• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KASUS & PEMBAHASAN

3.3 Pembahasan Kasus

Dalam pelayanan ANC bidan sudah melakukan pemeriksaan BB, TB, IMT, LILA, TTV, TFU, DJJ, Leopold 1 sampai 4, pemberian tablet FE sebanyak 90 tablet selama kehamilan, diminum 90 tablet (rutin 1x1 setiap malam) selain itu dilakukan pemeriksaan Hb dan didapatkan hasil 10 gr%

dalam hal ini masih ada asuhan yang tidak dilakukan oleh bidan seperti pemeriksaan laboratorium VCT, IMS dan HbSag selama kehamilan sehingga tidak terpantau hasil VCT, IMS dan HbSag .

Menurut Manuaba ( 2009 ) Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi. Jika persediaan zat besi minimal, maka setiap kehamilan akan mengurangi persediaan zat besi tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodelusi atau pengenceran dengan peningkatan volume 30% sampai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu. Pada ibu hamil yang mengalami anemia biasanya ditemukan ciri-ciri lemas, pucat, cepat lelah, mata berkunang-kunang. Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan yaitu pada trimester pertama

42

dan trimester ke tiga. Dampak anemia pada janin antara lain abortus, terjadi kematian intrauterin, prematuritas, berat badan lahir rendah, cacat bawaan dan mudah infeksi. Pada ibu, saat kehamilan dapat mengakibatkan abortus, persalinan prematuritas, ancaman dekompensasikordis dan ketuban pecah dini. Pada saat persalinan dapat mengakibatkan gangguan his, retensio plasenta dan perdarahan post partum karena atonia uteri.

Menurut Depkes RI (2005), bahwa anemia berdasarkan hasil pemeriksaan dapat digolongkan menjadi (1) HB > 11 gr %, tidak anemia, (2) 9-10 gr % anemia sedang, (3) < 8 gr % anemia berat.

Pada pemeriksaan kehamilan 38 minggu didapatkan hasil laboratorium, Hb 10 gr%, ini menunjukan ibu mengalami anemia ringan, hal ini tidak sesuai dengan teori Syaefudin (2014), dimana kadar Hb ibu hamil trimester III harus lebih dari 10gr%.

Status gizi dan ekonomi yang kurang merupakan salah satu penyebab faktor anemia yang diderita ibu, Syaefudin (2014). Mengingat suami Ny. I yang bekerja sebagai pedagang dengan penghasilan ± 1.000.000/bulan.

Menurut buku ajaran gizi untuk kebidanan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi gizi ibu hamil terutama dengan anemia salah satunya status ekonomi, karena ekonomi seseorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan yang akan dikonsumsi sehari – hari. Seorang dengan ekonomi tinggi kemudian hamil maka kemungkinan besar sekali gizi yang dibutuhkan tercukupi ditambah lagi adanya pemeriksaan membuat gizi ibu semakin terpantau (Sulistyawati,2009).

43

Pendapatan keluarga yang minim menyebabkan kurangnya pemilihan jumlah kalori serta nutrisi makanan sehari-hari sehingga mengurangi jumlah dan kualitas makanan ibu perhari yang berdampak pada penurunan status gizi dan anemia yang diderita ibu

Selain itu ukuran TFU ibu selama kehamilan juga tidak sesuai dengan usia kehamilan, dan ibu tidak melakukan pemeriksaan USG, dikarenakan alasan biaya. Ukuran TFU yang kecil pada ibu merupakan dampak dari anemia yang diderita ibu selama kehamilan. Anemia dalam kehamilan dapat memberikan dampak negatif terhadap fetus, salah satunya gangguan pertumbuhan janin. Kadar hemoglobin yang rendah pada anemia menyebabkan hipoksia kronik sehingga mengaktifkan respon stres tubuh dan meningkatkan kadar sirkulasi corticotrophinreleasing hormone.

Disamping itu, defisiensi zat besi dapat meningkatkan kadar norepinefrin dan kortisol serta meningkatkan stress oksidatif pada plasenta.

Mekanisme ini bertanggung jawab dalam gangguan pertumbuhan janin yang secara spesifik ditunjukkan oleh kejadian intrauterine growth restriction (IUGR). Kemungkinan yang terjadi pada bayi yang dilahirkan yaitu berat badan bayi lahir rendah, Sulistyawati (2009).

