INTENSITAS DAN TIPE KERUSAKAN TANAMAN HUTAN PADA AREAL HUTAN TANAMAN RAKYAT DI KALIMANTAN SELATAN
D. Perubahan Pemanfaatan Lahan dan Pola Kehidupan Petaninya
Perubahan pemanfaatan lahan yang dilakukan oleh masyarakat petani di daerah Perbukitan Menoreh, disebabkan oleh:
(1) Tuntutan ekologi, ekonomi, dan generasi. Kondisi alam Perbukitan Menoreh yang didominasi oleh bukit-bukit dan bebatuan, membuat masyarakat desa mengembangkan inovasi dalam pemanfaatan lahan yang mereka miliki. Tuntutan generasi muda yang tidak menyukai pekerjaan mengolah lahan pertanian juga menyudutkan petani untuk kemudian lebih banyak menanam tanaman keras dengan maksud meringankan pekerjaan mereka karena generasi muda lebih memilih untuk bekerja di luar desa dan/atau diluar mengolah lahan yang mereka miliki. Mereka beranggapan bahwa tanaman keras/kayu dapat hidup baik tanpa harus diperlakukan secara intensif seperti komoditi pertanian semusim. Tanaman keras/kayu dijadikan tabungan bilamana sewaktu-waktu rumah tangga petani membutuhkan dana besar dan cepat.
(2) Masuknya program-program pemerintah yang membawa masuk pula teknologi agroforestry (karangkitri, Penghijauan, Reboisasi dan Hutan Kemasyarakatan) ke daerah perbukitan Menoreh. Pada umumnya pengelolaan hutan rakyat di perbukitan Menoreh secara umum memadukan komponen pohon dan tanaman semusim (agroforestry), yang memiliki fungsi konservasi sebagai penahan angin yang dapat dijumpai pada pola trees along border (pola penanaman tanaman keras/kayu di batas lahan, sehingga mengelilingi tanaman pertanian secara langsung) dan sebagai penahan tanah agar terhindar dari bahaya erosi yakni pola penanaman tanaman keras/kayu di lahan yang berbukit dengan cara “nyabuk gunung” (Arnold dan Dewees, 1995). Praktek agroforestry di Perbukitan Menoreh ini mempunyai fungsi produksi sebagai: bahan pangan, pakan ternak, kayu bakar, dan kayu selain kayu, dimana teknik penanaman (silvikultur) belum berkembang baik, seperti: perbanyakan tanaman dengan metode stek, sambung dan cangkok dengan model penanamannya yang banyak jenis dan berlapis, serta cara pemanenan pohon yang tidak merusak tanaman lain, namun belum ada peningkatan kapasitas pengaturan pengelolaan yang
Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5 497 memadai. Basis pengelolaan hutan rakyat agroforestry pada masyarakat Desa Hargorejo tak beda dengan pendapat dari Awang et al. (2007) dan Keesing (1992), yaitu keluarga; setiap keluarga melakukan pengembangan, pemeliharaan, dan pemanfaatannya dengan pengaturan secara terpisah (keluarga bertindak sebagai suatu korporasi tersendiri yang merupakan satu unit produksi). Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap proses pengaturan hasil yang hampir dikatakan tidak ada, karena selalu dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan yang sifatnya mendadak, sehingga menyebabkan petani hutan rakyat agroforestry selalu berada pada posisi tawar yang rendah.
Perubahan pemanfaatan lahan yang dominan terjadi adalah > 50% lahan pertanian berubah menjadi hutan rakyat berpola agroforestry (65,4%) dengan dominasi jenis tanaman keras/kayu: mahoni, sengon, jati, dan kelapa. Tanaman pertanian yang diusahakan adalah jagung, ubi, kacang tanah, kacang kedelai, dan lainnya (Tabel 4).
