BAB III METODE PENELITIAN
4.5 Pertumbuhan PDRB Kabupaten Karo
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan ukuran kinerja makro kegiatan ekonomi di suatu wilayah. PDRB suatu wilayah menggambarkan struktur ekonomi daerah dan peranan sektor-sektor ekonomi. PDRB Kabupaten Karo pada tahun 2016 atas dasar harga konstan 2010 sebesar 12.494,87milyar.
PDRB tersebut meningkat sebesar 613,95 milyar dibandingkan pada tahun 2015 yaitu sebesar 11.880,93 milyar.
Tabel 4.3 PDRB Kabupaten Karo Atas Dasar Harga Konstan 2010 Tahun 2012 – 2016
No Tahun PDRB (MilyarRupiah)
1 2012 10,258.34
2 2013 10,765.99
3 2014 11,314.39
4 2015 11.880,93
5 2016 12.494,87
Sumber: Kabupaten Karo Dalam Angka 2017
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Tingkat Perkembangan Sektor Pertanian Kabupaten Karo dalam Konstalasi Perekonomian Kawasan Dataran Tinggi Sumatera Utara
Untuk menjelaskan tingkat perkembangan sektor pertanian Kabupaten Karo dalam konstalasi Kawasan Dataran Tinggi Sumatera Utara digunakan alat analisis Tipologi Klassen. Dataran Tinggi Sumatera Utara meliputi Kabupaten Karo, Dairi, Simalungun, Samosir, Toba Samosir, Tapanuli Utara dan Pakpak Bharat. Konstalasi dalam penelitian ini adalah posisi yang menggambarkan sektor pertanian Kabupaten Karo didalam perekonomian kawasan Dataran Tinggi Sumatera Utara.
Indikator utama yang digunakan dalam perhitungan ini adalah PDRB sektor pertanian Kabupaten Karo dan PDRB sektor pertanian Dataran Tinggi Sumatera Utara. Dengan menggunakan PDRB data periode 2012-2016, dihitung rata-rata kontribusi adalah persentase perbandingan antara PDRB sektor dengan total PDRB dan rata- rata laju pertumbuhan yaitu persentase perbandingan antara PDRB sektor tahun sekarang dikurang PDRB sektor tahun sebelumnya dengan PDRB sektor tahun sebelumnya. Dengan memperbandingkan rata-rata kontribusi PDRB K abupaten Karo (gi) dan rata-rata kontribusi PDRB Dataran Tinggi Sumatera Utara (g) serta memperbandingkan rata-rata laju pertumbuhan PDRB Kabupeten Karo (si) dan rata-rata laju pertumbuhan PDRB Dataran Tinggi Sumatera Utara (s). Maka diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut tabel 5.1.
24
Tabel 5.1. Perbandingan Laju Pertumbuhan dan Kontribusi PDRB Subsektor Pertanian Karo dan Dataran Tinggi Sumatera Utara Tahun 2012-2016 (%)
Sektor Limbah dan Daur Ulang
0,081 0,08 5,94 4,76
Sumber: Diolah dari Lampiran 1-20
Tabel 5.1 menunjukkan hasil perhitungan rata-rata laju pertumbuhan setiap sektor dari tahun 2012-2016 di Kabupaten Karo dan Dataran Tinggi Sumatera Utara, serta rata-rata kontribusi terhadap PDRB di Kabupaten Karo dan Dataran Tinggi Sumatera Utara. Laju pertumbuhan yang lebih tinggi di Kabupaten Karo dibandingkan dengan laju pertumbuhan di Dataran Tinggi Sumatera Utara hanya terdapat pada sektor industri pengolahan, pengadaan air, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang, perdagangan besar dan eceran, penyediaan akomodasi dan makan minum, real estat, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib, jasa pendidikan, jasa kesehatan dan kegiatan sosial dan jasa lainnya, sementara sektor pertanian, kehutanan, perikanan, pertambangan dan penggali, pengadaan listrik dan gas, Konstruksi,Informasi dan Komunikasi, Jasa Keuangan dan Asuransi dan Jasa Perusahaan memiliki laju pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan di Dataran Tinggi Sumatera Utara. Hasil perhitungan rata-rata kontribusi terhadap PDRB bahwa seluruh sektor di Kabupaten Karo kecuali sektor industri pengolahan, konstruksi dan administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap PDRB dibandingkan dengan kontribusi terhadap PDRB di Dataran Tinggi Sumatera Utara.
