MERATUS DI KALIMANTAN SELATAN Mahrus Aryadi1 dan Fery Efendy2
B. Sistem Pengelolaan Lahan Agroforest
3. Sistem Pengelolaan Agroforest Kebun Kemiri
◘ * * * * * * * * ■ ▲ ■ * * * * * * * * ● ● ● ● ● ● * * * * * * * * ▓ * * * * * * * * ■ * * * * * * * * ● ● ● ● ● ■ ● * * * ∆ * * * ▲ * * ∆* * * * * ▓ * * * * * * * * ● ● ● ● ● ● * * * * * * * * ■ ■ ■ ◘ * * * * * * * * ● ● ● ● ● ● ∆ ∆ ∆ 4) Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman sama saja seperti yang dilakukan orang pada umumnya yaitu dengan membersihkan rumput maupun tanaman lainnya yang tumbuh di sekitar tanaman, biasa dilakukan 1 bulan sekali tergantung cepat tidaknya rumput yang tumbuh disekitar tanaman pada umur tanaman 1-3 tahun. Dalam beberapa bulan tanah bisa digemburkan kembali untuk mengokohkan batang tanaman dan menghindari air tergenang disekitar tanaman.
5) Pemanenan
Cara pemanfaatannya yang dilakukan oleh masyarakat Dayak di Desa Tumingki dengan menyadap batang karet atau melukai permukaan bidang sadap. Alat yang digunakan untuk menyadap adalah pisau sadap, tempurung. Pemanfaatan gatah karet sudah dilakukan masyarakat secara turun-temurun. Dalam cara memungut gatah karet, sejak dulu sampai sekarang tidak mengalami perubahan, yaitu dengan membiarkan dengan sendirinya lateks membeku di dalam tempurung hingga ± 7 – 10 hari. Hasil dari pembekuaan disebut dengan slap.
6) Permudaan Tanaman
Permudaan tanaman karet biasa dilakukan setelah berumur 15-20 tahun atau tanaman sudah tidak produktif lagi. Biasanya tanaman ditebang habis kemudian ditanami dengan tanaman baru lagi apakah tetap tanaman karet atau tanaman jenis lainnya.
3. Sistem Pengelolaan Agroforest Kebun Kemiri
Klasifikasi botani tanaman kemiri adalah kemiri nama latin Aleurites moluccan, Kingdom : Plantae, Divisi : Spermatopphyta, Sub Divisi : Angiospermae, Class : Dicotyledoneae, Ordo : Archichlamydae, Famili : Euphorbiaceae, dan Genus : Aleurites (Krisnawati, et al., 2011).
Di dalam suatu kebun kemiri tidak hanya terdapat satu jenis tanaman kemiri saja tetapi banyak jenis tanaman lain. Masyarakat Dayak di Desa Tumingki mencampurkan dalam satu lahan agar selama kemiri belum dapat menghasilkan bisa didapat hasil dari tanaman yang lain. Komposisi jenis tanaman yang ada dalam kebun kemiri adalah kemiri, karet, kayu manis, durian, bambu dan tanaman buah lainnya. Sketsa pola tanaman Agroforest kebun kemiri dapat dilihat pada Gambar 3 berikut ini :
Keterangan :
● = Karet atau Kayu Manis ■ = Kemiri ∆ = Pisang ▓ = Bambu * = Jagung ◘ = Cempedak ▲= Langsat
Gambar 3. Sketsa Pola Tanaman Agroforest Kebun Kemiri 1) Penyiapan Lahan
Untuk penyiapan kebun kemiri yang dilakukan oleh masyarakat Dayak di Desa Tumingki ialah pada lahan bekas ladang yang telah dipakai selama ± 2-3 tahun, kemudian lahan tersebut mereka tinggalkan karena dianggap sudah tidak produktif lagi (masa bera). Pembersihan lahan dilakukan dengan cara memotong rumput atau vegetasi lainnya dengan menggunakan parang atau celurit kemudian didiamkan selama 14-30 hari sampai kering kemudian baru dibakar. Penyiapan lahan ini bisa dilakukan sendiri oleh pemilik lahan maupun dilakukan secara bersama-sama oleh semua oleh masyarakat Dayak di Desa Tumingki, sehingga dirasakan lebih ringan.
Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5 459 Pengelolaan bibit kemiri oleh masyarakat Dayak di Desa Tumingki dengan cara biji yang diambil dari tanaman atau pohon kemiri yang sudah menghasilkan dan tidak terserang penyakit (sehat). Biji yang diambil harus berjenis bini (perempuan) karena hanya jenis bini yang dapat menghasilkan kemiri yang banyak dan lebih bagus bibitnya, sedangkan biji laki tidak dapat menghasilkan kemiri yang banyak dan lebih mudah terserang hama. Biji yang didapat kemudian cangkang dipecahkan dengan cara dibakar dan direndam di dalam air. Setelah cangkangnya pecah lalu ditabur di atas tanah selama 3 – 4 bulan, kemudian setelah tingginya ± 25 cm maka siap ditanam atau masyarakat sering juga mendapatkan bibit di sekitar pohon kemiri/anakan dari pohon kemiri yang dijadikan bibit oleh masyarakat Dayak setempat.