3.3.2 Intranatal Care

Berdasarkan hasil observasi dan data di BPM Evi bekasi diketahui bahwa petugas melakukan anamnesa ketika pasien pertama datang, melakukan pemeriksaan TTV, namun petugas tidak melakukan pemeriksaan tes Hb ulang, dan petugas tidak melakukan pemeriksaan

44

USG, mengingat ukuran TFU ibu tidak sesuai dengan usia kehamilan dan dikhawatirkan bayi yang dilahirkan kecil, dan ibu mengalami perdarahan.

Berdasarkan analisa dari kasus dan teori terjadi kesenjangan penanganan anemia dan PJT. Jika saat pasien datang dilakukan pemeriksaan USG dan cek Hb ulang maka kegawatdaruratan yang akan terjadi pada ibu dan bayi dapat segera diantisipasi.

Menurut Wildan, M dan Hdayat, A.A.A, 2008 bahwa fungsi pendokumentasian diantaranya sebagai berikut : Aspek hukum, melalui dokumentasi maka terdapat jaminan kepastian hukum dasar keadilan, sama halnya dalam rangka usaha menegakkan hukum dan penyediaan bahan tanda bukti untuk menegakkan keadilan, karena semua catatan tentang pasien merupakan dokumentasi resmi dan bernilai hukum. Hal tersebut sangat bermanfaat apabila dijumpai suatu masalah yang berhubungan dengan profesi bidan, dimana bidan sebagai pemberi jasa, maka pendokumentasian di perlukan sewaktu-waktu, karena dapat digunakan sebagai barang bukti di pengadilan, maka dalam pencatatan data, data harus diidentifikasi secara lengkap, jelas, objektif dan di tandatangani oleh bidan.

Aspek dokumentasi, berisi sumber informasi yang harus didokumentasikan dan dipakai sebagai bahan pertanggung jawaban dalam proses dan laporan pelayanan kesehatan. Aspek akreditasi, melalui dokumentasi akan tercermin banyaknya permasalahan pasien yang berhasil diatasi atau tidak. Dengan demikian, dapat diambil suatu kesimpulan tentang tingkat keberhasilan pemberian asuhan kebidanan yang diberikan

45

guna pembinaan lebih lanjut. Selain itu, dapat dilihat sejauh mana peran dan fungsi bidan dalam memberikan asuhan kebidanan pada pasien.

Melalui akreditasi pula kita dapat memantau kwalitas layanan kebidanan yang telah diberikan sehubungan dengan kompetensi dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

Berdasarkan hasil observasi dan data BPM Evi bekasi diketahui bahwa petugas melakukan anamnesa ketika pasien pertama datang, melakukan pemeriksaan TTV, abdomen, melalukan pemeriksaan dalam, mengobservasi kemajuan persalinan kemudian mendokumentasikannya dalam partograf. Dalam kasus ini sebagian besar pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan yang ditetapkan oleh Prosedur Tetap (PROTAP) Puskesmas Kaliabang Tengah yang menjadi pedoman BPM Evi.

3.3.3 Postnatal Care

Dalam studi kasus ini ditemukan bidan melakukan pemeriksaan TTV pada pasien, dan hasil pemeriksaan terdapat dalam batas normal.

Pasien berkunjung BPM Evi bekasi pada hari ke-7 post partum.

Menurut USAID-MCHIP (2012) bahwa pelayanan postnatal care menetapkan frekuensi kunjungan postnatal care sebaiknya 4 (empat) kali selama masa nifas, dengan ketentuan sebagai berikut : Pertama, dilakukan pada 6 jam-48 jam, Kedua, dilakukan pada hari ke 3-7, Ketiga, dilakukan pada hari ke 8-28, dan Keempat, dilakukan pada hari ke 29–42.

46

Menurut Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) pada Standar15 tentang Pelayanan Bagi Ibu dan Bayi Pada Masa Nifas, Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah sakit atau melakukan kunjungan ke rumah pada hari ke-tiga, minggu ke dua dan minggu ke enam setelah persalinan, untuk membantu proses penatalaksanaan tali pusat yang benar, penemuan dini, penatalaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir , pemberian ASI , imunisasi dan KB. Tujuannya adalah memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan memberikan penyuluhan ASI eksklusif.

