PENGARUH PEMBERIAN BAHAN ORGANIK BRIKET DAN
SERBUK DENGAN FORMULA PUPUK DALAM MEDIA
TUMBUH TANAMAN PADA BEBERAPA SIFAT TANAH,
PERTUMBUHAN, PRODUKSI, DAN SERAPAN HARA
TANAMAN TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.)
Oleh
Marfita Ike Prajayana
A24101057
PROGRAM STUDI ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RINGKASAN
MARFITA IKE PRAJAYANA, Pengaruh Pemberian Bahan Organik Briket dan Serbuk Dengan Formula Pupuk Dalam Media Tumbuh Tanaman Pada Beberapa Sifat Tanah, Pertumbuhan, Produksi, dan Serapan Hara Tanaman Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.). (dibawah bimbingan SUDARMO dan ATANG SUTANDI)
Tanaman tomat merupakan tanaman yang mengandung kadar air tinggi. Kondisi tanah yang mampu menyediakan air tersedia memadai akan menunja ng pertumbuhan dan produksi tomat. Latosol memiliki sifat meretensi air rendah. Briket merupakan bentuk bahan organik yang dikemas dengan penampilan yang lebih menarik dan dapat digunakan sebagai media tumbuh tanaman. Berdasarkan sifat Latosol yang kemampuan meretensi air rendah serta untuk memenuhi kebutuhan media tanam tomat, maka melalui penelitian ini dikaji pengaruh bahan organik serbuk dan briket dengan formula pupuk dalam media tumbuh tanaman pada beberapa sifat tanah, pertumbuhan, produksi, dan serapan hara tanaman tomat.
Penelitian dilakasanakan di rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan Fakultas Pertanian IPB, Darmaga pada akhir bulan Mei sampai Agustus 2005. Analisis pendahuluan sifat kimia tanah dan analisis pupuk dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah pada bulan Februari sampai Maret 2005. Sedangkan untuk analisis akhir (sifat fisik tanah, kimia tanah, dan analisis tanaman) dilakukan pada bulan September sampai Oktober 2005 di Laboratorium fisika dan kimia tanah, Departemen Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan faktorial 2 faktor. Sebagai faktor 1 adalah bahan organik (BO) terdiri dari 5 taraf yaitu tanpa BO (B0), BO serbuk 1% (50 g/5 kg tanah) (B1), BO briket 1% (50 g/5 kg tanah) (B2), BO briket 2% (100 g/5 kg tanah) (B3), BO briket 3% (150 g/5 kg tanah) (B4). Faktor 2 adalah pemberian formula pupuk terdiri dari 3 taraf yaitu tanpa pupuk (P0), pemberian pupuk dengan dosis urea (175 kg/ha); TSP (350 kg/ha); KCl (200 kg/ha) dan dolomit (500 kg/ha) (P1), pemberian pupuk makro ditambah dengan pupuk mikro: urea (175 kg/ha); TSP (350 kg/ha); KCl (200 kg/ha), dolomit (500 kg/ha) dan Cu (10 kg/ha); Zn (10 kg/ha); B (5 kg/ha); Mo (1 kg/ha) (P2). Dengan demikian diperoleh 15 pe rlakuan yang diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 45 satuan percobaan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan selama 1 musim tanam (10 MST), kombinasi bahan organik serbuk 1% dengan formula pupuk P1 merupakan media tanam terbaik bagi pertumbuha n, produksi, dan serapan hara tomat. Bahan organik serbuk dan briket sangat nyata meningkatkan air tersedia, C/N ratio dan sangat nyata menurunkan ketahanan penetrasi tanah serta tidak nyata menurunkan nisbah evapotranspirasi. Formula pupuk tidak nyata meningkatkan air tersedia dan tidak nyata menurunkan ketahanan penetrasi, nisbah evapotranspirasi dan C/N ratio. Interaksi bahan organik briket dan serbuk dengan formula pupuk berpengaruh nyata terhadap evapotranspirasi total, serapan hara N, P, K, Ca, Mg, Cu, Zn, tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot kering serta tidak menunjukkan
pengaruh yang nyata terhadap air tersedia, C/N ratio tanah, ketahanan penetrasi dan nisbah evapotranspirasi. Tinggi tanaman tertinggi dicapai pada interaksi bahan organik briket 2% dengan formula pupuk P1 yaitu sebesar 110.27 cm. Jumlah daun dan bobot kering tertinggi dicapai pada interaksi bahan organik 1% serbuk dengan formula pupuk P1 dengan nilai masing-masing 134 helai/batang dan 39.60 gram/batang.
SUMMARY
MARFITA IKE PRAJAYANA, The Effect of Added Organic Material and Fertilizer Formula by Briquet and Powder Type to Several Soil Characteristic, Growing, Production, and Nutrition Spare of Tomato Plant (Lycopersicon
esculentum Mill.) (supervised by SUDARMO and ATANG SUTANDI)
Tomato is plant that to content high water. Soil condition that capable to provide water adequately will support the growth and production of tomato. Latosol has a low tendency in water retention. Briquette is an organic material forms that packages interestingly and can be used as a media for crop to grow. base on its nature, Latosol which has the ability to retention water and also to fulfill tomato’s media plantation, therefore this research is to study the affect of organic material of powder and briquette with fertilizer formula in corps growth media at some soil properties , growth, production, and nutrition absorption of tomato.
Research was conducte d in green house at Cikabayan Experimental Garden, Faculty of Agriculture IP B, Darmaga by the end of May until August 2005. Preface Analyses of soil chemistry and fertilizer analysis was accomplished in chemistry laboratory and soil fertility from February until March 2005. While for the final analysis (soil physical, soil chemistry and crop analyses) was done in September until October 2005 in laboratory of physics and soil chemistry, Departmental of soil, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural Institute.
Experimenta l method used in the research was factorial design for 2 factors. As for the 1st factor is organic material (OM) consisted of 5 level, that is non organic material, organic material of powder 1% (50 g/5kg of soil) (B1), organic material of briquette 1% (50 g/5kg of soil) (B2), organic material of briquette 2% (100 g/5kg of soil) (B3), organic material of briquette 3% (150 g/5kg of soil) (B4). The 2nd Factor is fertilizer formula addition consist of 3 level, that is without fertilizer (P0), gift fertilize with urea dose (175 kg/ha); TSP ( 350 kg/ha); KCL ( 200 kg/ha) and dolomite ( 500 kg/ha) ( P1), macro fertilizer added with micro fertilizer: urea ( 175 kg/ha); TSP ( 350 kg/ha); KCL ( 200 kg/ha), dolomite ( 500 kg/ha) and Cu ( 10 kg/ha); Zn ( 10 kg/ha); B ( 5 kg/ha); Mo ( 1 kg/ha) ( P2). Therefore we obtained 15 treatment repeated for 3 times, so that there are 45 set of attempt.
Base on the result of research that conducted during one plantation season, combination of organic material of powder 1% with formula fertilize P1 gift the best media for growth, production, and absorption of tomato nutrition. Organic material of powder and briquette improve the water retention, C/N Ratio and degrade penetrating resilience of soil and also it didn’t degrade ratio of evapotranspiration. Organic substance have an effect to total evapotranspiration. The formula of fertilizer is not improve water availa bility and is not degrade penetrating resilience, ratio of evapotranspiration and C/N ratio. Interaction of organic material of briquette and powder with formula fertilizer is to have an effect on total evapotranspirasi, nutrition absorption of N, P, K, Ca, Mg, Cu, Zn, height of crop, the amount of leaf, and the dry weight and also do not show real influence to pore of water availa bility, C/N soil ratio, penetrating resilience and
ratio evapotranspirasi. the highest crop reached at the interaction of organic material of briquette 2% by formula fertilize P1 that is equal to 110.27 cm. the amount of highest dry weight and leaf reached at the interaction of organic material powder 1% by formula fertilize P1 with value of each 134 sheet/stick and 39.60 g/stick.
PENGARUH PEMBERIAN BAHAN ORGANIK BRIKET DAN
SERBUK DENGAN FORMULA PUPUK DALAM MEDIA
TUMBUH TANAMAN PADA BEBERAPA SIFAT TANAH,
PERTUMBUHAN, PRODUKSI, DAN SERAPAN HARA,
TANAMAN TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.)
Oleh
Marfita Ike Prajayana
A24101057
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pertanian
Pada Fakultas pertanian, Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Penelitian : PENGARUH PEMBERIAN BAHAN ORGANIK BRIKET DAN SERBUK DENGAN FORMULA PUPUK DALAM MEDIA TUMBUH TANAMAN TERHADAP BEBERAPA SIFAT TANAH, PERTUMBUHAN, PRODUKSI, DAN SERAPAN HARA TANAMAN TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.).
Nama Mahasiswa : MARFITA IKE PRAJAYANA
Nomor Pokok : A24101057
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Ir. Sudarmo, MSi Dr. Ir. Atang Sutandi, MS NIP. 131 284 622 NIP. 130 937 427
Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Supia ndi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kabupaten Blora, Propinsi Jawa Tengah pada tanggal
11 Maret 1984. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari
pasangan Bapak Junaedi, S.Pd dan Ibu Suci Rahayu, S.Pd.
Penulis memulai pendidikan formal di TK Aisyiyah II pada tahun 1989.
