IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.2. Pertumbuhan Embrio pada Tahap Pertumbuhan Planlet
Setelah melawati masa perkecambahan, embrio kemudian
dipindahkan ke media baru (subkultur) dengan komposisi media perlakuan yang sama dengan media perlakuan sebelumnya. Lamanya periode untuk subkultur adalah 2 (dua) bulan sekali. Pada tahap pembentukan planlet, embrio mengalami pertumbuhan dimana tonjolan yang terbentuk pada tahap perkecambahan akan berkembang dan tumbuh membentuk tunas dan akar.
Setelah tahap subkultur I, pertumbuhan embrio pada berbagai media yang diuji menunjukkan respon yang berbeda. Embrio yang telah melalui masa perkecambahan dipindahkan dalam media baru yang nantinya akan berkembang membentuk tunas dan akar (planlet sempurna). Namun, pada keadaan yang sebenarnya terbentuknya planlet pada beberapa media buatan masih berjalan lambat, karena sebagian besar embrio tidak berhasil menghasilkan planlet yang sempurna. Hampir keseluruhan perlakuan, embrio hanya menunjukkan pertumbuhan tunas sedangkan pertumbuhan akar hanya terlihat pada beberapa perlakuan media, namun akar tersebut hanya terlihat beberapa mm dan tidak terus berkembang. Planlet yang bertahan hidup hingga tahap ini umumnya adalah planlet tunas yaitu planlet yang hanya dilengkapi dengan tunas daun tanpa adanya akar. Selain itu, hampir sepenuhnya tahap pertumbuhan planlet terjadi secara normal yaitu tidak mengalami stagnasi dan browning. Planlet yang mengalami keabnormalan seperti stagnasi tidak terjadi pada seluruh media, namun keabnormalan seperti browning terjadi pada beberapa planlet yang ditumbuhkan di dalam media Gandasil D 2 g/l + air kelapa 150 ml/l (Gambar 3).
Gambar 3. Embrio pada Media Gandasil D 2 g/l + Air Kelapa 150 ml/l yang Mengalami Browning Setelah Subkultur I
Pada tahap subkultur II, merupakan tahap perkembangan membentuk suatu organ tanaman. Pada tahap ini planlet yang dipindah dalam media baru kan berkembang dari tunas memanjang menjadi daun dan akar semakin memanjang. Namun, akar yang terlihat beberapa mm saja sampai tahap ini tidak menunjukkan perubahan (Gambar 4). Hal tersebut terjadi pada seluruh media padat yang planletnya tumbuh bakal akar.
TUNAS TUNAS
AKAR AKAR
(a) (b)
Gambar 4. Pertumbuhan Akar Planlet Kelapa Kopyor dalam Media Perlakuan Eeuwens (Y3) ; (a.) Akar Planlet Setelah Subkultur I, (b.) Akar Planlet Setelah Subkultur II.
Planlet sempurna tidak terlihat pada seluruh perlakuan. Planlet sempurna yaitu planlet dengan daun dan akar proporsional. Planlet dalam kondisi tersebut merupakan planlet yang belum layak untuk di aklimatisasi.
Selain kondisi planlet yang tidak sempurna, ada kendala lain yang dapat terjadi yaitu kontaminasi yang ditandai dengan adanya bakteri dan jamur yang tumbuh pada media tumbuh ataupun planlet. Ciri media atau planlet yang terserang bakteri terdapat cairan atau lendir yang berwarna putih seperti susu sedangkan jamur terdapat benang spora. Pada tahap perkecambahan hingga penumbuhan planlet tingkat kontaminasi 0%, karena seluruh embrio atau planlet selamat (tidak terkontaminasi).
Planlet kelapa kopyor yang ditumbuhkan pada modifikasi media Air Kelapa 150 ml/l + Santan 100 ml/l memiliki bentuk yang berbeda dengan perlakuan media yang lain. Planlet cenderung berwarna coklat namun planlet tersebut tidak browning. Selain itu, kulit planlet terlihat sedikit keras seperti kayu (Gambar 5).
