis barang seng bergelombang dan rata pada kelas 6, seperti:

Gambar 4.1: tangkapan layar merek terdaftar di situs DJKI5

2) ROCKET dengan No Pendaftaran IDM000089586

Gambar 4.2: tangkapan layar merek terdaftar di situs DJKI

3) GAJAH ROKET dengan No Pendaftaran IDM000014131

5 https://pdki-indonesia.dgip.go.id/index.php/merek?q=Roket%20&type=1&skip=80 diakses pada 20 Juni 2020, pukul 00.22 WIB.

Gambar 4.3: tangkapan layar merek terdaftar di situs DJKI

4) MOON ROCKET dengan No Pendaftaran IDM000021817

5) ROCKET dengan No Pendaftaran IDM000056102

1

Gambar 4.5: tangkapan layar merek terdaftar di situs DJKI

Disini dapat dilihat bahwasanya dalil pemohon/penggugat terbukti benar memiliki dan mendaftarkan macam-macam merek yang ber-imbuhan “Roket” untuk jenis barang seng bergelombang, rata dan varian lainnya pada kelas 6. Maka dengan munculnya produksi “Roket Emas” didaerah Kalimantan Barat, yang pada waktu itu merek tersebut belum terdaftar di Daftar Umum Merek membuat kekhawatiran untuk pemohon/penggugat karna mempunyai persamaan pada kata “Roket” yang menimbulkan kesan bahwa kedua merek tersebut diproduksi dan dikeluarkan oleh perusahaan yang sama. Sebab lainya yang menjadi kekhawatiran tersebut ialah merek tergugat I/termohon I masuk pada kelas 6 yang juga memproduksi seng bergelombang. Namun pada pembuktian dimuka pengadilan penggugat/pemohon hanya melampirkan sertifikat merek “Roket” saja dan tidak menunjukan sertifikat-sertifikat merek lainnya yang telah di lampirkannya pada dalil gugatan yang seharusnya bisa menjadi alat bukti tambahan untuk penguat bahwa merek-merek yang disebutkan pada dalil gugatan benar adanya telah terdaftar dengan sah.

Pada dissenting opinion (perbedaan pendapat) oleh Hakim Anggota I Gusti Agung Sumanatha, S.H., M.H., menyatakan bahwa merek Roket Emas dan Lukisan milik termohon I/tergugat I melakukan perbuatan melawan hukum karena mempunyai persamaan pada pokoknya dengan merek pemohon/penggugat baik secara visual dan pengucapan, serta merek termohon I/tergugat I masuk kedalam barang sejenisnya yaitu kelas 6. Persamaan secara visual yang telah dibahas oleh peneliti pada bab III,

persamaan visual terbagi menjadi 2 (dua): persamaan visual antara merek kata; dan persamaan visual antara merek viguratif.

Pada bab sebelumnya dijelaskan bahwa seseorang dapat dianggap telah melawan hukum, apabila perbuatan tersebut salah satunya menimbulkan kerugian. Pada perkara ini perbuatan melawan hukum yang dimaksud pada pertimbangan hakim anggota I ialah karena merek tergugat I/termohon I mempunyai persamaan merek pada pokoknya dengan merek penggugat/pemohon baik secara visual maupun pengucapan serta masuk kedalam barang sejenisnya pada kelas 6 dengan merek terdaftar yaitu merek penggugat/pemohon yang melanggar Undang-Undang yang tersedia. Namun perbuatan dikatakan melawan hukum apabila dalam perbuatan tersebut menimbulkan kerugian, lantaran dalam membuktikan adanya kerugian fakta yang terlihat di pengadilan bahwa alat bukti yang diajukan di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat oleh penggugat/pemohon yaitu P.1-P12.b tidak dapat membuktikan bahwasannya telah terjadi kerugian materil pada penggugat/pemohon secara jelas, atas kemunculan produk tergugat I/termohon I di Kalimantan Barat pada waktu itu.

