• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan PDRB Provinsi Jawa Barat dan PDB Nasional

II. TINJAUAN PUSTAKA

5.3. Analisis Shift Share Sebagai Indikator Pengukuran Kinerja Ekonomi Provinsi Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat

5.3.1. Perubahan PDRB Provinsi Jawa Barat dan PDB Nasional

Indikator yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perekonomian di suatu wilayah adalah pertumbuhan ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi merupakan indikator makro yang sering digunakan sebagai salah satu alat strategis untuk menetapkan suatu kebijakan di bidang ekonomi. Berdasarkan Tabel 5.3, secara umum, laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat mengalami pertumbuhan yang positif yaitu sebesar 20,86 persen pada kurun waktu 2001-2005 yang hampir menyamai pertumbuhan nasionalnya yaitu sebesar 21,20 persen.

Pertumbuhan tersebut terjadi disemua sektor kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Pertumbuhan tertinggi terdapat pada sektor bangunan/konstruksi yaitu sebesar 51,26 persen. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya industri yang berdiri di Provinsi Jawa Barat, jumlah penduduk yang semakin meningkat yang menyebabkan semakin banyaknya pembangunan perumahan serta banyaknya pemukiman yang dibangun. Selain itu juga dalam menghadapi era globalisasi, dengan semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk, peningkatan sarana dan prasarana infrastruktur menyebabkan peningkatan kebutuhan di sektor kontruksi dan bangunan.

Sektor jasa-jasa yang berada pada urutan kedua dengan pertumbuhan sebesar 40,84 persen, ketiga adalah sektor listrik, gas dan air bersih dengan

pertumbuhan sebesar 35,52 persen. Pada urutan keempat ditempati oleh sektor sektor pengangkutan dan komunikasi dengan pertumbuhan sebesar 29,90 persen. Sektor perdagangan, hotel dan restoran berada pada urutan kelima dengan pertumbuhan sebesar 29,82 persen. Urutan keenam adalah sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dengan pertumbuhan sebesar 28,65 persen. Ketujuh ditempati oleh sektor industri pengolahan dengan pertumbuhan sebesar 26,38. Selanjutnya pada urutan kedelapan ditempati oleh sektor pertanian dengan pertumbuhan sebesar 17,38 persen.

Tabel 5.3. Perubahan PDRB Provinsi Jawa Barat dan PDB Nasional Menurut Sektor Perekonomian Berdasarkan Harga Konstan 2000, Tahun 2001-2005.

Sumber : BPS Provinsi Jawa Barat Tahun 2001 dan 2005, diolah Keterangan :

1 = Sektor Pertanian; 2 = Sektor pertambangan dan Penggalian; 3 = Sektor Industri Pengolahan; 4 = Sektor Listrik, Gas dan Air bersih; 5 = Sektor Bangunan/Konstruksi; 6 = Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran; 7 = Sektor Pengangkutan dan Komunikasi; 8 = Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan; 9 = Sektor Jasa-jasa.

PDRB Provinsi Jawa Barat (milyar rupiah) PDB Indonesia (milyar rupiah) Lapangan Usaha 2001 2005 2001 2005 Perubahan PDRB Provinsi Jawa Barat (milyar rupiah) Persentase perubahan PDRB Provinsi Jawa Barat Perubahan PDB Indonesia (milyar rupiah) Persentase perubahan PDB Indonesia 1 29554 34691 225686 254391 5137 17,38 28705 12,72 2 16761 7195 168244 162642 -9566 -57,07 -5602 -3,33 3 82993 104887 398324 491700 21894 26,38 93376 23,44 4 4169 5650 9059 11597 1481 35,52 2538 28,02 5 5144 7781 80080 103404 2637 51,26 23324 29,13 6 36403 47260 234273 294396 10857 29,82 60123 25,66 7 7926 10296 70276 109467 2370 29,90 39191 55,77 8 5885 7571 123086 161260 1686 28,65 38174 31,01 9 14533 20468 133957 159991 5935 40,84 26034 19,43 Total 203368 245799 1442985 1748848 42431 20,86 305863 21,20

