IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Pertumbuhan dan Produksi Tomat
Pengaruh pemberian bahan organik dan formula pupuk dalam bentuk
serbuk dan briket terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot kering
disajikan pada Tabel 5 dan sidik ragam pada Tabel Lampiran 8, 9, 10. Analisa
statistik menunjukkan bahwa interaksi pemberian bahan organik dan formula
pupuk briket dan serbuk memberikan pengaruh yang sangat nyata dalam
peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot kering (Tabel 5).
Pada perlakuan formula pupuk P0, pemberian bahan organik briket de ngan
dosis tertinggi (3%) nyata meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot
kering dibandingkan dengan tanpa bahan organik. Hal ini disebabkan karena
media tanam pada perlakuan tanpa pupuk memiliki kandungan basa-basa (unsur
hara) yang rendah. Dengan semakin bertambahnya dosis bahan organik,
ketersediaan unsur hara dalam tanah menjadi tercukupi sehingga mendukung
pertumbuhan dan produksi tomat.
Pada perlakuan formula pupuk P1, pemberian bahan organik dengan dosis
tertinggi (3%) tidak nyata meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot
kering dibandingkan tanpa bahan organik. Pemberian bahan organik dengan dosis
yang rendah (serbuk 1%, briket 1% dan 2%) nyata meningkatkan tinggi tanaman
ketersediaan unsur hara dalam tanah pada formula pupuk P1 dengan pemberian
bahan organik pada dosis yang rendah dapat mencukupi kebutuhan tanaman tomat
sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Sedangkan pemberian bahan
organik pada dosis tinggi (3%) menyebabkan unsur hara dalam media tanam
menjadi berlebih sehingga menghambat pertumbuhan dan produksi tomat.
Tabel 5. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tomat
Formula Pupuk Rataan Pertumbuhan dan Produksi Bahan Organik P0 P1 P2 B0 29.36 f 45.60 e 72.47 cd 49.14 c B1 71.17 cd 105.03 ab 67.00 d 82.83 a B2 74.93 cd 98.39 ab 88.07 bc 87.10 a B3 76.20 cd 110.27 a 75.20 cd 87.22 a Tinggi Tanaman (cm) B4 93.37 ab 60.53 de 59.17 de 71.02 b Rataan 69.01 b 83.95 a 72.76 b B0 30.67 e 46.00 de 71.33 bcde 49.33 b B1 78.00 bcde 134.00 a 67.50 bcde 96.38 a
B2 75.00 bcde 97.00 abcd 59.00 bcde 77.00 a B3 58.67 bcde 97.33 abcd 114.00 ab 90.00 a Jumlah Daun
(Helai/batang)
B4 106.00 abc 56.67 cde 80.00 bcde 80.89 a
Rataan 69.67 a 86.20 a 79.14 a
B0 2.21 e 7.34 e 14.07 cde 7.88 c B1 16.31 bcde 39.60 a 8.32 e 21.41 ab B2 16.32 bcde 28.39 abc 13.93 cde 19.55 ab B3 10.93 de 34.09 a 30.05 ab 25.03 a Bobot Kering
(gram/batang)
B4 25.64 abcd 7.45 e 13.57 cde 15.55 bc
Rataan 14.29 b 23.37 a 15.99 b
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata ber dasarkan uji DMRT pada taraf 5%
Pada perlakuan formula pupuk P2, pemberian bahan organik dengan dosis
tertinggi (3%) tidak nyata menurunkan tinggi tanaman dan bobot kering
dibandingkan tanpa bahan organik. Hal ini disebabkan karena ketersediaan unsur
mikro dalam tanah dan pupuk sudah dapat mencukupi kebutuhan tanaman tomat.
yang tersedia menjadi berlebih sehingga menghambat pertumbuhan dan produksi
tomat.