Pemohon/penggugat yang merasa dirugikan atas pelanggaran merek dan menuntut ganti rugi dimuka pengadilan harus dapat menjelaskan secara rinci kerugian yang diderita nya secara jelas dan detail. Dalam menuntut ganti rugi tidak hanya saja menulis besaran angka semau penggugat/pemohon melainkan harus dijabarkan kerugian material dan immaterial yang di derita beserta keterangan yang dapat dimengerti.6

Contoh pada perkara “iStore” melawan “iStore” kerugian materil diperhitungkan sebesar Rp. 524.000.000,00 (lima ratus dua puluh empat juta rupiah), tediri dari:

6 Chandra Gita Dewi, Penyelesaian Sengketa Pelanggaran Merek, (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2019) h. 176.

a) Kerugian atas kehilangan keuntungan penggugat dalam kurun waktu tersebut apabila diperhitungkan adalah sebesar Rp.400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).

b) Bunga yang harus ditambahkan sesuai dengan hukum yang berlaku, yaitu 6% dari total jumlah tahunan sebagaimana dijelaskan diatas, yang terhitung dari total kerugian yang dialami oleh penggugat dari 2010 sampai dengan Februari 2011 sejumlah Rp. 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah) x 6% = Rp. 24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

c) Biaya periklanan dalam website, brosur-brosur, katalog dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2011 untuk mempromosikan nama dan logo “iStore” adalah sejumlah Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Kerugian immaterial sebagai berikut: kerugian atas itikad baik (good will), pencemaran reputasi penggugat sebagai akibat dari penggunaan yang tidak sah atas nama “iStore” yang dilakukan oleh tergugat selama periode 2010 hingga 2011 setidak-tidaknya apabila diperhitungkan dengan nominal yaitu sebesar Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).7

Dengan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penggugat/pemohon tidak dapat membuktikan gugatan nya yaitu gugatan ganti rugi, karena dalam hal gugatan ganti rugi tersebut harus merinci secara jelas kerugian yang diderita seperti contoh diatas. “Prof. Rosa Agustina dalam bukunya “Perbuatan Melawan Hukum” menerangkan bahwa kerugian akibat perbuatan melawan hukum sebagai “scade” saja, sedangkan kerugian akibat wanprestasi oleh pasal 1246 KUHPerdata dinamakan “konsten, scaden en interessen” (biaya, rugi, dan bunga).”8

Masih pada pertimbangan hakim Anggota I terkait dissenting

opinion bahwa penggunaan dan penjualan merek dagang tergugat

7 Chandra Gita Dewi, Penyelesaian Sengketa Pelanggaran Merek, … h. 179.

8 https://m.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4da27259c45b9/di-mana-pengaturan-kerugian-konskuensi-dalam-hukum-indonesia-/ diakses pada 11 Juli 2020 pukul 12.40 WIB.

I/termohon I adalah perbuatan yang beritikad tidak baik, karena dapat membingungkan konsumen bahwa kedua merek tersebut terasosiasi. Namun demikian penggugat/pemohon hanya dapat membuktikan kerugian sebesar Rp.48.000.000.00 (empat puluh delapan juta rupiah). Dengan pemikiran nya diatas menurut Hakim Anggota I Gusti Agung Sumanatha, S.H., M.H. permohonan kasasi dapat dikabulkan dan putusan Judex Facti dapat pula dikabulkan.

Peneliti sependapat dengan pertimbangan hakim Anggota I Gusti Agung Sumanatha, S.H., M.H. yang menyatakan bahwa adanya itikad tidak baik karena dapat membingungkan konsumen bahwa kedua merek tersebut terasosiasi, seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa dalam persamaan asosiasi apabila suatu merek mempunyai persamaan pada pokoknya sudah dianggap sebagai persamaan asosiasi tanpa harus adanya kebingungan pada masyarakat konsumen, namun adanya kebingungan “a

likelihood of confunsion” dimana adanya persamaan merek pada pokoknya

yang menimbulkan kebingungan pada masyarakat secara tidak langsung. Namun dalam hal ganti rugi peneliti menganggap bahwa ganti rugi tidak dapat diadakan karena penggugat/pemohon tidak dapat memberikan rincian kerugian materiil secara rinci dan jelas. Namun terkait kerugian immateriil dapat dipertimbangkan oleh hakim.