Kinerja terendah terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi pertumbuhan yaitu sebesar -57.07 persen. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya penerapan teknologi dan sarana/prasarana pendukung, selain itu juga akibat dari semakin berkurangnya hasil produksi karena bahan baku sektor ini tidak dapat diperbaharui lagi serta sangat rendahnya investasi di sektor pertambangan dan penggalian khususnya investasi asing karena sangat beresiko tinggi tanpa adanya jaminan dari pemerintah Indonesia.

Berdasarkan pada Tabel 5.3, bahwa industri pengolahan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Jawa Barat, sehingga sektor industri pengolahan ini menjadi sektor unggulan di Provinsi Jawa Barat yang ditandai nilai PDRB sektor industri pengolahan terus meningkat selama periode 2001-2005, yakni semula Rp. 82.993 milyar menjadi Rp. 104.887 milyar. Hal ini dipengaruhi oleh pemasaran produk-produk industri yang baik, infrastruktur (sarana dan prasarana) yang mendukung seperti kualitas sarana perhubungan dan komunikasi ditambah lagi dengan kedekatan dengan daerah pusat kegiatan di Indonesia yaitu DKI Jakarta. Oleh karena itu mengakibatkan akses pertumbuhan industri di Jawa Barat semakin tinggi dari tahun ketahun, sedangkan sektor yang memberikan kontribusi terendah terhadap pembentukan PDRB Provinsi Jawa Barat adalah sektor listrik, gas dan air bersih. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya sarana infrastruktur untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap sektor ini.

Secara terpisah pada perekonomian Indonesia, laju pertumbuhan perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang positif yaitu sebesar 21,20 persen. Pertumbuhan tersebut terjadi di semua sektor kecuali sektor pertambangan

dan penggalian. Pertumbuhan tertinggi terdapat pada sektor komunikasi dan pengangkutan yaitu sebesar 55,77 persen. Kemudian diikuti oleh sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, sektor bangunan/kontruksi, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan, sektor jasa-jasa dan sektor pertanian yang masing-masing sebesar 31,01 persen, 29,13 persen, 28,02 persen, 25,66 persen, 23,44 persen, 19,43 persen dan 12,72 persen, sedangkan kinerja terendah terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi pertumbuhannya yaitu sebesar 3,33 persen.

5. 3. 2. Rasio PDRB Provinsi Jawa Barat dan PDB Indonesia

Kontribusi sektor perekonomian di Provinsi Jawa Barat maupun nasionalnya sebagian besar mengalami peningkatan pada tahun 2001-2005. Jika PDRB dan PDB tiap sektor ekonomi baik di Provinsi Jawa Barat maupun di tingkat nasional dibandingkan, maka tiap sektor ekonomi akan memiliki rasio yang berbeda-beda. Rasio sektor perekonomian Provinsi Jawa Barat dan nasional (Indonesia) ditujukan dalam bentuk nilai Ra, Ri dan ri. Secara umum rasio pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Barat selama kurun waktu 2001-2005 adalah sebesar 0,21 dan rasio pertumbuhan PDB Indonesia selama kurun waktu yang sama juga memiliki nilai yang sama yaitu sebesar 0,21(Tabel 5.4).

Nilai Ra didasarkan pada perhitungan selisih antara total PDB nasional tahun akhir analisis yaitu tahun 2005 dengan PDB nasional tahun dasar analisis yaitu tahun 2005 dibagi dengan total PDB nasional tahun dasar analisis, sehingga nilai Ra yang diperoleh tiap sektor di Indonesia memiliki nilai yang sama besar.

Antara tahun 2001-2005, nilai Ra sebesar 0,21. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional (Indonesia) meningkat sebesar 0,21(Tabel 5.4).