Tahun 1995 penulis lulus dari SD Negeri Mojorembun 02, kemudian pada tahun
1998 penulis menyelesaikan studi di SLTP N 1 Randublatung. Selanjutnya
penulis meneruskan studi di SMU Negeri 1 Randublatung dan lulus pada tahun
2001. Tahun 2001 penulis diterima di IPB sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu
Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian
melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Mahasiswa IPB).
Selama menjalankan pendidikan di IPB penulis berkesempatan menjadi
asisten mata kuliah Geomorfologi Tanah dan Analisis Lanskap pada periode
2003/2004. Pada periode yang sama penulis aktif di HMIT (Himpunan
Mahasiswa Ilmu Tanah) salah satu HIMPRO (Himpunan Profesi) di IPB sebagai
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Alhamdulillah rabbil alamin , Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penelitian dengan judul
“Pengaruh Pemberian Baha n Organik Serbuk dan Briket dengan Formula Pupuk
dalam Media Tumbuh Tanaman Pada Beberapa Sifat Tanah, Pertumbuhan,
Produksi, dan Serapan Hara Tanaman Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.)”
dapat diselesaikan dengan baik sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pertanian di Departemen Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih
kepada Dr. Ir. Sudarmo, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi, yang telah
memberikan bimbingannya selama masa persiapan, pelaksanaan penelitian, dan
penulisan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Atang
Sutandi, M.S selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan saran dan
masukan selama penulis melakukan penelitian.
Penulis menyadari bahwa penulisan ini tidak terlepas daripada dorongan
dan bantuan berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ungkapan terima kasih kepada :
1. Ibu, Bapak, Hesti (adik) dan seluruh keluargaku yang tanpa hentinya
memberikan do’a, semangat serta dukungan dan kasih sayang kepada
penulis.
2. Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc selaku dosen penguji
4. Ibu Tini selaku staf perpustakaan ”Terima kasih atas bantuannya di dalam
pencarian berbagai literatur” Pak udin, Mas Ipul, Pak Koyo, Pak Dadi, Ibu
Yani selaku staf Laboratorium ”Terima kasih atas bantuannya dalam
penyediaan alat dan bahan untuk kebutuhan analisis Laborator ium” Pak
Romli ”Terima kasih atas bantuannya selama penelitian di rumah kaca”
5. “Agung” Terima kasih atas dukungan, do’a, semangat, dan perhatian yang
diberikan kepada penulis selama ini.
6. ”Pipin” Terima kasih atas informasinya tentang statistik.
7. ”Raihana crew” sebagai keluarga keduaku terima kasih atas perhatian,
kebersamaan dan persahabatannya.
8. Teman-teman Tanah 38 (Ricka, Apie, Nita, Yayah, Endang, Patma, Ien,
Imasy) serta teman-teman yang tidak mungkin penulis sebutkan satu
persatu Terima kasih telah memberikan masukan dan saran kepada penulis
selama peneletian dan penulisan skripsi.
9. ”Konco-konco Jowo ku (Satria, Rini, Anik, Dwi, Eka, Imam, Aris)”
Terima kasih atas semangat, perhatian, dan persahabatannya.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih belum sempurna dan banyak
sekali kekurangan. Saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis
harapkan. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Bogor, Februari 2006
DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ... vi DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... xi BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 3 1.3. Hipotesis ... 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sifat-sifat Umum Latosol... 4
2.2. Pengaruh Pemberian Bahan Organik Terhadap Sifat Tanah, Evapotranspirasi, dan Pertumbuhan. 2.2.1. Sifat Tanah ... 5
2.2.2. Evapotranspirasi ... 7
2.2.3 Pertumbuhan Tanaman ... 8
2.3. Media Tumbuh Tanaman ... 9
BAB III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... 11
3.2. Bahan dan Alat ... 11
3.3. Metode 3.3.1. Percobaan Rumah Kaca ... 12
3.3.2. Pelaksanaan Penelitian ... 13
3.3.3. Analisis Laboratorium ... 18
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Sifat-sifat Tanah Latosol ... 22
4.2. Sifat Kimia Bahan Organik ... 22
4.3. Sifat-sifat Media Tumbuh Tanaman 4.3.1. Ketahanan Penetrasi ... 23
4.3.2. Air tersedia ... 25
4.3.3. C/N Ratio Tanah ... 27
4.4. Pertumbuhan dan Produksi Tomat ... 28
4.5. Evapotranspirasi 4.5.1. Evapotranspirasi Total ... 32
4.5.2. Nisbah Evapotranspirasi ... 34
4.6. Serapan Hara ... 36
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 39
5.2. Saran ... 40
DAFTAR PUSTAKA... 41
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Teks
1. Jenis Analisis dan Metode ... 19
2. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Ketahanan Penetrasi... 24
3. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Air Tersedia ... 26
4. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap C/N Ratio ... 27
5. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tomat... 29
6. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Evapotranspirasi Total... 33
7. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Nisbah Evapotranspirasi... 35
8. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Serapan Hara Tanaman... 37
Lampiran 1. Hasil Analisis Pendahuluan Tanah Latosol Darmaga ... 44
2. Hasil Analisis Kimia Briket ... 44
3. Hasil Uji Duncan Pengaruh Perlakuan Terhadap Sifat Tanah, Evapotranspirasi, Pertumbuhan, Produksi dan Serapan Hara Tomat.. 45
4. Hasil Uji Duncan Pengaruh Interaksi Terhadap Sifat Tanah, Evapotranspirasi, Pertumbuhan, Produksi dan Serapan Hara Tomat.. 46
5. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap Ketahanan Tanah... 49
6. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap Air Tersedia ... 49
7. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap C/N Ratio Tanah ... 49
8. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap Tinggi Tanaman ... 49
10. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap Bobot Kering Tomat ... 50
11. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap Evapotranspirasi Total... 50
12. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap Nisbah Evapotranspirasi.. 50
13. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap Serapan Hara N ... 51
14. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap Serapan Hara P ... 51
15. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhada p Serapan Hara K ... 51
16. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap Serapan Hara Ca ... 51
17. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap Serapan Hara Mg ... 52
18. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Terhadap Serapan Hara Cu ... 52
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
Teks
1. Bahan Organik Dalam Bentuk Briket 1%, 2% dan 3 % ... 14
2. Grafik Tinggi Tanaman 10 MST Pada Masing-masing Perlakuan ... 31
3. Grafik Bobot Kering Pada Masing-masing Perlakuan ... 31
4. Grafik Evapotranspirasi Total Pada Masing-masing Perlakuan... 33
5. Grafik Nisbah Evapotranspirasi Pada Masing-masing Perlakuan... 35
Lampiran 1. Tanaman Tomat 8 MST Pada Perlakuan Bahan Organik 1% Serbuk, Tanpa Bahan Organik dan Bahan Organik 1% Briket ... 53
2. Tanaman Tomat 8 MST Pada Perlakuan Bahan Organik Serbuk 1%... 53
3. Tanaman Tomat 8 MST Pada Perlakuan Kombinasi Media Tanam Terbaik ... 54
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) merupakan sayuran dataran tinggi
yang dapat dimanfaatkan buahnya. Tomat termasuk salah satu komoditas
hortikultura yang mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Sayuran
buah ini disukai karena rasanya enak, segar dan sedikit asam. Selain itu, dinilai
dari kandungan gizi menurut Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI (1981),
untuk setiap 100 g buah tomat masak mengandung 21 kalori; 1.0 g protein; 0.3 g
lemak; 4.2 g karbohidrat; 5 mg kalsium; 27 mg fosfor; 0.5 mg besi; 1500 SI
Vitamin A; .06 mg Vitamin B1; 40 mg Vitamin C dan 94.0 g air.
Produksi tomat di Indonesia dapat ditingkatkan dengan ditemukannya
teknologi budidaya yang lebih baik. Pertumbuhan maksimal dapat diperoleh
apabila media tanam yang digunakan optimum untuk mendukung pertumbuhan
akar, terutama kemampuannya untuk memegang serta menyediakan air dan unsur
hara bagi tanaman.
Tanah yang sesuai untuk tomat adalah tanah yang berstruktur remah,
gembur, tidak terlalu liat, dan tidak terlalu porous serta kaya bahan organik.
Latosol merupakan salah satu jenis tanah mineral yang telah mengalami tingkat
perkembangan lanjut bersolum tebal dengan batas horison yang baur, sifat
fisiknya cukup baik bagi tanaman tahunan tetapi tidak baik untuk tanaman
musiman seperti tanaman sayur yang memerlukan air dalam jumlah cukup. Tanah
ini memiliki lapisan olah yang gembur dan permeabilitas yang berada pada
disebabkan oleh Latosol yang didominasi oleh mineral liat tipe 1:1 (kaolinit) dan
kurang baik untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Untuk meningkatkan daya
pegang air maka digunakan bahan organik.
Limbah merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh negara
Indonesia. Volume limbah setiap hari meningkat, sedangkan usaha-usaha
penanggulangannya belum seimbang. Kotoran sapi merupakan salah satu jenis
limbah pertanian, yang masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik tanah.
Bahan organik memiliki kemampuan menahan air yang tinggi dan juga berperan
dalam menyediakan sumber energi bagi aktifitas organisme tanah baik makro
maupun mikro. Jumlah kotoran sapi cukup besar, tetapi penggunaan dan
pemanfaatannya belum optimal.
