• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5. Pertumbuhan Kredit dan Komponen-komponen Laba Rugi per

berfluktuasi, dimana terjadi peningkatan dan penurunan dari jumlah pendapatan yang diperoleh setiap tahunnya. Pendapatan mengalami peningkatan sebesar 75,04% dari Rp 17.838.371 (dalam jutaan) pada tahun 1999 menjadi Rp 31.224.367 (dalam jutaan) pada tahun 2000. Peningkatan pendapatan pada tahun 1999 dan 2000 merupakan peningkatan terbesar selama kurun waktu sembilan tahun. Pertumbuhan pada tahun 2000 dan 2001 sebesar 12,59%, pada tahun 2001 dan 2002 sebesar 4,53%, pada tahun 2002

dan 2003 -19,67%, pada tahun 2003 dan 2004 -21,19%, pada tahun 2004 dan 2005 1,15%, pada tahun 2005 dan 2006 23,71%, dan pertumbuhan pada tahun 2006 dan 2007 sebesar -5,81%. Penurunan terbesar terjadi pada tahun 2003 dan 2004 sebesar -21,19%. Penurunan ini disebabkan oleh adanya penurunan terbesar komponen-komponen pendapatan pada tahun 2003 dan 2004 yaitu obligasi pemerintah sebesar 46,83% dan pendapatan bukan operasional 97,98%. Namun jika dilihat pada tahun ini, pendapatan yang berasal dari bunga dari kredit yang diberikan mengalami peningkatan, terutama untuk bunga kredit konsumsi sebesar 184,88%, bunga kredit investasi 8,13% dan bunga kredit modal kerja sebesar 5,62%. Namun sebaliknya, bunga dari kredit lainnya mengalami penurunan sebesar 26,21%. (Lampiran 4).

Gambar 8.Pertumbuhan pendapatan bunga kredit yang diberikan per tahun Sumber: Laporan Keuangan PT Bank X Tbk (data diolah)

Peningkatan terbesar pendapatan bunga per tahun selama kurun waktu sembilan tahun pada kredit modal kerja sebesar 40,69% pada tahun 2004 dan 2005, kredit investasi 37,23% pada tahun 2000 dan 2001, dan pendapatan bunga dari kredit konsumsi pada tahun 2003 dan 2004 sebesar 184,88%. Penurunan terbesar yang diperoleh dari pendapatan bunga kredit modal kerja, kredit investasi dan bunga dari kredit konsumsi terjadi pada tahun 1999 dan 2000 sebesar 33,83%, 48,80% dan 44,43% (Gambar 8). Hal ini disebabkan oleh penurunan jumlah kredit yang disalurkan. Penurunan terbesar penyaluran kredit terjadi pada tahun 1999 dan 2000, yaitu untuk kredit modal

-100,00 -50,00 0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 Modal Kerja Investasi Konsumsi Kredit Lainnya

kerja sebesar 2,68%, kredit investasi 24,69% dan kredit konsumsi sebesar 18,26%. Sedangkan peningkatan terbesar penyaluran kredit modal kerja terjadi pada tahun 2001 dan 2002 sebesar 53,19%, kredit investasi sebesar 36,60% terjadi pada tahun 2000 dan 2001, dan penyaluran kredit konsumsi mengalami peningkatan pada tahun 2003 dan 2004 sebesar 220,91% (Gambar 9).

Gambar 9.Pertumbuhan penyaluran kredit per tahun

Sumber: Laporan Keuangan PT Bank X Tbk (data diolah)

Rata-rata pertumbuhan penyaluran dan pendapatan bunga kredit per tahun didominasi oleh kredit konsumsi sebesar 65,85% dan 57,13%. Kredit modal kerja sebesar 21,76% dan 14,10%. Kredit investasi sebesar 11,76% dan 4,24%. Sedangkan kredit lainnya sebesar 4,66% dan -4,70%. Hal ini mengindikasikan bahwa kredit konsumsi mengalami pertumbuhan penyaluran kredit dan pendapatan bunga yang signifikan setiap tahunnya dibandingkan dengan kredit yang lain.

4.6. Analisis Korelasi

Analisis korelasi adalah analisis untuk mengukur tingkat keeratan hubungan linear antar dua variabel. Untuk menginterpretasikan koefisien korelasi dilihat dari besar kecilnya nilai koefisien. Hipotesis untuk menguji korelasi adalah:

H0: p-value = 0

Hipotesis ini berarti tidak ada korelasi antara dua peubah yang diteliti. H1: p-value≠ 0 -50,00 0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 Modal Kerja Investasi Konsumsi Kredit Lainnya

Hipotesis ini berarti ada korelasi antara dua peubah yang diteliti.

Daerah penolakan H0adalah p-value < α, sedangkan daerah penolakan untuk H1adalah p-value > α (Iriawan dan Astuti, 2006).

