• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS TEMUAN PENELITIAN

5.3 Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah di Kabupaten Toba Samosir

5.3.2 Pertimbangan-pertimbangan dalam Menata Organisas

Proses yang ada dalam pembentukan organisasi perangkat daerah bukanlah sebuah proses sederhana dan mudah. Ada terdapat banyak hal-hal yang perlu dipertimbangkan karena akan sangat berpengaruh terhadap organisasi atau SKPD

yang akan dibentuk. Pertimbangan-pertimbangan tersebut sudah tertuang dalam PP No.41 Tahun 2007 dan Permendagri No.57 Tahun 2007. Namun, pertimbangan-pertimbangan tersebut belum dijelaskan dengan rinci. Pertimbangan-pertimbangan yang ada di PP No.41 Tahun 2007 ini sesuai dengan hasil wawancara dengan staf Bagian Organisasi dan Tata Laksana, disebutkan bahwa dalam menentukan besaran organisasi perangkat daerah sekurang- kurangnya harus mempertimbangkan:

Besaran OPD sekurang-kurangnya harus mempertimbangkan: Faktor keuangan

Kebutuhan daerah. Butuh tidak kita kelautan? Kita tidak butuh. Cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan Jenis dan banyaknya tugas

Luas wilayah kerja harus jelas

Kondisi geografis. Makanya kita lihat jadi BPBD kitakan, karena ini bukan daerah rawan bencana.

Jumlah dan kepadatan penduduk

Potensi daerah yang bertalian dengan urusan yang akan ditangani, kita punya dong? Potensi apa yang kita bisa dari sana, hanya pariwisatanyakah?

Sarana dan prasarana penunjang tugas Harus ada sasarannya”.

Beberapa pertimbangan yang ada dalam peraturan dimaksud seperti variabel APBD, jumlah penduduk, luas wilayah menjadi variabel utama untuk menentukan skor ataupun pola maksimal besaran organisasi perangkat daerah yang bisa dibentuk oleh pemerintah daerah. Beberapa dari pertimbangan-pertimbangan yang ada akan peneliti bahas dalam bagian berikut ini:

a. Potensi dan Kebutuhan Daerah

Potensi daerah merupakan sumber daya penting yang dimiliki oleh daerah yang perlu digali dan dikembangkan dalam rangka untuk meningkatkan daya

saing pembangunan ekonomi suatu daerah. Potensi daerah akan menjadi keunggulan sebuah daerah jika dikembangkan dengan baik sehingga manfaat dari potensi tersebut akan maksimal. Untuk itu pemerintah daerah harus mampu mengenali potensi daerah yang dimiliki agar bisa diwadahi dalam sebuah lembaga atau SKPD. Pendayagunaan potensi oleh organisasi yang berkompeten dengan baik nantinya akan menghasilkan penerimaan yang akan sangat mendukung bagi keuangan daerah, seperti disampaikan oleh Bapak Asisten III Administrasi Umum berikut ini:

Untuk apa kita bentuk sebuah organisasi kalau kita tidak memiliki potensi daerah. Hal-hal yang bersifat produktiflah contohnya…. Karena kita potensi pertanianlah makanya kita bentuk Dinas Pertanian, coba di kota dibentuk Dinas Pertanian, kan agak lucu! Tetapi banyak sekarang ini seolah-olah itu menjadi sebuah kewajiban, seolah-olah menjadi pekerjaan padahal dari segi manfaat belum tentu. Nah kita coba lucu tidak kalau kita tidak memiliki Dinas Pertanian? Lucukan! Lucu tidak kalau penyuluh tidak ada sama kita? nah itu makanya! Tapi kita tetap bisa fungsikan sebagaimana mestinya”.

Tetapi kemudian yang menjadi permasalahan adalah sedikitnya urusan pilihan yang didesentralisasikan, kebanyakan adalah urusan wajib. Untuk masalah ini Asisten III Administrasi Umum menyampaikan:

iya, tapikan urusan itu bisa digabung, jadi ada itu yang kita gabungkan dan ada yang tidak kita gabungkan. Sepertiininya itu, kan ada pelimpahan wewenang (urusan wajib dan urusan pilihan), diurusan wajib itupun kita bisa iya, bisa tidak”.

Pertimbangan lain disamping potensi adalah kebutuhan daerah. Kebutuhan organisasi perangkat daerah menyangkut organisasi yang benar-benar perlu untuk dibentuk dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan. Orientasi kebutuhan ini tertuang dalam prinsip miskin struktur kaya fungsi. Tetapi kenyataan yang terlihat

dari organisasi perangkat daerah yang ada sangat berbanding terbalik dan bertentangan dengan kebijakan reformasi birokrasi yang sedang digalakkan belakangan ini. Penyusunan organisasi perangkat daerah dengan kondisi seperti ini akan semakin sulit dengan penetapan arah pertumbuhan pegawai sekarang ini menekankan pada keseimbangan, yaitu terwujudnya organisasi yang rightsizing. Rightsizing menurut Staf Bagian Organisasi dan Tata Laksana yaitu adanya kesesuaian antara ukuran organisasi dengan fungsi yang dimilikinya.

b. Urusan yang menjadi kewenangan daerah

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Namun dalam pelaksanaannya tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk dalam organisasi tersendiri. Adanya kewengan bersama tersebut sesuai dengan UU No.32 Tahun 2004 sehingga fungsi-fungsi pemerintahan perlu diwadahi dalam bentuk kelembagaan.