Bertolak dari keadaan tersebut di atas, maka diperlukan adanya usaha
pemanfaatan kotoran sapi dimana kotoran sapi tersebut selain berfungsi sebagai
bahan organik tanah juga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat fisik
tanah. Penampilan kotoran sapi kurang menarik terutama bila akan digunakan
untuk tanaman sayur dalam media tanam di pot. Untuk memperbaiki penampilan
kotoran sapi sehingga mudah digunakan, maka salah satu alternatif pemecahan
masalah tersebut adalah penggunaan briket.
Briket merupakan bentuk bahan organik yang dikemas dengan penampilan
yang lebih menarik dan dapat digunakan sebagai media tumbuh tanaman. Selain
berfungsi sebagai bahan organik, briket juga dapat diguna kan sebagai media
tanam pengganti. Apabila briket dicampurkan kedalam media tumbuh tanaman,
1.2 Tujuan
Mengetahui pengaruh pemberian bahan organik briket dan serbuk yang
tidak diperkaya dan yang diperkaya dengan pupuk terhadap sifat tanah,
pertumbuhan, produksi, dan serapan hara tanaman tomat.
1.3 HIPOTESIS
1. Terdapat perbedaan respon akibat pemberian bahan organik briket dan
serbuk yang tidak diperkaya dan yang diperkaya dengan pupuk terhadap
sifat tanah, pertumbuhan, produksi, dan serapan hara tanaman tomat.
2. Terdapat kombinasi pemberian bahan organik briket dan serbuk dengan
formula pupuk yang dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap
II. TINJUAN PUSTAKA
2.1 Sifat–sifat Umum Latosol
Sifat Latosol yang paling menonjol dan penting adalah terbentuknya
keadaan granular. Keadaan itu merangsang drainase dalam yang sangat baik.
Latosol dapat dig unakan untuk pertanian meskipun dibawah tekanan curah hujan
yang dapat menyebabkan suatu tanah tidak dapat diolah (Soepardi, 1979). Adapun
sifat-sifat fisik tanah Latosol adalah bertekstur lempung hingga liat, kadar liat
berkisar antara 50-90 % dan debu berkisar dari 3-30 %; perbedaan tekstur yang
jelas tidak ada; strukturnya granuler, remah hingga gumpal lemah; konsistensinya
gembur; drainase dalam yang baik; permeabilitas yang tinggi; stabilitas agregat
tinggi dan kepekaan terhadap erosi rendah. Sedangkan sifat-sifat kimia umumnya
kurang baik, kandungan unsur haranya rendah, KTK rendah, jumlah basa-basa
rendah dan seskuioksida tinggi serta kandungan silika rendah, kandungan Al dan
Fe yang dapat dipertukarkan relatif tinggi, derajat kemasaman tanah rendah
(Dudal dan Supraptoharjo, 1957).
Soepardi (1979) mengatakan bahwa KTK Latosol yang rendah sebagian
disebabkan oleh kadar bahan organik yang kurang dan sebagian lagi oleh sifat liat
hidro-oksida. Mereka sangat miskin akan basa-basa dapat dipertukarkan. Ini
berarti bahwa tingkat kesuburannya sangat rendah. Dengan demikian tanpa
tindakan-tindakan tertentu pada tanah ini akan segera mengalami penurunan
kesuburannya bila digunakan untuk pertanian. Dengan demikian tanah tersebut
memerlukan banyak pupuk bila akan digunakan secara intensif. Satu kerugian dari
superfosfat. Oksida dari Fe dan Al menyebabkan pupuk fosfor tidak tersedia bagi
tanaman karena diikat kuat olehnya. Beberapa Latosol bereaksi sedang bahkan
hingga sangat masam. Latosol dapat memberikan respons yang baik terhadap
pengapuran maupun pemupukan walaupun diberikan dalam jumlah sedikit.
2.2. Pengaruh Pemberian Bahan Organik Terhadap Sifat Tanah, Evapotranspirasi, dan Pertumbuhan Tanaman
2.2.1. Sifat Tanah
Bahan organik adalah merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis,
berasal dari sisa tanaman dan hewan yang mengalami perubahan bentuk secara
terus menerus. Perubahan-perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa fakt or
yaitu faktor fisika, kimia dan biologi (Kononova, 1974). Terhadap sifat fisik tanah
bahan organik berperan dalam pembentukan agregat yang mantap sehingga aerasi,
kapasitas menahan air dan permeabilitas tanah dapat ditingkatkan. Bahan organik
merupakan agen sementasi yang mempunyai pengaruh terhadap sifat fisik tanah.
Bahan organik memungkinkan partikel-partikel lepas terikat kuat membentuk
agregat yang besar dan sarang, memperbaiki struktur tanah lapisan atas yang
stabil. Selanjutnya pemberian bahan organik akan meningkatkan jumlah dan
stabilitas agregat (Hartatik, Rochayati, dan Adiningsih, 1993). Menurut Soepardi
(1983) Penambahan bahan organik akan meningkatkan populasi jasad renik,
sehingga kegiatan jasad ini dalam tanah akan meningkat. Mikrobia -mikrobia
dalam tanah akan tumbuh dan hasil dekomposisi membantu
pengikatan-pengikatan partikel-partikel tanah yang baik. Pengaruh pemberian bahan organik
ke dalam tanah terhadap sifat-sifat fisik tanah mencakup (1) Memperbaiki dan
Meningkatkan kapasitas menahan air, (4) Meningkatkan infiltrasi, (5)
Menurunkan kepekaan terhadap erosi (Stevenson, 1982, Donahue, Miller, dan
Sthicklund, 1977). Salah satu sifat yang penting dari bahan organik tanah ini
adalah mempunyai daya serap dan cengkraman air yang cukup besar. Bahan
organik berfungsi sebagai spon yang dapat mengisap air sebanyak mungkin sesuai
dengan volumenya. Karena sifatnya yang juga porous, bahan organik tersebut
mudah meneruskan air (drainase) atau infiltrasi (Ashari, 1995).
Menurut Rinsema (1983) di dalam pupuk organik termasuk berbagai
macam kotoran binatang (kotoran sapi, babi, ayam, dan lain-lain), hasil buangan
dari binatang dan tanaman (kompos dan endapan dari kotoran pembersihan air)
serta pupuk hijau. Pupuk organik mengandung berbagai macam zat makanan
tanaman yang sebagian terdapat di dalam persenyawaan kimia yang sama seperti
pupuk buatan. Pupuk organik sangat penting terutama karena sebagai berikut :
1. Memperbaiki struktur tanah. Pada waktu penguraian bahan organik oleh
organisme di dalam tanah dibentuk produk yang mempunyai sifat sebagai
perekat, yang lalu mengikat partikel tanah.
2. Menaikkan daya serap tanah terhadap air. Bahan organik mempunyai daya
serap yang besar terhadap air tanah. Karena itu pupuk organik sering kali
mempunyai pengaruh positif terhadap hasil tanaman, apalagi pada musim
panas yang kering.
3. Menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah. Berbagai organisme di dalam tanah mempunyai fungsi penting yang beraneka ragam sifatnya.
4. Mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Unsur hara yang
Bagian yang penting daripadanya baru tersedia sesudah terurainya bahan
organik.
Secara kimia, bahan or ganik meningkatkan penyimpanan atau persediaan
unsur hara tanaman (Millar et al., 1960). Stevenson (1982) menyatakan bahwa
bahan organik dapat mempengaruhi sifat-sifat kimia tanah karena peranannya
sebagai : (1) Salah satu sumber unsur hara, (2) Pengikat unsur mikro dan
kation-kation, (3) Meningkatkan KTK tanah, (4) Meningkatkan ketersediaan fosfor
tanah sebagai hasil mineralisasi dari mikroorganisme. Bahan organik dapat
menekan kelarutan tinggi unsur beracun. Bahan organik yang diberikan ke dalam
tanah akan melapuk menjadi C-organik dan N-organik, terutama yang disuplai
dari pupuk kandang kotoran sapi (Nursyamsi et al., 1995).
Tisdale, Nelson dan Beaton (1985) menggolongkan bahan organik dalam 2
tingkatan. Pertama adalah bahan organik yang relatif stabil dan agak resisten
terhadap dekomposisi selanjutnya, sering disebut sebagai humus. Kedua meliputi
semua bahan organik secara cepat dapat didekomposisikan yaitu sisa-sisa tanaman
yang masih segar.