Gambar 5. Planlet Perlakuan media Air Kelapa 150 ml/l + santan 100 ml/l Setelah Subkultur II
Pada perlakuan media Gandasil D 2 g/l + Air Kelapa 150 ml/l tingkat browning semakin tinggi pada subkultur II. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya pertambahan planlet yang mencoklat pada tiap minggunya.
Keberhasilan pembentukan tunas kelapa kopyor dapat diketahui dengan mengukur panjang planlet, jumlah daun dan lebar daun. Namun, sampai pada tahap ini, tunas mengalami pertumbuhan yang lambat, sehingga pengukuran jumlah daun dan lebar daun tidak dapat disajikan.
Pada hasil analisis ragam pada parameter panjang tunas yang berumur 10 sampai 24 MSI (Minggu Setelah Inokulasi) menunjukkan adanya perbedaan nyata. Perbedaan tersebut dapat dibuktikan baik dengan pengamatan atau dalam perhitungan statistika. Tidak ada perlakuan modifikasi media yang hasilnya lebih baik ataupun setara dari perlakuan kontrol. Media yang hampir setara dengan perlakuan kontrol hanya media Murashige dan Skoog (MS) (Tabel 3 dan Tabel 4). Pengaruh media terhadap rata-rata panjang tunas dengan interval pengamatan dilakukan setiap 2 (dua) minggu sekali.
Tabel 3. Rata-rata Panjang Tunas pada Berbagai Media Perlakuan Umur 10 sampai 16 Minggu Setelah Inokulasi (MSI) Transformasi + 0,5
Perlakuan
Rata-Rata Panjang Tunas (cm) pada Umur
10 MSI 12 MSI 14 MSI 16 MSI
(Media 1). Eeuwens (Y3 )(Kontrol) 1.14 1.36 c 1.49 c 1.65 c
(Media 2). Eeuwens (Y3 ) + Air Kelapa 150
ml/l + GQS 2 ppm/l + GQR 2 ppm/l 0.92 0.92 a 1.03 a 1.06 a
(Media 3). Gandasil D 2 g/l + Air Kelapa
150 ml/l 0.85 0.81 a 0.95 a 0.97 a
(Media 4). Air Kelapa 150 ml/l 0.74 0.67 a 0.79 a 0.80 a
(Media 5). Air Kelapa 150 ml/l + Santan
100 ml/l 0.89 0.82 a 0.93 a 0.95 a
(Media 6). Murashige dan Skoog (MS) 1.10 1.31 bc 1.44 bc 1.56 bc
* Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut Duncan 5%
Tabel 4. Rata-rata Panjang Tunas pada Berbagai Media Perlakuan Umur 18 sampai 24 Minggu Setelah Inokulasi (MSI) Transformasi + 0,5
Perlakuan
Rata-Rata Panjang Tunas (cm) pada Umur
18 MSI 20 MSI 22 MSI 24 MSI
(Media 1). Eeuwens (Y3 )(Kontrol) 1.69 c 2.04 c 2.32 d 2.54 d
(Media 2). Eeuwens (Y3 ) + Air Kelapa 150 ml/l
+ GQS 2 ppm/l + GQR 2 ppm/l 1.15 a 1.17 a 1.25 a 1.33 a
(Media 3). Gandasil D 2 g/l + Air Kelapa
150 ml/l 0.97 a 1.09 a 1.41 bc 1.58 b
(Media 4). Air Kelapa 150 ml/l 0.83 a 0.83 a 0.84 a 0.85 a
(Media 5). Air Kelapa 150 ml/l + Santan
100 ml/l 0.96 a 0.96 a 0.96 a 0.96 a
(Media 6). Murashige dan Skoog (MS) 1.59 bc 1.92 bc 2.17 c 2.45 cd
* Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut Duncan 5%
Gambar 6 menunjukkan bahwa perlakuan kontrol berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang tunas. Hingga akhir pengamatan, perlakuan kontrol menunjukkan panjang tunas terpanjang yaitu 6.056 cm atau 2.54 cm setelah transformasi dan tunas terpanjang selanjutnya adalah perlakuan media MS yaitu 5.7 cm atau 2.45 cm setelah transformasi. Sedangkan media yang menghasilkan panjang tunas terendah adalah perlakuan media air kelapa 150 ml/l (media cair) yaitu hanya 0.85 cm.