Hasil perhitungan rata-rata laju pertumbuhan sektor dan rata-rata kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Karo dan Dataran Tinggi Sumatera Utara, selanjutnya dibandingkan untuk memperoleh masing-masing posisi sektor tersebut dengan menggunakan Matrix Tipologi Klassen.Tabel klasifikasi Tipologi Klassen yang terdiri dari empat kuadran yaitu kuadran I klasifikasi maju dan tumbuh dengan pesat, kuadran II klasifikasi maju tapi tertekan, kuadran III
klasifikasi potensial atau masih dapat berkembang dan kuadran IV klasifikasi tertinggal. Hasil pencocokan tersebut dapat dilihat pada Tabel di bawah berikut yang menyajikan posisi masing-masing subsektor berdasarkan Tipologi Klassen.
Tabel 5.2. Klasifikasi Subsektor Pertanian dalam Perekonomian Kabupaten Karo berdasarkan Tipologi Klassen
Kuadran I
(Sektor Maju dan Tumbuh Dengan Pesat) - Pengadaan air, pengelolaan sampah,
limbah dan daur ulang
- Perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor - Penyediaan akomodasi dan makan
minum
- Jada pendidikan dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial dan jasa lainnya
Kuadran II
(Sektor Maju Tapi Tertekan) - Pertanian, Kehutanan, Perikanan - Pertambangan dan penggalian - Pengadaan listrik dan gas - Transportasi dan pergudangan - Informasi dan komunikasi - Jasa keuangan dan perusahaan
dan jasa perusahaan Kuadran III
(Sektor Potensial Atau Masih Dapat Berkembang)
- Industri pengolahan
- Administrasi pemerintah. Pertahanan dan jaminan sosial wajib
Kuadran IV
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa tingkat perkembangan sektor pertanian Kabupaten Karo dalam konstalasi perekonomian kawasan Dataran Tinggi berada pada Kuadran II (gi > g dan si < s) yaitu sektor tersebut tergolong dalam kategori sektor maju tapi tertekan. Hal ini dikarenakan kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan PDRB di Kabupaten Karo (58,43%) lebih besar daripada kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan PDRB di kawasan Dataran Tinggi Sumatera
Utara (52,46%), namun laju pertumbuhan sektor pertanian di Kabupaten Karo (3,91%) lebih kecil dari laju pertumbuhan sektor pertanian di kawasan Dataran Tinggi Sumatera Utara (4,54%).
Laju pertumbuhan sektor pertanian Kabupaten Karo cenderung menurun dari 4,13% pada tahun 2012 menjadi 3,91 % tahun 2016. Penurunan laju pertumbuhan sektor pertanian ini, didukung data luas panen dan produksi dari berbagai komoditas yang menurun dari tahun 2012 hingga 2016.
Tabel 5.3. Penurunan Luas Panen dan Produksi Tanaman di Kabupaten
Sumber: Kabupaten Karo Dalam Angka 2012 & 2016
Tabel 5.4. Penurunan Produksi Ternak di Kabupaten Karo 2012 - 2016.
Komoditi Produksi (Ekor)
2012 2016
Sumber: Kabupaten Karo Dalam Angka 2012 & 2016
Penurunan luas panen dan produksi tanaman dan ternak ini diantaranya disebabkan oleh adanya penurunan daya dukung lahan baik dari sisi kesuburan tanah (degradasi) akibat overeksploitasi juga akibat meningkatnya alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian (perumahan, perhotelan dan perkantoran).
5.2 Komoditi Unggulan Sektor Pertanian di Kabupaten Karo
Sektor pertanian memiliki beberapa komoditi yang layak dikembangkan, sehingga kontribusinya terhadap produksi pertanian meningkat dan secara keseluruhan akan meningkatkan PDRB Kabupaten Karo. Komoditas unggulan pertanian adalah komoditas yang menjadi unggulan daerah yang memiliki nilai dalam perhitungan Location Quotient (LQ) > 1. Indikator utama yang digunakan dalam perhitungan ini adalah jumlah produksi dalam satuan ton.