Briket merupakan bentuk bahan organik yang telah dikomposka n. Fungsi
briket ini diarahkan untuk merangsang pertumbuhan benih anakan sehingga
diperoleh tanaman yang berkualitas baik (Sudrajat et al. 1995)
2.2.2 Evapotranspirasi
Kehilangan uap air dari tanah terjadi melalui evaporasi pada permukaan
tanah dan tra nspirasi pada permukaan daun dari air yang sebelumnya diserap oleh
tanaman. Keduanya secara bersama-sama disebut sebagai evapotranspirasi
Menurut Kittradge (1948 dalam Haridjaja, et al., 1990) evapotranspirasi adalah
konversi air dari fase cair ke fase gas yang diuapkan ke atmosfer yang meliputi
penguapan air dari permukaan tanah dan permukaan air bebas (evaporasi),
kemudian penguapan air yang berasal dari tanah dihisap oleh tumbuha n, setelah
melalui jaringan tumbuhan diuapkan melalui stomata dan kutikula (transpirasi),
serta penguapan air yang tertahan oleh permukaan vegetasi (intersepsi) dan
serasah sebelum air hujan jatuh mencapai permukaan tanah. Lebih lanjut
dikemukakan bahwa pr oses transpirasi dan evaporasi dari permukaan tanah
bersama -sama disebut evapotranspirasi atau pemakaian air (consumptive use)
2.2.3. Pertumbuhan Tanaman
Pertumbuhan tanaman dari kecambah sampai dewasa banyak dipengaruhi
oleh bahan organik. Sisa-sisa tanaman yang dikembalikan ke dalam tanah
membuat keadaan yang merangsang perkecambahan biji. Setelah bahan organik
melapuk unsur hara dan asam-asam yang dilepaskan banyak mempengaruhi
pertumbuhan tanaman selanjutnya (Kononova, 1966)
Mulder (1966 dalam Kononova, 1966) mengatakan bahwa asam organik
dengan berat molekul rendah (formic, acetic, propionic, aspartic) menstimulasi
pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan yang kurang baik terjadi apabila komponen
tersebut tidak ada. Bottomley (1914 dalam Kononova, 1966) menjelaskan bahwa
zat yang merangsang pertumbuhan tanaman tersebut berbentuk auksin.
Selanjutnya Hillitzer (1932 dalam Kononova, 1966) menjelaskan bahwa auksin
tersebut terbentuk melalui humus yang terlarut dalam air. Menurut Walls (1993)
persentase bahan organik sangat berguna pada budidaya dengan media tanah,
Bahan organik tanah merupakan fraksi tanah yang berasal dari organisme
hidup seperti sisa-sisa daun, ranting, akar, sampah dan sebagainya. Bahan organik
juga merupakan sumber bahan mineral yang tersedia bagi tanaman setelah
mengalami pelapukan sempurna. Mineralisasi merupakan proses pelapukan bahan
organik, baik yang dilakukan oleh bakteri maupun kapang serta mikroba lainnya
menjadi air dan karbondioksida dengan membebaskan beberapa unsur mineral
(Ashari, 1995).
Kononova (1966) menyatakan bahwa peranan bahan organik dalam tanah
adalah (1) Membantu proses penghancuran dan perubahan bagian-bagian mineral
tanah, (2) Sebagai sumber unsur hara tanaman, (3) Pembentuk agregat mantap air,
(4) Berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman
karena serapan hara ditingkatkan sebagai akibat kegiatan respirasi yang
dirangsang.
2.3. Media Tumbuh Tanaman
Tanah merupakan satu-satunya media tanam karena tanah mengandung
bahan energi berupa bahan organik dan mikroorganisme, mampu menyediakan
hara yang diperlukan tanaman, mampu menahan air, memiliki pori yang cukup
serta dapat menunjang tubuh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan
baik (Soepardi, 1983). Tanaman tomat dapat tumbuh pada berbagai tanah. Tanah
harus berdrainase baik, tidak tergenang atau becek dan sedikit asam (5.0-7.0)
(Harjadi dan Sunaryono, 1989). Sedangkan menurut Wiryanta (2002), Tanaman
tomat dapat tumbuh pada tanah Andosol, Regosol, Latosol, Ultisol, dan
Grumusol. Tanah yang sesuai untuk tomat adalah tanah yang berstruktur remah,
Kondisi tanah yang paling cocok untuk bertanam tomat adalah lempung berpasir
yang gembur dan banyak mengandung unsur hara. Jika tanahnya kurang cocok
untuk pertumbuhan tanaman tomat bisa dimanipulasi lewat pemupukan, baik
pupuk organik maupun pupuk anorganik. Menurut Sumarni (1996 dalam Duriati,
1997), kebutuhan pupuk untuk tanaman di lapang da n di rumah kaca akan
berbeda, karena tanaman di lapang selain memperoleh hara dari pemupukan, juga
mendapatkan hara dari dalam tanah. Karena daerah perakarannya menjadi lebih
luas. Sedangkan tanaman yang ditanam dalam polibag di dalam rumah kaca,
hanya me mperoleh hara dari pemupukan sehingga pupuk yang diberikan lebih
banyak dari pemupukan untuk tanaman di lapang. Villareal (1980) menyatakan
bahwa tomat dapat tumbuh dengan subur pada ketinggian tempat dan berbagai
III. BAHAN DAN METODE
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakasanakan di rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan
Fakultas Pertanian IPB, Darmaga pada akhir bulan Mei sampai Agustus 2005.
Analisis pendahuluan sifat kimia tanah dan analisis pupuk dilaksanakan di
Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah pada bulan Februari sampai Maret
2005. Sedangkan untuk analisis akhir (sifat fisik tanah, kimia tanah, dan analisis
tanaman) dilakukan pada bulan September sampai Oktober 2005 di Laboratorium
Fisika dan Konservasi Tanah dan Air; dan Kesuburan dan Kimia tanah,
Departemen Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian rumah kaca adalah pupuk organik
kotoran sapi dalam bentuk briket dan non briket dengan dosis 1%, 2%, 3%
terhadap bobot tanah, pupuk makro (urea, TSP, dan KCl) dan mikro (Cu, Zn, B,
Mo) serta tanah Latosol Darmaga sebanyak 5 kg/pot dan benih tomat San Marino.
Sedangkan bahan kimia untuk analisis sifat-sifat tanah adalah K2Cr2O7, FeSO4,
HCl pekat, NaOH teknis, H3BO3, Se-mixer, Parafin cair, HNO3, HClO4 H2SO4,
lantan, larutan PC dan PB.
Alat yang digunakan saat pengambilan contoh tanah dalam hal ini contoh
tanah terganggu adalah kantong plastik/karung, tali untuk pengikat, sekop dan
cangkul. Alat yang digunakan dalam persiapan percobaan adalah ayakan tanah
dengan diameter 0.5 cm, ember dan karung. Alat yang digunakan saat di rumah
penggaris dan alat tulis. Se dangkan alat-alat yang digunakan dalam laboratorium
adalah peralatan lab untuk sifat-sifat fisik tanah, sifat kimia tanah dan tanaman.
3.3 Metode
3.3.1. Percobaan Rumah Kaca
Perlakuan yang diuji terdiri dari 2 faktor. Sebagai faktor kesatu adalah
pemberian bahan organik dalam bentuk briket dan serbuk terdiri dari 5 taraf yaitu
tanpa bahan organik (Bo), Bahan organik serbuk dengan dosis 1 % (50 g/5 kg bobot tanah) (B1), bahan organik briket dengan dosis 1 % (50 g/5 kg bobot tanah)
dengan diameter lua r, dalam dan tinggi (11, 3.5, dan 2 cm) (B2), bahan organik
briket dengan dosis 2 % (100 g/5 kg bobot tanah) dengan diameter luar, dalam dan
tinggi (11, 3.5, dan 4 cm) (B3), bahan organik briket dengan dosis 3 % (150 g/5
kg bobot tanah) dengan diameter luar, dalam dan tinggi (11, 3.5, dan 6 cm) (B4).
Faktor kedua adalah pemberian formula pupuk terdiri dari 3 taraf yaitu tanpa
pupuk (P0), pemberian pupuk dengan dosis urea (175 kg/ha); TSP (350 kg/ha);
KCl (200 kg/ha) dan dolomit (500 kg/ha) (P1), pemberian pupuk makro ditambah
dengan pupuk mikro: urea (175 kg/ha); TSP (350 kg/ha); KCl (200 kg/ha),
dolomit (500 kg/ha) dan Cu (10 kg/ha); Zn (10 kg/ha); B (5 kg/ha); Mo (1 kg/ha)
(P2). Dengan demikian, diperoleh 15 macam perlakuan yang diulang sebanyak 3
kali, sehingga terdapat 45 satuan percobaan. Bobot tanah kering yang digunakan
untuk masing-masing polibag adalah 5 kg (sebanyak 45 polibag). Dimana setiap
polibag diberikan perlakuan yang berbeda-beda yang pertama adalah perbedaan
dari dosis bahan organik dan yang kedua adalah perbedaan dari penambahan
3.3.2 Pelaksanaan Penelitian
Persiapan Alat dan Bahan. Kegiatan ini meliputi pengambilan sampel
tanah, penumbukan dan pengayakan tanah , penyediaan pupuk kandang (kotoran
sapi), pengeringan, penghalusan dan pengayakan kotoran sapi, penyediaan benih
tomat varietas San Marino, penyediaan pupuk (Urea, TSP, KCl, dolomit) dan
beberapa pupuk mikro (Cu, Zn, B, Mo) sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan.
Pembuatan alat pencetak briket sesuai dengan ukuran briket.
Proses Pembuatan Briket. Briket organik adalah campuran bahan
organik dengan kombinasi bahan-bahan lain (Urea, TSP, KCl, dolomit, pupuk
mikro) yang dikemas dengan penampilan yang lebih menarik.
1. Persiapan ba han baku
Mempersiapkan terlebih dahulu bahan baku yang akan digunakan (kotoran
sapi setengah matang).