Berdasarkan kasus dan teori didapatkan kunjungan nifas pada Ny. I sudah sesuai sehingga tidak ada kesenjangan, pada pemeriksaan postnatal care bidan memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, memberitahu mengenai kebersihan perorangan seperti vulva hygiene yang baik, dan asupan nutrisi ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi

Mengkonsumsi makanan yang bergizi sangat dibutuhkan untuk tubuh ibu yang sedang menyusui dan dapat berpengaruh terhadap produksi ASI jika asupan makanan yang bergizi kurang.Sehingga dapat disimpulkan pelayanan yang bidan berikan sesuai dengan standar.

47

3.3.4 Bayi Baru Lahir

Dalam studi kasus ini ditemukan bahwa bayi segera menangis dengan A/S : 9/10 dan bidan melakukan suction pada bayi baru lahir, melakukan IMD dan dilakukan rawat gabung. Berdasarkan analisis data didapatkan bahwa kunjungan neonatus yang dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu pada 8 jam, , dan 7 hari.

Berat badan bayi Ny. I saat lahir dalam batas normal, hal ini tidak sesuai dengan WHO menyebutkan janin yang mengalami pertumbuhan yang terhambat adalah janin yang mengalami kegagalan dalam mencapai berat standard atau ukuran standard yang sesuai dengan usia kehamilannya.

Pada kasus tersebut juga tidak sesuai dengan teori Wikjosastoro, 2005 dimana disebutkan PJT adalah gangguan pertumbuhan pada janin dan bayi baru lahir yang meliputi semua parameter (lingkar kepala, berat badan, panjang badan), yang beratnya dibawah 0' persentil untuk usia gestasionalnya. Bayi-bayi antara persentil 0' dan 1' diklasifikasikan sebagai kelompok dengan berat sesuai usia gestasional.

Penanganan awal pada Bayi Baru Lahir Untuk BBL cukup bulan dengan air ketuban jernih yang langsung menangis atau bernapas spontan dan bergerak aktif cukup dilakukan manajemen BBL normal.

Jika bayi kurang bulan atau lebih bulan dan atau air ketuban bercampur meconium dan atau tidak bernapas atau megap-megap dan atau tonus otot tidak baik lakukan manajemen BBL dengan Asfiksia. (Kemenkes RI, Buku Saku Pelayanan Neonatal Esensial, 2010).

48

Menurut United States Agency For International Development ( USAID ) – Maternal And Child Health Integrated Program ( MCHIP ) 2012 Jadwal kunjungan Neonatus :

a). Pertama, dilakukan pada 6 jam-48 jam b). Kedua, dilakukan pada hari ke 3-7 c). Ketiga, dilakukan pada hari ke 8-28

Menurut Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) pada standar 13 tentang Perawatan Bayi Baru Lahir, Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan, mencegah asfiksia, menemukan kelainan , dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai kebutuhan.

Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermi dan mencegah hipoglikemia dan infeksi. Tujuannya adalah menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernafasan serta mencegah hipotermi, hipoglikemi dan infeksi.

Dan hasil yang diharapkan adalah bayi baru lahir menemukan perawatan dengan segera dan tepat. Bayi baru lahir mendapatkan perawatan yang tepat untuk dapat memulai pernafasan dengan baik.

Menurut Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) pada Standar tentang Pelayanan Bagi Ibu dan Bayi Pada Masa Nifas, Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah sakit atau melakukan kunjungan ke rumah pada hari ke-tiga, minggu ke dua dan minggu ke enam setelah persalinan, untuk membantu proses penatalaksanaan tali pusat yang benar, penemuan dini,

49

penatalaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir , pemberian ASI , imunisasi dan KB.

Menurut JNPK-KR, (2015) bahwa bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan kulit ibunya segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam. Dianjurkan agar tetap melakukan kontak kulit ibu bayi selama 1 jam pertama kelahirannya walaupun bayi telah berhasil menghisap puting susu ibu dalam waktu kurang dari 1 jam.

Menurut Maryuni, (2009) bahwa alasan penting melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah karena suhu dada ibu menyesuaikan suhu ideal (thermogulator) yang diperlukan bayi. Kulit dada ibu yang melahirkan melahirkan 1°C lebih panas dari ibu yang tidak melahirkan.

Menurut Saifuddin, (2002) bahwa obat mata eritromisin 0,5 % atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual). Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan.

