• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Kebijakan Pembatasan Tenaga Kerja Indonesia Informal

4.2.2 Perubahan Pendapatan yang Diterima oleh Faktor Produksi

Simulasi pertama yaitu peningkatan jumlah pengiriman TKI secara normal setiap tahunnya yaitu sebesar 21 persen akan menghasilkan remittance senilai nominal rupiah hal ini dapat pula berarti Business as Usual atau kegiatan yang rutin berlangsung dalam pengiriman jumlah TKI setiap tahunnya. Dalam simulasi ini terdapat nilai nominal dari kondisi awal (baseline) yang diperoleh dari FSAM

dimana dapat dijadikan sebuah dasar dari simulasi-simulasi lainnya. Berdasarkan hasil simulasi pertama menunjukkan bahwa pada kedua akun faktor produksi mengalami kenaikan pendapatan dengan adanya remittance. Hal ini terlihat dari angka yang positif dari kedua proporsi faktor produksi. Faktor produksi tenaga kerja memiliki angka kenaikan pendapatan yang cukup besar dibandingkan dengan faktor produksi bukan tenaga kerja. Hal ini dikarenakan angka remittance lebih banyak mengalir kepada faktor produksi tenaga kerja yaitu sebesar 0,75 persen atau senilai dengan nominal remittance sebesar Rp.11.142.634.757, angka yang diterima oleh faktor produksi bukan tenaga kerja lebih kecil dengan proporsi sebesar 0,48 persen atau senilai dengan nominal remittance sebesar Rp.6.438.174.871. Angka yang mengalir kepada faktor produksi bukan tenaga kerja lebih kecil jika dibandingkan dengan faktor produksi tenaga kerja karena faktor produksi bukan tenaga kerja tidak terlalu berperan besar dalam menyumbang dana remittance ke Indonesia.

Simulasi kedua yaitu adanya kebijakan pembatasan tenaga kerja Informal sebesar 89.698 ribu TKI. Jumlah tersebut didapatkan dari nilai tenaga kerja yang dimoratorium oleh pemerintah kepada salah satu negara tujuan para TKI yaitu Malaysia. Berdasarkan hasil simulasi yang telah peneliti lakukan, akun faktor produksi tenaga kerja dan bukan tenaga kerja mengalami penurunan nominal serta presentase remittance yang mengalir dalam akun tersebut. Setelah adanya kebijakan pembatasan tenaga kerja informal telah menurunkan remittance faktor produksi tenaga kerja, dimana presentase yang dihasilkan hanya 0,12 persen dari kondisi awal (baseline) FSAM apabila dibandingkan dengan kondisi normal sebelum adanya pembatasan adalah sebesar 0,75 persen sehingga terdapat

penurunan sebesar 0,63 persen dari keadaan normal atau Business as Usual, sedangkan remittance yang diterima oleh faktor produksi bukan tenaga kerja hanya sebesar 0,08 persen dari kondisi awal (baseline) FSAM apabila dibandingkan dengan kondisi normal sebelum adanya pembatasan adalah sebesar 0,48 persen sehingga terdapat penurunan remittance dengan adanya kebijakan pembatasan TKI informal sebesar 0,40 persen dari keadaan normal atau Business as Usual. Sehingga dalam nominal setelah adanya kebijakan pembatasan tenaga kerja Informal tersebut telah menyebabkan proporsi remittance yang diterima oleh faktor produksi tenaga kerja hanya sebesar Rp. 1.776.103.575. Satuan nominal yang diterima oleh faktor produksi tenaga kerja setelah adanya kebijakan pembatasan terlihat adanya penurunan dari nominal remittance normal yaitu Rp.11.142.634.757 dengan kata lain remittance menurun sebanyak Rp.9.366.531.182. Berdasarkan simulasi tersebut terlihat jelas adanya penurunan jumlah remittance yang mengalir ke faktor produksi baik tenaga kerja maupun bukan tenaga kerja akibat pemberlakuan kebijakan pembatasan pengiriman tenaga kerja informal yang diberlakukan oleh pemerintah.

Simulasi ketiga yaitu adanya kompensasi yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi permasalahan baru yang akan muncul di Indonesia akibat pembatasan pengiriman tenaga kerja informal tersebut. Dalam simulasi ini akan disimulasikan apabila pemerintah tetap memberlakukan pembatasan tenaga kerja informal namun diiringi dengan kompensasi kepada rumah tangga dan faktor produksi. Dengan dilakukan simulasi ketiga ini cukup memberikan dampak yang cukup baik. Karena nilai nominal remittance yang mengalir kepada akun faktor produksi tenaga kerja menjadi Rp.9.268.537.240.

Hal ini cukup baik karena terjadi peningkatan sebesar Rp.7.492.433.670 dibandingkan sebelum adanya kompensasi yaitu simulasi kedua. Namun simulasi ketiga ini belum mampu untuk menutupi kerugian yang diterima oleh faktor produksi tenaga kerja karena terlihat bahwa terdapat angka negatif sebesar 0,63 persen dari kondisi normal. Namun kondisi tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan sebelum dilakukannya kompensasi. Sedangkan untuk faktor produksi bukan tenaga kerja juga mengalami kenaikan aliran dana remittance dibandingkan sebelum adanya kompensasi. Nominal yang diterima oleh akun faktor produksi bukan tenaga kerja senilai Rp.7.788.123.590. Nilai nominal tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan dengan sebelum adanya kompensasi. Namun simulasi ketiga ini berhasil untuk menghilangkan angka negatif atau minus yang sebelumnya diterima oleh akun faktor produksi bukan tenaga kerja pada simulasi kedua. Dalam simulasi ketiga ini berhasil meningkat sebesar yaitu sebesar 0,10 persen jika dibandingkan dengan keadaan normal.