2. Pengayakan bahan baku
Bahan baku tersebut dikeringkan, dihaluskan, kemudian diayak dengan
menggunakan ayakan 0.5 cm. Hal ini dilakukan untuk membentuk briket yang
baik. Ukuran partikel yang terlalu besar akan sukar pada waktu dilakukan
perekatan, sehingga akan mengurangi keteguhan briket.
3. Pencampuran bahan-bahan briket
Bahan baku yang telah diayak tersebut ditambahkan dengan bahan-bahan
adonan briket sesuai dengan kombinasi yang telah ditetapkan.
4. Pencetakan
Pengepakan dalam pembuatan briket dilakukan dengan menggunakan alat
konvensional, terbuat dari paralon yang dirancang berdasarkan ukuran briket
yaitu diameter luar 11 cm dan dalam 3.5 cm. Pengepakan harus dilakukan
dengan daya tekan yang kuat dan sama untuk masing-masing briket.
6. Pengeringan
Suhu dan waktu pengeringan tergantung dari kadar air dan macam pengering.
Suhu pengeringan yang umum dilakukan adalah sebesar 60 oC sela ma 24 jam.
Gambar 1. Bahan Organik Dalam Bentuk Briket 1%, 2% dan 3 %
Persemaian. Benih tomat sebaiknya tidak langsung ditanam dalam
polibag, melainkan disemai terlebih dahulu dalam media semai. Sebelum disemai
benih tomat direndam dulu dengan air hangat suam-suam kuku selama satu
malam. Hal ini dilakukan agar biji tomat mudah berkecambah.
Persemaian tomat dilakukan pada tray yang terbuat dari plastik. Setiap
satu lubang tray diisi satu benih tomat. Media semai yang diguna kan adalah tanah
dan pupuk kompos dengan perbandingan 2:1. Dua ember tanah (± 3 liter)
150 gram dan furadan sebanyak 75 gram. Bahan-bahan tersebut kemudian
dimasukkan kedalam 45 lubang tray.
Penyiapan Media Tanam. Media tanam yang paling bagus digunakan
untuk bertanam tomat adalah tanah yang subur dan gembur (banyak mengandung
unsur hara) dengan pH tanah ideal untuk tanaman tomat berkisar 6-7. Media yang
telah tersedia diayak terlebih dahulu dengan tujuan menyaring kotoran.
Penyaringan dilakukan pada awal (persiapan percobaan) dengan menggunakan
ayakan tanah yang terbuat dari kawat dan ukuran diameter lubang 5 mm. Semua
media yang sudah halus kemudian dimasukkan ke dalam plastik polibag yang
berukuran 30 x 50 cm sebanyak 5 kg. Briket diletakkan ke dalam polibag yang
sudah diisi dengan media tanam tepat di tengah dan bahan organik serbuk
dicampur rata dengan tanah.
Penanaman. Setelah tomat berumur 21 hari di dalam media semai, tomat
segera dipindahkan ke dalam polibag yang sudah terisi dengan media tanam. Pada
waktu penanaman, media tanam bibit yang terdapat pada tray tersebut didorong
keatas dengan hati-hati sehingga tanah yang membungkus akar tomat tidak pecah
dan akarnya tidak rusak. Bibit tomat yang dipilih untuk ditanam memiliki ukuran
seragam, subur. Bibit tomat ditanam hanya sampai sebatas leher akar kemudian
ditimbun lagi dengan menggunakan media tanam.
Perawatan Tanaman Tomat. Perawatan pada polibag dalam rumah kaca
meliputi pemangkasan, pembersihan gulma, pemasangan ajir atau turus, dan
pengairan.
Pemangkasan dilakukan 1 minggu sekali dengan tujuan untuk mencapai
perimbangan pertumbuhan vegetatif reproduktif. Pemangkasan tanaman tomat
dilakukan terhadap daun tua dan daun yang terserang penyakit. Pemangkasan
daun tua/daun yang terkena serangan HPT bertujuan untuk memperlancar sinar
matahari yang masuk ke tanaman dan mengurangi resiko menularnya hama dan
penyakit. Daun yang dipangkas disimpan dalam plastik dengan tujuan agar berat
kering masing-masing tanaman tidak ada yang hilang.
2. Pembersihan gulma
Pembersihan gulma dilakukan 2 minggu sekali. Gulma yang tumbuh harus
segera dibersihkan karena gulma tersebut akan mengambil unsur hara yang
dibutuhkan oleh tanaman tomat sehingga akan menghambat dan mengganggu
pertumbuhan tanaman tomat.
4. Pemasangan ajir atau turus
Fungsi ajir antara lain untuk membantu menegakkan tanaman, mencegah
tanaman roboh karena beban buah, membantu penyebaran daun, mengatur
pertumbuhan tunas dan ranting, mempermudah penyiangan, mempermudah
penyemprotan atau pemupukan. Pemasangan ajir di dalam polibag dilakukan
segera setelah tanam. Ajir dibuat dengan menggunakan benang kasur yang
ditalikan pada tanaman tomat dengan kawat yang di pasang pada kerangka rumah
kaca.
5. Pengairan
Pengairan termasuk faktor penting dalam pertumbuhan tanaman tomat.
Salah satu tujuan pengairan adalah mengganti air yang hilang akibat diserap
berguna dalam proses pembentukan bunga dan buah. Pemberian air dilakukan
setiap hari dengan cara menambahkan sejumlah air pada pot sampai jumlah air
yang menetes pada masing-masing perlakuan hampir sama (mendekati kapasitas
lapang), air yang menetes akan dikembalikan lagi ke dalam polibag pada hari
berikutnya.
Pemanenan. Pembentukan buah terjadi ketika tanaman tomat berumur 8
MST secara tidak serempak. Pemanenan dilakukan ketika tanaman tomat berumur
10 MST.
Pengamatan yang dilakukan
1. Jumlah Air Kapasitas Lapang
Penyiraman dilakukan setiap hari sampai dengan kapasitas lapang.
2. Evapotranspirasi
Evapotranspirasi diukur dari penambahan air (air yang ditambahkan +
jumlah air yang menetes pada hari sebelumnya) dikurangi dengan jumlah air yang
menetes pada hari berikutnya.
3. Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman diukur dari mulai pangkal batang sampai dengan titik
tumbuh yang tertinggi. Tinggi tanaman diamati 1 kali dalam setiap minggu
mulai dari 1 MST sampai 10 MST.
4. Jumlah Daun
Daun yang dihitung adalah daun sejati yang telah membuka sempurna.
Jumlah daun dihitung 1 kali dalam setiap minggu mulai dari 1 MST sampai
10 MST.
Bunga yang diamati adalah bunga yang telah mekar sempurna. Jumlah
bunga dihitung sejak bunga pertama mekar,
Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui respon dari perbedaan
kombinasi dosis pupuk maupun dosis bahan organik dalam bentuk yang berbeda
yaitu briket dan non briket yang diberikan pada masing-masing tanaman tomat,
serta mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dan menghambat
pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat.
3.3.3. Analisis Laboratorium
Analisis awal yang dilakukan di Laboratorium terdiri atas
penetapan-penetapan sifat kimia tanah dan sifat kimia kotoran sapi. Sifat kimia tanah antara
lain pH H2O, pH KCl, C-org, N-total, P (Bray 1), P (HCl 25 %), Ca, Mg, K, Na,
KTK (N NH4OAc pH 7), KB, (Al, H) (N KCl), Fe, Cu, Zn, Mn (0.05 N HCl) dan
tekstur. Sedangkan sifat kimia kotoran sapi adalah N-total, P (Bray 1), K, Ca, Mg
(N NH4OAc pH 7), C-org. Sifat fisik tanah yang ditetapkan pada analisis akhir
adalah kadar air (pF 1, pF 2, pF 2.54, pF 4.2), dan ketahanan tanah terhadap
penetrasi. Sifat kimia tanah dan briket yang ditetapkan pada analisis akhir adala h
N total, C organik, C/N ratio. Pada analisis akhir dilakukan juga analisis tanaman
yaitu N-total, P, K, Ca, Mg, Cu dan Zn (pengabuan basah).
Penetapan ketahanan penetrasi dilakukan setelah panen dengan
menggunakan penetrometer pada saat kondisi tanah berada pada kondisi lapang.
Penekanan penetrometer secara vertikal dilakukan dengan tekanan yang tetap
pada permukaan tanah sampai penembusan mencapai celah kalibrasi. Pada
tepat pa da briket dengan 2 kali ulangan pada tempat yang berbeda untuk
memperoleh nilai rata-rata.
Penetapan kadar air (pF 1, pF 2, pF 2.54, dan pF 4.2) dilakukan dengan
menggunakan contoh tanah utuh yang diambil dari masing-masing perlakuan.
Pada perlakuan bahan organik briket, tanah diambil dibagian bawah briket dengan
cara diiris. Sedangkan pada perlakuan tanpa bahan organik dan bahan organik
serbuk, tanah langsung diambil pada kedalaman 10 cm dari permukaan tanah.
Tanah untuk penetapan pF 1, pF 2, pF 2.54 diletakkan di atas piringan (plate)
dalam ”Pressure Plate Aparatus”, sedangkan tanah untuk penetapan pF 4.2
diletakkan di atas piringan dalam ”Membrane Plate Aparatus”. Beberapa jenis
analisis dan metode yang digunakan seperti Tabel 1 dibawah.
