High income country
3.2 Pertumbuhan dan peranan sektoral
Analisis produksi sektoral menjadi hal yang sangat penting untuk dapat memahami secara lebih detail kinerja makro ekonomi daerah yang sebenarnya terjadi. Potensi kapasitas produksi dimana capaian produksi eksisting yang diukur dalam PDRB dan merupakan gambaran ketersediaan sumber daya (endowment) yang mampu dieksploitasi keadaannya berbeda-beda antar berbagai sektor/lapangan usaha. Disinilah akan terlihat sumber pertumbuhan dan penggerak ekonomi sesungguhnya yang ditunjukkan oleh tingkat pertumbuhan dan kontribusi sektoral dalam PDRB.
Grafik 3.7
Sumber : PDRB Kabupaten / Kota di Kalimantan Selatan, BPS, 2011
Dari struktur ekonominya dalam rentang 2006 – 2010 Kabupaten Tapin didominasi sektor pertanian dengan kontibusi dalam PDRB atas dasar harga konstan sekitar 41% dan sektor pertanian dengan 21%. Jauh dibawahnya sektor
Rerata Share dan Pertum buhan Sektoral PDRB Tapin 2006 - 2010 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% T a n i T a m b a n g & P g l In d u stri L G A K o n stru k si P d a g a n g a n , H R T ra n sk o m K e u & S e w a J a sa -ja sa
jasa-jasa dengan 14% dan perdagangan dengan 9%. Sektor-sektor lainnya hanya berperan rata-rata dibawah 5% pertahun. Dari sisi pertumbuhannya, sektor ekonomi paling maju dalam rentang 2006 – 2010 adalah sektor listrik-gas-air minum dengan pertumbuhan rata-rata 7,71% pertahun disusul oleh sektor konatruksi dengan tingkat 7,65% dan sektor industri dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7,64. Hal ini dapat dengan jelas dilihat pada grafik 3.7.
Secara detail akan dilihat kinerja sektoral beserta subsektornya dalam menciptakan pertumbuhan dan memberikan kontribusi pada PRB. PDRB sektor petanian menyumbang rata-rata 40,60% bagi PDRB Kabupaten Tapin. Sebagaimana terlihat pada grafik 3.8 PDRB sektor pertanian didominasi oleh subsektor tanaman pangan sedangkan subsektor kehutanan menjadi penyumbang paling kecil.
Grafik 3.8
Sumber : PDRB Kabupaten / Kota di Kalimantan Selatan, BPS, 2011
Share dan Pertum buhan PD R B Sektor Pertanian 2006 - 2010
3.25% 3.26% 27.26% 5.47% 1.32% 4.87% 6.59% 4.32% 2.56% 0.75% 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 30.00%
T Pangan Kebun Ternak Hutan Ikan
S ubsektor Sh a re 0.00% 2.00% 4.00% 6.00% 8.00% Tu m b u h
Dari sisi pertumbuhan, subsektor peternakan tumbuh sangat pesar dibanding subsektor lainnya, kemudian diikuti tanaman pangan dan perikanan. Subsektor yang tumbuh lambat dalam periode ini adalah kehutanan dan perkebunan. Hanya saja subesektor perkebunan diperkirakan akan semakin mengalami percepatan melalui perkebunan sawit dengan masuknya industri CPO.
Dengan demikian bisa dikatakan tanaman pangan masih merupakan penggerak utama sektor pertanian. Disisi lain peternakan merupakan sektor yang maju pesat dan ber-potensi untuk berperan lebih signifikan bagi perekonomian khususnya dari sektor pertanian.
Sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor dominan kedua dalam menciptakan PDRB, yakni rata-rata sebesar 20,57% (ADHK). Seperti terlihat pada grafik 3.9 subsektor yang berkontibusi besar adalah pertambangan non migas yang menghasilkan komoditi batubara. Sementara itu, subsektor pengalian memiliki peranan yang jauh lebih kecil.
Grafik 3.9
Sumber : PDRB Kabupaten / Kota di Kalimantan Selatan, BPS, 2011
Dari beberapa sektor yang maju pesat enam tahun terakhir diantaranya adalah sektor Industri yang tumbuh 7,64%, seperti terlihat pada grafik 3.10. Meski demikian peranan sektor masih kecil yakni rata-rata hanya 4,90% pertahun. Tidak jauh berbeda keadaannya jika dibandingkan dengan sektor LGA dan konstruksi. LGA dan konstruksi juga memiliki pertumbuhan tertinggi masing-masing 7,71% dan 7,65% namun sharenya dalam PDRB relatif kecil, dibawah 5%.
Dengan demikian, sektor industri dan konstruksi akan menjadi semakin penting terlebih dengan didukung majunya sektor LGA dan Transportasi, dimana kedua sektor terakhir ini juga semakin vital dalam proses transformasi ekonomi. Pertumbuhannya harus terus dijaga agar tidak menurun atau bahkan menuju stagnan sebagaimana nampak terjadi pada
R erata S hare dan P ertum buhan P D R B S ektor Tam bang dan G alian 2006 - 2010 20.57% 0.03% 6.61% 1.85% 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00%
Tam bang no M igas G alian S ubsektor Sh a r e 0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% 7.00% T u m buh S hare Tum buh
sektor industri akhir-akhir ini. Industri meski belum memiliki peran yang cukup signifikan tapi memiliki tingkat pertum-buhan yang relatif tinggi pada masa sekarang ini harus dijadikan momentum kebangkitan ekonomi. Langkah-langkah strategis untuk merevitasi sektor perlu diambil. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan agroindustri dan pengolahan SDA lain seperti hasil pertambangan.