PP No.38 Tahun 2007 yang mengatur tentang kewenangan hadir lebih awal sebelum PP No.41 Tahun 2007 yang mengatur tentang perangkat daerah. Hal ini berarti bahwa yang mandasari kelembagaan adalah kewenangan. Berdasarkan PP No.38 Tahun 2007 dapat kita lihat bahwa jumlah urusan wajib ada 26 urusan, sementara untuk urusan pilihan ada 8 urusan. Untuk pelaksanaan kedua peraturan ini pemerintah harus daerah menetapkan dalam bentuk peraturan daerah.

PP No.41 Tahun 2007 diatur lebih lanjut dengan Perda No.2 Tahun 2008 di Kabupaten Toba Samosir. Namun untuk Perda kewenangannya sampai sekarang belum ada. Hal ini disampaikan oleh staf Bagian Organisasi dan Tata Laksana dalam petikan wawancaran berikut:

pelaksanaan PP 41 ini agak janggal karena tidak ada Perda kewenangan sebelumnya, PP 38 belum ada Perdanya. Tetapi kita sudah mengusahakan kewenangan-kewenangan itu untuk diambil”.

Keadaan ini menunjukkan bahwa dalam penyusunan organisasi perangkat daerah pemerintah Kabupaten Toba Samosir hanya berpedoman pada PP No.38 Tahun 2007 saja tanpa ada peraturan daerah. Ketiadaan Perda yang mengatur tentang kewenangan secara langsung akan menimbulkan berbagai masalah. Masalah tersebut terlihat dari masih adanya organiasi pemerintah daerah yang tugas dan wewenanganya tumpang tindih dengan organisasi pemerintah lainnya. Di lingkungan SKPD Kabupaten Toba Samosir terlihat dari sudah adanya Dinas Sosial tetapi di lingkungan Sekretariat Daerah masih terdapat Bagian Kesejahteraan Sosial, hal ini berdasarkan wawancara dengan Asisten III Administrasi Umum. Seharusnya kewenangan yang ada untuk pemerintah kabupaten/kota harus dikelompokkan dalam bidang-bidang. Bidang-bidang ini kemudian dirinci lebih lanjut sehingga kewenangan yang ada menjadi lebih spesifik. kewenangan yang jelas dan spesifik dalam bidang-bidang akan berimplikasi pada tidak adanya lagi masalah tumpang tindih kewenangan di antara SKPD yang ada.

c. Visi dan Misi Pemerintah Daerah

Suatu visi adalah artikulasi dari citra, nilai, arah dan tujuan yang akan memandu masa depan organisasi. Sebuah visi haruslah realistis dan dapat dicapai, dipergunakan sebagai pedoman bagi semua aktivitas organisasi. Visi kemudian akan diartikulasikan dalam misi-misi organisasi. Misi ini kemudian lebih dioperasionalkan lagi dalam suatu strategi organisasi. Strategi organisasi adalah hasil integrasi visi dengan pemikiran strategis. Strategi berhubungan dengan rencana tindak atau rencana operasi, metode, taktik dan langkah-langkah yang digunakan untuk mencapai visi dan tujuan organisasi.

Dalam penyusunan sebuah organisasi perangkat daerah visi menjadi arah, tujuan dan alasan untuk membangun sebuah organisasi. Visi sekaligus menggambarkan apa yang menjadi kebutuhan dari sebuah organisasi. Oleh karena itu posisi visi dan misi dalam penataan organisasi perangkat daerah merupakan dasar utama yang perlu diperhatikan agar organisasi yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan. Visi Pemerintah Kabupaten Toba Samosir 2011-2015 adalah “Terwujudnya Kabupaten Toba Samosir Yang Memiliki Rasa Kasih, Peduli, Dan Bermartabat”. Untuk mewujudkan visi ini, Pemerintah Kabupaten Toba Samosir merumuskan misi sebagai berikut:

1. Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa; 2. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan;

3. Meningkatkan mutu pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia;

4. Meningkatkan pembangunan infrastruktur; 5. Mewujudkan pengembangan ekonomi rakyat;

6. Mengoptimalkan serta memanfaatkan sumber daya alam;

7. Memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan dinamis.

Untuk pengembangan kelembagaan ataupun penataan organisasi Pemerintah Kabupaten Toba Samosir tidak memiliki starategi khusus. Hal ini disampaikan dalam kutipan wawancara dengan Asisten III Administrasi Umum berikut:

“Kalau secara khusus itu tidak ada, cuma dari apa itukan tersirat dia, kalau tersurat dia tidak ada. Contohnya, “kasih, peduli, martabat”, manusia bermartabat karena apa? Kalau kasih-kan tentang perbuatan, kala martabat apa coba? “Hasangapon, hamoraon, hagabeon (kehormatan, kekayaan, Kebahagiaan) untuk mewujudkan yang tiga ini bagaimana? Sekolah, sekolah dengan cara apa? Bisa tidak kita sekolah kalau orang tua kita tidak sanggup. Darimana orang tua kita mencara nafkah? Kan yang bertani dan melakukan berbagai pekerjaannya semua, ada yang berdagang. Nah itulah jalannya, jadi dia tersirat di dalam visi dan misi. Visi dan misilah sebenarnya dasar untuk menciptakan kelembagaan, tetapi tetap berpatokan terhadap PP 41”.

Tetapi di dalam matriks indikasi rencana program prioritas dan pagu indikatif RPJMD Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011-2015 untuk misi mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa terdapat satu program prioritas yaitu program pembinaan dan pengembangan aparatur yang menjadi tugas dari Bagian Organisasi dan BKD.

5.3.3 Perkembangan Susunan Organisasi Perangkat Daerah di Kabupaten

Dokumen terkait