Tabel 1. Jenis Analisis dan Metode
Komponen Analisis Metode (1) (2)
Fisik Tanah
Bobot Isi Cara Gravimetrik/Volumetrik Kadar Air Cara Gravimetrik
Kurva pF Pressure Plate dan Membran Plate Apparatus Kekuatan/Ketahanan Penetrometer Saku Tekstur Pipet
Kimia Tanaman
Nitrogen (N) Kjeldahl
Phospor (P) Pengabuan Basah Kalium (K) Pengabuan Basah Kalsium (Ca) Pengabuan Basah Magnesium (Mg) Pengabuan Basah Tembaga (Cu) Pengabuan Basah Seng (Zn) Pengabuan Basah
Tabel 1. Jenis Analisis dan Metode (lanjutan)
(1) (2)
Kimia Tanah
pH (1:1) H2O pH meter
pH (1:1) KCl pH meter
C-org Walkley dan Black N-total Kjelda hl P Bray 1 P HCl 25 % Ca (me/100g) N NH4OAc pH 7 Mg (me/100g) N NH4OAc pH 7 K (me/100g) N NH4OAc pH 7 Na (me/100g) N NH4OAc pH 7 KTK (me/100g) N NH4OAc pH 7 KB (%) N NH4OAc pH 7 Al (me/100g) N KCl H (me/100g) N KCl Fe (ppm) 0.05 N HCl Cu (ppm) 0.05 N HCl Zn (ppm) 0.05 N HCl Mn (ppm) 0.05 N HCl
3.3.4. Rancangan penelitian dan Analisis Data
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan
faktorial 2 faktor dengan 3 ulangan. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh
perlakuan dilakukan analisis ragam. Apabila analisis ragam menunjukkan
perbedaan yang nyata maka dilakukan uji lanjutan dan uji wilayah berganda
Duncan (WBD). Model rancangan tersebut adalah sebagai berikut (Mattjik, 2000):
ijk ij j
i
i = 1, 2, 3, 4, 5
j = 1, 2, 3
k =1, 2, 3
di mana :
Yijk = Nilai pengamatan pada ulangan ke-k yang memperoleh kombinasi
perlakuan ij (taraf ke-i dari faktor bahan organik dan taraf ke-j dari
faktor perlakuan formula pupuk.
µ = Rataan umum i
α = Pengaruh dari bahan organik ke i j
β = Pengaruh dari perlakuan formula pupuk ke-j
ij
)
(αβ = Pengaruh interaksi antara bahan organik ke-i dan taraf perlakuan formula pupuk ke -j
ijk
ε = Pengaruh galat penelitian pada ulangan ke -k yang memperoleh kombinasi perlakuan ij ( iα dan jβ ).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Sifat-sifat Tanah Latosol
Hasil analisis pendahuluan beberapa sifat fisik dan kimia tanah disajikan
pada Tabel Lampiran 1. Sifat fisik Latosol Darmaga yang dianalisis menunjukkan
tekstur liat dimana pasir (9.38 %), debu (17.87 %), liat (72.75 %). Berda sarkan
kriteria penilaian data analisis awal sifat kimia tanah dapat dikemukakan bahwa
tanah Latosol Darmaga termasuk tanah yang bereaksi masam (pH 5.56) dan
memiliki kandungan C-organik rendah (1.31 %). Tanah ini memiliki basa-basa
dapat dipertukarkan: Ca tergolong sangat rendah (0.91 me/100 g), Mg rendah
(0.48 me/100 g), K rendah (0.13 me/100 g), serta Na rendah (0.30 me/100 g).
Nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah ini tergolong rendah (11.05 me/100 g)
dan Kejenuhan Basa tanah ini tergolong sangat rendah (16.47 me/100 g). Nilai pH
serta basa-basa yang rendah di dalam tanah erat kaitannya dengan proses
pembentukan Latosol. Dalam proses pembentukannya, Latosol mengalami
pelapukan yang intensif dan pencucian basa-basa yang cukup hebat (Ardhianto,
2002). Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa secara umum dapat dikatakan
tanah ini memiliki tingkat kesuburaan yang rendah.
4.2. Sifat Kimia Bahan Organik (Kotoran Sapi)
Hasil analisis pendahuluan sifat kimia pada kotoran sapi disajikan pada
Tabel Lampiran 2. Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa kotoran sapi yang
digunakan memiliki kandungan C-organik yang cukup tinggi yaitu sebesar 41.16
%, N-total termasuk dalam kriteria sangat tinggi yaitu 0.98 %, dan nilai C/N ratio
bahwa bahan organik ini memiliki tingkat kematangan yang sangat rendah.
Basa-basa yang dikandung oleh bahan organik ini tergolong rendah yaitu K (0.29 %),
Ca (1.28%), Mg (0.31 %).
4.3. Sifat-sifat Media Tumbuh Tanaman 4.3.1. Ketahanan Penetrasi Tanah
Pengaruh pemberian bahan organik dan formula pupuk dalam bentuk
serbuk dan briket terhadap ketahanan penetrasi tanah disajikan pada Tabel 2 dan
sidik ragam pada Tabel Lampiran 5. Secara statistik, bahan organik dalam bentuk
serbuk 1% nyata menurunkan ketahanan penetrasi tanah dibandingkan tanpa
bahan organik dimana nilainya masing-masing 2.19 kg/cm2 (tanpa briket) dan 1.07 kg/cm2 (bahan organik serbuk 1%). Hal ini diperkirakan karena pada perlakuan bahan organik serbuk 1%, bahan organik tercampur rata dengan tanah.
Pada kondisi ini, interaksi antar partikel-partikel tanah dengan bahan organik
menjadi lebih intensif. Adanya interaksi yang lebih intensif antara
partikel-partikel tanah dengan bahan organik mengakibatkan terjadinya penguatan ikatan
antar partikel tanah dan agregat sehingga terbentuklah agregat tanah yang mantap
(stabil) dan tidak mudah hancur (tercerai berai) oleh faktor perusak. Selain itu,
penambahan bahan organik serbuk 1% dapat meningkatka n aktivitas
mikroorganisme tanah sehingga menghasilkan fungi, miselia micoriza dan lendir
bakteri yang berfungsi sebagai bahan penyemen agregat tanah. Penyemenan
partikel dan agregat tanah oleh bahan organik serbuk 1% akan menurunkan
pengaruh air dalam merusak agregat. Pada kondisi ini tanah menjadi lebih
Pada perlakuan tanpa bahan organik, interaksi antar partikel tanah dengan
bahan organik tidak terjadi secara intensif sehingga agregat tanah yang terbentuk
menjadi tidak stabil dan mudah hancur oleh adanya faktor perusak. Penambahan
air ke dalam polybag secara tidak hati-hati menyebabkan tanah pada perlakuan ini
mengalami penyusutan ke bawah dan partikel-partikel tanah berukuran kecil
masuk ke dala m ruang pori sehingga ruang pori tanah berkurang lebih banyak.
Pada kondisi ini tanah menjadi padat sehingga ketahanan penetrasi menjadi lebih
tinggi.
Tabel 2. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Ketahanan penetrasi (kg/cm2)
Formula Pupuk Rataan Bahan Organik P0 P1 P2 B0 2.16 2.08 2.33 2.19 a B1 1.07 1.13 1.00 1.07 b B2 2.10 2.33 1.83 2.09 a B3 2.00 1.75 2.17 1.97 a B4 2.23 1.83 2.40 2.16 a Rataan 1.91 a 1.83 a 1.94 a
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%
Bahan organik dalam bentuk briket 1%, 2%, dan 3% tidak nyata
menurunkan nilai ketahanan penetrasi tanah dibandingkan tanpa bahan organik
dan nyata lebih tinggi nilai ketahanan penetrasinya dibandingkan dengan
pemberian bahan organik serbuk 1% (Tabel 2). Hal ini disebabkan karena
perlakuan bahan organik dalam bentuk briket 1%, 2%, dan 3%, bahan organik
mengumpul menjadi bentuk briket dan tidak tercampur rata dengan tanah. Pada
kondisi ini bahan organik briket tidak dapat mengikat partikel-partikel tanah
secara intensif sehigga agregat tanah menjadi tidak mantap. Penambahan air
briket mengalami pemadatan. Kondisi ini menyebabkan ketahanan penetrasi
menjadi lebih tinggi.
Formula pupuk tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap
ketahanan penetrasi tanah (Tabel 2). Hal ini disebabkan karena pemberian formula
pupuk tidak berpengaruh terhadap proses terbentuknya agregat, sehingga ruang
pori tanah tidak terbentuk.
Interaksi antara pemberian bahan organik dalam bentuk serbuk dan briket
dengan formula pupuk juga tidak nyata mempengaruhi ketahanan penetrasi tanah.
Hal ini disebabkan karena penambahan formula pupuk tidak menyebabkan
perubahan pengaruh bahan organik serbuk dan briket terhadap ketahanan
penetrasi.
4.3.2 Air Tersedia
Pengaruh pemberian bahan organik dan formula pupuk dalam bentuk
briket dan serbuk terhadap air tersedia disajikan pada Tabel 3 dan sidik ragamnya
pada Tabel Lampiran 6. Pori air tersedia merupakan pori pemegang air yang
berada diantara kapasitas lapang (pF 2.54 atau setara dengan hisapan sekitar 0.3
atmosfer) dan titik layu permanen (pF 4.2 atau setara dengan hisapan sekitar 15
atmosfer).