Tabel 4. Perubahan Pemanfaatan Lahan pada Lahan Milik Perubahan pola
tanam
Responden dengan luasan lahan < 2.500 m2 2.500 – 4.999 m2 5.000 – 10.000 m2 > 10.000 m2 N % N % N % N % <50% tanaman pertanian diselingi tanaman kayu 2 7,7 3 20 0 0 0 0 >50% tanaman pertanian diselingi tanaman kayu 17 65,4 7 46,7 6 66,7 0 0 100% tanaman kayu 7 26,9 5 33,3 3 33,3 0 0 26 100 15 100 9 100 0 0
Sumber: Data Primer 2013
Kegiatan inovasi yang dilakukan oleh masyarakat petani tersebut tidak lain adalah dalam upaya memaksimalkan lahan yang ada. Pengelolaan hutan rakyat tersebut tidak diiringi dengan pengetahuan pengelolaan hutan rakyat yang memadai, sementara untuk selanjutnya mereka melakukan modifikasi dengan lebih berani lagi yakni cenderung menanam tanaman keras/kayu komersial dibanding tanaman pertanian. Hal tersebut dikarenakan mereka merasa keuntungan sebagai berikut: (1) Mendapatkan keuntungan finansial dari penjualan kayu, (2) Membuka peluang kepada para petani untuk bekerja diluar sektor pertanian, untuk memenuhi kebutuhan subsistennya yang tidak bisa mereka dapatkan dari mengolah lahan miliknya yang rata-rata sempit tersebut, serta (3) Memberikan dampak ekologis yang positif dengan memberikan iklim sejuk dan persediaan air tanah menjadi lebih banyak dari sebelumnya.
(3) Kemudahan akses transportasi dan komunikasi membuka lebar terjadinya migrasi musiman pada masyarakat di Perbukitan Menoreh ini, dimana para pemuda (usia produktif) cenderung mencari pekerjaan di luar desa dibandingkan di dalam desa mereka. Hal ini juga berkaitan dengan luasan lahan milik rumah tangga petani, yang tidak memungkinkan mereka untuk hanya mengandalkan hasil dari lahan miliknya untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya.
Keberadaan tanah pertanian sangat penting bagi kelangsungan kehidupan masyarakat petani di Perbukitan Menoreh khususnya Desa Hargorejo. Sebagaimana yang dikatakan oleh Raharjo (2004), hubungan manusia dan tanah mencakup sejumlah bentuk dan sifat hubungan. Beberapa yang terpenting adalah bagaimana pengaruh pola pemilikan lahan terhadap sistem ekonomi, atau khususnya sistem pertanian. Alam, dalam hal ini adalah menyangkut luas kepemilikan dan sistem penguasaan lahan (land tenure) serta kondisi fisik lahan pertanian yang juga berpengaruh besar terhadap sistem pertanian.
498 Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5
Melihat fenomena yang ada pada masyarakat petani hutan rakyat agroforestry di Perbukitan Menoreh khususnya Desa Hargorejo tersebut, bila dikaitkan dengan tesis dari Geertz (1983) terlihat bahwa masyarakat petani hutan rakyat berusaha semaksimal mungkin melakukan suatu upaya agar dapat survive dengan melakukan suatu perubahan/pergeseran pola tanam/produksi terhadap lahan milik dan garapan yang mereka miliki (dalam luasan yang relatif minim) tanpa ada pengetahuan yang mendampingi mereka dalam melakukan perubahan/pergeseran pola tanam/produksi tersebut. Sebagai dampaknya pola tanam/produksi yang telah terbentuk tersebut pada kelanjutannya justru kemudian membatasi perkembangan dari hutan rakyat itu sendiri. Masyarakat petani seakan melakukan perubahan/pergeseran untuk meraih peningkatan kesejahteraan, tapi sebenarnya mereka diam di tempat tanpa ada peningkatan kesejahteraan, dikarenakan perubahan selanjutnya terhalang oleh keruwetan dari pola yang mereka bangun sendiri.
