• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan dan Produksi Tomat

Dalam dokumen Oleh Marfita Ike Prajayana A (Halaman 43-51)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Pertumbuhan dan Produksi Tomat

Pengaruh pemberian bahan organik dan formula pupuk dalam bentuk

serbuk dan briket terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot kering

disajikan pada Tabel 5 dan sidik ragam pada Tabel Lampiran 8, 9, 10. Analisa

statistik menunjukkan bahwa interaksi pemberian bahan organik dan formula

pupuk briket dan serbuk memberikan pengaruh yang sangat nyata dalam

peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot kering (Tabel 5).

Pada perlakuan formula pupuk P0, pemberian bahan organik briket de ngan

dosis tertinggi (3%) nyata meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot

kering dibandingkan dengan tanpa bahan organik. Hal ini disebabkan karena

media tanam pada perlakuan tanpa pupuk memiliki kandungan basa-basa (unsur

hara) yang rendah. Dengan semakin bertambahnya dosis bahan organik,

ketersediaan unsur hara dalam tanah menjadi tercukupi sehingga mendukung

pertumbuhan dan produksi tomat.

Pada perlakuan formula pupuk P1, pemberian bahan organik dengan dosis

tertinggi (3%) tidak nyata meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot

kering dibandingkan tanpa bahan organik. Pemberian bahan organik dengan dosis

yang rendah (serbuk 1%, briket 1% dan 2%) nyata meningkatkan tinggi tanaman

ketersediaan unsur hara dalam tanah pada formula pupuk P1 dengan pemberian

bahan organik pada dosis yang rendah dapat mencukupi kebutuhan tanaman tomat

sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Sedangkan pemberian bahan

organik pada dosis tinggi (3%) menyebabkan unsur hara dalam media tanam

menjadi berlebih sehingga menghambat pertumbuhan dan produksi tomat.

Tabel 5. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tomat

Formula Pupuk Rataan Pertumbuhan dan Produksi Bahan Organik P0 P1 P2 B0 29.36 f 45.60 e 72.47 cd 49.14 c B1 71.17 cd 105.03 ab 67.00 d 82.83 a B2 74.93 cd 98.39 ab 88.07 bc 87.10 a B3 76.20 cd 110.27 a 75.20 cd 87.22 a Tinggi Tanaman (cm) B4 93.37 ab 60.53 de 59.17 de 71.02 b Rataan 69.01 b 83.95 a 72.76 b B0 30.67 e 46.00 de 71.33 bcde 49.33 b B1 78.00 bcde 134.00 a 67.50 bcde 96.38 a

B2 75.00 bcde 97.00 abcd 59.00 bcde 77.00 a B3 58.67 bcde 97.33 abcd 114.00 ab 90.00 a Jumlah Daun

(Helai/batang)

B4 106.00 abc 56.67 cde 80.00 bcde 80.89 a

Rataan 69.67 a 86.20 a 79.14 a

B0 2.21 e 7.34 e 14.07 cde 7.88 c B1 16.31 bcde 39.60 a 8.32 e 21.41 ab B2 16.32 bcde 28.39 abc 13.93 cde 19.55 ab B3 10.93 de 34.09 a 30.05 ab 25.03 a Bobot Kering

(gram/batang)

B4 25.64 abcd 7.45 e 13.57 cde 15.55 bc

Rataan 14.29 b 23.37 a 15.99 b

Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata ber dasarkan uji DMRT pada taraf 5%

Pada perlakuan formula pupuk P2, pemberian bahan organik dengan dosis

tertinggi (3%) tidak nyata menurunkan tinggi tanaman dan bobot kering

dibandingkan tanpa bahan organik. Hal ini disebabkan karena ketersediaan unsur

mikro dalam tanah dan pupuk sudah dapat mencukupi kebutuhan tanaman tomat.

yang tersedia menjadi berlebih sehingga menghambat pertumbuhan dan produksi

tomat.