Bahan organik serbuk 1% sangat nyata meningkatkan air tersedia
dibandingkan tanpa bahan organik dan bahan organik briket 1%, 2% dan 3%. Hal
ini disebabkan karena pada perlakuan bahan organik serbuk 1%, bahan organik
tercampur rata dengan tanah sehingga pada waktu pengambilan contoh tanah
untuk penetapan kadar air pF 2.54 dan 4.2, bahan organik ikut terambil.
di bagian bawah briket sehingga bahan organik tidak terambil dan tidak ikut
teranalisis. Bahan organik serbuk 1% dapat berinteraksi dan menyelimuti partikel
dan agregat tanah yang berukuran kecil sehingga mengisi dan mengkonversi pori
tanah yang lebih besar menjadi pori tanah yang lebih kecil. Peningkatan air
tersedia oleh bahan organik serbuk 1% juga disebabkan karena adanya
pencampuran bahan organik dengan bahan mineral yang lebih intensif, sehingga
merangsang agregasi tanah yang lebih baik dan menigkatkan jumlah air yang
tersedia.
Tabel 3. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Air Tersedia (%)
Formula Pupuk Rataan Bahan Organik P0 P1 P2 B0 7.81 9.09 7.89 8.27 c B1 10.61 10.57 10.62 10.60 a B2 8.48 8.63 8.80 8.64 c B3 9.19 9.71 9.56 9.49 b B4 9.60 9.28 9.54 9.47 b Rataan 9.14 a 9.46 a 9.29 a
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%
Pemberian formula pupuk tidak menunjukkan pengaruh yang nyata
terhadap air tersedia (Tabel 3). Hal ini disebabkan karena pemberian formula
pupuk dapat merangsang adanya dispersi sehingga proses terbentuknya agregat
dan ruang pori tanah tidak terjadi.
Interaksi pemberian bahan organik dan formula pupuk dalam bentuk
serbuk dan briket tidak nyata meningkatkan air tersedia (Tabel 3). Hal ini
disebabkan karena penambahan formula pupuk tidak menyebabkan perubahan
4.3.3. C/N Ratio Tanah
Pengaruh pemberian bahan organik dan formula pupuk dalam bentuk
serbuk dan briket terhadap C/N ratio tanah disajikan pada Tabel 4 dan sidik ragam
pada Tabel Lampiran 7. Bahan organik dalam bentuk serbuk dan briket sangat
nyata meningkatkan C/N ratio tanah dibandingkan tanpa bahan organik.
Pemberian bahan organik serbuk 1% nyata meningkatkan C/N ratio tanah
dibandingkan tanpa bahan organik (Tabel 4). Pemberian bahan organik dalam
bentuk briket 1%, 2%, dan 3% nyata meningkatkan C/N ratio tanah dibandingkan
tanpa bahan organik, dan nyata lebih rendah nilai C/N rationya dibandingkan
dengan pemberian bahan organik serbuk 1%. Hal ini disebabkan karena pada
perlakuan bahan organik serbuk 1%, bahan organik tercampur rata dengan tanah
sehingga pada waktu pengambilan contoh tanah untuk penetapan C-organik dan
N-total, bahan organik ikut terambil. Sedangkan pada perlakuan bahan organik
briket 1%, 2%, dan 3%, tanah diambil di bagian bawah briket sehingga bahan
organik tidak terambil sempurna dan tidak ikut teranalisis.
Tabel 4. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap C/N Ratio Tanah (%)
Formula Pupuk Rataan Bahan Organik P0 P1 P2 B0 12.87 12.57 11.52 12.32 c B1 24.18 21.43 22.18 22.60 a B2 20.17 19.29 18.11 19.19 b B3 18.41 17.17 17.57 17.72 b B4 19.85 19.24 19.67 19.59 b Rataan 19.09 a 17.94 a 17.81 a
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uj i DMRT pada taraf 5%
Pemberian formula pupuk P1 dan P2 tidak nyata menurunkan C/N ratio
satunya adalah pupuk N. Formula pupuk diberikan ke dalam tanah pada waktu 2
minggu sebelum tanam dengan dosis yang relatif rendah, sehingga pengaruhnya
terhadap C/N ratio menjadi tidak nyata. Interaksi pemberian bahan organik dan
formula pupuk dalam bentuk serbuk dan briket juga tidak nyata mempengaruhi
nilai C/N ratio tanah.
4.4. Pertumbuhan dan Produksi Tomat
Pengaruh pemberian bahan organik dan formula pupuk dalam bentuk
serbuk dan briket terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot kering
disajikan pada Tabel 5 dan sidik ragam pada Tabel Lampiran 8, 9, 10. Analisa
statistik menunjukkan bahwa interaksi pemberian bahan organik dan formula
pupuk briket dan serbuk memberikan pengaruh yang sangat nyata dalam
peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot kering (Tabel 5).
Pada perlakuan formula pupuk P0, pemberian bahan organik briket de ngan
dosis tertinggi (3%) nyata meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot
kering dibandingkan dengan tanpa bahan organik. Hal ini disebabkan karena
media tanam pada perlakuan tanpa pupuk memiliki kandungan basa-basa (unsur
hara) yang rendah. Dengan semakin bertambahnya dosis bahan organik,
ketersediaan unsur hara dalam tanah menjadi tercukupi sehingga mendukung
pertumbuhan dan produksi tomat.
Pada perlakuan formula pupuk P1, pemberian bahan organik dengan dosis
tertinggi (3%) tidak nyata meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot
kering dibandingkan tanpa bahan organik. Pemberian bahan organik dengan dosis
yang rendah (serbuk 1%, briket 1% dan 2%) nyata meningkatkan tinggi tanaman
ketersediaan unsur hara dalam tanah pada formula pupuk P1 dengan pemberian
bahan organik pada dosis yang rendah dapat mencukupi kebutuhan tanaman tomat
sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Sedangkan pemberian bahan
organik pada dosis tinggi (3%) menyebabkan unsur hara dalam media tanam
menjadi berlebih sehingga menghambat pertumbuhan dan produksi tomat.
Tabel 5. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tomat
Formula Pupuk Rataan Pertumbuhan dan Produksi Bahan Organik P0 P1 P2 B0 29.36 f 45.60 e 72.47 cd 49.14 c B1 71.17 cd 105.03 ab 67.00 d 82.83 a B2 74.93 cd 98.39 ab 88.07 bc 87.10 a B3 76.20 cd 110.27 a 75.20 cd 87.22 a Tinggi Tanaman (cm) B4 93.37 ab 60.53 de 59.17 de 71.02 b Rataan 69.01 b 83.95 a 72.76 b B0 30.67 e 46.00 de 71.33 bcde 49.33 b B1 78.00 bcde 134.00 a 67.50 bcde 96.38 a
B2 75.00 bcde 97.00 abcd 59.00 bcde 77.00 a B3 58.67 bcde 97.33 abcd 114.00 ab 90.00 a Jumlah Daun
(Helai/batang)
B4 106.00 abc 56.67 cde 80.00 bcde 80.89 a
Rataan 69.67 a 86.20 a 79.14 a
B0 2.21 e 7.34 e 14.07 cde 7.88 c B1 16.31 bcde 39.60 a 8.32 e 21.41 ab B2 16.32 bcde 28.39 abc 13.93 cde 19.55 ab B3 10.93 de 34.09 a 30.05 ab 25.03 a Bobot Kering
(gram/batang)
B4 25.64 abcd 7.45 e 13.57 cde 15.55 bc
Rataan 14.29 b 23.37 a 15.99 b
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata ber dasarkan uji DMRT pada taraf 5%
Pada perlakuan formula pupuk P2, pemberian bahan organik dengan dosis
tertinggi (3%) tidak nyata menurunkan tinggi tanaman dan bobot kering
dibandingkan tanpa bahan organik. Hal ini disebabkan karena ketersediaan unsur
mikro dalam tanah dan pupuk sudah dapat mencukupi kebutuhan tanaman tomat.
yang tersedia menjadi berlebih sehingga menghambat pertumbuhan dan produksi
tomat.
Pengaruh kombinasi perlakuan bahan organik serbuk dan briket dengan
formula pupuk terhadap tinggi tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan bahan
organik briket 2 % dengan formula pupuk P1, kemudian briket serbuk 1% dengan
formula pupuk P1. Pengaruh kombinasi bahan organik briket dan serbuk dengan
formula pupuk terhadap jumlah daun dan bobot kering tertinggi diperoleh pada
perlakuan bahan organik serbuk 1% dengan formula pupuk P1. Kombinasi
perlakuan bahan organik 1% dengan formula pupuk P1 dan bahan organik briket
2% dengan formula pupuk P1 merupakan kombinasi perlakuan terbaik untuk
pertumbuhan dan produksi tomat. Hal ini disebabkan karena adanya perbaikan
sifat-sifat media tumbuh. Pada perlakuan bahan organik serbuk 1% dan briket 2%,
ketahanan penetrasi menjadi rendah dan pori air tersedia menjadi lebih tinggi
dibandingkan perlakuan lainnya. Adanya penurunan ketahanan penetrasi dan
peningkatan jumlah air tersedia menyebabkan akar tanaman dapat menjangkau
tanah lebih banyak, serta dapat menyerap air dan hara lebih tinggi. Pada kondisi
ini memungkinkan tanaman mendapatkan kecukupan air dan hara sehingga
memiliki kondisi pertumbuhan yang baik. Pertumbuhan (tinggi tanaman dan
jumlah daun) dan produksi (bobot kering) yang lebih baik juga disebabkan oleh
pengaruh kotoran sapi yang berpe ran sebagai bahan yang merangsang agregasi
tanah yang lebih baik sehingga mampu meningkatkan kesarangan tanah. Tanah
yang sarang akan mendukung aerasi tanah yang lebih baik dan aktivitas perakaran
hara sehingga meningkatkan pertumbuhan (Tinggi dan jumlah daun) dan produksi
tanaman (bobot kering).