Dari semua yang telah dipaparkan diatas peneliti memandang majelis hakim Mahkamah Agung dan judex facti dalam memutus perkara dengan tidak mempertimbangkan bahwa kata “Roket” menjadi unsur dominan untuk menyatakan adanya persamaan pada pokoknya. Menurut Kbbi “roket adalah nomina (kata benda) peluru berbentuk silinder yang digerakan dengan reaksi motor dan dapat bekerja diluar atmosfer, proyektil.”9 “Roket merupakan suatu objek terbang otomatis yang

diterbangkan dengan suatu tujuan khusus.”10 Walaupun penamaan merek “Roket” adalah kata yang sudah familiar, seperti yang khalayak umum tahu bahwa roket adalah benda dengan gerakan terbang keatas yang dapat menembus planet lain, namun merek “Roket” disini untuk melindungi kelas 6 jenis barang seng bergelombang dan rata. Lebih-lebih merek “Roket” tersebut sudah mendaftarkan beberapa varian merek yang berimbuhan roket dan sudah terdaftar di DJKI.

Pada putusan Mahkamah Agung Nomor 261 K/Pdt.Sus/2011 perkara merek dagang “Kopitiam” dengan “Kok Tong Kopitiam”, pokok permasalahan perkara ini berawal dari termohon/penggugat yaitu “Kopitiam” untuk jenis kelas 42 pada pendaftaran di tahun 1996 dan kelas 43 pada tahun 2004 menggugat pembatalan merek pemohon/tergugat yaitu “Kok Tong Kopitiam” untuk jenis kelas 43, karena memiliki persamaan pada pokoknya pada kata “Kopitiam”. Atas permasalahan tersebut majelis hakim memutus dengan menolak permohonan pemohon yang dulunya adalah tergugat di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan. Majelis hakim berpedoman pada pendapat Drs. Ahmad. Hasan: Unsur yang menonjol tersebut cukup salah satu saja, bisa persamaan bentuk, persamaan cara penempatan, persamaan cara penulisan, persamaan bunyi ucapan atau kombinasi bentuk, penulisan atau lainnya. Dan dalam membandingkan merek “Kopitiam” dengan “Kok Tong Kopitiam” mengenai persamaan pada pokoknya majelis menyatakan bahwa kata “Kopitiam” yang merupakan unsur menonjol bukan dari desain atau warna merek tersebut. Maka perkara ini dimenangkan oleh merek Kopitiam karena majelis hakim Mahkamah Agung berpendapat merek Kok Tong Kopitiam memiliki persamaan pada pokoknya.

Putusan Mahkamah Agung Nomor 163 K/Pdt.Sus/2012 perkara merek “Kampus/Campus” dengan “Campus Milenia”. Merek dagang

10 Wisnu Pamungkas dkk, “Implementasi Kalman Filter Pada Kendali Roket EDF”. Ijeis, Vol. 7, No 1, April 2017, h. 38.

Kampus/Campus adalah merek yang melindungi kelas 16 yaitu; segala macam buku tulis, buku gambar, buku-buku, buku-buku untuk keperluan administrasi perkantoran, block note, writing block, kertas-kertas untuk melukis, kertas-kertas, karton-karton, majalah-majalah, barang-barang cetakan, alat-alat menjilid buku, alat-alat tulis menulis, pensil-pensil, pena-pena, tangkai-tangkai pena-pena, album-album, penahan buku, tempat-tempat pensil/pena, penggaris-penggaris lurus/segetiga/setengah lingkaran, bak-bak tinta stempel, stip, paperclips, hect mechine, staple, pembuka amplop dan pembuka stemple, map-map, ordner-ordner, kertas-kertas untuk menulis blanko maupun bergaris dari segala ukuran dan yang double folio,

Dokumen terkait