• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

3.2 Metode Analisis Data

3.2.1 SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI FINANSIAL (SNSEF) 39

istilah aslinya Financial Social Accounting Matrix (FSAM). Dasar pemikiran pembuatan SNSEF ini adalah untuk melihat keterkitan antara sektor riil dengan sektor finansial. Kondisi perekonomian di Indonesia tidak hanya terkait dengan sektor finansial saja ataupun sektor riil saja, sehingga dengan mengintegrasikan kinerja sektor finansial kedalam kerangka data kinerja sektor riil maka berbagai jalur transmisi finansial yang dilalui oleh sektor finansial dalam hubungan dengan terbentuknya kinerja sektor riil dapat ditelaah lebih terstruktur.

Sumber data utama yang digunakan dalam penyusunan SNSEF Indonesia 2005 adalah Tabel Input Output (IO) 2005, SNSE 2005, NAD kemudian didukung dengan hasil-hasil survei khusus, seperti Survei Khusus Input dan Output (SKIO), Survei Khusus Tabungan dan Investasi Rumah Tangga (SKTIR) dan Survei Khusus Perusahaan Swasta (SKPS). Dalam pembuatan tabel SNSEF ini menggabungkan dua kerangka data yang berasal dari BPS, yaitu Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) dan data yang diperoleh dari BI, Depkeu, dan lembaga instansi lainnya yaitu Neraca Arus Dana atau Flow of Funds (FoF).

Tabel SNSEF disusun dalam bentuk matriks simetris yang diklasifikasikan menurut 9 komponen, yaitu Faktor Produksi, Institusi, Sektor Produksi, Margin

Perdagangan dan Pengangkutan, Komoditas, Kapital, Pajak Tak Langsung dan Subsidi, Instrumen Finansial, serta Luar Negeri. Data dari masing-masing komponen akan disesuaikan berdasarkan keperluan analisis dan ketersediaan data pendukung, sehingga secara rinci kerangka SNSEF Indonesia 2005 memiliki dimensi 79 komponen.

Secara umum, kerangka dasar SNSEF 2005 dapat dikelompokkan menjadi lima komponen yaitu Faktor Produksi, Institusi, Sektor Produksi, Kapital dan Finansial. Sedangkan kerangka data SNSEF dapat dikelompokkan menjadi 9 komponen (matriks 9x9) yaitu meliputi Faktor Produksi, Institusi, Sektor Produksi, Margin Perdagangan dan Biaya Pengangkutan, Komoditi, Kapital, Pajak Tak Langsung dan Subsidi, Instrumen Finansial dan Luar Negeri. Ke-sembilan komponen tersebut merupakan hasil disagregasi dari kerangka SNSEF yang berdimensi (matriks 5x5), hal ini dilakukan untuk menjelaskan struktur perekonomian secara lebih eksplisit tentang marjin perdagangan dan pengangkutan, pajak dan subsidi, serta pemisahan antara sektor produksi dan komoditi. Sehingga, keterkaitan transaksi antara sektor produksi dan komoditi dapat terealisasi.

Kerangka dasar dalam pembuatan SNSEF ini mengacu pada kerangka SNSE 2005, namun terdapat sedikit perbedaan dengan klasifikasi SNSE yang sudah sering dipublikasikan oleh BPS secara berkala yaitu:

• Neraca kapital dalam SNSEF disusun dengan melakukan penyesuaian, yaitu disagregasi neraca kapital SNSE serta agregasi instrumen finansial dalam kerangka NAD.

• Neraca institusi dilakukan disagregasi menjadi bank sentral, perusahaan lembaga keuangan bank dan bukan bank, perusahaan bukan lembaga keuangan, pemerintah dan rumah tangga. Rumah tangga tersebut akan diklasifikasikan menjadi rumah tangga miskin dan tidak miskin, di desa dan di kota.

Secara rinci, pengklasifikasian SNSEF 2005 dimana terdiri atas matriks (baris x kolom) dengan dimensi 79x79 yang terdiri atas 9 komponen utama terbagi atas 2 bagian yaitu blok neraca endogen dan blok neraca eksogen. Neraca endogen terdiri atas :

1. Blok faktor produksi, terdiri atas tenaga kerja dan bukan tenaga kerja.

2. Blok institusi, dapat diklasifikasikan menjadi Bank Sentral, Perusahaan, Pemerintah dan Rumah Tangga. Pada blok perusahaan dapat dibedakan menjadi Lembaga Keuangan dan Perusahaan Bukan Keuangan. Kemudian Lembaga Keuangan dibedakan menjadi dua yaitu lembaga bank dan bukan bank. Pada blok Rumah Tangga dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu desa dan kota. Kemudian kelompok desa dan kota masing-masing dibedakan menjadi dua bagian yaitu miskin dan tidak miskin.