Komoditi unggul di Sektor Pertanian di kelompokkan menjadi 3 kriteria yaitu sebagai berikut:
a. Jika nilai LQ suatu komoditas > 1, maka komoditas tersebut dapat dikatakan sebagai komoditas unggulan, produksinya tidak saja dapat memenuhi
kebutuhan di wilayah Kabupaten Karo akan tetap juga dapat diekspor ke luar wilayah.
b. Jika nilai LQ suatu komoditas < 1, maka komoditas tersebut dapat dikatakan sebagai bukan komoditas unggulan, produksi komoditas di wilayah
Kabupaten Karo tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri sehingga perlu pasokan atau impor dari luar.
c. Jika nilai LQ suatu komoditas = 1, maka komoditas tersebut dapat dikatakan komoditas yang hanya dapat memenuhi kebutuahan daerahnya sendiri.
5.2.1 Komoditi Unggulan Tanaman Pangan
Tanaman pangan merupakan sektor penting, karena tanaman pangan merupakan kelompok tanaman yang menghasilkan bahan pangan sebagai sumber energi untuk menopang kehidupan manusia. Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa juga memiliki bermacam-macam komoditas tanaman pangan antara lain padi, jagung, golongan umbi-umbian seperti ubi kayu, ubi jalar, sagu dan golongan kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang hijau dan kedelai.
Hasil perhitungan nilai LQ di subsektor pertanian yaitu tanaman pangan pada tabel berikut:
Tabel 5.5. Hasil Analisis LQ Komoditi Unggulan Tanaman Pangan Kabupaten Karo terhadap Dataran Tinggi Sumatera Utara tahun 2016
Jumlah 686109,82 388030,07
Sumber : Diolah dari Lampiran 21
Komoditi unggulan tanaman pangan adalah komoditi dengan nilai LQ > 1 Dengan demikian komoditi unggulan tanaman pangan di Kabupaten Karo adalah jagung. Sehingga dapat dikatakan komoditi tersebut termasuk dalam kategori unggulan di Kabupaten Karo yang artinya bahwa hasil dari komoditi unggulan tersebut tidak saja dapat memenuhi kebutuhan di wilayah Kabupaten Karo akan tetap juga dapat diekspor ke luar wilayah Kabupaten Karo.
Hal di atas didukung oleh data Badan Pusat Statistik Sumatera Utara dalam Angka (2017), yang menunjukkan bahwa Kabupaten Karo merupakan penghasil jagung terbesar di Dataran Tinggi Sumatera Utara. Dengan jumlah produksi komoditi jagung di Kabupaten Karo sebesar 521.870 Ton dan produktivitas terbesar di Dataran Tinggi Sumatera Utara sebesar 66,67 ton/ha.
Perbandingan jumlah produksi dan produktivitas komoditi tanaman pangan unggulan per Kabupaten di Dataran Tinggi Sumatera Utara diperlihatkan pada tabel berikut:
Tabel 5.6. Produksi dan Produktivitas Komoditi Pangan unggulan per Kabupaten Di Dataran Tinggi Sumatera Utara Tahun 2016.
KABUPATEN Jagung
Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha)
Karo 521870 66,67
Dairi 217003,5 65,98
Simalungun 382309,6 60,36
Samosir 7511,1 53,33
Toba Samosir 21969,2 5,99
Humbang Hasundutan 6070,5 55,32
Tapanuli Utara 33395,6 52,95
Pakpak Bharat 7418,2 57,44
Sumber: Provinsi Sumatera Utara Dalam Angka 2017
5.2.2 Komoditi Unggulan Tanaman Sayur-sayuran
Sayuran adalah salah satu kelompok hortikultura yang mempunyai arti dan kedudukan tersendiri dalam proses pembangunan nasional di sub sektor pertanian.