Gambar 6. Grafik Pola Pertumbuhan Embrio Kelapa Kopyor Terhadap Berbagai Modifikasi Media. MSI adalah Minggu Setelah Inokulasi
Gambar 7. Pertumbuhan Planlet pada Berbagai Perlakuan Modifikasi Media Setelah Subkultur II.
0 2 4 6 8 10 12 10 M SI 12 M SI 14 M SI 16 M SI 18 M SI 20 M SI 22 M SI 24 M SI
Eeuw ens (Y3)
M urashige dan Skoog (M S)
Gandasil D 2 g/ l + Air Kelapa 150 m l/ l
Eeuw ens (Y3) + Air kelapa 150 m l/ l + GQS 2 ppm / l + GQR 2 ppm / l Air Kelapa 150 m l/ l + Sant an 100 m l/ l
Air Kelapa 150 m l/ l Pa n ja n g T u n as (c m ) Umur Planlet
Gambar 7 memperlihatkan pertumbuhan planlet kelapa kopyor pada perlakuan kontrol dan MS membentuk tunas paling baik. Sedangkan pada media modifikasi yang pertumbuhan tunasnya paling baik adalah media Y3 + Air Kelapa 150 ml/l + GQS 2 ppm/l + GQR 2 ppm/l dan pertumbuhan tunas yang paling lambat adalah media perlakuan Air Kelapa 150 ml/l. Tunas mulai berklorofil terkecuali media Air Kelapa 150 ml/l, sedangkan akar tidak berklorofil karena akar masih berupa tonjolan. Pada media Air Kelapa 150 ml/l (media cair) akar tidak tumbuh.
4.1.3. Pertumbuhan Embrio dan Planlet Browning, Stagnan dan Mati Tingkat keberhasilan suatu kultur jaringan tidak hanya dilihat dari tingkat keberhasilan embrio tumbuh sampai menjadi planlet, namun tingkat keberhasilan juga dilihat dari tidak adanya faktor seperti browning, stagnasi atau kontaminasi hingga terjadi kematian (Tabel 5).
Tabel 5. Persentase Planlet Kelapa Kopyor yang Mengalami Browning, Stagnan dan Mati pada Fase Pertumbuhan Planlet Berbagai Media Modifikasi
Perlakuan Persentase (%)
Browning Stagnasi Mati Total
(Media 1). Y3 (Kontrol) 0 0 0 0
(Media 2). Y3 + Air Kelapa 150 ml/l + GQS 2
ppm/l + GQR 2 ppm/l 0 0 0 0
(Media 3). Gandasil D 2 g/l + Air Kelapa 150
ml/l 85.7 0 0 85.7
(Media 4). Air Kelapa 150 ml/l 0 0 0 0
(Media 5). Air Kelapa 150 ml/l + Santan 100
ml/l 0 0 0 0
(Media 6). MS 0 0 0 0
Tabel 5 menunjukkan bahwa pada media Gandasil D 2 g/l + Air Kelapa 150 ml/l, planlet mengalami browning dengan tingkat paling tinggi yaitu hingga 85.7 %. Sementara itu, pada perlakuan media lainnya tidak terdapat planlet yang mengalami browning, stagnasi dan mati.
Gambar 8. Kondisi Planlet yang Mengalami Browning pada Media Modifikasi Gandasil D 2 g/l + Air Kelapa 150 ml/l