3. Blok sektor produksi, dapat dibedakan menjadi sembilan sektor. Yaitu sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, listrik gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan dan sektor lainnya. Kemudian untuk Industri Pengolahan dapat dibedakan menjadi sektor migas dan non migas. Dari seluruh blok sektor produksi tersebut kemudian dibedakan menjadi dua yaitu sektor formal dan informal.

Sedangkan untuk neraca eksogen terdiri atas blok komoditi impor, blok neraca kapital, pajak tidak langsung dan subsidi, instrumen finansial dan Luar negeri. Pada blok komoditi impor dapat dibedakan menjadi 9 sektor yaitu sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran,pengangkutan dan komunikasi, keuangan dan sektor lainnya. Pada blok instrumen finansial dapat dibedakan menjadi 17 bagian yaitu cadangan valas pemerintah, kartal, giro, tabungan, deposito, sertifikat bank indonesia, obligasi pemerintah, surat berharga jangka panjang lainnya, surat berharga jangka pendek, kredit modal kerja, kredit investasi, kredit konsumsi, kredit non bank, kredit dagang, modal saham dan penyertaan, cadangan asuransi dan pensiun, dan lainnya.

3.2.2 Analisis Efek Pengganda Neraca

Analisis Efek Pengganda Neraca ini digunakan untuk melihat dampak yang ditimbulkan oleh variabel eksogen terhadap variabel endogen. Seperti pada tabel SNSE, dimana aliran penerimaan dan pengeluaran dinyatakan dalam satuan miliar rupiah (moneter) yaitu dapat ditunjukkan oleh matriks transaksi T (matriks transaksi antar peubah endogen) dan dalam SNSEF juga berlaku hal yang sama.

Pada setiap bagian dalam matriks T dibagi dengan jumlah kolom maka akan didapatkan matriks baru yang menunjukkan besar kecenderungan rata-rata (average expenditure propensity) yang dinyatakan dalam bentuk proporsi.

Average expenditure propensity digunakan sebagai penyusun matriks analisis efek berganda. Matriks baru hasil perhitungan kecenderungan pengeluaran rata-rata tersebut dapat disebut dengan matriks A, dengan unsur-unsurnya Aij yaitu hasil

dari pembagian nilai T pada baris i dan kolom j (Tij), sehingga dapat dirumuskan menjadi:

...(3.1) Dimana :

= Kecenderungan pengeluaran rata-rata pada baris ke-i kolom ke-j

= Nilai neraca pada baris ke-i kolom ke-j

= Jumlah total pengeluaran pada kolom ke j

Dalam persamaan diatas, merupakan matriks diagonal dari

penjumlahan kolom, sedangkan merupakan suatu matriks dengan unsur-unsur konstan sehingga matriks dapat dirumuskan sebagai berikut:

....(3.2)

...(3.3)

Sehingga persamaan matriks diatas dapat ditulis sebagai berikut:

Y = AY + X, atau...(3.4) Y – AY = X...(3.5) ...(3.6)

Jika , maka:

...(3.7) Dimana:

= Perubahan pendapatan (Neraca Endogen)

= Pengganda neraca Total

= Neraca Eksogen

Model tersebut menjelaskan bahwa setiap perubahan neraca eksogen (X) akan menyebabkan perubahan terhadap neraca endogen (Y) sebesar Ma. Dalam persamaan (3.3) berisi koefisien-koefisien yang menunjukkan pengaruh langsung dari perubahan yang terjadi di suatu sektor terhadap sektor lainnya. Sedangkan untuk accounting multiplier atau (Ma) adalah suatu pengganda yang menunjukkan besarnya pengaruh perubahan pada sektor terhadap sektor lainnya setelah melalui sistem FSNSE secara keseluruhan. Dalam persamaan tersebut, nilai X dalam penelitian ini adalah impor, kapital, pajak tidak langsung dan subsidi instrumen finansial, dan luar negeri. Sedangkan nilai Y dalam penelitian ini meliputi faktor produksi, institusi dan aktivitas produksi.