B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 20 40 60 80 100 120 Tinggi Tanaman
Gambar 2. Grafik Tinggi Tanaman 10 MST Pada Masing-masing Perlakuan
B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 5 10 15 20 25 30 35 40 Bobot Kering
4.5. Evapotranspirasi 4.5.1. Evapotranspirasi Total
Pengaruh pemberian bahan organik briket dan serbuk terhadap
evapotranspirasi total disajikan pada Tabel 6 dan sidik ragamnya pada Tabel
Lampiran 11. Analisa statistik menunjukkan bahwa interaksi pemberian bahan
organik serbuk dan briket dengan formula pupuk sangat nyata meningkatkan
evapotranspirasi total. Pada perlakuan formula pupuk P0, pemberian bahan
organik dengan dosis te rtinggi (3%) nyata meningkatkan evapotranspirasi total
dibandingkan dengan tanpa bahan organik. Pada perlakuan formula pupuk P1,
pemberian bahan organik briket dengan 3% tidak nyata meningkatkan
evapotranspirasi total dibandingkan tanpa bahan organik. Pemberian bahan
organik dengan dosis yang rendah (serbuk 1%, briket 1% dan 2%) nyata
meningkatkan evapotranspirasi total dibandingkan tanpa bahan organik. Pada
perlakuan formula pupuk P2, pemberian bahan organik dengan dosis tertinggi
(3%) tidak nyata menurunkan evapotransprasi total dibandingkan tanpa bahan
organik. Sebelumnya telah diuraikan bahwa pada perlakuan formula pupuk P0
dengan pemberian dosis bahan organik tertinggi dan perlakuan formula pupuk P1
dengan pemberian dosis bahan organik yang lebih rendah memiliki pertumbuhan
yang lebih baik. Sedangkan pada perlakuan formula pupuk P1 dan P2 dengan
pemberian bahan organik tertinggi (3%), pertumbuhan tanaman tomat menjadi
kurang bagus. Pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan jumlah daun) yang lebih
baik mengakibatkan jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman menjadi lebih
banyak sehingga jumlah air yang hilang akibat penggunaan tanaman maupun yang
yang kurang baik mengakibatkan jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman
menjadi lebih sedikit sehingga jumlah air yang hilang akibat penggunaan tanaman
maupun yang menguap dari permukaan menjadi lebih sedikit.
Tabel 6. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Evapotranspirasi Total
Formula Pupuk Evapotranspirasi Bahan Organik
P0 P1 P2 Rataan B0 5.22 e 10.14 de 16.21 bcd 10.52 b B1 16.99 bcd 27.55 a 11.17 de 18.57 a B2 16.35 bcd 24.82 a b 13.99 de 18.39 a B3 13.21 de 27.26 a 23.76 abc 21.41 a Evapotranspirasi Total (Liter/polybag/ 1musim) B4 23.11 abc 11.13 de 15.51 c d 16.58 a Rataan 14.93 b 20.18 a 16.13 b
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%
B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 5 10 15 20 25 30
EVapotranspirasi total (ltr/pot/1 musim)
Evapotranspirasi total tertinggi diperoleh dari interaksi bahan organik
serbuk 1% dengan formula pupuk P1 sebesar 27.55 liter/polybag/1 musim tanam.
Sedangkan evapotranspirasi total pada urutan kedua diperoleh dari interaksi bahan
organik briket 2% dengan formula pupuk P1. Hilangnya air melalui
evapotransprasi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu suhu air,
kelembaban, tekanan udara, sinar matahari, kecepatan angin dan lain-lain yang
berhubungan satu dengan yang lainnya (Sosrodarsono dan Takeda, 1980).
Perbedaan tinggi tanaman dan jumlah daun juga sangat mempengaruhi besar
kecilnya evapotranspirasi. Tinggi tanaman pada perlakuan bahan organik serbuk
1% dengan formula pupuk P1 lebih rendah dibandingkan tinggi tanaman pada
perlakuan bahan organik briket 2% briket dengan formula pupuk P1 tetapi jumlah
daun pada perlakuan bahan organik serbuk 1% dengan formula pupuk P1 lebih
banyak dibandingkan tinggi tanaman pada perlakuan bahan organik briket 2%
briket dengan formula pupuk P1.
4.5.2. Nisbah Evapotranspirasi
Nisbah evapotranspirasi diperoleh dari evapotranspirasi total dibagi
dengan bobot kering. Pengaruh pemberian bahan organik briket dan serbuk
terhadap nisbah evapotranspirasi disajikan pada Tabel 7 dan sidik ragamnya pada
Tabel Lampiran 12. Bahan organik tidak nyata menurunkan nisbah
evapotranspirasi dibandingkan tanpa bahan organik. Nisbah evapotranspirasi
terkecil diperoleh pada perlakuan bahan organik serbuk 1% yaitu sebesar 952.9
artinya untuk menghasilkan 1 kg berat kering diperlukan jumlah air sebanyak
952.9 kg. Menurut Soepardi (1983) efisiensi pemakaian air adalah rendah apabila
Tabel 7. Pengaruh Bahan Organik dan Formula Pupuk dalam Bentuk Serbuk dan Briket Terhadap Nisbah Evapotranspirasi
Formula Pupuk Evapotranspirasi Bahan Organik
P0 P1 P2 Rataan B0 2367.6 1529.8 1169.8 1689.1 a B1 1059.2 732.2 1067.5 952.9 a B2 1070.6 895.7 1097. 9 1021.4 a B3 997.2 807.1 858.8 959.4 a Nisbah Evapotranspirasi B4 1341.4 1418.3 1264.4 1226.6 a Rataan 1341.4 a 1076.6 a 1091.7 a
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%
Formula pupuk tidak nyata dalam menurunkan nisbah evapotranspirasi.
Nisbah evapotranspirasi terbesar diperoleh pada perlakuan tanpa pupuk yaitu
1341.4 hal ini menunjukkan bahwa efisiensi pemakaian air pada perlakuan
formula pupuk P0 adalah rendah. Interaksi pembe rian bahan organik serbuk dan
briket dengan formula pupuk tidak nyata dalam menurunkan nisbah
evapotranspirasi. B0P0 B0P1 B0P2 B1P0 B1P1 B1P2 B2P0 B2P1 B2P2 B3P0 B3P1 B3P2 B4P0 B4P1 B4P2 0 500 1000 1500 2000 2500 Nisbah Evapotranspirasi
4.6. Serapan Hara Tanaman
Nilai serapan hara merupakan fungsi dari bobot kering tanaman dan kadar
hara dalam tanaman sehingga besar kecilnya sangat ditentukan dari nilai bobot
kering dan kadar haranya. Pengaruh pemberian bahan organik briket dan serbuk
terhadap serapan hara N, P, K, Ca, Mg, Cu, Zn disajikan pada Tabel 8 dan sidik
ragamnya pada Tabel Lampiran 13 sampai 19.
Interaksi bahan organik dan formula pupuk menunjukkan pengaruh yang
sangat nyata terhadap peningkatan serapan hara N, P, K, Ca, Mg, Cu, Zn. Pada
perlakuan formula pupuk P0, pemberian bahan organik dengan dosis tertinggi
(3%) nyata meningkatkan serapan hara N, P, K, Mg, Zn dan tidak nyata
meningkatkan serapan Ca dan Cu dibandingkan dengan perlakuan tanpa bahan
organik.
Pada perlakuan formula pupuk P1, pemberian bahan organik dengan dosis
tertinggi (3%) tidak nyata meningkatkan serapan hara N, P, K, Ca, Mg, Cu, dan
Zn dibandingkan tanpa bahan organik. Pada perlakuan formula pupuk P2,
pemberian bahan organik dengan dosis tertinggi (3%) tidak nyata menurunkan
serapan hara N, P, K, Ca, Mg, Cu, dan Zn dibandingkan tanpa bahan organik.
Pada perlakuan formula pupuk P0 dengan pemberian dosis bahan organik
tertinggi memiliki pertumbuhan yang lebih baik. Sedangkan pada perlakuan
formula pupuk P1 dan P2 dengan pemberian dosis bahan organik tertinggi,
pertumbuhan tana man tomat menjadi kurang bagus. Pertumbuhan yang lebih baik
akan memudahkan tanaman dalam menyerap unsur hara. Sedangkan pada
pertumbuhan yang kurang baik akan menghambat pertumbuhan tanaman tomat