3) Penanaman
Penanaman tidak ditentukan apakah dilakukan habis musim panas atau mendekati musim hujan, karena menurut masyarkata Dayak setempat kemiri merupakan jenis tanaman yang mudah tumbuh dimusim apa saja. Sebelum melakukan penanaman, terlebih dahulu masyarakat membuat lobang tanam dengan ukuran ± 10 cm. Untuk jarak tanaman tidak ada ketentuan dalam menanam namun ada juga sebagian Masyarakat Dayak di Desa Tumingki menggunakan jarak tanam 3 x 8 m, biasanya dilakukan secara acak saja dan kemiri biasa ditanaman di tengah-tengah kebun karet atau kayu manis.
4) Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman sama saja seperti yang dilakukan orang pada umumnya yaitu dengan memotong rumput maupun tanaman lainnya yang tumbuh disekitar tanaman, biasa dilakukan 1 bulan sekali tergantung cepat tidaknya rumput yang tumbuh disekitar tanaman. Dalam beberapa bulan tanah bisa digemburkan kembali untuk mengokohkan batang tanaman dan menghindari air tergenang disekitar tanaman.
5) Pemanenan
Pohon kemiri biasanya berbuah lebat dan dipanen oleh masyarakat Dayak di Desa Tumingki setempat setiap 1 kali dalam 1 tahun antara bulan Januari dan bulan Juni. Dengan cara mengumpulkan buah yang jatuh di sekitar pohon kemiri tersebut dan dimasukkan ke dalam butah atau karung beras yang sudah disiapkan.
6) Permudaan Tanaman
Permudaan tanaman kemiri dilakukan pada saat dianggap tanaman sudah tidak produktif lagi dan tidak ada jangka waktu tertentu. Biasanya tanaman ditebang habis kemudian ditanami dengan tanaman baru lagi apakah tetap tanaman kemiri atau tanaman jenis lainnya.
IV. KESIMPULAN
Pemanfaatan lahan dengan cara berladang yang dilakukan oleh Masyarakat Dayak di Desa Tumingki pada dasarnya mengikuti siklus alamiah dimana kawasan hutan yang dibuka adalah merupakan bekas pahumaan (areal perladangan) yang telah ditinggalkan selama puluhan tahun yang lalu. Sistem yang mereka pakai dalam berladang tersebut adalah mengikuti pola “Gilir Balik”. Sejalan dengan perjalanan waktu, sistem berladang gilir balik pada akhirnya berubah menjadi kebun yang didominasi oleh tanaman pohon (agroforest) yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, sehingga terbentuklah sistem pengelolaan agroforest kebun kayu manis, sistem pengelolaan agroforest kebun karet, dan sistem pengelolaan agroforest kebun kemiri. Ketiga sistem pengelolaan tersebut sesuai dengan fungsi kawasannya yaitu kawasan hutan lindung.
DAFTAR PUSTAKA
Asysyifa. 2008. Karakteristik Sistem Perladangan Suku Dayak Meratus Kecamatan Loksado Kalimantan Selatan. Jurnal Hutan Tropis Borneo (9) 24:25-29. Fahutan.unlam.co.id/web/jurnal-hutan-tropis-/ed-maret-2009-vol-no-25-th-x/ di akses 9/4/2012.
460 Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5
De Foresta, H., A, Kusworo, G, Michon, Djatmiko. 2000. Ketika Kebun Berupa Hutan – Agroforestri Khas Indonesia – Sumbangan Masyarakat bagi Pembangunan Berkelanjutan. ICRAF, Jakarta. Indonesia.
Hafizianor. 2003. Pengelolaan Dukuh Ditinjau Dari Perspektif Sosial Ekonomi dan Lingkungan. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tidak di publikasikan.
Krisnawati H, Kallio M, Kaninnen M. 2011. Swietenia macrophylla King. Ecology, Silviculture and Productivity. Bogor : CIFOR.
Nazir. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Rahayu, I. 2007. Persepsi Dan Kondisi Masyarkat Dayak Bukit Meratus Di Desa Lok Lahung Terhadap Kawasan Hutan Lindung Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Skripsi Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Tidak dipublikasikan.
Rezekiah, A, A. 2006. Sistem Perladangan Masyarakat Dayak Bukit di Pegunungan Meratus Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tidak di publikasikan.
Setiawan, D, S. 2005. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Bogor : Trobus Agriwidya.
Setiawan, H. D dan Andoko, A. 2005. Petunjuk Lengkap Budi Daya Karet. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5 461