Pada tahap ini, dihasilkan nilai korelasi antar variabel independen serta nilai korelasi antara variabel independen dan variabel dependen. Nilai korelasi antar variabel independen dapat digunakan untuk mendeteksi secara dini adanya multikolinearitas. Iriawan dan Astuti (2006) menyatakan bahwa multikolinearitas dalam kasus dapat dideteksi apabila terdapat korelasi yang kuat antar variabel independen yang ditandai dengan nilai korelasi mendekati 1 dan tanda parameter model berlawanan dengan tanda nilai korelasi antara variabel independen dengan variabel dependen. Tabel 4 menunjukkan nilai korelasi antar variabel yang mempengaruhi laba.

Tabel 4. Nilai korelasi antar variabel yang mempengaruhi laba

Variabel Laba KMK KI KK PL TB

Laba nilai korelasi 0.218 -0.196 0.315 0.482 -0.976

p-value 0.572 0.612 0.409 0.189 0.000 KMK nilai korelasi 0.218 0.672 0.938 -0.545 -0.326 p-value 0.572 0.047 0.000 0.129 0.392 KI nilai korelasi -0.196 0.672 0.609 -0.787 0.049 p-value 0.612 0.047 0.082 0.012 0.901 KK nilai korelasi 0.315 0.938 0.609 -0.574 -0.455 p-value 0.409 0.000 0.082 0.106 0.218 PL nilai korelasi 0.482 -0.545 -0.787 -0.574 -0.288 p-value 0.189 0.129 0.012 0.106 0.452 TB nilai korelasi -0.976 -0.326 0.049 -0.455 -0.288 p-value 0.000 0.392 0.901 0.218 0.452 Sumber: Laporan keuangan PT Bank X 1999-2007 (data diolah) Keterangan:

KMK = pendapatan bunga dari kredit modal kerja KI = pendapatan bunga dari kredit investasi KK = pendapatan bunga dari kredit konsumsi PL = pendapatan lain-lain

TB = total biaya

Berdasarkan Tabel 4, nilai korelasi KMK (0,218), KK (0,315) dan PL (0,482) bertanda positif dengan p-value lebih besar dari α (0,05). Hal ini

menunjukkan terima H0, berarti tidak ada korelasi antara KMK, KK dan PL terhadap laba. Nilai korelasi KI yaitu -0,196 dengan p-value 0,612. Hal ini menunjukkan tidak ada korelasi antara KI dengan laba. Sedangkan nilai korelasi TB -0,976 dengan p-value 0. Karena p-value TB lebih kecil dari α, hal ini menunjukkan bahwa terima H1, yang berarti ada korelasi antara TB dan laba. Akan tetapi, karena nilai korelasi TB bernilai negatif, berarti ada hubungan yang berlawanan antara TB dan laba.

Dari hasil analisis korelasi, terlihat bahwa korelasi antar variabel independen yang cukup erat adalah variabel KMK dan variabel KK dengan nilai korelasi 0,938 dengan nilap p-value 0,000. Dengan menggunakan taraf nyata 5%, p-value cukup signifikan untuk menolak H0, yang berarti bahwa kredit modal kerja dan kredit konsumsi memiliki korelasi yang erat. Korelasi yang cukup erat antara variabel KMK dengan KK mengindikasikan adanya multikolinearitas jika model regresi dijalankan. Hasil pengolahan regresi berganda antara laba sebagai variabel dependen dengan KMK, KI, KK, PL dan TB sebagai variabel independen ditunjukkan oleh model pada persamaan 4.

Laba = 1989028+1.18 KMK+0.997 KI+0.024 KK+0.984 PL-1.00 TB ...(4) Dugaan adanya kendala multikolinearitas diperkuat dengan adanya perbedaan tanda parameter model dengan tanda nilai korelasi antara variabel independen dan variabel dependen. Nilai korelasi variabel KI yang negatif terhadap laba berlawanan dengan tanda parameter model KI yang positif pada persamaan 4.

Multikolinearitas adalah suatu keadaan dimana antar variabel independen terdapat hubungan yang erat. Identifikasi adanya multikolinearitas dalam model dapat dilakukan dengan melihat nilaivariance inflation factors (VIF). Multikolinearitas dapat diidentifikasi pada parameter yang memiliki nilai VIF ≥ 5 (Iriawan dan Astuti, 2006). Nilai VIF variabel KMK, KK dan PL adalah 16,5, 25,6 dan 8,2 (Lampiran 7), sehingga dapat diidentifikasi bahwa model regresi pada persamaan 4 mengalami kendala multikolinearitas. Kendala multikolinearitas pada model dapat diatasi dengan menggunakan analisis komponen utama.

Dokumen terkait