Menurut Depkes, 2011 bahwa Salep atau tetes mata untuk pencegahan infeksi mata diberikan segera setelah proses IMD dan bayi selesai menyusu, sebaiknya 1 jam setelah lahir.Pencegahan infeksi mata dianjurkan mengunakan salep mata antibiotik tetrasiklin 1 %.

Berdasarkan kasus dan teori didapatkan kuantitas kunjungan neonatus pada By Ny. I sudah sesuai, pada kualitas neonatal care

50

sesuai dengan standar, karena pada saat bayi baru lahir petugas melakukan IMD, karena IMD mempunyai banyak manfaatnya untuk ibu dan bayi, selain dapat meningkatkan hubungan psikologis antara ibu dan bayi juga IMD dapat mendorong keterampilan bayi untuk menyusu lebih cepat dan efektif.

Menurut PP RI No 33 tahun (2012) Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif, Penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan dilarang memberikan Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif

51

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

4.1.1 Antenatal Care

Faktor predisposisi anemia pada kehamilan dan PJT pada Ny. I adalah faktor nutrisi yang dikomsumsi ibu. Faktor ekonomi keluarga mempunyai peranan penting dalam pemenuhan dan pemilihan asupan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan Ny. I saat hamil

4.1.2 Intranatal Care

Penanganan anemia dan PJT pada Ny.I di BPM Evi tidak sesuai dengan Posedur Tetap (PROTAP) Puskesmas Kaliabang Tengah, karena untuk penegakkan diagnosa petugas tidak melakukan pemeriksaan tes Hb ulang pada penatalaksanaan anemia dan PJT, hasil konfirmasi bahwa tidak dilakukan pemeriksaan tes Hb ulang disebabkan pasien baru melakukan pemeriksaan Hb pada usia kehamilan 38 minggu.

4.1.3 Kunjungan Nifas

Postnatal Care pada Ny. I secara kuantitas sudah sesuai dengan teori, namun secara kualitas sesuai dengan standar.

4.1.4 Kunjungan Neonatus

pada By. Ny. I secara kuantitas sudah sesuai teori, secara kualitas sesuai standar karena pada saat bayi baru lahir petugas melakukan IMD

52

4.2 Saran

4.2.1 Bagi Lahan Praktik

Melalui penulisan ini hendaknya bidan melakukan upaya preventif dengan memberikan penyuluhan ketika ibu hamil melakukan kunjungan Antenatal Care mengenai tanda bahaya ketika hamil khususnya faktor risiko pada ibu hamil dengan anemia dan PJT, dapat mengidentifikasi faktor predisposisi dari anemia dan PJT sehingga komplikasi bagi janin dan ibu dapat diminimalkan.

Melalui penulisan ini hendaknya bidan dapat memberi asuhan sesuai standar dan PROTAP yang sudah ditetapkan, serta selalu mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan.

4.2.2 Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberi masukan institusi pendidikan dalam sistem pendidikan terutama untuk materi perkuliahan sebagai pengembangan ilmu dan memberikan gambaran dan informasi bagi penulisan selanjutny

4.2.3 Bagi Penulis

Semoga penulis bisa mendapat pengalaman baru dalam menerapkan pengetahuhan yang diperoleh selama menjalani pendidikan serta dapat menganalisa kejadian serta penatalaksanaan anemia dan PJT.

53

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F. Gary. Machdonald. Paul C.Gant.Norman F. 2013. Obstetri William. Jakarta : EGC

Departemen Kesehatan RI, JHPIEGO. 2002. Asuhan Kebidanan Normal (APN), Revisi 2008. Jakarta: Jaringan Nasional Pelatihan Klinik

Asyirah S. Faktor – faktor yang berhubungan dengan anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas bajeng Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

2012.FKM UI

Shafa. 2010, Anemia pada Ibu Hamil http://drshafa.wordpress.com/2010/11/16/anemia-pada-bumil

Manuaba, Ida Bagus Gde, SpOG, Prof. Dr. 2012. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi edisi 2. Jakarta : EGC.

Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu kandungan .2012. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saifuddin, AB. 2009. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Sri Purwanti, Hubertin. 2004. Konsep Penerapan ASI Eksklusif. Jakarta : EGC Varney, Haylen. 2002. Buku Saku Bidan. Jakarta : EGC.

Wiknjosastro. H. 2009. Ilmu kebidanan . Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo.

Mitayanti. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika.

Manuaba, Ida Bagus Gde, SpOG, Prof , dkk. 2012. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: EGC.

Dokumen terkait