Grafik 3.10
Sumber : PDRB Kabupaten / Kota di Kalimantan Selatan, BPS, 2011
Dalam komponen PDRB Kabupaten Tapin terdapat sektor perdagangan, hotel, & restoran berperan rata-rata 9,05% selama 2006 – 2010. Subsektor perdagangan besar dan eceran nampak paling dominan dengan memberikan sumbangan dan pertumbuhan paling signifikan bagi PDRB, seperti terlihat pda grafik 3.11. Sementara itu, perhotelan memiliki kontribusi palig kecil dibanding subsektor lainnya.
R erata S hare dan Pertum buhan P D R B S ektor Industri, LG A , K onstruksi, dan Transportasi K ab.Tapin, 2006 - 2010
4.90% 0.39% 1.92% 4.60% 7.64% 7.71% 5.03% 7.65% 0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00%
Industri LG A K onstruksi Transkom S ektor Sh a re 0.00% 2.00% 4.00% 6.00% 8.00% 10.00% Tum buh S hare Tum buh
Meski demikian subsektor perhotelan memiliki tingkat pertumbuhan cukup tinggi yaitu 5,03%. Ini menandakan perkembangan iklim bisnis mengalami kemajuan dan subsektor perhotelan mendapat keuntungan karenannya. Perhotelan dapat menjadi lahan bisnis prospektif sejalan dengan kemajuan bisnis disektor lainnya yang memerlukan layanan dari sektor jasa.
Lapangan usaha perdagangan, hotel, dan restoran harus mendapat dukungan agar terus berkembang. Iklim usaha yang kondusif diantaranya memerlukan dukungan dari fasilitas akomodasi yang memadai. Subsektor perdagangan, perhotelan, dan restoran menjadi sarana interaksi bisnis modern yang kelayakannya semakin menentukan.
Grafik 3.11
Sumber : PDRB Kabupaten / Kota di Kalimantan Selatan, BPS, 2011
R erata S hare dan P ertum buhan P D R B S ektor P erdagangan, H , & R 2006 - 2010 0.01% 3.76% 5.28% 5.57% 5.03% 2.43% 0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00%
D agang H otel R esto S ubsektor Sh a re 0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% Tu m b uh S hare Tum buh
Sektor keuangan sebagai salah satu sektor tertier juga berfungsi melayani bisnis utama dalam perekonomian (core
of economy). Meskipun masih kecil peranannya namun jasa
keuangan cenderung terus meningkat pertumbuhannya. Sektor keuangan ditujukan untuk dapat melayani kebutuhan investasi yang ada didaerah agar dapat mendorong tumbuhnya berbagai bidang usaha. Selama ini di Kalsel, nilai uang yang dihasilkan terutama dari pertambangan sangat besar namun pengusaha dan perusahaan besar cenderung tidak menyimpan dan membelanjakan uangnya di daerah tetapi membawanya keluar daerah. Oleh sebab itu penting kiranya meningkatkan peranan lembaga keuangan dalam pengembangan usaha lokal. Hal ini tidak akan terjadi tanpa komitmen lembaga-lembaga keuangan untuk mau melakukan penyaluran kredit ataupun pembiayaan kepada pengusaha lokal.
Postur sektor keuangan diKabupaten Tapin ternyata didominasi subsektor persewaan yang berkontribusi 2,33% terhadap PDRB, seperti terlihat pada grafik 3.12. Subsektor-subsektor lainnya yaitu Perbankan, Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), dan Jasa Perusahaan memiliki kontribusi dibawah 1%. Akan tetapi dari segi pertumbuhan perbankan nampak tumbuh signifikan dengan 8,58% pertahun, disusul jasa perusahaan dengan 5,65% dan LKBB 5,14%. Persewaan tumbuh paling rendah hanya dengan 4,49%. Dari keadaan ini terlihat bahwa subsektor perbankan sedang mengalami perkembangan yang pesat sehingga berpeluang untuk berperan lebih besar dalam meningkatkan nilai tambah produksi disektor keuangan Kabupaten Tapin.
Grafik 3.12
Sumber : PDRB Kabupaten / Kota di Kalimantan Selatan, BPS, 2011
Sektor jasa-jasa termasuk komponen yang memberikan kontribusi signifikan dalam pembentukan PDRB Kabupaten Tapin, yakni rata-rata 14,16%. Bagian terbesar dalam pembentukan PDRB sektor jasa berasal dari subsektor jasa pemerintahan dalam bentuk pelayanan administrasi yang meliputi 13,57%. Subsektor jasa swasta yang terdiri dari jasa sosial kemasyarakatan, hiburan-rekreasi, dan jasa perorangan & rumah tangga secara keseluruhan hanya menyumbang 0,59%. Hal ini nampak dalam grafik 3.13.
R erata Share dan Pertum buhan PD R B Sektor K euangan dll 2006 - 2010 0.82% 0.66% 2.33% 0.02% 8.58% 5.14% 4.49% 5.65% 0.00% 0.50% 1.00% 1.50% 2.00% 2.50%
B ank LKBB sewa Jasa Prsh
Subsektor Sh a re 0.00% 2.00% 4.00% 6.00% 8.00% 10.00% Tum buh Share Tum buh
Grafik 3.13
Sumber : PDRB Kabupaten / Kota di Kalimantan Selatan, BPS, 2011
Perkembangan subsektor jasa swasta yang didalamnya termasuk pariwisata tumbuh paling tinggi dimana bersamaan dengan pertumbuhan subsektor perhotelan. Ini menun-jukkan terdapatnya potensi usaha multisektor seperti dibidang agribisnis dan pariwisata. Bidang-bidang ini pun sangat potensial untuk berkembang di Kabupaten Tapin.