Pengaruh kombinasi perlakuan bahan organik serbuk dan briket dengan

formula pupuk terhadap tinggi tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan bahan

organik briket 2 % dengan formula pupuk P1, kemudian briket serbuk 1% dengan

formula pupuk P1. Pengaruh kombinasi bahan organik briket dan serbuk dengan

formula pupuk terhadap jumlah daun dan bobot kering tertinggi diperoleh pada

perlakuan bahan organik serbuk 1% dengan formula pupuk P1. Kombinasi

perlakuan bahan organik 1% dengan formula pupuk P1 dan bahan organik briket

2% dengan formula pupuk P1 merupakan kombinasi perlakuan terbaik untuk

pertumbuhan dan produksi tomat. Hal ini disebabkan karena adanya perbaikan

sifat-sifat media tumbuh. Pada perlakuan bahan organik serbuk 1% dan briket 2%,

ketahanan penetrasi menjadi rendah dan pori air tersedia menjadi lebih tinggi

dibandingkan perlakuan lainnya. Adanya penurunan ketahanan penetrasi dan

peningkatan jumlah air tersedia menyebabkan akar tanaman dapat menjangkau

tanah lebih banyak, serta dapat menyerap air dan hara lebih tinggi. Pada kondisi

ini memungkinkan tanaman mendapatkan kecukupan air dan hara sehingga

memiliki kondisi pertumbuhan yang baik. Pertumbuhan (tinggi tanaman dan

jumlah daun) dan produksi (bobot kering) yang lebih baik juga disebabkan oleh

pengaruh kotoran sapi yang berpe ran sebagai bahan yang merangsang agregasi

tanah yang lebih baik sehingga mampu meningkatkan kesarangan tanah. Tanah

yang sarang akan mendukung aerasi tanah yang lebih baik dan aktivitas perakaran

hara sehingga meningkatkan pertumbuhan (Tinggi dan jumlah daun) dan produksi

tanaman (bobot kering).

B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 20 40 60 80 100 120 Tinggi Tanaman

Gambar 2. Grafik Tinggi Tanaman 10 MST Pada Masing-masing Perlakuan

B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 5 10 15 20 25 30 35 40 Bobot Kering

4.5. Evapotranspirasi 4.5.1. Evapotranspirasi Total

Pengaruh pemberian bahan organik briket dan serbuk terhadap

evapotranspirasi total disajikan pada Tabel 6 dan sidik ragamnya pada Tabel

Lampiran 11. Analisa statistik menunjukkan bahwa interaksi pemberian bahan

organik serbuk dan briket dengan formula pupuk sangat nyata meningkatkan

evapotranspirasi total. Pada perlakuan formula pupuk P0, pemberian bahan

organik dengan dosis te rtinggi (3%) nyata meningkatkan evapotranspirasi total

dibandingkan dengan tanpa bahan organik. Pada perlakuan formula pupuk P1,

pemberian bahan organik briket dengan 3% tidak nyata meningkatkan

evapotranspirasi total dibandingkan tanpa bahan organik. Pemberian bahan

organik dengan dosis yang rendah (serbuk 1%, briket 1% dan 2%) nyata

meningkatkan evapotranspirasi total dibandingkan tanpa bahan organik. Pada

perlakuan formula pupuk P2, pemberian bahan organik dengan dosis tertinggi

(3%) tidak nyata menurunkan evapotransprasi total dibandingkan tanpa bahan

organik. Sebelumnya telah diuraikan bahwa pada perlakuan formula pupuk P0

dengan pemberian dosis bahan organik tertinggi dan perlakuan formula pupuk P1

dengan pemberian dosis bahan organik yang lebih rendah memiliki pertumbuhan

yang lebih baik. Sedangkan pada perlakuan formula pupuk P1 dan P2 dengan

pemberian bahan organik tertinggi (3%), pertumbuhan tanaman tomat menjadi

kurang bagus. Pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan jumlah daun) yang lebih

baik mengakibatkan jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman menjadi lebih

banyak sehingga jumlah air yang hilang akibat penggunaan tanaman maupun yang

yang kurang baik mengakibatkan jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman

menjadi lebih sedikit sehingga jumlah air yang hilang akibat penggunaan tanaman

maupun yang menguap dari permukaan menjadi lebih sedikit.