Sayuran merupakan sumber vitamin dan mineral yang penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Idealnya, seseorang harus mengkonsumsi sayuran sekitar 200 gram per hari agar metabolisme di dalam tubuh tidak terganggu akibat kekurangan serat (Rahardi, 2001).
Hasil perhitungan nilai LQ di subsektor pertanian yaitu tanaman sayur-sayuran pada tabel berikut:
Tabel 5.7. Hasil Analisis LQ Komoditi Unggulan Sayur-sayuran Kabupaten Karo terhadap Dataran Tinggi Sumatera Utara tahun 2016
Komoditi
Jumlah 333312 547044,08
Sumber : Diolah dari Lampiran 22
Komoditi unggulan tanaman sayur-sayuran adalah komoditi dengan nilai LQ > 1. Dengan demikian komoditi unggulan tanaman sayuran di Kabupaten Karo adalah bawang putih, bawang daun, kol, petsai, wortel, tomat lobak dan labu. Sehingga dapat dikatakan komoditi tersebut termasuk dalam kategori unggulan di Kabupaten Karo yang artinya bahwa hasil dari komoditi unggulan tersebut tidak saja dapat memenuhi kebutuhan di wilayah Kabupaten Karo akan tetap juga dapat diekspor ke luar wilayah Kabupaten Karo.
Jumlah produksi bawang daun, bawang putih, kol, petsai, wortel, tomat, lobak dan labu Kabupaten Karo lebih tinggi dari kabupaten lainnya. Karena agroklimat dan kesuburan paling sesuai dengan komoditi tersebut. Dengan ketinggian 600 - 1.400 m di atas permukaan laut. Kawasan berhawa sejuk dengan suhu berkisar 14o - 26oC dan kelembapan rata-rata 89. Dan produktivitas tanaman sayuran unggulan Kabupaten Karo lebih tinggi dari pada kabupaten lainnya.
Produktivitas paling tinggi pada tahun 2016 yaitu komoditi kol/kubis sebesar 279,36 ton/Ha, selanjutnya diikuti oleh komoditi tomat dengan produktivitas sebesar 244,86 ton/Ha. Perbandingan jumlah produksi komoditi tanaman sayur-sayuran unggulan per Kabupaten di Dataran Tinggi Sumatera Utara diperlihatkan pada tabel berikut:
Tabel 5.8. Produksi Komoditi Sayuran Unggulan per Kabupaten Di Dataran Tinggi Sumatera Utara Tahun 2016.
Kabupaten
Sumber: Provinsi Sumatera Utara Dalam Angka 2017
5.2.3 Komoditi Unggulan Tanaman Buah-buahan
Produksi buah-buahan Indonesia masih belum mencapai hasil yang memuaskan. Namun nilai ekspor komoditas buah-buahan nasional masih rendah.
Mungkin dikarenakan pengelolaan yang masih banyak bersifat tradisional.
Produksi berbagai macam buah-buahan di Kabupaten Karo termasuk tinggi. Hal ini karena kabupaten tersebut mempunyai keadaan agroklimat yang sesuai pada tanaman buah buahan.
Hasil perhitungan nilai LQ di subsektor pertanian yaitu tanaman buah-buahan pada tabel berikut:
Tabel 5.9. Hasil Analisis LQ Komoditi Unggulan Buah-buahan Kabupaten Karo terhadap Dataran Tinggi Sumatera Utara tahun 2016
Komoditi
Jumlah 256073 507612,87
Sumber : Diolah dari Lampiran 23
Komoditi unggulan tanaman buah - buahan adalah komodti dengan nilai LQ > 1. Dengan demikian komoditi unggulan tanaman buah-buhan di Kabupaten Karo adalah alpokat, jeruk,dan marquisa. Sehingga dapat dikatakan komoditi tersebut termasuk dalam kategori unggulan di Kabupaten Karo yang artinya bahwa hasil dari komoditi unggulan tersebut tidak saja dapat memenuhi kebutuhan di wilayah Kabupaten Karo akan tetap juga dapat diekspor ke luar wilayah Kabupaten Karo.