Pengaruh kombinasi perlakuan bahan organik serbuk dan briket dengan
formula pupuk terhadap tinggi tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan bahan
organik briket 2 % dengan formula pupuk P1, kemudian briket serbuk 1% dengan
formula pupuk P1. Pengaruh kombinasi bahan organik briket dan serbuk dengan
formula pupuk terhadap jumlah daun dan bobot kering tertinggi diperoleh pada
perlakuan bahan organik serbuk 1% dengan formula pupuk P1. Kombinasi
perlakuan bahan organik 1% dengan formula pupuk P1 dan bahan organik briket
2% dengan formula pupuk P1 merupakan kombinasi perlakuan terbaik untuk
pertumbuhan dan produksi tomat. Hal ini disebabkan karena adanya perbaikan
sifat-sifat media tumbuh. Pada perlakuan bahan organik serbuk 1% dan briket 2%,
ketahanan penetrasi menjadi rendah dan pori air tersedia menjadi lebih tinggi
dibandingkan perlakuan lainnya. Adanya penurunan ketahanan penetrasi dan
peningkatan jumlah air tersedia menyebabkan akar tanaman dapat menjangkau
tanah lebih banyak, serta dapat menyerap air dan hara lebih tinggi. Pada kondisi
ini memungkinkan tanaman mendapatkan kecukupan air dan hara sehingga
memiliki kondisi pertumbuhan yang baik. Pertumbuhan (tinggi tanaman dan
jumlah daun) dan produksi (bobot kering) yang lebih baik juga disebabkan oleh
pengaruh kotoran sapi yang berpe ran sebagai bahan yang merangsang agregasi
tanah yang lebih baik sehingga mampu meningkatkan kesarangan tanah. Tanah
yang sarang akan mendukung aerasi tanah yang lebih baik dan aktivitas perakaran
hara sehingga meningkatkan pertumbuhan (Tinggi dan jumlah daun) dan produksi
tanaman (bobot kering).
B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 20 40 60 80 100 120 Tinggi Tanaman
Gambar 2. Grafik Tinggi Tanaman 10 MST Pada Masing-masing Perlakuan
B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 5 10 15 20 25 30 35 40 Bobot Kering
4.5. Evapotranspirasi 4.5.1. Evapotranspirasi Total
Pengaruh pemberian bahan organik briket dan serbuk terhadap
evapotranspirasi total disajikan pada Tabel 6 dan sidik ragamnya pada Tabel
Lampiran 11. Analisa statistik menunjukkan bahwa interaksi pemberian bahan
organik serbuk dan briket dengan formula pupuk sangat nyata meningkatkan
evapotranspirasi total. Pada perlakuan formula pupuk P0, pemberian bahan
organik dengan dosis te rtinggi (3%) nyata meningkatkan evapotranspirasi total
dibandingkan dengan tanpa bahan organik. Pada perlakuan formula pupuk P1,
pemberian bahan organik briket dengan 3% tidak nyata meningkatkan
evapotranspirasi total dibandingkan tanpa bahan organik. Pemberian bahan
organik dengan dosis yang rendah (serbuk 1%, briket 1% dan 2%) nyata
meningkatkan evapotranspirasi total dibandingkan tanpa bahan organik. Pada
perlakuan formula pupuk P2, pemberian bahan organik dengan dosis tertinggi
(3%) tidak nyata menurunkan evapotransprasi total dibandingkan tanpa bahan
organik. Sebelumnya telah diuraikan bahwa pada perlakuan formula pupuk P0
dengan pemberian dosis bahan organik tertinggi dan perlakuan formula pupuk P1
dengan pemberian dosis bahan organik yang lebih rendah memiliki pertumbuhan
yang lebih baik. Sedangkan pada perlakuan formula pupuk P1 dan P2 dengan
pemberian bahan organik tertinggi (3%), pertumbuhan tanaman tomat menjadi
kurang bagus. Pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan jumlah daun) yang lebih
baik mengakibatkan jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman menjadi lebih
banyak sehingga jumlah air yang hilang akibat penggunaan tanaman maupun yang
yang kurang baik mengakibatkan jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman
menjadi lebih sedikit sehingga jumlah air yang hilang akibat penggunaan tanaman
maupun yang menguap dari permukaan menjadi lebih sedikit.