Walaupun dalam simulasi ketiga ini belum dapat mencapai persentase yang mendekati keadaan normal namun, hal ini berarti bahwa dengan adanya kompensasi tersebut potensial untuk melebihi pertumbuhan dibandingkan sebelum dilakukannya kompensasi.

Simulasi ke-empat yaitu apabila pemerintah tetap memberlakukan pembatasan tenaga kerja informal namun diiringi dengan kompensasi yang dialirkan kepada sektor bangunan (infrastruktur). Berdasarkan hasil simulasi yang telah dilakukan memperlihatkan bahwa faktor produksi tenaga kerja memiliki nilai nominal sebesar Rp.16.760.970.910 atau meningkat sebesar 1,13 persen dibandingkan dengan baseline FSAM. Dengan kata lain adanya kompensasi yang

diiringi kepada sektor infrastruktur ini telah meningkat sebesar 0,38 persen. Hasil simulasi keempat ini telah memberikan dampak yang positif walaupun belum mendekati nilai presentase aliran dana remittance dalam keadaan normal.

Sedangkan untuk faktor produksi bukan tenaga kerja memiliki nilai nominal Rp.14.549.995.020 atau dengan kata lain meningkat sebesar 1,08 persen jika dibandingkan dengan baseline FSAM dan meningkat sebesar 0,60 persen jika dibandingkan pada saat keadaan normal (Business as Usual) . Hal ini dikarenakan besaran shock kepada faktor produksi tenaga kerja memang lebih besar dibandingkan dengan faktor produksi bukan tenaga kerja. Berdasarkan simulasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa nilai yang positif bila dilakukan kompensasi jika diiringi kompensasi kepada sektor bangunan (infrastruktur) walaupin nilai positif tersebut belum mendekati nilai kenaikan dalam keadaan normal.

Simulasi kelima yaitu apabila adanya kebijakan pembatasan tenaga kerja informal diiringi dengan kompensasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap ke sembilan sektor diantaranya pertanian, pertambangan, Industri pengolahan, Listrik, Gas dan Air Bersih, Bangunan, Perdagangan, Hotel dan Restoran, Pengangkutan dan komunikasi, Keuangan dan Sektor lainnya. Berdasarkan hasil simulasi, faktor produksi tenaga kerja mendapatkan presentasi sebesar 1,32 persen jika dibandingkan dengan baseline awal yang terdapat dalam FSAM sedangkan jika dibandingkan dengan keadaan normal (Business as Usual) meningkat sebesar 0,57 persen. Untuk faktor produksi bukan tenaga kerja meningkat sebesar 1,15 persen jika dibandingkan dengan baseline FSAM dan jika dibandingkan dengan keadaan normal (Business as Usual) meningkat sebesar 0,67 persen. Nilai

kenaikan pada simulasi kelima ini merupakan kenaikan yang terbaik jika dibandingkan dengan kenaikan pada simulasi ketiga dan keempat. Hal ini dikarenakan dengan adanya kebijakan pembatasan tenaga kerja informal dan kompensasi kepada sembilan sektor dengan proporsi yang merata dan sesuai pada tabel FSAM menyebabkan alokasi dana remittance akan merata kepada faktor produksi, institusi dan aktivitas produksi, sehingga akan sangat baik apabila simulasi ke-lima tersebut diterapkan oleh pemerintah untuk menanggulangi permasalahan yang ditimbulkan oleh kebijakan pembatasan tenaga kerja informal.

Tabel 4. 2 Perubahan Pendapatan yang Diterima oleh Faktor Produksi Akibat Aliran Dana Remittance Berdasarkan Pengganda FSAM pada simulasi 1 dan 2

FAKTOR PRODUKSI BASELINE FSAM

SIMULASI 1 (BAU) SIMULASI 2

NOMINAL %To Baseline NOMINAL % to Baseline % to BAU

TENAGA KERJA

1 1487377.61386043 11142.6347571836 0,75 1776.10357489036 0,12 -0,63

BUKAN TENAGA KERJA

2 1346454.26763171 6438.17487118492 0,48 1026.25216068785 0.08 -0,40

Ket : Simulasi 1: Pertumbuhan pengiriman TKI dalam keadaan normal (Business as usual) Simulasi 2: Kebijakan pembatasan TKI nformal sebesar 89.698 ribu TKI

Simulasi 3: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada faktor produksi tenaga kerja dan rumah tangga Simulasi 4: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada sektor bangunan (infrastruktur) sebesar Rp.200miliar Simulasi 5: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada aktivitas produksi dengan injeksi kepada rumah

tangga miskin sebesar Rp.700 miliar

Lanjutan Tabel 4. 3 Perubahan Pendapatan yang Diterima oleh Faktor Produksi Akibat Aliran Dana Remittance Berdasarkan Pengganda FSAM pada simulasi 3, 4 dan 5

FAKTOR PRODUKSI

BASELINE FSAM

SIMULASI 3 SIMULASI 4 SIMULASI 5

NOMINAL % to

Ket : Simulasi 1: Pertumbuhan pengiriman TKI dalam keadaan normal (Business as usual) Simulasi 2: Kebijakan pembatasan TKI nformal sebesar 89.698 ribu TKI

Simulasi 3: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada faktor produksi tenaga kerja dan rumah tangga Simulasi 4: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada sektor bangunan (infrastruktur) sebesar Rp.200

miliar

Simulasi 5: Kebijakan pembatasan TKI informal diiringi kompensasi remittance bila dialokasikan pada aktivitas produksi dengan injeksi kepada rumah tangga miskin sebesar Rp.700 miliar

4.2.3 Perubahan Pendapatan yang Diterima oleh Institusi (Rumah Tangga)