Hal diatas didukung pula oleh data Badan Pusat Statistik (2017), yang menunjukkan bahwa Kabupaten Karo merupakan penghasil alpukat, jeruk, sawo dan marquisa terbesar di Dataran Tinggi Sumatera Utara. Jumlah produksi komoditi alpukat sebesar 2764, jeruk sebesar 234.200 ton, sawo sebesar 295, dan marquisa sebesar 4829. Perbandingan jumlah produksi komoditi tanaman
buah-buahan unggulan per Kabupaten di Dataran Tinggi Sumatera Utara diperlihatkan pada tabel berikut:
Tabel 5.10. Produksi Komoditi Tanaman Buah-Buhan Unggulan per Kabupeten Di Dataran Tinggi Sumatera Utara Tahun 2016.
Kabupaten Produksi (Ton)
Alpokat Jeruk Sawo Marquisa
Karo 2764 234200 295 4829
Sumber: Provinsi Sumatera Utara Dalam Angka 2017
5.3 Hubungan Antara Jumlah Produksi Komoditi Pertanian Unggulan dengan Kontribusi Sektor Pertanian pada Perekonomian Kabupaten Karo.
Jumlah produksi komoditi unggulan pertanian dari tahun 1996-2016 di Kabupaten Karo Sumatera Utara berfluktuasi sebagai terlihat pada grafik berikut:
Gambar 5.1. Grafik perkembangan jumlah produksi komoditi unggulan pertanian.
Dapat di lihat pada grafik jumlah produksi komoditi unggulan pertanian Kabupaten Karo yang tertinggi pada tahun 2007 yaitu sebesar 1.688.125 ton.
1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
satuan ton
Jumlah Produksi Komoditi Pertanian Unggulan
Jumlah produksi komoditi unggulan pertanian Kabupaten Karo yang terendah pada tahun 2013 dengan jumlah produksi komoditi unggulan pertanian sebesar 855.900 ton. Dari tahun 1996 sampai tahun 2007 terjadi kenaikan jumlah produksi komoditi pertanian unggulan sebesar 41,15%. Dari tahun 2007 hingga 2016 terjadi penurunan jumlah produksi tanaman pangan unggulan sebesar 40,96%.
Untuk menjelaskan ada-tidaknya hubungan antara jumlah hasil produksi komoditi pertanian unggulan yang ada di Kabupaten Karo dengan Kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo, maka selanjutnya dilakukan analisis korelasi antara kedua variabel.
Dalam menganalisis hubungan antara jumlah produksi komoditi unggulan dengan kontribusi sektor pertanian Kabupaten Karo maka jumlah produksi komoditi unggulan dalam hal ini adalah jumlah dari hasil produksi tanaman pangan, sayuran dan buah-buahan yang termasuk nilai LQ nya > 1. Dan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo adalah persentase kontribusi PDRB sektor pertanian terhadap total PDRB Kabupaten Karo.
Produksi tanaman pangan diwakili oleh jumlah produksi jagung, untuk tanaman sayuran adalah bawang putih, bawang daun, kol, petsai, wartel, tomat, lobak, labu dan untuk tanaman buah-buahan adalah alpokat, jeruk, sawo dan marquisa.
Untuk mengukur hubungan antara jumlah produksi komoditi unggulan pertanian dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo maka digunakan uji korelasi Pearson dengan melihat nilai korelasi antar variabel.
Hasil uji memperlihatkan seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 5.11. Hasil Uji Korelasi Antara Jumlah Produksi Komoditi Unggulan Pertanian dengan Kontribusi Sektor Pertanian pada Perekonomian Kabupaten Karo.
Pearson Correlation 1 .095
Sig. (2-tailed) .682
N 21 21
Kontribusi sektor pertanian (%)
Pearson Correlation .095 1
Sig. (2-tailed) .682
N 21 21
Sumber: Diolah dari Lampiran 24,25,26 & 27
Tabel 5.11 menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi antara jumlah produksi komoditi unggulan pertanian dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo adalah sebesar 0,095, dengan tingkat signifikansi t sebesar 0,682. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara jumlah produksi komoditi unggulan pertanian dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo tergolong sangat lemah dan tidak nyata.
5.3.1Analisis Hubungan Antara Jumlah Produksi Tanaman Pangan Unggulan Dengan Kontribusi Sektor Pertanian pada Perekonomian Kabupaten Karo.