Kecenderungan petani yang terus ingin merubah lahan pertaniannya menjadi hutan rakyat berdampak negatif terhadap keamanan pangan mereka. Hal ini dikarenakan lahan mereka yang relatif sempit (< 2500 m2) lebih banyak ditanami dengan tanaman keras/kayu sementara untuk tanaman semusim yang pada umumnya dijadikan sebagai ketahanan pangan mereka semakin berkurang. Keadaan petani hutan rakyat di desa Hargorejo ini memang dilematis. Disatu pihak pertumbuhan penduduk terus bertambah sehingga untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka memerlukan lahan. Dilain pihak lahan pertanian semusim mereka sudah banyak yang dirubah menjadi rumah dan hutan rakyat. Selain itu alasan mengapa mereka lebih suka merubah lahan pertanian semusim mereka menjadi hutan rakyat dikarenakan bilamana mereka menanami lahan sempit mereka dengan lebih banyak tanaman semusim, tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangganya, belum lagi bilamana mereka mengalami gagal panen. Sebagai akibatnya, mereka bergantung pada pasar untuk memenuhi kebutuhan mereka yang semula mereka dapatkan dari lahan pertanian mereka.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Perkembangan luasan hutan rakyat berpola agroforestry di Perbukitan Menoreh khususnya di Desa Hargorejo menunjukkan keberhasilan konservasi namun belum memberikan dampak peningkatan kesejahteraan pada masyarakat petaninya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat petani belum memahami pengetahuan pengelolaan hutan rakyat, terlebih lagi lahan yang mereka miliki rata-rata sempit. Kondisi ini dapat menyebabkan hutan rakyat berpola agroforestry terancam kelestariannya.
B. Saran
Bilamana menghendaki tujuan sosial, ekonomi dan lingkungan terpenuhi, maka hendaknya dalam setiap kegiatan/program kehutanan (dalam hal ini hutan rakyat berpola agroforestry) harus dilakukan pelatihan, pendampingan, serta pembentukan organisasi untuk mewadahi kegiatan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Arnold, J.E.M. and Dewees, P.A. 1995. Framing The Issues. Tree Management in Farmer Strategies: Responses to Agricultural Intensification. Oxford University Press. New York.
Awang, S.A. 2004. Dekonstruksi Sosial Forestri. Reposisi Masyarakat dan Keadilan Lingkungan. BIGRAF Publishing. Yogyakarta.
Awang, S.A., Wiyono, E.B. dan Sadiyo, S. 2007. Unit Manajemen Hutan Rakyat: Proses Konstruksi Pengetahuan Lokal. Banyumili Art Network berkejasama dengan Pusat Studi Hutan Rakyat (PKHR). Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5 499 Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kulon Progo. 2012. Kabupaten Kulon Progo Dalam Angka.
Kulon Progo Regency in Figures. BPS. Yogyakarta. Desa Hargorejo. 2010. Monografi Desa Hargorejo. Yogyakarta.
Geertz, C. 1983. Involusi Pertanian. Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. Yayasan Obor. Jakarta. Kaplan, D.nand Manners, A.A. 2000. Teori Budaya. Penerjemah Landung Simatupang. Pustaka
Pelajar. Yogyakarta.
Keesing, R.M.. 1992. Antropologi Budaya Jilid 2. Suatu Perspektif Kontemporer. Penerjemah R.G. nSoekadijo, Erlangga. Jakarta.
Mindawati, N., Widiarti, dan Rustaman. 2006. Review Hasil Penelitian Hutan Rakyat. Badan Penelitian dan Pengembangan Hutan. Departemen Kehutanan. Bogor.
Raharjo, 2004. Pengantar Sosiologi Pertanian dan Pedesaan. Gadjah Mada Press University. Yogyakarta.
Widiyanto, Ary. 2013 Agroforestry dan Peranannya Dalam Mempertahankan Fungsi Hidrologi dan Konservasi. Albasia Vol. 9 No. 2 Desember 2013: 55-68. Balai Penelitian Teknologi Agroforestry. Ciamis.
500 Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5