Tabel 6. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Evapotranspirasi Total

Formula Pupuk Evapotranspirasi Bahan Organik

P0 P1 P2 Rataan B0 5.22 e 10.14 de 16.21 bcd 10.52 b B1 16.99 bcd 27.55 a 11.17 de 18.57 a B2 16.35 bcd 24.82 a b 13.99 de 18.39 a B3 13.21 de 27.26 a 23.76 abc 21.41 a Evapotranspirasi Total (Liter/polybag/ 1musim) B4 23.11 abc 11.13 de 15.51 c d 16.58 a Rataan 14.93 b 20.18 a 16.13 b

Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%

B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 5 10 15 20 25 30

EVapotranspirasi total (ltr/pot/1 musim)

Evapotranspirasi total tertinggi diperoleh dari interaksi bahan organik

serbuk 1% dengan formula pupuk P1 sebesar 27.55 liter/polybag/1 musim tanam.

Sedangkan evapotranspirasi total pada urutan kedua diperoleh dari interaksi bahan

organik briket 2% dengan formula pupuk P1. Hilangnya air melalui

evapotransprasi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu suhu air,

kelembaban, tekanan udara, sinar matahari, kecepatan angin dan lain-lain yang

berhubungan satu dengan yang lainnya (Sosrodarsono dan Takeda, 1980).

Perbedaan tinggi tanaman dan jumlah daun juga sangat mempengaruhi besar

kecilnya evapotranspirasi. Tinggi tanaman pada perlakuan bahan organik serbuk

1% dengan formula pupuk P1 lebih rendah dibandingkan tinggi tanaman pada

perlakuan bahan organik briket 2% briket dengan formula pupuk P1 tetapi jumlah

daun pada perlakuan bahan organik serbuk 1% dengan formula pupuk P1 lebih

banyak dibandingkan tinggi tanaman pada perlakuan bahan organik briket 2%

briket dengan formula pupuk P1.

4.5.2. Nisbah Evapotranspirasi

Nisbah evapotranspirasi diperoleh dari evapotranspirasi total dibagi

dengan bobot kering. Pengaruh pemberian bahan organik briket dan serbuk

terhadap nisbah evapotranspirasi disajikan pada Tabel 7 dan sidik ragamnya pada

Tabel Lampiran 12. Bahan organik tidak nyata menurunkan nisbah

evapotranspirasi dibandingkan tanpa bahan organik. Nisbah evapotranspirasi

terkecil diperoleh pada perlakuan bahan organik serbuk 1% yaitu sebesar 952.9

artinya untuk menghasilkan 1 kg berat kering diperlukan jumlah air sebanyak

952.9 kg. Menurut Soepardi (1983) efisiensi pemakaian air adalah rendah apabila

Tabel 7. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Nisbah Evapotranspirasi

Formula Pupuk Evapotranspirasi Bahan Organik

P0 P1 P2 Rataan B0 2367.6 1529.8 1169.8 1689.1 a B1 1059.2 732.2 1067.5 952.9 a B2 1070.6 895.7 1097. 9 1021.4 a B3 997.2 807.1 858.8 959.4 a Nisbah Evapotranspirasi B4 1341.4 1418.3 1264.4 1226.6 a Rataan 1341.4 a 1076.6 a 1091.7 a

Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%

Formula pupuk tidak nyata dalam menurunkan nisbah evapotranspirasi.

Nisbah evapotranspirasi terbesar diperoleh pada perlakuan tanpa pupuk yaitu

1341.4 hal ini menunjukkan bahwa efisiensi pemakaian air pada perlakuan

formula pupuk P0 adalah rendah. Interaksi pembe rian bahan organik serbuk dan

briket dengan formula pupuk tidak nyata dalam menurunkan nisbah

evapotranspirasi. B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 500 1000 1500 2000 2500 Nisbah Evapotranspirasi

Dalam dokumen Oleh Marfita Ike Prajayana A (Halaman 43-51)

Dokumen terkait