Jumlah produksi tanaman pangan unggulan dari tahun 1996-2016 di Kabupaten Karo Sumatera Utara berfluktuasi dan terus meningkat pada beberapa tahun terakhir sebagai terlihat pada grafik berikut:
Gambar 5.2. Grafik perkembangan jumlah produksi tanaman pangan unggulan.
Dapat di lihat pada grafik jumlah produksi tanaman pangan unggulan Kabupaten Karo yaitu komoditi jagung, tertinggi pada tahun 2015 yaitu sebesar 577.924 ton dan terendah pada tahun 2005 dengan jumlah produksi sebesar 244.583 ton. Dari tahun 1996 sampai tahun 2005 terjadi penurunan jumlah produksi tanaman pangan sebesar 43,93%. Dari tahun 2005 hingga 2016 terjadi kenaikan jumlah produksi tanaman pangan unggulan sebesar 51,83%.
Untuk mengukur hubungan antara jumlah produksi tanaman pangan unggulan dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo maka digunakan uji korelasi Pearson dengan melihat nilai korelasi antar variabel.
Hasil uji memperlihatkan seperti pada tabel berikut ini:
0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000
1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Satuan Ton
Jumlah Produksi Tanaman Pangan Unggulan
Tabel 5.12. Hasil Uji Korelasi Antara Jumlah Produksi Tanaman Pangan Unggulan dengan Kontribusi Sektor Pertanian pada Perekonomian Kabupaten Karo.
Pearson Correlation 1 -.237
Sig. (2-tailed) .300
N 21 21
Kontribusi Sektor Pertanian (%)
Pearson Correlation -.237 1
Sig. (2-tailed) .300
N 21 21
Sumber : Diolah dari Lampiran 24&27
Tabel 5.12 menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi antara jumlah produksi tanaman pangan unggulan dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo adalah sebesar -0,237, dengan tingkat signifikansi t sebesar 0,300. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara jumlah produksi tanaman pangan unggulan dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo tergolong lemah dan tidak nyata.
5.3.2 Analisis Hubungan Antara Jumlah Produksi Tanaman Sayuran Unggulan dengan Kontribusi Sektor Pertanian pada Perekonomian Kabupaten Karo.
Jumlah produksi tanaman sayuran unggulan dari tahun 1996-2016 di Kabupaten Kao Sumatera Utara berfluktuasi dan cenderung menurun pada beberapa tahun terakhir, sebagai terlihat pada grafik berikut:
Gambar 5.3. Grafik perkembangan jumlah produksi tanaman sayuran unggulan.
Dapat di lihat pada grafik jumlah produksi tanaman sayuran unggulan Kabupaten Karo dengan LQ > 1 yaitu bawang putih, bawang daun, kol, petsai, wartel, tomat, lobak, labu yang tertinggi pada tahun 2000 yaitu sebesar 657.297 ton. Jumlah produksi tanaman sayuran unggulan Kabupaten Karo yang terendah pada tahun 2011 dengan jumlah produksi sebesar 161.645 ton. . Dari tahun 1996 sampai tahun 2000 terjadi kenaikan jumlah produksi tanaman sayuran unggulan sebesar 33,29%. Dari tahun 2000 hingga 2016 terjadi penurunan jumlah produksi tanaman pangan unggulan sebesar 62,44%.
Untuk mengukur hubungan antara jumlah produksi tanaman sayuran unggulan dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo maka digunakan uji korelasi Pearson dengan melihat nilai korelasi antar variabel.
Hasil uji memperlihatkan seperti pada tabel berikut ini:
0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000
1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Satuan Ton
Total Produksi Tanaman Sayuran Unggulan
Tabel 5.13. Hasil Uji Korelasi Jumlah Produksi Tanaman Sayuran Unggulan dengan Kontribusi Sektor Pertanian pada Perekonomian Kabupaten Karo.
