Memilih perusahaan untuk dijadikan tempat berinvestasi tentu bukan hal mudah, diperlukan suatu analisa yang cermat terkait situasi dan kondisi terkini dan prediksi kondisi kedepan tentang perusahaan tersebut. Suatu informasi penting yang harus menjadi perhatian para investor adalah laju pertumbuhan perusahaan (Growth rate).
menurut Susanto (2016) proktivitas perusahaan tercermin dari tingkat pertumbuhan (growth) dan merupakan harapan yang diinginkan oleh pihak internal (manajemen) maupun pihak eksternal (investor dan kreditor) perusahaan. Pertumbuhan perusahaan yang dimaksud dalam penelitian ini akan dilihat dari sisi asset (asset growth), pertumbuhan utang (liabilitas growth), dan pertumbuhan laba (profit growth) yang akan dianalisa dari sisi ada atau tidaknya praktik laba (income smoothing) yang dilakukan oleh perusahaan. Alasan kenapa memilih ketiga poin growth ini sebagai variabel independen karena ketiga poin ini mewakili faktor pembentuk laporan keuangan (financial statement) dan laporan keuangan inilah yang menjadi objek dalam penelitian ini Yunita dan Diyani (2015) menyatakan bahwa pertumbuhan harta (asset growth) dan pertumbuhan utang (liabilities growth) didapatkan dari perhitungan selisisi antara harta tahunan (n) dengan tahun (n-1), variabel dengan rumus sebagai berikut:
Growth X = Total xnβ total xn-1 X 100 % Total X n-1
Dimana :
X = variabel yang dicari growth-nya = periode tahun (n) n-1 = periode tahun ( n -1)
a. Pertumbuhan Asset (Asset Growth)
Seorang investor yang memiliki sifat hati-hati dan tidak mau mengambil resiko besar (risk everse) tentu saja tidak akan mau berinvestasi pada perusahaan yang assetnya tidak berkembang atau bahkan berkurang dari tahun ketahun. Hal ini sejalan dengan pendapat Hermuningsih (2016) yang menyatakan bahwa pertumbuhan asset menunjukkan besarnya dana yang dialokasikan oleh perusahaan kedalam assetnya. Hal ini menyebabkan investor akan tertarik dan mendorong harga saham naik. Rasio pertumbuhan aset menjelaskan tingkat kenaikan aset (Ferdiansyah & Faisal , 2020).
Dalam kajian psikologi pasar, rasio ini dapat mempengaruhi presepsi investor di dalam keuntungan. Umumnya, jumlah aset yang cenderung meningkat dipresepsikan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar, kenapa demikian? Karena nilai aset yang besar adalah manifestasi dan efektivitas bisnis, sehingga laba yang diperoleh lebih besar (Akbar & Fahmi, 2020). Dengan demikian aset yang tumbuh dapat mempengaruhi presepsi dan reaksi pasar saham, yang berdampak pada naiknya harga saham, dan berdampak pada kenaikan nilai perusahaan (Muslimah, et, al, 2020).
menurut Hery (2015) asset adalah sumber daya ekonomi yang dimiliki perusahaan. Asset selanjutnya akan digunakan (dimanfaatkan atau dikomsumsi) oleh perusahaan demi lancarnya kegiatan
oprasional sehari-hari. Contoh dari asset meliputi uang kas, piutang usaha, persediaan barang dagang, perlengkapan toko dan kantor, asuransi dibayar dimuka, tanah, bangunan, peralatan toko dan kantor, kendaraan oprasional dan asset lainnya.
Lebih lanjut Hery (2015) menyatakan bahwa piutang usaha dikatakan asset karena piutang ini nantinya akan dapat dicairkan (diconvert) dari piutang menjadi uang kas, sebagai hasil dari penangihan penjualan. Piutang usaha mencerminkan hak perusahaan untuk menagih kepada custamer/pelanggan demi mendapatkan uang kas. Persediaan barang dangangan merupakan asset karena nantinya akan dijual oleh perusahaan kepada pelanggan untuk mendapatkan piutang (hak menagih) maupun kas pada akhirnya. Sedangkan untuk perlengkapam toko dan kantor, asuransi dan sewa dibayar dimuka, tanah, bangunan, peralatan toko dan kantor, dan kendaraan operasional dikatakan asset karena mereka memiliki manfaat bagi perusahaan untuk dapat digunakan / dikonsumsi selama periode akuntansi.
Menurut Susanto (2016) pertumbuhan asset menunjukkan besarnya dana yang dialokasikan oleh perusahaan kedalam assetnya.
Pertumbuhan asset akan menuntut perusahaan untuk menyediakan dana yang memadai.