Nilai Ri dihitung berdasarkan selisih PDB nasional dari sektor i pada tahun akhir analisis dengan PDB nasional dari sektor i pada tahun dasar analisis dibagi dengan PDB nasional dari sektor i pada tahun dasar analisis. Nilai Ri di seluruh sektor perekonomian nasional (Indonesia) bernilai positif, kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Hal ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh sektor perekonomian di Indonesia mengalami pertumbuhan yang positif.

Tabel 5.4. Rasio PDRB Provinsi Jawa Barat dan PDB Indonesia.

No Sektor Ra Ri ri

1 Pertanian 0,21 0,13 0,17

2 Pertambangan dan Penggalian 0,21 -0,03 -0,57 3 Industri pengolahan 0,21 0,23 0,26 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,21 0,28 0,36

5 Bangunan/konstruksi 0,21 0,29 0,51 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 0,21 0,26 0,30

7 Pengangkutan dan Komunikasi 0,21 0,56 0,30 8 Keuangan, Persewaan

dan Jasa Perusahaan

0,21 0,31 0,29

9 Jasa-jasa 0,21 0,19 0,41

Total 0,21 0,21 0,21

Sumber :BPS Provinsi Jawa Barat Tahun 2001 dan 2005, diolah

Nilai Ri terbesar terdapat pada sektor pengangkutan dan komunikasi yaitu sebesar 0,56. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya sektor industri di Jawa Barat. Hal tersebut mengakibatkan peningkatan terhadap ekspor hasil produksi sehingga hal itu dapat meningkatkan kebutuhan akan komunikasi dan pengangkutan, selain itu juga dalam menghadapi era globalisasi, dengan semakin meningkatnya sarana dan prasarana infrastruktur menyebabkan meningkatnya akan kebutuhan terhadap

pengangkutan dan komunikasi sehingga menyebabkan peningkatan di sektor komunikasi dan pengangkutan.

Nilai Ri terkecil diperoleh pada sektor pertambangan dan penggalian yaitu sebesar -0,03 (Tabel 5.4). Hal ini diakibatkan oleh kurangnya penerapan teknologi dan sarana/prasarana pendukung, selain itu juga akibat dari semakin berkurangnya hasil produksi karena bahan baku sektor ini tidak dapat diperbaharui lagi serta sangat rendahnya investasi di sektor pertambangan dan penggalian khususnya investasi asing karena sangat beresiko tinggi tanpa adanya jaminan dari pemerintah Indonesia.

Nilai ri dihitung berdasarkan selisih PDRB dari sektor i di Provinsi Jawa Barat pada tahun akhir analisis dengan PDRB dari sektor i di Provinsi Jawa Barat pada tahun dasar analisis dibagi dengan PDRB dari sektor i di Provinsi Jawa Barat pada tahun dasar analisis. Seluruh kontribusi sektor ekonomi di Provinsi Jawa Barat mengalami peningkatan yang ditunjukkan oleh hampir seluruh nilai ri yang diperoleh bernilai positif, Nilai ri terbesar diperoleh pada sektor bangunan/kontruksi yaitu sebesar 0,51. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya industri dan semakin meningkatnya jumlah penduduk yang menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan akan perumahan dan permukiman di Jawa Barat yang harus didukung pula dengan ketersediaan sarana dan prasarana infrastruktur yang secara langsung menyebabkan meningkatnya akan kebutuhan terhadap sektor bangunan/konstruksi.

Nilai ri terkecil terdapat pada sektor pertambangan dan penggalian yaitu sebesar -0,57. Selain seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa Provinsi Jawa Barat juga kurang memiliki potensi pada sektor pertambangan dan penggalian yang memang hanya terdapat beberapa daerah saja yang menghasilkan pertambangan dan penggalian misalnya hanya terdapat di daerah Cirebon dan Indramayu.

5.3.3. Analisis Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah di Provinsi Jawa

Dokumen terkait