Pearson Correlation 1 .712**
Sig. (2-tailed) .000
N 21 21
Kontribusi Sektor Pertanian (%)
Pearson Correlation .712** 1
Sig. (2-tailed) .000
N 21 21
Sumber : Diolah dari Lampiran 25&27
Tabel 5.13 menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi antara jumlah produksi tanaman sayuran unggulan dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo adalah sebesar 0,712, dengan tingkat signifikansi t sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara jumlah produksi tanaman sayuran unggulan dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo tergolong kuat dan nyata.
5.3.3 Analisis Hubungan Antara Jumlah Produksi Tanaman Buah-Buahan Unggulan dengan Kontribusi Sektor Pertanian pada Perekonomian Kabupaten Karo.
Jumlah produksi tanaman buah-buahan unggulan dari tahun 1996-2016 di Kabupaten Karo Sumatera Utara berfluktuasi, sebagai terlihat pada grafik berikut:
0
1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Satuan Ton
Total Produksi Tanaman Buah-buahan Unggulan
Gambar 5.4. Grafik perkembangan jumlah produksi tanaman buah-buahan unggulan.
Dapat di lihat pada grafik jumlah produksi tanaman buah-buahan unggulan Kabupaten Karo dengan LQ > 1 yaitu komoditi alpokat, jeruk, sawo, marquisa yang tertinggi pada tahun 2007 yaitu sebesar 1.026.577 ton. Jumlah produksi tanaman buah-buahan unggulan Kabupaten Karo yang terendah pada tahun 1997 dengan jumlah produksi sebesar 79.794 ton. Dari tahun 1996 sampai tahun 2007 terjadi kenaikan jumlah produksi tanaman buah-buahan sebesar 88,44%. Dari tahun 2007 hingga 2016 terjadi penurunan jumlah produksi tanaman pangan unggulan sebesar 76,42%.
Untuk mengukur hubungan antara jumlah produksi tanaman buah-buahan unggulan dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo maka digunakan uji korelasi Pearson dengan melihat nilai korelasi antar variabel.
Hasil uji memperlihatkan seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 5.14. Hasil Uji Korelasi Jumlah Produksi Tanaman
Pearson Correlation 1 -.151
Sig. (2-tailed) .514
N 21 21
Kontribusi Sektor Pertanian (%)
Pearson Correlation -.151 1
Sig. (2-tailed) .514
N 21 21
Sumber : Diolah dari Lampiran 26&27
Tabel 5.14 menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi antara produksi tanaman buah-buahan unggulan dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo adalah sebesar -0,151, dengan tingkat signifikansi t sebesar 0,514. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara jumlah produksi
tanaman buah-buahan unggulan dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo tergolong sangat lemah dan tidak nyata.
Dari hasil analisis tanaman pangan unggulan, tanaman sayuran unggulan dan tanaman buah-buahan unggulan kontribusi tanaman sayuran paling besar diantara tanaman pangan dan buah-buahan sehingga menunjang sektor pertanian produk domestik regional bruto paling besar dari pada sektor sektor lainnya di Kabupaten Karo.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Tingkat perkembangan sektor pertanian Kabupaten Karo dalam konstalasi perekonomian Kawasan Dataran Tinggi Sumatera Utara sudah tergolong maju namun tertekan (developed sector).
2. Komoditi unggulan sektor pertanian Kabupaten Karo pada tanaman pangan adalah jagung, pada tanaman sayuran adalah bawang putih, bawang daun, kol, petsai, wortel, tomat lobak, labu dan pada tanaman buah-buhan adalah alpokat, jeruk dan marquisa.
3. Hubungan antara jumlah produksi tanaman sayuran unggulan dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo tergolong kuat dan nyata, sedangkan hubungan antara jumlah produksi tanaman pangan unggulan dan tanaman buah-buahan unggulan dengan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kabupaten Karo tergolong lemah dan tidak nyata.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, adapun saran yang dapat peneliti berikan adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendorong sektor pertanian Kabupaten Karo menjadi sektor maju dan tumbuh pesat di kawasan Dataran Tinggi Sumatera Utara, maka perlu lebih
meningkatkan laju pertumbuhan PDRB sektor pertanian, lebih tinggi dari laju
meningkatkan laju pertumbuhan PDRB sektor pertanian, lebih tinggi dari laju