Lebih lanjut Susanto menyatakan bahwa pertumbuhan asset yang meningkat akan memberikan sinyal bahwa perusahaan mampu menggunakan assetnya secara optimal. Hal ini menyebabkan investor akan tertarik untuk melakukan investasi. Permintaan saham
perusahaan meningkat dan pada akhirnya nilai perusahaan juga meningkat.
Variabel pertumbuhan perusahaan menurut Susanto (2016) adalah sebagai berikut:
Pertumbuhan perusahaan = Total assett β Total Asset t-1
Total Asset t-1
b. Pertumbuhan utang / kewajiban ( Liabilities Growth)
Dalam Kasus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) utang berarti kewajiban membayar kembali apa yang sudah diterima. Dalam istilah akuntansi, utang adalah kewajiban (liabilities) yang harus dipertanggungjawabkan oleh suatu entitas baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang tertentu saja akan mempengaruhi pergerakan arus kas yang dimilikinya. Sedangkan Hery (2015) mengatakan bahwa utang (liabilities) merupakan kewajiban perusahaan kreditur (supplier,banker) dan pihak lainnya (karyawan pemerintah). Kreditur dan pihak lainnya disini memiliki hak / klaim atas asset perusahaan.
Perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar/melunasi utangnya kepada supplier sebagai akibat dari pembelian barang dagangan secara kredit, berarti supplier memiliki hak/klaim atas asset perusahaan. Perusahaan memiliki kewajiban (berdasarkan undang-undang) untuk membayar pajak terutang kepada pemerintah atas penghasilan/keuntungan yang diperoleh perusahaan. Pada umumnya perusahaan yang sedang berkembang akan banyak membutuhkan dana baru untuk memperluas perusahaannya, dana yang dibutuhkan bisa saja berasal dari dalam perusahaan dalam hal ini adalah utang.
Utang yang terlalu besar, akan mengganggu performa perusahaan dimata publik. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga dan mengontrol jumlah utang yang dimiliki perusahaan.
Menurut Djamaluddin, Resiana dan Djumarno (2018) selama manfaatnya masih jauh lebih besar dari biaya utang, maka utang itu bisa dinaikkan, namum jika terjadi sebaliknya maka hutang tidak boleh ditambah, semakin tinggi risiko utang berarti perusahaan memiliki total hutang yang tinggi. Secara umum, jarang ada investor yang ingin Berinvestasi diperusahaan yang memiliki banyak hutang, maka ini dapat mempengaruhi nilai perusahaan yang akan memiliki implikasi harga saham.
Dalam menganalisa pertumbuhan suatu perusahaan, selain melihat pertumbuhan asset kita juga harus melihat tren utang perusahaan tersebut, apakah masih dapat ditoleransi atau sudah sangat buruk Merujuk pada pendapat Yunita dan Diyani (2015) menyatakan bahwa pertumbuhan harta (asset growth) dan pertumbuhan utang (liabilities growth) didapatkan dari perhitungan selisih antara harta tahun (n) dengan tahun (n-1), begitu juga dengan pertumbuhan utang. Maka dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan utang (Liabilities Growth) dapat dituliskan sdengan rumus sebagai berikut:
Liabilities Growth = total liabilitiest β total liabilitiesΓ 100%
Total liabilitiest-1
Karena hasil perhitungan ini merupakan rasio, maka hasilnya harus dikalikan 100%.
c. Perataan laba (income smoothing)
Perataan laba merupakan tindakan yang dilakukan dengan segaja untuk mengurangi variabilitas laba yang dilaporkan agar dapat mengurangi risiko pasar atas perusahaan, yang dapat meningkatkan harga saham perusahaan. Beidleman dan Belkoui menyatakan bahwa perataan laba didefinikan sebagai upaya yang sengaja dilakukan untuk memperkecil fluktuasi pada tingkat laba yang dianggap normal bagi perusahaan (Nazira, 2016).
Perataan laba adalah sebuah praktik dengan menggunakan teknik-teknik akuntansi untuk mengurangi fluktuasi laba bersih selama beberapa periode waktu. Perataan laba (income smoothing) baik dilakukan jika dalam pelaksaannya tidak mengandung kecurangan.
Tindakan perataan laba biasanya dilakukan untuk upaya mengurangi pajak dan juga meningkatkan kepercayaan investor (Fitriani, 2018).
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dalam penelitian ini perataan laba diukur menggunakan indeks perataan laba dengan rumus sebagai berikut:
Indeks perataan laba = πΆβ βπ
πΆπ£ βπ
Dimana:
CV : koefisien variasi dan variabel
βπ : perubahan laba dalam satu periode
βπ : perubahan penjualan dalam satu periode