Tabel 6. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Evapotranspirasi Total
Formula Pupuk Evapotranspirasi Bahan Organik
P0 P1 P2 Rataan B0 5.22 e 10.14 de 16.21 bcd 10.52 b B1 16.99 bcd 27.55 a 11.17 de 18.57 a B2 16.35 bcd 24.82 a b 13.99 de 18.39 a B3 13.21 de 27.26 a 23.76 abc 21.41 a Evapotranspirasi Total (Liter/polybag/ 1musim) B4 23.11 abc 11.13 de 15.51 c d 16.58 a Rataan 14.93 b 20.18 a 16.13 b
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%
B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 5 10 15 20 25 30
EVapotranspirasi total (ltr/pot/1 musim)
Evapotranspirasi total tertinggi diperoleh dari interaksi bahan organik
serbuk 1% dengan formula pupuk P1 sebesar 27.55 liter/polybag/1 musim tanam.
Sedangkan evapotranspirasi total pada urutan kedua diperoleh dari interaksi bahan
organik briket 2% dengan formula pupuk P1. Hilangnya air melalui
evapotransprasi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu suhu air,
kelembaban, tekanan udara, sinar matahari, kecepatan angin dan lain-lain yang
berhubungan satu dengan yang lainnya (Sosrodarsono dan Takeda, 1980).
Perbedaan tinggi tanaman dan jumlah daun juga sangat mempengaruhi besar
kecilnya evapotranspirasi. Tinggi tanaman pada perlakuan bahan organik serbuk
1% dengan formula pupuk P1 lebih rendah dibandingkan tinggi tanaman pada
perlakuan bahan organik briket 2% briket dengan formula pupuk P1 tetapi jumlah
daun pada perlakuan bahan organik serbuk 1% dengan formula pupuk P1 lebih
banyak dibandingkan tinggi tanaman pada perlakuan bahan organik briket 2%
briket dengan formula pupuk P1.
4.5.2. Nisbah Evapotranspirasi
Nisbah evapotranspirasi diperoleh dari evapotranspirasi total dibagi
dengan bobot kering. Pengaruh pemberian bahan organik briket dan serbuk
terhadap nisbah evapotranspirasi disajikan pada Tabel 7 dan sidik ragamnya pada
Tabel Lampiran 12. Bahan organik tidak nyata menurunkan nisbah
evapotranspirasi dibandingkan tanpa bahan organik. Nisbah evapotranspirasi
terkecil diperoleh pada perlakuan bahan organik serbuk 1% yaitu sebesar 952.9
artinya untuk menghasilkan 1 kg berat kering diperlukan jumlah air sebanyak
952.9 kg. Menurut Soepardi (1983) efisiensi pemakaian air adalah rendah apabila
Tabel 7. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Nisbah Evapotranspirasi
Formula Pupuk Evapotranspirasi Bahan Organik
P0 P1 P2 Rataan B0 2367.6 1529.8 1169.8 1689.1 a B1 1059.2 732.2 1067.5 952.9 a B2 1070.6 895.7 1097. 9 1021.4 a B3 997.2 807.1 858.8 959.4 a Nisbah Evapotranspirasi B4 1341.4 1418.3 1264.4 1226.6 a Rataan 1341.4 a 1076.6 a 1091.7 a
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%
Formula pupuk tidak nyata dalam menurunkan nisbah evapotranspirasi.
Nisbah evapotranspirasi terbesar diperoleh pada perlakuan tanpa pupuk yaitu
1341.4 hal ini menunjukkan bahwa efisiensi pemakaian air pada perlakuan
formula pupuk P0 adalah rendah. Interaksi pembe rian bahan organik serbuk dan
briket dengan formula pupuk tidak nyata dalam menurunkan nisbah
evapotranspirasi. B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 500 1000 1500 2000 2500 Nisbah Evapotranspirasi